"Lepas! Aku gak perlu kamu pegangin terus!"
Yuga melepas paksa pegangan tangan Chessi yang sedang menuntunnya menuju kamar mandi.
"Maaf, aku takut kamu jatuh," ucap Chessi pelan.
"Ck! Stop pura-pura peduli sama aku, Ches! Kamu pikir karena siapa aku kayak gini?" tukas Yuga yang kemudian berjalan masuk ke kamar mandi tanpa menghiraukan Chessi lagi.
Chessi menghela napas dalam dan menatap sedih ke arah pintu kamar mandi yang tertutup. Dia semakin merasa bersalah mendengar ucapan Yuga.
"Aku, juga gak tahu kalau kamu itu phobia gelap," lirih Chessi.
Tidak menuruti ucapan Yuga untuk pergi, Chessi justru menunggu Yuga keluar dari kamar mandi. Beberapa waktu kemudian Yuga keluar dengan badan yang masih lemas dan menatap Chessi dengan wajah yang masih terlihat kesal.
"Kamu ngapain disitu?" tanyanya.
"Nunggu kamu keluar. Kita ke Dokter ya? Atau aku panggilin mama?" tanya Chessi.
"Gak perlu! Aku gak perlu dua-duanya," tolak Yuga mentah-mentah lalu meninggalkan Chessi begitu saja di depan kamar mandi.
Chessi lagi-lagi hanya bisa menghela napas berat karena merasa suaminya itu sangat keras kepala. Chessi lalu menyusul Yuga tanpa mengenal apa itu lelah dan malu.
"Ga," panggil Chessi sambil menahan tangan Yuga.
"Apa? Jangan sentuh-sentuh bisa?"
Yuga menepis tangan Chessi kasar dan sontak membuat Chessi tertegun dan menatap Yuga dengan nanar. Yuga sendiri tiba-tiba saja diam dan ekspresinya juga berubah.
"Kenapa nahan aku buat jalan?" tanya Yuga setelah mengatur nada bicaranya sedikit lebih lembut.
"Gak jadi, kamu istirahat aja ya. Aku, mau keluar dulu."
Chessi yang sudah terlanjur merasa sakit karena sikap Yuga, memilih untuk keluar dari apartemen. Dia tidak mau perasaan sakitnya ini justru membuat Chessi jadi marah pada Yuga.
Yuga sendiri tertegun melihat Chessi yang berjalan cepat keluar dari apartemen tanpa menoleh ke belakang lagi.
***
Chessi itu yatim piatu, jadi setiap kali merasa suntuk ataupun sedih. Chessi pasti pulangnya ke rumah mama Mirna, karena selain ibu mertuanya. Mama Mirna juga sahabat mendiang ibunya dulu, pernikahan Chessi dan Yuga terjadi juga karena janji antara ibunya dengan mama Mirna.
Chessi menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya. Chessi pengen segera bisa tidur, tapi ternyata jauh dari Yuga membuatnya susah tidur. Walaupun kenyataannya dia juga tidak pernah tidur sekamar dengan Yuga sejak menikah, tapi tetap saja ada di satu atap dengan Yuga membuat Chessi sedikit tenang.
Chessi kembali membuka selimutnya karena mendengar langkah kaki menuju ke kamarnya. Chessi bergegas turun dari ranjang dan membuka pintu kamarnya cepat.
"Ga," ucap Chessi ketika melihat Yuga yang sudah akan kembali pergi dari depan kamar Chessi.
Yuga kembali berbalik dan melihat ke arah Chessi dengan kikuk.
"Belum tidur kamu?"
"Belum, Kamu sendiri ngapain kesini? Cari aku ya?"
Tanpa merasa malu Chessi bertanya, karena dia merasa sepertinya Yuga memang mencarinya.
"PD banget! Aku, cuma cari sesuatu yang hilang," sangkal Yuga.
"Hilang? Apa? Hilangnya emang disini? Mau aku bantuin cari?" cecar Chessi.
Yuga tidak menanggapi ucapan Chessi dan hanya memandangi wajah istrinya itu lekat. Samar dan walaupun tipis, Yuga terlihat tersenyum lalu kemudian kembali berwajah dingin beberapa detik setelahnya.
"Udah ketemu. Masuk sana! Tidur! Aku, mau pulang ke apartemen," tukas Yuga yang kemudian berjalan meninggalkan Chessi yang masih terlihat mencerna ucapan Yuga.
***
"Ma, Yuga beneran pulang?" tanya Chessi saat sarapan pagi bersama ibu mertuanya.
"Iya, katanya semalam udah lihat kamu. Jadi, dia pulang," terang mama Mirna menjawab.
"Emang tujuannya kesini cari apa sih, Ma? Kata Yuga ada barang yang hilang," ujar Chessi dengan polosnya.
Mama Mirna tidak segera menjawab dan memasukkan sesuap nasi ke mulutnya. Mama Mirna lalu tersenyum simpul dan mengangguk mengiyakan.
"Katanya si gitu, mungkin dia mulai merasa ada yang hilang kalau kamu gak di rumah," tukas mama Mirna.
"Aku? Kok aku?"
"Iya kamu, Yuga kesini itu cari kamu. Katanya kamu gak pulang udah 2 hari."
Chessi terdiam mendengar jawaban dari ibu mertuanya, entah dia harus senang atau malah sebaliknya. Chessi tidak biasa dicari oleh Yuga, tapi dia juga merasa senang mendengar ucapan mama mertuanya itu.
"Kamu, harus lebih sabar lagi ya. Lama-lama Yuga juga luluh dan bisa menerima kamu sebagai istri, Ches," sambung mama Mirna.
Chessi tidak menanggapi dan menatap mama mertuanya datar.
"Aku gak yakin, Ma. Yuga sama sekali gak suka sama aku, dia bahkan gak mau aku dekati sedikitpun," lirih Chessi dengan nada sedih.
"Gak boleh pesimis, batu aja kalau ketetesan air terus lama-lama bisa berlubang. Apa lagi cuma Yuga yang terus kamu pepet, lama-lama juga dia jadi bucin sama kamu."
"Kenapa jadi nyamain Yuga sama batu, Ma," ujar Chessi yang kemudian terkekeh.
Mood Chessi yang berantakan selalu bisa dengan cepat berubah jika ada di dekat mama mertuanya. Kadang-kadang Chessi sampai lupa kalau mama Mirna itu mertuanya.
***
Malam mulai beranjak, pintu apartemen tempat tinggal Chessi dan Yuga terbuka dari luar. Chessi yang sedang menatap televisi, tapi tidak juga sedang menonton dengan benar menoleh ke arah pintu.
"Udah pulang?" tanya Chessi basa-basi.
"Kalau udah di rumah berarti udah pulang, Chessi. Kamu, selalu bertanya yang enggak-enggak," ujar Yuga menanggapi lalu berjalan begitu saja menuju kamarnya. Belum juga Yuga membuka pintu kamarnya, Chessi sudah lebih dulu memanggil Yuga dan membuat Yuga mengurungkan niatnya membuka pintu kamar.
"Tadi ada pengacara pribadi kamu datang. Berkas yang harus di tanda tangani aku taruh di atas kulkas," ujar Chessi tidak berkedip menatap Yuga.
Yuga sendiri sedikit terkejut karena tidak biasanya pengacara pribadinya datang ke apartemen. Biasanya mereka akan selalu bertemu di kantor.
"Kamu buka isinya?" tanya Yuga panik.
"Gak kok, udah jelas isinya apa. Di amplopnya ada tulisannya," jawab Chessi.
"Bagus deh! Itu bagian dari privasi aku juga, kamu gak boleh ikut campur sama privasi aku."
Yuga lalu berjalan menuju kulkas dan mengambil amplop coklat berukuran sedang yang Chessi maksud. Yuga sudah akan kembali masuk ke dalam kamarnya.
"Jadi benar Kakak mau ceraiin aku? Tujuan menikah sama aku apa? Kenapa gak sekarang aja ceraiin aku kalau memang kakak udah gak tahan jadi suami aku?"
Pertanyaan Chessi sukses membuat Yuga kembali berhenti. Yuga melihat ke arah Chessi yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca sekarang.
"Jawab, Kak! Apa tujuan kakak menikah sama aku kalau pada akhirnya aku justru kamu buang begitu saja? Apa pernikahan ini memang tidak penting buat kamu?" tanya Chessi dengan suara bergetar.
"Kamu kenapa jadi mikir gitu? Kamu bilang gak baca isi suratnya."
Yuga mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Memang gak baca kok, bukannya di judulnya sudah jelas ya? Gugatan cerai kamu buat aku, dan itu bulan depan. Kenapa harus bulan depan? Kenapa gak besok atau lusa?"
Chessi benar-benar mengeluarkan semua isi di dalam hatinya. Dia tidak bisa menahan lagi, baru saja bahagia karena mengira Yuga mulai bisa menerimanya. Sekarang dia justru harus menerima kenyataan kalau Yuga akan membuangnya seperti sampah.
***
Chessi membuka matanya terkejut, dia baru saja mimpi mama dan papanya yang meninggal karena kecelakaan. Chessi melenguh pelan dan memegangi kepalanya yang sakit. Setiap kali mimpi kedua orang tuanya Chessi pasti langsung demam. Mungkin karena didalam hatinya Chessi begitu merindukan kedua orang tuanya itu. Chessi lalu membuka selimutnya pelan dan mencoba turun dari ranjang. Pagi ini rencananya dia mau pergi ke rumah mama Mirna lagi untuk menceritakan rencana Yuga.
Baru saja membuka pintu kamarnya, Chessi justru terjatuh ke lantai karena kakinya terasa lemas. Chessi merintih pelan karena merasakan kepalanya yang berdenyut sakit dan juga tulang ekornya yang juga sakit karena terjatuh. Tepat saat itu Yuga keluar dari kamarnya dan melihat Chessi merintih kesakitan.
"Kenapa?" tanya Yuga menghampiri Chessi.
Yuga reflek memegang tangan Chessi dan mencoba membantu istrinya itu bangun. Chessi sendiri tidak menanggapi ucapan Yuga dan hanya memejamkan matanya mencoba menghalau rasa sakit di badannya.
"Kamu demam?" tanya Yuga lagi.
"Gak kok, aku gak apa-apa."
Merasa sudah bisa berdiri sendiri, Chessi lalu melepas tangan Yuga dengan cepat. Yuga sedikit terkejut dengan sikap Chessi yang tidak seperti biasanya. Sejurus kemudian Chessi melihat ke arah Yuga.
"Kamu udah rapi? Maaf, aku gak bisa bikin sarapan. Mending kamu sarapan di kantor aja ya," ujar Chessi yang kemudian berjalan meninggalkan Yuga yang masih merasa heran dengan sikap Chessi.
Setelah beberapa menit ada di dalam kamar mandi. Chessi kembali keluar dalam keadaan segar selesai mandi, walaupun dia belum mengganti baju tidurnya. Chessi terkejut melihat Yuga tidak pergi ke kantor dan justru sedang ada di dapur. Yuga membuka jasnya dan menggantinya dengan celemek.
"Kamu ngapain? Nanti telat pergi ke kantornya," ucap Chessi yang kemudian menghampiri Yuga.
"Kamu gak lihat aku lagi masak?" tanya Yuga dengan suara dingin.
"Lihat."
"Ya udah jangan tanya lagi aku ngapain."
Chessi terdiam dan melihat Yuga yang sedang sibuk mengaduk bubur nasi yang dia buat.
"Kok masak bubur? Bukannya lama ya?" tanya Chessi penasaran.
"Lagi pengen bubur," jawab Yuga enteng.
"Kenapa gak beli aja, Ga?"
"Gak higienis, enakan buat sendiri. Jangan cerewet!"
Yuga memotong setiap pertanyaan Chessi begitu saja. Chessi sendiri menghela napas dalam dan berat. Chessi lalu kemudian mengangguk pelan.
"Ya udah aku gak tanya lagi. Aku, mau ke kamar dulu," pamitnya lalu pergi begitu saja.
Yuga menoleh sekilas lalu ikut menghela napas dalam. Dia tidak biasa diacuhkan Chessi seperti ini, jadi menurutnya aneh kalau Chessi justru bersikap seperti itu.
Karena merasa pusing dan badannya terasa lemas. Bukannya mengganti baju, Chessi justru tertidur di sofa yang ada di kamarnya. Chessi terbangun saat ponselnya berdering cukup keras, Chessi menggeliat dan memegangi kepalanya yang terasa ada yang menempel.
"Bye bye fever? Yuga yang makein?" gumamnya bertanya-tanya.
Chessi lalu bangun dan berjalan pelan menuju meja yang ada di dekat ranjangnya. Chessi melihat nama Yuga tertera di layar ponselnya. Chessi menggeser gambar telepon warna hijau dan menempelkan ponselnya ke telinga.
"Halo, Ga."
"Kamu udah bangun? Masih panas?" tanya Yuga di seberang sana.
"Udah agak turun panasnya, kamu udah pergi ke kantor ya?"
"Iya jelas lah aku udah di kantor, kamu pikir ini jam berapa. Di meja makan ada bubur, kamu makan! Kuahnya panasin lagi supaya lebih enak, aku juga tadi ngerebus telur," tukas Yuga.
Chessi terdiam mendengar ucapan Yuga, dia terbiasa di acuhkan dan selalu disalahkan oleh Yuga. Ketika mendapat perhatian sedemikian rupa dari Yuga, Chessi justru merasa aneh dan bertanya-tanya.
"Ches, kenapa diam?" tanya Yuga lagi karena tidak mendapat respon dari Chessi.
"Iya, aku makan sebentar lagi. Makasih ya udah perhatian sama aku, makasih juga udah nempelin penurun panas ke keningku," ujar Chessi yang kemudian tersenyum senang.
"Gak usah bilang makasih! Aku, juga ngelakuin ini supaya kamu gak keterusan sakit. Aku, gak mau repot karena kamu sakit."
Ucapan Yuga sukses membuat senyum Chessi menghilang begitu saja. Percayalah hati Chessi terasa sangat sakit saat ini.
***
"Kamu dimana?" tanya Yuga saat panggilannya diangkat oleh Chessi.
"Di rumah mama," jawab Chessi dengan suara lemah.
"Ngapain kesitu lagi? Kamu makin sering keluyuran ya? Kalau memang gak punya kesibukan, coba cari hal yang bisa buat kamu lebih produktif."
Lagi-lagi Yuga marah-marah tidak jelas. Sebenarnya sekarang Chessi sedang sakit dan tidak punya tenaga walaupun hanya untuk sekedar menanggapi ucapan Yuga.
"Iya maaf, Ga. Nanti aku akan cari hal yang lebih produktif lagi selain pergi ke rumah mama. Udah ya, aku mau istirahat."
Chessi yang tidak mau berdebat dengan Yuga lalu memutus sambungan teleponnya sepihak. Chessi menghela napas berat dan kemudian meletakkan ponselnya di dada.
"Kenapa mau menikah sama aku kalau kamu cuma bisa nyakitin aku, Ga," ujarnya lalu menyusut air mata yang tiba-tiba saja meleleh tanpa di komando itu.
Chessi menoleh ke arah pintu kamar karena mendengar suara pintu terbuka. Chessi menyusut sisa air matanya lalu mengambil posisi duduk.
"Mama bawa apa?" tanya Chessi saat melihat mama mertuanya masuk dengan nampan di tangannya.
"Bawa bubur kacang ijo. Kamu suka banget sama bubur ini, 'kan. Mama ingat betul pesan mama kamu," ucap mama Mirna yang kemudian meletakkan nampan di meja lalu duduk di tepi ranjang.
"Makan dulu ya, habis itu kita ke rumah sakit. Panas kamu belum turun juga," ucap mama Mirna.
Chessi tersenyum lalu menggeleng pelan.
"Gak perlu, Ma. Besok juga udah mendingan, aku cuma butuh istirahat. Sini, Ma aku makan buburnya," pinta Chessi sambil mengulurkan tangannya.
Mama Mirna menganggukkan kepalanya lalu mengambilkan semangkuk bubur kacang ijo itu untuk Chessi. Tanpa menunggu lama lagi, Chessi lalu melahap bubur itu. Senyumnya terukir indah walaupun sebenarnya hati Chessi sedang sakit sekarang. Rasa bubur buatan mama mertuanya begitu mirip dengan buatan mama Chessi. Makanan ini selalu manjur untuk membuat Chessi sembuh dari demamnya, entah kenapa.
Mama Mirna melihat Chessi dengan wajah iba, tangannya lalu terulur dan mengusap pelan surai Chessi.
"Maaf ya, sayang. Karena perjanjian mama dan mama kamu, sekarang kamu justru terjebak pada pernikahan yang buat kamu tidak bahagia," ucap mama Mirna.
Chessi berhenti mengunyah lalu melihat ke arah mama Mirna. Chessi tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Bukan salah, mama juga kok. Takdir aku aja yang harus seperti ini," ujar Chessi yang mencoba mengerti dan memahami situasi yang tidak menyenangkan yang dia alami sekarang.
"Kamu, harus bertahan ya, Ches. Tetap perjuangkan kebahagiaan kamu! Jangan goyah walaupun kamu tahu kalau Yuga sudah mempersiapkan perpisahan kalian. Kita gak pernah tahu apa yang akan terjadi, 'kan?"
Mama Mirna mencoba menguatkan Chessi dan memberi semangat pada Chessi. Mendengar itu Chessi justru mengingat berkas gugatan cerai Yuga yang akan dikirim bulan depan. Itu masih menjadi tanda tanya besar untuk Chessi.
"Ma," panggil Chessi kemudian.
"Iya, kenapa?"
"Boleh Chessi tanya sesuatu? Sepertinya, mama tahu sesuatu."
Kening mama Mirna mengerut bingung.
"Apa?" tanyanya kemudian.
"Mama tahu kenapa Yuga dulu mau menikah sama aku? Ada syarat khusus atau suatu hal yang membuatnya mau menerima perjodohan ini?"
***