Bab 1

Candy Rebbeca Stain, nama perempuan cantik berusia dua puluh dua tahun yang akan menikah pagi ini. Muda memang, tapi kalian akan menarik kembali kata-kata itu jika tahu pada usia berapa calon ayah mertuanya memiliki anak. Umur tidak menjadi perkara, setidaknya itu adalah apa yang ada di dalam benak mereka yang sudah tidak sabar ingin menikah.

Gaun putih indah nan mewah dengan atasan bermodel sabrina melekat pada tubuh dia yang terduduk di depan meja rias. Rambut Candy digulung indah dan diberi hiasan bunga-bunga berbentuk mahkota. Namun …, sepertinya sang mempelai tidak dalam suasana hati yang bagus untuk bisa menampilkan senyuman yang akan memperindah semua riasan di wajah.

Gadis itu cemas memikirkan sang kekasih yang masih tak kunjung menampakkan diri padahal acara akan segera dimulai, kurang dari lima belas menit lagi. Sepi ruangan Candy menunggu membuatnya terdengar sangat hening, tidak ada apa pun yang terdengar kecuali suara AC. Sejuk benda itu menyapu area pundak Candy yang terekspost, sangat dingin sampai membuatnya sedikit menggigil.

Namun, itu bukanlah gemetaran ulah kedinginan. Candy tidak bisa berhenti takut mempertanyakan tentang keberadaan sang calon suami yang seharusnya tiba sedari setengah jam yang lalu.

Tok, tok, tok … suara gedoran pintu terdengar membuat Candy reflek mendongak. Gadis itu menantikan seseorang datang memanggil untuk memberi berita, sang calon suami telah tiba, tapi nyatanya … hal itu tidak terjadi. Ekpresi kesedihan yang tercetak di wajah siapa yang memasuki ruangan menghadirkan firasat buruk dalam hati.

Candy berpikir …, sesuatu telah menimpa sang calon, tapi ternyata apa yang terjadi melebihi hal itu.

“Candy,” panggil pria berusia 39tahunan, sangat maskulin dengan gaya rambut yang disisir rapi dan setelan formal berwarna hitam. Ada bunga menyelip di saku jasnya.

“Ayah,” panggil Candy tanpa bisa tersenyum. Lelaki tampan dengan kulit putih dan rahang tegas itu bernama Robert Wijaya, seseorang yang akan menjadi ayah mertuanya setelah pernikahan ini dinyatakan resmi. Sayangnya … Candy tidak berpikir hal itu akan terjadi karena sang mempelai hilang entah ke mana.

Ragu Candy bertanya, “Putra belum ditemukan, Ayah?” Candy bukan hanya mencemaskan pernikahan yang entahlah akan berlangsung atau batal, dia mencemaskan keadaan sang pria terkasih yang sudah bersamanya selama lima tahun.

Candy tahu betapa Putra Wijaya mencintai diri ini, itu adalah alasan mengapa pernikahan diadakan dini. Tapi … haruskah Candy akui bahwa sang kekasih berubah akhir-akhir ini? Satu minggu lalu, terhitung empat bulan semenjak melamar diri ini untuk dijadikan istri.

Candy tidak tahu apa yang telah terjadi karena Putra terlalu pendiam untuk mau bercerita. Sorot matanya kosong dan Candy benar-benar tidak bisa bertanya. Candy berpikir, semua itu hanya imajinasi saja sampai kemudian sang kekasih tidak hadir di hari pernikahan yang telah ditetapkan.

Tidakkah hari ini adalah hari yang sangat Putra nantikan? Candy yakin itu, Putra selalu mengatakannya. Tapi mengapa diri ini tidak dapat menghubunginya? Tidak bahkan sekali. Panggilan tidak diangkat, pesan tidak berbalas, tidak ada satu orang pun bisa menebak di mana keberadaannya termaksud sahabat karib yang juga telah menanti.

“Candy.” Suara Robert sukses menyadarkan Candy yang malah sibuk melamun, membuat gadis itu kembali mendongak dan mempertemukan kontak mata.

“Ada apa, Ayah?” tanya gadis itu, tampak penasaran dibuat raut wajah serius sang calon mertua.

Robert tidak langsung menjawab. Dia menarik kursi plastik berwarna merah dan mengambil duduk di depan Candy. Dia kemudian mengeluarkan ponsel dan mengotak-atiknya sejenak. Robert … tidak tahu di mana anaknya berada kini, tapi ia punya sesuatu yang sangat penting yang harus Candy saksikan dengan mata kepala sendiri.

Rekaman video yang mengambarkan setiap pergerakkan Putra bercumbu bersama seorang perempuan di dalam mobil. Mata Candy melebar, dua telapak tangan berbalut sarung putih berenda reflek membekap mulut yang hendak menjerit.

Ludah yang ditelan setajam silet, menyangkut di bagian dada, sukses menusuk jantung membuatnya kesulitan untuk bernafas. Candy bisa melihat wajah sang calon suami dengan sangat jelas, sangat jelas sampai tidak ada keberanian mengklaim bahwa video hitam putih itu palsu.

“Putra berselingkuh dengan pacarku,” ungkap Robert.

Candy tidak tahu bahwa sang mertua memiliki seorang pacar, tapi selingkuh …? Candy tidak tahu kapan rekaman itu diambil, mata yang mendadak buram tidak mampu melihat tanggal dan waktu yang tercetak dengan jelas. Gadis itu … meneteskan air mata, tidak mampu berkata.

Ini adalah hari pernikahan mereka, haruskah ia bersyukur atau marah karena semua kebenaran yang terungkap? Haruskah Candy senang karena ia gagal menikahi seorang pria yang ternyata bajingan? Hati Candy sakit, sama sekali tidak mampu memutuskan.

“Apa … yang harus aku lakukan?” Gadis itu terbata, kepala sudah seperti akan meledak mengingat hari pernikahan sudah di depan mata, hanya tinggal menghitung menit!

Candy tidak berpikir memulangkan para tamu akan menjadi sebuah solusi bijak, ia dan keluarga mustahil bisa menahan rasa malu itu dan Robert pasti merasakan hal yang sama, Candy berpikir.

“Bagaimana bisa Putra tega …” Candy terisak, tidak mampu menahan rasa sakit yang semakin menjadi di bagian dada. Candy tidak menyangkal Putra bersikap lain akhir-akhir ini, tapi selingkuh …? Hal itu sama sekali tidak terpikirkan. Putra selalu bersikap seolah-olah hanya ada Candy di dalam hidupnya, mata tidak mungkin berbohong. Tapi … bukti sudah menggila di dalam kepala, bagaimana bisa Candy tidak percaya?

Raut wajah Robert sendu. Dia mengangkat tangan guna membantu menghapus air mata yang membasahi pipi. “Jangan menangis,” harap lelaki itu. Suaranya terkesan lembut tanpa menghilangkan kesan gagah, segagah tubuh kekar yang mengatakan sang empu sering berolahraga. “Kau akan menghancurkan riasanmu dengan air mata,” tambahnya.

“Riasan ini sudah tidak berguna!” seru gadis itu putus asa. “Hari pernikahanku hancur, aku tidak mungkin menikah dengan putramu!” Tidak setelah apa yang telah terjadi! Padahal Candy mencemaskan Putra setengah mati dan lelaki itu bahkan tidak berkabar, sungguhkah dia menghindari pernikahan ini demi sang selingkuhan?

Candy hanya sekedar menebak, tapi di satu sisi merasa sangat yakin. Putra tidak lagi mencintai diri ini. Tentu saja, karena jika dia masih menaruh hati, dia tidak akan pernah bermain dengan perempuan lain! Perempuan yang adalah kekasih ayahnya? Putra pasti sudah gila!

“Aku minta maaf karena harus memberitahumu berita menyakitkan ini,” kata Robert pelan.

Candy menggigit bibir bawah sembari menggeleng kecil. “Tidak,” jawabnya sembari menggelap air mata. “Aku senang karena aku tahu seperti apa Putra di belakangku.”

“Aku membencinya,” ungkap Robert tiba-tiba, sukses membuat Candy reflek mendongak dan kontak mata pun bertemu.

Tidak usah bertanya soal apa maksud dari ungkapan itu. Robert menjelaskan, “Setelah dia membuat aku kehilangan seorang istri, dia dengan berani mencuri kekasih yang aku cintai. Fakta bahwa dia adalah anakku jauh lebih menyakiti hatiku.”

Candy tidak dapat berkomentar pada mirisnya kalimat yang ayah Putra keluarkan. Robert mungkin sudah memiliki dua anak, tapi itu tidak mengartikan dia tidak pantas bertemu perempuan lain dan berbahagia. Terlepas dari penampilannya yang memang masih terlihat muda dan segar seperti berusia 25an, dia memiliki materi dan sikap yang baik. Setidaknya itu adalah apa yang Candy tahu.

“Candy, menikah denganku.” Satu kalimat pendek yang mendadak meluncur keluar dari mulut Robert sukses memukul jantung Candy bagaikan palu raksasa.

Bab 2

Candy terdiam seribu bahasa, meragukan apa yang baru saja sepasang telinganya dengar. Candy berpikir, diri ini pasti sedang dalam keadaan tidak sehat atau sejenisnya, itu sebab sembarang menangkap suara. Tapi … Robert membuktikan bahwa kalimat yang sampai di indera pendengarnya tidaklah salah.

Robert bangkit dari duduk dan berlutut di depan Candy. Mengambil lembut tangannya mengulang, “Menikah denganku dan kita tidak harus memulangkan para tamu hari ini, kita bisa menghindari rasa malu,” tuturnya.

Candy mungkin setuju pada kalimat yang sampai di telinga, tapi menikah dengan seseorang yang seharusnya menjadi ayah mertuanya? Membayangkan hal itu dengan mudah sudah menyantak jantung bagaikan alat kejut. Candy bangkit, mencoba mengatur nafas agar kembali mengalir dengan benar.

Benar, menghindari malu …, tapi bobrok! Candy tidak mampu mencerna lamaran mendadak itu, sama sekali tidak bisa tidak perduli seberapa kuat berusaha.

Robert mendekat, berdiri di belakang punggung Candy sebelum menyentuh dua pundak putihnya lembut. Sekali lagi Candy sukses disentak, meski begitu tidak melakukan pergerakan apa pun. “Kau mungkin tidak tahu, tapi aku sering memperhatikanmu.” Lelaki itu menambahkan, “Aku tidak bercanda berkata, kau tidak pantas untuk Putra meski dia adalah anakku. Putra telah mengkhianatimu dan dia tidak pantas mendapatkanmu.”

Lantas, hal itu menjadikan dia pantas? Candy masih sulit mempercayai bahwa lamaran itu nyata, tapi … ibu tiri? Candy memutar badan menghadap Robert dan kontak mata pun bertemu.

Seorang ibu tiri? Ibu tiri Putra? Hal itu meloncat-loncat bagaikan kodok di atas otak Candy. Diri ini merasa terkhianati dan pembalasan apa yang paling sesuai untuk pemuda itu? Jika tidak ada pernikahan, Candy tidak akan punya kesempatan lagi untuk berada di dekat Putra dan itu artinya masalah ini akan terlewatkan dan lenyap begitu saja.

Candy tidak berpikir ia mau membiarkan hal itu terjadi. Setidaknya diri ini harus membalas rasa sakit yang memenuhi rongga dada, itu adalah apa yang melintasi benak dan apa yang ingin Candy lakukan. ‘Aku ingin menjadi ibu tiri yang kejam,’ batinnya. Candy mau melakukan apa saja untuk membuat pemuda bernama Putra tidak bahagia sama sekali meski itu termaksud menikahi orang yang tidak diri ini cintai.

“Mengapa kau ingin menikahiku?” tanya Candy, mengharapkan jawaban.

“Karena kau adalah perempuan yang baik,” jawab Robert tanpa ragu. “Aku jujur mengaku aku membenci Putra, tapi perempuan sepertimu tidak seharusnya dibiarkan pergi begitu saja. Itu mengapa … jika Putra tidak menginginkanmu, aku menginginkanmu.” Sedikit menjeda dengan mengambil nafas, Robert melanjutkan, “Biarkan aku mencintaimu dan menjagamu selama sisa umurku.”

Betapa tulus dan manis mulut lelaki itu, sangat menyentuh sampai Candy tidak mampu berkata-kata. Candy tidak mau mengakui bahwa diri ini kejam karena berpikir untuk menjadikan Robert sebagai alasan diri ini bisa memasuki rumah mereka dan memperlakukan Putra dengan buruk, tapi … Candy sudah bertekad. Hidupnya tidak akan tenang sebelum balas dendam terlaksanakan.

Tok … tok … tok … suara pintu yang digedor sukses merebut perhatian. Saat Candy dan Robert kompak menoleh, seorang lelaki yang adalah salah satu pengurus acara pada pagi hari ini sudah menyembulkan setengah badan. Dia berkata, “Nona, Tuan, acaranya akan dimulai sebentar lagi.”

Saat mendapat anggukan dari Robert, dia pergi tanpa lupa menutup pintu kembali. Robert kembali menatap Candy. Dia mengulang, “Jadi, apakah kau mau menikah denganku?”

Terlalu berat berkata mau, tapi jauh lebih berat untuk menggeleng. Demi balas dendam, agar putra bisa merasakan rasa sakit yang sama, kepala Candy bergerak naik dan turun sebagai jawaban. “Aku mau menikah denganmu,” ujarnya.

Robert tersenyum mendengar jawaban penuh percaya diri itu. Dia mengambil tangan Candy dan membawanya keluar dari ruangan.

Candy dibantu oleh dua orang bridesmaid untuk berdiri di depan pintu, tempat di mana acara akan berlangsung. Gadis itu sudah berpisah dari Robert yang akan berdiri di altar, masuk melewati pintu bagian samping.

Pintu tinggi dibuka, menampilkan Candy yang luar biasa indah dengan gaun yang sebelumnya dia pilih bersama Putra. Candy bahkan masih mengingat betapa lebar senyuman cerah di wajah sang pujaan hati, tapi senyuman itu kini lenyap dari kepala.

Candy tidak melihat senyuman, dia melihat ekpresi murung yang sukses menambah kadar kebencian dalam hati. Lagu pernikahan mengalun sangat lembut, semua tamu yang sebelumnya terduduk di bangku panjang, di antara karpet merah yang berbentang bangkit satu per satu.

Candy mengangkat kepala sebelum mengambil langkah, dia melihat Robert yang baru saja muncul di atas altar. Belum ada yang menyadari keanehan pernikahan ini karena semua tamu memberi perhatiannya khusus pada Candy yang perlahan memasuki ruangan dengan sebucket bunga di kedua tangan.

Gereja, tempat acara berlangsung dihias simpel dengan beberapa pita besar berwarna putih. Pintu bunga dan beberapa balon berwarna merah jambu. Dua bridesmaid membantu memegangi gaun panjang Candy dengan hati-hati agar sang empu tidak kesulitan berjalan, sementara dua di depan Candy menebar kelopak bunga mawar dengan senyuman megah.

Tepuk tangan sangat meriah sampai kemudian Candy tiba di atas altar. Menyadari mempelai yang berbeda, semua orang kompak membisu. Sang pendeta termaksud salah satu yang sebelumnya tidak memperhatikan. Lelaki tua itu mengenal Robert dengan baik, sangat baik sampai ia tidak mampu memutar otak kala menyadarinya berdiri di depan mata.

Semua orang melongo, mempertanyakan apa yang sebetulnya sedang terjadi! Lagu pernikahan masih mengalun, tapi mendadak tidak ada yang bisa mendengar suara apa pun. Semua mata tertuju khusus pada sang memepelai yang seharusnya menjadi ayah mertua dari sang mempelai perempuan!

Bukan hanya para tamu, keluarga besar dari kedua mempelai memberi reaksi yang tidak kalah heboh. Mereka berpikir, apakah Putra yang akan menikah mendadak semakin mirip wajahnya dengan sang ayah atau lelaki yang sedang menghadap Candy itu sungguh adalah Robert?

Semua terlalu sibuk termenung, tidak ada yang ingat untuk mengangkat tangan dan bertanya. Bahkan jika ingat pun, tidak mungkin ada yang berani karena pasti sangat tidak elok.

Namun …, namun … kehabisan kata-kata. Satu per satu dari tamu akhirnya bisa mengerjapkan mata, menelan ludah, menutup mulut yang mengganga tanpa aba-aba dan melakukan pergerakan-pergerakan kecil.

Apa pun yang mereka lakukan, siapa yang berdiri di atas altar sungguh tidak berubah dan dia adalah Robert Wijaya, ayah dari Putra yang seharusnya berdiri di sana.

Semua orang merasa yakin bahwa nama yang tercetak di kertas undangan adalah Putra, bukan Robert, tapi melihatnya berdiri di sana membuat semua yang hadir mendadak ragu. Kecuali keluarga besar, tentunya.

Candy menyadari tatapan penuh tanda tanya dari semua tamu dan ia tidak canggung sama sekali. Rasanya tidak begitu buruk, jika harus ia katakan. Robert baru saja menyadarkan sang pendeta yang masih sibuk membeku dan acara pun berlangsung.

Bab 3

Mengikat janji suci, pemilik punggung tegap tertutup jas hitam itu masih mengeluarkan suara berat khas Robert. Saat mencium sang mempelai, wajahnya masih tampak sangat mirip seperti Robert dan saat menghadap tamu dengan senyuman, dia masih saja Robert!

Setelah acara usai, satu per satu tamu meninggalkan gereja dengan pertanyaan yang masih belum terjawab. Binggung dan aneh, dua hal itu mengantar kepergian mereka sampai kembali ke rumah.

Akhirnya setelah lama menunggu, ibu Candy bisa menampakkan diri. Dia sudah menunggu sangat lama, terus bersabar karena tidak mungkin tiba-tiba mengacaukan acara. Wanita itu punya malu, jelas tidak akan melakukan hal seperti itu, tapi … anaknya baru saja menikahi seorang duda!

Seorang duda dengan dua anak di saat dia seharusnya menikahi putra tunggalnya yang memiliki usia yang sama dan sudah menjalin hubungan selama lima tahun terakhir! Kegilaan apa ini? Candy tidak mengatakan sepatah kata pun dan tidak ada yang menyetujui pernikahan ini!

Candy baru saja memasuki ruang ganti dan pundaknya sudah ditarik sangat kasar sampai tubuh berbalik. Kaki berlapis heel 7cm sempat oleng, beruntung karena tidak jatuh. “Apa yang kau lakukan?!” marah wanita itu, sebut saja Keisya. Dia mencerca, “Bagaimana bisa kau menikahi seorang duda?! Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu?”

Keisya melihat Candy berdiri di sana dan mengikat janji secara sukarela, jadi jangan coba berdrama dan berkata dia terpaksa! Keisya mengakui bahwa Robert memang kaya raya dan belum terlalu tua, dia tampan dan memiliki posture tubuh yang bagus. Robert seorang pembisnis sukses yang selalu muncul wajahnya di timeline sampai diri ini muak melihatnya, tapi fakta bahwa dia seorang duda tidak bisa berubah!

Candy tidak harus menikahi Robert untuk bisa mendapatkan semua aset yang dia punya. Candy sudah sangat serasi bersama Putra, putra tunggal dari Robert yang akan mewarisi semua kekayaannya dan apa yang terjadi hari ini?

Kembali memikirkan bagaimana Candy mendaratkan bibir pada mulut Robert membuat Keisya mengangga tak percaya. “Di mana Putra?” tanya sang ibu, ekpresi marah di wajah yang dipenuhi oleh riasan membuatnya terlihat jauh lebih tua dari biasanya.

“Ibu tidak harus memikirkan Putra, hubungan kami telah selesai,” jawab Candy acuh meski hati masih sukses disentil oleh nama sang mantan kekasih tercinta yang disinggung.

“Selesai?!” syok wanita itu menjerit. “Kau baru saja menikahi ayahnya, Candy!” imbuhnya mengingatkan. “Sebetulnya apa yang telah terjadi di antara kalian?”

Haruskah Keisya mengulang sekali lagi apa yang menjadi topik hangat para tamu undangan hari ini? PUTRI TUNGGAL Keluarga Stain baru saja menikahi seseorang yang seharusnya menjadi AYAH MERTUANYA! Kegilaan yang terjadi hari ini, bagaimana bisa Candy mengharapkan diri ini hanya diam dan bersikap layaknya tidak ada yang terjadi?

Hal itu lebih baik daripada memulangkan para tamu, Candy berpikir, tapi tidak akan dia lontarkan jika saja tidak ingin melihat sang ibu kian gila mengoceh. “Aku akan baik-baik saja bersamanya, Ibu tidak harus cemas,” ujar Candy, lagi-lagi terdengar sangat acuh.

“Robert bisa menjadi ayahmu, Candy!” berang sang ibu, tak habis pikir pada entah apa yang ada di dalam benak Candy. “Kau mungkin tidak masalah, tapi bagaimana dengan kami?”

SEORANG DUDA! Keluarga Stain akan menjadi olok-olokan dari keluarga yang lain, kerabat dan teman dekat dan itu dikarenakan Candy yang punya kesempatan bersama seorang pewaris, tapi malah memilih untuk menikahi ayahnya.

Lagi-lagi, ingatan itu menyebabkan kepala Keisya berdenyut hebat. Kaki oleng, beruntung tidak jatuh karena dinding yang bisa dijadikan pegangan. Keisya berani bersumpah bahwa ia tidak pernah menemukan sesuatu di antara Robert dan Candy, tapi mengapa tiba-tiba dia malah menikahinya?

Tidak usah tahu karena sang ibu hanya akan murka jika mendengar alasan Candy. Gadis itu menutur, “Ibu sebaiknya pulang dan beristirahat, kita ada acara malam ini.”

Betapa mudah sang anak berkata layaknya tidak lagi perduli pada dunia yang mungkin tenggelam besok. “Astaga … jantungku …” Keisya masih berusia empat puluh dua tahun, masih muda, tapi sang putri tunggal membuatnya bersikap layaknya nenek-nenek yang sering mengalami sakit pada bagian kepala, jantung, tubuh, tulang, kaki dan sekujur tubuh!

“Kau pasti mencoba membunuh ibumu ini,” ujar wanita itu sembarang.

Candy acuh. Bukan tidak mau meladani, tapi berpikir bahwa akan lebih baik tetap diam. Candy mengambil tas berbentuk diamond play button dari atas meja rias, langkah kakinya dihentikan oleh seseorang yang baru saja tiba di ambang pintu. Lelaki yang baru saja sah menjadi suaminya itu tidak bisa masuk karena punggung sang ibu menghalangi.

“Kau menikahi Robert, Candy …” Keisya tidak bosan mengulang, sialnya dia dikejutkan oleh sang pemilik nama yang entah sejak kapan muncul di belakang.

“Keisya,” panggil Robert, sukes menyentak dia yang disebut.

“Astaga!” Keisya bergegas berbalik dan mengambil beberapa langkah mundur untuk membiarkan Robert lewat. ‘Sudah berapa lama dia di sana?’ pikir Keisya. Ia mungkin serasa gila karena menentang pernikahan yang sudah tejadi, tapi Robert sebaiknya tidak mendengarkan apa pun karena lelaki itu terlalu kaya dan berkuasa untuk bisa dilawan. Menyinggung perasaannya jelas bukan hal yang baik dan menguntungkan.

Tidak usah cemas karena Robert tidak mendengarkan apa pun kecuali kalimat terakhir yang mulut Keisya lontarkan. Omong-omong haruskah Robert memanggil wanita itu ibu?

Tolong jangan dibahas! Keisya sungguh akan gila jika Robert membicarakannya atau sungguh memanggilnya seperti itu. Robert mungkin lebih muda, tapi jarak di antara usia mereka tidaklah banyak.

Sepatu hitam bersih nan kinclong yang Robert kenakan membawanya mendekati sang istri yang masih berdiri tegak tanpa mengatakan apa pun. Robert menyentuh lengannya lembut sebelum kembali menatap Keisya dan berkata, “Tidak usah cemas, aku berjanji akan menjaga Candy dengan baik.”

Bukan itu yang sedang Keisya cemaskan! Lihat mereka, lihat betapa tinggi Robert dan Candy yang hanya mencapai bagian dadanya. Semua orang mungkin sering mengatakan, tapi tampang Robert yang terkesan muda tetap saja terlalu tua untuk bisa menjadi suami Candy!

“Sebelumnya aku minta maaf karena pernikahan ini pasti sangat mengejutkanmu dan keluarga yang lain,” tutur lelaki itu penuh percaya diri, tapi terkejut?

Semua keluarga kompak terkena serangan jantung karena dua orang itu! Pada akhirnya, keluarga Robert terpaksa menerima dan berdiam diri karena Robert sudah terlalu tua untuk tahu apa yang sedang dia lakukan. Alasan lain, dia adalah pemegang kuasa terbesar di antara semua keluarga, jadi tidak ada yang berani protes apalagi menentang karena itu sama saja dengan bunuh diri.

Seperti itulah kuatnya sesuatu yang dinamakan kekayaan, tapi … Keisya masih saja sulit menerima. Suaminya tengah terbaring lemas di dalam mobil karena kejadian ini, dia hampir mati karena tidak dapat bernafas dengan benar! Tidakkah Candy dan Robert tahu betapa besar dampak dari sesuatu yang tiba-tiba mereka lakukan dengan mudah?!

Robert menambahkan, “Sekali lagi aku minta maaf, Ibu.”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED