Seorang pria muda tengah sibuk membaca berkas ditangannya. Beberapa berkas tampak berserakan memenuhi meja kerjanya. Ia begitu serius dalam membaca hingga tidak menyadari seseorang masuk ke dalam ruang kerjanya dan berjalan menghampirinya.
“Kak!”
Teriakan seorang gadis muda mengejutkannya hingga pemuda itu hampir terjatuh dari kursinya. Ia mendongak ke arah sumber suara dan melihat gadis muda dengan rambut panjang yang mengenakan piyama berwarna merah muda berdiri di depan meja kerjanya. Pemuda bernama Adrian itu mengambil nafas dalam-dalam untuk menenangkan jantungnya yang berdetak kencang.
“Kau mengejutkan kakak, Alexa. Ada apa?”
“Aku tidak bermaksud mengejutkan Kakak. Aku bahkan memanggil nama kakak tiga kali tapi kakak hanya diam.” Ujar Alexa dengan wajah cemberut.
“Oh, benarkah? Maafkan kakak. Jadi ada apa?”
Alexa berjalan menghampiri Adrian dengan senyum malu. Adrian mengangkat alis melihat tingkah adiknya. Dia tahu adiknya pasti menginginkan sesuatu jika dia bertingkah seperti itu. Adrian hanya terdiam dan menunggu adiknya untuk mengatakan sesuatu. Alexa menatap kakaknya dan berdeham untuk menghilangkan kegugupannya.
“Ehm... Jadi aku ingin bertanya, bisakah aku meminta uang pada kakak? Maksudku tidak banyak, hanya Rp 700.000. Please?” ujar Alexa dengan wajah memohon.
Adrian menatap adiknya sebentar lalu menghela nafas. Ia mengambil ponselnya dan mengirimkan sejumlah uang ke rekening adiknya. Bunyi notifikasi berasal dari ponsel Alexa dan secepat kilat Alexa mengecek ponselnya. Dengan senyum lebar Alexa mendongak dari ponselnya untuk menatap kakaknya. Alexa menghampiri Adrian dan memeluknya dengan erat lalu mencium pipi kirinya.
“Terima kasih, Kak. Aku menyayangimu.” Ucap Alexa lalu berlari keluar dari ruang kerja Adrian.
Adrian hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku adiknya. Belum sempat ia bertanya untuk apa uang itu, Alexa sudah melesat pergi meninggalkannya. Dia tahu orang tuanya memberikan uang saku bulanan untuk Alexa dengan sejumlah uang yang cukup banyak untuk ukuran anak usia 16 tahun. Orang tuanya terlalu memanjakan adiknya, termasuk dirinya. Hanya saja Adrian merasa Alexa boros akhir-akhir ini. Adrian memikirkan adiknya sebentar dan memutuskan untuk bertanya pada ibunya. Dia bangkit dari kursinya dan keluar dari ruangan untuk mencari ibunya. Beberapa saat kemudian Adrian berhasil menemukan ibunya yang sedang minum teh sambil menonton televisi. Ibunya menoleh ketika mendengar Adrian memanggilnya dan meminta Adrian untuk duduk di sampingnya.
“Mah, Alexa tadi meminta uang padaku. Aku perhatikan akhir-akhir ini dia agak boros.” Terang Adrian.
“Benarkah? Kau tahu sendiri adikmu itu hobi berbelanja. Biarkan saja, Mamah akan mengganti uangmu kalau begitu.”
“Tidak usah, aku tidak mempermasalahkan uang itu. Aku hanya bertanya soal Alexa.”
Ibunya hanya menganggukkan kepalanya dan menyesap secangkir teh. Wanita paruh baya itu memutar posisi duduknya untuk menghadapi anak lelaki satu-satunya itu setelah meletakkan cangkir teh di atas meja. Dia menghela nafas sebelum berbicara dengan nada serius.
“Nak, kau tahu hanya ada satu pertanyaan dariku untukmu bukan?” ujar Ibu Haris pada anaknya.
“Aku tahu tapi aku belum ingin menikah, Mah.” Ujar Adrian sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa yang empuk.
“Tapi mau sampai kapan? Usiamu sudah 28 tahun dan kamu sudah lebih dari pantas untuk menikah. Perusahaan yang kamu rintis sudah mulai berkembang pesat, kamu sudah menjadi pengusaha muda yang kaya. Mamah lihat banyak perempuan di luar sana yang mau denganmu, tapi kamu tidak tampak tertarik. Kamu bahkan menolak semua usaha Mamah untuk mengenalkanmu pada anak dari teman-teman Mamah.”
“Mah, Adrian bukannya tidak mau. Hanya saja memang tidak ada yang pas di mata Adrian, itu saja.”
“Kamu mau cari kriteria yang seperti apa? Atau...”
Ibu Haris menatap anaknya dengan mata lebar sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Adrian mengernyit melihat ekspresi ibunya.
“Apa?”
“Sayang, kamu bukan...kau tahu? Gay?”
“Apa?! Tentu saja tidak. Aku masih normal, Mah, terima kasih banyak.”
Ibunya mendesah lega sebelum bertanya sekali lagi, “Kalau begitu, Mamah sudah membuat pengaturan untuk pertemuanmu dengan anak Tante Dinna, siapa namanya lagi? Oh iya, namanya Anna. Kamu mau, kan?”
Adrian hanya menatap ibunya dengan tatapan bosan hingga ia menghela nafas kekalahan dan hanya menganggukkan kepalanya. Ibunya berteriak kegirangan sambil memeluknya dan mencium pipi anaknya. Adrian hanya pasrah dan melakukan itu untuk menyenangkan ibunya.
***
Adrian merebahkan tubuhnya di sofa tanpa melepaskan sepatunya. Rumah tampak sepi. Adrian melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 18.00. Adrian menutup matanya dengan lengan kanannya dan mengistirahatkan dirinya sebentar. Bukan pekerjaan yang membuatnya lelah, dia baru saja bertemu dengan gadis bernama Anna yang sudah diatur oleh ibunya. Anna adalah wanita muda cantik berusia 25 tahun. Dia cantik, berkulit putih, tinggi dan bentuk tubuh proporsional. Anna bekerja sebagai pramugari dan tentu saja dia sangat pintar. Adrian yakin semua lelaki menginginkannya tapi sayangnya itu bukan dia. Adrian menyukai wanita dengan karakter yang kuat tapi bersikap lembut dan baik hati. Adrian akui dia cukup menyukai Anna, hanya saja ada sesuatu yang tidak klik dihatinya. Adrian menghela nafas lagi dan bangkit untuk ke kamarnya. Dia memiliki apartemen sendiri tapi berada di sana hanya menambahkan perasaan kesepiannya.
Adrian melangkahkan kakinya untuk pergi ke kamarnya sampai dia melihat adiknya masuk ke rumah dengan wajah sedih dan muram. Alexa berjalan melewatinya tanpa menoleh ke arahnya. Adrian memanggil nama adiknya tapi Alexa hanya menatap Adrian dengan matanya yang merah dan berjalan kembali menuju kamarnya.
“Dia habis menangis, tapi kenapa?” tanya Adrian pada dirinya sendiri.
Dia ingin mengejar adiknya dan bertanya ada apa dengannya tetapi dia memutuskan untuk memberikan Alexa waktu.
Makan malam terasa sunyi, hanya suara dentingan sendok dan garpu. Adrian melirik ke arah Alexa untuk kesekian kalinya. Alexa tampak begitu tenang, yang sangat tidak biasa bagi Adrian. Dia melirik ke arah orang tuanya yang sepertinya juga memperhatikan ketenangan Alexa. Ayahnya menatap Adrian seolah bertanya apa yang terjadi. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ibunya melihat kesusahan pada wajah putrinya dan berdehem sebelum berbicara.
“Sayang, kamu baik-baik saja?”
Alexa mengangkat kepalanya dan melihat anggota keluarganya yang menatapnya. Alexa hanya mengangguk dan tersenyum kecil lalu melanjutkan makannya kembali. Ketiga orang dewasa itu saling melirik dan tidak ada yang bertanya sekali lagi. Keheningan ruang makan pecah ketika Pak Haris berbicara pada Adrian soal bisnis. Adrian menjelaskan bagaimana perkembangan perusahaannya pada ayahnya. Dia bangga perusahaan periklanannya yang dia rintis ketika jaman kuliah dulu kini berkembang pesat hingga memiliki karyawan yang cukup banyak. Suasana hatinya sangat cerah ketika menceritakan bagaimana perkembangan perusahaannya hingga ibunya mengajukan pertanyaan yang membuat suasana hatinya berubah.
“Bagaimana dengan pertemuan dengan Anna? Dia gadis yang cantik bukan?”
“Siapa Anna?” tanya ayahnya.
“Anna itu anaknya Bu Dinna dan Pak Leo, Pah. Dia seorang pramugari, usianya 25 tahun, dan cantik. Mamah rasa dia cocok untuk anak kita, Pah.” Jelas mamahnya dengan mata berseri-seri.
Adrian menangkap ayahnya melirik dan mengangkat kedua alis untuk meminta jawaban. Dia tahu ayahnya tidak ingin ikut campur dengan kehidupan pribadi anaknya, hanya saja ayahnya kadang menikmati bagaimana melihat ketidaknyamanan anaknya ketika istrinya mulai mendesak soal pernikahan.
“Hmm...Anna memang cantik.” Ucap Adrian singkat.
“Benarkah? Jadi kalian akan terus berlanjut?” tanya ibunya penuh harapan.
“Entahlah, kami memutuskan untuk terus berkomunikasi lebih dulu.” Ujar Adrian pada ibunya.
Ibunya mengangguk dengan semangat sambil tersenyum lebar. Adrian mendesah lega dengan pelan karena ibunya tidak mengajukan pertanyaan atau mendesaknya untuk menceritakan pertemuannya dengan Anna. Suara kursi bergeser mengalihkan pandangannya dan dilihatnya Alexa bangkit dari kursinya.
“Aku sudah selesai. Aku akan kembali ke kamar untuk mengerjakan pekerjaan rumah.” Ujar Alexa lalu berjalan menjauh dari meja makan.
“Ada apa dengannya? Dia terlalu pendiam hari ini.” Ayahnya bertanya pada ibunya dan Adrian.
Ibunya hanya menggelengkan kepalanya dengan tatapan bingung.
Sudah beberapa hari ini Adrian memperhatikan adiknya yang menjadi lebih pendiam. Jika ditanya olehnya atau ibunya, Alexa hanya akan berkata bahwa dia hanya lelah. Ibunya mungkin membeli alasan Alexa tapi tidak untuk Adrian. Meski jarak usia mereka cukup jauh, Adrian mengenal adiknya cukup dekat. Dia yakin ada sesuatu yang terjadi pada adiknya. Adrian ingin mencari tahu tapi ia begitu sibuk dengan pekerjaannya.
Adrian memasuki apartemennya setelah menyelesaikan rapat bersama beberapa karyawannya. Dia melihat waktu menunjukkan pukul 23.00 WIB. Adrian berjalan menuju kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur tanpa mengganti pakaian kerjanya. Dia memejamkan mata berharap tidur mengambil alih dan menghilangkan kelelahannya. Baru saja matanya terpejam, suara dering ponsel mengejutkannya. Adrian bergegas mengambil ponsel dari saku celananya dan menjawab panggilan tanpa melihat nama si pemanggil.
“Halo..”
“Adrian, datanglah ke rumah sakit. Sekarang!”
Adrian menjauhkan ponselnya dan melihat nama ayahnya tertera di layar ponsel.
“Papah, ada apa? Apa mamah baik-baik saja? Apa yang terjadi?” tanya Adrian panik.
“Ini bukan mamahmu. Ini adikmu.” Ujar ayahnya terdengar sedih.
“Kenapa dengan Alexa?” tanya Adrian yang sembari bergegas keluar dari kamarnya dengan dompet dan kunci mobil di satu tangannya.
Adrian mendengar ayahnya mendesah. Dan ucapan ayahnya membuat Adrian membeku.
“Adikmu melakukan tindakan bunuh diri.”
Adrian berlari sepanjang lorong rumah sakit menuju ruang UGD. Dia melihat kedua orang tuanya setelah ruang UGD semakin dekat. Dengan terengah-engah, Adrian berjalan perlahan mendekati ibunya yang menangis. Dia berjongkok di depan ibunya dan memeluknya. Tangisan ibunya semakin keras dan Adrian hanya bisa memeluknya lebih erat. Dia melirik ayahnya yang duduk di sebelah ibunya dengan tatapan bertanya. Ayahnya hanya menghela nafas dan menundukkan kepala. Setelah keheningan yang cukup mencekam, seorang dokter diikuti oleh beberapa perawat keluar dari ruang UGD. Adrian bersama kedua orang tuanya bergegas berdiri dan menghampiri dokter.
“Dokter..” hanya itu ucapan yang keluar dari mulut pak Haris.
“Anak Anda untungnya masih terselamatkan. Dia terkena benturan yang cukup keras di bagian kepala, itu yang menempatkan anak Anda dalam keadaan koma. Kami tidak tahu kapan anak Anda akan bangun dari koma tapi kami akan terus memantaunya.” Jelas dokter.
Ibunya semakin merosot dalam pelukan Adrian setelah mendengar penjelasan dokter dan mulai terisak kembali. Ayahnya meminta ijin pada perawat agar mereka bisa melihat Alexa yang diijinkan oleh pihak rumah sakit. Adrian melihat adiknya yang terkulai lemah di atas ranjang rumah sakit dengan peralatan medis yang berada di tubuhnya. Air mata panas mulai ia rasakan. Dia tahu ada sesuatu yang salah dengan adiknya.
Kenapa aku tidak mencari tahu?
Kenapa aku tidak mendesaknya untuk menceritakan apa yang salah?
Kata-kata itu terus berputar di kepalanya. Adrian merasa bersalah karena tidak bisa meluangkan waktu untuk adiknya. Lamunannya terhenti ketika ia merasakan tepukan halus di pundaknya. Adrian menoleh dan mendapati ayahnya berdiri di sisinya.
“Pulang dan beristirahatlah. Marni yang akan menjaga Alexa.” Ujar ayahnya.
Adrian menggelengkan kepalanya lalu bertanya tentang situasi Alexa.
“Papah bilang bahwa Alexa bunuh diri, tapi perawat bilang padaku Lexa mendapatkan luka karena tertabrak mobil. Apa yang terjadi?”
Ayahnya menghela nafas lalu duduk di samping kiri anaknya dan mulai berbicara.
“Tidak ada yang tahu bagaimana kejadian yang sebenarnya. Seorang pengendara motor kebetulan melintasi jalan itu dan menemukan adikmu tergeletak di tengah jalan tak sadarkan diri.”
“Tidak ada saksi mata yang melihat Lexa, kan? Lalu kenapa dia dinyatakan mencoba bunuh diri?”
“Lexa bilang pada mamahmu bahwa dia akan menginap di rumah Lily sepulang sekolah. Ketika papah bertanya pada Lily, dia bilang Alexa memang ke rumahnya dan pamit pulang pada pukul 19.00, sedangkan Alexa tertabrak pada pukul 22.00. Kita tidak tahu apa yang dilakukan Alexa antara pukul 19.00 hingga 22.00. Polisi meminta pada keterangan pada Lily tentang sikap Lexa yang mencurigakan dan Lily mengatakan bahwa akhir-akhir ini Lexa tampak murung dan selalu bersedih karena alasan pribadi. Tapi Lily tidak akan menyangka Lexa akan melakukan tindakan seperti ini, termasuk kita.”
“Pah, apa papah yakin? Maksudku kita sudah mendapatkan ancaman akhir-akhir ini. Apakah kejadian ini tidak mengindikasikan ke arah itu?” bisik Adrian.
Papahnya menggelengkan kepalanya, “Tidak, papah tidak berpikir itu ada kaitannya dengan ancaman yang kita dapatkan. Tapi papah akan membayar detektif swasta untuk mencari tahu.” Jelas papahnya.
Adrian terdiam mendengarkan penjelasan dari ayahnya dan hanya menganggukkan kepalanya. Tapi dari gelagat adiknya, Adrian juga ragu bahwa kejadian ini hanya kecelakaan atau percobaan pembunuhan. Dia berniat untuk bertanya pada Lily nanti tentang masalah pribadi apa yang dimiliki adiknya. Pemikirannya terputus sekali lagi ketika ayahnya mulai berbicara sekali lagi.
“Masalahnya bukan itu saja, Nak.”
“Ada apa?”
“Mobil yang menabrak Alexa sempat membanting kemudi. Sayangnya usahanya tidak cukup cepat dan menabrak adikmu lalu mobil itu terbalik karena menabrak pembatas tengah jalan. Sekarang pengemudi itu juga mengalami koma karena luka yang cukup parah dibandingkan dengan Alexa.”
Adrian hanya menghela nafas. Ini adalah kekacauan.
“Jadi, apa yang harus kita lakukan?” tanya Adrian.
“Papah sudah meminta sekretaris papah untuk membiayai rumah sakit dan pengobatan orang itu. Sayangnya mereka menolaknya dan mengatakan itu sudah diatur. Dan kau tahu, pengemudi itu seorang wanita muda. Berdasarkan keterangan sekretaris papah, kekasih gadis itu sangat marah dan menyalahkan pihak kami. Sebaiknya cari pengacara terbaik hanya untuk berjaga-jaga. Apa kamu bisa?”
“Aku mengerti.”
Adrian masih terduduk di depan ruang ICU dengan pikiran yang berat. Setelah berdebat dengan dirinya sendiri, Adria bangkit dari kursi dan berjalan ke arah resepsionis. Dia berencana untuk bertanya dan melihat bagaimana nasib pengemudi itu. Setelah diberitahu, Adrian mencari ruang rawat si pengemudi itu yang rupanya hanya berjarak dua kamar dari ruangan Alexa dirawat. Adrian berdiri di depan pintu ruangan itu dan ragu-ragu apakah harus masuk atau tidak.
“Siapa kau?”
Suara seorang pria muda mengejutkannya. Adrian berbalik dan menatap pria itu yang berdiri di hadapannya sambil membawa kantong plastik. Dia tampak seusia dengan Adrian dan memakai pakaian jas hitam. Mungkin dia karyawan kantoran atau orang penting, pikir Adrian. Pria itu mengangkat alisnya untuk mendapatkan jawaban.
“Oh, perkenalkan namaku Adrian.” Ujar Adrian sambil menyodorkan tangannya.
Pria itu hanya menatap tangan Adrian beberapa detik lalu mengalihkan pandangannya ke wajah Adrian dengan tatapan bosan. Pria itu hanya terdiam dan Adrian berdeham canggung.
“Aku adalah kakak dari Alexa, gadis yang tertabrak mobil pacarmu. Aku...”
“Aku bukan pacarnya dan bukankah adikmu yang menabrakkan dirinya ke mobil temanku seperti yang dikatakan polisi?” Tanya pria itu memutuskan ucapan Adrian.
Adrian hanya mengangguk dan menundukkan wajahnya. Ia hanya terdiam, tidak harus berkata apa-apa. Adrian menoleh ketika mendengar pria muda itu mendesah berat.
“Dengar, apa yang terjadi pada temanku memang tidak sepenuhnya salah adikmu, hanya saja...yah adikmu yang memicu kecelakaan ini.”
“Jadi, kenapa kau di sini?” Tanya pria itu lagi.
“Aku hanya ingin melihat keadaan temanmu.”
“Dia belum sadar. Dia koma. Kudengar adikmu juga?”
Adrian mengangguk dan meminta ijin untuk melihat keadaan pengendara mobil itu. Untungnya pria muda itu memperbolehkannya dan mempersilahkan Adrian masuk. Ketika memasuki kamar rawat, ia melihat seorang wanita muda yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan peralatan medis di tubuhnya. Dari penampilannya, sepertinya wanita ini mengalami luka yang cukup serius dibanding dengan adiknya. Beberapa goresan dan lebam di wajah wanita muda itu dengan penyangga yang terpasang di bagian leher dan kaki serta tangan. Meskipun begitu, dia bisa melihat wajah cantik di antara luka-lukanya.
“Dia terluka sangat parah.”
Adrian berbisik tanpa sadar yang sayangnya didengar oleh pria muda yang berdiri di sampingnya. Dia melewati Adrian dan berjalan menghampiri sisi kanan ranjang. Pria itu duduk di kursi dengan menghadap ke arah Adrian yang masih berdiri di ujung tempat tidur.
“Dia mengalami luka cukup parah karena tubuhnya yang terjepit mobil. Dokter mengatakan bahwa dia beruntung ditemukan hidup meskipun kami tidak tahu kapan dia akan bangun.” Ujarnya.
Adrian menatap pria muda itu yang kini menatap wanita yang terbaring lemah. Tatapannya penuh kasih sayang meski dengan ekspresi lurus. Itu seperti cara dia menatap Alexa. Tidak tahu apa lagi yang harus dikatakan, Adrian hanya meminta maaf dan pamit meninggalkan kamar itu. Sebelum keluar, Adrian menoleh pada wanita itu untuk terakhir kalinya. Ia menghela nafas. Rasa bersalah menyelimuti hatinya tapi tetap saja ia tidak ingin menyalahkan adiknya. Bagaimana pun juga, Adrian belum tahu pasti tentang kejadian ini tapi dia akan mencari tahu.
Kaylee mengecek ponselnya berkali-kali, melihat apakah ada notifikasi pesan yang masuk. Ketika ia tidak mendapatkan apa-apa, pandangannya beralih ke arah jalan yang sepi. Ia menghela nafas berat karena rasa kantuk dan lelah.
“Aish...berapa lama lagi aku harus menunggu.” Keluh Kaylee.
Ia menyandarkan kepalanya pada kursi pengemudi. Ya, dia sudah menunggu setidaknya tiga jam di dalam mobil. Kebosanan dan kelelahan terasa hampir membunuhnya. Kaylee atau Kay memutuskan untuk menutup matanya sebentar. Tiba-tiba pintu mobil terbuka hingga membuat Kay membuka matanya dan duduk tegak. Dilihatnya seorang pria berusia 35 tahun kini duduk di kursi penumpang. Pria yang masih memakai seragam jaksa pengadilan memberi perintah pada Kay dengan menganggukkan kepalanya. Tanpa basa-basi, Kay menyalakan mesin mobil dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan normal.
Kay tiba di rumahnya pada pukul sepuluh malam. Ia masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya yang lelah. Kay baru saja memejamkan matanya ketika ia mendengar seseorang memasuki kamarnya. Ia membuka matanya dan melihat seorang pria dengan keadaan cukup berantakan masuk ke dalam kamarnya.
“Hei, apa yang terjadi padamu? Kau seperti habis berkelahi.” Tanya Kay.
Pria bernama Daniel itu duduk di samping Kay yang merebahkan diri sambil mendesah.
“Seorang pria memutuskan untuk menguji kesabaranku di dalam bar.” Ujar Daniel yang kini ikut berbaring di samping Kay.
“Kau pergi ke bar? Tanpa mengajakku?” tanya Kay tak percaya.
“Hei, bukan salahku bahwa kau sibuk. Lagi pula, jaksa Sebastian hanya menginginkan kamu untuk menjadi pengawalnya, kan?”
Kay mendengus.
“Aku lebih seperti sopir dibandingkan dengan pengawal.”
Kay bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke lemari pakaiannya sambil membuka jas yang masih menempel ditubuhnya. Dia tidak peduli pada Daniel yang masih berbaring di tempat tidurnya sambil menutup mata. Kay dan Daniel adalah sahabat dekat dan mereka selalu bersama bahkan di tempat kerja. Mereka lebih seperti saudara kembar. Banyak rekan-rekan kerja yang berasumsi bahwa mereka pasangan. Kay dan Daniel hanya mengangkat bahu dan tidak repot-repot menjelaskan.
“Hei, aku baru ingat sesuatu. Aku ingin besok kau datang bersamaku untuk mengantarkan pak Sebastian.” Ujar Kay yang sedang memakai piamanya.
Kay melihat Daniel membuka matanya dan bersandar pada sikunya untuk menghadap ke arahnya yang sedang berganti pakaian. Dia melihat tampilan bingung Daniel melalui refleksi cermin.
“Kenapa? Bukannya aku mengeluh, tapi bukankah Sebastian hanya ingin kau yang menjemputnya?”
“Aku melihat sebuah mobil yang sepertinya mengintai kami.” Ujar Kay yang kini berjalan menghampiri Daniel.
“Benarkah?”
Kay mengangguk. Ini sudah hampir sebulan setelah jaksa Sebastian mendapatkan ancaman dan usaha pembunuhan. Bagaimana tidak? Jaksa Sebastian saat ini sedang mengurus tentang tindakan korupsi yang dilakukan salah satu pejabat. Jaksa Sebastian meyakini bahwa korupsi ini akan membawa beberapa nama pejabat tinggi sehingga sangat berisiko tinggi. Sebastian tidak menerima tindakan suap. Itulah yang menyebabkan dia berada dalam situasi yang cukup berbahaya baginya hingga dia menyewa empat pengawal pribadi termasuk Kay dan Daniel. Meskipun Kay adalah wanita, dialah yang menjadi penanggung jawab pengawalan.
“Aku ingin kau dan Erik untuk mengikutiku ketika aku mengantarkan jaksa Sebastian dengan menggunakan mobil lain.”
“Baiklah.” Ucap Daniel pelan.
Kay menatap Daniel yang hampir tertidur di kasurnya yang empuk. Dia mendorong Daniel dari kasurnya dengan keras hingga lelaki berusia 30 tahun itu terjatuh ke lantai. Kay menahan tawa ketika mendengar Daniel mengaduh dan mengumpat.
“Pergilah pulang, aku ingin tidur. Besok jangan datang terlambat.” Ujar Kay yang kini berbaring siap untuk tidur.
“Kay, tidak bisakah aku menginap?” rengek Daniel
“Tidak. Pergilah. Aku sedang merenovasi kamar tamu jadi tidak ada tempat untukmu. Kau bisa menginap dan tidur di sofa.”
Daniel mendengus kesal dan berjalan meninggalkan kamar Kay untuk membiarkannya beristirahat. Daniel hampir menutup pintu kamar ketika ia mendengar suara Kay yang terdengar lelah.
“Hati-hati di jalan.”
Daniel tidak menjawab dan hanya tersenyum.
Kay memeriksa setiap sudut jalanan untuk melihat sesuatu yang mencurigakan tapi tidak mendapatkan apa-apa. Dia sudah berada di dalam mobil untuk mengantarkan jaksa Sebastian ke kantornya. Ia melirik ke arah kaca dashboard dan melihat jaksa Sebastian sudah memasuki mobil. Dia menoleh pada Kay dan tersenyum padanya yang dibalas oleh Kay. Kay menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang aman sambil melirik sesekali melalui kaca dashboard untuk mengecek situasi. Rupanya itu diperhatikan oleh jaksa Sebastian.
“Ada apa?” tanyanya dengan ekspresi khawatir.
Kay melirik ke arahnya melalui kaca sambil berpikir sebelum menjawab.
“Sepertinya kita diikuti. Aku melihat sebuah mobil sedan hitam yang terus mengikuti dan menunggumu di kantor kemarin.”
“Benarkah? Lalu apa yang harus kita lakukan?” ujar jaksa muda itu terdengar panik.
“Jangan khawatir, aku akan memikirkannya.”
Jaksa Sebastian hanya menganggukkan kepalanya. Kay bisa mengerti jika jaksa Sebastian takut saat ini. Dia sudah mengalami usaha pembunuhan sebanyak tiga kali dan surat ancaman yang datang padanya secara bertubi-tubi.
Perjalanan menuju kantor berjalan dengan lancar meskipun kedua orang di dalam mobil berada di dalam pikiran masing-masing. Kay berhasil mengantarkan jaksa Sebastian ke kantornya tanpa insiden apa pun. Kay memutuskan untuk masuk ke dalam bersama jaksa Sebastian. Yang terakhir menatapnya dengan pertanyaan tak terucap tapi Kay hanya terus berjalan.
Waktu terus berjalan dan Kay benar-benar mulai bosan. Dia hanya berjalan-jalan di sekitar lingkungan kantor. Bahkan dia sudah meminum tiga gelas cangkir kopi untuk menghilangkan kepenatannya. Dia mendapatkan kabar dari Daniel yang berada di luar gedung bahwa mobil sedan hitam yang mengikuti jaksa Sebastian kini terparkir tak jauh dari gedung perkantoran. Sayangnya, Daniel tidak bisa melihat orang di dalam mobil karena mereka menggunakan kaca gelap. Kay melirik jam di tangannya dan melihat waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Ia menghela nafas dan duduk di depan ruang kerja jaksa Sebastian.
“Kenapa dia selalu pulang larut malam hanya untuk bekerja? Aku bahkan tidak pernah melihat dia berkencan atau pergi ke klub malam atau apa pun. Hidupnya sangat membosankan.” Ujar Kay pelan sambil menyandarkan kepalanya di dinding.
Suara derit pintu membuatnya duduk tegak dan melihat jaksa Sebastian keluar dengan menenteng tas kerja dan jas yang disampirkan di bahu kanannya. Ia hanya memakai kemeja putih yang memperlihatkan bentuk tubuhnya yang proporsional. Itu adalah pemandangan yang indah untuk Kay dan dia menyadari bahwa ia sudah menyia-nyiakan waktunya karena tidak memperhatikan sebelumnya. Kay hanya menatap jaksa Sebastian yang berjalan menghampirinya.
Kenapa aku tidak memperhatikan bahwa klienku sangat tampan? Batin Kay.
“Ayo pulang.” Ujar jaksa Sebastian membuyarkan lamunan Kay.
“Apa? Oh iya, pulang.” Ujar Kay sambil bangkit dari tempat duduknya.
Mereka berdua berjalan keluar dari gedung perkantoran. Kay ingin menepuk dahinya karena berpikiran yang tidak-tidak. Ini adalah efek kesendiriannya yang berlangsung selama tiga tahun. Seharusnya aku benar-benar mencari teman kencan, keluh Kay dalam hati.
Langkah mereka terhenti ketika suara dering ponsel Kay terdengar. Kay melihat nama Daniel tertera di layar ponselnya. Kay mengangkat panggilan dan bertanya pada Daniel.
“Ada apa?”
“Pengemudi mobil itu sempat keluar dari mobilnya. Mereka terdiri dari dua orang. Erik berhasil melihat dari jarak dekat. Kau harus berhati-hati, mereka memiliki senjata api.”
Kay mengernyitkan dahinya setelah mendengar penjelasan Daniel dan mulai memikirkan jalan keluar. Ini bukan pertama kalinya dia situasi seperti ini tetapi itu tidak membuatnya tidak khawatir karena ia bertanggung jawab atas keselamatan kliennya. Sebastian sepertinya melihat sikap Kay sehingga mengajukan pertanyaan yang hanya diabaikan oleh Kay.
“Di mana mereka sekarang?”
“Tepat di depan gedung. Apa yang harus kami lakukan?”
Kay berpikir sejenak dan mendapatkan ide. Ia tidak tahu apa ini ide yang bagus tapi intuisinya mengatakan bahwa mereka akan berhasil.
“Bawa mobil ke pintu belakang kantor.” Perintah Kay.
“Baiklah.” Ujar Daniel lalu memutuskan sambungan telepon.
Tanpa kata-kata Kay menarik tangan jaksa Sebastian dan membawanya kembali ke dalam gedung. Keduanya berjalan dalam diam. Kay terus menariknya sampai mereka berdua berada pada pintu belakang gedung. Kay melihat Erik dan memanggilnya dengan siulan. Erik menoleh ke arah siulan dan berlari ke arah Kay dan Sebastian. Tanpa kata lain, Erik meminta Sebastian untuk mengikutinya sedangkan Kay berjalan ke arah yang berlawanan.
“Kenapa dia tidak ikut dengan kita?” Kay mendengar Sebastian bertanya pada Erik.
Kay berjalan ke arah mobil Sebastian yang terparkir. Dia yakin orang-orang itu pasti sudah mengenal mobil ini. Kay masuk ke dalam mobil dan melajukannya. Dia melirik ke arah kaca spion untuk memastikan dan dugaannya benar, sedan hitam itu mengikutinya. Kay mengarahkan mereka ke jalan lain tetapi dengan tujuan ke rumah jaksa Sebastian. Dia tidak ingin orang-orang ini curiga. Lagi pula ia harus memikirkan rencana untuk menjebak orang-orang ini. Lalu apa? Batinnya. Kay berpikir sejenak sambil menatap arah jalan. Dia melirik ke arah laci mobil dan membukanya hanya untuk melihat senapan Colt 1911 miliknya bertengger yang sudah terisi. Dia tidak berniat untuk membunuh karena itu akan merusak rencana lainnya. Kay menutup laci mobil dengan keras dan menghela nafas memikirkan langkah selanjutnya. Lalu Kay ketika dia melewati sebuah jalan yang mengarah pada perumahan yang ditinggalkan. Akhirnya dia menggiring orang-orang ini ke perumahan terbengkalai itu.
Beberapa menit perjalanan yang terasa panjang, Kay melirik kaca spion dan memastikan mobil itu masih mengikutinya. Kay berbelok ke kanan ketika ia melalui pertigaan. Jalanan tampak sepi meski ini masih kawasan kota. Kay sengaja mengambil jalan ini karena keadaan yang sepi ketika melewati pukul 21.00 WIB. Kay melirik kembali ke arah spion dan sedan itu masih mengikutinya. Dia melihat sebuah pertigaan lagi dan berbelok ke kiri. Kay hampir yakin rencananya akan berhasil hingga kejadian tak terduga menghancurkannya. Tiba-tiba ia melihat seorang gadis dengan posisi setengah berjongkok berada tepat di depan mobilnya. Matanya melebar melihat situasi itu dan tanpa pikir panjang Kay membanting kemudi untuk menghindari tabrakan. Suara decitan mobil terdengar masuk ke telinganya. Kay berusaha untuk menginjak rem namun sayangnya ia terlambat ketika ia menabrak pembatas tengah jalan. Suara benturan terdengar memenuhi jalanan yang sepi dan mobil pun berhenti dalam kondisi terbalik. Kay yang menutupi wajahnya dengan lengannya mulai melihat keadaan dirinya sendiri. Ia merasakan perih di bagian wajahnya karena pecahan kaca dan rasa sakit di seluruh tubuhnya. Kay menoleh ke sisi kiri dan melihat gadis yang ia hindari terbaring di tengah jalan. Sepertinya usahanya sia-sia karena gadis itu masih tertabrak olehnya.
Kay bernafas dengan berat dan berusaha untuk melepaskan sabuk pengaman. Ketika tangannya hendak melepaskan sabuk pengaman, pandangannya menangkap siluet mobil sedan hitam yang tak jauh dari tempat gadis itu terbaring. Mobil itu perlahan mundur dan mengambil jalan yang berlawanan arah. Kay sadar apa yang akan dilakukan oleh orang itu. Dengan tergesa-gesa ia melepaskan sabuk pengaman. Tangannya terasa licin dari darah yang merembes ke telapak tangannya.
“Argh...tidak sekarang.” ujar Kay kesal.
Dengan susah payah akhirnya sabuk pengaman itu berhasil di lepas. Saat Kay menoleh ke arah mobil itu, dia tahu semuanya sudah terlambat.
“Nah, sial.”
Itu kata terakhirnya sebelum semuanya menjadi gelap.