Bab 1

"Pokoknya Papa tidak setuju dengan pria pilihanmu, sampai mati pun Papa tidak akan merestui hubunganmu dengan pria itu," seru tuan Gerald kepada putri semata wayangnya, Keren.

Keren hanya bisa menangis dalam pelukan ibundanya, Nyonya Monik dan tak mampu berbuat apa apa.

Kerenhapukh itulah nama lengkapnya, wanita yang berusia 25 tahun yang bekerja sebagai manager di perusahaan besar milik keluarganya.Saat ini menjalin hubungan dengan pria yang dicintainya, bernama Bimo Saputra yang umurnya beda dua tahun dengan Keren.

Dalam segi karier Bimo termasuk sukses, ia bekerja sebagai GM di sebuah perusahaan raksasa yang bergerak dalam bidang transportasi.

Sudah hampir lima tahun hubungan Keren dan Bimo terjalin, namun selama itu juga restu dari Tuan Gerald tidak pernah ada untuk hubungan mereka.

Ibunda Keren awalnya juga menolak hubungan keduanya, namun karena ketulusan hati Bimo meyakinkan nyonya Monik, bahwa ia benar-benar menyukai Keren, akhirnya Nyonya Monik memberi restu kepada keduanya.

Berbeda dengan tuan Gerald yang sampai saat ini tidak pernah memberi lampu hijau kepada keduanya, hal ini dikarenakan Bimo berasal dari desa.

Kedua orang tua Bimo tinggal di desa dan bekerja sebagai petani.Pernah suatu ketika Keren nekat ikut Bimo pulang kampung.Ia merasakan kedamaian selama berada di sana.

Namun siapa sangka, sesampainya di rumah, ayahnya sudah menunggunya pulang, tanpa mendengarkan penjelasan dari Keren, ayahnya yang diliputi emosi langsung menampar pipi Keren.

Sontak Keren kaget dengan tindakan ayahnya itu. Ia langsung kabur dari rumah dan lebih memilih tinggal di rumah temannya bernama Sisil.

Namun karena bujukan sang ibu yang mengatakan ayahnya menyesal telah menampar Keren. Ia pun luluh dan kembali ke rumah.Saat pulang ke rumah, ayahnya sedang terbaring sakit di kamar.

Ayahnya pun meminta maaf kepada Keren dan berharap Keren mau melupakan Bimo.

"Nak, apa kata orang jika mereka tau besan Papa berasal dari desa? bagaimana Papa menghadapi para kolega Papa?" demikian penuturan ayahnya yang berkali kali mengulang kata-kata yang sama agar Keren melupakan Bimo.

Keren bukan belum pernah mencoba untuk melupakan Bimo namun tetap saja, ia tidak bisa berpaling dari Bimo.

Bimo juga sudah berusaha untuk melupakan Keren. Namun ia juga tidak mampu, karena Bimo sudah benar-benar jatuh cinta kepada Keren.

Pernah satu ketika, Keren ingin Bimo untuk melarikan saja, namun Bimo tidak mau melakukannya, ia tidak ingin Keren mempermalukan keluarga besarnya dan menjadikannya anak durhaka hanya karena seorang pria.

"Jika kita memang jodoh, pasti Tuhan akan buka kan jalan untuk hubungan kita, namun jika tidak, aku yakin, Tuhan punya rencana yang lebih indah untuk kita berdua," Bimo mencoba berbesar hati dengan hubungan mereka berdua.

Bukannya ia sudah lelah untuk berjuang, tetapi ia lebih memasrahkan hubungan mereka berdua kepada Yang Kuasa.

Mendengar perkataan Bimo, Keren segera memeluk pria yang dicintainya itu seolah-olah akan ada sesuatu masalah besar yang akan terjadi di hubungan keduanya.

Benar saja, suara hati Keren yang gelisah itu terjawab sudah, ternyata ayahnya memiliki rencana untuk menjodohkannya dengan anak seorang kolega ayahnya bernama Teo.

Betapa hancur hati Keren mendengar ultimatum ayahnya itu. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia bingung menghadapi semuanya ini, saat ini ia mencoba menghubungi Bimo untuk membicarakan hal ini.

"Keren, kamu tau kekuasaan tuan Gerald, sekali ia mengatakan tidak, selamanya akan tetap tidak, ikutin saja maunya Papa kamu, aku merelakan semuanya, asal kamu bahagia," seru Bimo mencoba merelakan kekasihnya.

"Tapi Bim,  Aku masih sangat menyayangimu," ujar Keren terisak.

Bimo segera memeluk tubuh Keren dan mengusap rambutnya dengan lembut.

"Aku tau Keren, tapi apa yang harus Aku lakukan? Aku juga tidak mau kamu menjadi anak durhaka kepada kedua orang tuamu, jalan satu-satunya, kita harus sudahi semua, aku tau pasti sakit untuk kita berdua, tapi ini demi kebaikan kita berdua juga."

Hari ini, adalah hari terakhir mereka bersama, keduanya pun memutuskan untuk mengakhiri semuanya.

Bimo tidak senekat itu memperjuangkan cintanya, karena tuan Gerald telah mengancam Bimo, jika ia tidak segera meninggalkan Keren, tuan Gerald akan menggunakan kekuasaannya untuk menjatuhkan karier Bimo, sedangkan Bimo saat ini menjadi tulang punggung bagi keluarganya, dua adiknya masih duduk di bangku sekolah.

Setelah mengucapkan salam perpisahan dan saling mengakhiri hubungan mereka,keduanya pun masuk ke mobil masing masing. Keren mencoba pasrah dan mengikuti kemauan ayahnya.

Sesampai di rumah, Keren hendak masuk ke dalam kamarnya melalui pintu samping, namun ia melihat jika di ruang tamu ada tamu yang datang.

Ia penasaran dengan tamu yang datang itu, Keren berjalan menuju ke dalam rumah.Tuan Gerald melihat Keren pulang.

"Wah, panjang umur, ini dia baru pulang," Tuan Gerald memanggil anaknya untuk bergabung dengan mereka. Keren menampilkan senyum termanisnya, walaupun hatinya saat ini sedang berantakan.

"Perkenalkan ini Teo," ujar Sang Ayah.

"Nak Teo ini Keren, putri saya," ujarnya lagi memperkenalkan Keren.Keren pun menyapa Teo dan kedua orang tuanya.

"Maaf om, Tante, saya pamit ke dalam dulu," ujar Keren.

Sejak tadi mata Teo menatap tajam ke arah Keren dan ia tidak tau arti tatapan itu.Nyonya Monik mengetahui perasaan anaknya saat ini, namun ia tidak berani membantah suaminya.

"Ma, tolong panggilkan Keren, kita akan makan bersama," ujar Tuan Gerald kepada istrinya.

Nyonya Monik segera melangkah ke dalam kamar anaknya, ia melihat jika Keren saat ini sedang menangis.

"Sayang, kamu kenapa?"Keren segera memeluk ibunya, ia menumpahkan segala keluh kesahnya kepada ibunya itu.

"Aku.., aku dan Bimo sudah putus Ma," isaknya tak tertahankan lagi.

"Kamu yang sabar ya sayang, Mama yakin kamu pasti bisa melewati semua ini, ayo kamu cuci muka dulu dan ganti pakaianmu, semuanya menunggumu di meja makan," nyonya Monik mencoba menghibur anaknya.

Saat ini Keren ikut bergabung di meja makan, tuan Dino dan nyonya Dina terlihat tersenyum ke arah Keren, berbeda jauh dengan Teo yang terlihat cuek.

Setelah selesai makan, kedua orang tua itu sedang menentukan konsep pernikahan Teo dan Keren.Tanpa melibatkan mereka berdua.Keren hanya bisa pasrah dengan pilihan ayahnya itu.

Keesokan harinya, atas perintah ayahnya, Keren dan Teo akan jalan-jalan ke mall untuk saling mengenal lebih dekat, kebetulan hari ini adalah hari Minggu. Jadi Keren memiliki waktu luang.

"Kamu jangan mempermalukan Papa, Teo itu lulusan luar negeri dan anaknya sangat pintar, jadi bersikaplah dengan baik," itulah ultimatum ayahnya sebelum sopir mengantarnya ke mall.

"Keren berpikir dalam hati, kenapa Teo tidak menjemputnya?" terjawab sudah dugaan Keren.Teo setali tiga uang dengannya. Ia juga tidak menginginkan pernikahan ini.

Sesampai di mall, Keren segera berjalan di sebuah restoran tempat mereka janjian untuk bertemu."Gue Teo, lo pasti Keren," sinisnya

"Iya Teo, senang berkenalan denganmu," serunya sopan.

"Gue nggak mau basa basi, apa yang lo mau dari pernikahan ini?" sinisnya lagi.

Bab 2

"Maksud Kamu, Saya mau apa?" Keren benar-benar tidak mengerti maunya Teo.

"Hahaha, jangan pura pura, gue tau lo sudah memiliki kekasih," ujar Teo tajam.

Keren menghela napas panjang dan meraup oksigen lebih banyak lagi, lalu mengatakan sejujurnya kepada Teo jika ia sudah mengakhiri hubungannya dengan Bimo.

Teo seakan tidak percaya, jika Keren dan Bimo sudah putus. Karena yang ia tau, Keren dan Bimo sudah lama berpacaran, ia memandang rendah Keren saat ini.

Dalam pikirannya Keren sudah tidak gadis lagi karena sudah lama berpacaran dengan Bimo.

Hal itu seketika membuatnya jijik. Jika bukan perintah Papanya untuk menikahi Keren demi memperluas bisnis mereka, ia sama sekali tidak sudi menikah dengan Keren.

Teo yang lama tinggal di luar negeri, telah terbiasa meniduri banyak wanita.

Kebiasaannya ini, ia mampu tutupi pada kedua orang tuanya, hanya sahabatnya Rudolf yang mengetahui ulahnya itu.

Rudolf setali tiga uang dengan Teo, sama sama penjahat wanita.

Selama Teo hampir 3 bulan di Jakarta, ia selalu minta bantu kepada Rudolf untuk mencarikannya seorang wanita yang bersedia one night untuk melayaninya.

Keren dari tadi mencoba membaca pikiran dan maksud perkataan Teo namun ia tidak menemukan jawabannya.

"Kita akan berada disini selama 2 jam ke depan, silakan lakukan apa pun semau mu."

"Kok sampai dua jam?" tanya Keren penasaran.

"Tanya kepada Papamu dan Papaku, jangan tanya kepadaku," ujarnya ketus.

Dari tadi Teo asyik dengan ponselnya. Rudolf sudah mengirimkan beberapa foto perempuan yang mau melayaninya nanti malam. Ia tinggal memilih mereka sesuka hatinya.

Sementara itu, Keren terlihat kikuk di cuekin oleh Teo, ia menilai Teo orangnya kasar dan tidak peduli dengan pernikahan ini, ia memikirkan nasibnya ke depan jika menikah dengan Teo.

Teo tidak kalah tampan dengan Bimo, namun sifat mereka berbeda. Bimo sangat menghargai Keren sedangkan Teo berbanding terbalik.

Dari pada bengong, Keren membuka ponselnya dan menenggelamkan dirinya dengan membaca novel favoritnya di sebuah situs online.

Keduanya tenggelam dengan ponsel masing masing.

Tak terasa sudah dua jam lebih mereka ada di kafe tersebut, tiba tiba Teo berdiri dari bangkunya dan hendak beranjak pergi, "time ia over, gue pamit dulu," ia lalu berdiri sambil memanggil waiters dan membayar tagihan selama mereka berada di kafe itu.

Lusa, ada fitting baju pengantin, berikan kartu nama mu," Keren segera merogoh tasnya dan memberi kartu namanya kepada Teo dan Teo juga memberi kartu namanya kepada Keren.

"Gue akan menghubungi lo," ia lalu berlalu dari situ sambil memegang kartu nama Keren.

Keren yang diperlakukan seperti itu, seketika melongo, ia tidak menyangka ditinggal pergi begitu saja oleh Teo.

Untuk mengusir kekesalannya ia menghibur dirinya sendiri dengan berkeliling mall sambil berbelanja baju kerjanya.

Setelah itu ia kembali pulang dengan menggunakan taksi online.

Sesampai di rumah, Keren kaget dengan keberadaan sopir Teo di rumahnya, "Selamat sore Nona Keren, maaf tuan Teo tidak dapat mengantar nona pulang, karena ada meeting mendadak di daerah Bandung, ada sedikit gift dari tuan Teo untuk orang tua, Nona."

Setelah berkata begitu sang sopir pamit undur diri. Sedangkan kedua orang tua Keren sangat terkagum-kagum dengan perhatian dari Teo. "Coba lihat ini, masih jadi calon mantu saja Nak Teo sudah perhatian banget, apalagi nanti kalau dia sudah jadi suamimu, jangan sia siakan itu."

Setelah tuan Gerald berkata seperti itu, tiba-tiba ponsel Keren bergetar ternyata ada pesan masuk dari Teo, "sandiwara dimulai, gue harap lo bisa ikut kerjasama."Keren tak habis pikir dengan tingkah Teo yang berubah-ubah bagai bunglon.

Saat fitting baju pengantin, ternyata mereka melakukannya terpisah, ada saja alasan yang Teo lontarkan untuk menutupi perangainya itu sehingga tidak membuat keempat orang tua itu merasa curiga sedikitpun.

Alhasil Keren fitting baju sendiri bersama ibunya dan calon ibu mertuanya.Tinggal menghitung hari, Keren akan dipersunting oleh Teo.

Saat ini hatinya bagai teriris sakit mana kala ia mendengar kabar angin jika Bimo mantan kekasihnya sedang dekat dengan seorang wanita.

"Gue dengar dari teman sekantor gue sih Ker, jika Bimo sedang dekat dengan wanita itu," ujar Lusi sahabat Keren. Saat ini mereka sedang nongkrong di sebuah mall untuk menemani Keren belanja keperluan pribadinya.

Mendengar hal itu Keren sedikit kecewa dengan Bimo yang dengan mudahnya berpaling darinya.

Ia ingin menghubungi Bimo dan menanyakan hal itu langsung kepadanya, namun ia tidak mampu, ia juga berpikir jika Bimo berhak bahagia tanpa dirinya.

Lusi juga mewanti-wanti Keren, agar berhati-hati kepada Teo, karena Lusi sedikit tau sepak terjang Teo dengan perempuan.

Namun nasihat Lusi sepertinya diabaikan oleh Keren. Ia berpikir Teo memang orangnya begitu terkesan cuek dan tidak mau tau.

Dalam hati kecilnya Keren mencoba untuk menerima Teo sebagai calon suaminya.

Hari ini, hari pernikahan mereka.Semua terlaksana dengan baik, banyak tamu-tamu undangan yang datang.

Semua kolega ayahnya dan juga kolega Teo bertemu di acara pernikahan mereka.

Teo sedikitpun tidak pernah melirik ke arah Keren. Ia malah terlihat sibuk menyapa para koleganya.

Keren mencoba mengerti jika Teo memang memiliki banyak kolega jadi perlu menyapa mereka satu persatu.

Di sudut ruangan paling belakang, ada sepasang mata lelaki menatap sendu di atas pelaminan, dialah Bimo.

Ia sengaja datang ke pesta pernikahan Keren untuk melihat perempuan yang ia masih cintai itu.

Bimo ingin sekali memberi selamat kepada kekasihnya, namun ia sadar itu dapat menimbulkan keributan nantinya.

Bimo hanya dapat menatap sendu kearah Keren yang terlihat bingung, karena Teo yang sibuk dengan koleganya.

Sementara di sudut ruangan lain, ada wanita lain yang menatap tajam ke arah Teo, sambil mengusap perutnya yang besar.

"Tunggu pembalasanku Teo! kamu akan membayar semuanya!"

Dialah Cika, mantan partner ranjang Teo yang saat ini sedang mengandung darah dagingnya.

Saat melakukan itu, Teo dalam keadaan mabuk parah. Ia lupa memakai sarung pada senjatanya, karena terburu nafsu, ia melakukannya dengan kasar dan berhasil merenggut kegadisan Cika.

Walau begitu keesokan paginya, Teo meninggalkan satu cek senilai 500 juta untuk Cika.

Cika yang tergiur uang yang banyak, tidak mempermasalahkan apa yang sudah Teo lakukan kepadanya.

Namun beberapa saat kemudian, Cika sadar ia sedang hamil dan berusaha membicarakannya kepada Teo, namun siapa sangka, Teo malah menyuruhnya untuk menggugurkannya dan kembali memberinya cek senilai 500 juta.

Cika menerima cek itu, namun ia tidak mengugurkan kandungannya.

Ia berencana jika anak ini lahir, ia akan menyuruh istri sah Teo untuk membesarkan anak ini.

Kembali ke pesta,

Saat ini, acara telah selesai. Teo pamit kepada kedua orang tuanya dan juga orang tua Keren, untuk membawa Keren ke hotel bintang lima yang khusus ia booking untuk mereka berdua.

Keren menurut saja apa yang dikatakan Teo.

Bab 3

Sesampai di hotel, hanya ada Keren seorang diri disitu di temani seorang pelayan perempuan suruhan Teo untuk membantu Keren melepas gaunnya.

"Maaf Nona Muda, perkenalkan saya Bi Siti pelayan di rumah Tuan Teo, saya diperintahkan Tuan Teo untuk menemani Nona disini."

Keren hanya mengangguk, lalu pamit untuk membersihkan dirinya ke dalam kamar mandi.

Setelah beberapa saat di kamar mandi, Keren keluar dengan menggunakan baju tidur, di meja sofa sudah terlihat berbagai macam hidangan disana.

Ponselnya berdering, ada pesan masuk dari Teo untuk menyuruhnya makan dan jangan menunggunya untuk datang karena saat ini Teo sedang sibuk.

Yap, memang benar Teo sedang sibuk saat ini, tepat bersebelahan dengan kamar istrinya, ia menyewa sebuah kamar, dan saat ini terlihat dua orang perempuan, entah apa yang akan dilakukan oleh kedua perempuan bayaran itu, yang pasti tentu saja untuk memuaskan nafsu Teo.

Sementara itu, Keren sedang makan ditemani oleh Bi Siti.

Waktunya untuk tidur, Keren mencoba untuk tidur namun ia tidak dapat memejamkan matanya. Tiba-tiba air matanya terjatuh, di malam pengantinnya ia tidur sendiri. Sedangkan Teo yang sudah sah menjadi suaminya entah kemana rimbanya.

Ia meratapi nasibnya di awal pernikahan saja, Teo sudah menunjukkan sifatnya.

Diam-diam Keren sedikit percaya dengan perkataan temannya Lusi, yang mengatakan jika Teo suka bermain perempuan.

Pagi harinya, Keren bangun, ia kembali mendapati jika di meja sofa sudah tersedia berbagai masakan lezat dan Bi Siti sudah tidak ada lagi di kamar itu.

Dengan malas, Keren melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

Teo terbangun dan melirik arlojinya, ia langsung bangkit dari tempat tidur dan segera mandi, setelah selesai mandi dan berpakaian, ia langsung menuju kamar dimana Keren berada.

Sedangkan kedua wanita itu, setelah memuaskan Teo, mereka segera di usir dari kamar itu oleh Teo sendiri.

Tepat saat Teo sampai ke kamar Keren berada, ponselnya berdering, terlihat jika ibunya melakukan panggilan video, Teo langsung mengangkatnya, dan beruntungnya juga Keren selesai mandi, dan terlihat handuk di kepalanya yang menandakan ia keramas.

Keduanya pun bersandiwara di depan ibunya Teo, Nyonya Dina.

Setelah memastikan jika mereka telah menghabiskan malam berdua, Nyonya Dina mematikan panggilan video itu.

"Udah selesai mandinya? Yuk sarapan, setelah itu kita bicara."

Mereka pun makan dalam diam, Keren mencoba menjadi istri yang baik kepada Teo ia mencoba melayani suaminya di meja makan.

Namun Teo sama sekali tidak menggubris Keren, ia malah menyendokkan nasinya sendiri.

Melihat itu Keren kaget, namun ia mencoba biasa saja.

Setelah selesai sarapan, Teo mengajaknya berbicara, "gue harap, lo jangan terlalu berharap dengan pernikahan ini."

"Maksudmu, apa Teo?"

"Pernikahan ini hanya di atas kertas dan bagiku tidak ada gunanya sama sekali! Jadi gue harap, lo bisa di ajak kerjasama."

Keren semakin tidak mengerti dengan perkataan Teo.

"Jangan pura pura tidak mengerti lo! gue menikahi lo hanya karena desakan dari orang tua gue dan karena adanya kerjasama bisnis, ya, bisa dikatakan pernikahan ini hanyalah pernikahan bisnis semata."

"Tapi Teo, Kamu sudah berjanji di hadapan Tuhan dan pemuka agama juga disaksikan oleh banyak orang, kalau kita ini sudah menikah."

"Ya memang, kita sudah menikah, siapa bilang kita belum menikah? hanya saja lo hanya istri di atas kertas!"

Mendengar perkataan Teo yang menusuk itu, seketika air mata Keren menetes.

"Teo, jika kamu hanya menganggapku istri di atas kertas, mending kamu ceraikan aku sekarang juga!"

"Hahahaha, tidak akan! Itu sama saja dengan bunuh diri, dan kerajaan bisnis gue akan hancur!"

Air mata Keren semakin deras, "jadi untuk apa kamu melibatkan ku di pernikahan ini Teo? Apa salahku?"

"Kalau soal itu, jangan tanya guelah tapi tanya Bokap lo!"

"Lo tenang saja, gue tidak akan menyentuh lo sama sekali, lo bisa pegang omongan gue ini!"

"Berhentilah menangis, jangan cengeng, terimalah keadaan ini! lagian kan, lo sudah memiliki kekasih, silakan kalian berhubungan, gue nggak larang lo, hanya saja lo harus hati-hati jangan sampai ke empat monster itu tau!"

"Gue sudah putus dengan dia Teo, demi pernikahan ini!" Keren tiba-tiba menatap tajam ke arah Teo.

"Hahaha siapa suruh lo mutusin pacar lo? satu lagi, mulai hari ini kita akan tinggal di apartemen, kalau nyokap gue menyuruh kita tinggal di rumahnya, lo jangan pernah mau! ini alamat apartemennya, gue sengaja mencari apartemen yang agak privasi biar tidak terlalu banyak orang yang mengetahui kehidupan pribadi kita."

Keren tidak dapat berbuat apa-apa dan hanya mampu mengikuti maunya Teo.Karena Teo mengancam jika terjadi perceraian diantara mereka itu sama saja menghancurkan bisnis ayahnya Keren.

"Ini kunci mobilmu, Teo menyodorkan sebuah kunci kepada Keren."

Namun Keren tidak menerimanya, "aku nggak butuh! Aku memiliki mobil sendiri!"

"Hahaha, lo harus terima, jangan sampai keempat monster itu tau!" Tiba-tiba Teo meraih kasar tangan Keren dan meletakkan kunci mobil itu di tangannya.

"Mereka itu orang tua kita Teo! bukan monster!"

"Hahaha terserah, bagiku mereka adalah monster yang membuat lo dan gue di posisi sekarang ini!"

"Gue pergi dulu, mobil buat lo ada di depan hotel, lo langsung ke apartemen, gue ada perlu sebentar, gue ke apartemen agak malam, ingat, jika ada yang menelpon jangan di angkat, lo chat saja jika kita sedang ke Bandung, dan menginap 3 hari di sana." Setelah berkata begitu. Teo langsung pergi dari situ.

Tinggal Keren sendiri disini, ia mengemasi barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam koper dan berlalu dari kamar itu.

Pagi itu, ia memakai kaca mata hitam, agar semua orang tidak mengenalinya.

Sesampai di parkiran hotel yang terletak di basement, ia melihat jika ada sebuah mobil merk terbatas yang di peruntukkan Teo untuknya sebagai hadiah pernikahan.

Keren sama sekali tidak terkesan sedikitpun dengan hadiah mobil itu, karena ia sudah sedikit tau tentang perangai Teo.

Namun ia tidak berdaya untuk melawan, karena ia akan di marahi habis-habisan oleh ayahnya.

Saat ini, ia sudah masuk ke dalam mobil dan mencoba untuk menyetir mobil tersebut, pada saat ia membelok keluar, ada seseorang yang lewat dengan tiba-tiba, nyaris saja Keren menabrak orang itu untung saja ia banting setir dan menabrak tembok pembatas parkiran, alhasil dahinya terbentur dashboard.

Dengan sedikit terhuyung ia keluar dari dalam mobil dan melihat orang tersebut berusaha berdiri.

"Apakah anda tidak apa-apa, Tuan? Seru Keren kuatir.

"Kalau nyetir, anda hati-hati dong!" Seketika pemuda itu menghentikan kalimatnya dan melihat wajah Keren yang cantik laksana bidadari surga.

"Ha..lo, tuan, Apakah anda baik baik saja?" Tanya keren bingung, karena pemuda di depannya tiba-tiba bengong.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED