“Kapan kamu akan menikah?”
Wanita cantik yang sedang duduk di dekat jendela restoran hotel itu menghela napasnya ketika mendengar pertanyaan dari mamanya.
Meskipun dia adalah wanita karir yang membuat bisnis keluarga mereka telah maju dan terkenal di seluruh asia dan bahkan eropa dan amerika, Elena tidak bisa menghindar dari pertanyaan mematikan yang tidak berhenti-berhentinya ditanyakan oleh keluarganya.
Memangnya kenapa jika dia adalah wanita yang memiliki kekayaan $15 Miliar USD? Jika dia dikatakan sebagai wanita terkaya di Tiongkok, dan masuk dalam tiga orang terkaya di Tiongkok?
Mungkin dulu orang tuanya akan bangga dan tidak mempermasalahkan dirinya yang masih sendiri. Namun, saat ini usianya sudah 36 tahun, orang tuanya mulai khawatir mengenai masa depan anaknya.
“Jika mama meneleponku untuk membahas ini lagi, aku akan mematikan teleponnya,” jawab wanita itu dengan dingin lalu memperhatikan pemandangan kota Tiongkok yang terlihat indah dengan lampu-lampu yang menyala di tengah kegelapan.
“Elena!” jerit wanita yang berada di sambungan telepon. Nada bicaranya terdengar kesal.
“Apakah kamu ingin mama meninggal tanpa melihat pernikahanmu?”
Elena menarik napasnya ketika mendengar ancaman mamanya yang entah sudah berapa kali dia dengar. Wang Jia Li, mamanya, memang menderita penyakit jantung, dan sudah beberapa kali pergi ke rumah sakit karena adik laki-lakinya, Nam Ethan.
Entah sudah berapa kali adiknya itu membuat mamanya harus dilarikan ke rumah sakit. Yang jelas, selama ini dia tidak pernah menyebabkan mamanya mengalami hal itu.
“Dengan emosi mama yang seperti itu, mama akan hidup sampai seratus tahun, tenang saja,” sindir Elena dengan kesal.
“Elena!” teriak Jia Li sekali lagi. Wanita itu lalu terdengar seperti sedang berbicara dengan seseorang di sebelahnya, sebelum akhirnya suara pria terdengar oleh Elena.
“Elena,” panggil pria itu dengan lembut tapi terdengar tegas.
Elena kembali menarik napasnya. Itu adalah papanya. Sepertinya mamanya sudah terlalu capek untuk berbicara dengannya sehingga mamanya menyuruh papanya untuk berbicara.
Yah, sebenarnya, Elena lebih memilih seperti ini. Diantara orang tuanya, dia merasa lebih dekat dengan papanya, dan lebih dimanjakan. Bisa dibilang dia adalah putri kesayangan papanya.
“Aku tahu. Hanya saja mama terus mengomeliku soal pernikahan. Papa tahu belum saatnya aku harus menikah kan? Bisakah papa membujuk mama soal itu?” tanya Elena berpura-pura terdengar sedih.
Ini bukan pertama kalinya mamanya memarahinya soal kapan dia akan menikah. Mamanya sudah mulai melakukan hal itu sejak dia berusia 28 tahun, dan papanya yang selalu membelanya.
Mengatakan bahwa putri tertuanya itu masih terlalu kecil untuk menikah. Sepertinya Baek Hyeon masih belum siap membiarkan putri kesayangannya itu dimiliki oleh pria lain.
“Maaf, tapi saat ini papa setuju dengan mamamu. Kamu sudah berusia 35 tahun, Elena. Sudah saatnya kamu memikirkan masa depanmu dan membangun keluargamu sendiri.”
Elena menggertakkan giginya ketika mendengar papanya yang sudah berada di sisi mamanya dan tidak membelanya lagi.
“Jika kamu terus menundanya untuk menikah, akan sulit bagimu untuk memiliki anak nanti,” lanjut Baek Hyeon dengan tenang.
“Apakah cucu dari Ethan masih belum cukup untuk kalian? Dia telah memberikan kalian empat orang cucu! Empat! Kenapa kalian melakukan ini padaku?!” tanya Elena dengan kesal, sekarang bisa mengerti kenapa orang tuanya memaksanya untuk menikah.
Mereka ingin seorang cucu!
Namun, bukankah mereka telah memiliki empat orang cucu?!
Adiknya yang berusia tiga tahun lebih muda darinya itu memang telah menikah lebih dulu karena kebodohannya sendiri, dia menghamili seorang wanita.
Sebenarnya, Elena merasa lega dengan hal itu, selama ini alasan mamanya ingin menyuruhnya cepat menikah karena mereka ingin seorang cucu, dan… adiknya telah memberikannya.
Empat tahun kemudian, adiknya itu berhasil memberikan mereka kembali cucu, tidak hanya satu, dua, tapi tiga sekaligus! Adik iparnya hamil kembar tiga, dan keluarga mereka menjadi lebih banyak.
Elena tidak bisa melupakan betapa bahagianya dia waktu itu, dan juga orang tuanya, melihat tiga bayi yang baru saja lahir.
Sekali lagi, Elena merasa senang, dengan empat orang cucu, mereka pasti tidak akan mengomelinya lagi untuk segera menikah.
Namun, sepertinya dia salah, karena mereka melakukannya lagi!
“Bukan begitu. Kami tidak menyuruhmu menikah agar kami bisa memiliki cucu, kami hanya khawatir…”
“Aku akan baik-baik saja!” potong Elena dengan emosi.
“Aku akan hidup dengan baik-baik saja! Aku memiliki uang dan kekayaan! Papa dan mama tidak perlu mengkhawatirkanku!” lanjutnya.
“Elena…”
“Jika tidak ada yang ingin papa dan mama katakan lagi, aku akan menutup teleponnya!” Elena lalu langsung mematikan sambungan telepon itu tanpa menunggu jawaban dari papanya.
Pandangannya lalu kembali melihat pemandangan di jendela lalu tangannya segera mengangkat gelas yang berisi wine dan menyisipnya. Dia lalu menghela napasnya.
Menikah… Tentu saja Elena ingin melakukannya. Dia pikir, dia akan melakukannya dua tahun yang lalu ketika merasa telah bertemu dengan pria yang tepat. Pria yang ingin dia ajak untuk menikah.
Namun, siapa yang menyangka bahwa pria itu adalah seorang bajingan?
“Lebih baik jangan memikirkannya,” pikir Elena yang merasakan tubuhnya bergetar ketika memikirkan bajingan itu.
Elena mengalihkan pandangannya ketika merasakan ada orang yang menarik kursi di depannya dan langsung duduk, alisnya sedikit terangkat ketika melihat pria yang sedang memakai setelan jas.
Pria itu memiliki hidung yang mancung dan alis yang tebal, rambutnya yang hitam disisir dengan rapi, dan bibirnya yang merah membuatnya terlihat sangat seksi.
“Aku adalah Li Yuchen. Seperti katamu, aku sudah membawakan proposalnya sendiri. Jadi bisakah kamu memberikan sponsor untuk kami? Atau kita harus membicarakannya di kamar hotel?” tanya pria itu dengan nada setengah menyindir.
Elena mengerjap-ngerjapkan matanya ketika mendengar ucapan pria itu. Proposal? Sponsor? Apa yang dibicarakan olehnya?
Selama ini Elena memang sering menjadi sponsor untuk proposal bisnis yang bagus, tapi itu dilakukan di perusahaannya, dia tidak pernah ingin bekerja ketika sedang menikmati waktunya seperti ini.
Namun, Elena tetap mengambil proposal yang berada di atas meja dan mulai membacanya.
Dahi Yuchen berkerut ketika wanita di depannya hanya diam saja, bukankah wanita di depannya adalah wanita yang suka bermain dengan pria? Makanya dia sengaja mengundangnya ke hotel untuk membahas proposal kerja sama mereka?
“Nona Wu Jia Ni?” panggil Yuchen sekali lagi ketika wanita itu hanya diam saja.
Dahi Elena berkerut ketika mendengar nama yang dikatakan pria itu, sepertinya pria itu salah mengira dirinya dengan wanita lain, tapi Elena sedikit tersinggung wanita yang disalah kira adalah Wu Jia Ni, wanita karir yang memiliki bisnisnya sendiri dan masuk dalam 10 wanita terkaya di Tiongkok.
Dia jauh lebih baik daripada wanita itu!
“Baiklah, aku akan menjadi sponsormu. Apakah kamu bersedia melakukan apa saja untuk itu?” tanya Elena kini memandang pria di depannya.
Yuchen mengangguk.
“Kalau begitu, jadilah suamiku!”
Yuchen mengerjap-ngerjapkan matanya mendengar ucapan berani dari wanita yang berada di depannya. Dia sudah mendengar rumor bahwa Wu Jia Ni adalah wanita yang sering gonta ganti pria untuk mengajak mereka ke tempat tidur, tapi dia sama sekali tidak menyangka wanita itu akan menawarinya untuk menjadi suaminya.
Berdasarkan apa yang dia dengar dari keluarganya, Wu Jia Ni masih single sampai sekarang karena sepertinya dia hanya ingin bersenang-senang dan tidak tertarik dengan pernikahan.
Namun, wanita itu baru saja menawarinya untuk menjadi suaminya?
Dia tahu bahwa dia memiliki wajah yang tampan, dan tubuh yang kekar, dia bahkan percaya diri dengan kemampuannya di ranjang untuk memuaskan wanita itu.
Tapi… wanita itu bahkan belum mencoba kemampuannya, dan dia sudah menawarkan diri untuk menjadi suaminya?
Raut wajah Yuchen segera berubah menjadi jijik, dia tidak tahu kenapa sampai wanita itu memintanya untuk menjadi suaminya, tapi dia tidak mungkin akan melakukan hal itu! Dia tidak akan menikah dengan wanita seperti itu!
“Ah! Aku lupa memberitahukanmu, aku bukan Wu Jia Ni,” ucap Elena menyadari ekspresi jijik dari Yuchen yang sangat wajar.
Siapa juga orang waras yang ingin menikah dengan nenek tua itu?
Dahi Yuchen berkerut ketika mendengar ucapan Elena. Wanita ini bukan Wu Jia Ni? Dia memang tidak tahu bagaimana wajah dari wanita bernama Wu Jia Ni. Dia hanya dikirimkan pesan bahwa mereka akan bertemu di restoran hotel ini dan wanita itu akan menunggunya.
Dia hanya mendengar bahwa wanita itu berusia sekitar empat puluh tahunan dan playgirl. Ketika mendengar betapa menjijikkan wanita itu, Yuchen bahkan tidak ingin mencari tahu bagaimana wajahnya di internet.
Ketika dia masuk ke restoran hotel ini, dia langsung melihat bahwa ada seorang wanita yang sedang duduk di dekat jendela seorang diri, wanita itu terlihat dewasa. Tanpa menunggu lebih lama lagi, dia langsung berasumsi bahwa wanita itu adalah Wu Jia Ni.
Namun, ketika dia semakin mendekat, dia terkejut.
Dia mendengar bahwa Wu Jia Ni adalah wanita berusia empat puluh tahunan, tapi wajah wanita itu sangat cantik, membuatnya langsung duduk di sana dan memperkenalkan dirinya.
Yah… Wu Jia Ni adalah wanita kaya, dia pasti merawat dirinya sehingga tidak terlihat seperti usianya, kan?
Namun, ternyata wanita itu bukan Wu Jia Ni?
“Ah, maafkan aku. Kupikir kamu adalah Wu Jia Ni,” ucap Yuchen dengan wajah sedikit memerah karena malu. Tidak hanya dia salah orang, dia juga sudah memberitahukan bahwa dia ingin akan menjadi pria yang menjual tubuhnya.
Yuchen lalu langsung mengambil proposal yang telah diletakkan Elena di atas meja, bersiap untuk segera pergi dari situ dan mencari wanita yang ingin dia temui.
Namun, proposal itu langsung ditahan oleh Elena, membuat Yuchen yang malu, menatap wanita itu dengan bingung.
“Aku memang bukan Wu Jia Ni, tapi aku bisa membantumu,” jawab Elena dengan sudut bibirnya yang sedikit terangkat.
Dahi Yuchen berkerut, menatap wanita yang saat ini seperti sedang meremehkannya.
“Apa maksudmu? Kamu ingin menjadi sponsor perusahaanku?” tanya Yuchen, sedikit mendengus.
"Apakah kamu bahkan tahu berapa biaya yang kami butuhkan?" lanjut Yuchen dengan nada menyindir.
Dia sudah berusaha untuk terlihat sopan ketika bertemu dengan wanita yang dipikirnya adalah Wu Jia Ni, dia juga sudah mencoba untuk langsung pergi setelah tahu wanita itu bukan wanita yang ingin dia temui.
Namun, wanita itu memandangnya dengan tatapan meremehkan?
Dia tahu saat ini dia melakukan sesuatu yang memalukan, bersiap menjual tubuhnya demi mendapatkan sponsor, tapi dia tidak memiliki pilihan lain selain menuruti permintaan ibunya!
Elena menggertakkan giginya ketika melihat tatapan pria itu. Sudah lama sekali sejak ada pria yang menatapnya dengan tatapan seperti itu.
"Tentu saja! Aku sudah melihat proposalmu, ngomong-ngomong, itu seperti sampah. Dengan rencana bisnis seperti itu, kamu ingin mengirimkan proposal untuk menjadi sponsor?" tanya Elena, mendengus.
"Tidak heran kamu akhirnya ingin mendekati Wu Jia Ni. Apakah kamu sepercaya diri itu di ranjang sehingga kamu yakin dia akan memberikanmu uangnya?" lanjut Elena, menaikkan sudut bibirnya.
Harus diakui, penampilan pria itu terlihat tampan. Jika orang bertanya apakah dia akan mengencani pria seperti itu, maka Elena akan menjawab tentu saja.
Tapi berani-beraninya pria itu memandangnya dengan remeh ketika dia adalah pria yang akan menjual tubuhnya demi uang sponsor?
Ha! Sepertinya pria ini perlu diberikan pelajaran.
Yuchen mengepalkan satu tangannya yang berada dibawah meja dengan erat ketika melihat nada bicara penuh penghinaan dari wanita itu.
Dia juga tahu bahwa rencana bisnisnya tidak bagus! Dia sudah memberitahukan hal itu! Tapi ayahnya bersikeras bahwa ini akan berhasil dan dia hanya perlu mendapatkan sponsor untuk rencana bisnis ini!
"Aku sibuk, jadi aku akan pergi lebih dulu!" ucap Yuchen, memilih untuk tidak berdebat dengan wanita asing ini dan pergi mencari wanita yang seharusnya dia temui di restoran ini.
Tapi sekali lagi, Elena menahan proposalnya itu dan menariknya, membuat Yuchen yang tidak menyangka akan hal itu segera kehilangan proposalnya.
"Sudah kubilang aku akan menjadi sponsor untukmu," ucap Elena, menggoyangkan proposal itu.
Meskipun dia tidak mengenal pria di depannya, tapi secara penampilan, pria itu sudah lolos. Kepribadiannya mungkin sedikit kurang karena dia menatapnya dengan pandangan meremehkan, belum lagi dia bersiap untuk menjual tubuhnya demi uang.
Namun, itu sama sekali tidak masalah. Dia bisa membantu memberikan pria itu uang, dan pria itu bisa membantunya untuk mengatasi masalah yang dia hadapi saat ini.
Pernikahan!
Dia tahu bahwa selama dia tidak menikah, mama dan papanya akan terus mengomelinya soal itu, tapi… dia sudah tidak percaya lagi untuk menemukan cintanya setelah apa yang terjadi waktu itu.
Dia sudah menyerah.
Dia tidak akan pernah mau menikah!
"Berikan padaku proposal itu!" ucap Yuchen yang mulai kehilangan kesabaran ketika melihat sikap wanita di depannya.
Saat dia hendak meraih proposal itu, Elena segera menjauhkannya.
"Aku Nam Elena," ucap Elena, memperkenalkan dirinya.
Pria itu sedikit terkejut ketika mendengar nama wanita itu.
"Lihat dia! Tidak bisa berkata-kata karena saking terkejutnya mendengar namaku!" pikir Elena ketika melihat reaksi pria itu. Sebuah senyuman puas terlihat di wajahnya.
Dia lalu meletakkan proposal yang dipegangnya di atas meja, lalu kembali menatap Yuchen dengan tatapan menantang.
"Bagaimana? Apakah kamu ingin aku yang menjadi sponsormu, atau nenek tua bangka itu? Jika kamu mengambil proposal ini dan pergi dari sini, anggap saja percakapan kita tidak pernah terjadi!" ucap Elena dengan penuh percaya diri.
Pria itu pasti akan duduk di sini dan menanyakan apa yang harus dia lakukan dengan nada memohon.
Namun, mata Elena segera membesar ketika tangan Yuchen bergerak maju dan mengambil proposal bisnisnya yang berada di atas meja.
“Apa yang kamu pikir sedang kamu lakukan?!” ucap Elena yang buru-buru menahan menahan proposal itu agar tidak diambil oleh Yuchen. Untung saja dia memiliki refleks yang cepat sehingga bisa menahan pria itu untuk pergi dari sini.
Dia sudah memperkenalkan namanya, tapi pria itu malah ingin pergi?! Ini benar-benar sebuah penghinaan!
“Sudah kubilang aku sibuk. Aku juga tidak ingin berkenalan denganmu. Bisakah kamu lepaskan proposal ini? Aku hanya membawa satu kopiannya!” ucap Yuchen yang terlihat mulai kesal.
Wanita di depannya memang terlihat tidak buruk. Dia memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang menarik, tapi saat ini bukan waktunya untuk berkenalan dengan seorang wanita.
Satu-satunya yang dipikirkan Yuchen saat ini adalah mendapatkan sponsor dari Wu Jia Ni.
Elena membesarkan matanya ketika mendengar reaksi dari pria itu, sebelum akhirnya wanita mendengus ketika dia akhirnya menyadari sesuatu.
“Kamu tidak mengenalku?” tanya Elena menatap pria itu..
Setelah Elena pikirkan lagi, saat ini pria itu sedang melihat wajahnya dari dekat dan meskipun dia tidak secantik dengan fotonya yang beredar di media karena itu sedikit di photoshop, tapi perbedaannya tidak separah itu.
Riasannya malam ini memang tidak setebal dengan yang berada di media, tapi pria itu seharusnya langsung mengenalnya, apalagi pria itu dari kalangan bisnis.
Siapa pebisnis yang tidak kenal dengan Nam Elena?
Namun, sepertinya pria ini memang sama sekali tidak mengenalnya, bahkan sampai salah mengira bahwa dia adalah Wu Jia Ni. Elena tidak tahu kenapa bisa sampai seperti itu, tapi hanya ini satu-satunya yang bisa dia pikirkan.
“Apakah aku harus mengenalmu?” tanya Yuchen sambil mendengus.
“Aku tahu aku terlihat tampan dan menarik, tapi saat ini aku tidak memiliki waktu untuk berkenalan denganmu,” lanjut Yuchen lalu menundukkan kepalanya sedikit dan segera mengangkatnya untuk menunjukkan rasa sopannya.
Elena mendengus dengan tidak percaya ketika melihat sikap arogan yang diberikan oleh pria ini. Jadi ternyata dugaannya bahwa pria itu tidak mengenalnya memang benar, makanya dia bersikap seperti itu.
“Kamu setidaknya mengetahui Wang Group, kan? Jika kamu juga tidak tahu itu, sepertinya kamu harus banyak membaca berita, bukan menghabiskan waktumu untuk membuat tubuhmu menjadi menarik,” ucap Elena dengan nada menyindir.
Yuchen mengepalkan tangannya ketika mendengar nada penuh hinaan dari wanita di depannya, tapi otaknya tiba-tiba memproses apa yang baru saja dikatakan oleh wanita itu.
“Wang group? Bukankah itu adalah salah satu perusahaan terbesar di Tiongkok. Kenapa wanita itu…” Mata Yuchen lalu membesar ketika sebuah pemikiran terlintas dibenaknya, dia memandang Elena dengan tatapan tidak percaya.
Elena tersenyum, sepertinya sekarang pria itu akhirnya tahu bagaimana situasinya saat ini.
Sebenarnya, dia bisa saja mencari pria lain untuk menjalankan rencana yang baru saja terpikirkan olehnya, tapi pria di depannya terlihat putus asa untuk mendapatkan sebuah sponsor, sesuatu yang bisa dia manfaatkan.
Kata orang, orang yang putus asa akan melakukan apa saja, kan?
Pria itu bahkan bersedia menjual tubuhnya untuk mendapatkan sponsor, jadi kenapa tidak sekalian dia membeli tubuhnya itu untuk berpura-pura menjadi suaminya?
“Sepertinya kamu sudah mengenaliku sekarang. Iya, aku Nam Elena, CEO dari Wang Group. Apakah sekarang kamu ingin berkenalan denganku?” tanya Elena melepaskan proposal yang sedang dia pegang dan kembali duduk bersandar.
Dia melipatkan kedua tangannya di depan dadanya dan menyilangkan kaki kirinya lalu menatap pria di depannya dengan dagu terangkat.
Yuchen mengalihkan pandangannya lalu menutup matanya ketika melihat bagaimana sikap wanita di depannya.
Ohh… ini benar-benar memalukan!
Yuchen lalu berdehem, mencoba mengatasi rasa canggung dan malunya lalu melihat ke arah wanita yang masih memandangnya dengan senyuman penuh kemenangan di wajahnya.
Uhh… Jika saat ini dia benar-benar tidak sedang putus asa, dia akan segera berdiri dan pergi dari situ karena tidak menyukai ekspresi wanita itu.
Namun, dia sangat membutuhkan uang saat ini, dan wanita yang berada di depannya adalah orang yang bisa memberikan uang kepadanya.
Dia adalah CEO dari Wang Group!
“Ehem, jadi apa yang kamu inginkan? Dan bagaimana kamu akan membantuku?” tanya Yuchen memasang ekspresi wajah seriusnya sambil menatap Elena, mencoba untuk menyembunyikan bahwa saat ini dia benar-benar malu dan kesal.
Senyuman di bibir Elena semakin mengembang, dia membuka bibirnya untuk mengatakan apa rencananya, tapi sudut matanya tiba-tiba menangkap seorang wanita yang baru saja memasuki restoran hotel itu dan tampak melihat sekelilingnya, mencari orang yang harus dia temui.
“Ayo bicara di tempat yang lebih pribadi. Aku menyewa kamar di hotel ini,” ucap Elena lalu langsung berdiri dan mengambil tasnya.
Yuchen terlihat bingung, tapi dia tetap berdiri dan mengikuti wanita itu yang berjalan lebih dulu.
“Oh… siapa ini? Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di tempat seperti ini.”
Suara seorang wanita tiba-tiba terdengar, membuat Yuchen ikut berhenti ketika melihat Elena juga berhenti.
“Benar, kan? Aku tidak sangka akan bertemu denganmu di tempat seperti ini. Apakah kamu datang kemari karena tahu aku sering datang ke sini?” tanya Elena dengan nada penuh sindiran dengan senyuman manis di wajahnya.
“Itu yang seharusnya aku katakan! Aku adalah langganan di hotel ini! Bukankah kamu yang datang ke sini karena tahu aku sering datang ke sini?” tanya wanita itu dengan senyuman percaya diri di wajahnya.
“Ohh… aku tidak sangka bahwa hotel ini menjadi tempatmu bertemu dengan mainanmu. Sepertinya mulai sekarang aku tidak harus datang ke sini lagi,” ucap Elena dengan ekspresi wajah terlihat jijik.
“Ah?! Atau sebaiknya aku membelinya dan melarangmu untuk datang kemari, ya? Aku cukup menyukai pemandangannya di malam hari,” lanjut Elena sambil tersenyum lebar, seolah menantang wanita yang berada di depannya.
“Hah! Aku yang akan membelinya dan melarangmu datang kemari!” ucap wanita itu dengan kesal.
Dia tidak menyangka bahwa dia akan bertemu dengan Elena di sini, wanita yang sangat dibenci olehnya. Tidak hanya wanita itu adalah saingan bisnisnya, tapi dia juga memiliki kepribadian yang membuatnya sangat membencinya!
Pandangan wanita itu lalu tertuju pada pria yang berada di belakang Elena, dia awalnya berpikir pria itu akan pergi melewati mereka karena mereka berdiri di dekat pintu keluar, tapi pria itu ternyata tetap berdiri di sana.
“Tunggu dulu… Kamu…” ucap wanita itu mulai memperhatikan wajah pria yang berada di belakang Elena yang mulai terlihat tidak asing.
Senyum Elena mengembang ketika melihat wanita itu tampak mengenali pria yang berada di belakangnya.
“Benar, dia adalah pria yang seharusnya kamu temui.”
Perkataan Elena membuat wanita itu menoleh kepada Elena, lalu kepada pria itu. Dia adalah pria yang seharusnya ditemui olehnya?
Elena lalu berjalan mendekati Yuchen, dia berdiri disampingnya lalu memeluk lengan pria itu.
“Aku tidak menyangka bahwa kamu berniat untuk mencuri priaku, Wu Jia Ni,” ucap Elena memasang ekspresi wajah terkejut di wajahnya.
“Ayo darling, kita sebaiknya pergi dari sini,” lanjut Elena lalu segera melangkahkan kakinya dan sedikit menarik Yuchen untuk ikut bersamanya.
Sementara itu wanita itu terdiam ditempatnya ketika mendengar itu. Pria yang seharusnya dia temui adalah pria Elena?