Bab 1

Suami adikku, Mantanku.

"Assalamualaikum Kak. Lagi di rumah kan?" kata Vania, di telepon sore itu.

"Waallaikumsalam Van. Iya di rumah kok. Ada apa?" tanyaku sambil menyisir rambut putriku.

"Aku mau main kesana ya Kak, Mas Ridwan juga ada di rumah kan?" tanyanya lagi.

"Mas Ridwan belum pulang, lembur katanya. Mau main kesini aja kok pakai tanya sih kamu ini Van, biasanya juga tiba tiba uda nongol depan pintu kok, hemmmm," kataku.

"Hehehe kan kali ini bertamunya beda. Aku nggak datang sendiri Kak, aku datang sama seseorang, calon suamiku. Boleh kan Kak?"

"Calon suami? Pacar maksudmu?"

"Nggak Kak. Calon suami. Kami sudah menjalin hubungan serius Kak, dan dia juga ingin melamarku. Mangkanya dia ingin bertemu dengan Kakak dan Mas Ridwan."

"Kamu itukan masih kuliah, masih semester dua lho. Kok sudah ingin menikah. Apa nggak ingin nyelesaiin kuliah mu dulu?"

"Haduh Kak, apa salahnya sih nikah muda, dari pada kebablasan, hehehe."

"Iya sih memang benar, tapi kan nikah itu juga nggak hanya sekedar urusan ranjang saja Van, banyak aspek didalamnya. Dan banyak sekali cobaan di dalamnya, tak melulu kebahagiaan semata. Coba kamu pikir matang matang dulu,"

"Sudah aku pikirkan sangat matang sekali Kak. Aku sudah sangat sreg dengan dia. Lagian aku tak ingin terus terusan merepotkan kalian, kasihan juga kan Mas Ridwan kalau terus terusan membiayai kuliahku,"

"Aku dan Mas Ridwan, tak pernah merasa repot dengan kehadiranmu. Dan kami ikhlas membiayai kuliahmu Van. Malah sebenarnya kami berharap kamu akan lulus kuliah dengan nilai yang baik, tentu itu menjadi kebanggaan tersendiri buat kami. Tapi kalau memang keputusanmu sudah bulat dan ingin menikah muda, aku tak bisa memaksa, jalan hidupmu berada di tanganmu sendiri. Kalau boleh tahu laki laki itu masih kuliah juga kah?"

"Terima kasih banyak ya Kak, sudah memberi restu. Nggak lah Kak, mana mungkin aku mau menikah dengan laki laki yang masih kuliah dan belum bekerja, mau makan apa nanti, hehehe. Calon ku ini, sudah mapan banget loh Kak. Dia owner dua buah coffeshop dan juga punya usaha toko onderdil motor gitu deh. Pokoknya sudah mapan deh, usianya sekarang ya sudah matang Kak, tiga puluh lima tahun,"

"Nggak salah kamu Van. Kamu baru sembilan belas tahun lho, terpaut jauh sekali usia kalian. Memangnya sudah berapa lama kalian pacaran?"

"Nggak lama sih Kak, baru juga tiga bulan. Usia tak jadi penghalang, karena usianya sudah matang itu, mangkanya dia ingin segera menghalalkanku Kak. Dia baik dan sopan banget kok, aku yakin Kakak akan suka dengannya."

"Ya sudah nanti kamu main saja kesini, aku ingin mengenal dulu laki laki itu. Kamu hati hati lho, jangan berbuat aneh aneh sama dia!"

"Iya Kak, nggak aneh aneh kok. Mangkanya itu aku pingin cepet cepet nikah juga, heheheh. Oke habis ini kami langsung meluncur kesana dari kostku ya Kak. Wassallamualaikum,"

"Iya hati hati ya. Waallaikumsalam,"

Panggilan itu pun kuakhiri. Masih tak habis fikir aku dengan fikiran Vania yang ingin menikah muda. Apalagi dengan seorang laki laki yang baru dikenalnya, dan usianya pun sama sepertiku. Namun aku pun tak bisa menghalangi keinginanya, semoga saja memang ini pilihan terbaik untuk hidupnya.

Vania adalah adikku satu satunya, meski bukan saudara kandung, namun aku sangat menyayanginya. Saat usiaku empat belas tahun, orang tuaku bercerai, aku ikut Ibu. Setahun kemudian Ibu menikah lagi dengan seorang jejaka tua, dan setahun kemudian lahirlah Vania, saat usiaku enam belas tahun.

Ayah tiriku adalah orang yang sangat baik, dan bertanggung jawab pada kami. Pekerjaanya adalah seorang mandor proyek, jadi dia jarang sekali berada di rumah. Meski hanya anak tiri, namun dia sangat menyayangiku, dan meng kuliahkanku hingga aku lulus dan bekerja pada sebuah bank swasta yang besar. Dia pun sangat sayang kepada Ibu.

Tiga tahun kemudian, aku menikah dengan Mas Ridwan, dan dia memintaku untuk resign dari pekerjaanku. Dan kami pun tinggal di kota yang berbeda dengan orang tuaku.

Setahun kemudian aku melahirkan seorang putri cantik, orang tuaku dan vania kecil pun datang kerumahku. Mereka menginap selama dua hari, karena Ayah harus kembali bekerja, maka mereka pamit pulang, namun Vania yang saat itu masih berusia sepuluh tahun, tak mau pulang, dia masih ingin bersama keponakannya.

Akhirnya Vania kecil pun ditinggal disini, dan rencananya minggu depan akan diantar Mas Ridwan pulang ke rumah. Saat perjalanan pulang berdua saja itu, Ibu dan Ayah tiriku mengalami kecelakaan, sepeda motor yang mereka kendarai di seruduk dengan kencang oleh sebuah truk kosongan. Karena benturan dari belakang yang sangat keras tersebut, mereka berdua pun terpental sejauh beberapa meter di jalan beraspal, keadaan yang parah membuat mereka meninggal di tempat kejadian.

Aku yang mendengar kabar duka itu sangat shock, saat usia bayiku baru enam hari, orang tua ku sudah meninggalkanku selamanya. Aku sempat pingsan berkali kali, menurut penuturan suamiku.

Sejak saat itulah, Vania tinggal bersama kami. Sedangkan rumah di kota sebelah kami biarkan kosong.

Setelah lulus sekolah menengah atas, Vania memilih kuliah di sebuah universitas negeri yang jaraknya sekitar satu jam dari rumahku, dan dia meminta kost saja agar tak capek bolak balik. Sebenarnya aku dan suami berat membiarkannya sendiri, namun bagaimana lagi, dia sangat keras, saat menginginkan sesuatu, harus selalu segera di turuti.

Brakk Brakk

Suara pintu mobil di tutup, membuatku langsung keluar rumah, pasti itu Vania, dan calonnya yang katanya sudah mapan itu. Aku berdiri di depan pintu sambil memandang mereka. Vania memegang tangan laki laki itu, sambil menariknya menuju rumah.

Sosok laki laki itu sepertinya sangat familiar denganku, namun siapa dia aku benar benar lupa. Rambut gondrong di ikat kebelakang dan berkacamata itu mengingatkanku pada seseorang, Rama. Mungkinkah dia Rama? Mantan kekasihku yang pernah menorehkan luka di hatiku dulu?

Bab 2

Sosok laki laki itu sepertinya sangat familiar denganku, namun siapa dia aku benar benar lupa. Rambut gondrong di ikat kebelakang dan berkacamata itu mengingatkanku pada seseorang, Rama. Mungkinkah dia Rama? Mantan kekasihku yang pernah menorehkan luka di hatiku dulu?

Ah, mungkin cuma mirip saja. Rama kan rambutnya tidak pernah gondrong, dia selalu memotong cepak rambutnya, dia juga tak pernah memakai kacamata. Dan tak mungkin juga dia masih lajang, bukankah dulu kata Mamanya dia akan di jodohkan dengan anak teman lamanya. Tak mungkin lah pokoknya itu Rama.

"Kak, kok bengong sih?" kata Vania sambil menepuk pundakku, sontak aku pun kaget.

"Eh maaf ya. Ayok mari silahkan masuk," kataku mempersilahkan Vania dan laki laki itu masuk.

"Gita, ini ada Tante Vania datang loh," teriakku memanggil putri kesayanganku yang sedang menonton televisi.

Dia memang sangat dekat sekali dengan Vania, maklum sejak Gita lahir, Vania selalu bersamanya. Tak jarang Gita lebih memilih tidur bersama Vania.

"Tante, Gita kangen banget loh sama Tante. Nanti bobok disini kan?" kata putriku sambil memeluk Vania.

Saat Gita memeluk Vania, entah mengapa laki laki itu, terus menerus mengamati Gita seakan akan menelitinya.

"Tante juga kangen banget sama Gita. Maaf ya sayang, malam ini Tante nggak bisa menginap, minggu depan saja ya," katanya sambil mencium pucuk rambut Gita.

"Yah, Tante nggak asik nih. Kalau begitu aku lanjutin lihat barbie aja deh," kata Gita, biasa dia selalu merajuk saat Vania tak menginap.

"Ye ngambek yahh?? Kebetulan banget kamu lagi nonton film barbie, nih tadi Tante beliin kamu boneka Barbie lho. Tapi nggak boleh ngambek lagi lho," kata Vania sambil memberikan dua buah boneka barbie pada Gita.

Gita pun mengangguk dan segera mengambil boneka boneka itu kemudian dia kembali masuk ke ruang tengah.

Laki laki yang wajahnya mirip Rama itu, masih terus mengamati Gita, hingga dia sudah tak terlihat lagi. Kenapa sampai sebegitunya dia melihat putriku.

"Silahkan di makan snacknya Mas, maaf tak ada camilan lain. Seadanya saja ya Mas," kataku mencoba membuka obrolan dengannya, namun hanya dibalas dengan anggukan dan senyum simpul. Senyum yang tak asing bagiku.

"Tuh kan, gara gara Si Gita, sampai lupa ngenalin cowokku ke Kakak. Mas Ridwan belum pulang juga ya Kak?"

"Belum Van. Paling juga sebentar lagi sudah pulang. Sebentar ya aku mau shalat magrib sebelum waktunya habis. Kamu sudah shalat Van?" tanyaku.

"Sudah Mbak tadi,"

Aku pun berlalu dari mereka. Kulihat dari ekor mataku, laki laki tadi sempat memcuri pnadang padaku, ah benar benar membingungkan.

Setelah shalat aku pun segera kembali menuju ruang tamu, Vania mungkin tak tahu kalau aku datang, dia terlihat bergelayut manja pada cowoknya. Hemmm memang benar benar harus cepat menikah nih!

"Ehem ehem"

Aku pura pura batuk, dan Vania pun kaget langsung melepaskan diri dari pacarnya.

"Eh, sudah selesai ya Kak shalatnya." kata Vania sambil salah tigkah sepertinya.

"Bagaimana kuliahmu Van?"

"Baik kok Kak. Nunggu Mas Ridwan kelamaan ya. Ya sudah aku kenalin deh, ini pacarku Kak, lebih tepatnya calon suamiku. Namanya Mas Adit,"

Ternyata namanya Adit, Alhamdulillah berarti dia bukan Rama kan, mantanku dulu. Memang sangat wajar sekali kalau di dunia ini banyak sekali orang yang wajahnya mirip. Si Adit tersenyum kepadaku sambil menganggukan kepalanya.

" Mas Adit, sudah benar benar seriuskah dengan adik ku?"

"Aku serius Kak. Aku ingin segera menikahinya," jawabnya sambil tersemyum, namun ada sorot berbeda dari matanya, kurasa.

Suara itu, suara berat itu, mirip sekali dengan suara Rama.

"Apakah Mas Adit sudah siap menghadapi sifat adik ku yang mungkin masih kekanak kanakan, secara umurnya kan masih sangat muda. Apa sudah di pertimbangkan lagi,"

"Aku sudah memikirnya matang matang Kak. Aku mencintainya, aku tak ingin merusaknya, jadi aku ingin segera menghalalkanya. Dan masalah sifat itu kan bisa di ubah pelan pelan, tak jadi soal bagiku," katanya.

"Apakah sudah mengenalkan Vania ke keluarga Mas Adit?"

"Belum. Tapi segera, aku menunggu restu dulu dari keluarga Vania,"

"Kalau aku sih, terserah Vania saja. Tapi aku sebenarnya juga masih belum bisa merelakan kalau Vania nikah muda. Apalagi kalian kan baru sebentar kenalnya,"

"Kak, percaya deh sama kami. Kami ini serius dan saling mencintai. Restui hubungan kami ya. Pliss," Vania memohon kepadaku.

Suara motor terdengar dari depan, itu Mas Ridwan. Aku sudah hapal sekali suara motor suamiku itu. Dia pun langsung masuk ke dalam rumah.

"Assalalmualaikum. Wah ada tamu nih, Tante Vania sama siapa nih?" kata suamiku sambil menyalami Vania dan Adit.

"Waallaikumsalam. Duduk dulu Mas. Vania sudah nunggu dari tadi lho. Ini pacarnya si Vania. Katanya mereka ingin menjalin hubungan yang lebih serius," kataku ketika suamiku itu duduk di sebelahku.

"Hubungan yang lebih serius? Menikah maksudnya?" tanya suamiku sepertinya agak heran.

"Iya Mas, kami ingin segera menikah," jawab Vania.

"Oh begitu. Mas ini namanya siapa ya? Aslinya mana?" tanya suamiku pada Adit.

"Aku Raditya Rama Airlangga Mas. Asli Surabaya." jawabnya sambil menoleh kearahku.

Aku sungguh kaget saat dia menyebutkan nama panjang ya, ya dia adalah Rama, mantan kekasihku, nama yang sama hanya beda panggilannya. Dia masih terus melihat kepadaku tanpa sungkan pada Vania dan Mas Ridwan, seakan dia tahu keraguanku dan ingin meyakinkan kalau dia benar benar Rama yang dulu. Aku menundukkan kepala, masih bingung, harus seperti apa. Dan mencoba menghindari tatapan matanya.

Melihatnya kembali, membuat luka lama yang teramat dalam ditorehkanya itu kembali terasa, dia yang hilang bak ditelan bumi selama tiga belas tahun, kini kembali, sebagai calon suami adikku.

"Aku panggilnya Adit ya. Usia kamu berapa Dit saat ini? Sudah lama kah dekat dengan Vania?" tanya suamiku lagi.

"Usiaku saat ini tiga puluh empat tahun Mas. Dan kami sudah dekat sekitar tiga bulan. Aku benar benar serius ingin menikahi Vania. Aku janji tak akan menyia nyiakannya. Aku pun secara finansial sudah siap berumah tangga Mas,"

"Oke oke, kami ini sangat sayang pada

Vania, jadi kami menyerahkan seluruh keputusan padanya saja. Ngomong ngomong nih kamu dan istriku seumuran lho. Kenapa kamu nggak nikah dari dulu? Apa masih mengejar karir nih?"

"Jujur nih Mas. Aku memang trauma dengan wanita sebenarnya, dulu saat masih kuliah, aku pernah merasa down sekali karena ditinggal oleh perempuan, padahal kami juga sudah berjanji akan segera menikah, ternyata dia malah mencampakkanku. Sejak saat itu, aku tak lagi mau mengenal cinta. Dan akhir akhir ini Vania kembali bisa membuka hatiku," katanya.

"Oh seperti itu. Tapi seandainya nanti kamu ketemu lagi dengan mantanmu itu setelah menikah dengan Vania, apakah akan ada acara CLBK? Karena sepertinya kamu masih memendam rasa padanya," tanya suamiku lagi.

Dari perkataan Rama tadi, aku tahu bahwa wanita yang dimaksudnya, adalah aku. Dan benar juga kata Mas Ridwan, sepertinya dia masih menyimpan rasa padaku, meski sudah ada Vania. Apa yang seharusnya kulakukan saat ini, aku bingung apakah aku tetap diam saja, dan membiarkan mereka menikah? Atau aku harus bercerita yang sebenarnya pada suamiku tentang Rama, aku tak ingin hal hal tidak diinginkan terjadi.

Bab 3

"Oh seperti itu. Tapi seandainya nanti kamu ketemu lagi dengan mantanmu itu setelah menikah dengan Vania, apakah akan ada acara CLBK? Karena sepertinya kamu masih memendam rasa padanya," tanya suamiku lagi.

"Hahaha, tidak lah Mas. Aku bukan orang yang suka memungut mantan. Apalagi sekarang dia pasti sudah tua kan, tak mungkin aku berpaling karena sudah ada Vania ini. Jangan khawatirkan masalah itu," katanya.

"Iya ih. Mas Ridwan ini, ada ada aja deh yang di tanyakan. Kami ini sudah saling cinta. Dan pokoknya, aku ingin secepatnya menikah dengan Mas Adit, titik. Plisss ya Mas, Kak. Kalian sayang padaku kan?," rengek Vania.

Entah mengapa ada perasaan tidak srek dalam hatiku merestui pernikahan mereka. Bukan karena aku masih memiliki rasa pada Rama, tapi aku merasa akan banyak hal buruk dibelakang dan Rama sedang memainkan drama untuk mencapai suatu tujuan. Tapi saat melihat Vania merengek seperti itu, aku tak akan tega, dan tak mungkin juga aku menceritakan masa laluku dengan Rama.

"Aku sih terserah kamu saja deh Van. Yang pasti menikah adalah suatu keputusan besar dalam hidup, jadi harus dipikirkan matang matang. Kalau menurut kamu bagaimana Dek?" tanya suamiku.

Aku yang masih menunduk sambil melamun, kaget ketika suamiku memegang tanganku.

"Kamu nglamun atau ngantuk sih Dek? Bagaimana menurutmu dengan pernikahan mereka?" tanya suamiku lagi dengan lembut.

"Eh maaf, iya Mas aku ngantuk sekali, hehehe. Kalau aku sih terserah Vania saja deh Mas." jawabku.

Sepulangnya Vania nanti, aku akan menceritakan pada Mas Ridwan tentang hubunganku dulu dengan Rama. Agar dibelakang nanti tak ada ganjalan.

"Yeay. Berarti semua setuju kan. Tuh Yank semua setuju. Kapan nih kamu melamarku dan menikahiku?" Vania terlihat sangat bahagia.

"Secepatnya, dan aku usahakan bulan ini kita pasti menikah Sayang," kata Adit pada Vania.

"Oke lah. Lebih cepat lebih baik" tambah Vania.

"Oh iya sampai lupa, tadi aku beli martabak telur kesukaanmu lho Van. Spesial pakai telur bebek, seperti permintaanmu. Sebentar ya ku ambilkan di motor," kata suamiku sambil keluar rumah.

Memang Vania dan Gita, sangat suka sekali dengan martabak telur pakai telur bebek, padahal menurutku itu terlalu amis, aku tak suka. Mss Ridwan pun segera masuk membawa dua box martabak.

"Nih satu buatmu, dan ini satu buat Kakakmu, pakai telor ayam biasa kan. Gita sini Nak, ini Ayah bawa makanan kesukaanmu!" teriak suamiku.

Gita pun langsung menghambur keluar, dengan girang dia pun langsung berdiri di samping Vania. Kulirik sekilas, pandangan mata Rama, tak lepas dari Gita, sepertinya dia sangat tertarik sekali dengan Putriku ini.

"Berapa umurmu anak cantik?" tanya Rama tiba tiba pada Gita.

"Delapan tahun om," kata Gita sambil menampilkan deretan giginya yang rapi.

"Apa benar Mas, Gita ini baru berusia delapan tahun? Kok sepertinya sudah berusia dua belas tahunan," Rama ganti bertanya pada suamiku.

"Hehehe iya memang dia masih berusia delapan tahun sekarang. Badanya memang bongsor sepertiku, banyak sekali yang mengira dia memang usianya sudah belasan tahun." terang suamiku.

Oooh sekarang aku tahu, kenapa dari tadi Rama terus saja memperhatikan Gita. Dia pasti mengira Gita adalah darah dagingnya, mangkanya dia bilang usia Gita dua belas tahun. Padahal dia tak tahu, Mama nya sendirilah yang membunuh darah dagingnya itu, saat dia menghilang tanpa kabar.

"Oh begitu ya Mas. Berapa jumlah anaknya Mas? Apa Gita ini punya kakak atau adik?" tanyanya lagi, benar benar masih mencari informasi dia.

"Baru satu ini Mas. Gita ini anak pertama kami, sekarang sedang program anak kedua. Doakan saja ya, hahaha," jawab suamiku yang dibalas anggukan oleh Rama.

Vania dan Gita pun membuka box martabak telur mereka, jajanan yang masih hangat itu mengeluarkan aroma sedap tersendiri.

"Hoek hoek hoek," Vania sepertinya ingin muntah dan langsung lari kebelakang.

Aku pun mengikutinya dari belakang. Dia masuk kamar mandi, dan seperti ingin muntah, namun tak bisa. Karena tak di tutup aku pun masuk kedalam dan memijat lehernya. Ada perasaan tak enak dan was was disini, kenapa dia mual saat mencium aroma martabak kesukaanya itu, apa jangan jangan dia hamil?.

"Kamu kenapa sih Van,?" tanyaku sambil masih memijit lehernya.

"Nggak tau nih Kak, rasanya mual dan pingin muntah karena bau martabak itu. Tolong jauhin makanan itu deh Kak. Mual banget aku karenanya,"

"Itukan makanan kesukaanmu, biasanya kamu kan langsung melahap habis saat masih hangat begitu. Kamu kenapa sih sebenarnya? Jangan jangan kamu hamil ya?"

"Apa apaan sih Kak, ngomong sembarangan deh. Aku hanya masuk angin saja kok." katanya sewot, sambil ingin pergi menjauh dariku.

"Tunggu, mau kemana kamu? Jawab jujur dulu pertanyaanku, kamu hamil apa tidak?" kataku sambil memegang kedua lengannya.

"Aku cuma masuk angin Kak. Cuma masuk angin biasa, telat makan saja tadi," katanya sambil menunduk, membuatku semakin tak percaya pada ucapanya.

"Jawab dengan jujur pertanyaanku. Kamu sudah pernah melakukan perbuatan haram itu kah? Jawab pertanyaanku Van!" kali ini aku tak bisa membendung air mataku.

Vania hanya menjawab pertanyaanku dengan anggukan.

"Kenapa kamu lakukan itu Van. Bukankah aku sudah sering sekali mengingatkanmu, jangan pernah melakukan perbuatan itu sebelum menikah. Apakah kamu tahu kalau kamu saat ini hamil? Dan dengan siapa kamu melakukan itu?" tanyaku masih mencecarnya.

"Maaf Kak. Maaf kan aku, sudah membuat Kakak dan Mas Ridwan kecewa. Aku sudah kebablasan Kak. Aku melakukannya hanya dengan Adit Kak. Tadi pagi aku baru tahu kalau aku hamil, dan karena itulah aku meminta Adit untuk segera menikahiku sebelum perutku semakin membesar," katanya sambil memelukku.

Astaghfirullahaladzim, seperti mengulang masa lalu, aku pun mengalami hal seperti ini dengan Rama dahulu. Tak ada waktu untuk menyesali semua yang telah terjadi. Sekarang yang pasti, Rama harus bertanggung jawab dengan kehamilan Vania ini. Aku kembali mengajak Vania ke ruang tamu. Dan menyuruh Gita membawa martabak telor itu masuk.

Mas Ridwan dan Rama terlihat heran, karena melihatku dan Vania yang masih menangis.

"Aku minta kamu secepatnya membawa orang tuamu kesini, dan melangsungkan pernikahan ini. Kalau bisa besok keluargamu sudah harus datang kemari meminang adikku," kataku sedikit ketus pada Adit alias Rama itu.

"Kenapa kamu jadi ketus seperti itu sih Dek sama Adit? Janganlah terlalu terburu buru." kata suamiku.

"Pernikahan ini harus dilaksanakan secepatnya Mas, karena sekarang Vania itu sedang hamil!" kataku sambil menangis.

Mas Ridwan langsung menoleh kearahku, dan sepertinya dia sangat kaget. Vania yang di rawatnya dari kecil dengan penuh kasih sayang itu, telah menghianati kepercayaannya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED