Xenia memutuskan untuk pergi ke kafe sejenak. Dia menghentikan mobilnya di salah satu tempat parkir. Dia kemudian keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju ke dalam kafe.
Karena dandanannya yang cantik dan ayu, wajar jika sepanjang jalan Xenia menjadi buah bibir dari orang-orang. Banyak yang membicarakan tentang kecantikannya. Baik mulai dari tubuh hingga paras dan rambutnya.
Semuanya dibahas oleh mereka. Xenia tidak mempedulikan betapa keras dan tajamnya mulut orang-orang yang berbisik. Dia tetap melenggang dan memesan sebuah minuman dan almond croissant.
Xenia telah mendapatkan pesanannya. Sekarang dia beranjak duduk di sebelah kaca jendela kafe. Kaca jendela itu sangat besar bahkan lebar sehingga siapa pun bisa melihat ke arah sisi luar tanpa batas penghalang.
Xenia memilih duduk di sana agar dia bisa leluasa melihat ke arah pemandangan luar. Xenia langsung menyeruput minumannya. Dia tadinya memesan Ice Caramello Chocolate.
Baginya, dalam situasi dan keadaan hati yang panas seperti ini paling cocok bila diberi minuman berupa es dingin. Begitu setelah pesanannya datang, Xenia langsung meminumnya.
Dia tidak lagi peduli pada pelayan yang masih berdiri di sampingnya. Setelah selesai meneguk, Xenia menoleh ke arah pelayan wanita tersebut.
"Kenapa lihat-lihat saya!" kata Xenia ketus.
"Tidak ada, Mbak. Hanya saja paras Mbak terlalu cantik," kata pelayan wanita tersebut.
Xenia langsung terdiam begitu mendengar perkataan dari seorang pelayan wanita. Tidak dapat dipungkiri wajah Xenia memang jelita sekali. Ditambah kulitnya yang putih mulus membuat kecantikannya semakin sempurna saja.
"Saya sedikit risih jika dilihatin seperti ini," kata Xenia.
"Ma-maafkan saya, Mbak," kata pelayan wanita tersebut.
"Jangan panggil saya Mbak. Panggilan itu tidak cocok buat saya," kata Xenia.
"Maafkan saya," kata pelayan wanita tersebut.
Xenia hanya menganggukkan kepala. Dia kembali menyeruput Ice Caramello Chocolatenya. Kerongkongan dan hatinya sudah merasa adem sekarang.
Dia mulai mengacuhkan sekitar. Hingga tak terasa, pelayan wanita itu akhirnya pergi meninggalkan Xenia seorang diri. Xenia tidak mempedulikannya.
Dia malah asyik menatap ke arah luar jendela. Nampak bahwa hujan tengah mengguyur bumi dengan tetesan air lebatnya. Bunyi tetesan airnya jatuh mengenai atap-atap hingga menimbulkan suara berisik.
Berisik. Namun Xenia sangat menyukainya. Dia menikmatinya. Baginya di saat kesal begini, suasana hujan memang sangatlah menyenangkan.
Xenia melamun. Tiba-tiba saja ponselnya bergetar. Membuat dia tersadar sepenuhnya. Dia segera menepis lamunannya dan kembali pada kenyataan saat ini.
Xenia langsung merogoh tas dan mengambil ponselnya. Sungguh suara deringnya mengganggu di gendang telinga. Xenia langsung mengangkat sambungan telepon yang ada di ponsel.
"Halo. Ada apa. Bukannya kamu tadi yang meninggalkan aku sendirian di mall," cerocos Xenia.
Xenia langsung terdiam. Suara yang terdengar dari ujung telepon bukanlah suara Juan. Melainkan suara kakaknya, Xerio.
"Oh. Kakak!" kata Xenia seketika.
Xenia langsung melepaskan handphone dan melihat ke arah layar handphonenya. Tertera nama Xerio Gentarini di sana.
Baru Xenia sadari bahwa yang meneleponnya bukan Juan melainkan Xerio. Xenia langsung menelan ludah dan buru-buru menempelkan ponsel di telinganya lagi.
"Ada apa ya, Kak. Xenia tidak bisa pulang sekarang. Xenia terjebak hujan ini," kata Xenia.
Xenia langsung menyeruput Ice Caramello Chocolate miliknya. Sambil mendengarkan kakaknya bicara, Xenia memandang ke arah luar jendela.
"Xenia lagi di kafe. Makan," kata Xenia.
Xenia kembali berhenti bicara. Dia kemudian memandang ke arah almond croissant yang sudah dia pesan.
"Jika sudah tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, lebih baik teleponnya aku matikan," kata Xenia.
Selang tak lama kemudian, Xenia langsung mematikan sambungan teleponnya. Dia lalu memasukkan lagi ponselnya ke dalam tas.
Setelah itu, Xenia langsung mengiris almond croissant dengan menggunakan pisau dan memasukkannya ke dalam mulut dengan menggunakan garpu.
Xenia makan dengan anggun sekali. Bisa dibilang sekali lahap kemudian dia mengunyahnya. Sementara pandangan matanya kosong menatap ke arah luar jendela.
"Haih!" hela Xenia.
Setelah selesai mengunyah makanan, Xenia lalu menelan makanannya. Selang tak lama kemudian, Xenia meminum minuman yang ada di hadapannya.
Sementara meminum Ice Caramello Chocolatenya, pandangan mata Xenia meluruh keruh. Tampaknya dia jenuh dengan keadaan saat ini.
Ingin dia segera pulang namun pada kenyataannya dia tak membawa payung. Menyebabkannya terjebak di dalam kafe saat ini.
"Xen!"
Sebuah suara tiba-tiba memanggil namanya. Xenia langsung menoleh ke sumber suara. Xenia mendapati adanya sosok perempuan yang berjalan ke arahnya.
"Nana!" sapa Xenia dengan riang gembira.
"Ada di sini juga kamu rupanya!" kata Nana.
Nana langsung duduk di sebelah Xenia. Perempuan dengan rambut wavy warna ash itu merupakan teman lama Xenia.
"Lagi kejebak hujan nih di sini," kata Xenia.
Xenia langsung menghentikan perkataannya. Dia memandang ke arah Nana yang sedang bertopang dagu menatap wajahnya.
"Apa kabar kamu? Sudah lama tidak ketemu," kata Nana.
"Aku baik-baik saja seperti yang kamu lihat," kata Xenia.
Nana lalu berdecak kagum. Merasa terpukau dan terkesima dengan gaya bicara dari Xenia.
"Makin cantik saja kamu sekarang," kata Nana.
Nana lalu menghentikan perkataannya. Dia kemudian menyeringai lebar. Sementara matanya tak hentinya menatap ke arah sosok Xenia.
"Kerja di mana sekarang?" tanya Nana.
"Boro-boro kerja. Aku saja baru lulus dari kuliah kok," kata Xenia.
Nana lalu tersenyum lebar. Matanya kemudian memandang sinis dan tajam ke arah sosok Xenia.
"Mau nggak kalau ditawari jadi model dari Orchid Cosmetics?" tanya Nana.
Xenia terkejut begitu mendengar perkataan Nana. Rasanya mustahil dirinya menjadi model.
"Tunggu sebentar. Itu brand dari sebuah kosmetik?" tanya Xenia.
Selang tak lama kemudian, Nana menganggukkan kepalanya. Xenia langsung mengernyitkan dahi dan menyeruput Ice Caramello Chocolate yang ada di depannya.
"Kenapa memilihku?" tanya Xenia.
"Karena kamu cantik dan pintar. Aku yakin kamu punya daya tarik sendiri," kata Nana.
Xenia manggut-manggut. Dia lalu mengerutkan kening dan memanyunkan mulutnya. Dia mengalihkan pandangannya menuju ke arah almond croissant.
"Kamu yakin memilihku?" tanya Xenia.
"Yakin sekali. Jadi kamu mau atau tidak?" Nana balik bertanya.
"Boleh. Sekalian aku mau mencobanya," kata Xenia.
Nana langsung tersenyum lebar. Dia merasa puas sekarang karena berhasil menggaet Xenia.
"Itu bisnis kamu?" tanya Xenia sambil melahap almond croissantnya.
Nana menggeleng. Sementara bibirnya masih menyunggingkan seraut senyum lebar yang menandakan bahwa dia sedang bersenang hati saat ini.
"Bukan. Itu usaha milik teman aku. Kebetulan lagi butuh seorang model," kata Nana.
"Kenapa bukan kau saja yang jadi modelnya?" tanya Xenia sambil menyeruput Ice Caramello Chocolatenya.
"Karena aku merasa tidak pantas. Lebih cocok kamu jika menjadi seorang model. Lagipula aku ini tidak tertarik untuk menjadi model," kata Nana.
Nana kemudian menghela napas panjang. Kedua matanya lalu memandang ke arah Xenia yang dirasanya cocok untuk menjadi seorang model.
Xenia lantas memandang ke arah Nana. Dia menatap Nana dengan pandangan yang aneh dan penuh rasa curiga.
"Oh jadi menurutmu aku pantas menjadi seorang model. Apa nama produknya tadi?" tanya Xenia.
"Orchid cosmetics," kata Nana.
"Baiklah. Aku setuju," kata Xenia.
Nana lalu terkesiap kaget. Dia tidak menyangka kalau Xenia akan menyetujui tawaran yang diberikan olehnya.
Nana kemudian merogoh dompetnya. Dia mengambil sebuah kartu nama dan memberikannya pada Xenia. Xenia segera menerima kartu nama tersebut.
"Itu kartu nama pemilik Orchid Cosmetics," kata Nana.
"Oh, okey!" kata Xenia.
"Kamu hubungi sendiri ya. Bilang saja dari Nana Heoteria," kata Nana.
"Kenapa harus dari kamu?" tanya Xenia.
Nana langsung berdecak. Tatapan matanya menatap ke arah Xenia dengan pandangan yang tajam dan dalam.
"Sebab aku yang merekomendasikan kamu di sana. Bilang kalau kamu kenalanku ya," kata Nana.
"Baiklah. Terima kasih banyak," kata Xenia.
Nana lalu memandang ke arah Xenia. Dia yang mengenakan pakaian cukup rapi dan elegan pastinya tujuannya bukan hanya ke kafe saja. Nana langsung tersenyum sinis.
"Aku yakin rencanamu pasti tidak hanya berkunjung ke kafe saja kan," kata Nana.
Xenia mengecap lidah. Dia kemudian menatap ke arah Nana dengan pandangannya yang datar dan kaku. Tak lama setelahnya, Xenia lalu menganggukkan kepalanya.
"Sebenarnya tadi aku berkunjung ke mall. Karena bertengkar dengan temanku, aku jadi tidak mood ke mana-mana. Jadilah aku ke kafe dan terjebak hujan," kata Xenia.
"Pantas saja. Kentara dari make up dan dandanan baju yang kamu pilih," ucap Nana.
"Kamu sendiri bagaimana?" tanya Xenia.
"Aku habis jumpa dengan teman lama," jawab Nana.
"Siapa?" tanya Xenia.
"Kiara Johan. Itu loh teman kita semasa duduk di bangku SMP," kata Nana.
Xenia lalu menganggukkan kepalanya. Dia ingat siapa saja teman-temannya dulu. Lumayan banyak namun yang berarti hanya beberapa saja.
"Kenapa dengan anak itu?" tanya Xenia.
"Dia akan menikah minggu ini. Kamu datang tidak ke acara pernikahannya?" kata Nana balik bertanya.
Xenia menggelengkan kepalanya. Tak lama kemudian, dia mencebikkan mulutnya. Matanya dengan anggun menatap ke arah Nana.
"Nggak datang lah. Orang aku nggak diundang," kata Xenia.
"Loh, kamu nggak diberi undangan dari Kiara?" tanya Nana.
"Nggak. Memangnya kenapa?" tanya Xenia balik.
"Aku kira kamu diundang," kata Nana.
Xenia kemudian menoleh ke arah kaca besar kafe yang menampakkan panorama alam luar. Setelah menyadari bahwa hujan sudah reda, buru-buru Xenia menghabiskan minumannya. Dia lalu memandang ke arah Nana.
"Sudahlah itu tidak penting. Sekarang hujannya sudah reda. Aku mau pulang saja," kata Xenia.
Xenia lalu memberikan sebuah senyuman manis pada Nana. Dia kemudian lekas bangkit berdiri.
"Thank's ya kartu nama dan saran kerjaannya. Besok aku akan ke sana," ujar Xenia sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Iya, sama-sama. Hati-hati di jalan kamu," kata Nana.
"Iya. Aku duluan ya," ucap Xenia.
Nana hanya menganggukkan kepalanya untuk membalas ucapan Xenia. Xenia lalu melenggang menuju ke arah kasir dengan anggunnya. Pandangannya menatap searah lurus ke depan. Setibanya di depan kasir, Xenia langsung membayar semua bill pesanannya.
Setelah tak mendapat uang kembalian, Xenia mendapat struck. Dia kemudian merobek struck dan membuangnya di tempat sampah. Dia berjalan menuju ke mobilnya dan begitu dia sampai di dalam mobil, dia langsung menyalakan mesin mobil.
Mobil telah menyala kemudian. Xenia lalu melajukannya menuju ke arah rumahnya. Dengan kecepatan yang di atas rata-rata, Xenia mengendarai mobilnya di jalan raya. Lampu merah menghentikan perjalanannya. Terpaksa Xenia berhenti.
Karena macet dan terlalu lama menunggu, akhirnya Xenia menyalakan radio yang ada di dalam mobil. Sambil mendengarkan musik, Xenia bersenandung dan bernyanyi-nyanyi kecil. Tak lama kemudian, lampu lalu lintas berubah menjadi warna hijau.
Xenia pun melajukan kembali mobilnya. Tak butuh waktu lama di perjalanan. Kini Xenia telah sampai di depan rumahnya. Xenia langsung memasukkan mobilnya ke dalam bagasi. Selang tak lama kemudian, Xenia turun sambil membawa barang belanjaannya.
"Kamu belanja lagi?" pergok Xerio dari ruang tamu.
Xenia langsung menoleh dan memperhatikan kakaknya yang sedang bermain laptop ditemani dengan secangkir kopi hangat di atas meja.
"Iya, memangnya kenapa?" tanya Xenia.
"Dasar. Kelakuanmu yang konsumtif itu cukup membuat beban di keluarga," kata Xerio.
Xenia lantas berdecak begitu mendengar perkataan Xerio. Dia lalu menunjukkan tas belanjaannya pada Xerio.
"Coba lihat nih. Aku hanya beli perhiasan saja. Kalung liontin," kata Xenia.
Xenia lalu menghela napas. Dia kemudian duduk di sofa sebelah Xerio.
"Padahal ini masih kurang. Biasanya aku malah belanja dua kali lipat dari hari ini. Aku masih belum puas belanja sebenarnya," kata Xenia lagi.
"Lantas kenapa kamu tidak belanja sepuas kamu?" tanya Xerio sambil melepas kaca matanya.
"Itu karena ... Mood belanjaku mendadak tiada tadi. Masa aku habis bertengkar dengan Juan hanya karena masalah sepele. Dan dia meninggalkan aku sendirian di dalam mall," kata Xenia.
"Oh si Juan. Tadi dia mampir ke sini tuh. Semuanya terlihat baik-baik saja," kata Xerio.
Xenia sontak langsung membelalakkan matanya. Dia syok dan terkejut lantaran Juan malah main ke rumahnya.
"Kenapa Juan malah ke sini. Aku kira dia meninggalkan aku tanpa pesan sedikitpun," ucap Xenia.
"Juan bilang kamu belanja lagi. Ada barang yang harus diberikannya kepadaku perihal pekerjaan. Apa kamu lupa kalau Juan adalah salah satu pegawaiku di perusahaan," kata Xerio.
"Oh ya. Aku tahu. Tapi kenapa dia tidak bilang-bilang padaku kalau tujuannya adalah ke rumah," kata Xenia.
"Itu karena aku yang menyuruhnya datang ke sini. Tadinya aku ada perlu dengan dia," ujar Xerio.
Xerio lantas menoleh ke arah Xenia. Dia memandang adiknya dengan tatapan matanya yang datar dan kaku.
"Lagipula, kamu sudah lulus dari kuliah di Australia. Apa nggak berniat untuk mencari pekerjaan sedikitpun?" tanya Xerio.
Xenia menggelengkan kepalanya. Dia lalu menoleh dan memandang ke arah Xerio dengan tatapannya yang enggan.
"Nggak, ah. Xenia masih pingin menghabiskan waktu Xenia dengan pergi shopping dulu. Xenia kan masih baru saja lulus. Masa sudah kerja aja," kata Xenia mengungkapkan pemikirannya.
Xerio menghela napas. Dia kemudian mengusap dahi hingga rambutnya ke belakang.
"Daripada nganggur, mending kamu coba deh jadi sekretaris di perusahaanku," kata Xerio mengusulkan sebuah ide pada Xenia.
"Jadi sekretaris di perusahaan kakak? Apa Xenia nggak salah dengar," ucap Xenia.
Xerio menggelengkan kepalanya. Sementara kedua matanya masih memandang ke arah Xenia.
"Nggak lah. Ngapain kamu salah dengar. Aku serius ini," kata Xerio.
Xenia kemudian menatap ke arah wajah Xerio. Tidak tersirat sedikitpun rasa bercanda di dalam wajahnya. Agaknya Xerio tidak main-main kali ini. Xenia pun langsung mencebikkan mulutnya.
"Mulai kapan Xenia akan bekerja di perusahaan kakak?" tanya Xenia.
"Mulai minggu depan. Mumpung sekretaris di perusahaan kakak kosong, belum ada yang nempatin," ujar Xerio.