Wanita cantik dengan kebaya mewah berwarna putih, duduk di atas ranjang pengantin yang telah dihias sedemikian rupa. Dia menekuk kaki lalu memeluknya dengan erat, menenggelamkan wajahnya pada lipatan tangan di atas lutut.
"Sekarang apa?" gumam Serena -- wanita cantik dengan wajah blasteran Jerman-Indo tersebut dengan lirih.
Dia telah resmi menjadi istri dari seorang pria bastard -- Rafael Abbas Azam, sahabat sekaligus Bosnya di kantor-- yang telah merenggut kesuciannya secara paksa dan selalu menekan Serena untuk menikah dengannya.
Pria itu … gila?! Dia dan obsesinya untuk memiliki Serena itu sangat mengerikan bagi Serena.
"Sekarang aku harus bagaimana?!" pekik Serena pelan, melengking sembari mengigit lututnya dengan air mata yang jatuh dari pelupuk.
Awal, Serena ingin membatalkan pernikahan ini. Namun karena kasihan dengan Papanya dan takut Papanya yang akan kena imbasnya, Serena mengurungkan niatnya.
"Hiks …." Tanpa sadar isakan keluar dari mulutnya, mengingat kembali foto yang dikirim seseorang ke handphonenya.
Foto Rafael yang sedang tidur dengan perempuan lain.
Ketika dia akan resmi menjadi istri dari pria bastard itu, Serena harus melihat foto itu. Sakit! Hingga rasanya Serena ingin kabur dan sembunyi dari dunia ini.
Tapi orang tuanya -- terutama Papanya yang akan terkena imbasnya. Keluarga Azam bukan keluarga sembarangan. Mereka berkuasa dan sangat disegani.
Sedangkan keluarga Lucard-- keluarga Serena, hanya dianggap babu oleh keluarga Azam.
Yah, Pamannya, Gabriel Abbas Azam (Daddy Rafael) memang sangat peduli pada keluarga Lucard karena dia bersahabat dengan Papanya Serena -- Thomas.
Serena dan Rafael menikah juga karena dijodohkan oleh Kakek mereka, yang ingin keluarga Azam dan Lucard bukan hanya sekedar rekan bisnis dan sahabat tapi juga sebuah keluarga.
Masalahnya …-
'Rafeel gila! Dia bastard, bajingan sialan!' batin Serena sembari terisak. Sejak awal dia bersi keras menolak perjodohan ini, bagaimanapun Rafael adalah sahabatnya dan Serena punya prinsip tak akan menikah dengan sahabatnya.
Sahabat adalah sahabat, cinta ada dalam sahabat, tapi sahabat tidak boleh saling mencintai. Itu prinsip Serena.
Sayangnya Rafael menginginkan pernikahan ini. Dia menginginkan Serena, mungkin tanpa adanya perjodohan ini dia juga akan tetap bersi keras menjadikan Serena miliknya. Sebab dia terobsesi pada Serena.
Yang dia tahu sejak kecil Serena adalah bidadari miliknya!
Ceklek'
Suara pintu dibuka terdengar. Serena beberapa detik menahan nafas; itu pasti Rafael,dan jantung Serena berdebar kencang, nafasnya kini melaju dan tubuhnya panas dingin.
'Siapapun tolong selamatkan aku dari Bajingan ini! Dia laki-laki bastard yang tak bisa menghargai perempuan. Dia bukan sahabatku yang dulu!' batin Serena yang sudah ketakutan.
"Serena …." Seruan riang terdengar. Suara bariton tersebut terdengar serak serak, rendah dan berat -- sangat seksi dan juga menggoda. Namun juga begitu mengerikan bagi Serena yang semakin menenggelamkan wajahnya pada lipatan tangan di atas lutut.
"Cih." Rafael berdecis pelan, menatap sosok perempuan yang duduk di tengah ranjang dengan sorot sayup dan dalam.
Dia menyeringai tipis, membuka tuxedo yang membungkus tubuh atletisnya sembari terus menatap penuh minat dan ketertarikan tinggi pada perempuan tersebut. Dia tahu Serena ingin lari dari pernikahan ini, tapi bukan Rafael namanya jika tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Terlebih dia menginginkannya sejak kecil!
Rafael naik ke atas ranjang, langsung mengambil tempat di belakang Serena.
"Kau meminta Maxim membawamu lari, Serena. Kau berpikir dia akan membantumu, Heh?!" bisik Rafael sembari mengecup tengkuk Serena, reflek membuat Serena menarik tengkuknya dan berniat menjauh dari Rafael.
Namun sayang, tangan pria itu lebih dulu melilit di pinggangnya -- melingkar di pinggang Serena dengan erat, tak membiarkan Serena beranjak sedikitpun dari dekatnya.
"Maxim lebih mendengarkan ucapan ku dibandingkan orang tuanya. Bagaimana bisa kau berpikir dia akan menuruti ucapanmu, Stupid?!" Rafael mengeram rendah, kepalanya tepat berada di sebelah daun telinga Serena -- sesekali dia mengigit pelan daun telinga perempuan tersebut. "Semua orang tahu jika kau ini milikku, Serena. Kau tidak bisa kabur kemana-mana!" tambahnya dengan nada yang semakin dingin dan penuh ancaman.
Serena menarik kepalanya, risih dengan perlakukan Rafael. Dia juga mendorong pundak pria itu dan berusaha melepaskan tangan Rafael dari perutnya. "Menyingkir!" pekik Serena pelan dengan suara lirih dan bergetar takut.
"Menyingkir?" Rafael terkekeh pelan, kekehan merdu yang malah terasa mengerikan bagi Serena. "Aku akan menyingkir setelah kau memuaskanku, Wife."
"Kita akan melakukan malam pertama," bisik Rafael dengan nada berat, meniup daun telinga Serena secara erotis.
"Lepaskan aku!" Serena memberontak, menyikut perut Rafael lalu berniat kabur dari atas ranjang.
Rafael dengan cepat menarik kaki Serena, membuat perempuan itu berakhir tengkurap di atas ranjang. Rafael menyeringai puas, membalik tubuh Serena agar menghadapnya dengan langsung membuka kebaya pernikahan Serena dengan santai.
"Kenapa? Kau takut sakit, Darling?" kekeh Rafael, mencondongkan tubuhnya ke arah Serena dengan satu tangannya yang menahan kedua tangan Serena untuk tak memberontak dan satu lagi membelai pinggiran wajah Serena secara sensual. "Seharusnya ini tak akan sakit, Baby Girl. Kita sudah pernah melakukannya sebelum ini," bisik Rafael, mendekatkan wajahnya ke wajah Serena -- mencium bibir perempuan itu dengan lembut.
"Rafael, kau menjijikkan!" pekik Serena marah dan kesal, setelah Rafael melepas pangutan bibir mereka. "Setelah kau tidur dengan Jenner, kau menikahiku. Dan sekarang … hiks … kau ingin menyentuhku?! Aku tidak Sudi!" Serena memekik pada akhir kalimat, terus memberontak dan menangis.
Jika bukan karena memikirkan Papanya, Serena tak akan mau menikah dengan Rafael. Pria ini bastard!
Di hari dia akan menikah, bisa-bisanya dia tidur dengan perempuan lain?! Dan Jenner sialan itu-- dia mengirim fotonya yang tidur dengan Rafael pada Serena.
"Syuut!" Rafael menyentak, mengisyarkan agar Serena diam. "Berhenti mengatakan Bullshit dan puaskan aku sebagai suamimu!"
"Aku tida mau, Rafael. Kau bajingan! Hiks … kau bastard! Harusnya aku kabur dan lari dari pernikahan ini. Kau sialan!" marah Serena, memekik marah dan benar-benar naik darah karena kelakuan keji Rafael.
Tanpa merasa bersalah dan merasa berdosa, Rafael terus menyentuhnya. Bahkan pria ini tak menjelaskan apapun mengenai foto itu, dia tidak merasa salah!!
"Yes, Baby Girl. Bastard adalah nama tengahku." Rafael berucap serak, menyeringai iblis sembari melancarkan aksi-aksinya -- tanpa peduli isakan dan air mata Serena.
"Rafael … aku benar-benar tidak mau! Hiks … jangan!" Serena kembali panik dan histeris. Rafael berhasil melucutinya dan pria itu akan melakukannya.
Ini menjijikkan! Serena tidak mau! Persetan jika dia akan menjadi istri durhaka!
"Kau pikir aku peduli, heh?! Terus menangis, Darling. Aku suka suara manismu." Rafael kembali menyunggingkan evil smirk-nya, memperhatikan wajah sembab dan ketakutan Serena -- yang membuatnya semakin terangsang dan tergoda.
Serena sangat seksi! And she belongs to Rafael.
***
"Kau ingin mandi, Serena?" tanya Rafael ketika melihat istrinya tersebut telah bangun.
Ah, senangnya! Sekarang Serena benar-benar menjadi istrinya dan semua orang tahu jika Serena adalah miliknya.
Serena langsung membuang muka. "Bukan urusanmu!" ketusnya dengan duduk secara perlahan.
Demi Tuhan! Ini lebih sakit dari yang pertama kali. Tubuhnya serasa remuk, intinya masih perih dan pahanya terasa berat dan kebas. Jika Rafael bilang ini yang kedua dan tak akan sakit lagi, tapi kenapa Serena merasa ini lebih sakit dari yang pertama?!
"Aku bisa membantumu ke kamar mandi." Rafael mengulurkan tangan ke kepala Serena, mengacak pucuk kepala istrinya tersebut secara lembut.
"Aku tidak butuh bantuanmu! Aku bukan perempuan lemah!" ketus Serena, dia menepis kasar tangan Rafael dari kepalanya lalu melilitkan selimut ke tubuhnya -- membungkus tubuh polosnya dengan selimut dan berniat beranjak dari sana.
"Auuu …." Serena meringis pelan, padahal dia hanya berdiri dan kenapa se sakit ini.
"Baiklah, kurasa kau memang tidak butuh bantuanku." Rafael berucap datar, langsung bangkit dari ranjang dan berniat lebih dulu ke kamar mandi.
"Rafael." Serena menyeru cepat, menoleh ke arah Rafael dengan wajah malu bercampur tak enak.
"Katakan." Rafael berhenti melangkah, bersedekap sembari menatap datar pada Serena.
"Kakiku sakit, aku-- aku …-"
"Cik." Rafael berdecak pelan, menghampiri Serena dan langsung menggendong perempuan itu -- membawanya ke kamar mandi. "Keras kepala dan gengsi!" komentar Rafael setelah memasukkan Serena ke dalam bath up.
***
Serena dan Rafael berjalan bersama, ke ruang makan yang ada di villa keluarga Azam -- jauh dari perkotaan dan berada di perkebunan milik keluarga Azam.
Setelah pesta pernikahan Serena dan Rafael, tadi malam mereka semua langsung ke mari. Entah ini pengalihan masalah, tapi villa ini adalah ide Rafael.
Dia yang menyarankan keluarga Azam dan keluarga Lucard berkumpul di villa-- dengan embel-embel merayakan kebahagiaan bersama karena telah berhasil mewujudkan impian mendiang Kakek mereka.
Yah, Rafael licik dan cerdik! Semua orang bisa ia manipulasi.
"Oh, Serena."
Serena seketika menampilkan senyuman manis saat Mama mertuanya-- Satiya Adini Azam-- menyapanya. Mommy dari suaminya tersebut menghampirinya dan langsung membawanya untuk duduk di sebuah kursi meja makan -- ruang makan villa tersebut.
"Kamu ingin sarapan dengan apa, Sayang?"
"Ah, tidak perlu repot, Tante. Aku bisa ambil sendiri," ucap Serena dengan cepat karena tak enak pada Sati.
"Mommy dong, Sayang. Kamu kan sudah menikah dengan Rafael, sudah menjadi putri Mommy juga." Sati menegur halus. Cik cik cik, bisa-bisanya Serena masih memanggilnya Tante.
"Kak Serena belum terbiasa, Mom." Aesya, adik perempuan Rafael menimpali. "Pengantin baru memang suka kaku," tambahnya yang mendapat kekehan dari Sati maupun Ica (Mama Serena).
Serena hanya bisa senyum tersipu malu. Sial! Satiya -- Mama mertuanya ini begitu baik dan sempurna sekali sebagai seorang mama. Sayang sekali anaknya yang bernama Rafael itu sangat Dajjal dan setengah iblis juga.
"Kak Rena, kau ingin sarapan apa?" tanya Aesya -- sengaja karena Serena hanya bengong saja.
"A--aku bisa, Eca." Serena menolak lagi, tak enak dengan adik iparnya tersebut.
"Tenang tenang!" Aesya dengan gercap menyiapkan sarapan untuk Serena. "Aku sangat senang karena aku punya Kakak perempuan, jadi biarkan aku menyambut Kakak dengan kesan yang manis."
Serena semakin kikuk, hanya bisa senyum kaku dengan tatapan tak enak pada adik iparnya tersebut.
Demi Tuhan! Keluarga ini sangat sempurna. Ayah mertua yang tampan dan tegas, Mama mertua yang baik seperti Dewi, para adik ipar yang juga sangat baik. Masalahnya hanya satu! Yah, suaminya yang bangke dan bastard. Hanya itu letak salahnya!
'Kenapa aku tidak menikah dengan Reigha saja. Cik, dia lebih tampan dari Rafael bangke. Ya … nggak apa-apa lah Ega lebih muda dua tahun, yang penting tampan dan setia. Daripada Rafael, benar-benar bajingan! Aku belum ikhlas menjadi istri Rafael, Tuhan.' batin Serena, memperhatikan adik iparnya -- Reigha yang merupakan kembaran Aesya -- dengan tatapan intens.
Laki-laki cuek itu sangat tampan, cara makamnya anggunly dan mempesona.
Sret'
Suara kursi ditarik dari sebelahnya terdengar, Serena menoleh sekilas -- menatap gugup dan berkeringat dingin ke arah Rafael yang sudah duduk di sebelahnya.
Padahal tadi Serena datang ke sini bersama dengan Rafael. Namun dia tak gugup. Kenapa ketika Rafael duduk di sebelahnya dia jadi gugup?
"Jaga matamu!" bisik Rafael pelan -- berpura-pura mengambil selai hanya agar bisa memperingati Serena, tanpa ada yang curiga.
Serena melirik sinis ke arah Rafael, dia diam-diam mendengkus dongkol-- meraih roti yang tadi disiapkan oleh Aesya padanya lalu makamnya. 'Bangke! Dia nyuruh aku jaga mata?! Dia yang seharusnya diperingati. Jaga burung! Sialan!' batin Serena dengan pipi yang tiba-tiba memerah sendiri.
Bu--burung itu bukan hal yang negatif kan?!
Diam-diam Ica terus memperhatikan Serena dan Rafael. Walau putrinya sudah resmi menikah dengan Rafael, namun hatinya masih belum lega. Dia masih ingat tangisan Serena ketika meminta batal menikah dengan Rafael. Ada sesuatu!
'Mama sangat mengkhawatirkanmu, Nak. Tapi … maafkan Mama, Sayang.' batin Ica dengan menatap sendu pada putrinya yang terlihat gugup di sebelah Rafael.
Apa putrinya benar-benar diperlakukan buruk oleh Rafael?
Uhuk' uhuk' uhuk'
Tiba-tiba Serena terbatuk-batuk, dengan sigap Rafael langsung menyodorkan gelasnya yang berisi air minum pada Serena. Begitu juga dengan Aesya, serta Thomas (Papa Serena) yang juga berniat memberikan air minum pada Rafale. Namun dia menahannya.
Ah, sudah ada Rafael yang menjaga putrinya. Melihat Rafael lebih sigap dibandingkan dia, Thomas diam-diam tersenyum tipis.
"Cik, singkirkan gelasmu!" ketus Rafael pada Aesya, menatap datar pada adiknya tersebut yang berniat memberikan air minum pada Serena ketika batuk tadi.
"Laki-laki sensi!" sinis Aesya, menarik gelasnya dan memilih menaruh gelas itu di depan Reigha -- kembarannya yang tampan dan … manis.
Melihat itu, Ica juga tersenyum tipis dan lega. Mungkin Rafael tak seburuk itu juga. Yah, mengingat Serena sejak awal memang tak ingin menikah dengan Rafael.
***
"Cik, Rafael!" kesal Serena, berusaha melepas tangan Rafael dari pinggangnya. Dia sedang di balkon villa -- rooftop, menatap luasnya perkebunan sembari menikmati senja. Lalu tiba-tiba Rafael datang dan sok romantis dengan memeluknya dari belakang.
"Darling, kita diperhatikan keluarga kita. Jadi bersikaplah yang manis," tegur Rafael dengan berbisik, enggan melepas pelukannya di pinggang Serena.
Serena menoleh untuk memastikan. Shit, benar saja! Papanya dan Pamanya -- ah, maksudnya Ayah mertuanya, juga yang lain menoleh ke arahnya dan Rafael.
'Apa karena masalah aku yang sempat ingin kabur mereka jadi suka merhatiin aku dan El yah?' batin Serena, tersenyum kikuk ke arah keluarganya. Lalu dia kembali menghadap pemandangan, memasang wajah masam dan tertekan.
"Bajingan! Kamu memanfaatkan situasi. Aku benci kamu, El!" desis Serena dengan sengaja menyikut perut Rafael secara kuat.
"Stupid, apa salahnya aku memeluk istriku sendiri?!" Rafael menggeram datar, menekuk alis dengan tajam sembari memperingati Serena. "Jadi kau ingin dipeluk oleh siapa, hah?!"
"Idih!" Serena mendelik, menatap Rafael julid lalu kembali menatap pemandangan. "Kenapa kau tidak dengan Jenner saja? Seperti sebelum kita menikah. Kau bisa memeluknya sepuas hatimu dan dia juga suka dipeluk olehmu. Dia akan bilang 'Ayo, El sayang, peluk aku lebih erat, aku kedinginan, Rafael," nyinyir Serena, nadanya julid dan sengaja dipelankan juga agar yang lain tak mendengar percapakan mereka.
"Jika aku beri tahu foto yang kekasihmu itu kirimkan ke aku pada Paman Gabriel, menurutmu apa aku akan tetap menjadi istrimu?!" lanjut Serena dengan nada mengancam, sudah menghadap Rafael dengan menatap penuh kebencian pada Rafael.
"Foto apa yang kau maksud?" Rafael mengerutkan kening.
"Ini." Serena mengambil handphone -- kebetulan dia membawanya juga. Lalu dia menunjukkan sesuatu dilayar handphonenya tersebut.
Sebuah foto yang dikirimkan Jenner padanya di detik-detik dia akan menjadi istri pria bajingan ini.
Rafael merampas handphone tersebut, memperhatikan foto itu. Lalu tiba-tiba dia menyeringai tipis, mengembalikan handphone Serena dengan santai. "Cik, Baby Girl, maaf … tapi aku tidak sengaja menghapusnya."
Serena melotot horor, sontak dia mencari foto tadi dalam file penyimpanan. Namun hasilnya nihil! Rafael menghapusnya, bahkan semua salinan yang sudah Serena siapkan.
'Aaaa … aku bodoh sekali! Kenapa tadi aku memberikan handphoneku pada si Bangke ini?! Ya Tuhan!! Buktinya hilang. Padahal aku ingin melihatnya babak belur oleh Paman.'
"Ka--Kau!!" Serena benar-benar tak habis pikir dengan pria kejam bastard satu ini!
Rafael menyeringai puas, tiba-tiba dia memajukan kepalanya dengan cepat dan langsung menempelkan bibirnya di atas bibir Serena -- semakin membuat Serena syok dan membatu karena …--
Hell! Keluarga mereka ada di sini. Semuanya!
"Rafael!" Suara tegas dan nada tinggi Gabriel mengalun. "Ada Zayyan di sini. Jaga sikapmu!" peringatnya.
Bukan hanya Zayyan, tapi masih ada keponakannya juga di sini -- Jabir Darion De Felix yang sama usianya dengan Zayyan LavRoy Azam. Yah, dua belas tahun masih dibawah umur untuk melihat hal seperti yang dipertontonkan oleh Rafael. Terlebih Zayyan, sangat mengidolakan Abang El-nya tersebut.
"Angin, Daddy." Rafael menjawab dengan santai. Dia tiba-tiba mengangkat satu tangan yang memegang sapu tangan, menunjukkan pada Daddynya jika memang ada angin.
"Angin," tambahnya setelah membuktikan jika memang ada angin di sini, memasang tampang tanpa merasa bersalah sedikitpun pada Daddynya yang sudah mengatupkan rahang -- geram dan tak habis pikir dengan Rafael.
Anak nakal itu entah mencontoh siapa. Sikapnya sangat …-- Shit! Rafael seperti bukan anak kandungnya Gabriel saja. Rafael sangat berbeda dengannya!
"Heran. Anak itu kenapa bisa tidak punya kesopanan!" gerutu Gabriel yang sudah kembali fokus pada tablet mahalnya. "Dia bukan anakku! Atau jangan-jangan dia anak yang dipungut oleh Satiya," lanjutnya sangking kesalnya dengan sikap putranya itu.
Babak belur beberapa kali oleh Gabriel, tapi Rafael tak pernah tobat!
"Kalian mirip, Tuan." Thomas menggelengkan kepala karena tak habis pikir.
"Little monster dan Tuanku sangat mirip. Jangan menyengkal, Geb," kekeh Marcus yang mendapat anggukan dari yang lainnya.
Marcus merupakan sahabat sekaligus kepercayaan Gabriel juga.
Di sisi lain, Rafael menarik Serena dari sana. Wajah Rafael sangat tak bersahabat, dia tak suka melihat Maxim dan Serena saling berpandangan.
Sial! Jika saja Daddynya dan Paman Alfa-nya tak ada di sini, Rafael sudah memukul Maxim hingga masuk rumah sakit VIP.
"Ikut denganku!" geram Rafael, berdesis dan terlihat marah.
"Aku tidak mau, El. Aku masih …-"
"Diam kau!"
Setalah berlibur di villa, Rafael dan keluarganya kembali ke rumah masing-masing. Ada yang berbeda dan terasa baru tentunya, kini keluarga Azam bertambah satu. Serena akan tinggal dengan mereka -- akan satu rumah dan satu kamar tentunya dengan Rafael.
"Istirahatlah. Kalian pasti lelah." Satiya berucap lembut, menatap hangat pada menantunya yang wajahnya terlihat sembab.
Walau rumah orang tuanya cukup dekat dari sini, namun tetap saja Serena akan merasa sangat sedih karena dia tidak tinggal dengan orang tuanya lagi. Sekarang Serena tinggal dengan keluarga suaminya.
"Iya, Tan …- Mommy." Serena berucap kikuk.
Melihat Rafael menyalim orang tuanya, Serena juga melakukan hal yang sama. 'Nih anak ada sisi terangnya juga. Kirain gelap melulu.' batin Serena ketika memperhatikan Rafael bahkan mencium pipi Daddynya.
Ya … maklum! Anak Daddy!
Setelah pamit untuk tidur, Serena mengikuti Rafael -- berjalan menuju kamar mereka. Sebenarnya mansion ini bukan suatu hal yang asing bagi Serena, dia sering kemari. Tapi … dengan status yang dia sandang sekarang, entah kenapa tempat ini berubah menjadi asing dan -- sedikit tak menyenangkan. Ada perasaan segan, kaku dan juga gugup yang memenuhi hati Serena.
'Aku tidak menyangka jika aku bakalan jadi istri si Kang brengsek ini. Ya Allah! Dari yang kecil main rumah-rumahan sama nih orang malah besarnya kenyataan bangun rumah tangga sama setan satu ini. Nyesel aku kenal dia pas kecil.' batin Serena, menundukkan kepala dan hanya berjalan dengan mengikuti tumit kaki suaminya -- Rafael berjalan di depannya.
Dug'
"Ahck." Serena meringis pelan, tak sengaja menabrak punggung Rafael yang tiba-tiba berhenti. Cik, Serena terlalu larut dalam pikirannya.
Sampai detik ini dia masih belum ikhlas jika dia telah menjadi istri Rafael. Bukan apa-apa, tapi Rafael sangat brengsek! Pria ini merenggut mahkotanya dan berlagak baik di depan kedua orang tua Serena. Satu mansion di rumah Serena sangat mengidolakan Rafael -- pria yang menikahinya ini sangat manipulatif.
Parahnya, di hari mereka akan menikah Rafael tidur dengan Jenner -- sahabat rasa kekasihnya itu. Cemburu?! Tidak! Tapi Serena merasa dikhianati dan direndahkan. Sebegitu remeh-nya Rafael pada pernikahan sampai dia tega mempermainkannya.
Serena sampai detik ini tidak terima dengan hal itu. Namun … kasihan Papanya jika Serena memberontak.
"Cik." Rafael berdecak pelan, menoleh ke arah Serena kemudian menarik kepala perempuan itu. Serena pikir Rafael akan memarahinya karena pria ini memang mudah marah dan kesal. Namun Serena salah, Rafael malah mengelus jidat Serena dengan sesekali meniupnya. Setelah itu, Rafael juga mencium kening Serena dengan lembut.
"Hati-hati kalau jalan," ucap Rafael kemudian, memperingati Serena Dengan menatapnya tajam. Rafael membuka pintu kamarnya lebar, mempersilahkan Serena lebih dulu untuk masuk ke dalam.
Serena dengan kikuk dan gugup melangkah ke kamar tersebut. Aroma maskulin khas langsung menyeruak dan memenuhi indera penciumannya. Kamar bernuansa mono ini mempunyai suhu yang dingin, mirip dengan penghuninya sih.
Tiba-tiba pipi Serena bersemu merah, dia teringat masa high school dulu, id mana Serena pernah disuruh oleh Satiya untuk memanggil Rafael makan. Saat itu, Serena membuka pintu kamar ini -- memperlihatkan Rafael yang tidak memakai baju.
Posisinya saat itu dia dan Rafael sedang bertengkar karena sesuatu, dan karena insiden memalukan tersebut Rafael sering mengejeknya si pengintip.
Demi Tuhan! Dulu Rafael tidak seperti sekarang. Dia pria yang menjaga auratnya sendiri dan menjaga pandangannya. Dia sangat menghormati perempuan. Namun sekarang, setelah dia besar dan pulang dari LA, dia menjadi pria dewasa yang sangat bastard. Terlebih lada Serena.
"Rafael." Serena menoleh ke arah Rafael yang sudah masuk dan berniat ke kamar mandi.
"Humm." Pria itu berdehem singkat, menoleh dan menatap berat ke arah Serena.
"Aku … aku akan tidur di mana?" tanya Serena. Dia sudah mengantuk tetapi takut menyentuh ranjang serba hitam milik Rafael.
Mungkin karena statusnya berubah-- dari sahabat pria ini lalu menjadi istri Rafael-- Serena merasa sangat canggung dan kaku. Apalagi hubungannya dan Rafael tak baik. Bisa dikatakan pernikahan ini adalah konspirasi Rafael.
Wajah Rafael berubah menjadi dingin, tatapannya tajam dan rahangnya mengatup. "Di lantai! Dasar stupid!" ketusnya bercampur kesal sembari langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Sedangkan Serena ….
Deg
"Di--di lantai?" murungnya pelan, mengerjabkan mata karena ingin menangis. Selain bastard, Rafael juga sangat kejam.
'Harusnya aku tidak menikah dengannya!' gumam Serena sedih bercampur kesal. Dia mengambil bantal di ranjang lalu meletakkannya di lantai. "Dia tidak akan marah jika aku pakai bantalnya satu kan?! Cik, aku mau pulang saja. Rafael sangat kejam!!"
Ceklek'
Rafael keluar dari kamar mandi, bersamaan dengan Serena yang berniat akan tidur di lantai.
"Kau bodoh, hah?!" ucap Rafael, berjalan panjang ke arah Serena dengan raut marah bercampur tak habis pikir.
"Kamu yang bilang …-" ucapan Serena berhenti. Dengan kasar Rafael mendorongnya ke atas ranjang, membuat Serena terhempas dan terbaring di atas ranjang.
Deg deg deg
Jantung Serena berpacu dengan kuat, takut pada Rafael dan sakit hati dengan perlakukan pria ini padanya. "Apa masalahmu?! Bukannya kamu yang bilang tadi jika aku tidur di lantai."
"Kau sangat berisik. Diam!" ketus Rafael, naik ke atas ranjang dan berbaring di sisi lain ranjang dengan membelakangi Serena.
'Sejak di villa dia sepertinya kesal. Tapi … kenapa?' batin Serena, memperhatikan Rafael yang berbaring membelakanginya.
Ting'
Suara handphone Serena berbunyi terdengar. Serena mengerjab beberapa kali, menatap handphonenya yang ia letakkan di atas nakas sebelah Rafael berbaring.
Ting'
Lagi-lagi handphonenya tersebut berbunyi.
"Hah." Serena menghela nafas, memilih mengambilnya karena takut Rafael terganggu dan marah lalu membanting handphone kesayangannya tersebut.
Serena mendekati Rafael, merundukkan tubuhnya untuk mengambil handphone tersebut dan …-
Dug'
'Mampus!' batin Serena ketika tak sengaja lututnya kejedot ke kepala Rafael yang berbaring.
Serena buru-buru meraih handphonenya dan kembali ke tempatnya semula, bersamaan dengan Rafael yang sudah menatapnya dengan tajam dan marah.
"Apa matamu buta?" geram Rafael, marah dan mendidih pada Serena.
"Aku tidak sengaja, El." Serena menghela nafas dengan pelan. Dari Rafael yang gila ingin dekat terus dengannya menjadi Rafael yang anti padanya dan pemarah begini.
'Mungkin PMS kali.' batin Serena berusaha positif thinking.
Sehabis dari rooftop di villa, Rafael sangat sensi padanya. Pria ini marah dan bersikap dingin juga.
"Awal saja jika kau mendekati batas ini," ucap Rafael, menaruh guling di tengah ranjang untuk sebagai batas. "jangankan melewati batas ini, mendekatinya saja kau akan tahu akibatnya, Serena."
"Terserah dan bodo amat, El." kesal Serena, memutar bola mata dengan jengah dan memilih berbaring. Jujur saja, dia sudah sangat lelah -- lelah karena pernikahannya dengan pria bastard ini dan lelah karena sikap menjengkelkan Rafael.
Rafael menggeram pelan, namun juga kembali membelakangi Serena dan melanjutkan tidurnya.
Pengantin baru? Cih, bahkan mereka tidur dengan jarak dan dengan guling pembatas. Mereka lebih cocok disebut musuh bebuyutan yang terjebak di ranjang yang sama.
"Cik." Tiba-tiba Rafael berdecak kesal, membalik tubunnya menghadap Serena yang sudah terlihat pulas. Rafael mengambil guling pembatas tadi lalu melemparnya sembarangan arah. Kemudian dia menarik Serena, memeluk perempuan itu dengan senyaman mungkin -- menjadikan Serena sebagai guling pribadinya.
Sial! Dia sangat kesal pada Serena karena perempuan ini berpandangan dengan Maxim ketika di villa. Keduanya seperti kekasih … Fuck! Rafael benci mengingat itu.
"Aku harus memperingati Maxim!"
***
"Ya Tuhan." Serena syok dan kaget saat sadar jika dia terbangun di pelukan Rafael. Beberapa menit tadi dia loading. Namun ketika mengingat ancaman Rafael tadi malam, Serena jadi takut dan panik sendiri.
Di-- dia menerobos ke wilayah Rafael dan bahkan tidur dengan memeluk Rafael.
'Perasaan aku tidur nggak liar amat. Ke--kenapa aku bisa di sini?' batin Serena, panik dan pucat pias.
Dengan hati-hati Serena berbuat pindah tempat dan kabur, namun tiba-tiba saja tangan Rafael mencekal pergelangannya. Ketika Serena menoleh ke arah pria itu, mata Rafael sudah terbuka-- menyorot tajam penuh aura intimidasi.
"Kau memasuki wilayahku, Serena," ucap Rafael dengan suara serak dan berat, khas bangun tidur. Terdengar seksi tetapi lebih dominan menyeramkan bagi pendengaran Serena.
"Kau akan aku hukum," tambah Rafael, membuat Serena melongos dan menganga lebar-lebar. Sangking lebarnya, Serena rasa rahangnya akan jatuh!
Rafael gila! Dia baru log in tetapi sudah membuat Serena mati kutu.
"A--apaan sih?!" ketus Serena, melepas cekalan Rafael di pergelangannya dan buru-buru turun dari ranjang. "Si--siapa tahu kamu yang pindahin aku tadi malam ke tempatmu. Dasar gila!" cerocos Serena dengan nada kesal bercampur cerewet, lalu buru-buru berlari ke arah kamar mandi.
Di-dia merinding! I--ini pertama kalinya Serena memperhatikan wajah Rafael ketika baru bangun tidur. Sialnya itu meresahkan karena …-
'Tampan dan seksi! Argkkkkkk … Mama, aku mau pulang! Rafael sudah besar dan dewasa!' batin Serena, berjalan cepat ke kamar mandi Rafael dengan mata melotot syok.
"Satu punishment lagi, Serena, karena kau telah memfitnah suamimu," seru Rafael dengan nada serak dan berat, menatap istrinya yang buru-buru ke kamar mandi dengan tatapan sayup dan geli.
Cih, manis dan menggemaskan. Ekspresi kesal Serena sangat menghibur pagi hari Rafael ini.
Dia suka sekali menjahili perempuan itu, sejak mereka kecil dulu.
"Serena." Rafael menyeru rendah, masih bermalas-malasan di atas ranjang. Satu hal yang paling dia sukai adalah menyebut nama Serena.
Rafael buru-buru bangkit dari ranjang, berlari ke arah kamar mandi dengan senyuman licik dan iblis yang sudah mengibar di bibirnya.
Dengan lancang dan santai dia membuka pintu kamar mandi laku masuk begitu saja -- bertepatan ketika Serena berniat membuka baju kaosnya.
"Ra--Rafael!" pekik Serena kaget bercampur gugup dan takut. Kenapa juga pria ini masuk ke kamar mandi? Kan Serena masih menggunakannya.
Dasar! Rafael sudah tidak ada kesopanan ternyata!
"Keluar nggak?! Aku mau mandi." Serena mengusir namun malah meringsut ke sudut kamar mandi ketika Rafael berjalan mendekatinya.
"Keluar? Ini kamar mandiku, Manusia Kera," ledek Rafael dengan senyuman jahil di bibirnya.
Serena melotot horor dan tak terima. "Ka--Kamu!"
"Apa?" Rafael menantang. "Paman … ah, maksudku, Papa Thomas sering memanggilmu manusia kera."
"Iiidih." Serena mendelik, memasang wajah julid dan tak suka pada Rafael. "Yaudah, aku yang pergi," kesal Serena, menghentak-hentakkan kaki sembari berjalan keluar dari kamar mandi.
Namun Rafael tiba-tiba menyentak tangannya, membuat Serena berakhir menabrak dada bidang Rafael.
"Rafael!" geram Serena dengan berusaha melepaskan tubuhnya dari jeratan Rafael.
"Kau ingin mandi?" Rafael berucap lembut, dengan tangan yang sudah melingkar di pinggang Serena. "Boleh, Baby Girl. Tapi kau harus bayar …," bisik Rafael dengan nada rendah dan serak, tangannya yang di pinggang sudah menyelip masuk ke dalam kaos Serena -- menggerayapi perut dan bagian tubuh Serena lainnya.
"Le-- Agkh! Lebih baik aku tidak mandi, Bangke! Leppass!" pekik Serena dengan susah payah, menatap antara memohon dan memperingati. Dia tidak ingin tunduk, tetapi apa yang Rafael lakukan padanya ini membuat Serena tak bisa berkutik.
"Ini masih punishment-mu. Belum bayaran karena kau menggunakan kamar mandiku."
"Selamat pagi, Mommy," sapa Serena kikuk dan gugup, memasuki ruang bersama seorang pria yang berjalan lambat di belakangnya.
"Pagi, Nak. Bagaimana tidurmu? Nyenyak?" tanya Sati balik, mendapat anggukan pelan dari Serena.
"Serena, kenapa kau tidak menyapaku juga? Apa aku transparan?" Gabriel yang juga di sana, menaikkan sebelah alis -- menatap anak sahabatnya yang kini menjadi menantunya dengan sebelah alis yang terangkat.
Aneh bocah satu ini! Bisa-bisanya dia terlihat kikuk seperti ujian skripsi saat berhadapan dengan Gabriel begini. Padahal biasanya Serena tak pernah canggung dan selalu enjoy.
"Selamat pagi, Paman," sapa Serena dengan malu-malu dan setengah gugup. Demi Tuhan! Dulu dia biasa saja bertemu dengan pamannya ini. Namun entah kenapa sekarang rasanya berbeda, rasanya seolah dia bertemu dengan petinggi negara. Gugup dan berdebar!
"Istriku kau panggil mommy dan aku kau panggil paman. Apa aku seperti suami keduanya, humm?" protes Gabriel tak terima.
"O--oh. Selamat pagi, Daddy." Serena meralat dengan panik luar biasa. Bahkan dia sampai berkeringat dingin hanya karena merinding dan takut dengan aura mengerikan Papa mertuanya.
"Humm." Gabriel berdehem pelan, sekilas menoleh ke arah Serena lalu kembali fokus pada sarapannya. "Enjoy seperti biasa, Serena. Daddy tidak makan daging manusia."
"Hehehe …." Serena hanya cengengesan tak enak dan semakin kikuk. Dia baru duduk ketika Aesya mendudukkannya. Dia benar-benar kikuk dan seperti beru mengenal keluarga ini. Malu-malu kucing!!
"Atau jangan-jangan Rafael melakukan hal jahat padamu?"
Rafael yang baru akan menggigit sarapannya sontak menoleh cepat ke arah Daddynya. "Jangan memfitnah, Daddy. Cik."
"Bisa saja," ucap Reigha menimpali yang mendapat anggukan dari Maxim dan juga Aesya.
"Kalian bosan hidup?" lempeng Rafael, menatap malas ke arah ketiga makhluk menyebalkan tersebut. Terutama Maxim yang …-
'Hell! Dia duduk berhadapan dengan Serena-ku.' batin Rafael tiba-tiba berdiri.
"Serena, pindah ke sini," ucapnya sembari menoel-noel pundak istrinya.
Serena jengkel karena pagi ini Rafael terus menguji kesabarannya. Namun tahan! Jangan sampai nama-nama hewan di kebun bintang ia rapalkan di depan mertuanya. Bisa-bisa kesan menantu idaman hilang dalam dirinya. Apalagi ini hari pertamanya sarapan bersama di mansion ini sebagai seorang menantu.
Dengan kesabaran yang tersisa, Serena pindah tempat duduk dengan Rafael.
"Abang El, kok gitu sih?! Serena kan sedang makan, Sayang," tegur Sati degan lembut, menatap tak habis pikir pada putranya tersebut.
"Tidak apa-apa kok, Tan--Mommy." Serena yang tak enak berucap mendahului suaminya, sembari tersenyum manis ke arah Sati. Dia sangat tak enak pada Sati karena kelakuan suaminya ini.
"Mommy tidak enak sama kamu." Sati menghela nafas, balik tersenyum pada Serena. Sejujurnya dia benar-benar tak enak pada Serena.
Persamaannya dengan Serena, mereka wanita yang sama-sama tak enakan! Susah memang jika punya perasaan begitu.
Ruang makan kembali hening. Semua sibuk dengan sarapan masing-masing, mengejar pekerjaan mungkin, karena tak ada satupun orang di meja makan ini yang tak punya kesibukan.
Reigha dan Aesya punya bisnis bersama, mereka punya perusahaan yang dikelola dengan masih bernaung pada perusahaan Rafael. Walau begitu kadang Reigha lebih memaksimalkan diri untuk mengurus perusahaan mereka yang ada di Paris, yang saat ini dipegang oleh Daddynya. Karena dia adalah ahli waris untuk perusahaan itu. Tapi … dia masih belajar dan masih Daddynya yang memegang. Daddynya tentunya punya kesibukan mengurus perusahaan di Paris, dan asisten kesayangannya sekaligus selingkuhan Daddynya di kantor Paris tentunya akan menemaninya. Yah, Daddy ada jadwal ke Paris hari ini dan biasanya Gabriel akan di sana selama empat hari bersama selingkuhannya.
Maxim, Rafael dan Serena tentunya ke kantor juga. Sisa Zayyan yang harus ke sekolah. Jadi … semua punya kesibukan masing-masing.
"Wow, kau istri yang baik ternyata," bisik Rafael tiba-tiba, sembari satu tangannya yang sudah berada di atas paha Serena-- mengelusnya dengan gerakan sensual sembari kadang meremasnya. "Kau pengertian," tambahnya lagi dengan berbisik.
Serena menelan susah payah sarapannya, apa yang Rafael lakukan padanya sekarang itu sangat membuat Serena sulit bernafas. Bahkan sulit untuk bergerak sedikit saja. Sialan dan bangke memang Rafael! Banyak orang di sini dan Rafael berani memesuminya.
Bastard!
"Jauhkan tanganmu, El." Serena menepis tangan Rafael dengan cepat, berucap sangat pelan sembari pura-pura fokus pada sarapannya.
Untungnya Mommy dan Daddy pertanyaan sedang sibuk dengan pembahasan mereka, dan yang lain juga tengah sibuk dengan sarapan masing-masing.
"Atau aku berteriak," tambah Serena dengan mencubit tangan Rafael yang kembali genit di atas pahanya.
Rafael menoleh ke arah Serena, menyeringai tipis dengan menatap dalam dan penuh makna pada Serena. "Jangan galak, Baby Girl. Nanti aku lapar lagi."
"Iss." Serena melirik ogah ke arah Rafael, memutar bola mata dan memilih mengabaikan Rafael.
See? Pria ini sangat menjengkelkan. Mesum dan bastard tingkat dewa!
**
"Pagi, Rafael."
Serena memutar bola mata dengan malas, menatap seorang perempuan berpenampilan casual yang berdiri di sebelah mobil suaminya. Dia dan Rafael baru tiba di sini dan perempuan ini sudah ada di mari.
Jenner sepertinya sangat menunggu kehadiran Rafael.
'Pasangan biadap memang!' batin Serena, buru-buru mengambil tas dalam mobil Rafael dan bergegas dari sana. 'Benar-benar tak ada muka! Mereka tidur bersama pas di hari pernikahanku. Dan sekarang terang-terangan bermesraan di depanku. El bajingan! Jika dia suka dengan Jenner kenapa dia ngotot menikahiku?' batin Serena yang sudah sangat dongkol, melangkah meninggalkan pasangan gila itu.
Andai tak memikirkan posisi Papanya, Serena rasanya ingin mengakhiri semua ini dan mengadukan kelakuan biadap Rafael padanya. Sayangnya yang benar-benar peduli pada Papanya hanya, Gabriel dan Sati. Selebihnya … keluarga Azam lebih munafik dibandingkan penjilat diluaran saja.
Sudah dia katakan, banyak keluarga Azam yang membenci keluarganya karena sejak dulu yang berkuasa di Azam lebih peduli pada keluarga Serena. Karena itu mereka membenci Thomas yang terlalu diistimewakan oleh Gabriel. Bahkan Gabriel keukeh menjodohkan Serena yang mereka anggap anak babu dengan Rafael yang merupakan tuan muda di keluarga Azam.
He's little monster! Anak pertama dari penerus kekayaan Azam.
Itu alasan kenapa Serena memilih bertahan dengan hubungan toxic ini.
"Serena, kau mau kemana?" seru Rafael ketika melihat Serena meninggalkannya begitu saja. "Serena," panggilnya dengan penuh peringatan.
Serena seketika menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Rafael dan Jenner -- di mana Jenner sudah memeluk lengan Rafael, sembari memasang air muka kemenangan dan senyuman culas ke arah Serena.
'Kau mungkin berhasil menikah dengan Rafael. Tetapi akulah yang berhasil mendapatkan Rafael sepenuhnya.' Serena seketika mengingat pesan yang Jenner kirim padanya.
Itu menyebalkan dan sesak sebenarnya. Tapi siapa yang peduli?! Serena memilih berusaha bodo amat.
'Jika aku menunjukkan kecemburuanku, yang ada kamu dan si bangke itu akan merasa menang. Jadi … aku lebih tidak peduli pada kalian, Sialan." Sayang, Serena hanya menyuarakan itu dalam hati. Dia jelas tak berani terang-terangan.
"Aku duluan, El. Jika aku tetap di sini, aku takut kalian canggung berciuman karena ada aku. Yah … tidak enak lah menggangu keromantisan kalian," ucap Serena dengan berusaha santai, lalu dia mengangkat satu tangan -- melambaikannya ke arah Rafael dan Jenner. "Daaaa …."
Rafael langsung mengatupkan rahang, menatap kepergian Serena dengan wajah marah dan dingin. Angkuh! Serena berani meninggalkannya di sini dan biasa saja?!
"El, dia itu gila yah? Kalian menikah tetapi dia tidak marah kita begini." Jenner bahkan bingung dengan sikap serena tadi. Dia tak mengerti kenapa Serena bisa santai dan tak marah.
Padahal Jenner ingin sekali membuat Serena cemburu tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Dia ingin melihat Serena menderita! Wanita itu telah merebut posisinya sebagai istri Rafael.
"Mungkin karena dia tahu kau murahan," ucap Gabriel dengan santai. "Jadi dia tidak merasa tersaingi," lanjutnya sembari melangkah dari sana -- melangkah cepat dan panjang karena dia ingin mengejar Serena.
"El!" Jenner memekik dan setengah menjerit, memanggil Rafael yang meninggalkan dirinya sendiri di sana. Dia samas sekali tak marah dikatai murahan oleh Rafael karena dia memang murahan dengan menawarkan dirinya untuk dijama oleh Rafael, bahkan dia terkesan memaksa Rafael saat itu.
'Siapa tahu kau suka padaku setelah kita melakukannya, Rafael. Ayolah, aku tidak akan menuntut apapun. Aku hanya ingin menjadi yang pertama untukmu -- untuk melepas masa lajangmu.' Itu kalimat Jenner saat merayu Rafael saat itu. Dan yah, Rafael menyebutnya jalang rendahan.
It's ok! Yang terpenting dia bisa memiliki Rafael. Dia yang berhasil mendapatkan Rafael dibandingkan Serena. Dan sekarang Jenner tak akan menyerah!
"Aku tidak akan membiarkan Serena memilikimu, El. Kita yang sepantasnya bersama. Kita punya kesan yang indah saat itu, dan aku hanya butuh menciptakan kesan indah lainnya supaya kau berakhir menjadi milikku, El." Jenner tersenyum licik, berusaha menenangkan emosinya karena Rafael meninggalkannya dan memilih beranjak dari sana juga.
"Serena dinikahi oleh Rafael karena perjodohan. Lalu suatu saat Serena akan diceraikan oleh Rafael karena diriku. Rafael akan tunduk pada cintaku!"