Bab 1

"SELAMAT ... SELAMAT!" seruan riuh para peserta pengajuan tender mega proyek resort milik Mister Rodrigo di Pulau Bali membahana di ruang meeting Hotel Aryaduta, Menteng siang itu.

Brian Teja Kusuma yang mendapat serbuan ucapan selamat itu tak dapat menutupi kegirangan hatinya atas rezeki nomplok 10 Triliyun tersebut. Senyuman lebar menghiasi wajahnya saat berjabat tangan dengan kolega-kolega bisnisnya.

Namun, rival bisnisnya yang bernama Indra Gustavo tak senang dengan keberuntungan Brian. Dia juga berambisi untuk mendapatkan mega proyek tersebut. Maka dia pun menghampiri Brian seraya berkata dengan nada sinis, "Congrats, Bro. Memang loe sanggup kerjain proyek segede itu sendirian? Harusnya jangan tamak dong, bagi-bagi sama kita gitulah!"

"Ohh ... sirik loe, Ndra? Buktinya Mister Rodrigo percaya aja tuh sama kemampuan perusahan Teja Kusuma Realty buat eksekusi mega proyek beliau!" balas Brian dengan seringai congkak di wajahnya. Dia tak rela momen-momen spesial miliknya ternodai oleh omongan orang sirik yang kalah pengajuan tender seperti Indra Gustavo.

"HA-HA-HA. Gue bukannya sirik, cuma nggak yakin aja sih. Duit segede itu bakal dipercayaan ke satu orang doang. 10 T, hahh ... banyak bener!" kelit Indra sembari bersedekap menahan kekesalannya dengan tawa kering.

"Masalah buat loe? Alaa ... udahlah males gue ngobrol sama loe orang, kalah tender kok kagak sportif. Ciao!" Brian pun melenggang keluar dari ruang meeting yang sudah mulai sepi karena para peserta rapat telah membubarkan diri masing-masing.

Indra Gustavo menatap punggung lebar yang menjauh dari pandangan matanya itu dengan sorot dengki. "Dasar lelaki menyebalkan!" makinya seraya mendesis kesal.

Setelah meeting usai Mister Rodrigo Albruch terbang kembali ke pulau dewata. Dia sudah bertahun-tahun belakangan menetap bersama putera tunggalnya, Carlos di resort pribadi miliknya yang ada di daerah Ubud. Negeri tropis di garis Khatulistiwa ini membuat kuadriliuner asal Italia itu betah.

"Diego, coba kau panggil Ki Sawung Broto Menggolo agar datang ke kediamanku nanti. Aku merasa butuh wejangan dari beliau terkait mega proyekku yang baru ini!" titah Mister Rodrigo saat sedang melintasi lobi keluar Bandara Ngurah Rai.

Asisten kepercayaannya, Diego Zanneti pun mengiyakan dengan patuh. Dia pun segera menelepon 'orang pintar' yang terkenal di pulau dewata tersebut agar datang ke resort milik big bossnya.

Tak lama setelah Mister Rodrigo sampai dengan mobilnya bersama segerombolan pengawal pribadinya di resort, 'orang pintar' itu pun tiba.

Penampilan Ki Sawung memang nyentrik seperti dukun-dukun asli Indonesia pada umumnya. Berambut gondrong dengan kulit sawo matang, berjenggot dan kumis subur yang diselingi semburat uban di mana-mana. Cincin batu akiknya besar-besar melingkari jemari tangannya yang berkulit kisut akibat dimakan usia. Tubuhnya kurus kering karena sering berpuasa tapa brata tanpa makan minum berhari-hari.

"Selamat datang, Ki Sawung! Saya senang Anda bisa datang ke mari. Ada hal penting yang harus saya tanyakan," sambut Mister Rodrigo dengan sumringah.

Kedua pria berbeda bentuk tubuh dan ras itu pun duduk bersama di kursi kayu jati berlapis bantalan spons empuk di pendopo bangunan utama resort mewah tersebut.

"Silakan tanyakan, Mister Rodrigo. Saya pasti akan menjawab semua kebingungan Anda!" jawab Ki Sawung lalu melotot berkomat-kamit sambil sesekali mendesis seperti titisan siluman ular.

Diego Zanneti yang berdiri di belakang majikannya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan tanpa suara sekalipun dia geli menertawakan sang guru spiritual Mister Rodrigo tersebut. Zaman sudah maju, tetapi konglomerat asal Italia itu justru mempercayai hal supranatural yang menurutnya sangat primitif begitu.

"Begini, Ki Sawung, saya akan membangun resort mewah di beberapa tempat yang ada di pulau ini. Nilainya fantastis pastinya, apa pria yang saya percayai modal itu akan mampu menunaikan tugasnya sesuai kesepakatan kami berdua?" tanya Mister Rodrigo dengan nada penasaran yang kentara.

"Uhuukk ... uhuukkk!" Si dukun malah terbatuk-batuk bukannya menjawab.

Mister Rodrigo pun segera mengulurkan gelas minuman air dingin ke Ki Sawung yang segera meminumnya lalu menyemburkannya dengan mulutnya ke wajah pria asal Italia tersebut.

Para pengawal Mister Rodrigo sudah siap siaga akan mengambil pistol mereka dari balik jas masing-masing. Namun, big boss mereka mengangkat tangan untuk menahan respon keras para pengawal itu.

"Ada syarat khusus agar proyek Anda bisa terlaksana dengan mulus dan lancar, Mister Italiano!" ujar Ki Sawung dengan nada pelan dan suara tua mencekam seperti layaknya dukun.

"Apa itu, Ki?" sahut Mister Rodrigo serius mengerutkan keningnya.

Ki Sawung berbicara tak kalah serius, "Pria itu harus sudah berkeluarga. Tidak boleh melajang. Itu pesan roh leluhur saya, Mister! Anda bisa percaya atau tidak. HE-HE-HE!"

Tentu saja Mister Rodrigo percaya dan menelan anjuran itu mentah-mentah. Setahunya Brian Teja Kusuma masih single hingga saat ini. Artinya pria itu harus segera mencari istri atau menikahi pacarnya kalau masih menginginkan tender megaproyek darinya.

"Ohh ... baiklah, apa hanya itu saja syaratnya, Ki Sawung?" tanya Mister Rodrigo lagi sembari mengelap air semburan mulut si dukun tadi dari wajahnya dengan sapu tangan.

"Ya, tak ada yang lain. Menikah itu artinya jodoh. Mendapat proyek itu berarti rezeki. Dua hal itu tidak dapat disangkal bahwa kehendak semesta dipenuhi dalam hidup umat manusia. Apa Anda paham wejangan dari saya, Mister?" jawab Ki Sawung dengan kebijaksanaan filsafat tingkat wahidnya.

Senyum puas disertai anggukan kepala diberikan oleh Mister Rodrigo, ditambah acungan jempol tangan kanannya dengan mantap kepada Ki Sawung. "Benar ... benar, saya yakin petunjuk Anda pasti tidak akan meleset. Mahar konsultasi ini akan dibayar oleh anak buah saya, Ki. Masih sama 'kan?" ujar Mister Rodrigo.

"Sama, Boss! Gambar Soekarno-Hatta 1000 lembar, dua ekor ayam hitam, satu kilo bunga melati, dan satu kilo kemenyan. Jangan ada yang kelewatan, Mister!" jawab Ki Sawung sembari terkekeh misterius. Dia pun lalu diantarkan oleh anak buah Mister Rodrigo kembali ke padepokan ilmu ghaib pimpinannya sendiri.

Sebuah telepon ke Jakarta pun tersambung, asisten Brian Teja Kusuma yang menerima panggilan tersebut. Dia pun mencatat semua pesan dari klien exclusive bosnya. Rudi yakin pasti Brian akan mengamuk bila tahu tender megaproyek yang telah disepakati oleh kedua belah pihak dibatalkan. Lebih kacaunya alasannya hanya karena Brian masih lajang dan belum punya istri.

Usai menutup panggilan telepon dari Bali tadi, Rudi pun bergegas menghadap kepada Brian di ruangan CEO Teja Kusuma Realty. Kali ini dia benar-benar uji nyali menyampaikan kabar buruk maha dahsyat ke bosnya yang galak dan temperamental.

Setelah berdiri di seberang meja kerja Brian, pria awal 30 tahunan itu menghela napas panjang, dia pun berkata, "Permisi, Pak Brian. Maaf, ada hal penting yang harus saya sampaikan terkait mega proyek milik Mister Rodrigo Albruch. Beliau membatalkan kesepakatan tersebut!"

"APA?!" teriak kencang bosnya menggema di dalam ruangan itu. Wajah Brian nampak syok berat seolah nyaris terkena serangan jantung.

Bab 2

"Huh ... sialan! Rudi, kenapa tender perusahaan gue dibatalkan sama Mister Rodrigo? Itu duit gede, apa loe paham?!" Sang CEO Teja Kusuma Realty bertolak pinggang seraya menyugar rambut tebalnya yang tadinya rapi.

Pria bernama Rudi yang menjabat sebagai asisten pribadi itu pun gemetaran terbata menghadapi bosnya yang mengamuk di kantor pusat. "Ssa—saya kurang paham, Pak Brian. Ehm ... ka—kalau boleh saya memberi saran, coba Bapak telepon langsung Mister Rodrigo Albruch, apa alasan beliau—"

"Sudah ... sudah! Gue telepon dia sekarang," potong Brian tak sabar.

Pria berperawakan tegap dengan setelan jas necis itu menyambar ponsel canggihnya di meja kerjanya lalu menekan nomor milik Mister Rodrigo Albruch. Nada sambung mulai terdengar dan Brian pun berdehem-dehem melegakan tenggorokannya sembari menunggu panggilan teleponnya diterima.

"Hello ... Buongiorno, Señor Brian!" sapa ramah pria Italia tersebut saat menerima panggilan telepon.

"Hello, Buongiorno, Señor Rodrigo. Apa Anda sibuk? Saya ingin menanyakan beberapa hal terkait tender perusahaan saya yang dibatalkan sepihak oleh perusahaan Anda, Sir!" tutur Brian dengan kalem sekalipun aslinya sedang emosi.

(Buongiorno: selamat pagi)

"Ahaa ... jadi Anda ingin tahu alasannya? Memang dibatalkan, maafkan saya karena mengambil keputusan itu, Señor Brian. Guru spiritual saya berpesan bahwa mega proyek saya hanya boleh dikerjakan dengan pebisnis yang telah menikah. Apa Anda mengerti?" terang Mister Rodrigo dengan santainya di telepon.

Sementara di ujung telepon CEO yang gila kerja dan anti dengan yang namanya komitmen apalagi pernikahan serta tetek bengeknya itu bengong. 'Macam mana pula si Pak Tua ini?! Sudah sinting guru spiritualnya itu!' rutuk Brian dalam hatinya.

"Hello ... Señor Brian? Are you okay?" tanya Mister Rodrigo karena lawan bicaranya mendadak terdiam. Dia pun berpesan, "kalau Anda ingin tender mega proyek saya di Pulau Bali itu, cepatlah cari wanita untuk dinikahi. Dan jangan bercerai selama proyek itu masih berlangsung, okay ... temui saya bersama istrimu di Ubud, kalau Anda sudah menikah. Ci vediamo!"

(Ci vediamo: sampai jumpa)

Brian menatap ponselnya dengan terbengong-bengong memikirkan perkataan klien bisnisnya dari Italia itu. Dia pun mengomel, "Sialan. Hari gini masih percaya sama omongan guru spiritual?! Hmm ... AARRRGGHH!"

Dengan takut-takut Rudi melirik bosnya seraya berkata, "Pak Brian, apa mau saya carikan istri? Sepupu saya dari Sumedang masih jomblo, Pak. Dia sampai sekarang belum nikah-nikah sudah hampir 35 tahun."

"Apa gue kelihatan seperti perjaka tua, Rudi?! Kurang ajar lo!" sembur Brian meradang.

Alis Brian berkerut sengit, giginya gemeretak karena kesal. Tatapan setajam silet itu dilemparkan ke asisten pribadinya yang langsung tahu diri dan sontak menutup mulutnya.

"Keluar dari sini sekarang juga! Gue mau sendiri!" teriak Brian dengan galak menunjuk ke arah pintu keluar ruang kantornya.

Pria itu menendang kaki meja kerjanya saking dongkolnya. Pasalnya, tender proyek yang ditawarkan oleh Mister Rodrigo Albruch, pemilik Peninsula Harvest Co. bernilai fantastis. Sepuluh Triliun dan imbal hasil bagi operator proyek adalah 10% dari nilai kontraknya. Nyaris gila Brian ketika mendengar kesepakatan itu dibatalkan jelang penandatanganan kontrak.

Dia pun duduk di kursi kebesarannya sambil memegangi kepala dengan kedua telapak tangannya. Mendadak kepalanya terasa pening sekali.

Tiba-tiba ponselnya berdering, ada panggilan telepon masuk dari teman dekatnya, Richard. Dia pun menghembuskan napas dengan kasar lalu menjawabnya, "Halo. Apa, Richie?"

"Hey ... kok lesu gitu suara loe, Bri. Kenape loe?" balas Richard dengan tawa ringan.

"Ckk biasa ...kerjaan. Loe ngapain telepon masih pagi begini? Kurang kerjaan loe?" jawab Brian asal-asalan.

"Gue mau ngajakin loe ke night club bagus ntar malem. Ada waktu kagak?" ujar Richard tanpa nada paksaan.

Dengan segera otak Brian menjadi segar. Dia merasa mungkin di night club itu dia akan mendapat solusi persoalannya. Banyak wanita bersliweran di sana pastinya. Segera saja dia menjawab antusias, "Boleh ... boleh, gue ikutan deh. Loe shareloc aja di mana tuh night club. Gue lagi butuh hiburan nih!"

"Gue suka gaya loe, Man! Okay, Dude kita nongki-nongki ganteng di sana ya ntar. Bye, Brian," pamit Richard lalu memutuskan sambungan telepon itu.

Setelah menerima telepon dari Richard, sang CEO Teja Kusuma Realty itu pun merasa bersemangat lagi untuk menjalani harinya. Dia pun tetap mengerjakan rancangan proyek untuk Peninsula Harvest Co. Ada perasaan optimis bahwa nanti malam dia akan bisa menemukan calon istri yang dibutuhkannya untuk memenuhi persyaratan konyol dari Mister Rodrigo Albruch.

Maka sekitar pukul 17.00 WIB, Brian Teja Kusuma meninggalkan ruangan CEO untuk turun dengan lift ke lantai lobi. Sopir pribadinya telah siap sedia di samping mobil sedan Maybach hitam untuk mengantarkan bosnya pulang ke rumah.

Pak Seno membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Brian lalu menutupnya kembali usai pria tajir melintir itu naik ke mobil. Sambil berlari-lari kecil Pak Seno kembali ke bangku pengemudi.

"Mas Brian ... langsung pulang apa mau mampir ke mana dulu ini?" tanya Pak Seno dengan nada riang bersemangat.

"Pulang langsung ke rumah, Pak. Nanti malem gue mau clubbing ya, anterin!" ujar Brian yang diiyakan oleh sopir pribadinya.

"Kalau boleh tahu lokasi clubbingnya dimana ya, Mas?" tanya Pak Seno lagi agar dia bisa melihat rutenya di googlemaps nanti sebelum berangkat mengantar bosnya itu.

Brian pun tersadar bahwa dia belum membuka pesan dari Richard sedari pagi tadi. Sobatnya itu mengirim shareloc night club yang akan jadi tujuan nongkrong mereka malam nanti. Dia pun membacakan nama night club itu kepada sopirnya, "The Glam Expat Club namanya, Pak Seno. Di Jakarta Barat nih kalo lihat di googlemaps. Berarti berangkat jam 8, habis gue dinner deh ya biar nggak telat."

"Siap, Mas Bos!" sahut Pak Seno sambil berkonsentrasi mengemudikan sedan mewah tersebut di tengah kemacetan arus pulang kerja sore hari.

Brian seolah sudah terbiasa dengan kemacetan ibu kota seperti habitat hidupnya sehari-hari. Rasanya dia ingin sekali segera men-deal-kan proyek di Pulau Bali agar bisa pindah kantor dan juga tempat tinggal di sana.

Banyak yang bilang kalau Bali itu surga dunia, panoramanya indah dan masih banyak tempat yang natural sekalipun sudah mengenal kemajuan zaman dan pembangunannya juga ada di mana-mana di sana.

Senja pun mulai turun berganti petang ketika Brian tiba di rumahnya yang ada di Jakarta Selatan. Dia pun bergegas turun dari mobil yang berhenti di depan teras rumahnya lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Kepala pelayan rumahnya menyambut Brian dengan ramah.

"Mas Brian, apa makan malam di rumah?" tanya Bu Shinta sopan sambil berlari-lari kecil di belakang majikannya yang langkah kakinya lebar-lebar mendahuluinya.

Tinggi badan Brian memang hampir 2 meter dan badannya berotot padat tercetak di balik pakaian necis yang dikenakannya. Sesampainya di kaki tangga yang mengarah ke lantai 2 dimana kamarnya berada, ia pun berhenti melangkah dan menoleh ke Bu Shinta. "Iya, makan malam di rumah, Bu. Di mana, Thalita?" ujarnya.

"Non Thalita sudah pergi lagi barusan, Mas. Katanya ada acara ulang tahun temannya begitu," jawab Bu Shinta yang mendapat anggukan kepala dari Brian seolah mengerti.

"Ya sudah, masaknya nggak usah terlalu heboh soalnya yang makan cuma gue aja, Bu!" pesan Brian sebelum menaiki tangga kayu berukir melingkar yang berlapis karpet mewah di setiap undakannya.

Kelelahannya harus dia singkirkan demi berburu calon istri di night club malam ini. Brian pun mengguyur badan kekarnya yang penat di bawah shower air dingin.

Bab 3

Suasana remang-remang yang berisik oleh musik techno rancak dan cahaya lampu disko yang warna-warni berpendar di atas lantai dansa di tengah ruangan menjanjikan malam yang menyenangkan bagi pengunjung The Glam Expat Club.

Brian datang berdua dengan Richard. Dan mereka mendapat tatapan penuh minat dari para kupu-kupu malam yang bertenger di meja-meja bar dan juga dari sofa-sofa empuk warna merah berlapis vinyl. Tangkapan segar bagi para pekerja malam itu. Penampilan ala eksekutif muda selalu menjanjikan segepok uang rupiah yang nikmat.

"Apa butuh teman malam ini, Mas?" tanya seorang wanita cantik berbodi bak gitar Spanyol berbalut dres merah berkerah dada rendah selutut dengan belahan hingga setengah paha. Lipstiknya semerah gaunnya di bibir tebal seksi miliknya.

Richard menganggukkan kepalanya. "Boleh. Temani kami minum di sofa. Apa bisa kau pesankan sebotol Macallan 12 yo dengan es batu, Miss?" jawabnya.

Sementara Brian tak terlalu memedulikan hostes club tadi, dia tidak suka yang gampangan dan berpenampilan terlalu mencolok. Wanita yang vulgar menampilkan segalanya apa adanya dan itu akan cepat membuatnya bosan. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan luas tersebut. Sayangnya tak ada yang menarik saat ini baginya.

Maka dia pun mengikuti Richard membanting bokongnya ke sofa empuk berlapis vinyl yang ditempatkan melingkar membentuk huruf U di sekitar lantai dansa serta panggung setinggi 2 meter.

"Loe tau nggak yang jadi daya tarik night club ini apa?" pancing Richard sambil duduk bertumpang tali santai menyandar pada sofa dengan tubuh bergoyang pelan mengikuti irama musik rancak dari DJ.

Dengan terus terang Brian menggelengkan kepalanya cuek. "Apaan emang?" sahutnya.

"Kabaret shownya. Ada pertunjukan semacam pantomim musik gitu pake nari-nari, serulah pokoknya. Loe mesti nonton deh! Pemain kabaretnya cantik-cantik," terang Richard yang sudah beberapa kali mengunjungi The Glam Expat Club sebelumnya.

Cerita sobatnya membuat Brian menaikkan sebelah alisnya dan penasaran seperti apa wanita kabaret itu. Kalau seperti hostes atau PSK, dia malas untuk mengencani wanita seperti itu. Membayar demi kepuasan seksual sebenarnya sah-sah saja, tetapi wanita bekas pakai banyak orang membuatnya risih. Dia tak ingin cari penyakit sekalipun sedang butuh seorang istri bayaran.

Wanita bernama Eva yang memesankan minuman untuk mereka berdua pun bergabung di sofa dan duduk di sebelah Richard. Dia tahu Brian tak tertarik kepadanya. Waiter yang membawakan minuman keras pesanan Brian meletakkan 3 gelas berisi es batu di meja sofa lalu menuangkan cairan berwarna kecoklatan bening dari botol tinggi yang dipesan tamunya.

"Miss, kabaretnya mulai kapan?" tanya Richard kepada Eva yang menemaninya minum dan bergelanyut manja di sebelahnya.

Eva menatap mesra tamunya sambil menjawab, "Sebentar lagi seharusnya—"

Tak perlu banyak kata dari Eva, tabir kain warna hitam yang menutupi panggung tersibak ke kanan dan kiri bersamaan. Musik heboh ala kabaret mulai mengalun nyaring diikuti sekelompok penari laki-laki dan perempuan yang memainkan peranan.

Kalau dari lagunya sebagian besar orang yang lahir dari tahun 1990an pasti bisa menduga lakon yang dimainkan adalah film Pretty Woman yang dibintangi Julia Roberts dan Richard Gere.

Seorang wanita penari yang berpenampilan sensual melenggak-lenggok memerankan Julia Roberts yang mendatangi penari pria tampan yang berperan sebagai Richard Gere. Tarian seolah berkenalan lalu berkejar-kejaran dengan tarian putaran seperti balet sederhana.

"Wow, so pretty!" Brian bersiul tak mampu melepaskan tatapannya dari wanita penari kabaret utama di atas panggung. Wanita itu menari-nari dengan tawa ceria mengikuti irama lagu Pretty Woman dari penyanyi lawas pria yang dia tak tahu siapa namanya.

"Hey, Brian. Apa dia tipe kesukaan loe?" tanya Richard dengan tawa kering seakan tak percaya dengan selera sobatnya itu.

Senyuman bandel terukir di wajah tampan Brian, dia menoleh ke arah Richard sebentar seraya berkata, "Wanita cantik itu sangat sexy, Bro!"

Eva yang mendengar pujian Brian untuk wanita penari kabaret itu sontak masam raut wajahnya. Dia pun berkata, "Namanya Suzy Malika, dia bintang kabaret di sini. Sayang orangnya jual mahal dan tidak melayani pria iseng untuk mendapat uang."

Kepala Brian sontak menoleh ke Eva. Bingo! Itu yang dia cari, wanita yang bersih dan tidak dijamah sembarang pria. Masalah harga cincay lah, pasti seorang penari kabaret pun butuh uang yang berlimpah bukan?

Musik heboh pengiring tarian kabaret pun usai dan tirai panggung ditutup kembali seiring para pemain kabaret membungkukkan badan memberi hormat kepada para penonton yang bertepuk tangan riuh dan bersiul-siul liar.

Brian masih menatap serius kepada Eva seraya mengatakan, "Apa kau bisa memanggilkan Suzy Malika kemari? Aku akan membayarmu nanti tanpa harus melayaniku, anggap saja ongkos negosiasi."

Kilatan ketamakan nampak jelas di mata Eva, dia pun segera membalas tawaran Brian dengan nada riang, "Tunggulah di sini, Mas. Saya akan panggilkan Suzy secepatnya!" Segera saja Eva bangkit dari sofa lalu bergegas menuju ke arah belakang panggung untuk mencari wanita penari kabaret yang diinginkan tamunya.

Selepas kepergian Eva dari sofa, Richard pun berkata, "Gue nggak paham sama mau loe, Bri. Jelasin dong maksud loe manggil tuh penari kabaret!"

"Intinya gue lagi butuh istri bayaran, ceritanya panjang pokoknya. Loe tau sendiri gue mana ada waktu buat ngedate bla bla bla, cuma kalo disuruh sewa PSK gue jengah. Ini si Suzy cocok sama tipe yang gue demen. Kita liat aja ntar nih, dia setuju kagak sama tawaran gue!" tutur Brian menyeringai misterius.

Dari arah back stage, Eva menggandeng tangan Suzy Malika berjalan mendekati sofa dimana kedua tamunya sedang duduk berbincang santai. Sesampainya di sana, Eva pun memperkenalkan tamunya ke Suzy.

"Suz, ini namanya Mas Brian dan yang itu Mas Richard. Kalo yang minta dikenalin ke kamu yang Mas Brian. Sana duduk di sebelahnya aja ... kosong 'kan?" ujar Eva sok ramah karena ada udang di balik bakwan.

Dengan langkah ragu-ragu Suzy pun menghampiri sofa kosong di samping Brian. Tempatnya agak sempit pikirnya, tetapi dia tetap duduk saja.

Brian tersenyum dengan tatapan menilai yang kentara dari ujung kepala hingga ujung kaki wanita itu. Dia pun mulai berbincang, "Sudah lama kerja jadi penari kabaret, Miss?"

"Lumayan, Mas. Sudah jalan 2 tahun belakangan ini," jawab Suzy kaku, dia bukan berprofesi sebagai wanita pendamping tamu club.

Tanpa membuang waktu karena hari mulai larut malam dan dia harus bekerja di kantornya besok pagi. Brian pun mengutarakan saja maksudnya kepada Suzy Malika, "Sebutkan hargamu, Miss! Aku bisa memberimu uang banyak kalau kamu setuju menjadi istri sementara untukku."

Sedikit terperangah, tetapi itu hal yang wajar terjadi di dunia hiburan malam. Suzy Malika pun bertanya dengan nada tertarik, "Istri? Apakah aku juga harus melayanimu di ranjang ataukah hanya status palsu saja, Mas?"

"Kalau aku butuh servis, apa kamu keberatan?" balas Brian dengan tatapan menilai wanita penari kabaret itu. Ada nada tertarik dari jawaban Suzy dan dia menunggu kepastiannya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED