Entah berapa kali pula Dinda mencoba menghubungi kekasihnya selama jam kerja hingga jam pulang tiba, namun tak satupun panggilan itu terhubung dengan Kevin, hal itu tentu membuat Dinda merasa heran sekaligus khawatir dengan keadaan sang kekasih.
"Apa dia baik-baik aja ya?" terkanya dengan terus menatapi layar ponselnya menduga-duga.
Hingga saat matahari mulai tenggelam, tanpa berpikir panjang Dinda lekas mengemas barangnya dan bergegas meninggalkan Kantor tanpa berpamitan pada ayahnya menuju apartemen Kevin dan mendatanginya dengan menaiki taksi online yang telah ia pesan sebelumnya.
Sepanjang jalan pula Dinda semakin merasa cemas kala pikirannya mulai memunculkan beberapa asumsi negatif terkait kekasihnya.
Dengan melihat sekeliling jalann yang mulai gelap Dinda pun berkata, "Boleh sedikit ngebut aja gak, Pak? Saya lagi buru-buru."
"Baik, Mbak," sahut sopir itu sembari menganggukkan kepalanya dan menoleh ke arah kaca spion depan.
Karenanya, Taksi itu kini tiba di depan area gedung apartemen yang menjulang tinggi. Setelah membayar Dinda pun bergegas memasuki Lobi utama dengan berlari kecil, ia benar-benar tidak sabar mendatangi dan memastikan keadaan Kevin di dalam apartemannya.
Dengan pikiran klut serta kecemasan berlebih, pun dengan rasa mual yang kembali menyerang Dinda pun bergumam dalam hati, "Sabar ya, Nak! Semoga ayahmu baik-baik aja ... "
Setelah berjalan danenaiki lift akhirnya wanita itu tiba di lantai 5 dan berjalan menuju unit bernomor 201. Tanpa mengentuk pintu Dinda lekas mendorong handle pintu dan ...
CEKLEK!
"Lho!? Gak dikunci?" Dinda mengernyitkan keningnya merasa heran, pun hal itu pula membuat dirinya semakin cemas karena merasakan hal aneh. Tanpa berpikir panjang lagi Dinda segera memasuki unit tersebut dengan tetap waspada takut-takut ada bahaya di sekitarnya.
Dengan perlahan Dinda melangkahkan kakinya menyusuri apartemen milik kekasihnya, terlihat berantakkan seperti tidak terurus dengan baik. Bahkan yang lebih mengejutkan lagi di sebuah sudut ruang tengah terdapat meja yang penuh dengan sampah dan beberapa kaleng bekas minuman, hal itu lantas membuat langkah Dinda terhenti dan terdiam untuk sesaat.
"Berantakkan banget!" Dinda mengembuskan napas kasarnya, lagi dengan menggeleng-gelengkan kepalanya merasa tak habis pikir, "Pantesan aja teleponku gak diangkat-angkat, dia pasti pesta lagi semalaman."
Tanpa merasa curiga, Dinda kembali bergerak hendak merapikan semua kekacauan di tempat itu. Satu persatu ia memungut beberapa plastik sampah bekas makanan ringan juga minuman. Namun gerakkannya kembali terhenti saat ia tak sengaja melihat sebuah tas kecil berwarna merah muda yang berada di bawah kursi.
Keningnya kembali mengerut, "Tas milik siapa ini?" gumamnya seraya meraih dan meneliti benda tersebut, "Perasaan selama ini aku gak punya tas modelan begini."
Entah apa yang sedang terjadi namun hal ini cukup membingungkannya, hingga pada menit berikutnya kedua bola matanya membulat sempurna seolah teringat sesuatu dengan tas itu.
"Ah! Tas ini kayaknya mirip dengan tas punya Bianca, tapi-" Ucapan itu terhenti seketika saat Dinda tak sengaja mendengar suara desahan yang cukup kencang.
Suara itu pula tak ayal membuat Dinda terperanjat dan bangkit berdiri, ia lalu mengedarkan pandangannya mencoba mengikuti sumbar suara sampai arah pandangnya tertuju pada pintu kamar sang pemilik apartemen.
"S-siapa??" Dinda memelankan suaranya, bertanya pada dirinya sendiri sembari menerka-nerka apa yang terjadi di dalam ruangan itu. Kakinya pun melangkah dengan sendirinya menuju arah sumber suara dan sepanjang itu pula pikirannya kembali kacau, pun dengan debaran jantung yang tak karuan.
Semakin dekat, suara desahan itu semakin terdengar jelas bahkan saat Dinda berdiri tepat di depan pintu kamar kekasihnya. Lalu tanpa berpikir panjang, dengan satu gerakkan wanita itu memutar knop pintu dan membukanya.
DEG!!!
"Argh!!" Secara refleks Dinda menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya dengan kedua mata membulat sempurna, "K-kevin? Bianca!?"
Kedatangan serta teriakkan Dinda tentu membuat kedua insan yang tengah dimabuk asmara di atas ranjang pun sontak terkejut hingga membuat situasi menjadi kacau.
"Ah! Mengganggu saja ... " Kevin menghentikan gerakkannya dan bangkit lalu mengenakan kimononya dengan raut wajah yang tampak kesal bercampur ketar-ketir, begitu juga dengan Bianca. Wanita itu lekas menutupi badan polosnya dengan selimut, mencoba menguasai diri meski raut wajahnya terlihat membingungkan bercampur ketakutan.
Tanpa berkata apapun lagi Dinda lekas mendekat dan ...
PLAK!
Sebuah tamparan keras tepat mengenai wajah mulus nan tampan Kevin sampai bibir bawah bagian sampingnya tampak sobek dan berdarah. Melihat itu Bianca sedikit terpekik dan tanpa bergerak sedikitpun di atas ranjang itu.
"Jadi ini kelakuanmu selama ini, Kevin!?" Dinda menajamkan sorot matanya menatap wajah tampan tanpa bersalah itu, "Tega banget kamu ngelakuin ini dengan--dengan sahabatku!?"
Dinda lalu mengalihkan pandangannya pada sosok perempuan yang berhasil menghancurkan kepercayaannya selama bertahun-tahun menjalin persahabatan dengannya. Wanita itu menatap Bianca dengan tajam, seolah tak begitu percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Perasaannya kini campur aduk, ia mendapat pengkhianatan dari dua orang sekaligus dalam satu waktu.
Dinda kemudian mendekati Bianca dengan perlahan, "Inikah artinya persahabatan kita, Bianca??"
Tetapi Bianca hanya diam dan tak mengeluarkan sepatah katapun, ia justru mendengkus kesal sembari membuang muka yang tentu membuat Dinda semakin geram! Sampai Dinda pun mengangkat tangannya hendaj memberikan sebuah tamparan untuk sahabatnya sendiri, namun ...
HAP!!
Kevin berhasil menangkap dan menahan pergerakkan Dinda.
"Jangan sentuh wanitaku!" kata Kevin dengan tatapan sangar dan terkesan mengancam.
Itu tentu membuat Dinda terperangah! Tak terkecuali dengan Bianca yang hanya melongo mendengar ucapan Kevin yang demikian.
"What!?" Dinda terkekeh meski tak bisa menahan kekesalannya, "Apa kamu udah gila, Kevin!?"
Tetapi tidak menjawab dan langsung menyeret Dinda menjauh dari kamar tersebut. Dinda tentu berusaha melepas cengkraman tangan Kevin namun tenaganya sudah pasti kalah oleh tubuh kekar Kevin.
"Lepaskan, Kevin! Apa-apaan kamu!?"
Dinda terus meronta namun Kevin tidak menggubrisnya sama sekali dan terus menyeret tubuh ramping itu hingga tiba di pintu keluar, ia lalu mendorong dan menghempaskan tubuh Dinda tanpa rasa kasihan sedikitpun.
"Aw!!" Dinda terus merintih kesakitan sembari memegangi area perutnya, "Kenapa kamu begini, Kevin?"
Sekali lagi, Kevin tak menjawab pertanyaan pendek dari kekasihnya. Bahkan tak menjelaskan apa yang sebenarnya tengah terjadi pada mereka.
Sekilas wanita itu melihat raut wajah Kevin yang tampak dingin dan dikuasai amarah, sangat jauh berbeda dengan sosok Kevin yang selalu hangat dan penuh kasih sayang.
Kevin lalu berdecih, "Berhubung kamu udah tau, aku gak harus menjelaskannya lagi bukan?" ucapnya bernada dingin, "Pergilah ... dan jangan terlalu menganggap hubungan kita seindah dulu lagi. Kita putus, Dinda."
"Apa!?" Dinda berusaha bangkit meski kesakitan dan menahan Kevin yang hendak menutup pintu apartemennya, "A-ada apa denganmu!? D-dan gimana dengan anak kita??"
Kevin berhenti kala ia hendak menutup pintu dan saat itu pula ia menyipitkan matanya, "Apa maksudmu? Anak?"
Dinda mengangguk cepat dan menjawab, "Iya, Kevin. Aku--aku hamil."
DEG!
Untuk sesaat dunia rasanya berhenti berputar, untuk sesaat pula Kevin terdiam dengan raut wajah yang berubah memucat. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Dinda, kekasih yang baru saja ia campakkan.
Hingga menit berikutnya Kevin pun terkekeh sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, "Yang benar saja, Dinda ... apa kamu sudah gila? Ah! Atau inikah caramu memohon padaku biar aku kasian dan gak jadi ninggalin kamu, gitu?"
Ini tentu mengesalkan! Ucapan Kevin sungguh di luar dugaan, bahkan berhasil membuat Dinda merasa heran dan tak habis pikir sampai wanita itupun kehabisan kesabaran.
"Dan lagi ... bukankah kita hanya ngelakuinnya sekali? Kenapa aku yang harus tanggung jawab kalo itu anakku!? Harusnya kamu minta pertanggung jawaban sama laki-laki yang udah menidurimu beberapa kali," kelakar Kevin tak tahu malu.
"Jaga mulutmu! Aku gak pernah ngelakuin hal itu dengan siapapun selain kamu, Kevin!"
"Ck! Terserah, yang pasti itu bukan anakku. Pergilah dan cari ayah anak itu, jangan ganggu aku lagi!"
BLAM!
Kevin pergi dengan membanting pintu hingga terdengar begitu nyaring sampai membuat Dinda terkejut dan menutup kedua matanya, kini ia benar-benar sedih dengan perlakuan kekasihnya sendiri. Ya! Entah apa yang merasuki Kevin hingga tega berbuat seperti itu padanya. Sosok Kevin yang hangat kini berubah menjadi dingin dan kejam.
Kini yang tersisa hanyalah sedih dan sesal, rasa sesak kian menjadi, bersama dengan air mata yang perlahan menetes membasahi wajah cantiknya. Tubuh wanita itu perlahan tersandar pada dinding dan merosot. Tangisannya menggema memenuhi lorong yang tampak sunyi dan sepi.
"Aku harus gimana lagi? Mana bisa aku begini tanpa ayahmu, Nak ... " gumamnya pada janin dalam kandungannya.
Ditatap dan dielus bagian perut yabg terdapat benih buah cintanya bersama sang kekasih yang tega meninggalkannya. Wanita itu benar-benar merasa frustasi dengan keadaan yang kini melandanya.
Dengan perlahan ia bangkit dan berjalan meninggalkan lorong tersebut, namun tanpa ia sadari kedua kakinya kini terdapat cucuran darah yang tentu saja berasal dari pusat rasa sakit akibat didorong oleh Kevin. Hal itu tentu membuat Dinda terkejut.
"A-apa yang terjadi padaku!?" Dinda berkata lirih dan terus terisak menahan air matanya.
Tetapi meskipun begitu ia tetap berjalan berusaha mencari pertolongan meski lorong itu benar-benar sepi bagai tak berpenghuni. Ingin teriak meminta tolong namun sialnya suaranya sudah habis saat ia terus meneriaki Kevin dan selingkuhannya.
Hingga beberapa saat kemudian, meski harus berjalan terseok-seok akhirnya wanita itu tiba di sebuah lift dan lekas memasukinya. Napasnya kini tersenggal-senggal dengan tangan terus memegangi bagian perutnya yang semakin terasa sakit, pun dengan cucuran darah yang semakin deras menjelajahi kakinya.
"Sialan! Kenapa tadi gak aku habisi aja itu si Bianca!" Tangannya seger menekan tombol lantai dasar sampai tubuhnya kembali merosot di sudut ruang lift, "Ternyata, selama ini ... aku salah menilaimu, Bianca! Pantesan kamu selalu kepo dan semangat kalo aku bicara tentang Kevin. Ternyata ini tujuannya."
Ucapannya terhenti bersama dengan pandangannya yang kini mulai berkunang-kunang, kesadaran yang semakin menurun hingga akhirnya wanita itu tergeletak tak sadarkan diri sebelum lift itu tiba di lantai tujuan.
***
Pip
Pip
Pip
Sebuah suara asing yang samar terus terdengar dan terngiang-ngiang di dalam pendengarannya membuat kedua mata itu perlahan mulai terbuka dan terlihat sebuah cahaya terang tepat menyoroti matanya.
"Ah ... d-dimana aku?" Dinda berusaha memperjelas penglihatannya namun rasa sakit di kepalanya terlalu besar dan mengalahkan tenaganya.
"Yaa Allah! Mbak sudah sadar!?" ujar seseorang dengan suara baritonnya yang entah siapa, "Dokter! Suster!"
Dinda lalu kembali memejamkan matanya rapat-rapat lalu membukanya, berusaha mengumpulkan tenaga hingga ia sedikit menyadari dimana ia berada saat ini.
"S-siapa disana?" Dinda terus bertanya entah pada siapa saja yang mendengarnya.
Lalu terdengar suara pintu yang terbuka secara kasar serta derap langkah beberapa orang yang mulai mendekat.
"Ah! Apa aku sekarang di Rumah sakit? Siapa yang membawaku? Kupikir aku akan mati di dalam lift apartemen pria sialan itu," batinnya terus menerka-nerka.
Hingga pada beberapa saat kemudian, kesadaran Dinda mulai pulih sepenuhnya dan duduk meski tetap di sebuah ranjang besar. Ya! Kini ia bisa melihat seisi ruangan yang cukup luas bertuliskan IGD, meski hal itu sempat membuatnya tak percaya namun Dinda masih bersyukur karena ia masih selamat walaupun ia belum tahu keadaan kandungannya bagaimana.
"Apa Mbak sudah merasa baikkan? Saya benar-benar takut jika sesuatu terjadi pada Mbak."
Dinda lalu terdiam dan menatap seorang lelaki brrtubuh tinggi dan memiliki paras tampan dengan rambut hitam bergaya cepak.
"Apa kamu yang membawa saya kesini?" tanya Dinda perlahan, dengan wajah masih terlihat pucat.
Lalu lelaki itu tersenyum dan mengangguk, "Iya, Mbak. Waktu saya hendak membersihkan lift, saya melihat Mbak sudah tidak sadarkan diri di dalam sana. Saya kira Mbak sudah ... " Ucapannya terhenti sesaat hingga lelaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat, "Ah! Lupakan saja, yang penting sekarang Mbak sudah siuman."
Tak ada sahutan dari wanita itu, ia hanya terdiam dan terus menatap dengan tatapan kosong ke arah lelaki asing mengenakan seragam petugas kebersihan yang sudah menyelamatkannya. Entah apa yang ada di pikiran Dinda namun cukup lama wanita itu menatapi lelaki yang sedang duduk di samping ranjangnya.
"Tapi tenang saja ... kata perawat kandungan Mbak gak apa-apa," ucapnya lagi dengan sedikit tersenyum.
Tetapi hal itu membuat Dinda terkejut dengan kedua alis terangkat naik karena kandungannya tentu saja sudah diketahui saat ini. Namun detik berikutnya, secara perlahan kerutan di dahinya mulai samar serta kedua alisnya yang ikut turun.
"Ah! Mereka tidak akan tahu kalau aku hamil tanpa bapak dari anakku," batinnya sedikit lega.
Dinda lalu menghela napas dan tersenyum, "Terima kasih."
Lelaki itu membalas senyumannya dan menjawab, "Sama-sama."
"Tapi maaf sebelumnya kalau saya lancang, tadi pas sampai disini saya panik dan buru-buru ambil ponsel punya Mbak buat ngasih tahu keluarga Mbak. Tapi ... setelah saya cek, saya tidak bisa menemukan nomor suami Mbak. Jadi-"
"Apa katamu!? Kamu menghubungi siapa??" sela Dinda yang tiba-tiba terperanjat, membuat lelaki itu terkejut hingga menjauhkan sedikit tubuhnya.
"S-saya ... menemukan nama Papi yang saya kira ayahnya Mbak, jadi saya-"
"Terus? Kamu menelepon Papi saya!?" Dinda membelalakkan kedua matanya dengan posisi siaga.
Lelaki itupun perlahan menganggukkan kepalanya dan ...
"Astaga!! Gimana ini!? Apa yang harus kukatakan sama papi??"
Secara refleks Dinda meracau tiada hentinya tanpa menghiraukan dirinya sendiri, pun dengan darah yang perlahan keluar dari selang infus yang terpasang pada tangannya. Pada saat yang sama pula ...
"Dinda?? Dimana anakku, Suster??"
Terdengar pula teriakkan dari luar. Ya! Suara bariton yang begitu terdengar familiar di telinga wanita itu.