"Lakukan tanpa ragu! Aku akan membayarmu!"
Dalam keadaan mabuk, Samira tengah mengalungkan tangannya pada seorang pria misterius yang memapahnya.
Tubuh Samira tidak berhenti menggelinjang bak cacing kepanasan di musim kemarau, sebab perpaduan alkohol dan gairahnya yang membuncah.
Sebelumnya, Samira pergi ke sebuah bar karena kepalanya begitu pusing dengan masalah yang menerpanya.
Bagaimana tidak, Samira, meski usianya sudah 34 tahun, cantik, dan memiliki kedudukan bagus di salah satu kantor besar, ia belum juga memiliki pasangan.
Belum lagi ia harus selalu mendapatkan cercaan dari sang ibu dan keluarga besarnya, yang selalu mengatai dirinya perawan tua dan tidak laku. Samira ingin membuktikan bahwa dirinya bisa menarik perhatian pria.
"Aku lelah selalu dicela perawan tua!" racau Samira.
Sesaat tatapannya terpaku pada bola mata gelap, di bawah alis tebal sang pria yang tak henti menggeram penuh damba.
Kini matanya terpejam rapat, menikmati gairah liar pria itu, dia seperti binatang buas yang seolah ingin memangsa tubuhnya bulat-bulat.
Ujung kuku jari-jemari Samira menancap di punggung kekar sang pria, sampai bekas kukunya yang panjang tercetak jelas di sana.
Pria itu menekannya lebih dalam lagi, membuat Samira benar-benar telah kehilangan akal atas tubuh dan kesadarannya!
Desahan dan lenguhan panjang terdengar memenuhi ruangan kamar yang nyaris tidak ada cahaya, diakhiri pelepasan keduanya.
***
"Oh Tuhan! Kenapa ini bisa terjadi!"
Saat terbangun oleh alarm ponselnya, Samira kaget mendapati dirinya tanpa busana dengan seorang pria yang tidak ia kenal di dalam kamar.
Sulur surya yang memenuhi ruangan kamar, hingga dengan jelas ia bisa melihat wajah pria dengan tubuh polos tertidur pulas di sampingnya.
Samira mengerjap kedua matanya guna mengumpulkan kesadaran dan ingatannya, bisa sampai ke tempat itu.
Rasanya, tubuhnya remuk akibat serangan liar pria tak dikenalnya ini. Belum lagi, noda darah di seprai, benar-benar merasa dirinya seorang gadis murahan.
Otak cerdasnya memutar cepat merunutkan kejadian semalam. Segera tersadar kesalahan yang ia lakukan, Samira panik langsung memunguti pakaian dan mengenakannya. Ia harus cepat-cepat pergi sebelum pria itu terbangun.
Samira meletakkan setumpuk uang di atas meja sebelum meninggalkan kamar.
Beberapa saat kemudian, sesampainya di rumah, Silva- sang Ibu sudah berdiri menunggunya. Wajahnya berubah jadi gusar sesaat setelah melihatnya datang.
Silva mengernyit bingung memandangi Samira dari ujung rambut hingga ujung kakinya.
"Kamu dari mana?" Dingin Silva bertanya.
Pertanyaan yang pasti terlontar melihat dirinya masih mengenakan seragam kerja kemarin.
Silva tentu bisa tahu dirinya tidak pulang semalaman hanya melihat pakaian, tas dan sepatu yang ia kenakan sekarang.
Pulang dengan penampilan acak-acakan. Pakaiannya basah dengan bau yang menyengat sebab perpaduan aroma alkohol dan keringat.
Padahal, Samira sudah menyemprotkan parfumnya sampai habis ke tubuhnya untuk menyamarkan bau alkohol semalam.
"Aku lembur di kantor tadi malam, Mam," sahut Samira menjauhkan mulutnya yang masih tercium aroma alkoholnya.
Awalnya Samira ingin mengakui saja apa yang sudah terjadi tadi malam. Namun, hati kecilnya belum siap mengungkapkan permainan gilanya itu. Bukan waktu yang tepat sekarang, yang ada Silva akan semakin menyudutkannya.
Kedua mata Silva menyipit menelisik di wajahnya. Silva yang gemar dunia kelab malam itu segera tahu apa yang sudah dilakukan Samira.
"Jangan bohong kamu, Samira! Apa bosmu yang duda itu yang memakaimu? Atau, pria hidung belang di kelab malam?" Silva sedikit menurunkan nada suaranya, dagunya terangkat tinggi menatap Samira dengan tatapan merendahkan.
"Mam, a-aku---"
Ucapan Samira terhenti, seketika ia berjengit kaget, sejurus melihat kemunculan Philip- papinya dari ruang tamu.
"Papi?" desis Samira mulai bingung melihat kehadiran Philip pagi-pagi ada di sana.
Sejak perceraian kedua orang tuanya, baru ini Philip menginjakkan kakinya lagi di rumah itu.
Selama ini hubungan Silva dan Philip juga tidak pernah baik.
Melihat Philip datang tanpa memberitahunya, Samira mulai panik dan di pikirannya penuh tanda tanya. Tangannya mengepal hingga ujung kukunya yang runcing, seakan menembus kulit mulus telapak tangannya yang banjir keringat.
Tidak menyangka Silva akan mengadukannya ke Philip hanya karena tidak pulang semalaman.
"Benarkah itu, Samira?" Datar Philip bertanya menghampirinya, menyentuh wajahnya yang memutih seolah darah berhenti mengalir di sana.
"Sebenarnya, aku pergi dengan kekasihku ..."
Samira tidak ingin memperkeruh suasana yang hanya menjadikan dirinya semakin menyedihkan. Pikirnya mengaku-ngaku kencan dengan seseorang maka semuanya akan kelar.
Melihat Philip masih menunggu kejujurannya, Samira memilih berbohong dan berkata, "Sebenarnya aku pergi dengan kekasihku, Pi. Dan ... karena kami mabuk semalaman sampai aku pun tidak pulang."
Mendengarnya, segaris senyum kecil terbit dari bibir Philip.
"Terimakasih sudah menjelaskannya, Sayang. Apa kamu bisa membawanya malam ini bertemu dengan Papi?"
Jantung Samira langsung meloncat dari tempatnya. Ia pun sudah tidak tahu kemana mencari pria tadi malam itu.
Tapi ... mengingat dirinya harus cepat-cepat ke kantor, tanpa perlu berpikir-pikir Samira hanya mengangguk cepat.
Melirik jam di pergelangan tangannya, Samira segera berpamitan. Gegas membersihkan tubuhnya. Rasa sakit di sekujur tubuhnya terlebih di pangkal kedua kakinya cuma diabaikannya.
Sesaat mematut diri di depan cermin sebelum keluar dari kamar.
Ia harus tiba lebih cepat di kantor, mengingat pembicaraannya dengan pak Baroto kemarin sore. Pria tua berusia 60 tahun merupakan direksi di kantor tempatnya bekerja, yang mempercayakannya menginterview seseorang di kantor hari ini.
Kebetulan pak Baroto ada kunjungan bisnis ke luar kota. Samira Brisia sebagai direktur Utama yang dipercayakan menggantikan tugasnya.
Tiba di kantor, Samira sudah ditunggu oleh Miriam, HRD perusahaan, di ruang direksi.
Belum lagi sebelumnya, Samira harus menyiapkan berkas-berkas terkait calon pegawai itu dikirim oleh atasannya.
'Morgan Francois, 25 tahun sebagai pegawai magang?' Samira mengernyit dahi kebingungan. Memang pak Baroto tidak memberitahu nama dan jabatan seseorang yang akan di interviewnya itu semalam.
Tapi ... kalau cuma pegawai magang tidak perlu meng-interviewnya di ruangan direksi.
Ragu karena hal seperti itu belum pernah terjadi selama ia menjabat sebagai Direktur Utama di sana. Alih-alih pegawai magang mendahuluinya ke ruangan direksi.
Sejenak Samira merenung, tapi mau tak mau Samira hanya bisa menurut melakukan perintah dari Pak Baroto.
Langkahnya gegas menuju ruangan direksi. 'Sial, sudah terlambat sepuluh menit!'
Samira mengetuk pintu sekedar memberitahu kedatangannya. Namun, di dalam ruangan ia dikagetkan oleh pegawai magang, yang tengah menunggunya di kursi depan meja pak Baroto.
Samira ternganga, beberapa detik hanya terdiam bisu, kedua bola matanya melebar sempurna. Benar-benar tidak bisa dipercaya, atau dirinya belum sadar sepenuhnya dari alkohol yang masih mengendap dalam tubuhnya.
Bagaimana bisa pria yang bersamanya semalam ada di sini?
***
"K-kamu?" Samira mati-matian menguasai dirinya. Ia tidak mungkin salah mengenali pria ini namun anehnya pria itu seakan tidak mengenalinya.
Atau ... hanya berpura-pura? Mengingat semalam dirinya tidak menutupi sedikitpun wajahnya dari pria ini.
Sadar sekarang ia ada di kantor dan tengah melakukan tugas dari sang Bos. Samira memperbaiki sikapnya.
"Ahh ... maaf membuat anda menunggu," ucap Samira menenggak liur kesulitan, lantas menguasai rasa gugup dan kakunya.
Cepat-cepat duduk di kursi kebesaran pak Baroto. Wajahnya terasa panas dan memerah sekarang.
Samira menggeleng-gelengkan kepala guna memfokuskan pikirannya. Kepalanya yang masih pusing dan berdenyut-denyut membuatnya jadi kesulitan fokus.
Sesaat sibuk memperhatikan berkas-berkas yang sudah bolak-balik ia periksa tadi. Kemudian menatap sang pria yang lantas berdiri, dan cepat-cepat mengulurkan tangan hendak berjabat tangan dengannya.
"Saya Morgan Francois, dengan ibu ..." Morgan sengaja menggantung ucapannya.
"Saya Samira Brisia, Direktur Utama di sini," ucap Samira tanpa mengurai tatapannya dari wajah Morgan.
Jantung Samira berhenti berdetak beberapa detik, wajahnya sedikit memutih dengan napas satu-satu seolah habis berlari jauh. Mengutuk dirinya yang telah bercumbu panas dengan seorang pegawai magang, yang jauh dibawah usianya, alih-alih membayarnya.
"Baik, ibu Samira. Pak Baroto berkata jika..."
Namun, belum selesai Morgan berbicara, buru-buru Samira menggeser dokumen kontrak perjanjian kerja ke depan muka Morgan.
"Ini dokumen kontrak kerja kamu sebagai pegawai magang di sini. Bisa dibaca lebih dulu sebelum menandatanganinya," jelasnya menunjuk kolom yang harus ditandatangani Morgan.
Pria itu hanya diam dan mengambil berkas itu, sekilas membaca sebelum membubuhkan tanda tangannya di kolom namanya.
Gemuruh dada Samira meningkat. Pegawai magang ini sangat kuat mempengaruhi pikirannya dengan kejadian tadi malam.
Tatapan dinginnya, bentuk wajah, rambut dan cambangnya yang tertata rapi, menampilkan kharisma yang kuat. Sekarang dia terlihat bugar dan sangat tampan dibalik penampilan maskulinnya.
Sangat bertolak belakang dengan Morgan semalam, dia seperti binatang buas dan tidak berperasaan meremukkan tubuhnya. Sekarang kebalikannya 180 derajat.
"Sudah selesai, ibu Samira," ucap Morgan meletakkan pulpen di atas meja, mendorong berkas yang sudah selesai ditandatanganinya ke depan.
Samira tersentak ketika map yang didorong ke depan menyentuh tangannya. Samira mengerjap kedua matanya cepat untuk mengembalikan fokusnya.
Samira menaikkan dagu untuk menjaga wibawanya di depan pegawai magang ini. Tatapannya tegas di wajah tampan Morgan.
"Sebelumnya kamu sudah ada pengalaman bekerja?" tanya Samira mendapati berkas Morgan mengosongkan kolom pengalaman bekerja.
"Belum, apa artinya saya kehilangan kesempatan bekerja di sini?" tatap Morgan padanya.
Deg!
Mata tajam itu kembali membuatnya bergetar. Pertanyaan apa itu? Bukankah pengalaman sangat diutamakan di kantor sebesar ini?
"Bukan, saya yakin pak Baroto juga punya alasan merekomendasikan kamu ke saya. Jadi, ... lupakan saja."
Samira menyalakan komputer di depannya dan jari-jemarinya mulai sibuk di tetikus. Entah karena mabuk semalaman atau masih belum bisa menguasai rasa gugupnya, otaknya tidak bisa berpikir jernih
Ia butuh membuka salinan file cuma sekadar menjelaskan pekerjaan utama Morgan sebagai pegawai magang.
Ponselnya yang berdenting mengalihkan perhatiannya dari monitor komputer. Sekilas melirik Morgan yang terus mengamati pergerakannya.
Cuek Samira menyambar ponselnya, kali saja memang pesan dari pak Baroto terkait pegawai magang ini.
Namun, matanya dibuat terbelalak dan raut wajahnya yang langsung berubah masam, nama Silva di notif pesan membuat moodnya hilang.
'Ingat nanti malam, Samira! Mami sudah tidak sabar melihat wajah kekasihmu itu. Kalau tak ... siap-siap tinggal di rumah istri muda Philip!'
Pesan ibunya tiba-tiba masuk, membuat kepalanya kembali pening!
Samira meremas ponselnya. Tidak ingin kesusahannya diketahui Morgan, ia berujar, "Kamu ke ruanganmu sekarang, nanti saya antar berkasnya."
Morgan menatapnya dengan bingung, sebelum akhirnya ia berdiri dari kursinya dan keluar dari ruangan. Sementara Samira? Ia mati-matian menghindari tatapan tajam pria itu.
Bagaimana jika ia sebenarnya menyadari jika aku wanita tadi malam?!
Waktu berputar, sedari tadi Samira hanya termenung. Sampai ia dikagetkan jarum jam yang sudah menunjuk di angka empat.
Sadar belum memberikan berkas yang dibutuhkan Morgan, Samira tergesa-gesa turun menuju ruangan Morgan.
Karena tergesa-gesa Samira masuk tanpa mengetuk-ngetuk pintu ruangan lagi.
"Ibu Samira!" ucap Morgan segera mengatasi rasa kagetnya.
"Ini berkasnya!"
Buru-buru Morgan melepas sesuatu dari genggaman tangannya, sebelum meraih map dari tangan Samira.
Kalung yang baru saja diletakkan Morgan di atas meja menarik atensi Samira.
Samira kaget dengan mata terbelalak langsung mengenali kalung itu miliknya.
"Kalungku!" desis Samira langsung meraba-raba leher jenjangnya
Benar saja lehernya kosong. Karena terburu-buru mandi tadi pagi, jadi tidak begitu memperhatikan kalungnya. Pun sadar setelah melihat kalung yang sama diletakkan Morgan.
Samira suka barang-barang unik dan yang tidak ada dipakai orang lain, kalungnya itu tidak ada tiruan apalagi di jual umum di toko-toko perhiasan. Jadi, sudah bisa dipastikan itu miliknya yang tertinggal semalam.
"Apa ada yang ingin ibu Samira sampaikan?" tanya Morgan mengernyit dahi kebingungan, sebab tatapan Samira tidak lepas dari kalung yang diletakkannya di atas meja.
Samira menumpulkan pandangannya di wajah Morgan. Jelas kalung itu miliknya. Tapi ... dirinya cukup malu mengakui itu miliknya, apalagi harus memintanya. Pria ini tidak peka dan tidak paham.
"Kalungnya unik, saya sangat menyukainya," ucap Samira mencoba mengorek kepekaan Morgan.
"Ohh ... terimakasih." Singkat Morgan menjawab, kemudian cepat-cepat mengantongi kalung tersebut.
Itu membuat Samira mati kutu dan ternganga.
Samira mengumpat dalam hati. Ia tidak boleh kehilangan kalungnya, itu pemberian khusus dari papinya. Bagaimanapun ia harus bisa memintanya dari Morgan!
Biasanya papinya itu sangat suka memperhatikan dirinya. Mungkin karena masalah tadi pagi maka Philip tidak begitu memperhatikan kalung di lehernya.
'Papi!'
Samira tiba-tiba teringat janjinya bertemu malam ini dengan Phillip, pun sudah diingatkan pesan dari ibunya tadi.
***
Seolah sudah menemukan jawaban di depan matanya, Samira menyipitkan mata.
Tadi pagi ia meninggalkan uang untuk Morgan, dan sekarang mengetahuinya cuma pegawai magang, tentu pria ini sangat membutuhkan uang tambahan.
Tanpa basa-basi Samira bertanya, "Kamu punya kesibukan malam nanti?"
Morgan yang tengah sibuk merapikan isi mejanya mendongak kaget, mendengar pertanyaan janggal dari atasannya.
Dahinya tampak mengkerut bingung dengan tujuan pertanyaan Samira. Namun, hanya menjawab, "Ahh ... saya tidak ke mana-mana, Bu."
"Saya punya tugas khusus untukmu!"
Lagi-lagi Morgan dibuat kaget sampai aktivitas tangannya terhenti, kembali menaikkan tatapannya. Seolah-olah tidak diberi opsi lain, Morgan cuma bisa mengangguk.
Samira sampai terperanjat. Tidak menyangka semudah itu menaklukkan pegawai magang itu. Pantas saja semalam begitu mudah menariknya masuk ke kamar.
Samira merapikan ujung lengan seragamnya. Di bibirnya tersungging senyum kecil.
Mengesampingkan rasa malu demi bisa menepati janjinya malam ini, ia tak sungkan membuat penawaran gila, "Kamu mau jadi kekasih saya?"
"Apa? Maksud Anda, saya menjadi pacar Anda?" Kaget dan gugup Morgan bertanya, matanya melotot tidak percaya mendengar tawaran ini dari atasannya.
"Hanya berpura-pura menjadi pacar saya semalam!"
Samira mempermainkan ujung kuku jari tangannya yang panjang sebelum kembali melanjutkan ucapannya, "Anggap saja sebagai ganti kamu tidak memiliki pengalaman kerja."
Samira mengutuki dirinya. Tidak ada hubungan rencananya ini dengan pengalaman kerja Morgan. Namun, tidak ada cara lain yang bisa memuluskan rencananya membujuk Morgan.
"Tapi saya sudah mengatakan itu kepada pak Baroto, ibu Samira."
"Sudah kebiasaan saya tidak bisa membimbing pegawai magang yang tidak memiliki pengalaman. Atau, mungkin kamu bisa berhubungan langsung dengan pak Baroto saja. Jadi, kamu boleh mengabaikan tawaran saya ini."
Mendengar nama pak Baroto, Morgan sedikit memiringkan kepalanya ke sisi kanan. Dahinya tampak mengkerut seakan memikirkan sesuatu yang rumit. Namun, lagi-lagi hanya mengangguk.
Samira menenggak liur kesulitan, menekan rasa sakit hatinya. Sadar, dirinya memang tidak laku. Harusnya ia menerima takdir itu dengan lapang dada. Tidak perlu memberikan kesuciannya kepada pria ini.
"Apa yang harus saya lakukan untuk Anda?" Tenang Morgan bertanya.
Sekarang Samira bingung menyuruh Morgan akan melakukan apa, ia sendiripun tidak pernah berpacaran.
Tapi tak ingin terlihat payah di depan Morgan, Samira berkata, "Kamu tentu sudah punya pacar, jadi perlakukan saya seperti kamu memperlakukan pacar kamu nanti malam."
"Tapi ... saya tidak pernah pacaran."
Tidak mungkin!
Samira menggertak geraham kesal. Jelas pegawai magang ini sudah berbohong dan mencari-cari alasan menolaknya.
"Ahh ... saya tak perlu tahu itu! Kamu cukup memperlakukan saya layaknya kita pasangan kekasih." Samira melipat kedua tangannya kemudian meletakkannya di atas meja.
"Di depan kedua orangtua saya nanti, panggil 'aku kamu' saja, atau sesekali panggil 'sayang' juga boleh. Lalu, kamu harus mengaku-ngaku tinggal di apartemen, dan semalam kita melewatkan malam dengan minum sampai mabuk di apartemen kamu. Untuk merayakan hari jadi kita yang ke satu tahun, paham!" jelas Samira.
Morgan menatap intens wajah cantik Samira. Keningnya kembali mengkerut, sesaat menghela napas berat sebelum menjawab, "Iya. Jadi, saya datang ke ---"
"Tidak perlu! Berikan saja alamat rumahmu nanti saya jemput ke sana," potong Samira tidak mau Morgan datang dengan mengendarai sepeda motor atau mobil yang biasa-biasa saja.
Mau ditaruh di mana mukanya nanti. Bisa-bisa maminya mengejeknya memiliki pacar miskin, dan papinya tidak percaya.
"Komplek Anggrek blok 7."
Samira sampai mengerutkan kening mendengar alamat rumah Morgan. Tahu, komplek itu dihuni para orang kaya raya, salah satunya pak Baroto. Namun, tidak ada waktunya lagi bertanya soal itu.
"Jam tujuh saya jemput. Ini ada sedikit uang untuk belanja pakaian kamu. Maksud saya bukan tidak menyukai penampilan kamu sekarang, tapi ... kamu sudah tahu maksudku," ujar Samira meletakkan setumpuk uang dan menggesernya ke depan Morgan.
"Satu lagi, jika mami dan papi bertanya soal kendaraan, kamu bisa mencari alasan, di bengkel atau dipakai saudara kamu, ya!"
Morgan mengangguk kecil. "Baik, ini nomor WhatsApp saya."
***
"Kamu yakin Samira punya pacar, Silva?" tanya Lala, adik ibu Samira, melirik Samira yang tengah siap-siap keluar. "Aku takut, jangan-jangan ia mau melarikan diri!" hasut Lala menaikkan satu sudut bibirnya.
Mendengarnya, Samira membuang wajahnya ke samping. Entah mengapa ibunya selalu mengikutkan tante Lala.
Setuju dengan Lala, melihatnya hendak keluar Silva langsung berujar, "Suruh saja kekasihmu yang datang kemari, Samira! Tidak perlu menjemputnya!"
"Benar itu, Silva. Biasakan punya harga diri!" Tante Lala kembali bersuara.
Samira meredam rasa kesalnya dengan tidak menyahuti. Ia mengabaikan ocehan tante Lala dengan pura-pura sibuk menatap layar ponselnya.
Namun ... ucapan Silva itu segera diiyakan oleh Philip yang baru tiba di sana dan mendengar.
"Itu benar, Samira. Tidak baik terlalu menunjukkan rasa cintamu kepada pria," nasehat Philip membuat Samira hanya bisa menelan liur.
Samira urung keluar. Ucapan Philip adalah perintah untuknya. Kembali meletakkan kunci mobil di atas meja. Kemudian menghenyakkan duduknya bersisian dengan Philip.
Hatinya tidak tenang sekarang, takut Morgan datang dengan mengendarai sepeda motor.
Harap-harap dia tidak lupa belanja agar penampilannya lebih berkelas.
Takut-takut, setengah berbisik Samira berkata, "Pi, tapi Morgan menelepon tadi, katanya mobilnya di pakai saudaranya."
"Tenang saja. Kalau dia benar-benar mencintaimu, dia akan cari cara tiba di sini tepat waktu!" tegas Philip.
Samira tidak berdaya membantah cuma terdiam bisu. Cepat-cepat mengirimkan pesan ke Morgan segera menyuruhnya datang.
Beberapa menit kemudian. Morgan tiba di sana dengan mengendarai mobil. Penampilannya juga sangat rapi, dia terlihat sangat tampan layaknya tuan muda kaya. Dengan penampilannya seperti ini, mami dan papinya tidak akan curiga kalau Morgan cuma bawahannya.
Melihatnya, rasa khawatir Samira segera hilang. Di sisi lain sempat kaget melihat mobil mewah Morgan. Namun ... bisa saja Morgan meminjam mobil temannya.
Samira berjalan menghampiri Morgan, setengah berbisik padanya, "Tidak perlu sampai meminjam mobil semewah ini, Morgan."
Terlihat kedua alis Morgan terangkat tinggi sebelum kemudian menjawab, "Ahh, tidak apa-apa kok."
Kemudian mengikuti Samira masuk untuk bertemu kedua orangtuanya
"Maaf menunggu lama, Tuan Philip. Saya, Morgan kekasih Samira," ucap Morgan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
Samira kaget, bukan melihat cara Morgan memperkenalkan diri ala-ala tuan muda bangsawan. Namun, gamblang menyebut 'Tuan Philip' barusan, ia bahkan tidak pernah menyebut nama papinya tadi.
"Tidak perlu seformal itu, Morgan. Panggil saja papi dan mami," ucap Philip tanpa mengurai tatapannya dari wajah Morgan.
Philip tidak menyangkal sangat mengagumi ketampanan dan wibawa pria pilihan Samira ini.
Hal sama, Silva terus saja mengamati gerak-gerik Morgan yang sopan dan penuh wibawa. Tidak menyangka Samira ternyata memiliki kekasih setampan dan berwibawa seperti ini.
Sementara tante Lala sampai ternganga dengan mulut terbuka. Bola matanya yang melebar, tidak lepas dari wajah Morgan sejak tiba di sana.
***