"Lho, Mas ini kenapa rumah saya disegel?" tanya Mario kebingungan ketika pulang ke rumahnya dan mendapati rumahnya digerendel dan dipasangi tulisan "DISITA" oleh pihak bank..
Pria-pria bertubuh kekar memakai pakaian serba hitam melakukan penyitaan itu tanpa izinnya.
Mario baru saja kembali dari tempat fitness setelah menyelesaikan satu sesi personal trainingnya bersama klien eksklusifnya. Dia pun bingung mendapati tiba-tiba rumahnya disita oleh pihak bank yang seingatnya, dia tidak pernah meminjam uang sebelumnya di bank tersebut.
"Ini surat perintah eksekusi penyitaan oleh bank, Mas. Silakan dibaca. Mas, sudah nunggak kredit 6 bulan," ujar salah satu pria berpakaian hitam itu sambil menyerahkan sepucuk surat.
Surat itu menyatakan bahwa Mario menjaminkan rumah senilai pinjaman 1 milyar sejak 2 tahun lalu. Hah! Kok dia malah tidak tau ya? Nama bank tempat penyalur pinjaman itu pun bukan termasuk bank nasional yang ternama, lebih mirip bank lintah darat. Mario menepuk jidatnya, mendadak kepalanya terasa pusing.
"Lha Mas, barang-barang saya masih di dalam rumah. Apa tidak bisa saya ambil barang dulu, Mas?" tawar Mario dengan tampang memelas pada debt kolektor itu.
"Maaf, gak bisa Mas. Oya, saya minta kunci mobil Pajero Sport punya Mas juga. Itu termasuk barang yang ikut dijaminkan ke bank," ujar debt kolektor itu lagi pada Mario.
Rasanya tubuh Mario mendadak kehilangan tenaga, dia pun jatuh terduduk di lantai teras rumahnya.
"Wah edan ini, Mas! Saya ditipu mantan istri saya. Saya tidak merasa tandatangan surat pinjaman apa pun," protes Mario dengan lemas.
Debt kolektor itu pun tak sabar, dia tidak peduli dengan kemalangan yang dialami oleh Mario. "Bukan urusan saya, Mas. Cepetan serahin kunci Pajeronya sekarang!" seru pria berkepala plontos berbadan kekar itu dengan tidak ramah.
Dengan terpaksa, Mario pun menyerahkan kunci mobil Pajero Sportnya ke tangan debt kolektor itu.
"Sekarang saya mau gembok pagar rumah ini. Mas tolong keluar dari sini!" kata debt kolektor itu lagi mengusir Mario dari rumahnya sendiri.
Mario mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, pikirannya begitu kalut sekarang. Dia tidak siap dengan kemalangan yang datang bertubi-tubi pagi ini. Dengan langkah gontai, Mario meninggalkan teras rumah mewahnya dan melangkah ke depan pagar rumahnya.
Dengan tatapan pedih, Mario menatap rumahnya untuk terakhir kalinya. Kini dia resmi menjadi tunawisma. Mendadak jadi gembel!
Mario duduk di trotoar depan rumahnya. Dia masih bingung harus bagaimana sekarang ini. Tubuhnya pun lemas karena sedari pagi belum sempat sarapan. Dia hanya minum air mineral saja di tempat gym.
Dua bulan yang lalu Mario resmi bercerai dengan istrinya, Rosita Mulya. Mereka sudah pisah rumah sejak 3 bulan yang lalu. Rosita Mulya sebelum menjadi istrinya adalah manager Mario. Mereka dulu pertama kali berkenalan ketika awal karir Mario menjadi celebrity fitness.
Mario Chandra adalah seorang celebrity fitness yang naik daun sejak mengikuti ajang lomba body shape for men beberapa tahun lalu. Dia memenangkan juara pertama saat itu dan kebanjiran banyak tawaran pekerjaan sebagai model produk-produk kebugaran dan suplemen pembentuk otot.
Di puncak karirnya, Mario menikahi managernya itu. Gadis cantik yang membuat Mario terpesona. Rosita mengurusi semua keperluannya saat menjadi model. Mario mengumpulkan pundi-pundi uang sepanjang karirnya yang menanjak dengan cepat bersama Rosita. Mario tidak pernah pusing mempersiapkan apa pun, dia hanya tahu beres saja.
Belakangan ini, Rosita sudah tidak peduli lagi padanya. Pekerjaan Mario yang tadinya ramai job mulai berkurang. Iklan-iklan suplemen otot dan produk kebugaran yang sebelumnya dibintanginya pun sudah banyak yang discontinue. Kontrak iklan itu lepas satu per satu.
Satu-satunya pekerjaan tetap yang masih dimiliki oleh Mario hanya personal trainer di tempat gym miliknya di tengah kota. Tempatnya memang hanya menyewa di salah satu Mal populer di tengah kota, tapi alat-alat fitness itu milik Mario sendiri. Ada beberapa klien setia yang dia latih secara privat di tempat gym miliknya itu.
Setelah menenangkan dirinya, Mario pun memesan ojek online untuk kembali ke tempat gym miliknya. Dia butuh tempat untuk berpikir dengan tenang.
Mario hanya membawa dompet, ponsel, dan handuk serta baju olahraga yang sudah kotor oleh keringat di dalam tas latihannya.
Akhirnya Mario sampai di Mal PS, dia pun turun dari sepeda motor ojek online itu dan mengucapkan terima kasih ke abang ojek itu. Kemudian Mario berjalan menuju ke tempat gym miliknya di lantai 5, dia naik lift kesana.
Ketika sampai di tempat gym miliknya, Mario terkejut bukan kepalang. Debt kolektor yang tadi menyita rumahnya sedang berada di tempat gym miliknya juga. Hatinya mencelos. Apa Rosita juga menjaminkan alat-alat fitness miliknya ke bank juga? Mampuslah ia!
"Mas, kenapa kok disini lagi?" tanya Mario pada debt kolektor yang tadi menyerahkan surat penyitaan rumahnya.
Pria berkepala plontos bertubuh kekar itu pun menjawab dengan datar. "Mau menyita barang-barang di sinilah, Mas. Masa mau fitness?"
Mario pun melongo, ketakutannya terbukti. Dia pun berkata lagi, "Apa ada surat penyitaannya, Mas? Saya mau lihat."
Pria itu pun menyerahkan sepucuk surat lagi kepada Mario. Kemudian dia pun mengusir customer gym yang masih menggunakan alat fitness dengan kasar.
"Mas, tolong jangan kasar sama customer saya," sergah Mario cepat-cepat.
Customer gym Mario pun buru-buru membereskan barang-barangnya lalu meninggalkan tempat gym itu dengan ekspresi kesal di wajahnya.
"Sudah, nggak perlu banyak mulut kamu. Tempat ini juga mau saya tutup. Alat-alat gym ini mau saya angkut," seru debt kolektor itu dengan tidak ramah pada Mario.
Mario pun dengan perasaan galau dan pikiran yang kacau keluar dari tempat gym yang tadinya miliknya. Para debt kolektor itu mengangkuti alat-alat fitness miliknya keluar dari tempat gym.
Sekarang Mario sudah tidak punya apa-apa lagi, semua aset miliknya sudah disita oleh bank lintah darat. Harta benda yang dia kumpulkan sejak awal karirnya menguap tak bersisa dalam sehari. Mimpi apa dia semalam, batinnya.
Dia mencari bangku di selasar Mal untuk duduk dan menenangkan pikirannya. Dia harus menghubungi mantan istrinya sekarang juga.
Yang dilakukan Rosita sungguh keterlaluan!
Tanpa menunda lagi, dia pun menelepon nomor Rosita dengan ponselnya. Setelah berkali-kali deringan, panggilannya pun dijawab.
"Halo, Rosita. Ini Mario. Kamu sekarang di mana? Aku mau ketemu," ujar Mario dengan tak sabar.
"Halo ... ohh, Mas Mario. Aku di kantor Bang Aldo sekarang. Oke, ke sini aja kutunggu, Mas," jawab Rosita dengan santai.
Perasaan Mario pun bertambah kacau, Aldo yang dimaksud oleh Rosita adalah Rinaldo Situmorang, pengacara yang mengurus perceraiannya dengan Rosita. Kenapa Rosita ada di kantor pengacara itu? Perceraian mereka sudah selesai sejak dua bulan lalu.
Sekali lagi Mario memesan ojek online untuk menemui mantan istrinya di kantor pengacara Rinaldo Situmorang di tengah kota.
Setelah perjalanan 30 menit, Mario pun sampai di depan kantor pengacara itu. Dia mengucapkan terima kasih ke abang ojek lalu masuk ke gedung kantor bertingkat 5 yang tampak megah itu.
"Selamat siang, Mas. Ada yang bisa saya bantu?" sapa resepsionis di front office.
Mario pun berdiri di depan konter resepsionis lalu berkata, "Selamat siang, Mbak. Saya ada janji bertemu dengan Rosita. Apa dia ada di sini?"
Resepsionis itu pun melirik rekan di sebelahnya yang mengangguk penuh arti kepadanya. "Ohh ada, Mas. Mohon tunggu sebentar, saya panggilkan dulu di dalam. Silakan duduk dulu, Mas," ujar resepsionis itu dengan ramah.
Tak lama kemudian, Rosita keluar dari arah dalam kantor menuju ke tempat Mario duduk. Dia tersenyum manis pada Mario. Rosita tampak sangat seksi memakai cocktail dress hitam yang menampilkan lengan dan paha putih mulusnya, dia juga menenteng tas tangan brand ternama. Suara high heels yang dia pakai terdengar jelas mengetuk-ngetuk lantai ketika dia berjalan ke sofa tempat Mario duduk.
Dia menyibakkan rambut panjang lurusnya yang tergerai ke satu sisi seraya menatap Mario. "Ada perlu apa Mas, kok tumben nyari saya?" tanya Rosita dengan santai seolah tak merasa bersalah.
Mario menatap Rosita dengan ekpresi galau, antara ingin marah, sedih, dan putus asa. Dia pun berkata, "Ros, rumah, mobil, dan alat-alat gym milikku semua disita bank. Apa kamu tahu itu?"
Tanpa Mario duga, Rosita malah menertawakannya. "Ahahahaa ... ternyata disita hari ini ya?"
Mario sontak terkejut. "Kok kamu malah tertawa, Ros?!"
"Maaf ya, Mas. Uang pinjaman bank itu sudah Rosita pakai untuk kebutuhan sehari-hari. Biasalah kaum wanita 'kan kebutuhannya banyak," ucap Rosita dengan nada tak bersalah sambil tersenyum.
"Kebutuhan sehari-hari apa, Ros? Itu pinjaman hampir 2 milyar lho, kamu sudah gila?!" balas Mario seakan tak percaya dengan perkataan mantan istrinya itu. Rasanya dia ingin mengamuk.
Rosita pun menatap manikur kukunya yang runcing dengan cat kuku warna merah darah. "Banyaklah Mas, perawatan tubuh, beli tas, baju, arisan ... pokoknya banyaklah. Males, kalau mesti disebutin satu per satu!"
Mario menepuk jidatnya, semua asetnya dijaminkan ke bank hanya untuk digunakan berfoya-foya oleh mantan istrinya. Hatinya hancur sehancur masa depannya saat ini.
"Ros, apa kamu sudah gila? Hidupku hancur, Ros! Kamu bersenang-senang di atas penderitaanku ...," ujar Mario dengan lemas.
Mantan istrinya itu mendengus menatapnya dengan pandangan sinis. "Mas itu yang sadar diri! Berani nikahin aku, tapi uang belanja aja pelit. Wanita itu perlu duit buat merawat diri dan juga berdandan. Katanya istri celebrity fitness, masa kumal. Malu lah ya ...."
"Astaga Ros, aku gak pernah menyangka kalau kamu sematerialistis ini. Apa selama dua tahun kita menikah, kamu nggak pernah mencintaiku?" tanya Mario dengan keheranan seolah dia tidak mengenali mantan istrinya itu. Perempuan yang sudah berbagi suka duka selama bertahun-tahun sejak awal karirnya, bahkan berbagi ranjang selama hampir dua tahun belakangan ini bersamanya.
"CINTA?!" seru Rosita seraya berdecih. "Cinta itu apa, Mas? Nggak bisa bikin kenyang. Apalagi bikin cantik ...."
Mario pun menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Rasanya dia ingin menangis. Mantan istrinya sama sekali tidak merasa bersalah atau pun prihatin dengan keadaannya. Malah seolah menghakiminya. Perasaan cinta yang dulu pernah dia berikan kepada Rosita, ternyata tak ada harganya di mata mantan istrinya itu.
Dulu dia dipuja-puja setinggi langit, seingatnya Rosita selalu mengucapkan kata-kata cintanya saat mereka dulu berpacaran dan juga awal menikah. Sungguh berbeda dengan sekarang. Seperti tagline yang populer saat ini. "Ada uang, Abang kusayang, tak ada uang, Abang kutendang."
Mario pun teringat tujuan awalnya bertemu Rosita tadi. "Ros, rekening tabungan bersama yang dulu kita buat, masih ada kan?" tanya Mario penuh harap, itu uang yang dia sisihkan selama dia berkarir.
Rosita tertawa berderai, dia menatap Mario dengan heran. "Mas, rekening tabungan bersama yang mana? Itu sih sudah lama kosong rekeningnya."
Jawaban Rosita membuat Mario syok berat. Pasalnya, di rekening itu seharusnya ada beberapa ratus juta, hasil dari kontrak iklan dan endorse produk di medsos yang dia jalani selama ini.
"ROSITA, KAMU KETERLALUAN!" teriak Mario seraya berdiri menunjuk-nunjuk muka mantan istrinya itu, dia sudah tak sanggup menahan emosinya.
Rinaldo Situmorang pun bergegas mendekati Mario. "Mas, tolong jangan emosi!"
Rosita pun segera berdiri dan memeluk pinggang Rinaldo. "Bang Aldo, Ros, takut ... mantan suami Ros, ngamuk-ngamuk dari tadi," ucap Rosita sok imut dan dibuat-buat seolah dia ketakutan.
Melihat kemesraan mantan istrinya dengan pengacara perceraiannya itu, Mario pun terkejut. Apa mereka ada main di belakangnya?
"Bang Aldo, apa pacaran dengan Rosita?" cecar Mario dengan tak sabar.
Rinaldo pun menatap Mario dengan serius lalu menjawab, "Rosita sekarang adalah istriku, Mas. Kami sudah menikah setengah bulan yang lalu."
Jawaban Rinaldo sontak membuat Mario terkejut setengah mati. Ternyata tidak butuh waktu lama untuk mantan istrinya move on darinya.
Mario pun menghela nafas dengan berat. Betapa berat cobaan hidup yang harus dia alami. Sepertinya dia salah pilih istri dulu. Benar kata ibunya ketika dia meminta restu untuk menikah. Wanita yang cantik bukanlah jaminan kebahagiaan sebuah pernikahan. Sial betul nasibnya!
"Mas Mario, kalau sudah selesai ngobrolnya sama saya. Mendingan pulang aja ...," ucap Rosita dengan sinis sambil masih memeluk pinggang suami barunya.
"Oya, Bang Aldo, kita jadi pergi makan siang di Mal PS?" tanya Rosita lagi.
"Jadi dong, yuk berangkat sekarang aja, Ros," jawab Rinaldo dengan mesra.
"Pergi duluan ya, Mas Mario," pamit Rinaldo seraya tersenyum dengan ekspresi penuh kemenangan merangkul bahu Rosita berjalan menuju pintu keluar gedung kantornya.
Mario pun jatuh terduduk di sofa. Dunianya sudah hancur. Dia memegangi kepalanya dengan kedua tangannya seraya menatap lantai.
Bulir bening menetes melalui sudut matanya. Tak sanggup dia menahan kepedihan di hatinya.
Dulu dia dielu-elukan dan dipuja oleh jutaan wanita di negeri ini. Semua memujinya tampan, ganteng, seksi, hot, macho, dan entah apa lagi kata-kata pujian yang disematkan pada dirinya.
Saat ini dia bahkan tak mampu menatap cermin. Segalanya telah hilang dari dalam dirinya. Kepercayaan dirinya sudah habis, dia merasa harga dirinya telah diinjak-injak tanpa dapat melawan. Segala yang dia miliki lenyap tak bersisa. Dia sudah jadi gembel yang tak punya masa depan.
Seorang Mario Chandra bukan lagi celebrity fitness yang glamor dan menjadi pujaan para wanita. Dia bukan siapa-siapa lagi!
Akhirnya, Mario meninggalkan gedung kantor pengacara Rinaldo Situmorang dengan berjalan kaki. Dia tak tahu harus pergi kemana. Mario menyusuri trotoar hingga menemukan sebuah warung kaki lima. Dia pun masuk ke tenda lalu duduk di bangku kayu panjang yang ditaruh di depan gerobak warung.
"Pak, minta teh manis satu sama nasi sayurnya satu," pesan Mario yang sudah lemas karena belum makan seharian.
Setelah pesanannya datang, Mario pun segera menyantap makanan itu tanpa mengeluhkan tampilan dan rasa nasi sayur yang ala kadarnya itu. Dia perlu mengisi tenaganya, itu yang terpenting saat ini.
Sesudah makan ala kadarnya, Mario memesan ojek online lagi dari aplikasi di ponselnya. Dia tidak memiliki kendaraan sekarang. Hanya ada satu tempat yang dapat menerimanya saat ini, rumah orang tuanya.
Beberapa menit kemudian, ojek online yang dia pesan pun tiba. Mario pun segera membonceng abang ojek itu. Dia terdiam sepanjang perjalanan menuju ke rumah orang tuanya. Otaknya seolah sudah tidak mampu berpikir lagi.
Setelah melewati gang-gang sempit yang berkelok-kelok, akhirnya mereka sampai di depan rumah orang tua Mario.
Sebuah rumah tua dengan genting tanah liat berukuran sedang yang dibangun dengan kokoh sejak zaman orde baru. Bagian depan rumah tertutup oleh pagar teralis geser yang mulai mengelupas catnya yang berwarna kuning tua dan berkarat di sana-sini.
Mario menggeser pagar teralis itu lalu berjalan menuju ke teras rumah. Dia mengetuk pintu kayu jati yang tertutup rapat itu beberapa kali.
"Ya, sebentar ...," sahut suara dari dalam rumah.
Pintu kayu jati itu pun terbuka, ibunya menatap Mario dengan keheranan. "Le ...? Kok tumben ke rumah ndak ngabarin dulu? Ayo masuk ... masuk."
Tanpa basa-basi, Mario langsung memeluk ibunya yang sudah tua dan keriput itu. Dia menangis sejadi-jadinya, tak sanggup berbicara sepatah kata pun. Dia malu pada ibunya karena sudah gagal dalam segalanya. Pulang ke rumah orang tuanya dengan harga diri yang hancur, masa depan yang tak jelas, status baru sebagai tunawisma per hari ini.
Mario adalah anak kedua dari 3 bersaudara anak dari pasangan Indah Nurhayati dan Burhan Raharjo. Dia memiliki seorang kakak laki-laki bernama Rudi Prasetyo yang berusia 32 tahun yang sudah menikah dan tinggal di Balikpapan dan seorang adik perempuan bernama Maharani Mirasty yang berusia 18 tahun yang akan lulus SMA tahun ini.
Seolah mengerti derita putera keduanya, Bu Indah pun berkata, "Nangis ora popo, Le. Ben lego atimu." (Menangis tidak apa-apa, Nak. Supaya lega hatimu.) Dia membawa Mario duduk di kursi bambu yang terletak di dekat pintu teras rumah. Dibelainya dengan lembut kepala Mario yang rebah di bahunya. Sepertinya masalah yang dihadapi puteranya begitu berat, batin Bu Indah.
Setelah merasa sedikit lega, Mario pun mulai bercerita pada ibunya tentang apa yang terjadi. "Bu, Rio sekarang sudah tidak punya apa-apa. Semua hasil jerih payah Rio selama ini sudah lenyap, Rosita menjaminkan semua barang berharga milik Rio ke lintah darat ... semuanya disita tadi pagi ...."
Bu Indah merasa masygul mendengar cerita puteranya itu. Betapa berat penderitaan Mario. Dia tahu puteranya itu sangat rajin bekerja sejak masih muda, setiap bulan pun mengirimkan sebagian uang jerih lelahnya ke orang tuanya. Anaknya itu tidak pernah neko-neko.
"Yang sabar ya, Le. Jangan putus asa. Kamu masih muda, jalanmu masih panjang. Rumah ini selalu terbuka untukmu pulang. Harta itu bisa dicari lagi, hanya Ibu mau berpesan satu hal .... Kalau mencari istri lagi, cari yang hatinya tulus menerima kamu apa adanya," ujar Bu Indah menasihati puteranya seraya menepuk-nepuk punggung Mario dengan lembut.
"Iya, Bu. Rio tidak pernah menyangka kalau Rosita hanya ingin mencari kemewahan hidup. Dulu Rio pikir, dia itu wanita yang mau mendampingi Rio dalam suka dan duka," balas Rio menekuri lantai rumah.
Bu Indah hanya menanggapi perkataan Mario dengan tersenyum. Dia sudah mengetahui sifat buruk mantan menantunya itu sejak lama. Setiap kali mereka bertemu, Rosita selalu berlaku tidak ramah dan gengsi. Mungkin karena keluarga Mario berasal dari kalangan orang biasa yang terbiasa hidup sederhana dan apa adanya.
"Ibu doakan supaya kamu menemukan jodoh terbaik, Le. Wanita yang bisa mendampingimu melewati kerasnya kehidupan," ujar Bu Indah dengan lembut.
Mario menatap wajah teduh ibunya dan menemukan kedamaian di sana. "Amin. Terima kasih, Bu. Tapi, Rio masih ingin menata hati dulu, apa yang sudah dilakukan Rosita sungguh membuat Rio kecewa dengan kaum wanita," tutur Mario dengan mata berkaca-kaca.
Bu Indah menepuk-nepuk punggung puteranya itu lalu berkata, "Tidak semua wanita seperti Rosita, Nak. Sebelum memutuskan untuk menikah sebaiknya kenali dulu sifat-sifat calon istri kamu. Jangan sampai nanti sudah menikah, kamu gagal untuk kedua kalinya karena tidak cocok."
"Iya, Bu. Rio akan ingat nasihat Ibu," balas Mario seraya tersenyum pada ibunya.
Tiba-tiba ponsel Mario yang berada di dalam tasnya berbunyi. Dia pun segera menjawab panggilan nomor tidak dikenal itu.
"Halo," sapa Mario.
"Halo, Bapak Mario Chandra. Saya Aliya dari bagian kartu kredit BNI. Tagihan kartu kredit bulan ini sebesar 3 juta belum dilunasi ya, Pak," ucap lawan bicaranya di telepon.
"Maaf, Mbak. Saya tidak pernah berbelanja dengan kartu kredit BNI. Bagaimana bisa ada tagihan sebesar itu?" jawab Mario dengan bingung dan hati bergetar, uang simpanannya di rekening pribadinya hanya tersisa sekitar 5 juta.
"Transaksinya ada di billing surat tagihan bulanan, Pak. Di data kami, tertulis pembayaran belanja di Butik Kanaya dan pembayaran belanja di outlet sepatu Rotteli," ucap Mbak Aliya.
Mario pun mendesah lelah dan memijit keningnya yang terasa pening. Sepertinya itu tagihan belanja Rosita menggunakan kartu kredit atas nama Mario. Dulu dia terlalu ceroboh dengan mempercayakan segala transaksi keuangan pada Rosita. Bahkan, kemungkinan dulu dia sempat menandatangani berkas pinjaman bank tanpa dia baca dengan teliti.
"Mbak, kalau kartu kreditnya di close apa bisa?" tanya Mario tidak ingin terseret dalam pusaran utang yang ditimbulkan oleh mantan istrinya itu.
"Bisa, Pak. Tapi harus dilunasi dulu semua tagihan yang ada. Untuk info saja Pak, yang 3 juta tadi hanya tagihan billing bulanan saja. Nilai total tagihan yang belum terbayar ada 30 jutaan, Pak," kata Mbak Aliya lagi menjelaskan total tagihan kartu kredit atas nama Mario.
Astaga! Mario tidak tahu harus mencari uang sebesar 30 juta di mana. Dia benar-benar merasa stres sekarang. Dia pun akhirnya mengakhiri sambungan teleponnya dengan bagian kartu kredit BNI.
"Kenapa, Le? Kok kayaknya kaget begitu?" tanya Bu Indah bingung melihat puteranya tampak syok.
Mario memejamkan matanya, dia merasa jalan kehidupannya benar-benar berat. "Rosita berbelanja dengan kartu kredit atas namaku, Bu. Tagihannya total sekitar 30 juta. Tabunganku sisa 5 juta saja sekarang. Kalau ingin menutup kartu kredit itu, Rio harus melunasi 30 juta itu terlebih dahulu."
"Owalah, Le. Sabar ya!" sahut Bu Indah seraya menutup mulutnya dengan tangan. Dia merasa kasihan pada Mario.
"Sudah, sekarang lebih baik kamu mandi dan istirahat dulu, Le," lanjut Bu Indah menggandeng puteranya masuk ke dalam rumah.
"Terima kasih, Bu. Rio memang merasa sangat lelah jiwa raga saat ini. Semoga Rio akan menemukan jalan keluar untuk semua masalah Rio," ujar Mario berjalan bersisian dengan ibunya.