Bab 1

Mohon maaf jika banyak kalimat yang salah. Semoga kalian suka dengan ceritanya.

####

Pernikahan yang megah, tak selalu menjamin kebahagiaan di baliknya. Susana bahagia nan sakral pagi itu, ternyata menjadi petaka kala malam datang. Pria yang berstatus menjadi suami, mendadak berubah karena suatu hal. Menyerah atau berlanjut?

Malam itu, saat usai pernikahan …

“Beruntung aku belum menjamah kamu!” suara lantang itu memekik gendang telinga Anin. Suaranya terdengar menusuk dan sangat nyaring. “Dasar wanita murahan!” hardiknya lagi penuh hinaan.

“Aku bukan wanita seperti itu, Mas!” sahut Anin membela diri. “Jangan percaya dengan foto itu. Itu hanya salah paham.”

Anin masih terduduk memandangi sang suami yang tengah menyalak.

Bagas mendecih. “Jangan sok polos kamu. Bilang saja padaku, sudah berapa banyak pria yang menidurimu?”

Degh! Dada Anin terasa sakit tatkala kalimat itu menyobek raga. Kalimat yang menurut Anin sangatlah keterlaluan.

“Tega sekali kamu berkata begitu!” sahut Anin. “Aku bukan wanita murahan, Mas.”

Bagas melengos. “Sudahlah, nggak usah mengelak. Bicara saja yang jujur, toh aku tidak akan menceraikan kamu.”

“Apa maksudmu?” Anin menatap serius.

“Aku akan menutupi kelakuan bejatmu. Aku masih membutuhkanmu di sini. Bukan sebagai istri yang akan aku sayang, melainkan sebagai senjataku untuk mendapatkan perusahaan ayahku.”

Bibir Anin lantas bergetar dengan mata berkaca-kaca. Di malam pertama setelah pernikahan, bukan kebahagiaan yang Anin dapatkan, akan tetapi sebuah hinaan dan cacian hanya karena sebuah foto syur. Sebuah foto yang memamerkan Anin sedang dipeluk mesra oleh seorang pria di sebuah kelab.

“Tega sekali kamu padaku,” kata Anin sambil menangis. “Aku bahkan tidak tahu kenapa aku ada di foto itu.”

Bagi wanita, menangis adalah cara utama saat menghadapi masalah.

“Jangan khawatir, tak akan ada orang yang tahu tentang kelakuan buruk kamu. Aku akan menyimpannya rapat-rapat.” Bagas menyeringai. “Yang harus kamu ingat, jangan menyentuhku, aku bahkan tak akan menjamahmu apalagi bersetubuh dengan kamu. Jijik aku!”

Bagas berlalu keluar dari kamar meninggalkan Anin sendirian yang masih menangis.

Sebuah pernikahan yang indah di pagi itu, kini harus sirna saat datang malam hari. Anin menangis sejadi-jadinya kala itu. Dibiarkan oleh sang suami di malam pertama, suatu hal yang tak akan bisa Anin lupakan.

Niatnya Anin tidak ingin mengingat kejadian itu, karena memang Anin sudah terbiasa menjalani pernikahan tanpa ada kata sentuhan. Anin selalu disayang saat di depan keluarga mertua, tapi selalu dicaci saat tiada siapapun.

Satu tahun berlalu, nyatanya tak ada yang berubah. Wanita bernama Hanindiya Saputri atau sering dipanggil Anin, tetap harus pura-pura bahagia dengan pernikahannya, sementara di dalam hatinya sedang menyimpan tangis yang amat pedih rasanya.

Suami yang Anin cintai selama ini, sudah berubah. Pria itu bahkan sudah kehilangan selera untuk sekedar menyentuh sedikit bagian kulit mulus milik Anin. untuk bagian lainnya, Anin tidak akan berharap.

Satu tahun, harusnya sudah cukup untuk menjerat sosok Anin, karena Anin memang ingin bebas.

“Duduk sini, Anin,” perintah Sasmita—mama mertua. “Biar Bibi Niah dan yang lain yang membersihkan semuanya.”

Anin mengangguk kemudian ikut duduk. Namun, baru saja duduk Anin terpaksa harus berdiri lagi.

“Ambilkan aku jus dulu,” perintah Bagas. Tentunya dengan nada bicara yang Bagas buat sehalus mungkin.

Anin tersenyum lalu berdiri dan melangkah ke arah dapur.

“Kamu kan bisa minta ambilkan Bibi Niah. Tidak usah memerintah Anin terus,” kata mama.

Bagas acuh. “Tak apa, Ma. Anin kan istri aku. Sudah sepantasnya dia melayaniku.”

Mama mendesah kasar kemudian bersandar pada dinding sofa. Sementara pandangannya fokus ke arah layar televisi, satu tangannya sedang memegang dan memencet tombol untuk mencari acara yang bagus.

“Mau sampai kapan kamu diam terus?” suara serak mengejutkan Anin. “Kamu nggak bosan?” kata dia lagi.

Anin menoleh. Anin tentu sangat mengenali suara itu. Suara milik pria yang sama tampannya dengan Bagas. Sama-sama berpawakan tegap atletis. Hanya saja pria di hadapan Anin saat ini lebih tinggi dari Bagas.

Namanya Jonan, Jonan Hanggoro. Dia Putra kedua dari pasangan Hanggoro dan Sasmita. Bagas dan Jonan hanya berpaut umur sekitar lima tahun saja.

“Kamu belum menjawab pertanyaanku,” kata Jonan lagi.

Masih sibuk menuang jus ke dalam gelas, Anin menoleh. “Maksud kamu apa?”

“Kamu tidak capek melayani suami kamu yang tidak jelas itu?” tanya Jonan. “Berhenti pura-pura bahagia.”

Anin tersenyum. “Untuk apa aku pura-pura? Aku memang bahagia dengan pernikahanku,” elak Anin.

Jonan terlihat menyeringai. Usai meletakkan gelas yang sedari ia pegang, Jonan maju ke arah Anin. “Yakin kalau kamu bahagia?”

Anin terpojok di sudut meja konter dapur. “Tentu saja aku bahagia,” jawab Anin sambil mencoba menyingkir.

Jonan mendecih. Seperti tak peduli dengan gerak Anin yang mencoba menghindar, Jonan terus mencoba memepet tubuh Anin.

“Berhentilah menyiksa dirimu. Kamu lumayan sebenarnya.” Seringaian muncul di wajah Jonan.

“Awas!” pekik Anin kemudian sambil mendorong tubuh Jonan.

Jonan sontak tertawa getir. “Aku siap menggantikan Bagas jika kamu mau!” kata Jonan saat Anin sudah berjalan keluar dari dapur membawa segelas jus mangga.

Anin mencoba acuh dan terus berjalan meskipun kata-kata Jonan berhasil nyangkut di otaknya. Ini bukan pertama kalinya Jonan berkata begitu. Hari-hari yang lalu Jonan juga sempat menggoda Anin saat tak ada Bagas. Anin tak tahu apa yang direncanakan pria itu, hanya saja terkadang Anin terhibur dengan celotehan Jonan yang tidak masuk akal.

“Kenapa lama sekali?” sungut Bagas sesampainya Anin di dekatnya.

Di ruangan tersebut sudah tidak ada mama atau siapapun. Hanya tinggal Bagas yang semula sedang berbaring.

“Maaf, tadi aku harus ngupas mangganya dulu,” jelas Anin.

“Alasan!” sembur Bagas sambil merebut gelas dari tangan Anin. “Sudah sana! Kau bersihkan kamar. Hari ini aku mau tidur lebih awal.”

Memejamkan mata sesaat, Anin kemudian mengangguk. Tak perlu menjawab. Selain karena memang tidak perlu, toh Bagas tak peduli dengan jawaban Anin.

Anin kemudian berjalan menaiki anak tangga. Langkahnya ia buat lebih cepat karena ada sesuatu yang hampir keluar dari persembunyiannya. Rasanya sesak dan tidak mengenakkan.

BRAK! Anin menutup pintu dengan sangat keras. Tubuhnya merosot di balik pintu dengan kedua kaki tertekuk untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah basah kuyup.

“Sampai kapan? Sampai kapan, Tuhan?” Anim sedang mengadu dalam umpatan. “Aku capek!”

Anin tak tahu kalau ada orang lain di balik pintu bagian luar. Dia sedang berdiri dengan bibir menipis penuh rasa iba. Mungkin ingin menolong, tapi untuk apa?

“Aku harus bagaimana supaya bisa lepas?” Anin masih terisak.

Tak mendengar lebih lanjut, Jonan memilih berbalik kemudian kembali turun ke lantai satu.

“Kamu belum mau tidur?” tanya Jonan saat sudah duduk di samping Bagas.

“Sebentar lagi,” sahut Bagas singkat. Bagas nampaknya masih fokus dengan acara berita malam.

“Aku lihat Anin sudah naik ke atas, kamu tidak menyusulnya?” tanya Jonan lagi.

“Iya, ini aku mau menyusulnya,” Bagas masih acuh.

“Apa kamu sudah bosan dengan Anin?”

Pertanyaan itu membuat Bagas menoleh. “Apa maksudmu?”

“Tidak,” Jonan menaikkan kedua pundak lantas memangku bantal. “Aku hanya merasa aneh dengan hubungan kalian.”

Bagas berdiri usai melempar repot TV di samping Jonan. “Jangan ikut campur. Kamu urus saja urusanmu sendiri.”

Bagas pergi. Jonan terlihat mendengus sebal. “Kalau kamu tak mau, lepaskan saja Anin untukku.”

“Astaga!” pekik Jonan tiba-tiba. “Apa yang aku katakan barusan? Aku sudah gila!”

Jonan menjitak kepalanya sendiri yang mendadak terlihat kurang waras.

Bab 2

Semburat sang surya di luar sana, sudah mulai menembus melalui sela-sela jendela. Anin yang memang sudah bangun sejak subuh tadi, tentunya mulai disibukkan dengan rutinitasnya menyiapkan pakaian sang suami.

“Mana bajuku?” tanya Bagas ketika sudah keluar dari kamar mandi. “Jangan lupa sepatu dan tasku.”

“Ini baju kamu, Mas” Anin meletakkan setelan jas untuk Bagas di atas ranjang. “Aku ambilkan sepatu kamu dulu.”

“Cepat! Jangan lama-lama. Aku sudah kesiangan.”

Anin berbalik cepat dari ruangan yang dikhususkan untuk menaruh koleksi sepatu dan barang pribadi milik Bagas.

“Ini,” kata Anin kemudian.

Bagas duduk di tepi ranjang sambil mengancing kemejanya. “Pakaikan, cepat!” perintah Bagas.

Meskipun sentakan itu sudah menjadi makanan Anin setiap pagi, tapi tetap saja Anin masih sering terhenyak dan kaget. Bahkan kadang rasanya lebih sakit saat Anin terlalu memikirkannya.

Tanpa berpamitan layaknya suami istri pada umumnya, Bagas yang sudah siap justru langsung nyelonong begitu saja keluar dari dalam kamar.

“Di mana Anin?” tanya Hanggoro. “Nggak kamu ajak sarapan?”

Bagas meletakkan tas kerjanya di kursi kosong yang sebelahnya dia duduki. “Dia belum mandi. Katanya mau makan nanti.”

Jawaban Bagas mungkin dimaklumi oleh papa dan mama, tapi tidak dengan Jonan. Jonan tentu saja tahu kalau Bagas memang berniat tidak mengajak Anin untuk sarapan.

“Ya sudah, kita tinggal,” kata mama kemudian. “Nanti biar Anin menyusul.”

Keluarga ini memang sangat sibuk. Setiap hari tidak ada yang menganggur di rumah. Hanggoro yang sibuk dengan bisnis properti, Bagas yang ditunjuk sebagai menejer perusahaan, dan Sasmita yang harus sibuk di salon, tentunya membuat mereka lebih sering berada di luar. Mereka akan berada di rumah sekitar pukul lima sore sampai pagi.

Bagaimana dengan Jonan? Jonan lebih sering di rumah. Bukan karena dia tidak memiliki pekerjaan, tapi Jonan sudah mempercayakan pada para karyawannya. Dan yang paling utama, ada asisten pribadinya bernama Tirta.

“Kamu tidak pergi ke pabrik?” tanya Anin sambil membereskan sisa makanan di atas meja.

Anin muncul setelah semua orang sudah pergi dan hanya menyisakan Jonan yang justru masih asik menikmati sepiring nasi goreng.

“Tidak. Sudah ada Tirta di sana,” jawab Jonan. “Kau mau makan?” tawar Jonan kemudian.

Sambil tersenyum, Anggun menggeleng. “Aku belum lapar.”

“Sini biar Bibi saja yang bereskan,” kata Bibi Niah sambil merebut pelan setumpuk piring yang ada di tangan Anin.

“Nggak pa-pa, Bi. Aku biasa bantu kan?” Anin tersenyum.

Kalau sudah melihat senyum Anin yang manis, Bibi Niah pun akan melumer. Bukan hanya Bibi Niah, Jonan yang sempat melirik senyum itu pun sejujurnya merasa terpesona.

Bibi Niah sudah kembali ke dapur. Dan kini hanya ada Anin dan Jonan di ruang makan.

“Duduklah, temani aku makan,” pinta Jonan santai. “Kamu juga harus makan. Jangan sampai perutmu sakit.”

Bukankan itu terdengar seperti sebuah perhatian? Anin merasa nyaman dengan ucapan tersebut.

Masih dengan mode diam, Anin pada akhirnya ikut duduk dan mulai menikmati sarapan pagi yang sudah beranjak siang.

“Kenapa kamu tidak mencoba membuktikan kalau kamu tidak bersalah?”

Anin diam masih sambil mengunyah makanan. Anin sedang membiarkan Jonan terus bicara.

“Kalau kamu memang tidak bersalah, cari tahu lalu buktikan. Jangan biarkan Bagas terus mempermainkanmu.”

Anin meletakkan kedua sendoknya di atas piring. “Tidak semudah itu. Kamu pikir aku harus membuktikan dengan cara apa?” tanya Anin kemudian.

Satu yang sebenarnya sedikit Anin khawatirkan— Jonan yang notabenya sebagai adik Bagas— ternyata tahu tentang semua rahasia di balik pernikahannya dengan Bagas. Jonan tahu semuanya, termasuk dengan kebahagiaan palsu yang Anin buat.

“Cari tahu siapa pelakunya,” kata Jonan enteng. “Telusuri dan ingat-ingat kenapa kamu berada di kelab malam itu?”

“Apa kamu juga tahu tentang kelab?” tanya Anin curiga. Selera makan mendadak sudah lenyap. “Jawab!” tegas Anin.

Jonan terlihat santai dan seperti tak peduli dengan pelototan Anin. “Jangan kamu pikir aku dalang dari semuanya,” cibir Jonan.

“Lalu, kenapa kamu bahas tentang kelab itu?” salak Anin. "Padahal aku yakin kamu hanya tahu kenapa Bagas mendadak membenciku. Tidak yang lain.”

Jonan menghela napas. Memutar bola mata malas kemudian mendorong kursi dan berdiri. “Kamu itu terlalu bodoh. Makanya mudah dikibulin.”

“Apa kamu bilang?” Anin ikut berdiri dan memberi tatapan tajam. “Tarik ucapan kamu!”

Lagi-lagi Jonan menghela napas. Tidak pergi menjauh, melainkan maju tiga langkah hingga sampai tepat di hadapan Anin. Jonan tidak langsung berkata, melainkan memilih memandangi Anin mulai dari bawah hingga ke atas.

Anin yang tak suka dengan tatapan itu sontak mengatupkan kedua tangan—memeluk tubuhnya sendiri. “Apa yang kamu lihat!” salak Anin. “Jangan macam-macam!”

“Hei!” Jonan yang jauh lebih tinggi dari Anin lantas mensejajarkan wajah. “Kalau aku memang berniat macam-macam sama kamu, sudah aku lakukan sejak dulu. Dasar bodoh!”

Anin mencengkeram erat pada sandaran kursi. Tatapannya terpaku lurus ke arah Jonan yang wajahnya semakin dekat. Mendadak Anin merasakan degup jantungnya meloncat-loncat lebih cepat dari sebelumnya.

“Ada apa ini?” batin Anin yang tak kunjung bisa berkedip maupun bergerak.

“Jangan menatapku begitu, nanti kamu terpesona.” Seringaian mengembang sempurna di wajah Jonan.

Saat Jonan sudah menarik mundur punggungnya, saat itulah Anin segera tersadar dari lamunannya.

“Jangan terlalu dekat denganku. Ingat, aku ini istri kakak kamu,” kata Anin sambil membuang muka.

Jonan mendecih setengah meringis. “Istri yang bahkan sampai detik ini belum dijamah.”

“Kau!” Anin melotot sambil mengacungkan jari telunjuk.

“Apa?” dengan santainya Jonan membalas pelototan mata Anin. “Memang begitu kan?”

“Sangat tidak sopan!” gertak Anin sambil mengentakkan kaki.

Ketika Anin sudah mendorong mundur kursinya dan hendak angkat kaki, Jonan justru menarik lengan Anin. “Tunggu!”

Anin mengibas. “Apa, sih!”

“Jadilah istriku. Aku janji akan membahagiakan kamu.”

Degh! Anin kembali mematung. Kalimat yang baru saja Anin dengan terasa lebih kuat dari sambaran petir saat hujan. Anin termenung dengan bibir sedikit terbuka, sementara dua bola matanya buyar entah memandang apa.

“Jangan asal bicara!” hardik Anin saat tatapan sudah menunduk.

“Aku tidak main-main,” sahut Jonan. “Aku tahu kamu butuh kasih sayang, kamu butuh sentuhan. Kamu mendambakan hubungan suami istri.”

PLAK!

Satu tamparan melayang begitu saja mendarat tepat di pipi kiri Jonan. Mata Anin terlihat memerah dan mulai berkaca-kaca.

“Lancang sekali bicaramu. Aku ini istri kakak kamu!” Anin menyala-nyala.

“Aku tahu!” balas Jonan. “Aku memang tahu kau istri kakakku, tapi aku hanya ingin membahagiakan kamu. Jangan berkorban terus untuknya, Anin!”

Anin terdiam sesaat. Anin sedang mengatur napasnya yang mulai memburu.

“Dengar ….” Anin kembali menatap Jonan. “Ini urusanku. Aku tahu kamu hanya kasihan padaku. Jadi … berhentilah membahas hal seperti ini.”

Anin menunduk, kemudian berlalu meninggalkan Jonan.

Bab 3

Kalimat-kalimat yang Jonan katakan pagi tadi, tak mudah untuk Anin abaikan begitu saja. Jika biasanya Jonan hanya sekedar menggodanya atau menyindir hal-hal sepele, tapi kali ini Jonan justru mulai menjerumus.

Anin yang memang tak tahan menyimpan rahasianya sendiri, ia selalu memilih meluapkannya pada sahabat dari semasa kecil.

“Apa ada masalah lagi?” tanya Anna.

Anin yang sedang duduk di atas ayunan, terlihat tersenyum pias. “Aku memang selalu ada masalah ….”

Nana menyeret kursi lebih dekat ke samping Anin lalu duduk. “Bukan begitu … tapi masalah yang lain.”

Anin menghentikan gerak ayunannya. “Aku capek, Na,” desah Anin. “Aku ingin menyudahi semuanya, tapi bagaimana?”

“Kalau begitu, kamu sudahi saja,” sahut Nana. “Beranikan diri.”

Anin mendesah kemudian mendongakkan wajah. Memandangi birunya langit untuk sesaat, kemudian Anin menoleh ke arah Nana dengan senyum getir. “Nggak semudah itu, Na.”

Membalas senyum tipis yang tak terniat itu, Nana lantas berdiri. “Tapi kamu akan terus tersiksa kalau kaya gini terus,” kata Nana sambil mengayun pelan ayunan tersebut.

“Aku tahu …” Anin menoleh. “Aku hanya takut kalau menyudahinya. Kamu tahu kan, aku sudah nggak punya siapa-siapa lagi?”

Kalau Anin sudah membahas tentang hidupnya yang memang hanya sebatang kara, itu membuat Nana tak bisa memaksa Anin untuk berhenti menyudahi pernikahannya. Nana sendiri hanya sekedar pelayan restoran, untuk hidup sendiri dan keluarganya saja baru bisa dikatakan cukup. Jadi, untuk membantu Anin lebih lanjut Nana tentu saja belum bisa.

Keduanya sama-sama diam untuk beberapa menit, hingga kemudian Anin meminta Nana untuk menghentikan ayunannya.

“Aku pulang dulu ya, Na,” kata Anin kemudian.

“Mau aku antar?” tawar Nana.

Anin tersenyum sambil mencangklong tasnya yang sedari tergeletak di kursi panjang. “Nggak usah. Kamu kan juga harus pergi ke restoran. Jam kerja kamu hampir mulai.”

Nana meringis. “Aku lupa.” Menjitak kepala sendiri kemudian Nana memeluk Anin. “Hati-hati ya. Jangan terlalu dipikirkan. Ingat, kamu juga harus jaga kesehatan.”

Saat pelukan terlepas, Anin tersenyum. “Makasih kamu selalu menemani aku.”

Keduanya kemudian terpisah. Anin dan Nana sama-sama beranjak pergi dari atas rerumputan hijau di taman pinggir kota. Tentu saja arah keduanya berlawanan.

“Apa aku ikuti saran Nana saja ya,” gumam Anin saat mobil sudah melaju. “Tapi … aku takut.” Anin menciut di kalimat terakhir.

“Bagas?” pekik Anin tiba-tiba.

Anin lantas membelokkan mobilnya. “Apa itu Bagas?” masih fokus dengan gerak mobilnya, Anin juga terlihat masih memantau dua orang yang sedang bergandengan masuk ke dalam sebuah hotel.

Dada mulai berkecamuk dan rasa penasaran terus meronta, Anin kemudian menghentikan mobil di area halaman hotel tersebut. Tanpa berpikir panjang, Anin melompat turun dari mobil kemudian segera menyusul orang yang Anin duga adalah suaminya.

“Kemana arahnya?” tanya Anin sambil celingukan.

Anin ingin tanya pada resepsionis, tapi tampaknya tak akan mendapat jawaban. Lebih baik cari sendiri saja.

Anin kemudian berjalan cepat memasuki lorong utama. Saat ada siku belokan ke arah lain, Anin mendadak mundur. Dari jaraknya berdiri saat ini, terlihat Bagas sedang bergandengan mesra dengan seorang wanita memasuki sebuah lift.

Didorong rasa curiga dan penasaran, Anin pun mendekati pintu lift tersebut. “Lantai empat,” kata Anin kemudian saat melihat monitor dengan tulisan warna hijau di atas pintu lift.

Anin bergegas masuk dan tentunya langsung menekan tombol menuju lantai empat.

“Kamu jahat tahu, Mas!” kata Ela sambil memukul dada Bagas. “Kamu sudah menghianati istrimu.”

Bagas tertawa sambil merangkul Ela. “Aku tidak jahat, justru dia yang jahat. Dia yang sudah tega membohongiku.”

Ela tersenyum kemudian merangkulkan kedua tangannya di tengkuk Bagas. “Kalau aku, pasti nggaj jahat, kan?”

“Tentu saja enggak.” Bagas memepet tubuh Ela pada pintu berwarna coklat. “Kamu justru wanita baik yang aku cintai saat ini.” Sebuah kecupan mendarat sempurna di bibir Ela.

“Apa-apaan ini?” lirih Anin dengan tubuh bergetar dan mata berkaca-kaca.

Dari balik dinding tempatnya berdiri sekarang, Anin bisa melihat dengan jelas berbuatan tak senonoh itu. Sang suami sudah tega berselingkuh di belakannya. Bermesraan di depan pintu kamar sebuah hotel, Anin tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah kedua orang itu masuk dalam kamar tersebut

“Ke-kenapa, kenapa begini?” lirih Anin lagi. Air mata sudah tak terbendung lagi dan akhirnya meluap begitu saja membasahi wajah.

Saat pandangan Anin mendongak, dua orang tersebut sudah raib. Mereka berdua sudah menghilang. Saat itulah Anin menangis hingga membuat dadanya sakit. Suami yang ia harapkan masih ada cinta untuknya, ternyata dengan tega berkhianat dan memilih tidur bersama wanita lain.

Anin kemudian menarik napas dalam-dalam. Mengembuskan secara cepat, lalu Anin mengusap kasar wajahnya yang basah. “Aku harus pulang,” kata Anin.

Anin meraup wajahnya sekali lagi, barulah kemudian berjalan cepat keluar dari hotel tersebut. Apa yang baru saja Anin lihat, adalah sebuah bukti nyata kalau memang sudah tak ada rasa cinta dari Bagas untuk Anin. Kenangan manis yang terjadi sebelum pernikahan dulu, kini pada akhirnya berakhir dengan sebuah pengkhianatan.

BRAK!

Anin membanting pintu kamarnya sampai-sampai tidak tahu ada orang yang sempat memandanginya tadi.

“Kenapa dia?” gumam Jonan yang tahu Anin sedang bertingkah aneh.

Jonan yang awalnya sedang berdiri di depan rak buku, kemudian berjalan mendekat ke arah pintu kamar yang baru saja dibanting oleh Anin.

“Apa dia menangis lagi?” Jonan masih bertanya-tanya.

Sangat perlahan, kemudian Jonan memutar knop pintu. Mendorong pintu tersebut, hingga sosok wanita sedang menelungkup di bawah tepian ranjang pun terlihat.

Itu Anin. Ya, dia sedang menangis. Tebakan itu terlihat jelas dari kedua pundak Anin yang bergerak-gerak. Isak tangis pun bisa Jonan dengar.

Sudah tak tahan melihat Anin mengumpat tangis, Jonan kemudian berjalan mendekat secara perlahan. “Hei,” kata Jonan kemudian.

Masih dengan wajah yang basah dan mata sembab, Anin refleks mendongak. Ketika tahu siapa yang ada di hadapannya saat ini, Anin segera berdiri dan mengusap wajahnya dengan cepat. Jonan yang terkejut juga ikut berdiri.

“Ngapain kamu di sini?” tanya Anin sesenggukan.

“Tidak ada,” sahut Jonan sambil angkat bahu. “Aku cuma lihat ada wanita cantik yang berlari masuk kamar sambil menangis.”

Anin mundur hingga bagian tengkuk lutut menabrak tepian ranjang. “Si-siapa yang menangis,” elak Anin. Jemari-jemari lentik itu masih sibuk mengusap wajah dengan kasar.

“Sudahlah, jangan kasar begitu. Wajah kamu nanti lecet.” Jonan menarik kedua tangan Anin supaya menjauhi wajah.

Anin berdehem lantas membuang muka. “Kamu keluar dari kamarku. Aku mau sendiri,” kata Anin.

Jonan mendecih. Sesaat kemudian, tiba-tiba Jonan justru memeluk tubuh Anin dengan erat. Anin yang terkejut awalnya sempat menolak, tapi merasa ada kehangatan yang menjalar, Anin mendadak diam membisu.

“Dia menyakiti kamu lagi?” tanya Jonan lirih sambil menghirup aroma wangi rambut Anin.

Anin menangis lagi. Menangis dengan air mata lebih banyak dari sebelumnya. Baju Jonan bagian dada bahkan sudah mulai basah.

“Bagas … Bagas menghianati aku. Di-dia … dia selingkuh.” Pecah sudah air mata itu semakin deras.

Anin sudah tak tahan memendamnya lagi. Rasa kecewa dan sakit di hati pada sosok Bagas, semakin meluap begitu saja.

“Sshhtt!” Jonan melepas pelukannya, kemudian menangkup wajah Anin dengan kedua tangan. Dua ibu jarinya bergerak-gerak mengusap pipi basah itu. “Jangan menangisi orang seperti itu. Kamu hanya menyiksa diri sendiri kalau seperti ini.”

Anin menatap sendu wajah Jonan. Wajah Jonan terlihat tampan dan penuh kasih sayang. Andai saja ini Bagas? Ah, Bagas tidak mungkin seperti ini. Anin kemudian mengerjapkan matanya beberapa detik, sebelum akhirnya tersadar kalau memang pria yang saat ini sedang menenangkan dirinya bukanlah Bagas. Pria ini tak lain adalah Jonan. Sosok pria yang selama setahun ini selalu menjahili Anin.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED