Bab 1

“Bang, bolehkah Nia pulang? Menemani Bapak dan Emak di kampung?” tanyaku. Kutatap lekat wajah bang Ilham, abang kandungku, yang tengah menyesap kopi hitamnya, yang terkejut mendengar permintaanku.

“Ke ...kenapa, Dek?” ujarnya terbata.

“Alhamdulillah, Nia sebentar lagi akan wisuda. Nia ingin membahagiakan bapak dan emak, Bang,”

Sudah empat tahun aku mengikuti laki-laki berbadan tegap yang duduk di depanku ini. Sejak meninggalnya kak Intan, istrinya, yang meninggalkan Bela, keponakanku yang saat itu masih berusia delapan tahun. Bang Ilham meminta izin pada bapak dan emak, agar aku bisa menemani Bela yang saat itu masih sedih atas kehilangan ibunya. Sejak saat itulah, aku mulai tinggal dengan bang Ilham dan Bela, jauh meninggalkan bapak dan emak, dan adik bungsu kami, Taufik.

Bang ilham mengalihkan pandangannya dariku, ditatapnya langit malam, desahan nafas panjangnya terdengar.

“Abang paham, Dek. Mungkin memang ini saatnya, kamu pulang,” ucapnya, tanpa sekalipun memandangku.

Bang Ilham hanyalah karyawan kantor biasa, Alhamdulillah, dengan gaji tidak seberapa, mampu menguliahkanku. Jatuh bangun kami lalui bersama, bang Ilham tetap bersikeras untuk tetap menguliahkanku. Akhirnya, aku bekerja sampingan, dengan membuka jasa les privat di rumah, bisa membantu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kapan rencana kamu pulang, Dek?”

“Setelah acara wisuda, Bang. Tepatnya dua hari setelah acara, Nia juga sudah pesan tiket Bus,” kuputar-putar sendok yang ada di dalam gelas.

Helaan nafas Bang Ilham makin jelas terdengar. Ya, keputusan untuk pulang ke kampung memang sudah lama aku rencanakan, dan baru saat ini aku memberitahukannya kepada bang Ilham.

“Bela juga sebentar lagi akan melanjutkan sekolahnya ke pesantren, Dek. Jadi, Abang ditinggal sendiri nih, ya,” ujarnya terkekeh, menunjukkan lesung pipit di pipi kanannya.

“Apa rencana kamu di kampung, Dek?”

“Nia sudah tanya teman-teman disana, Bang. Alhamdulillah, sekolah dasar yang ada di kampung sebelah menerima tenaga pengajar. Nia juga sudah mendaftarkan diri,” ujarku lancar.

“Alhamdulillah, pergunakan ilmu yang kamu dapat disini sebaik-baiknya ya, Dek. Jangan mengharap pamrih, kerjakan dengan ikhlas. Insyaallah, Allah akan memberi lebih,” diusapnya pucuk kepalaku, ada setetes air mata di ujung mata bang Ilham. Ah, kupeluk erat bang Ilham, tangisku pecah.

“Maafkan Nia, Bang,” ujarku

“Sudah, sudah. Abang juga minta maaf, pulanglah. Abang ikhlas,” dipeluknya tubuhku erat. Perpisahan ini bukanlah yang kupinta, entah mengapa perasaanku tidak enak beberapa hari ini. Kemarin malam, aku juga bermimpi, bertemu bapak dan emak yang memakai baju putih. Hal ini tidak pernah kuceritakan pada siapapun, termasuk bang Ilham, karena takut akan membuatnya khawatir.

***

Alhamdulillah, hari ini acara wisuda dilaksanakan. Kulihat bang Ilham sudah siap, ketampanannya bertambah dengan setelah yang dikenakannya. Bela juga sudah selesai menggunakan jilbab panjangnya.

'Kata umi, perempuan itu berdosa, kalau tidak menutup rambutnya, Bunda,' ujarnya waktu itu, padahal usianya masih sembilan tahun.

“Bunda cantik,” ujarnya mengagetkanku.

“Ponakan Tante, yang lebih cantik,” ku cubit pipi tembemnya.

“Ayo, kita berangkat, mobilnya sudah datang, tuh,” ujar bang Ilham.

Kugenggam tangan Bela menuju mobil yang telah dipesan bang Ilham sebelumnya. Pagi tadi, sempat ku hubungi bapak dan emak via telepon, mengabarkan bahwa hari ini aku wisuda. Emak menangis bahagia, namun wajahnya tidak terlihat, karena keluargaku di kampung belum ada gawai buatan cina yang bisa menampilkan wajah seseorang.

Alhamdulillah, acara wisudaku selesai, didampingi oleh bang Ilham untuk menerima ijazah. Kebahagiaanku bertambah, karena mendapatkan predikat cumlaude.

***

“Kalau sudah sampai, kabari Abang ya, Dek,” kusalami takzim tangan bang Ilham. Kami sudah berada di terminal, kebisingan kendaraan yang hilir mudik dan hiruk pikuk manusia tidak menghalangi air mataku jatuh.

“Terus beri kabar, ya. Abang tidak bisa mengantar kamu pulang,” ujarnya haru.

“Iya, Bang,”

Kunaiki bus yang sudah memberikan tanda akan segera berangkat. Enam belas jam perjalanan sampai di kabupaten, ditambah dua jam perjalanan lagi untuk sampai di kampung Asri, kampung kelahiranku.

“Assalamu’alaikum,” kulambaikan tangan ketika sudah berada di pintu bus.

“Wa’alaikumsalam,” ujarnya, dengan cepat bang Ilham menghapus jejak air matanya.

***

Beberapa saat lagi, bus akan sampai di kabupaten. Kubuka gawai yang ada di tas kecilku.

Tuut

Tuut

Kuhubungi Taufik, untuk menjemputku di terminal. Tanpa sepengetahuan bapak dan emak, aku berencana untuk memberikan surprise dengan kepulanganku.

“Halo, Kak. Taufik udah di terminal, Kak Nia udah dimana?” ucap Taufik, begitu telepon tersambung.

“Sebentar lagi, Fik. Mungkin beberapa menit lagi,” jawabku.

“Oke, kak,” telepon dimatikan begitu saja olehnya.

Ah, kupandangi jalan yang dilalui, begitu banyak perubahan yang terjadi. Selama empat tahun, tidak pernah sekalipun aku pulang, bukan karena tidak mau. Tapi aku paham bagaimana keuangan bang Ilham, sedikit banyaknya aku tidak mau membebaninya.

‘Nduk, kita itu orang susah. Walaupun kita susah harta, tapi kita tidak boleh susah hati. Allah maha kaya, Allah tahu mana yang baik untuk kita. Jika kita kaya hati, insyaallah kita bahagia,’ ucapan bapak mengingatkanku ketika akan melepaskanku pergi.

Bus berhenti, kulangkahkan kaki keluar dari bus, seraya sopir menuruni beberapa barang, kuhubungi kembali Taufik.

“Dek, dimana? Kakak sudah sampai,” belum ada jawaban dari ujung telepon, tiba-tiba seorang pria tinggi bertopi meraih tas yang ada di depanku.

“Hei, siapa kamu?” kutarik ujung bajunya kuat.

“Tadaaaa ... Kak Nia, ini Taufik,” ujarnya.

“Taufik?”

Diraih dan diciumnya punggung tanganku. Laki-laki yang kini lebih tinggi dariku itu, membawa beberapa barang bawaanku menuju kereta roda dua tua milik bapak. Roda dua yang sudah sering turun mesin itu masih setia dengan keluargaku.

Taufik menata barang bawaanku, kupandangi adikku satu-satunya itu. Tahun ini, seharusnya ia akan melanjutkan ke perguruan tinggi.

‘Lihat nanti gimananya, Bang,’ jawabnya, ketika aku dan bang Ilham menanyakannya setelah menerima ijazah sekolah menengah atasnya.

Roda dua bapak melaju pelan, kalau dipaksakan nanti batuk kak, ujar Taufik ketika kutanyakan mengapa ia membawanya sangat santai sekali. Perjalanan yang kurindukan, menikmati ciptaanNya gunung-gunung dan sawah terlihat di sepanjang perjalanan.

Tiba-tiba terlihat mobil sedan berwarna merah yang ada di belakang kendaraanku, membunyikan klakson nya secara barbar.

“Dek, mobil itu kenapa?” tanyaku sedikit teriak, agar Taufik bisa mendengarnya.

Taufik melirik ke kaca spion yang sudah sedikit retak dan mulai melambatkan kendaraan.

“Heh, Taufik,” teriak seorang perempuan muda turun dari mobil tersebut, setelah menyalip kendaraan kami.

“Gak usah belagu ya. Udah dibilangin, kalau kamu tu ga pantas dapat beasiswa itu,”

Aku hanya bisa melongo, memperhatikan perempuan tersebut marah-marah sambil berkacak pinggang. Apa yang terjadi? siapa wanita ini? beasiswa?.

“Ayo, Kak. Naik, kita pulang,” ucap Taufik membuyarkan lamunanku.

Segera kunaiki kembali roda dua bapak, Taufik segera tancap gas.

“Hei, orang miskin. Jangan belagu ya,” teriak wanita tersebut tanpa henti.

Kuperhatikan wanita itu yang makin lama semakin jauh, wajahnya seperti tidak asing, kucoba untuk mengingatnya, tetapi nihil. Ah, mungkin nanti saja kutanyakan dengan Taufik, apa hubungannya dengan wanita muda tersebut.

***

Dari kejauhan, aku sudah bisa melihat rumah dengan atap seng yang sudah mulai berkarat, pintu rumah kecil tempat aku dilahirkan itu terlihat terbuka. Taufik membelokkan kendaraan ke halaman rumah, belum sempat aku turun, terdengar suara bapak dari dalam.

“Bukankah, kami layak mendapatkan bantuan tersebut, Pak?” suara bapak terdengar begitu lembut, suara yang selalu kurindukan.

“Sudah saya bilang berapa kali, Pak Arman. Bapak tidak bisa mengajukan bantuan tersebut,” ujar seorang laki-laki lain terdengar marah.

“Tapi, Pak ...?”

“Saya tidak akan mengajukannya, permisi,”

Seorang laki-laki berpakaian rapi, mengenakan celana kain dan baju batik keluar dengan wajah marahnya. Kuanggukan kepala ketika ia melewatiku.

“Miskin, belagu lagi,” ucapnya ketus, terdengar ditelingaku.

Apalagi ini, siapa pria ini, apa maksud ucapannya. Ini juga akan kutanyakan nanti dengan bapak dan emak.

“Assalamu’alaikum,” ucapku. Bergegas kulangkahkan kakiku masuk, bapak dan emak terkejut melihatku. Kupeluk emak yang duduk di dipan ruang tamu, air mataku membasahi kerudung emak, begitupun emak, diciumnya pipiku berkali-kali.

“Anak gadis emak, udah pulang,” ucapnya sambil terus menciumi pipiku.

“Kok ga bilang-bilang, kamu mau pulang, Nduk,” ucap bapak, kulirik bapak, matanya memerah, bukan karena marah, tapi ada jejak air mata di pipinya.

“Mau buat kejutan, untuk Bapak dan Emak,” sahut Taufik yang muncul di depan pintu sambil membawa barang bawaanku.

“Hehehe, iya Pak,” kuhampiri bapak, memeluknya erat. Bau keringatnya pun selalu kurindukan, wajah yang tidak lagi muda, kulit bapak sudah mulai berkerut di wajah dan tangannya.

“Bapak dan Emak, sehat?" tanyaku,

"Alhamdulillah, sehat Nduk," ucap Ibu.

"Yowes, kamu istirahat dulu. Emak mau ke kedai Mbok Inah dulu, ya. Mau belanja banyak, terus masak enak," seru Ibu seraya bangkit dari duduknya.

"Nia juga ikut ya, Mak," kupeluk lengan emak seraya berjalan keluar rumah.

Kedai Mbok Inah tidak terlalu jauh dari rumahku, dengan berjalan santai saja, cukup memakan waktu lima belas menit. Di sepanjang perjalanan aku selalu bercerita tentang kegiatanku selama tinggal dengan bang Ilham, dan emak pun selalu bertanya dengan semangatnya. Tanganku tidak pernah melepas pergelangan tangan emak.

"Kamu tunggu disini ya, Emak kebelakang dulu," ucap Emak setelah sampai di kedai Mbok Inah. Terlihat orang-orang hilir mudik, kuanggukan kepala ketika ada seorang wanita tersenyum padaku. Sudah sepuluh menit berlalu, tetapi emak belum muncul juga.

"Mak," kupanggil emak seraya masuk kedalam kedai. Terdengar emak berkata seraya menangis.

"Nanti, kalau ada uang, saya bayar ya, Mbok," suara emak terdengar lirih.

"Kamu itu ya, kalau miskin gak usah belanja banyak. Yang kemarin juga belum bayar, kan? Mau uang darimana untuk bayar semuanya? Apa anakmu Ilham, gak kirimin uang?"

Degh

Segera kuhampiri emak, kutatap wajahnya yang terkejut melihatku.

"Berapa hutang Emak saya, Mbok? Saya bayar lunas semuanya," ujarku tegas.

Bab 2

"Berapa hutang Emak saya, Mbok? Saya bayar lunas semuanya," ujarku tegas. 

Mbok Inah sama terkejutnya dengan emak. Raut wajah mbok Inah segera berubah masam, diraihnya buku kecil yang ada di meja dapurnya dengan kasar. Usia mbok Inah lebih muda dari emak, tetapi entah mengapa tidak ada hormatnya sedikitpun dengan bapak dan emak. Padahal, usia anaknya juga masih tingkat sekolah dasar. 

"Owh, jadi anak kebanggaanmu udah pulang, toh," ujarnya sarkas.

"Maaf, Mbok, berapa hutang Emak semuanya?" ucapku kembali lembut. Emak menggenggam tanganku seraya menepuk pelan tanganku, mengisyaratkan agar aku tidak emosi. 

"Dua ratus lima puluh ribu," Mbok Inah menatapku jengah. 

"Emak mau belanja apa lagi?" kutarik lengan Emak lembut, dan menuntunnya ke depan. 

"Emak cuma mau beli minyak sama gula aja, Nduk," 

Padahal aku tahu, emak bukan belanja bahan itu saja, melainkan juga ayam dan bumbu dapur lainnya. Sempat terdengar sebelumnya, emak meminta itu sebelum aku memergoki emak menangis. 

"Mbok, tolong juga dihitung, ayam setengah kilo, gula dan minyak juga satu kilo, ya," ucapku, seraya tanganku sibuk menumpuk barang-barang lainnya. 

Mbok Inah bergegas merapikan barang belanjaanku, tak lupa mulutnya ikut komat kamit seakan tidak suka. 

"Yang ini dibayar kok, Mbok. Jadi gak usah masam gitu, mukanya," Ibu mengedipkan matanya, tanda tak suka akan ucapanku. 

"Totalnya sembilan puluh tiga ribu, ditambah hu … tang," Mbok Inah menekankan kata hutang dengan tegas. 

"Jadi, semuanya tiga ratus empat puluh tiga ribu," jemarinya sibuk menekan kalkulator mininya. 

Kuambil dompet yang ada di saku gamisku, menyerahkan uang lima puluh ribuan sebanyak tujuh lembar dan menyerahkannya ke mbok Inah. 

Mbok Inah sedikit terkejut, tetapi dengan cepat menguasai kembali keadaanya. 

"Nih, kembaliannya," 

"Terimakasih, Mbok," ucap emak seraya mengangkat satu kantong belanjaan. 

"Ya, besok-besok jangan ngutang lagi. Kan si miskin udah jadi kaya," ucapnya pelan, tetapi masih terdengar ditelingaku dan emak. 

Mulutku baru mangap ketika emak sudah menarik paksa untuk keluar dari kedai Mbok Inah. 

"Sudah, jangan dilayani, gak enak nantinya. Emak kalau belanja cuma kesana. Karena itu yang terdekat, Nduk," 

"Iya, Mak. Tapi kan seharusnya mbok Inah mulutnya jangan lemes," memonyongkan bibirku, tanda tidak setuju dengan perkataan emak. 

"Mak, apa uang yang dikirim bang Ilham tidak cukup?" tanyaku 

Mendadak emak menghentikan langkahnya, dan memandang lekat. Ada air mata yang tertahan di sudut mata emak. 

"Besok-besok, Emak cerita ya, Nduk. Sekarang kita masak dulu, kamu juga pasti sudah lapar dan butuh istirahat," ujar emak seraya melangkahkan kakinya kembali. 

Ternyata banyak rahasia yang harus ku ungkap. Empat tahun bukanlah waktu yang singkat. Ah, sejenak akan kulupakan dulu hal tersebut, sekarang waktunya makan enak dan istirahat. 

***

Adzan maghrib telah berkumandang, bapak dan Taufik sudah berangkat ke masjid sejak tadi. Indahnya kampungku, tidak ada suara kendaraan yang berlalu lalang. Berbeda dengan di kota, kendaraan yang sibuk hilir mudik, menandakan waktunya untuk pulang setelah selesai mencari nafkah. 

Emak meraih mushaf yang sedikit usang, dibacanya pelan. Terdengar suara bapak dan Taufik diluar rumah. 

"Assalamu'alaikum," ucap kedua lelaki tersebut bersamaan. 

" Waalaikumsalam," 

"Sudah shalat, nduk?" tanya bapak. 

"Lagi izin, Pak." jawabku. Begitulah kebiasaan bapak, pasti selalu mengabsen anak-anaknya, apakah sudah shalat atau belum. 

'Bapak bukan tidak percaya, tetapi setan banyak tipu muslihatnya. Jadi, Bapak hanya mengingatkan saja. Karena terkadang ada orang yang sudah dengar adzan, tetapi berat untuk melaksanakannya.' Kalimat itu kembali terngiang ditelingaku. 

"Pak, hutang di kedai Mbok Inah, alhamdulillah sudah lunas. Tadi Nia sudah membayarnya," ujar emak seraya menutup mushaf ditangannya. 

"Lah, kok?" 

"Iya, Pak. Alhamdulillah," kulirik Taufik yang tengah makan menghentikan suap nya. 

"Dengan bunganya juga, Kak?" sahut Taufik. 

"Bunga? Maksudnya, Fik?" 

"Hutang Emak, kan, cuma tujuh puluh ribu. Tapi kalau di kedai mbok Inah bisa jadi tujuh ratus ribu," 

"Astagfirullah, benar, Mak?" 

Emak mengangguk lemah dan Bapak terlihat menerawang jauh ke arah pintu rumah. Emak mulai bercerita, kalau kas bon di kedai mbok Inah maka akan ditambah dengan persen bunga per hari dari jadwal pembayaran yang telah ditentukan. Maka apabila telat sehari membayar, maka akan bertambah pula catatan hutangnya. Apakah mbok Inah tidak tahu, bahwa itu adalah riba dan Allah sangat membenci perbuatan tersebut. 

"Pak, Nia mau tanya, apakah uang yang dikirim bang Ilham selama ini, tidak cukup untuk Bapak dan Emak," tanyaku pelan. Kulangkahkan kakiku menuju kursi bapak, ku genggam tangannya hangat. 

Semua terdiam, tidak ada yang terdengar terkecuali suara jangkrik yang bersahutan diluar rumah. 

"Mak?" kualihkan pertanyaanku kepada emak. 

"Nanti juga kamu akan tau, Nduk." Hanya itu jawaban Bapak dan aku paham bahwa ini bukan saat yang tepat untuk mendapatkan jawabannya. 

*** 

Mentari bersinar terik pagi ini, waktu masih menunjukkan pukul sembilan lewat sepuluh menit. Bapak dan Taufik sudah pergi setelah subuh, ke kebun yang ada di kampung sebelah. Emak tengah sibuk di halaman belakang memetik sayuran yang telah ditanamnya. 

Drrt

Drrt 

Terdengar pesan masuk ke telepon genggamku, yang ada di meja dapur. 

[Nia, besok kamu sudah bisa datang ke sekolah ya. Tepat pukul delapan, jangan telat], rupanya Intan yang mengirim pesan. 

[Beres, bu bos] balasku. 

Akhirnya, setelah dua hari menunggu kabar, Intan, teman kecilku dan juga tenaga pengajar di sekolah dasar tempat pengajuan kerjaku memberi kabar. 

"Nia, kapan kamu mulai mengajar?" Emak sudah berdiri di hadapanku. 

"Alhamdulillah, Mak. Intan baru kasih kabar, kalau besok, Nia sudah bisa datang ke sekolah," 

"Alhamdulillah, berarti besok kamu diantar bapak, ya." 

"Loh, bapak gak ke kebun, Mak?" 

Sekolah dan kebun berbeda arah, sekolah yang ku tuju berada di kampung Cemara, sedangkan kebun berada di arah sebaliknya, yaitu di kampung Padi.

"Bapakmu ada urusan di kantor camat," ucap emak ragu. 

"Oh, yowes. Besok aku sama Intan aja, Mak!" Emak tak menanggapi lagi jawabanku, seakan setuju akan keinginanku. 

"Mak, aku ke kedai mbok Inah dulu, ya. Mau beli ***balut," 

"Hati-hati, awas jangan lemes mulutnya," ujar emak seraya terkekeh lucu.  

****

Kedai mbok Inah terlihat ramai oleh ibu-ibu. Wajar bila waktunya mereka belanja untuk keperluan makan siang. Kulihat ada mbah Sarmi, mbak Risa dan mbak Atun, sedangkan yang lainnya tidak ku kenal. 

"Assalamu'alaikum," 

"Waalaikumsalam," ucap mereka serentak, seperti koor paduan suara. 

Mbak Risa memperhatikanku dari ujung kaki sampai ujung kepala, dahinya berkerut menandakan sedang berpikir. 

"Gak usah banyak mikir, itu si miskin yang jadi kaya, Nia, anaknya Arman," mbok Inah tiba tiba muncul dari samping kedainya. 

Andaikan tidak ingat perkataan emak, mungkin sudah ku segel mulut mbok Inah. 

"Wah, Nia. Makin cantik aja," mbah Sarmi menghampiriku, kusalami wanita berkerudung warna maroon itu. 

"Mau ngutang lagi?" Masih dengan ketusnya, mbok Inah terus saja memancing emosiku. Ibu-ibu yang lain mencoba terlihat sibuk dengan memilih bahan belanjaan, mulut mereka juga sibuk berbisik-bisik sambil melirik ku. 

"Gak kok, mbok. Cuma mau beli ***balut, yang merk ***** ada, Mbok?" Merk yang kusebutkan memang sedikit mahal dari lainnya. Bukan karena harga, tapi karena memang aku sudah cocok menggunakannya. 

"Alah, emang kalau pakai merk lain, yang lebih murah, kenapa? Miskin ya miskin aja, keluarga miskin aja belagu" ujarnya lagi. Mbah Sarmi mengusap lembut tanganku sedangkan yang lain terlihat semakin kusuk memindai wajahku. 

"Mbok, dengar ya. Nia tidak tahu, ada masalah apa sebelumnya Mbok dengan keluarga Nia. Setahu Nia, hutang emak sudah Nia bayarkan, lunas. Bukankah hutang emak cuma tujuh puluh ribu? Mengapa Mbok menagihnya menjadi dua ratus lima puluh ribu? Apa Mbok sadar, kalau itu riba? Apa Mbok tahu, orang pemakan riba di hari kiamat tubuhnya halal disentuh api neraka?" ucapku garang, terdengar detak jantung dan nafas ku yang memburu. 

Seketika suara manusia tidak terdengar di telingaku. Semuanya terdiam, mulut mbok Inah terbuka lebar memandangku, pukulan telak baginya. Kuambil ***balut yang ada di gantungan kedai, meletakkan uang dua puluh ribu diatas meja. 

"Kembaliannya untuk mbok saja,. Nia, ikhlas. Lebih baik miskin harta, daripada miskin hati," ujarku seraya meninggalkan kedai tersebut. Masih sempat kuucapkan salam, dan hanya satu orang saja yang menjawab salamku, mbah Sarmi. 

Baiklah, mari kita buktikan, siapa yang paling kaya disini.

Bab 3

Sepanjang jalan pulang dari kedai mbok Inah, tidak hentinya aku beristighfar, menyesali perbuatanku. Aku tahu ini salah, tetapi setidaknya memang mbok Inah harus diberikan sedikit teguran. 

“Nia! Nia!” terdengar teriakan suara wanita dari arah belakangku. Kulihat mbah Sarmi berjalan cepat, badan tambunnya bergoyang ketika ia dengan cepat menghampiriku. 

“Kenapa, Mbah?”

“Hah, hah, tu … tunggu sebentar,” ujarnya seraya mengatur nafasnya yang terdengar ngos-ngosan. 

“Kamu baik-baik saja, kan, Nia?” 

“Maksud Mbah? Nia baik-baik saja kok” kuputar badanku beberapa kali di hadapan mbah Sarmi, sambil tersenyum jahil. 

“Kamu ini, Mbah serius.” 

“Alhamdulillah, Mbah.” 

“Kamu itu, yo, kok berani-beraninya semburin Inah. Tapi, Alhamdulillah juga, akhirnya ada yang mewakili isi hati dari ibu-ibu kampung. Tau gak Nia, sepulang kamu dari sana, Inah langsung nutupin kedainya. Kena serangan jantung kali ya tu orang. Bilangnnya, ada urusan mendadak, mau pergi kondangan. Padahal, setahu Mbah, gak ada tuh hari ini syukuran di kampung-kampung sini,” ucap Mbah Sarmi tanpa jeda. 

“Iya, Mbah?” 

“Iya, tapi sebelum itu Inah juga ngomong … .” Mbah Sarmi menjeda kalimatnya, dia tampak berpikir untuk melanjutkan perkataannya. 

“Gak apa-apa, Mbah, ngomong aja,” 

“Inah bilang, kalau keluarga kalian kena kutuk, untuk selamanya jadi miskin,” 

Cih! Aku berdecak kesal, percuma tadi aku menyesal. Rupanya mbok Inah belum insaf juga dengan perkataanku. Baiklah, mungkin memang harus dengan pembuktian, mulut mbok Inah akan mingkem untuk selamanya. Kami melanjutkan perjalanan, rumah mbah Sarmi tidak begitu jauh dari rumahku, hanya berselang tiga rumah. Perumahan di kampung tidak seperti perumahan di kota, yang saling berdekatan. Tetapi, satu rumah dengan rumah lainnya terpisah oleh ladang, sehingga jaraknya sedikit berjauhan. 

“Oia, nduk. Bagaimana dengan beasiswa Taufik? Apa pak Gunawan memberikan surat rekomendasinya?” Mbah Sarmi melanjutkan pertanyaannya seiring dengan langkah kaki kami. 

Kuhentikan langkah kakiku, membuat mbah Sarmi pun menghentikan langkahnya. 

“Kenapa, nduk?” 

“Beasiswa? Taufik, Mbah?” 

“Lah, iyo. Taufik, adik mu yang ganteng itu. Emang Taufik di kampung ini ada dua?” ucap mbah Sarmi. 

Kupegang erat pergelangan tangah mbah Sarmi, kutatap lekat wajahnya yang sudah menginjak usia lima puluh tahun itu. Mbah Sarmi sedikit terkejut dengan perubahan wajahku. 

“Mbah, tolong. Ceritakan apa saja yang terjadi dengan keluarga Nia, selama Nia pergi dengan bang Ilham empat tahun lalu,” 

Mbah Sarmi menatapku dengan sayu, ada kesedihan terpancar dari wajahnya. Aku tahu, pasti sesuatu hal telah terjadi dengan keluargaku. 

“Setelah ashar, datanglah ke rumah Mbah. Tapi, jangan tahu emak mu, ya.” 

Aku mengangguk, melepaskan tanganku dari tubuh mbah Sarmi. Baiklah, sepertinya memang harus aku sendiri yang mencari jawaban dari semua kejadian-kejadian yang telah terjadi. Untuk mendapat jawaban dari bapak dan emak, sepertinya akan sia-sia. 

*** 

“Tetap gak bisa, Mak,” suara berbisik bapak terdengar sayup-sayup di telingaku. 

“Ya Allah, Pak. Terus kita harus bagaimana? Taufik juga udah pasrah. Emak gak terima, Pak,” jawab emak cepat. 

“Tenang, Mak. Besok, kan Bapak ke kantor camat lagi,” 

Kutinggalkan dapur tempat bapak dan emak yang masih saling berbisik. Aku yakin, ini pasti masalah beasiswa Taufik. 

*** 

Seperti biasanya, setelah emak selesai shalat ashar, ia akan membaca beberapa ayat suci Al-qur’an. Kulirik jam yang ada di dinding, tepat pukul tiga lewat empat puluh lima menit. Bapak juga belum pulang dari masjid kampung. Taufik sejak subuh tidak terlihat, kata emak ke rumah temannya, Andi, yang berada di kabupaten.  

Jantungku rasanya mau lepas, ketika bapak sudah berdiri di hadapanku. Karena melamun, salam bapak pun tak terdengar. 

“Terkejut, Nduk? Anak gadis, gak baik melamun,” ujarnya terkekeh.

“Nggak, Pak. Oia, Nia izin sebentar ya, Pak. Mau ke rumah … .” ucapanku terhenti, aku bingung tidak tahu mau kerumah siapa. Ah, kenapa tidak kupikirkan dari tadi, alasan apa agar aku bisa menemui mbah Sarmi. Ayo, berpikir Nia, batinku. 

“Intan, mau kerumah Intan,” tegasku. Deal, bertambah pula dosaku, membohongi orang yang tak pernah mengajariku untuk berbohong. Setelah izin kudapatkan, kuraih telepon genggam yang berada di meja tamu dan beranjak keluar rumah.

*** 

Kutoleh beberapa kali ke belakang, takut emak ataupun bapak berada di sekitar rumah. Kupercepat langkahku menuju rumah mbah Sarmi, terlihat pintu depannya tertutup rapat. Tidak mau membuang waktu untuk menggedor pintu depan rumah mbah,  karena masih takut terlihat oleh bapak dan emak, bergegas langkahku menuju pintu dapur. 

“Assalamu’alaikum, Mbah,” ucapku pelan. Aku merasa seperti pencuri yang takut tertangkap tangan, mengendap sambil melirik ke kanan dan ke kiri. Walau terhalang oleh ladang di kanan dan kiri rumah mbah Sarmi, tapi masih bisa terlihat jelas oleh rumah lainnya. 

“Waalaikumsalam,” jawab seseorang dari dalam rumah.

“Mbah,” 

“Eh, Nia, masuk, nduk.” Mbah Sarmi masih menggunakan mukena, mungkin ia baru selesai shalat. 

“Duduk dulu. Kamu kok lewat belakang, sih,” tanyanya sambil menuntunku keruangan tengah. Rumah mbah Sarmi cukup besar, ia janda beranak tiga. Semua anaknya telah menikah, dan tinggal di kabupaten. 

“Mbah, masih sendiri aja nih?” kunaik turunkan alis mataku untuk menggodanya. 

“Oalah, anak bau kencur. Gigi tinggal dua aja, Mbah tinggal dipanggil yang diatas,” selorohnya sambil menoyor kepalaku pelan. 

“Gak boleh ngomong gitu juga, Mbah, ajal ga ada yang tahu. Mungkin saja besok ada yang melamar duluan sebelum dipanggil … .” ku tunjuk jari ku ke atas sambil tersenyum manis. 

“Moh aku,” ujarnya, membuat kami tertawa lepas. 

“Mbah, ceritakan yang Mbah tahu ya, jangan ada yang ditutup-tutupi,” pintaku. Suasana menjadi hening, mbah Sarmi menundukkan kepalanya, helaan nafas panjangnya terdengar. 

"Awal kamu pergi, bapak dan emak mu baik-baik saja. Uang yang kalian kirim cukup dan bahkan lebih, untuk memenuhi kebutuhan mereka, apalagi untuk keperluan sekolah Taufik. Adikmu juga beruntung, dengan kecerdasannya, di kelas satu dia mendapatkan beasiswa, uang spp nya hanya dibayar setengah," mbah Sarmi menarik nafas dalam, menjeda ucapannya. 

Seketika aku teringat, ketika dengan senangnya Taufik menelpon, bahwa ia mendapat peringkat satu umum di sekolahnya. 

"Di tahun kedua kamu pergi, disitulah banyak kejadian yang menimpa keluargamu. Camat terpilih, Gunawan mulai sibuk mengurusi dan mengusik keluargamu. Dari mulai merebut lahan bapakmu, tidak memberikan bantuan pupuk dari pemerintah. Padahal semua masyarakat kampung dapat bantuan, nduk. Terakhir, Taufik mendapatkan beasiswa keperguruan tinggi, tapi ya itu, si Gunawan tidak mau kasih rekom," 

Aku tercengang mendengar penuturan dari mbah Sarmi. Begitu banyak pertanyaan yang berputar di kepalaku, tapi kuurungkan, setelah mbah Sarmi selesai cerita dulu, baru akan aku tanyakan. 

"Andre, anak Gunawan yang begajulan, yang malah mendapat rekomendasi. Warga disini udah maklum dengan kelakuan camat itu, tapi karena keturunan pejabat, yaaa, kamu tahu sendiri kan, nduk." 

Apakah karena ini, bapak akan berangkat besok ke kantor camat? Untuk meminta surat rekomendasi? Tapi surat yang bagaimana? Ah, kepalaku semakin pusing.  

"Mbah, berarti lahan yang digarab bapak selama ini?" kugantung kalimat tanyaku.  

"Entah bagaimana caranya, lahan itu bisa beralih ke pak Gunawan, mbah juga gak ngerti. Bapakmu bisa menggarap lahan tersebut, karena bapakmu bayar perbulan. Uang yang kalian kirimlah yang selalu dijadikan bapakmu agar bisa tetap menggarap lahan tersebut." 

"Astagfirullah," kuusap dadaku yang mulai sesak. 

Mbah Sarmi mengusap matanya dengan ujung mukena yang masih ia kenakan. 

"Emakmu yang selama ini cerita ke Mbah, mereka tidak mau merepotkan kalian. Karena mereka juga tahu, bagaimana kondisi kalian disana," diusapnya bahuku pelan. 

"Emak ga ada cerita tentang lahan itu, Mbah?" 

"Nggak, nduk. Emak cuma bilang, harus bayar dengan pak camat. Jadi bapak, emak dan Taufik hidup dari hasil lahan tersebut. Emak sering berhutang, tapi … ." 

Aku menangis, mbah Sarmi memeluk tubuhku erat. Ya Allah, bapak dan emak tidak pernah berkeluh kesah kepada anak-anaknya. Sehingga, aku dan bang Ilham tidak pernah tahu kejadian yang telah menimpa keluargaku.

Tok 

Tok 

Tok 

Suara pintu dapur mbah Sarmi diketuk oleh seseorang, kami saling berpandangan, kuhapus sisa air mata yang ada di pipi. 

Mbah Sarmi beranjak membukakan pintu. 

"Kamu … ."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED