"Cinta…
Cinta adalah melodi bagiku di saat aku tak dapat melihat namun aku masih bisa merasakan
Aku bisa merasakan bawah kamu lah orang yang selama ini yang aku cari cari dalam hidup ku, meski kamu selalu berkata bahwa itu bukan kamu, dan meski kamu mengganti namamu, namun aku bisa mendengar suara mu dan merasakan bahwa itu adalah kamu"Ucap seorang gadis yang duduk di tepi sebuah danau yang indah
Waktu itu di sebuah kota Jakarta yang indah ada sebuah keluarga yang hangat, suci dan suaminya Alan sangat menyayangi putri nya yang masih berumur lima tahun, putri nya sangat lucu dan cantik sekali nama nya Naina Suci berprofesi sebagai seorang dokter dan suaminya Alan bekerja sebagai Direktur di salah satu perusahaan di kota itu
Namun di suatu pagi yang cerah saat Suci dan Alan sedang libur dari kerja nya tiba tiba seorang Bibik berteriak dengan kencang nya
"Nyonya…Tuan…!!! Tolong nona Naina sedang kejang kejang …Nyonya!!!"Terik bibik dari kamar nya Naina
Mendengar itu Suci dan Alan pun bergegas ke kamar Naina, mereka melihat Naina yang kejang kejang, Suci sebagai seorang dokter pun langsung berusaha untuk memberhentikan kejang kejang pada Naina
"Bagaimana ma,apakah Naina baik baik saja"Tanya Alan yang khawatir
"Pa, tubuh Naina panas sekali Pa!! ayo pa segera bawa dia ke rumah sakit"Ucap Suci yang panik dengan ke adaan Naina
Mendengar itu Alan langsung berlari mengeluarkan mobil nya dan Suci langsung berlari membawa Naina masuk ke mobil, mereka dengan kencang nya menuju rumah sakit,sampai di rumah sakit suci langsung membawa Naina ke UGD, Suci pun langsung memberikan perawatan untuk Naina
Dua jam berlalu kini Naina yang terbaring di tempat tidur dengan berbagai alat di tubuh nya pun mulai sadar dan terbangun
"Ibu, Ayah … kalian di mana"Panggil Naina
mendengar itu Alan dan Suci pun langsung memeluk Naina
"Nak, kami di sini nak, syukur lah nak kamu sudah bangun, Ibu dan ayah sangat kahwatir pada mu nak"Ucap suci yang haru
"Ibu, tapi kenapa semuanya gelap ibu"Ucap Naina dengan suara kecil nya itu,yang seketika membuat Suci dan Alan seperti hilang dari tubuh mereka
"Apaa nak!! di sini semuanya terang nak, Putri ke sayangan ibu, ni lihat ibu ada di depan mu anak ku"Ucap suci yang kini mulai meneteskan air mata nya
"Ibu di sini sungguh gelap ibu, bahkan aku tak dapat melihat ibu yang berada di depan ku, ibu aku sangat takut ibu"Ucap Naina
Mendengar itu Alan pun terduduk lemah, airmata ya tak dapat terbendung dari matanya mendengar ucapan dari putri kesayangan nya,
Suci sambil mengusap air mata dan mengelus kepala Naina
"Putri ibu, kamu jangan takut ya, ibu ada disini"Ucap Suci dengan lembu nya
Namun Alan kini bangkit menuju pintu ruangan, Alan berteriak sekencangnya memanggil dokter, mendengar teriakan Alan semua dokter pun datang
"Ada apa pak Alan"Tanya dokter itu
"Pak saya memohon kepadamu, bukan kah kamu sepesiali mata, tolong Pak kembalikan penglihatan anak saya"Ucap Alan memohon serta berlutut kepada dokter itu
"Iya pak, saya ...tapi apa yang sebenar nya yang terjadi, bangun lah pak Alan jangan begitu, istri mu juga seorang dokter di rumah sakit ini , jadi tolong bangkit lah"Ucap dokter itu
"Pak periksa lah anak saya, dia berkata dia tidak bisa melihat apapun, pak kami sangat menyayangi nya pak"Melihat Alan yang begitu Suci pun meneteskan air matanya, Alan sungguh sangat menyayangi Naina
Dokter spesialis itu pun memeriksa Naina, dan hasil pemeriksaan itu membuat Alan dan Suci sangat tersiksa
"Maaf kan saya Bu suci dan Pak Alan, Anak bapak mengalami kebutaan permanen akibat step yang terjadi padanya hingga panas yang berlebihan itu menyerang ke dua bola matanya, dan cara satu satu nya untuk mengembalikan penglihatannya adalah dengan Transfalasi mata, namun sayang nya saat ini susah sekali untuk mencari yang bersedia mendonorkan mata mereka, mungkin kita butuh waktu yang lama untuk mencarinya, namun bapak dan ibu tenang saja saya kan mencari nya hingga ke luar negri sekalipun"Jelas dokter itu pada mereka
Alan dan suci sekita menangis tersedu sedu mendengar itu, Naina yang masih berumur lima tahun, bagaimana dia akan menjalani hidup nya, Suci kembali ke sisi Naina Suci memadang wajah putri kecil nya itu yang kini tertidur, Air mata suci tak henti henti nya mengalir
"Nak, Ibu sangat menyayangi mu nak,ibu berjanji mulai saat ini ibu akan selalu berada di sisi mu"Ucap suci
"Ma, mama tenang saja ayah berjanji walaw pun ke ujung dunia papa pasti akan mencari pendonor untuk Naina"Alan memeluk Suci,dan menguat kan suci
"Pa, apakah kita orang tua yang gagal pa"Tanya suci dalam pelukan Alan
"Tidak ma, ini semua takdir dari yang kuasa dan mulia sekarang kita akan merawat putri kita dengan baik, papa akan berhenti dari perusahan, papa ingin membukakan sebuah Cafe di mana kita bertiga tinggal di sana"Ucap Alan yang kini akan selalu ada untuk putri kecil nya itu
"Iya pa, mama juga akan berhenti dari pekerjaan mama, untuk apa semuanya jika mama tidak bisa menjaga putri mama, pokok nya pa Naina harus bisa melihat kembali, mama tidak tega melihat dia begitu pa"Pinta Suci pada Alan
"Iya ma, papa janji"
Mereka pun bersepakat untuk sama sama selalu di sisi Naina
Suci dan Alan pun membangun sebuah cafe yang telah dia dan Suci rencanakan, mereka berdua pun bersama menjaga Naina di kafe itu, Bibi pun yang telah lama mengikuti mereka juga ikut mereka pindah kesana, mereka memliki tiga orang pegawai kadang Suci dan Alan juga ikut membantu, Naina kecil sekarang setiap hari nya tak kekurangan kasih sayang dari orang orang sekitarnya,
Mereka semua merawat Naina dengan sangat baik, Naina juga bersekolah Namun, ya nama juga anak anak, Naina selalu dapat ejekan dari teman teman nya namun, Naina gadis yang periang dia sama sekali tidak terganggu dengan ejekan teman teman nya, hingga Naina pun menyelesaikan sekolah dasar nya, dan melanjutkan ke sekolah menengah pertama, namun sama hal nya Naina pun masih mendapatkan ejekan, tak ada yang ingin berteman dengan Naina, dalam tiga tahun masa sekolah Naina biasa biasa saja hingga naina mengijak SMA, selam SMA Naina sama sekali belum pernah suka kepada lawan jenis nya, dan entah kenapa Naina juga tidak memiliki teman, Naina hanya mempunyai satu teman ya itu paman Ben, paman Ben lah yang selalu menjadi mata untuk Naina, dan kini Naina pun sudah masuk Kuliah"Cinta…
Cinta adalah melodi bagiku di saat aku tak dapat melihat namun aku masih bisa merasakan
Aku bisa merasakan bawah kamu lah orang yang selama ini yang aku cari cari dalam hidup ku, meski kamu selalu berkata bahwa itu bukan kamu, dan meski kamu mengganti namamu, namun aku bisa mendengar suara mu dan merasakan bahwa itu adalah kamu"Ucap seorang gadis yang duduk di tepi sebuah danau yang indah
Waktu itu di sebuah kota Jakarta yang indah ada sebuah keluarga yang hangat, suci dan suaminya Alan sangat menyayangi putri nya yang masih berumur lima tahun, putri nya sangat lucu dan cantik sekali nama nya Naina Suci berprofesi sebagai seorang dokter dan suaminya Alan bekerja sebagai Direktur di salah satu perusahaan di kota itu
Namun di suatu pagi yang cerah saat Suci dan Alan sedang libur dari kerja nya tiba tiba seorang Bibik berteriak dengan kencang nya
"Nyonya…Tuan…!!! Tolong nona Naina sedang kejang kejang …Nyonya!!!"Terik bibik dari kamar nya Naina
Mendengar itu Suci dan Alan pun bergegas ke kamar Naina, mereka melihat Naina yang kejang kejang, Suci sebagai seorang dokter pun langsung berusaha untuk memberhentikan kejang kejang pada Naina
"Bagaimana ma,apakah Naina baik baik saja"Tanya Alan yang khawatir
"Pa, tubuh Naina panas sekali Pa!! ayo pa segera bawa dia ke rumah sakit"Ucap Suci yang panik dengan ke adaan Naina
Mendengar itu Alan langsung berlari mengeluarkan mobil nya dan Suci langsung berlari membawa Naina masuk ke mobil, mereka dengan kencang nya menuju rumah sakit,sampai di rumah sakit suci langsung membawa Naina ke UGD, Suci pun langsung memberikan perawatan untuk Naina
Dua jam berlalu kini Naina yang terbaring di tempat tidur dengan berbagai alat di tubuh nya pun mulai sadar dan terbangun
"Ibu, Ayah … kalian di mana"Panggil Naina
mendengar itu Alan dan Suci pun langsung memeluk Naina
"Nak, kami di sini nak, syukur lah nak kamu sudah bangun, Ibu dan ayah sangat kahwatir pada mu nak"Ucap suci yang haru
"Ibu, tapi kenapa semuanya gelap ibu"Ucap Naina dengan suara kecil nya itu,yang seketika membuat Suci dan Alan seperti hilang dari tubuh mereka
"Apaa nak!! di sini semuanya terang nak, Putri ke sayangan ibu, ni lihat ibu ada di depan mu anak ku"Ucap suci yang kini mulai meneteskan air mata nya
"Ibu di sini sungguh gelap ibu, bahkan aku tak dapat melihat ibu yang berada di depan ku, ibu aku sangat takut ibu"Ucap Naina
Mendengar itu Alan pun terduduk lemah, airmata ya tak dapat terbendung dari matanya mendengar ucapan dari putri kesayangan nya,
Suci sambil mengusap air mata dan mengelus kepala Naina
"Putri ibu, kamu jangan takut ya, ibu ada disini"Ucap Suci dengan lembu nya
Namun Alan kini bangkit menuju pintu ruangan, Alan berteriak sekencangnya memanggil dokter, mendengar teriakan Alan semua dokter pun datang
"Ada apa pak Alan"Tanya dokter itu
"Pak saya memohon kepadamu, bukan kah kamu sepesiali mata, tolong Pak kembalikan penglihatan anak saya"Ucap Alan memohon serta berlutut kepada dokter itu
"Iya pak, saya ...tapi apa yang sebenar nya yang terjadi, bangun lah pak Alan jangan begitu, istri mu juga seorang dokter di rumah sakit ini , jadi tolong bangkit lah"Ucap dokter itu
"Pak periksa lah anak saya, dia berkata dia tidak bisa melihat apapun, pak kami sangat menyayangi nya pak"Melihat Alan yang begitu Suci pun meneteskan air matanya, Alan sungguh sangat menyayangi Naina
Dokter spesialis itu pun memeriksa Naina, dan hasil pemeriksaan itu membuat Alan dan Suci sangat tersiksa
"Maaf kan saya Bu suci dan Pak Alan, Anak bapak mengalami kebutaan permanen akibat step yang terjadi padanya hingga panas yang berlebihan itu menyerang ke dua bola matanya, dan cara satu satu nya untuk mengembalikan penglihatannya adalah dengan Transfalasi mata, namun sayang nya saat ini susah sekali untuk mencari yang bersedia mendonorkan mata mereka, mungkin kita butuh waktu yang lama untuk mencarinya, namun bapak dan ibu tenang saja saya kan mencari nya hingga ke luar negri sekalipun"Jelas dokter itu pada mereka
Alan dan suci sekita menangis tersedu sedu mendengar itu, Naina yang masih berumur lima tahun, bagaimana dia akan menjalani hidup nya, Suci kembali ke sisi Naina Suci memadang wajah putri kecil nya itu yang kini tertidur, Air mata suci tak henti henti nya mengalir
"Nak, Ibu sangat menyayangi mu nak,ibu berjanji mulai saat ini ibu akan selalu berada di sisi mu"Ucap suci
"Ma, mama tenang saja ayah berjanji walaw pun ke ujung dunia papa pasti akan mencari pendonor untuk Naina"Alan memeluk Suci,dan menguat kan suci
"Pa, apakah kita orang tua yang gagal pa"Tanya suci dalam pelukan Alan
"Tidak ma, ini semua takdir dari yang kuasa dan mulia sekarang kita akan merawat putri kita dengan baik, papa akan berhenti dari perusahan, papa ingin membukakan sebuah Cafe di mana kita bertiga tinggal di sana"Ucap Alan yang kini akan selalu ada untuk putri kecil nya itu
"Iya pa, mama juga akan berhenti dari pekerjaan mama, untuk apa semuanya jika mama tidak bisa menjaga putri mama, pokok nya pa Naina harus bisa melihat kembali, mama tidak tega melihat dia begitu pa"Pinta Suci pada Alan
"Iya ma, papa janji"
Mereka pun bersepakat untuk sama sama selalu di sisi Naina
Suci dan Alan pun membangun sebuah cafe yang telah dia dan Suci rencanakan, mereka berdua pun bersama menjaga Naina di kafe itu, Bibi pun yang telah lama mengikuti mereka juga ikut mereka pindah kesana, mereka memliki tiga orang pegawai kadang Suci dan Alan juga ikut membantu, Naina kecil sekarang setiap hari nya tak kekurangan kasih sayang dari orang orang sekitarnya,
Mereka semua merawat Naina dengan sangat baik, Naina juga bersekolah Namun, ya nama juga anak anak, Naina selalu dapat ejekan dari teman teman nya namun, Naina gadis yang periang dia sama sekali tidak terganggu dengan ejekan teman teman nya, hingga Naina pun menyelesaikan sekolah dasar nya, dan melanjutkan ke sekolah menengah pertama, namun sama hal nya Naina pun masih mendapatkan ejekan, tak ada yang ingin berteman dengan Naina, dalam tiga tahun masa sekolah Naina biasa biasa saja hingga naina mengijak SMA, selam SMA Naina sama sekali belum pernah suka kepada lawan jenis nya, dan entah kenapa Naina juga tidak memiliki teman, Naina hanya mempunyai satu teman ya itu paman Ben, paman Ben lah yang selalu menjadi mata untuk Naina, dan kini Naina pun sudah masuk Kuliah
Pagi itu…
Naina kecil telah tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik sekali,Hidung nya mancung, matanya bulat,Wajah nya putih mulus,dan rambutnya hitam lebat dan lurus, di mirip sekali dengan Cinta Laura ,
Naina turun dari lantai dua rumah nya secara perlahan, sambil memegang tongkatnya dia perlahan menuruni tangga
"Naina kamu tunggu di sana, ibu akan menjemput mu"Ucap suci yang melihat Naina yang akan turun
"Ibu aku bisa kok,Bu"Ucap Naina dari atas sana
"Sudah lah nak, biar ibu mu membantu turun,nanti kamu bisa tersandung loh"Sahut Alan
Ibu Naina pun membantu Naina menuruni anak tangga, di sisi tangga terdapat seperti pagar di sisi kiri kanan nya, dan Naina senang sekali membentrukan tongkat nya ke tiang tiang pagar tangga itu, di anak tangga terakhir Nania berhenti
"Eee,Ada apa Naina, kenapa tiba tiba berhenti"Ucap suci dengan lembutnya
"Hehe,Ibu bukan kah ini anak tangga terkahir?"Jawab Naina
"Hmmm,iya anak ku, loh tapi bagaimana kamu bisa tau?"
"Ibu aku saat menuruni anak tangga ini dari kecil dan aku selalu menghitung tiang tiang di sisi tangga ini ibu menggunankan tongkat ku, makanya aku bisa tau jadi aku bisa menuruni anak tangga ini sendri tak perlu merepotkan ibu atau ayah"
"Masya Allah putri ku, kamu memang anak yang luar biasa"Ucap suci sambil mencium kening Naina
"Hehe, ibu anak mu ini sudah besar ibu"Ucap Naina yang masih di perlakukan seperti anak kecil oleh ibu nya
"Hmmm, nak kamu tetap lah putri kecil kami, dan kami sangat menyayangi mu"
"Iya Ibu, Naina juga sangat menyayangi kalian, ya sudah Bu aku ingin, segera ke kampus hari ini kan hari pertama ku Bu"
"Iya deh, Oiya kamu hari ini sangat cantik sekali nak"Ucap Suci
"Hehe, apakah benar Bu, hmmm aku bahkan tidak tau wajah ku seperti apa Bu"Ucap Naina
Mendengar itu Suci pun tak kuasa menahan tangis nya
"Ibu, Ibu jangan menangis Bu, aku tidak ingin melihat ibu sedih"
"Hehe, iya nak ibu tidak menangis nak"Ucap suci yang menahan tangis nya
"Ibu, aku ini anak mu Bu, aku tau ibu sedang menangis, dan ayah kenapa ayah juga ikut ikut menangis seperti ibu"Ucap Naina yang tau kalau ayah nya juga ikut menangis mendengar ucapan Naina
"Hahaha, ayah tidak menangis Naina , ya sudah ayo kita ke kampus mu"Ucap Alan
"Hmmm, iya tunggu sebentar sampai kalian sudah menangis nya baru kita akan berangkat, dari kecil Naina selalu bersama ayah dan ibu jadi Naina dapat merasakan apa yang kalian rasakan, jadi jangan berbohong kepada Naina"Ucap Naina yang telah persis tahu betul kedua orang tuanya
"Hahaha, iya iya, ya sudah ayo kita berangkat nanti bisa telat loh"Ajak Alan
Sambil meraba raba Naina pun menuruni anak tangga terakhir dan memeluk ibu nya
"Ibu sudah, tak ada yang perlu di tangis ,hmmmm ibu ku sayang tenyata cengeng sekali huh" ucap Naina yang memperlakukan suci seperti anak kecil, yang membuat suci tertawa
"Hahaha, kamu itu ya memang paling bisa, ya sudah hati hati, dan jangan lupa kalau ada apa apa cepat beri tau ibu dan ayah, nanti paman Ben yang akan menjaga kamu di kampus"
"Hehe, nah ini lah ibuku ku, hmmm, aku sayang ibu dah ibu Naina pergi dulu
Paman Ben ya itu anak buah yang memang khusu di pekerjakan Alan dan suci untuk menjaga dan menunjukan jalan untuk naina
Naina pun berangkat ke kampus bersama ayah dan paman Ben, kampus itu pun tak jauh dari rumah Naina hanya lima belas menit perjalanan menggunakan mobil
Sampai di kampus Naina dan paman Ben turun
"Nak, nanti kalau ada apa apa cepat kabari ayah ya, Ben jaga Naina dengan baik ya"Pesan Alan
"Oohhhh, siap tuan aman"Ucap Ben
"Paman ayo kita masuk"
Ben pun menuntun Naina masuk, namun Ben bingung kelas nya Naina berada di mana
"Eee, nona Naina ruang kelas nona berada di mana ya?"Tanya Ben pada Naina
"Hmmm, iya juga ya paman, ruang kelasku berada di mana?"Naina yang juga bingung
"Oalah nona, kan paman yang bertanya, kenapa Nona kembali bertanya"
"hehe, ya paman aku juga tidak tau, Naina kan tidak bisa melihat paman"Ucap Naina
"Hmmm, iya nona maaf ya nona, sebentar paman tanyakan dulu, oiya nona jurusan apa"
"jurusan ekonomi paman"
Ben pun bertanya kepa orang yang berada di sana, setelah mengetahui ruangan kelas Naina Ben pun segera mengantarkan Naina ke sana
Mereka pun sampai di kelas Naina, dan paman Ben pun mengantarkan ketempat duduk nya
Semua orang yang kini berada di dalam kelas itu pun mulai berbisik bisik melihat ke adaan Naina
Tiba tiba ada salah satu dari mereka yang kini menghampiri Naina
"Hay,Aku Lina dan kamu"Lina yang menjulurkan tangan nya, namun Naina hanya menatap lurus ke depan
"Iya, aku Naina"Melihat Naina yang begitu Lina langsung saja menyalami tangan Naina
"Hmmm, maaf ya Lina ,aku tidak bisa melihat mu"Ucap Naina
"Iya tidak apa apa, dan sekarang aku adalah teman mu, jika kamu butuh sesuatu kamu bisa bilang pada ku, Ok Naina"Ucap Lina dengan senangnya
"Hehe, aku senang sekali mendengar nya, akhir nya aku punya seorang teman, Terimakasih ya Lina"
"Iya Naina tenang saja"
Lina pun mendempetkan meja nya dengan Naina dan Lina duduk di sebelah Naina
"Nah begini baru Ok"Ucap Lina
"Hmm, Ok gimana Lina?"Tanya Naina
"Haha, tidak apa apa Naina, Oya itu pengawal mu Naina"
"Hehe, tidak dia paman ku Lina"
"Ohh iya deh Naina"
Dosen pun masuk, dan karena hari itu adalah hari pertama mereka di kampus itu, mereka pun memperkenalkan diri masing masing,
"Oiya untuk naina, nanti semua materi yang di catat di depan kamu bisa merekam nya, dan Liana yang akan membacakan untuk mu"Ucap dosen itu yang mengerti ke adaan Naina
"Iya pak tenang saja, aku kan membatu Naina"Ucap Lina
"hehe, terimakasih ya Lina"
"Iya,iya Naina"
Semetara itu suci dan Alan sedang memikirkan Naina di kampus nya
"Hmmm, kenapa putri kita tidak di rumah saja pa, kenapa papa mengizinkan nya untuk kuliah, nanti kalau terjadi apa apa padanya, dan jika ada yang membuly nya bagaimana pa"
"Ya ma, papa juga berpikir begitu, tapi kan mama tau sendiri Naina ,dia yang menginginkan itu, emangnya mama ingin melihat nya sedih, murung setiap hari, dan mama tenang saja kan ada pak Ben yang menjaganya"Ucap Alan
"Hmmm, iya sih pa tapi tetap saja mama khawatir, dia anak satu satu nya kita loh pa, dia juga anak yang ceria, dia selalu saja bisa membuat suasana menjadi menyenangkan ahhhh anak ku ibu merindukan mu"Ucap suci
"Alah mama lebay, baru aja juga pergi dan nanti juga pulang"Ucap Alan yang mendengar ucapan melow suci
"Hahah, nama juga seorang ibu pa"
"Ya terserah mama deh"
"Ohhh, papa sayang, ayok ke kampus mama ingin melihat putri mama belajar di sana"Ucap suci dengan manja nya , mendengar itu Alan langsung saja pergi ke dapur menghindari suci, suci yang melihat Alan pergi dengan buru buru pun tertawa
"Hahaha, papa papa"Ucap suci sambil menggeleng gelengkan kepalanya
"Nak tunggu lah, ibu akan segera mendapatkan pendonor untuk mu, dan kamu akan dapat melihat lagi betapa indah nya dunia ini"Ucap suci dalam hati nyaPagi itu…
Naina kecil telah tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik sekali,Hidung nya mancung, matanya bulat,Wajah nya putih mulus,dan rambutnya hitam lebat dan lurus, di mirip sekali dengan Cinta Laura ,
Naina turun dari lantai dua rumah nya secara perlahan, sambil memegang tongkatnya dia perlahan menuruni tangga
"Naina kamu tunggu di sana, ibu akan menjemput mu"Ucap suci yang melihat Naina yang akan turun
"Ibu aku bisa kok,Bu"Ucap Naina dari atas sana
"Sudah lah nak, biar ibu mu membantu turun,nanti kamu bisa tersandung loh"Sahut Alan
Ibu Naina pun membantu Naina menuruni anak tangga, di sisi tangga terdapat seperti pagar di sisi kiri kanan nya, dan Naina senang sekali membentrukan tongkat nya ke tiang tiang pagar tangga itu, di anak tangga terakhir Nania berhenti
"Eee,Ada apa Naina, kenapa tiba tiba berhenti"Ucap suci dengan lembutnya
"Hehe,Ibu bukan kah ini anak tangga terkahir?"Jawab Naina
"Hmmm,iya anak ku, loh tapi bagaimana kamu bisa tau?"
"Ibu aku saat menuruni anak tangga ini dari kecil dan aku selalu menghitung tiang tiang di sisi tangga ini ibu menggunankan tongkat ku, makanya aku bisa tau jadi aku bisa menuruni anak tangga ini sendri tak perlu merepotkan ibu atau ayah"
"Masya Allah putri ku, kamu memang anak yang luar biasa"Ucap suci sambil mencium kening Naina
"Hehe, ibu anak mu ini sudah besar ibu"Ucap Naina yang masih di perlakukan seperti anak kecil oleh ibu nya
"Hmmm, nak kamu tetap lah putri kecil kami, dan kami sangat menyayangi mu"
"Iya Ibu, Naina juga sangat menyayangi kalian, ya sudah Bu aku ingin, segera ke kampus hari ini kan hari pertama ku Bu"
"Iya deh, Oiya kamu hari ini sangat cantik sekali nak"Ucap Suci
"Hehe, apakah benar Bu, hmmm aku bahkan tidak tau wajah ku seperti apa Bu"Ucap Naina
Mendengar itu Suci pun tak kuasa menahan tangis nya
"Ibu, Ibu jangan menangis Bu, aku tidak ingin melihat ibu sedih"
"Hehe, iya nak ibu tidak menangis nak"Ucap suci yang menahan tangis nya
"Ibu, aku ini anak mu Bu, aku tau ibu sedang menangis, dan ayah kenapa ayah juga ikut ikut menangis seperti ibu"Ucap Naina yang tau kalau ayah nya juga ikut menangis mendengar ucapan Naina
"Hahaha, ayah tidak menangis Naina , ya sudah ayo kita ke kampus mu"Ucap Alan
"Hmmm, iya tunggu sebentar sampai kalian sudah menangis nya baru kita akan berangkat, dari kecil Naina selalu bersama ayah dan ibu jadi Naina dapat merasakan apa yang kalian rasakan, jadi jangan berbohong kepada Naina"Ucap Naina yang telah persis tahu betul kedua orang tuanya
"Hahaha, iya iya, ya sudah ayo kita berangkat nanti bisa telat loh"Ajak Alan
Sambil meraba raba Naina pun menuruni anak tangga terakhir dan memeluk ibu nya
"Ibu sudah, tak ada yang perlu di tangis ,hmmmm ibu ku sayang tenyata cengeng sekali huh" ucap Naina yang memperlakukan suci seperti anak kecil, yang membuat suci tertawa
"Hahaha, kamu itu ya memang paling bisa, ya sudah hati hati, dan jangan lupa kalau ada apa apa cepat beri tau ibu dan ayah, nanti paman Ben yang akan menjaga kamu di kampus"
"Hehe, nah ini lah ibuku ku, hmmm, aku sayang ibu dah ibu Naina pergi dulu
Paman Ben ya itu anak buah yang memang khusu di pekerjakan Alan dan suci untuk menjaga dan menunjukan jalan untuk naina
Naina pun berangkat ke kampus bersama ayah dan paman Ben, kampus itu pun tak jauh dari rumah Naina hanya lima belas menit perjalanan menggunakan mobil
Sampai di kampus Naina dan paman Ben turun
"Nak, nanti kalau ada apa apa cepat kabari ayah ya, Ben jaga Naina dengan baik ya"Pesan Alan
"Oohhhh, siap tuan aman"Ucap Ben
"Paman ayo kita masuk"
Ben pun menuntun Naina masuk, namun Ben bingung kelas nya Naina berada di mana
"Eee, nona Naina ruang kelas nona berada di mana ya?"Tanya Ben pada Naina
"Hmmm, iya juga ya paman, ruang kelasku berada di mana?"Naina yang juga bingung
"Oalah nona, kan paman yang bertanya, kenapa Nona kembali bertanya"
"hehe, ya paman aku juga tidak tau, Naina kan tidak bisa melihat paman"Ucap Naina
"Hmmm, iya nona maaf ya nona, sebentar paman tanyakan dulu, oiya nona jurusan apa"
"jurusan ekonomi paman"
Ben pun bertanya kepa orang yang berada di sana, setelah mengetahui ruangan kelas Naina Ben pun segera mengantarkan Naina ke sana
Mereka pun sampai di kelas Naina, dan paman Ben pun mengantarkan ketempat duduk nya
Semua orang yang kini berada di dalam kelas itu pun mulai berbisik bisik melihat ke adaan Naina
Tiba tiba ada salah satu dari mereka yang kini menghampiri Naina
"Hay,Aku Lina dan kamu"Lina yang menjulurkan tangan nya, namun Naina hanya menatap lurus ke depan
"Iya, aku Naina"Melihat Naina yang begitu Lina langsung saja menyalami tangan Naina
"Hmmm, maaf ya Lina ,aku tidak bisa melihat mu"Ucap Naina
"Iya tidak apa apa, dan sekarang aku adalah teman mu, jika kamu butuh sesuatu kamu bisa bilang pada ku, Ok Naina"Ucap Lina dengan senangnya
"Hehe, aku senang sekali mendengar nya, akhir nya aku punya seorang teman, Terimakasih ya Lina"
"Iya Naina tenang saja"
Lina pun mendempetkan meja nya dengan Naina dan Lina duduk di sebelah Naina
"Nah begini baru Ok"Ucap Lina
"Hmm, Ok gimana Lina?"Tanya Naina
"Haha, tidak apa apa Naina, Oya itu pengawal mu Naina"
"Hehe, tidak dia paman ku Lina"
"Ohh iya deh Naina"
Dosen pun masuk, dan karena hari itu adalah hari pertama mereka di kampus itu, mereka pun memperkenalkan diri masing masing,
"Oiya untuk naina, nanti semua materi yang di catat di depan kamu bisa merekam nya, dan Liana yang akan membacakan untuk mu"Ucap dosen itu yang mengerti ke adaan Naina
"Iya pak tenang saja, aku kan membatu Naina"Ucap Lina
"hehe, terimakasih ya Lina"
"Iya,iya Naina"
Semetara itu suci dan Alan sedang memikirkan Naina di kampus nya
"Hmmm, kenapa putri kita tidak di rumah saja pa, kenapa papa mengizinkan nya untuk kuliah, nanti kalau terjadi apa apa padanya, dan jika ada yang membuly nya bagaimana pa"
"Ya ma, papa juga berpikir begitu, tapi kan mama tau sendiri Naina ,dia yang menginginkan itu, emangnya mama ingin melihat nya sedih, murung setiap hari, dan mama tenang saja kan ada pak Ben yang menjaganya"Ucap Alan
"Hmmm, iya sih pa tapi tetap saja mama khawatir, dia anak satu satu nya kita loh pa, dia juga anak yang ceria, dia selalu saja bisa membuat suasana menjadi menyenangkan ahhhh anak ku ibu merindukan mu"Ucap suci
"Alah mama lebay, baru aja juga pergi dan nanti juga pulang"Ucap Alan yang mendengar ucapan melow suci
"Hahah, nama juga seorang ibu pa"
"Ya terserah mama deh"
"Ohhh, papa sayang, ayok ke kampus mama ingin melihat putri mama belajar di sana"Ucap suci dengan manja nya , mendengar itu Alan langsung saja pergi ke dapur menghindari suci, suci yang melihat Alan pergi dengan buru buru pun tertawa
"Hahaha, papa papa"Ucap suci sambil menggeleng gelengkan kepalanya
"Nak tunggu lah, ibu akan segera mendapatkan pendonor untuk mu, dan kamu akan dapat melihat lagi betapa indah nya dunia ini"Ucap suci dalam hati nya
Sedangkan Naina yang kini berada di kampus mulia mengikuti Materi kuliah nya, stelah kelas berakhir Naina dan Lina pun pergi
"Ayo Naina kita ke taman yang ada di depan kampus, nanti akan ku bacakan materi yang telah di kasih sama pak dosen tadi, dan kamu bisa merekam nya"Ucap Lina
"Oke, terimakasih Lina,ayo kita pergi,oiya paman Ben kamu bisa menunggu ku di depan kampus, bukan kah paman ben biasanya ngopi"Tanya Naina pada paman Ben yang telah tau ke biasaan paman Ben
"Hehe iya Nona, lalu bagaimana dengan nona?"
"Tenang saja paman kan ada Lina, Lina yang akan menjaga Naina di kampus ini, jadi paman bisa bersantai"Ucap Lina
mendengar ucapan Lina paman Ben pun meninggalkan mereka dan pergi kedepan kampus
"Hmmm, tapi kita ke kantin dahulu, aku ingin membawa cemilan"Ucap Lina
"Hehe, iya Lina itu ide yang bagus, kan enak kalau sambil nyemil"
"Hmmm, iya Naina, ya sudah ayo"
Mereka pun keluar dari ruangan kelas, mereka berjalan menuju kantin namun di jalan mahasiswa lain yang melihat Naina mulai membicarakan nya
"hey lihat, wanita itu cantik sekali, tapi sayang untuk berjalan saja dia harus di tuntun, kalau tidak bisa bisa dia nyasar hingga ke lautan sana haha"Ucap seorang mahasiswi ke teman teman nya, Lina yang mendengar itu menjadi tidak terima dan ingin memberi pelajaran ke pada mahasiswi itu tapi di tahan oleh Naina
"Hmmm, sudah lah Lina biarkan saja,tak perlu kamu ladeni mereka, yang mereka ucapkan itu benar ada nya Lina"Ucap Naina dengan lembutnya
"Hmm, kamu tu ya Naina , mulut mereka yang seperti itu harus di beri pelajaran"Lina yang kesal melihat mereka
"Hehe, tak perlu biar Lina, ayo cepat kita ke kantin"
"Hmmm, Naina, Naina kamu sungguh wanita yang luar biasa, dalam ke adaan mu yang seperti ini kamu sama sekali tidak punya beban di wajah mu, aku sangat salut pada mu Naina"Ucap Lina dalam hatinya sambil melihat Naina
Sampai mereka di kantin,Lina pun pergi memesan kentang goreng untuk cemilan mereka, Naina yang di tinggal Lina untuk memesan pun duduk, karena Naina yang tidak bisa melihat Naina duduk di samping seorang cowok yang sangat populer di kampus itu,seorang wanita yang ternyata telah lama menyukai peria itu menjadi iri kepada Naina
"Tidak bisa melihat, tapi tau aja cowok ganteng"Ucap seorang mahasiswi di kantin itu
"Hmmm, iya benar jangan jangan di sengaja lagi, sudah buta tidak tau diri lagi"Sahut teman mahasiswi itu
Mendengar perkataan itu cowok itu pun bangkit dari tempat duduk nya
"Hey ! atas dasar apa kalian bicara seperti itu, apakah kah kalian kira kalian lebih baik dari nya"Bentak cowok itu
Mahasiswi itu pun langsung terdiam di bentak oleh cowok itu
Mendengar itu Naina menjadi kaget sekali mendengar suara seorang cowok di samping nya,
"pantas saja mereka mengejek ku, ternyata karena cowok ini"Ucap Naina dala hatinya
"Hehehe, maaf ya aku tidak tahu kalau kamu berada di samping ku"Ucap Naina dengan penuh senyuman
"Iya tidak apa apa, oiya siapa nama mu"Tanya cowok itu pada Naina
"Aku Naina, oiya terimakasih telah membela ku"
"Aku tidak membela mu, hanya saja aku tidak suka ketika orang bicara buruk terhadap seseorang, dan menganggap dirinya lebih baik dari orang itu"
"Hehe, iya itu sama saja, kamu telah membela ku"Ucap Naina
"Oiya siapa nama mu"Naina kembali bertanya kepada cowok itu
"Panggil saja aku Rio"
"Hmm, iya deh Rio"
"Oiya, kamu terlihat cantik sekali ketika tersenyum"Ucap Rio pada Naina
"Hahaha, Rio kamu lucu sekali"
"Loh apanya yang lucu, dan apa yang kamu tertawakan?"
"Haha ,tidak tidak aku hanya senang saja, untuk pertama kalinya aku mendengar ada seorang cowok yang bilang begitu kepada ku"Ucap Naina
"Ya terserah kamu deh"
"Oiya Rio, bisa kamu jelaskan kepada ku bagaimana penampilan kantin kita ini"
"Hahaha, apakah kamu bercanda apa yang bisa aku jelaskan, nama nya juga kantin, ya pasti ada meja dan tempat duduk nya"Jawab Rio
"Nah itu kamu baru saja menjelaskan nya hehe"Naina yang kembali tersenyum
"Haaa, sudah lah jangan menggoda ku, aku tak menyangka kamu orang nya asik juga, dan sepertinya kamu gadis yang ceria"
"Hahaha, kenapa sih cowok itu selalu sok tau, apa itu memang kebiasaan seorang cowok, Rio?"
"Eeee, aku bukan sok tau, dan aku juga tidak tau kebiasaan semua cowok, hanya saja aku bisa melihat itu dari cara mu bicara dan dari cara mu tersenyum"Ucap Rio
"Hmmm, kan sok tau kamu, apakah kamu tau seorang yang menangis juga belum tentu dia bersedih"
"Maksud mu?"Tanya Rio yang bingung
"Iya, ketika seorang menangis itu hanya ada dua kemungkinan yang membuat nya menangis, yang pertama dia sedang sedih dan ke dua ketika dia sangat bahagia"Ucap Naina
"Lantas senyum mu itu, diantara dua hal itu termasuk yang mana yang pertama atau yang kedua"Tanya Rio kembali
"Hahaha, senyum ku termasuk kedua duanya Rio"Ucap Naina, yang membuat Rio kembali bingung
"Hmm, maksud mu Naina ?"
"Iya, aku bahagia berkenalan dengan mu, dan aku sedih karena aku tidak bisa melihat mu"
Mendengar itu hati Rio sedikit kasihan melihat Nania
"Hahah, ni aku kasih tau penampilan ku kepada mu, kamu bisa membayangkan nya, ni yah aku itu orang nya gemuk, terus pipiku itu seperti bakpao, dan aku memiliki kumis yang tebal dan melengkung"Ucap Rio
Naina yang membayangkan penampilan Rio pun tertawa terbahak bahak hingga mengeluarkan air matanya, dan Rio dia juga tertawa melihat Naina yang begitu,sehingga mereka berdua membuat semua orang yang ada di kantin heran dengan mereka berdua
"Hahaha, Rio itu sangat lucu, aku tidak kuat menahan tawa ku membayangkan nya, walau aku tau kamu hanya ingin menghiburku, tapi ya terimakasih banyak Rio"Ucap Naina
"Haha, iya Naina sama sama, aku juga tidak kuat membayangkan penampilan ku itu"
Merek berdua pun kembali tertawa lagi,semua yang di kantin itu sangat terheran heran melihat mereka berdua
"Hmmm, apa sih yang sebenarnya yang mereka tertawakan, dasar gadis buta sialan berani sekali membuat ku iri padanya, aku saja yang selam ini mengejar ngejar Rio saja, jangan kan untuk tertawa bersamanya, dapat bicara saja sudah syukur, tapi dia malah bisa se akrab itu, awas saja kamu"Ucap seorang mahasiswi yang melihat mereka berdua dan mahasiswi itu sepertinya berniat jahat ke pada Naina
Saat mereka sedang tertawa dengan gembiranya Lina pun datang,
"Yaaa ampun Naina, aku sudah mencari mu kemana mana loh, ternyata kamu di sini, ayo Naina kita pergi"Ajak Lina
"Hehe, maafkan aku Lina sudah membuatmu khawatir, oiya Rio kami pergi dulu ya, terimakasih atas candaan nya"Ucap Naina pada Rio
"Hahaha, tenang saja Naina besok aku akan memberikan candaan baru untuk mu"Jawab Rio
"Dah Rio" Lina dan Naina pun pergi dari kantin, mereka berjalan menuju taman di depan kampus.Sedangkan Naina yang kini berada di kampus mulia mengikuti Materi kuliah nya, stelah kelas berakhir Naina dan Lina pun pergi
"Ayo Naina kita ke taman yang ada di depan kampus, nanti akan ku bacakan materi yang telah di kasih sama pak dosen tadi, dan kamu bisa merekam nya"Ucap Lina
"Oke, terimakasih Lina,ayo kita pergi,oiya paman Ben kamu bisa menunggu ku di depan kampus, bukan kah paman ben biasanya ngopi"Tanya Naina pada paman Ben yang telah tau ke biasaan paman Ben
"Hehe iya Nona, lalu bagaimana dengan nona?"
"Tenang saja paman kan ada Lina, Lina yang akan menjaga Naina di kampus ini, jadi paman bisa bersantai"Ucap Lina
mendengar ucapan Lina paman Ben pun meninggalkan mereka dan pergi kedepan kampus
"Hmmm, tapi kita ke kantin dahulu, aku ingin membawa cemilan"Ucap Lina
"Hehe, iya Lina itu ide yang bagus, kan enak kalau sambil nyemil"
"Hmmm, iya Naina, ya sudah ayo"
Mereka pun keluar dari ruangan kelas, mereka berjalan menuju kantin namun di jalan mahasiswa lain yang melihat Naina mulai membicarakan nya
"hey lihat, wanita itu cantik sekali, tapi sayang untuk berjalan saja dia harus di tuntun, kalau tidak bisa bisa dia nyasar hingga ke lautan sana haha"Ucap seorang mahasiswi ke teman teman nya, Lina yang mendengar itu menjadi tidak terima dan ingin memberi pelajaran ke pada mahasiswi itu tapi di tahan oleh Naina
"Hmmm, sudah lah Lina biarkan saja,tak perlu kamu ladeni mereka, yang mereka ucapkan itu benar ada nya Lina"Ucap Naina dengan lembutnya
"Hmm, kamu tu ya Naina , mulut mereka yang seperti itu harus di beri pelajaran"Lina yang kesal melihat mereka
"Hehe, tak perlu biar Lina, ayo cepat kita ke kantin"
"Hmmm, Naina, Naina kamu sungguh wanita yang luar biasa, dalam ke adaan mu yang seperti ini kamu sama sekali tidak punya beban di wajah mu, aku sangat salut pada mu Naina"Ucap Lina dalam hatinya sambil melihat Naina
Sampai mereka di kantin,Lina pun pergi memesan kentang goreng untuk cemilan mereka, Naina yang di tinggal Lina untuk memesan pun duduk, karena Naina yang tidak bisa melihat Naina duduk di samping seorang cowok yang sangat populer di kampus itu,seorang wanita yang ternyata telah lama menyukai peria itu menjadi iri kepada Naina
"Tidak bisa melihat, tapi tau aja cowok ganteng"Ucap seorang mahasiswi di kantin itu
"Hmmm, iya benar jangan jangan di sengaja lagi, sudah buta tidak tau diri lagi"Sahut teman mahasiswi itu
Mendengar perkataan itu cowok itu pun bangkit dari tempat duduk nya
"Hey ! atas dasar apa kalian bicara seperti itu, apakah kah kalian kira kalian lebih baik dari nya"Bentak cowok itu
Mahasiswi itu pun langsung terdiam di bentak oleh cowok itu
Mendengar itu Naina menjadi kaget sekali mendengar suara seorang cowok di samping nya,
"pantas saja mereka mengejek ku, ternyata karena cowok ini"Ucap Naina dala hatinya
"Hehehe, maaf ya aku tidak tahu kalau kamu berada di samping ku"Ucap Naina dengan penuh senyuman
"Iya tidak apa apa, oiya siapa nama mu"Tanya cowok itu pada Naina
"Aku Naina, oiya terimakasih telah membela ku"
"Aku tidak membela mu, hanya saja aku tidak suka ketika orang bicara buruk terhadap seseorang, dan menganggap dirinya lebih baik dari orang itu"
"Hehe, iya itu sama saja, kamu telah membela ku"Ucap Naina
"Oiya siapa nama mu"Naina kembali bertanya kepada cowok itu
"Panggil saja aku Rio"
"Hmm, iya deh Rio"
"Oiya, kamu terlihat cantik sekali ketika tersenyum"Ucap Rio pada Naina
"Hahaha, Rio kamu lucu sekali"
"Loh apanya yang lucu, dan apa yang kamu tertawakan?"
"Haha ,tidak tidak aku hanya senang saja, untuk pertama kalinya aku mendengar ada seorang cowok yang bilang begitu kepada ku"Ucap Naina
"Ya terserah kamu deh"
"Oiya Rio, bisa kamu jelaskan kepada ku bagaimana penampilan kantin kita ini"
"Hahaha, apakah kamu bercanda apa yang bisa aku jelaskan, nama nya juga kantin, ya pasti ada meja dan tempat duduk nya"Jawab Rio
"Nah itu kamu baru saja menjelaskan nya hehe"Naina yang kembali tersenyum
"Haaa, sudah lah jangan menggoda ku, aku tak menyangka kamu orang nya asik juga, dan sepertinya kamu gadis yang ceria"
"Hahaha, kenapa sih cowok itu selalu sok tau, apa itu memang kebiasaan seorang cowok, Rio?"
"Eeee, aku bukan sok tau, dan aku juga tidak tau kebiasaan semua cowok, hanya saja aku bisa melihat itu dari cara mu bicara dan dari cara mu tersenyum"Ucap Rio
"Hmmm, kan sok tau kamu, apakah kamu tau seorang yang menangis juga belum tentu dia bersedih"
"Maksud mu?"Tanya Rio yang bingung
"Iya, ketika seorang menangis itu hanya ada dua kemungkinan yang membuat nya menangis, yang pertama dia sedang sedih dan ke dua ketika dia sangat bahagia"Ucap Naina
"Lantas senyum mu itu, diantara dua hal itu termasuk yang mana yang pertama atau yang kedua"Tanya Rio kembali
"Hahaha, senyum ku termasuk kedua duanya Rio"Ucap Naina, yang membuat Rio kembali bingung
"Hmm, maksud mu Naina ?"
"Iya, aku bahagia berkenalan dengan mu, dan aku sedih karena aku tidak bisa melihat mu"
Mendengar itu hati Rio sedikit kasihan melihat Nania
"Hahah, ni aku kasih tau penampilan ku kepada mu, kamu bisa membayangkan nya, ni yah aku itu orang nya gemuk, terus pipiku itu seperti bakpao, dan aku memiliki kumis yang tebal dan melengkung"Ucap Rio
Naina yang membayangkan penampilan Rio pun tertawa terbahak bahak hingga mengeluarkan air matanya, dan Rio dia juga tertawa melihat Naina yang begitu,sehingga mereka berdua membuat semua orang yang ada di kantin heran dengan mereka berdua
"Hahaha, Rio itu sangat lucu, aku tidak kuat menahan tawa ku membayangkan nya, walau aku tau kamu hanya ingin menghiburku, tapi ya terimakasih banyak Rio"Ucap Naina
"Haha, iya Naina sama sama, aku juga tidak kuat membayangkan penampilan ku itu"
Merek berdua pun kembali tertawa lagi,semua yang di kantin itu sangat terheran heran melihat mereka berdua
"Hmmm, apa sih yang sebenarnya yang mereka tertawakan, dasar gadis buta sialan berani sekali membuat ku iri padanya, aku saja yang selam ini mengejar ngejar Rio saja, jangan kan untuk tertawa bersamanya, dapat bicara saja sudah syukur, tapi dia malah bisa se akrab itu, awas saja kamu"Ucap seorang mahasiswi yang melihat mereka berdua dan mahasiswi itu sepertinya berniat jahat ke pada Naina
Saat mereka sedang tertawa dengan gembiranya Lina pun datang,
"Yaaa ampun Naina, aku sudah mencari mu kemana mana loh, ternyata kamu di sini, ayo Naina kita pergi"Ajak Lina
"Hehe, maafkan aku Lina sudah membuatmu khawatir, oiya Rio kami pergi dulu ya, terimakasih atas candaan nya"Ucap Naina pada Rio
"Hahaha, tenang saja Naina besok aku akan memberikan candaan baru untuk mu"Jawab Rio
"Dah Rio" Lina dan Naina pun pergi dari kantin, mereka berjalan menuju taman di depan kampus.