Bab 1

Bismillah

      "SUAMI DARI ALAM LAIN"

#part_1

#by:R.D.Lestari.

#true story

     Drap! Drap! Drap!

    Bunyi langkah kaki memecah keheningan. Ku tatap wajah Sri dan Rena yang tadi amat ketakutan kini berubah ceria. Mendung itu seketika hilang terbias cahaya harapan.

   "Sepertinya ada suara derap langkah kaki, mudah-mudahan ada yang akan menolong kita," ucap Sri lirih.

    Aku beranjak dari dudukku dan menatap Rena sekilas.

    "Jaga Sri, Ren. Aku akan melihat siapa yang datang. Semoga itu orang-orang yang mencari kita," seruku.

   "Aku temani, Indri. Bahaya jika sendiri, diluar banyak binatang buas," Rena berusaha mencegahku.

    "Tak apa aku sendiri. Sri lebih butuh dirimu, tubuh nya teramat lemah karena demam dan luka di kakinya," sahutku. Lambaian tangan kuarahkan pada mereka. Senyum tipis mengulas di bibir kedua sahabatku itu.

    "Hati-hati, In," ucap Rena dan Sri. Aku hanya mengangguk, berbalik dan melangkah pergi meninggalkan mereka.

     Bulir bening menetes di pelupuk mata. Apakah salah kami hingga mengalami nasib setragis ini?

   Kami mahasiswa dari suatu perguruan tinggi di kota Sulawesi. Kedatangan kami ke hutan lebat ini karena suatu kegiatan penelitian dari Universitas tempatku menimba ilmu.

   Jumlah kami saat itu ada delapan orang, tapi hanya kami bertiga yang terpisah dari rombongan. Itu pun karena ulahku yang tak mau buang hajat sembarangan.

    Akibat dari kecerewetanku, akhirnya Sri dan Rena dapat imbasnya. Kami tersesat di dalam hutan dan tak tau arah. Hingga terpisah dari rombongan.

    Lelah berjalan dan takut yang tak terhingga, Sri tiba-tiba mendengar geraman yang amat dekat. Saat menoleh, dengan jarak sekitar dua puluh meter tegak seekor beruang madu yang siap menerkam. Kukunya yang panjang dan hitam mengarah ke arah kami. Taringnya mencuat di antara moncongnya.

   Kami serentak berlari, tapi sayang Sri terjatuh dan sempat tercakar di bagian kaki. Aku dan Rena berbalik dan memukul beruang dengan panci dan peralatan masak serta tas yang kami bawa. Beruntung binatang buas itu menyerah dan berlari meninggalkan kami, hanya saja kaki Sri terluka cukup parah.

     Dengan sisa tenaga kami membawa Sri berjalan di antara lebatnya hutan. Pepohonan besar dan tumbuhan hutan lainnya membuat kami di rundung ketakutan.

    Dalam kelelahan yang tiada terhingga, samar-samar terlihat sebuah rumah yang cukup kokoh berdiri.

     Kami pun memutuskan singgah dan meminta bantuan. Walau sebenarnya ragu, di tengah hutan ada rumah? siapa yang tinggal di sini?

  Saat itu Sri dan Rena juga diriku berusaha memanggil si pemilik rumah, tapi tak ada jawaban. Ternyata rumah pun tak terkunci dan tak ada apa pun di dalam rumah. Seperti sudah sangat lama tak di huni.

   Dan sejak saat itu kami tinggal di rumah tua ini untuk melindungi diri dari makhluk buas dan juga binatang melata lainnya.  Ini sudah hari ketiga, luka di kaki Sri menyebabkan infeksi dan Sri demam. Stok mie dan makanan instan lainnya pun sudah hampir habis. Untuk air minum, aku sengaja menampung air hujan. Kebetulan malam selalu hujan.

    Kami hanya bertahan pada lampu senter dan lampu handphone. Itupun sudah mat* semua. Tadi malam pun gelap-gelapan .

***

   Drap! Drap! Drap!

   Suara langkah kaki itu terdengar lebih jelas. Ku percepat langkahku . Sepertinya bukan cuma seorang , tapi banyak orang.

    Mataku berbinar melihat sekumpulan tentara sedang berjalan mendekati gubuk kami. Tanpa sadar aku berlari mendekati mereka.

   "Pak--Pak, tolong!" teriakku.

   Mereka serentak menghentikan langkah. Nyaris copot jantungku melihat tatapan para lelaki di hadapanku. Tampan , semua amat tampan. Wajah mereka bukan seperti warga pribumi pada umumnya. Mata mereka biru, hidung mereka mancung dan kulit mereka putih bersih. Mereka memakai baju tentara tapi berbeda warna dengan yang sering tentara pakai pada umumnya.

     Mereka hanya terdiam melihatku. Seolah menatap heran dengan kehadiranku .

    "To--tolong, sa--saya,Pak," lirihku.Tubuhku gemetar menahan malu karena mereka menatapku tanpa berkedip sedikitpun.

     "Kenapa bisa berada di dalam hutan. Sendiriankah kamu?"

      Salah satu dari mereka berjalan mendekatiku, wajahnya lebih tampan dari yang lain. Jika diperhatikan sepertinya dia pemimpinnya, nampak dari pakaiannya yang berbeda.

     "I--iya, Pak. Saya tersesat bersama dengan dua teman saya," paparku.

     "Sekarang di mana kedua temanmu?" tanyanya . Ia semakin dekat dan wajahnya terlihat semakin jelas. Tampan... sangat tampan.

     "Me-- mereka di --disana," jawabku terbata seraya menunjuk ke arah gubuk.Benar-benar grogi berdekatan dengan pemuda setampan ini.

     "Pasukan! tolong bantu gadis ini! bawa mereka ke basecamp! segera!" teriaknya lantang .

     "Baik Komandan!" seru mereka serentak.

    Para tentara mendekati gubuk mengikutiku dari belakang. Rena dan Sri nampak amat terkejut sekaligus bahagia mendapat pertolongan yang tak terduga. Akhirnya ada yang datang menyelamatkan kami.

   Mereka dengan sigap membopong tubuh Sri dan juga Rena. Karena Rena pun juga lemah. Sedangkan aku memilih berjalan mengikuti mereka menuju basecamp yang di sebutkan.

    Mereka tak banyak bicara. Sepanjang jalan pun hanya diam tak bersuara. Cukup jauh kami berjalan, sekitar sepuluh menit kami pun sampai.

   Basecamp yang di maksud ternyata bukan hanya tenda. Tapi sebuah gedung yang amat luas dengan peralatan dan senjata yang lengkap. Aneh bukan? Di dalam hutan selebat ini ada gedung yang luas dan punya semua perlengkapan modern. Juga mobil-mobil bagus dan motor sport mahal. Seperti di film-film hollywood.

    Aku menatap takjub. Begitu juga Sri dan Rena. Tak menyangka jika di dalam hutan ada tempat sekeren ini.

    Sri segera di obati dengan seorang dokter yang amat cantik. Sebenernya mereka ini siapa? dari logat dan cara bicaranya sama seperti kami, tapi fisik mereka amat jauh dengan kami pada umumnya. Mereka semua bertubuh lebih tinggi, bermata biru, berhidung mancung dan berkulit putih. Warna rambut mereka pun condong berwarna pirang. Lebih mirip orang-orang bule.

    Sementara Sri dan Rena di obati, aku menunggu di tempat berbeda. Duduk sendiri di teman secangkir susu coklat panas dan juga roti-roti dengan berbagai toping. Amat enak dan super lembut. Seperti berada di dalam hotel dengan pelayanan bintang lima.

    Semua orang di sini sibuk dengan kegiatannya masing-masing sehingga enggan bagiku untuk bertanya dan menyapa. Mereka cenderung cuek.

    "Boleh aku temani?" suara berat seseorang membuyarkan lamunanku. Aku hampir saja tersedak.

    "Maaf, aku mengganggumu, ya?" tanyanya ramah.

   "Ti-- tidak, si--silahkan, duduk," tawarku dengan gugup.

    Ia lalu mengambil sebuah bangku dan duduk di sampingku.

    Dadaku bergemuruh melihat ketampanan pemuda itu dari dekat. Dia, pemimpin pasukan yang tadi menolongku. Ternyata ia tampak lebih tampan di tempat yang terang seperti ruangan ini.

    "Aku Bima," ia mengulurkan tangannya.

    "A--Aku Indri," jawabku dan ku sambut tangan nya.

    Dingin. Seperti ada magnet listrik yang menjalar disekujur tubuh ku. Rasanya tubuh ku bergetar karena grogi.

    Ia menarik kembali tangannya dan menatapku dengan lucu. Sempat tersenyum dan senyum itu mampu merontokkan hatiku.

    "Kamu sepertinya amat lelah. Istirahatlah sejenak. Esok kami akan mengantarmu dan kedua temanmu pulang," ucapnya.

    "Kami punya banyak ruangan dan kamar yang pasti membuatmu betah. Anggap saja di rumah sendiri," lanjutnya.

    "Terima kasih telah menolong kami," sahutku.

    Ia mengangguk dan kembali tersenyum. Rasa mau pingsan lihat senyumnya. Ah, seumur hidup baru pertama bertemu laki-laki setampan ini.

   Ia bangkit dari duduknya dan menatap wajahku dengan senyum manisnya.

    "Ayo, aku antar ke kamarmu, biar kamu bisa langsung tidur," katanya dan ia pun melangkah pelan. Aku mengikutinya dari belakang.

***

    "Wah, gil*! ini gil* namanya!" seru Rena. Matanya menyisir semua ruangan. Ia tak henti berdecak kagum dengan kamar yang di sediakan untuk kami beristirahat.

    "Mimpi apa kita, woy! berasa liburan di hotel bintang lima kita!"Sri menimpali.

    "Sayang di sini ga ada sinyal," wajah Rena mendadak mendung.

    "Dah lah, kita foto aja," ajakku.

    "Wei, tak boleh foto bertiga, nanti salah satu ada yang mat*," sahut Sri.

     "Ah, mitos aja itu," sanggahku.

    "Udah, ayok," desakku. Kami mendekati Sri di ranjang dan ...

    "Say cheese,  buncis, satu, dua, tiga," kami berselfie riang. Tapi ternyata....

Bersambung

Bab 2

Bismillah

"SUAMI DARI ALAM LAIN"

#part_2

#by: R.D.Lestari.

"Say cheese, buncis, satu, dua,tiga," sahut kami berbarengan.

Cekrek! cekrek! cekrek!

Rena segera menarik handphone di tanganku, jemarinya asik bermain dengan raut wajah yang tampak aneh. Keningnya mengkerut seperti orang yang sedang berpikir keras.

"Ges,ges! lihat ini ...," ia lalu menyerahkan handphonku dan menunjukkan hasil foto selfie kami tadi.

"Aneh banget ga, ges! kok blur semua ya?" ujar Rena dengan mengernyitkan keningnya,heran.

"Mungkin tangan Indri kali yang goyang-goyang," sahut Sri dengan mengangkat bahu.

"Ga, Sri. Rena bener, kamera ga bisa fokus," jawabku sembari memutar handphone dan mencoba memotret kembali. Hasilnya tetap sama. Blur.

"Aneh banget. Apa hapeku yang rusak ya?" gumamku.

"Coba pake hapemu, Ren," ujarku. Rena langsung mengeluarkan hapenya dan mulai mengarahkan kamera ke sana dan ke sini.

"Sama aja, In, blur juga," sahutnya.

"Aneh, benar-benar aneh, kok bisa samaan, ya?" Rena berdecak sambil tolak pinggang.

"Ini benar-benar aneh, woy," Sri mulai menatap kami takut.

"Sudah, sudah. Jangan berpikiran buruk dulu. Sekarang ayo kita nikmati dulu dan istirahat. Katanya kita akan di antar besok. Jadi, nikmati waktu kita di sini," jawabku menenangkan hati kedua sahabatku.

Mereka mengangguk dan naik ke atas peraduan yang super empuk dan nyaman. Rasanya seperti tidur di atas awan. Lembut dan wangi.

Tok! Tok! Tok!

Baru saja kami ingin terlelap, tetapi suara ketukan memaksa untuk membuka mata. Aku bangkit dan menyuruh kedua temanku untuk tetap melajutkan istirahat.

"Biar aku aja, kalian lanjuti tidurnya," ucapku sembari beranjak mendekati pintu.

Krietttt!

Pintu ku buka pelan. Kepalaku menyembul keluar. Tampak seorang lelaki berpakaian pelayan berdiri di depan pintu dengan senyum ramahnya.

"Selamat malam, Nona. Makan malam sudah siap. Mari kita makan bersama," ajaknya.

"Tapi, kedua temanku nampaknya amat lemah jika harus berjalan. Mereka sedang tidur," jawabku seraya menatap kedua temanku yang sudah tertidur.

"Nanti saya bawakan makanan, kalau-kalau mereka lapar jika malam terbangun," tutur nya sopan.

"Tapi, aku tak mungkin makan bersama dengan yang lain, pakaianku kotor dan belum mandi. Biar aku makan di sini saja," tolakku.

"Nona bisa ambil pakaian di lemari. Di kamar lengkap semua perlengkapan, silahkan Nona mandi dulu. Saya akan menunggu di sini," jawabnya.

Aku beringsut mundur dan kembali ke dalam kamar. Mencari pakaian seperti yang di katakan pelayan di luar.

Mataku terperangah melihat isi lemari yang penuh dengan pakaian wanita, sepatu dan juga tas branded. Mimpi apa aku semalam?

Aku berjingkat dan membangunkan kedua sahabatku .

"Ges .... gaesss! bangun! bangun!" ucapku sambil menggoyang tubuh kedua temanku ini. Namun mereka hanya diam saja. "Tidur kerbo ini namanya," sungutku kesal.

Dengan kesal ku langkahkan kaki menuju kamar mandi.

"Huahhhh, amazing!" aku berdecak kagum. Kamar mandinya luas dengan perabotan mahal. Sampo ,sabun semua serba mahal. Benar-benar merasa amat di manjakan.

Setelah mandi, aku mematut diri di depan cermin. Bermake up ria. Memakai pakaian berwarna senada dengan sepatu, warna pastel menjadi pilihanku.

Aku merasa bak putri raja. "Cakep juga," pujiku pada diri sendiri. Hidungku menjadi tampak mancung , bulu mataku menjadi lentik , wajah yang nampak merona dan lipstik natural menambah kepercayaan diriku saat ini.

"Mana tau ada yang nyantol , hi-hi-hi," ucapku sambil senyam-senyum sendiri.

***

Aku sempat merasa dag-dig-dug saat akan memasuki ruang makan bersama pelayan yang sejak tadi setia menunggu.

Krietttt!

"Silahkan masuk, Nona," ia membuka pintu dan mempersilahkan ku masuk.

Aku mengangguk dan dengan kaki yang gemetar berusaha masuk ke dalam ruangan dengan jantung yang berdenyut kencang.

Bola mataku membesar sempurna, apa yang aku pikirkan sungguh jauh berbeda . Tak banyak orang di dalam ruangan. Hanya seorang lelaki duduk membelakangiku. Tubuh nya yang tegap menatap meja indah dengan lilin , bunga mawar dan makanan enak.

"Ini , makan malam berdua?" gumamku.

Srekkk!

Ia bangkit dan menggeser kursi. Berbalik dan menatapku dengan senyum yang amat manis.

Lelaki itu ... Aku hampir terjatuh melihat ketampanannya yang amat sempurna. Ternyata jika memakai baju biasa, aura ketampanannya sungguh luar biasa.

"Ayo, makan bersama. Aku sudah menunggumu lama," ucapnya seraya meraih tanganku . Harusnya aku menepis tangan itu. Namun , entah kenapa aku menurut saja seperti terhipnotis dengan ketampanannya.

***

"Indri, makan. Kamu pasti suka," ia menawarkan makanan yang tersedia di atas meja. Ada steak,udang goreng, daging sapi barbeque,salad,roti-roti, buah-buahan segar dan mahal.

Aku mencoba beberapa menu yang sukses membuat lidahku bergoyang karena kenikmatan rasanya.

Lelaki tampan itu nampak senyum-senyum melihatku yang kalap menikmati makanan nikmat tanpa memperdulikannya.

"In...," ia mengulurkan tangannya. Tubuhku seketika beku. Mau ngapain dia?

Kurasakan usapan lembut tangannya di dekat bibirku.

"He-he-he, kamu makan nya belepotan," ia terkekeh. Wajahku berubah merah padam. Beruntung ruangan temaram karena hanya di sinari beberapa lilin sebagai pemanis.

"Terimakasih, Pak Bima," ujarku. Wajahnya tampak amat tampan terkena cahaya lilin.

"Aku belum terlalu tua, oia berapa umurmu?" ia menyunggingkan senyumnya.

"Dua puluh satu," sahutku.

"Aku dua puluh enam. Kita terpaut hanya lima tahun," ucapnya.

"Jadi saya harus panggil apa?" mataku memutar, bingung.

"Kakak aja, lebih nyaman di dengar," ia memundurkan tubuhnya dan bersandar di kursi.

"Iya, Kak Bima," lirihku.

"Nah, iya, kan enak di dengar. Mmm, kamu sudah punya pacar?"

Aku salah tingkah. Mau jawab apa? kalau bilang masih jomblo, malu-maluin ga ya?

"Mmm, belum Kak,"jawabku.

"Owhh, ya-ya-ya," ia manggut-mamggut sambil senyum-senyum.

"Saya sudah kenyang, Kak. Boleh saya kembali ke kamar," aku beranjak dan menggeser kursi, bersiap untuk kembali ke kamar.

"Ayo, aku antar," tawarnya. Ia pun beranjak dari duduknya dan berjalan beriringan denganku menuju kamar.

Hatiku bergetar hebat ketika ia di sampingku. Tubuhnya yang tinggi dan atletis membuatku kagum. Tampan dan juga wangi tubuhnya membuatku berandai-andai. Jika punya suami setampan ini, pasti aku tak akan pernah bisa jauh-jauh. Nguwel-nguwel di keteknya pasti asik.

Aku sempat meliriknya, hidung dan matanya serta kulit putihnya memang mempesona.

Dugh!

"Aww!"

Karena asik menatap wajahnya, aku tak menyadari jika kakiku menyandung sesuatu hingga tubuhku limbung dan jatuh ke lantai.

"In, kamu tak apa-apa?" serta merta Bima membantuku berdiri. Aku meringis kesakitan.

"Te--Terima kasih, Kak," ucapku pelan. Ia mengangguk dan kami melanjutkan langkah menuju kamar.

"Besok pagi aku yang akan mengantar kalian, tidurlah yang nyenyak malam ini," paparnya ketika sudah sampai di muka pintu kamar.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum tipis padanya. Berarti malam ini malam terakhir aku melihatnya. Ia berbalik dan berjalan meninggalkan aku yang masih tegak mematung. Dengan wajah tertunduk aku membuka pintu. Melangkah gontai mendekati kedua temanku yang masih terlelap tidur. Merebahkan tubuh dan ikut tidur sambil memeluk guling, berharap bermimpi indah malam ini. Seindah pemandangan yang tersedia di kamar ini.

***

"In ... In, bangun dong, jangan tiduran terus. Kita sudah di tunggu nih ," suara Sri membuatku terpaksa membuka mata, padahal masih sangat mengantuk.

"Masih, pagi. Tuh lihat masih gelap belum nampak matahari," aku mengerjap dan menunjuk arah jendela. Diluar masih gelap. Berarti masih subuh.

"Tapi, In. Jam di handphone sudah menunjukkan waktu jam tujuh pagi," Rena menyahut.

"Ada yang tidak beres dengan tempat ini, In. Ayo kita segera pergi. Lama-lama aku takut," Sri bergidik ngeri.

"Ayolah kita segera berkemas. Aku mandi dulu," aku segera melompat dari ranjang empuk yang membuatku nyaman tertidur, segera berlari menuju kamar mandi.

"Sri, Ren, kalian sudah lihat dalam lemari, ga? Itu isinya pakaian mewah semua," ucapku ketika keluar dari kamar mandi dengan masih menggunakan handuk.

"Serius, In?" mereka serentak menatapku dengan pandangan tak percaya.

Kedua temanku itu lantas berbalik dan berebut membuka pintu lemari. Mereka terpaku melihat semua benda-benda mewah di hadapan mereka.

"Boleh bawa satu, ga, ya?" Rena mengambil satu tas dan bergaya di depan cermin.

"Jangan, Ren! bukan punya kita!" aku mencegahnya untuk mengambil barang itu.

"Huh, iya--iya, aku tahu," ia mencebik dan kembali duduk di atas ranjang.

Tok! Tok! Tok!

"Maaf Nona-Nona, tuan Bima sudah menunggu di bawah," seru seseorang dari luar kamar.

"Cepat, In. Kita sudah di tunggu," desak Sri. Aku pun mengangguk dan segera bersiap-siap.

***

Mata kami terperangah melihat Bima sudah menunggu kami, ia sedang bersandar di sebelah mobil lamborgini kuning dengan gaya casual . Memakai kaos polo berwarna senada dengan mobilnya , celana jeans dan sepatu Nike. Keren , teramat keren. Kami yang melihat sontak melongo karena ketampanannya. Apalagi ketika ia memakai kaca mata hitamnya. Jantungku nyaris copot karena nya.

"Gaess! ganteng banget!" Sri mencengkeram lenganku .

"Hust! tahan , jaga image!" seruku . Padahal hatiku juga melonjak-lonjak tak karuan.

Ia kemudian melambaikan tangan dan menyuruh kami naik ke mobil mewahnya. Kami berjingkat dan sedikit berlari menuju ke arah Bima. Rena dan Sri mulai tebar pesona. Hanya aku sendiri yang bersikap biasa saja. Padahal aku tahu beberapa kali Bima melirik ke arahku , tapi aku pura-pura tak tahu.

Aku melirik jam di handphone. Jam delapan, tapi suasana masih terlihat seperti jam lima subuh, dan sedari kemarin tak ada sinyal. Aneh. Sebenarnya di mana kami? kenapa di dalam hutan ada mobil mewah?

Bab 3

Bismillah

     "SUAMI DARI ALAM LAIN"

#part_4

#by: R.D. Lestari.

   "Indri, makan. Kamu pasti suka," ia menawarkan makanan yang tersedia di atas meja. Ada steak,udang goreng, daging sapi barbeque,salad,roti-roti, buah-buahan segar dan mahal.

    Aku mencoba beberapa menu yang sukses membuat lidahku bergoyang karena kenikmatan rasanya.

   Lelaki tampan itu nampak senyum-senyum melihatku yang kalap menikmati makanan nikmat tanpa memperdulikannya.

   "In...," ia mengulurkan tangannya. Tubuhku seketika beku. Mau ngapain dia?

   Kurasakan usapan lembut tangannya di dekat bibirku.

   "He-he-he, kamu makan nya belepotan," ia terkekeh. Wajahku berubah merah padam. Beruntung ruangan temaram karena hanya di sinari beberapa lilin sebagai pemanis.

   "Terimakasih, Pak Bima," ujarku. Wajahnya tampak amat tampan terkena cahaya lilin.

   "Aku belum terlalu tua, oia berapa umurmu?" ia menyunggingkan senyumnya.

   "Dua puluh satu," sahutku.

   "Aku dua puluh enam. Kita terpaut hanya lima tahun," ucapnya.

   "Jadi saya harus panggil apa?" mataku memutar, bingung.

   "Kakak aja, lebih nyaman di dengar," ia memundurkan tubuhnya dan bersandar di kursi.

    "Iya, Kak Bima," lirihku.

    "Nah, iya, kan enak di dengar. Mmm, kamu sudah punya pacar?"

   Aku salah tingkah. Mau jawab apa? kalau bilang masih jomblo, malu-maluin ga ya?

    "Mmm, belum Kak,"jawabku.

    "Owhh, ya-ya-ya," ia manggut-mamggut sambil senyum-senyum.

    "Saya sudah kenyang, Kak. Boleh saya kembali ke kamar," aku beranjak dan menggeser kursi, bersiap untuk kembali ke kamar.

    "Ayo, aku antar," tawarnya. Ia pun beranjak dari duduknya dan berjalan beriringan denganku menuju kamar.

    Hatiku bergetar hebat ketika ia di sampingku. Tubuhnya yang tinggi dan atletis membuatku kagum. Tampan dan juga wangi tubuhnya membuatku berandai-andai. Jika punya suami setampan ini, pasti aku tak akan pernah bisa jauh-jauh. Nguwel-nguwel di keteknya pasti asik.

    Aku sempat meliriknya, hidung dan matanya serta kulit putihnya memang mempesona.

      Dugh!

     "Aww!"

      Karena asik menatap wajahnya, aku tak menyadari jika kakiku menyandung sesuatu hingga tubuhku limbung dan jatuh ke lantai.

    "In, kamu tak apa-apa?" serta merta Bima membantuku berdiri. Aku meringis kesakitan.

    "Te--Terima kasih, Kak," ucapku pelan. Ia mengangguk dan kami melanjutkan langkah menuju kamar.

    "Besok pagi aku yang akan mengantar kalian, tidurlah yang nyenyak malam ini," paparnya ketika sudah sampai di muka pintu kamar.

    Aku hanya mengangguk dan tersenyum tipis padanya. Berarti malam ini malam terakhir aku melihatnya. Ia berbalik dan berjalan meninggalkan aku yang masih tegak mematung. Dengan wajah tertunduk aku membuka pintu. Melangkah gontai mendekati kedua temanku yang masih terlelap tidur. Merebahkan tubuh dan ikut tidur sambil memeluk guling, berharap bermimpi indah malam ini. Seindah pemandangan yang tersedia di kamar ini.

***

   "In ... In, bangun dong, jangan tiduran terus. Kita sudah di tunggu nih ," suara Sri membuatku terpaksa membuka mata, padahal masih sangat mengantuk.

   "Masih, pagi. Tuh lihat masih gelap belum nampak matahari," aku mengerjap dan menunjuk arah jendela. Diluar masih gelap. Berarti masih subuh.

   "Tapi, In. Jam di handphone sudah menunjukkan waktu jam tujuh pagi," Rena menyahut.

    "Ada yang tidak beres dengan tempat ini, In. Ayo kita segera pergi. Lama-lama aku takut," Sri bergidik ngeri.

    "Ayolah kita segera berkemas. Aku mandi dulu," aku segera melompat dari ranjang empuk yang membuatku nyaman tertidur, segera berlari menuju kamar mandi.

    "Sri, Ren, kalian sudah lihat dalam lemari, ga? Itu isinya pakaian mewah semua," ucapku ketika keluar dari kamar mandi dengan masih menggunakan handuk.

     "Serius, In?" mereka serentak menatapku dengan pandangan tak percaya.

     Kedua temanku itu lantas berbalik dan berebut membuka pintu lemari. Mereka terpaku melihat semua benda-benda mewah di hadapan mereka.

    "Boleh bawa satu, ga, ya?" Rena mengambil satu tas dan bergaya di depan cermin.

    "Jangan, Ren! bukan punya kita!" aku mencegahnya untuk mengambil barang itu.

   "Huh, iya--iya, aku tahu," ia mencebik dan kembali duduk di atas ranjang.

    Tok! Tok! Tok!

    "Maaf Nona-Nona, tuan Bima sudah menunggu di bawah," seru seseorang dari luar kamar.

    "Cepat, In. Kita sudah di tunggu," desak Sri. Aku pun mengangguk dan segera bersiap-siap.

***

      Mata kami terperangah melihat Bima sudah menunggu kami, ia sedang bersandar di sebelah mobil lamborgini kuning dengan gaya casual . Memakai kaos polo berwarna senada dengan mobilnya , celana jeans dan sepatu Nike. Keren , teramat keren. Kami yang melihat sontak melongo karena ketampanannya. Apalagi ketika ia memakai kaca mata hitamnya. Jantungku nyaris copot karena nya.

    "Gaess! ganteng banget!" Sri mencengkeram lenganku .

    "Hust! tahan , jaga image!" seruku . Padahal hatiku juga melonjak-lonjak tak karuan.

      Ia kemudian melambaikan tangan dan menyuruh kami naik ke mobil mewahnya. Kami berjingkat dan sedikit berlari menuju ke arah Bima. Rena dan Sri mulai tebar pesona. Hanya aku sendiri yang bersikap biasa saja. Padahal aku tahu beberapa kali Bima melirik ke arahku , tapi aku pura-pura tak tahu.

      Aku melirik jam di handphone. Jam delapan, tapi suasana masih terlihat seperti jam lima subuh, dan sedari kemarin tak ada sinyal. Aneh. Sebenarnya di mana kami? kenapa di dalam hutan ada mobil mewah?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED