Bab 1

Bab 1

Aldo menghentikan aktivitasnya dan menghempaskan tubuhnya di samping sang istri. "Sudah ya, Dek. Mas lelah," ucap Aldo dengan napas yang tersengal-sengal.

Sinta. Wanita muda yang baru berusia 27 tahun itu menghela napas dengan pasrah. Dengan wajah masam, dirinya menarik selimut bermotif bunga dan menutupi tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang.

"Aku kan belum puas, Mas! Kamu sudah keluar saja!" sungutnya dengan kesal, lalu membalikkan badan memunggungi sang suami.

"Maafkan Mas, Dek. Waktu 20 menit untuk bercinta itu sudah cukup lama. Coba kamu membaca artikel dan internet tentang hubungan badan. Di sana tertulis bahwa waktu yang normal itu sekitar 5-8 menit," ucap Aldo memberi pengertian dan berusaha membujuk sang istri.

Setiap malam sehabis melakukan ritual suami istri, Aldo harus bersusah payah membujuk Sinta agar tidak marah karena belum puas dan tak ingin berhenti.

Mereka bukanlah pengantin baru. Aldo dan Sinta sudah berumah tangga selama 11 tahun. Memiliki seorang putra bernama Rafa yang baru berusia 9 tahun dan Sheila yang baru menginjak usia 7 tahun.

Mereka hidup di sebuah desa yang terdapat hutan besar yang masih asri dan banyak binatang buas. Di desa ini sudah masuk sinyal internet. Akan tetapi, terkadang sinyal itu kuat dan tak jarang pula tiba-tiba menghilang.

"Mau ke mana, Dek?" Aldo bertanya saat Sinta beranjak bangun dan melilitkan selimut ke badannya.

"Aku mau menuntaskan hasratku, Mas!" sahut Sinta dengan ketus.

"Jangan berbuat yang tidak-tidak. Aku sudah bilang hal-hal seperti itu adalah perbuatan yang tidak baik," ucap Aldo mencegah. Namun, Sinta sudah duduk di kursi panjang yang menghadap ke jendela.

"Besok pagi kita main lagi. Mas janji. Ayo kita tidur dan jangan lakukan itu." Suara Aldo terdengar pelan. Dirinya beranjak dan mengajak sang istri kembali ke ranjang.

"Aku tidak tahan menunggu sampai pagi. Aku tersiksa, Mas! Tidak bisa tidur dengan nyenyak." Sinta menyentak tangan Aldo dengan kasar.

"Aku mohon. Perbolehkan aku melakukan kesenangan sendiri seperti biasanya. Dari pada aku selingkuh, lebih baik aku bermain sendiri, bukan?" pinta Sinta dengan penuh permohonan.

Aldo akhirnya membiarkan sang istri melakukan kesenangannya. Dengan langkah gontai, dirinya berjalan menuju ranjang dan kembali membaringkan tubuhnya yang begitu lelah. Kerja di ladang seharian dan malamnya harus di peras lagi untuk memenuhi keinginan sang istri.

Sinta dahulu tidak seperti itu. Ini semua terjadi sejak 2 tahun belakangan. Mungkin istrinya mengalami puber kedua atau bagaimana, Aldo sendiri pun tak tahu. Tiba-tiba saja Sinta memiliki libido tinggi dan selalu merasa tidak puas dengan dirinya.

Aldo menutup wajahnya dengan bantal karena mendengar suara istrinya yang terdengar sampai ke telinganya.

Beberapa menit berlalu, Sinta selesai dengan aktivitasnya dan segera berbaring di samping Aldo.

"Belum tidur, Mas?" tanya Sinta saat mengetahui Aldo masih terjaga.

"Belum. Nungguin kamu, Dek. Jangan langsung tidur. Bersihkan dahulu tubuhmu dan segera pakai pakaianmu," perintah Aldo.

Sinta mendengus kesal. "Aku kehabisan tenaga, Mas. Tanganku pun juga capek. Lagian, tidak ada yang melihat." Sinta tak menggubris perintah sang suami dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. "Nah, sudah tertutup kan? Ya udah, aku mau tidur."

Aldo menggelengkan kepala melihat tingkah sang istri. "Selimutmu akan terlepas saat kamu tertidur nanti. Kita ini hidup berdampingan dengan mahluk gaib. Jadi, kita juga harus bisa menjaga tubuh kita, Dek. Cepat, pakai bajumu kembali."

Ucapan yang Aldo lontarkan tak mendapat respon apa-apa dari Sinta. Perempuan itu sudah tertidur.

....

Selimut yang menutupi badan polos Sinta tersingkap. Angin tiba-tiba tertiup dan membuatnya kedinginan. Dengan mata yang masih terpejam, Sinta menarik selimut itu untuk menutupi badannya kembali.

Seperti ada yang menarik, selimut itu kembali terlepas dari badan Sinta. Berkali-kali Sinta benarkan. Akan tetapi, kain itu terus saja tersingkap.

"Pakai selimutmu sendiri, Mas!" ucap Sinta dengan suara berat dan sedikit serak.

Lagi-lagi selimut itu kembali ditarik, sehingga tubuh polos itu kembali terlihat. Dengan kesal, Sinta terbangun dan mengucek matanya dengan pelan. "Kamu apa-apaan sih, Mas!"

Saat mata Sinta sudah terbuka, dia begitu terkejut karena tidak ada siapapun di sampingnya. "Mas ... Mas Aldo?"

Sinta meraih baju dan memakainya. Kemudian mencari suaminya ke dapur dan kamar mandi. Namun, ia tidak menemukan siapa-siapa. Sinta kembali ke depan dan menengok ke dalam kamar kedua anaknya, akan tetapi tak ada juga.

"Kamu kemana sih, Mas?" gumamnya pelan.

Sinta menuju ruang depan yang terdapat jam dinding di sana. "Baru jam 2 malam. Gak mungkin Mas Aldo pergi ke masjid."

Saat Sinta berbalik, dirinya sangat terkejut melihat suaminya tengah duduk di belakangnya. "Ya ampun, Mas! Kamu dari mana saja? Kenapa tiba-tiba ada di sana?"

Dengan kesal, Sinta terus menggerutu dan duduk di samping sang suami. Aldo hanya diam, tak ada senyum yang menghiasi wajahnya. Sinta menyentuh tangan Aldo. "Tanganmu dingin sekali. Kamu dari luar rumah?"

Aldo menganggukkan kepala dengan pelan. Tanpa berucap sepatah kata pun, Aldo melenggang pergi menuju kamar. Sinta yang masih terkejut dan juga bingung, lantas mengikuti langkah sang suami.

Saat tiba di ambang pintu, Sinta kembali dikejutkan dengan adanya Aldo yang berdiri di sana. "Ya ampun, Mas! Bisa tidak, jangan ngagetin aku?"

Aldo hanya menatap datar wajah Sinta. Setelah Sinta masuk, pintu kembali ditutup oleh Aldo.

"Aaaaaaa ...!"

Sinta memekik karena tubuhnya di angkat dan di gendong menuju ranjang. "Kamu mau ngapain, Mas?"

Tak ada jawaban dari mulut Aldo. Sinta tersenyum malu saat Aldo mencumbu dirinya dengan penuh semangat.

....

Pukul 03.30

Napas Sinta memburu dan tersengal-sengal. "Kamu minum apa, Mas? Tumben kuat banget. Malah aku yang kewalahan."

Sinta memeluk Aldo dengan erat. Dirinya sangat puas dengan performa suaminya itu. Tak seperti biasanya yang hanya mampu bertahan 20 menit. Sinta mengecup pipi Aldo yang terasa dingin.

"Sinta suka sekali." Sinta pun kembali terlelap di pelukan Aldo.

***

***

"Sudah jam berapa ini? Ayo, pulang."

Ardi mengeluarkan ponsel yang berada di saku miliknya. "Jam 4, Mas. Ayo!" sahut Ardi sembari berdiri dan menenteng ikan hasil memancing bersama sang kakak di pinggir sungai.

Aldo pun membereskan alat pancing. "Gak sia-sia kita mancing malam-malam." Dirinya tersenyum sumringah karena hasil memancingnya mendapat banyak ikan dan besar-besar.

Kakak beradik itu pun berjalan berdampingan. Aldo membawa alat pancing, sedangkan Ardi menenteng ikan dan di tangan kirinya membawa senter.

"Besok mancing lagi ya, Mas?"

"Jangan setiap hari. Mas harus ke ladang. Hari ini libur karena pemilik sawah pergi ke rumah saudaranya. Jadi, Mas bisa tidur dengan nyenyak."

Bab 2

Aldo dan Ardi tiba di depan rumah sederhana yang terbuat dari kayu jati.

"Ini ikannya, Mas," ucap Ardi. Ia pun menyerahkan ikan hasil pancingan dan meraih pancing miliknya. Ardi pun segera melenggang pergi.

Rumah Ardi hanya berjarak 200meter dari rumah Aldo. Ardi adalah adik Aldo satu-satunya, Ardi tinggal berdua dengan Abah Wito, sedangkan ibu mereka sudah meninggal 12 tahun silam.

Aldo berjalan menuju sumur yang ada di samping rumahnya. Ia pun membersihkan sisik ikan dan membuang kotoran yang ada di perut ikan. "Alhamdulillah selesai juga," gumamnya lirih.

Samar-samar Aldo mendengar suara aneh, ia pun menajamkan pendengarannya. Namun, tak begitu jelas itu suara apa. Aldo memilih mengabaikan dan memasukan ikan-ikan tadi ke dalam wadah.

Menimba air dan kembali membilas ikan supaya benar-benar bersih. Aldo mengernyitkan dahi kala suara itu muncul kembali. Akan tetapi, Aldo tak ambil pusing.

"Sudah jam setengah empat. Tanggung kalau tidur, sebentar lagi subuh." gumamnya pelan. Akhirnya Aldo memutuskan langsung menggoreng ikan-ikan tersebut.

Cetek... Cetek... Cetek...

Beberapa kali Aldo menyalakan kompor. Akan tetapi, apinya tak mau menyala. Dirinya menunduk dan melihat tabung gas. "Habis ternyata."

Aldo memilih menyiapkan potongan kayu dan menyalakan api di tungku. Beberapa saat kemudian, api itu berhasil menyala. Meletakkan wajan dan menyiramnya dengan minyak goreng.

Saat dirinya beranjak mengambil ikan di atas meja, Aldo seperti melihat sesuatu keluar lewat pintu samping yang belum ia tutup.

Aldo pun berjalan hendak menutup pintu. Dari arah kejauhan, dirinya melihat seseorang berbadan tinggi dan besar. Saat di perhatikan terus menerus, orang itu tiba-tiba menghilang, sontak membuat Aldo kaget dan mengelus dada. "Astaghfirullah."

....

Aroma lezat dari ikan goreng menguar di udara. Ikan yang sudah matang, Aldo simpan di bawah tudung saji.

Krukkk ... Krukkk ... Kruuk ....

Perut lelaki dengan wajah tirus, hidung mancung, alis tebal dan kulit berwarna coklat itu berbunyi.

"Ah, lapar sekali." Aldo segera mengambil nasi sisa kemaren, menyendok sampai tak tersisa dan menaruhnya di atas piring.

Meninggalkan meja makan, Aldo membersihkan wadah penanak nasi dan kembali ia isi beras agar saat anak-anak dan istrinya bangun nanti, nasi sudah matang.

"Bismillah ..." Aldo mengucapkan doa makan dan segera menyantap ikan dengan nasi, tak lupa menggunakan sambal buatan istrinya yang masih ada sisa.

"Alhamdulillah ..." Aldo memegangi perutnya yang terasa kenyang.

Mendengar suara adzan berkumandang, Aldo segera mandi. Setelah selesai, dirinya langsung beranjak menuju kamarnya.

Saat pintu terbuka, ia melihat keadaan istrinya yang terlentang tanpa sehelai benang pun. Aldo juga melirik sekitar, "Berantakan sekali? Padahal sebelum berangkat mancing semuanya rapi. Seprei juga berantakan. Dan bau apa ini?"

Aldo mengendus-endus saat hidungnya mencium bau tak sedap. Aldo berjalan menuju ranjang dan mengguncang tubuh Sinta dengan pelan.

"Bangun dek, sudah subuh." Beberapa kali Aldo membangunkan, baru lah Sinta duduk dan mengucek matanya.

"Mandi, habis itu sholat. Jangan lupa, bangunin anak-anak juga," titah Aldo sembari berjalan mengambil sajadah yang ada di dalam lemari.

"Hmmm..." Sinta hanya bergumam pelan.

Setelah kepergian sang suami, Sinta turun dari ranjang dan mengenakan pakaian yang teronggok di lantai. Ia tersenyum mengingat kejadian semalam, di mana sang suami sangat perkasa mengimbangi dirinya.

"Aduh ..." Sinta memegang perutnya dan merasakan hal yang aneh. Tak menghiraukan itu, lantas dia beranjak menuju kamar mandi.

"Dingin sekali." Sinta memeluk lengannya dan menguap lebar. Akhirnya Sinta tidak jadi mandi dan dirinya kembali ke kamar untuk melanjutkan tidurnya.

***

***

"Assalamualaikum..."

Aldo yang baru saja tiba dari masjid, mengernyit heran karena rumah masih dalam keadaan sepi. Biasanya, Sinta sudah menyapu di halaman dan anak-anak menonton televisi usai menunaikan sholat.

Aldo berjalan menuju kamar untuk menyimpan sajadah dan sarung. Pintu terbuka, menampilkan Sinta yang masih terbaring memeluk guling.

Aldo melepas kain sarung, melipatnya bersama sajadah yang ia kenakan tadi dan kembali memasukannya ke dalam lemari.

Aldo pikir istrinya tidur lagi setelah sembahyang. Namun, saat dirinya mendekat dan membangunkannya. Tangan Aldo menyentuh rambut Sinta. Kering, itu berarti Sinta belum mandi dan belum menunaikan kewajibannya.

"Dek ... bangun Dek. Kamu ketiduran ya?"

Guncangan di tubuhnya membuat Sinta terusik. "Iya, Mas. Sebentar lagi ya? Aku masih ngantuk banget nih," tolak Sinta.

"Sudah pagi, kamu nanti bisa telat sembahyang subuh. Buruan bangun dan mandi. Mas mau membangunkan anak-anak dulu." Aldo segera meninggalkan Sinta dan berjalan menuju kamar kedua anaknya.

Aldo belum ada uang untuk membuat dua kamar. Karena itu, Rafa dan Sheila tidur di kamar yang sama. Dengan ranjang 2 tingkat. Rafa berada ranjang bawah dan Sheila di ranjang yang ada di atas.

"Nak bangun. Sembahyang subuh dulu."

Kedua anaknya yang sudah terbiasa bangun pagi tak begitu sulit untuk di bangunkan. Perlahan Sheila menuruni tangga kayu yang ada di sisi tempat tidur. Kedua bocah itu segera menuju ke belakang untuk mengambil wudhu.

"Kalian sholat berdua ya?" ucap Aldo. Kedua anaknya pun mengangguk. Aldo gegas menuju kamarnya sendiri.

"Kok belum mandi sih, Dek?" tanya Aldo sedikit geram. Tak biasanya Sinta malas saat menunaikan ibadah. Sinta pun juga bukan tipe wanita pemalas.

Sinta yang masih duduk di tepi ranjang, menatap suaminya dengan tak suka. "Badan ku capek, Mas. Semalam kamu terlalu bersemangat. Kali ini aja aku tidak sembahyang ya?" ucapnya penuh permohonan.

Aldo tak begitu mengerti dengan kata-kata yang Sinta lontarkan padanya. 'Terlalu semangat? Semangat apa?' Namun, semakin ia pikirkan, semakin dirinya tak mengerti.

"Hush ... jangan berkata seperti itu. Ibadah itu wajib. Semua yang kamu lakukan itu juga tanggung jawab, Mas. Sekarang bangun, mandi dan segeralah sembahyang." ucapan Aldo kali ini tak bisa di bantah.

Walau malas, Sinta akhirnya berdiri dan menuruti semua perkataan Aldo.

***

***

"Bapak sudah makan?" tanya Rafa. Dirinya tengah menyantap ikan goreng bersama adiknya sembari menonton telivisi.

"Sudah. Ibu mu mana?" Aldo celingukan, pasalnya sedari tadi istrinya itu tak nampak batang hidungnya.

"Ibu ikut sama Mak Siti ke kebun ambil sawi." Rafa menjawab dengan mulut yang penuh dengan makanan.

Aldo hanya menganggukkan kepala, lalu duduk di kursi. "Kalau sudah selesai makan, Rafa antar ikan goreng ke rumah kakek ya?" Bocah berusia 9 tahun itu mengangguk.

Hidup di pedesaan seperti ini tidak akan kekurangan makanan walaupun tak memegang uang. Ada sungai yang bisa di pancing, pekarangan rumah yang bisa di tanami ubi ketela, cabai, tomat dan sayur mayur lainnya. tak lupa juga, tetangga yang ramah tamah dan selalu berbagi saat di kebunnya panen sayur berlimpah.

Seperti sekarang ini, Mak Siti tengah panen dan akan membiarkan warga di sini mengambil sawi di kebun miliknya. Tanpa di beritahu pun, warga sini akan mengambil secukupnya untuk makan.

Aldo memasukan beberapa ikan goreng ke dalam rantang dan memberikannya pada kedua anaknya.

"Rafa dan Sheila sekalian main di rumah kakek ya, Pak?" ucap anak lelakinya itu meminta izin. Di hari Minggu begini, mereka memang terbiasa main bersama kakek dan om-nya.

"Iya. Jangan nakal."

Setelah kepergian kedua anaknya, Aldo menutup pintu dan berniat menghampiri sang istri. "Tumben ambil sayur lama sekali?" gumam Aldo pelan.

Tak ada motor, Aldo berjalan kaki menuju kebun yang berada di seberang sungai. Di pertengahan jalan, Aldo bertemu dengan Mak Siti yang tengah mengendarai motor.

"Mau kemana, Do?" Mak Siti menghentikan motor maticnya.

"Sinta masih di kebun, Mak?" Aldo balik bertanya.

"Gak ada. Katanya mau ke hutan tadi."

Mak Siti kembali mengendarai motornya, sedangkan Aldo bergegas menuju hutan. Di sepanjang jalan, Aldo terus memikirkan istrinya. "Ngapain Sinta ke hutan?"

Bab 3

Hutan di sini masih asri dan banyak binatang buas apabila masuk lebih dalam. Warga di desa curuk ayu biasa pergi ke hutan hanya untuk mencari kayu bakar dan mencari tanaman yang bisa dimakan serta menjerat ayam hutan.

Aldo mencari Sinta di hutan yang berada di dekat pohon besar. Di sana, mereka biasa menjerat ayam hutan yang memang banyak hidup di sekitaran kayu besar tersebut.

Tak biasanya Sinta ke hutan sendirian, biasanya ia selalu pergi bersama Aldo. Sinta termasuk perempuan penakut, lihat ulat bulu dan memegang ayam pun tak berani.

"Pak, lihat istriku tidak?" Aldo bertanya pada lelaki tua yang tengah memotong kayu tumbang untuk di jadikan kayu bakar.

Lelaki itu berhenti mengayunkan kapak, berdiri tegap dan menoleh ke arah Aldo. "Tadi lewat sini, Do! Mungkin di dekat kayu besar sana." Setelah memberitahu kepada Aldo, lelaki itu kembali membungkuk dan mengayunkan kapak itu kembali.

Aldo kembali berjalan menyusuri jalan setapak, di sisi kiri dan kanan banyak tumbuhan liar dan juga semak belukar yang banyak duri-duri tajam.

Aldo sesekali menguap dengan lebar, rencananya ingin tidur nyenyak jadi terhambat. Sembari terus berjalan, Aldo mengeluarkan ponsel jadul miliknya. Terpampang di layar ponsel kecil itu, waktu sudah menunjukan pukul delapan pagi.

Aldo gegas mempercepat langkah kakinya menuju pohon besar yang sudah nampak di depan mata. Dirinya ingin cepat-cepat mengajak sang istri pulang dan ia bisa segera beristirahat.

"Dek! Kamu di mana!?"

Aldo terus mencari dan menyusuri area sekitar pohon besar. Lama mencari dan terus berteriak memanggil nama sang istri, namun tak ada tanda-tanda bahwa istrinya itu ada di sini. Aldo semakin khawatir takut terjadi sesuatu pada Sinta.

Krosek... Krosek... Krosek...

Aldo kembali ke tempat semula saat mendengar suara seseorang. Namun, ternyata itu bukan istrinya, melainkan warga desa yang tengah memasang jeratan.

"Lagi ngapain, Do? Cari kayu bakar?" Laki-laki bertubuh jangkung itu bertanya tanpa menoleh ke arah Aldo.

"Enggak Mas. Ini lagi cari istriku. Katanya dia masuk hutan sendirian. Tapi, aku cari-cari tak ketemu." Aldo berjalan mendekat dan duduk di samping laki-laki tersebut karena kelelahan berjalan ke sana ke mari.

Laki-laki itu menoleh, lalu menatap Aldo. "Sampai tahun depan pun tidak akan ketemu, Do! Sinta ada di rumah, tadi aku melihatnya tengah menjemur pakaian."

Aldo sangat terkejut mendengar penuturan tetangganya itu. "Yang benar Mas? Tadi kata orang-orang yang ada di kebun, istriku jalan masuk hutan loh!" sahut Aldo tak percaya.

"Dibilangin ngeyel! Kamu pulang saja dan lihat di rumah."

Tanpa basa-basi Aldo berdiri dan segera meninggalkan hutan ini. Bagaimana mungkin istrinya sudah ada di rumah? Jalan untuk masuk hutan hanya lewat kebun Mak Siti. Karena jalan lainnya pasti banyak semak belukar dengan duri-duri tajam.

Sesampainya di depan rumah, Aldo segera masuk dan mencari keberadaan istrinya. Di ruang tamu, dapur dan samping rumah pun tidak ada. Aldo lantas menuju kamar. Saat pintu terbuka, betapa terkejutnya dia. Sinta tengah tiduran di atas ranjang.

"Kamu dari mana, Mas?" Melihat Aldo masuk, Sinta segera duduk dan mengikat rambutnya.

Aldo duduk di tepi ranjang, menatap istrinya dari atas sampai bawah. "Seharusnya Mas yang tanya begitu. Kamu dari mana saja? Mas cari-cari di hutan tak taunya kamu sudah ada di rumah."

Sinta terkekeh pelan, "Ngapain cari di hutan, Mas? Sinta saja di rumah terus dari tadi pagi."

"Ha?" Aldo melongo mendengar jawaban Sinta. "Kamu jangan bercanda ya, Dek! Bukannya kamu pergi ke kebun Mak Siti untuk mengambil sayur? Dan kata Mak Siti, kamu masuk ke hutan."

Sinta lagi-lagi tertawa mendengar ucapan Aldo "Jangan ngawur deh, Mas. Aku ambil sayur setelah itu langsung pulang. Kalau tidak percaya lihat saja di dapur, sawi nya sudah aku tumis dan aku juga baru selesai mencuci pakaian seragam anak-anak."

Aldo tak membantah lagi, sebab memang ada baju di jemuran. Dirinya membaringkan tubuhnya dan memijat keningnya yang terasa pusing dengan kejadian janggal ini.

"Omong-omong, ikan dari mana itu, Mas?"

"Hasil pancinganku dengan Ardi semalam, Dek."

"Berartti setelah aku tertidur di pelukan mu, ya?" Sinta pikir, Aldo berangkat pukul 03.30 setelah memberinya kepuasan. Namun, nyatanya Aldo berangkat pukul 01.30 dan baru pulang pukul 04.00

"Hmmm..." Aldo hanya bergumam pelan karena matanya sudah sangat mengantuk dan tubuhnya pun juga lelah.

***

***

"PERGI KAMU...!!!"

Aldo berteriak lantang, berjalan cepat dan menerjang sesosok mahluk bertubuh besar berwarna hitam yang sangat menyeramkan tengah menindih tubuh istrinya.

Napas Aldo memburu, dirinya mengumpulkan keberanian dan segera menendang mahluk itu sampai terguling dari atas tubuh Sinta.

"Dek! Bangun,.Dk! Pergi! Lari!"

Aldo terus berteriak berharap istrinya yang tengah terbaring dengan mata terpejam, bangun dan segera berlari.

Seberapa kuat Aldo berteriak, istrinya seolah tak mendengar. Saat sesosok mahluk hitam besar itu hendak mendekat, Aldo segera menerjang sembari berdoa meminta bantuan Tuhan yang Maha Kuasa.

"Allahu Akbar ... Allahu Akbar!!!"

Aldo mengangkat tubuh Sinta dan memeluknya erat. Mahluk itu menatap Aldo, matanya yang berwarna merah seperti mengeluarkan api. Mahluk itu membuka mulutnya lebar yang terdapat gigi runcing dengan darah yang menetes, belatung dan ular.

Aldo semakin mengeratkan pelukannya. Mulut itu semakin lebar dan semakin mendekat ke wajah Aldo.

"Aaarrrrhhgghhh....!!!"

"Bapak kenapa? Bangun,.Pak!" Guncangan yang begitu kuat membuat Aldo tersadar dan terbangun dari tidurnya. Aldo terduduk dengan napas yang masih memburu.

"Bapak kenapa teriak-teriak? Bapak mimpi buruk?" Rafa bertanya sembari mengelap kening bapaknya yang bercucuran keringat.

"Kalau mau tidur, baca doa dulu, Pak." sahut Sheila

"Kalian baru pulang? Ibu mu mana?" Masih dengan rasa takutnya, Aldo mencoba menetralkan detak jantungnya. Mimpinya itu terasa sangat nyata.

"Kami baru saja pulang Pak. Ibu ada di rumah Mak Siti."

***

***

"Kamu kenapa sih, Mas? Dari tadi siang kelihatan lesu begitu, kamu sakit?"

Aldo menggeleng pelan. "Aku hanya kecapean saja, Dek."

Sinta ikut membaringkan badan dan memeluk suaminya dengan erat. Perlahan dua insan itu memejamkan mata dan terlelap.

....

Sheila terbangun tengah malam sebab ingin ke kamar mandi. Membangunkan sang kakak beberapa kali. Namun, Rafa tak kunjung bangun.

Sheila gegas ke kamar bapaknya yang berada tepat di sebelah kamarnya.

Perlahan, pintu yang tidak terkunci itu terbuka.

"Aaaaa...." Bocah perempuan itu menjerit histeris.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED