Bab 2

Ayu menyunggingkan senyumnya saat Ridho keluar kamar, ia sangat kesal dengan suaminya. Bagaimana ia tak kesal jika dalam pernikahan mereka Ridho selalu minta jatah sampai kelelahan. Bukannya, ia tak menyukai permainan dan penis Ridho yang gagah berani, tapi melakukan hubungan intim tanpa rasa cinta membuatnya tak puas.

"Akh, lebih enak main sama Doni deh daripada sama kamu, Mas," ucap Ayu kesal.

Ayu melangkahkan kakinya keluar kamar dan bingung melihat suaminya yang berdiri mematung di depan pintu. "Kamu ngapain di situ Mas?" tanyanya heran.

"Astaga Ayu, kamu buat aku kaget aja," ucap Ridho sambil mengelus dadanya sendiri.

"Lagian kamu juga ngapain di depan pintu kayak satpam aja."

Ridho menahan amarahnya. Perkataan Ayu membuatnya sangat kesal. Biasa-bisanya Ayu menyamakan dirinya dengan seorang satpam sedangkan pekerjaan seorang staff di perusahaan otomotif. Ia pun pergi dari hadapan Ayu tanpa memperdulikan panggilan Istrinya.

"Idiih, gitu aja kok marah. Masih mending aku samakan dengan satpam gimana kalau pengemis pasti lebih marah lagi," ucap Ayu jengkel.

Ayu mendengar suara motor suaminya pergi dari garasi rumah dan segera berlari mengintip dari jendela. Ia langsung tersenyum inilah kesempatan untuknya agar bisa memadu kasih dengan kekasih idaman lainnya. Biasanya Ridho kalau lagi marah begini bisa tidak pulang semalaman, tapi ada satu masalah apakah Tika, adiknya ada di rumah atau lagi keluar rumah.

Ia berjalan mendekati kamar Tika. Adiknya itu memang tinggal di rumahnya untuk berkuliah di Jakarta. Orang tua mereka tinggal di Semarang jadilah sudah setahun ini Tika tinggal di rumahnya.

Tok... tok...

Ayu mengetuk pintu kamar Tika. Terdengar suara pintu terbuka membuat wajah Ayu masam.

"Ada apa Mbak?" tanya Tika.

"Kamu di rumah?" Ayu balik bertanya pada Tika.

"Kan memang sudah jam 9 malam Kak. Wajarlah aku di rumah."

"Apa ga ada niat buat main keluar gitu."

"Males Mbak."

"Ooh yaa udah."

"Memangnya kenapa Mbak?"

"Ga apa-apa. Tapi nanti kalau kamu dengar ada suara-suara aneh pura-pura ga dengar yaa."

Tika langsung mengerti perkataan Ayu. Ia langsung mengangguk-anggukan kepalanya dan diikuti oleh senyuman merekah dari wajah kakaknya.

Yaah gagal deh aku mau nyobain penis Mas Ridho. Tika berkata dalam hati.

Waktu sudah menunjukan jam 1 dini hari Tika keluar dari kamarnya karena merasakan kerongkongannya kering. Ia berjalan sambil memejamkan matanya dan tak sengaja mendengar suara desahan Ayu yang sedang bercinta.

"Hadeh Mbak Ayu kalau lagi bercinta berisik amat. Ga tau apa bikin horny," ucapnya kesal.

Ayu sedang berada di dalam kamarnya sibuk mendesah saat Doni menggenjot liang vaginanya. Ia sedang bercinta dengan rekan satu kantornya yang membuatnya tak lagi suka bercinta dengan suaminya, Ridho.

"Aaah Don terus Don. Enak banget Don," ucap Ayu keenakan.

"Enak mana sama punya suamimu, Yu," ujar Doni yang masih menggerakan pinggulnya di dalam vagina Ayu.

"Enak juniormu, Don. Aah Don."

"Rasakan nih." Doni menghentakan penisnya ke dalam vagina Ayu yang membuat perempuan itu menjerit.

"Don pelan-pelan mentok ini loh."

"Tapi enakkan."

"Iya Don."

Sekarang mereka berganti posisi bergaya woman on top. Ayu mengangkangi penis Doni yang sudah menegang dan memasukkannya ke dalam liang vaginanya, menekan pinggulnya ke bawah sampai seluruh batang penis Doni S masuk ke dalam.

"Addduuuhhh.... enak sekali kontolmu, Don," ucap Ayu sambil menggoyang-goyangkan pantatnya.

Doni tersenyum. "Ayo, Sayang Goyangnya yang semangat," ucapnya sambil mempermainkan kedua puting buah dada Ayu dengan tangannya.

Ayu terus menggoyang-goyangkan pantatnya selama beberapa menit. Kadang ia mengangkat pinggulnya naik turun, kadang menekannya maju mundur, kadang dia juga meliuk-liukkannya dengan arah berputar. Sehingga keringatpun bercucuran di dahi dan punggungnya.

Napasnya tersengal-sengal. Akhirnya dia menghentikan gerakannya dan duduk diam di atasnya. Dia menarik nafas panjang.

"Capek Yu?" tanya Doni.

"Iya nih Don. Aku kurang olahraga deh," ucap Ayu.

"Istirahat dulu aja sebentar."

"Ada minum ga di situ Don?"

"Ga ada Yu. Aku ambilkan yaa."

Ayu menganggukan kepalanya. Ia lupa mengisi air putih di botol yang biasa dibawakan dalam kamar. Doni mengenakan boxernya dengan bertelanjang dada keluar dari kamar Ayu.

Suara gelas pecah terdengar dari dapur membuat Ayu terkejut. Ia pun dengan hanya mengenakan selimut keluar dari kamarnya. Matanya terbelalak saat di depannya ada Tika, adiknya bersama dengan Doni.

"Mbak itu siapa?" tanya Tika ketakutan.

"Don masuk kamar," ucap Ayu memerintahkan Doni yang sama terkejutnya.

Doni segera masuk ke dalam kamar Ayu dengan tergesa-gesa. Setelah memastikan Doni masuk ke dalam kamarnya, Ayu mendekati Tika.

"Mbak selingkuh dari Mas Ridho?" tanya Tika tak percaya.

"Ini memang kesalahan Mbak, Tik. Mbak ada masalah sama Mas Ridho dan Doni yang membuat Mbak merasa dihargai sebagai wanita," ucap Ayu berbohong.

"Tapi sama aja itu dengan yang namanya selingkuh, Mbak."

Ayu tidak bisa menjawab perkataan Tika. Ia memang sudah terlanjur enak dengan penis Doni sehingga tak merasakan enaknya bercinta dengan suaminya sendiri.

"Sudahlah kamu diam aja ga usah ikut campur dalam rumah tangga Mbak," ucap Ayu ketus.

"Ya sudah itu urusan Mbak. Aku ga mau ikut campur apapun," balas Tika.

"Baguslah. Dan kamu jaga mulutmu jangan sampai Mas Ridho tau."

"Iya Mbak. Aku juga ga mau tau urusan Mbak yang penting jangan lupa uang tutup mulut."

"Beres itu. Kamu senang, Mbak juga senang."

"Oke Mbak."

Tika meninggalkan Ayu menuju kamarnya. Ia tidak peduli apapun yang akan dilakukan kakak kandungnya. Yang penting jika ia akan bercinta dengan Ridho jangan salahkan dirinya. Ia juga ingin memberikan kehangatan pada kakak iparnya yang menurutnya memiliki penis yang besar.

Ayu menghembuskan napasnya. Ia merasa lega perselingkuhannya dengan Doni untuk sementara aman. Memang lebih baik ia tidak bercinta di dalam rumah karena berisiko akan ketahuan. Ia pun segera mengisi air di dalam botol dan masuk ke dalam kamar.

Doni menatap Ayu cemas. "Gimana apa adikmu akan bilang ke suamimu?"

"Udah tenang aja. Semuanya sudah bisa diatur," ucap Ayu sambil menuangkan air ke dalam gelas.

Ayu berbaring di samping Doni tanpa semangat. Doni membuka boxernya mengangkat kaki kanan Ayu lalu memasukan penisnya ke dalam liang vagina wanita cantik tersebut.

"Aaah." Ayu mendesah saat Doni menggoyangkan pinggulnya.

"Enak begini Yu," ucap Doni.

"Iyaaah aaah Don, kamu aaah."

Desahan demi desahan terdengar begitu menggairahkan tanpa Ayu ketahui kalau adiknya sendiri sudah merencanakan akan memuaskan suaminya, Ridho.

***

Next part giliran Tika melancarkan aksinya untuk memuaskan Ridho hihihi...

Bab 3

Ridho memikirkan pernikahannya dengan Ayu. Pernikahan yang sudah berjalan 2 tahun semakin hari semakin membuatnya tak nyaman.

"Masa aku harus bercerai," ucap Ridho menghela napas berat.

Sudah semalaman Ridho berada di hotel. Sudah menjadi kebiasaannya jika bertengkar dengan Ayu pergi dari rumah dan tinggal sementara di hotel kelas melati. Tapi ia jadi ingat dengan Tika. Adik iparnya tersebut menggodanya dan mungkin bisa saja menjadi tempat pelampiasan napsunya.

Perawakan tubuh Tika tidak jauh berbeda dengan Ayu. Hanya Tika lebih tinggi dari kakaknya, namun yang tidak habis pikir apakah Tika menyukainya atau hanya penasaran dengan penis dan gayanya saat bercinta. Ia sengaja tidak masuk kerja dengan alasan sakit dan harus pulang siang ini saat Ayu tak ada di rumah mungkin saja Tika sering berada di rumah.

Motornya sudah tiba di halaman rumah. Ia tak melihat mobil Ayu yang biasanya terparkir di garasi dan hanya ada motor Tika berada di sana. Baru memikirkan Tika sudah membuat penisnya menegang. Aah, sepertinya penisnya juga ikut penasaran ingin merasakan liang senggama adik iparnya.

"Tik... Tika..." Ridho memanggil nama adik iparnya.

Tika yang berada di kamarnya tidak mendengar suara panggilan Ridho. Ia sedang menggunakan headset untuk melihat video dewasa lewat telepon genggamnya. Di saat tangan kirinya memegang ponsel, tangan kirinya memegang bibir vaginanya.

"Aah... ahh." Desah Tika sambil memasukan jari tengahnya ke dalam liat vaginanya sendiri.

Ridho kesal. Berkali-kali ia memanggil nama adik iparnya, tapi tak kunjung juga ada kehadiran Tika. Ia berinisiatif untuk masuk ke kamar Tika malah mendengar suara gadis itu mendesah.

Keningnya mengerut. Ridho berpikir, apakah Tika sedang bercinta dengan pria lain? Kalau memang bercinta dengan pria lain apakah pantas dilakukannya di rumahnya? Apakah tidak punya uang buat sewa hotel murah meriah? Sungguh tidak bermodal.

Dengan emosi Ridho memegang handle pintu kamar Tika. Betapa terkejutnya ia saat melihat Tika memejamkan matanya sambil ngangkang sambil telanjang dan jarinya masuk ke dalam vagina gadis itu sendiri.

"Busyet, nih anak sering ngewek deh kayaknya sampai kayak gitu," ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri.

Ridho pun mendekati Tika. Ia sengaja mengulum pentil payudara Tika. Kuluman Ridho membuat Tika membuka matanya, ia sangat terkejut kakak iparnya sedang asyik bermain di payudaranya.

"Aah Mas," ucap Tika merasakan gairah.

Ridho menghentikan kulumannya. Ia menatap Tika dengan pandangan bergairah. "Kamu kenapa ga manggil Mas untuk memuaskanmu?"

Tika sangat malu ketahuan sedang memuaskan dirinya sendiri. "Aku kira Mas ga mau ngewek sama aku."

Ridho membelai rambut Tika yang panjang. Ia ingin sekali menikmati tubuh gadis itu dan membuatnya menjerit keenakan karena rudalnya.

"Bukan Mas ga mau, tapi Mas takut merusakmu," ucap Ridho.

"Mas, aku memang sudah ga perawan lagi jadi ga ada yang rusak merusak," ujar Tika.

"Sama siapa kamu melakukannya pertama kali?"

"Pacar SMA aku dulu di Semarang."

"Lalu itu yang biasa malam minggu jemput kamu?"

"Ooh Andi. Andi itu pacarku yang sekarang, tapi kami lagi bertengkar seminggu ini sedangkan gairahku sedang pengen-pengennya."

"Jadi kamu mau ngewe sama Mas?"

"Pengen sih ngewe sama Mas, pengen nyobain. Just for fun gitu lah Mas."

"Yakin cuman mau just for fun. Sekali aja kamu merasakan punya Mas pasti ketagihan kayak Mbakmu dulu."

"Hmm, Mas sebelum nikah udah ngewek duluan sama Mbak Ayu."

"Iya. Tapi sekarang Mbakmu jadi dingin selalu aja ada alasan untuk menolak Mas."

Ya iyalah. Mbak Ayu udah keenakan sama kontol orang lain. Tika berkata dalam hatinya.

"Gimana kalau Mas ngewek sama aku kalau pas Mbak Ayu ga mau ngewek sama Mas?" tanya Tika.

"Kamu yakin? Nanti kamu malah merasa berdosa lagi karena ngewek sama suami mbakmu sendiri," ucap Ridho yang tidak enak pada Tika.

"Santai aja Mas. Aku ga akan menuntut apapun lagian aku punya pacar yang juga bisa memuaskan aku."

"Beneran nih."

Tika menganggukan kepalanya. Tanpa membuang waktu ia membuka celana jeans Ridho dan langsung menurunkan boxernya. Terlihatlah penisnya yang mengacung ke depan membuat Tika terperangah.

"Seperti dugaanku, besar!" pekik Tika takjub.

"Kamu pasti akan suka," ucap Ridho.

"Pastilah Mas, tapi gimana nih dengan permainannya Mas? Oke ga?"

"Pasti oke lah."

"Serius?"

"Serius dong."

"Kalau gitu jilat anu ku dong." Tika langsung mengangkang di depan Ridho.

Melihat vagina yang merah merekah tersebut tentu saja membangkitkan hasrat kelelakiannya. Ia langsung naik ke ranjang dan menenggelamkan kepalanya di selangkang Tika. Tika langsung memejamkan matanya menikmati serangan yang dilakukan Ridho.

Sambil menjambak rambut Ridho, Tika mendesah, "aaah Mas."

Mendengar desahan Tika membuat Ridho tersenyum. Ia berhasil membuat adik iparnya merasakan betapa hebatnya indra pengecapnya. Ia terus memainkan lidahnya di klitoris Tika sampai wajah gadis itu terus terangkat dan mendesah terus menerus.

"Mas... aku ga tahan Mas, minta juniormu masuk Mas," ucap Tika yang tidak tahan ingin merasakan penis kakak iparnya.

"Nanti aja akh, Mas lagi males," ujar Ridho yang sengaja menggoda Tika.

"Astaga Mas. Aku udah nanggung begini masih aja dikerjain."

"Memohon dulu dong."

Tika menghela napasnya. Ia mulai kesal dengan kelakuan kakak iparnya yang malah main tarik ulur. "Mas, aku mohon masukin dong."

"Dengan senang hati Tika." Ridho memegang kejantanannya yang sudah tegang untuk masuk ke liang senggama Tika.

Bles...

Tika menahan napasnya merasakan betapa besar dan panjangnya penis Ridho yang sekarang berada di dalam liang vaginanya. Kejantanannya Ridho lebih besar dan panjang daripada milik kekasihnya, Andi.

"Kenapa Tika? Kok wajahmu kayak gitu," ucap Ridho yang heran dengan reaksi Tika yang berbeda.

"Perih Mas. Aduuh besar banget sih," ucap Tika sambil menggigit bibirnya.

"Udah Mas bilang kan kalau punya aku itu big size."

"Huft... mantap banget deh Mas."

"Mas goyang yaa."

"Hu'um Mas." Tika menganggukan kepalanya pasrah.

Sensasi yang dirasakan Tika begitu luar biasa. Baru kali ini ia bercinta dengan pria yang memiliki penis lebih besar daripada milik pacar-pacarnya dulu. Semakin Ridho menggerakan pinggulnya semakin menimbulkan sensasi perih-perih nikmat. Ia sampai merem melek.

Ridho mengetahui kalau penisnya mampu membuat Tika merem melek. Ia juga merasakan hal yang sama. Liang senggama Tika begitu rapat dan peret membuatnya penisnya merasakan sensasi kedutan-kedutan yang meneramang.

Pinggul Ridho terus melesak masuk ke dalam membuat Tika tersentak-sentak saat Ridho menggempurnya tanpa ampun. Keringat nan peluh pesah sudah membasahi tubuhnya bercinta dengan kakak iparnya membuatnya berpacu dengan adrenalin dan sensasi nikmat secara bersamaan.

"Mas... aku mau keluar Mas." Tika sudah tak dapat menahan klimaksnya.

"Iya Sayang. Mas akan cepetin lagu supaya kamu tambah enak." Ridho semakin mempercepat pinggulnya agar penisnya terus menggesek liang vagina rapet tersebut.

"Aaah Mas... aaah." Akhirnya Tika mendapatkan klimaksnya pertamanya. Ridho menghentikan gerakan pinggulnya menatap Tika.

"Mas... enak banget."

"Kamu suka?"

"Suka banget Mas."

Dengan penis Ridho yang masih di dalam liang senggama Tika mereka saling bertatapan. Tika menarik kepala Ridho melumat mesra bibir kakak iparnya. Mereka saling bermain lidah untuk membangkit gairah.

"Mas, aku mau di atas," bisik Tika di telinga Ridho.

"Ok Sayang," ucap Ridho.

Ridho berbaring di atas ranjang dan Tika segera naik ke tubuh Ridho. Ia pun segera memasukan penis Ridho ke dalam liang senggamanya. Lagi-lagi Tika merasakan betapa besar dan panjangnya penis Ridho, tapi kali ini lebih terasa panjangnya karena penis Ridho masuk sampai menyentuh rahimnya.

"Aduuh, Mas nyeri," keluh Tika.

"Maaf Sayang. Ini punya Mas mungkin terlalu panjang," ucap Ridho.

"Ga apa-apa Mas, panjang, tapi bikin nyeri-nyeri enak."

"Nikmatilah Sayang."

"Iya Mas. Aku akan tunjukkan kehebatan goyanganku."

Tika mulai menggoyangkan pinggulnya naik-turun, memutar secara cepat dan lambat sesuai dengan ritme yang diinginkannya. Ridho yang berada di bawah merasakan begitu hebatnya goyangan adik iparnya yang terlihat polos, tapi hebat di ranjang.

Mereka terus menerus mendesah merasakan nikmatnya tanpa memperdulikan hal yang lainnya. Hingga tibalah Tika akan mendapatkan klimaksnya untuk kedua kalinya.

"Mas, aku mau keluar lagi, Mas," desah Tika.

"Bersamaan yaa Sayang." Ridho juga ikut menggerakan pinggulnya di liang vagina Tika.

"Aaah... aaahh." Tika dan Ridho mencapai klimaksnya secara bersamaan dan mereka melemas bersama sambil saling berpelukan.

Di dalam pelukan Ridho, Tika mendapatkan nikmatnya surga dunia yang tak didapatkannya dari pacar-pacarnya.

"Terima kasih yaa Tika, Sayang," ucap Ridho membelai rambut panjang adik iparnya.

"Sama-sama Mas. Aku juga makasih yaa sudah memberikan kenikmatan bercinta yang berbeda," ujar Tika yang lemas dalam dekapan Ridho.

Tika dan Ridho sering melakukan hubungan intim yang terlarang di saat ada kesempatan, bahkan kalau ada Ayu pun mereka saling memuaskan napsu secara diam-diam.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

Story On

Bab 2
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED