"Silahkan lepas pakaianmu, atau aku yang buka. Seperti yang Eder ingin lakukan pada malam itu di hotel."
Wanita yang sedari tadi tertunduk berwajah durja, seketika mendongakkan kepala dengan cepat. Ia menatap tajam, seolah tak suka dengan perkataan pria tersebut, yang tak lain dan tak bukan adalah suami sendiri, yang telah sah sejak beberapa jam lalu.
"Buka kalau kamu berani! Bukankah ini memang malam pertama kita? Lakukan sesuka hatimu!"
"Kamu kira aku binatang seperti Eder?! Aku tidak akan memaksa untuk hal yang satu itu."
"Mengapa?! Bukankah menikah denganku kamu juga sudah memaksa?!"
Pertanyaan menohok, yang membuat pria itu akhirnya menyerah. Ia kembali ke salah satu sisi ranjang, dan duduk saling membelakangi punggung dengan sang istri.
***
Di sebuah kamar mewah bernuansa krem, dengan ukuran yang cukup luas, lengkap dengan interior mahal mengisi tiap sudut kamar, yang sekarang menjadi sebuah kamar pengantin.
Masih dengan balutan putih pakaian pengantin, model sederhana dengan payet yang tak begitu banyak menghiasi sekeliling baju. Tetapi, karena gadis itu yang mengenakan maka akan terlihat mewah walau tak ada sekali pun perhiasan yang menempel pada tubuh ramping untuk mempercantik penampilan, kecuali cincin nikah yang melingkar pada jari manis. Itu pun, beberapa saat yang lalu segera ia lepas, diganti dengan cincin berlian yang tak kalah cantik dengan cincin nikah, tetapi ia lebih suka memakai cincin itu dari pada cincin dari suaminya. Mengapa? Karena itu adalah cincin pemberian dari Eder.
"Aku tidak memaksamu! Aku hanya ingin menyadarkanmu!"
Wanita itu melirik, ujung garis bibirnya terangkat seolah meremehkan perkataan sang suami.
"Menyadarkan aku dari apa?! Kamu sudah ikut campur urusan asmaraku dengan Eder!"
Kedua tangan sudah terkepal kuat menahan emosi, tapi masih ia tahan karena hari ini cukup melelahkan seharian memasang topeng kepalsuan di depan para keluarga.
Perlahan tangan itu terbuka, mengarah pada bagian atas pengait baju yang berada di belakang. Tak tahu apa kini yang ada di dalam pikiran. Masih dalam tatapan nanar, ia membuka pengait baju pengantin tersebut satu persatu, tak ada yang bersuara lagi di antara mereka, selama kurang lebih lima menit berlalu, wanita itu beranjak dari sisi ranjang, menuju sisi lain tempat sang suami berada.
"Apa kamu bisa membuka tiara di atas kepalaku?" Nada suara yang datar, keluar dari bibir ranum.
Pria itu sesaat menoleh kepada wanita yang ada di hadapan. Ia berdiri, masih dengan memandangi wajah istrinya tersebut.
Tangan berukuran besar, mulai terulur perlahan membuka pengait tiara yang menempel pada rambut sang istri yang kecoklatan. Setelah semua ia lepaskan, kini tinggal beberapa jepit rambut yang melekat membentuk sanggul pada surai indah yang panjang.
"Sudah," jawabnya singkat.
Wanita itu berbalik badan, memperlihatkan punggung putih susu yang mulus. Beberapa pengait sudah ia lepaskan beberapa menit yang lalu. Kini, tinggal beberapa lagi pada bagian bawah yang tak dapat ia jangkau dengan tangan sendiri.
"Bisa tolong bukakan lagi untukku?" tanya sang istri masih dengan nada datar.
"Apa maksudmu dengan melakukan semua ini?" Suami mulai mencium gelagat aneh sang istri.
Pria tersebut masih terdiam, tanpa melakukan apa yang diminta oleh sang istri.
"Bukankah memang ini yang kamu inginkan?!" Kembali emosi itu datang.
Wanita itu kembali berbalik badan, langsung menyerang pria tersebut hingga mereka berdua terpental ke atas ranjang. Kini, posisi wanita itu berada di atas sedangkan, pria itu berada di bawah. Seolah tak tergoda, ia masih saja menatap dingin, wanita yang sudah menindih tubuh kekar berbalut jas hitam.
"Kamu mau tahu alasanku menikahimu?"
Suaranya berubah berat, dengan cepat ia menggulingkan tubuh mereka sehingga menjadi berbalik arah. Wajah wanita itu berubah tegang, menyadari posisi yang sekarang.
"A-apa alasanmu yang sebenarnya?" tanyanya terbata.
"Menjalani hubungan bertahun-tahun, tak menjamin hubungan itu bisa berlanjut pada tahap yang lebih serius, begitu pun antara kamu dan Eder. Kalian tidak akan bisa hidup bersama. Jangan terlalu memaksakan sesuatu yang tidak akan mungkin bisa terjadi."
Tak lama, wanita itu terkekeh mendengar perkataan dari sang suami. Seolah ia tak mempercayai semua ucapan tersebut.
"Kalau ada keinginan dari masing-masing pasangan, pasti bisa hidup bersama, sampai ke jenjang pernikahan sekali pun!" desisnya tajam.
"Meski kalian berdua berbeda iman? LDR yang paling jauh itu bukanlah masalah tempat di mana kalian berdua berada, tetapi sesungguhnya adalah "Love of Different Religion". Siapa manusia yang ingin berpaling dari tuhan-Nya, hanya untuk seorang manusia yang sama sepertinya?"
***
Cerita ini berawal dari seorang gadis penyuka daster yang pintar, ramah, dan baik hati. "Perfect", julukan yang saat ini pantas ia terima. Penampilan fisik pun seakan ikut mendukung, wajah oriental blasteran Korea-Indonesia menjadi nilai tambah, bisa dibayangkan wajah cantik artis Korea? Tinggi semampai dan warna surai coklat bergelombang, menambah kesan ia adalah gadis paling menawan di kampus.
Hotel Kordon
Pukul. 23.00 WIB
Satu bulan sebelum pernikahan
••••••••
"Kita sambut King dan Queen kita pada malam hari ini. Dipersilahkan kepada Garra dan Quen agar naik ke atas stage!"
Suara MC menggelegar di seluruh area yang ramai dengan kerumunan muda-mudi yang asyik menikmati dentuman musik dari seorang Disk Jockey. Semua begitu menikmati privat party yang di buat oleh Eder. Tapi, berapa kali pun MC memanggil King dan Queen, tetap mereka tidak ada yang memperlihatkan batang hidung sama sekali.
Pertanyaan-pertanyaan mereka soal di mana keberadaan King dan Queen mungkin akan segera menemukan jawaban, mengapa King dan Queen mereka tidak ada yang muncul satu pun, karena King mereka sedang sibuk, secara membabi buta mengarahkan pukulan maut pada seorang pria. Membuat yang lain berhamburan menjauh, dari tempat perkelahian.
Buk!
Buk!
Buk!
Sedangkan, Queen mereka sedang meratapi seorang pria yang menjadi mangsa King.
"Sudah! Berhenti! Kamu bisa membunuhnya!" Peringat seorang gadis yang begitu ketakutan melihat kejadian tersebut.
Quenarra Auristela Kim (20), biasa disapa Quen oleh teman-teman di kampus. Nama dengan rupa seolah tak beda jauh, ia cantik dan menjadi ratu di setiap hati masing-masing pria tempat ia menimba ilmu saat ini, Universitas Indoraksa.
Diri Garra yang membabi buta, sempat terhenti melihat Quen yang ikut menjerit, melihat kekasih tercinta dipukul secara brutal oleh pemuda dingin itu.
"Kamu ingin dia begitu saja menyentuh tubuhmu? Baiklah. Kamu bisa melakukan hal itu pada malam pertama nanti bersamaku!" ucap Garra serius.
Garra Bhalendra (22) .Cowok cool, misterius, dan irit dengan kosa kata. Menjadi salah satu idola wanita di kampus. Mempunyai struktur tubuh perfeksionis, lengan kekar, dada bidang, dan pasti wajah tampan, siapa pun pasti akan tertarik melihat personality Garra. Kecuali Quen, ia sangat tidak suka dengan pria itu.
Begitu pun dengan Garra, ia sangat membenci Quen. Hingga sekarang tidak tahu alasan pasti apa. Setiap melihat Quen, ia akan langsung memasang wajah sangar dan paling sangar yang pernah ia ekspresikan kepada gadis itu. Sekarang pun bila dilihat, akan bertambah satu orang lagi masuk dalam daftar orang yang sangat ia benci. Pria yang sekarang sedang ia pukuli tanpa ampun, kekasih Quen.
"Lepas biadab! Aku tidak pernah punya masalah denganmu, Garra!"
Eder Shadrach (20). Pria dengan rambut hitam legam, berlesung pipit, yang juga menjadi idaman dari para gadis di kampus. Selain Garra, Eder pun menjadi salah satu yang terpopuler di kalangan para gadis. Sifat yang berbanding terbalik dengan Garra, menjadi nilai plus tersendiri bagi sebagian wanita yang mengagumi sosok kekasih Quen tersebut.
"Tidak pernah punya masalah denganku?! Kamu lahir ke dunia ini, itu merupakan satu masalahku!"
***
"Apa yang baru saja kamu ucapkan, Gar? Eder melakukan kesalahan apa sehingga kamu bisa menyalahkan keberadaan dia di dunia ini?"
Seorang wanita memancarkan kecemasan melihat perkelahian yang baru saja terjadi. Wanita itu sungguh tak paham dengan apa yang diucapkan oleh Garra.
Masih dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan, langkah kakinya memberanikan diri mendekati Quen.
"Quen! Kamu tidak apa-apa?"
Hannele Abraham (20). Gaya potongan rambut pendek, menjadi pilihan Hannele kali ini. Dia adalah sahabat Quen, tak kalah cantik dengan wanita bergelar perfect, hanya saja Hannele asli orang Indonesia, tetapi lama menetap di Turki.
"Sudah, Gar! Ayo kita pulang! Jangan menambah masalah di sini."
Seorang pria tinggi, berperawakan agak besar di bagian dada, berusaha membujuk Garra untuk meninggalkan tempat itu.
Nicole Mallory Wyman (22). Tak setampan Garra, tapi ia juga memiliki penggemar tersendiri dikalangan adik tingkat, tingkah yang lucu dan "Freak", menjadi daya tarik tersendiri. Tubuh yang sedikit berisi, menambah kesan imut dalam penilaian para penggemar Nicole.
"Lepas!" seru Garra pada Nicole. Masih menatap lekat wajah gadis yang tak begitu jauh dari posisi ia berdiri.
Quen, merasa mendapat tatapan dari Garra, langsung memalingkan wajah. Semakin membuat Garra merasa tertarik dengan tingkah Quen.
"Sedikit saja aku terlambat masuk. Kamu pasti akan merasa menyesal seumur hidup, jangan dia orangnya. Tapi, tunggu aku yang akan menikahimu," bisik Garra, pada salah satu telinga Quen.
Quen kembali menatap kedua sorot mata elang tersebut, ia tersenyum smirk sambil berlalu pergi menemui Eder yang telah babak belur dihajar Garra.
"Jangan bermimpi bisa menikah denganku," batinnya.
Quen sempat melirik, ketika Garra dan Nicole telah berbalik badan meninggalkan party tersebut. Ia merasa sedikit terganggu dengan apa yang diutarakan Garra barusan kepadanya.
Hannele kembali mendekati Quen, sembari ikut menolong Eder untuk berdiri. Beberapa teman pria juga ikut membantu membawa Eder ke rumah sakit.
"Quen," panggil Hannele perlahan. "Sebenarnya apa yang telah terjadi, sehingga Garra bisa berkelahi dengan Eder?"
"Percayalah. Semua baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir." Quen menggenggam tangan Hannele.
Sesaat, kemudian sahabat Hannele itu ikut pergi mengantar Eder ke rumah sakit, dan meninggalkan Hannele dalam rasa penasaran yang cukup besar.
Bintang bersembunyi ternyata memiliki alasan, mereka takut dengan kehadiran hujan yang langsung menyerang membabi buta, sama dengan serangan Garra pada Eder. Tatapannya nanar jauh ke depan, di dalam mobil yang mengantar Eder, kembali Quen mengingat kejadian waktu di kamar hotel bersama sang kekasih.
"Spesial untuk kita malam ini, Quen. I love you."
Quen terpana, melihat pemandangan yang ada di depan.
"Candle light dinner?"
Eder mengangguk semangat mengiyakan.
"Spesial perayaan empat tahun hubungan kita."
Quen memandang Eder dengan lekat, begitupun Eder, seolah terbawa suasana malam, ditambah ruangan kamar hotel yang dingin, mereka berdua terbuai saling berpelukan dan bercumbu mesra satu sama lain. Hingga, kedua pasangan muda itu menghamburkan tubuh ke atas ranjang yang mulai terasa sejuk. Di bawah selimut berpadu dengan gelora asmara yang membara.
Kecupan demi kecupan dirasakan oleh wanita yang mulai menggeliat, begitu hangat, diikuti belaian tangan Eder yang mulai berani menjamah hingga ke bagian lekuk tubuh mulus itu. Saat Eder ingin membuka pakaian kekasih, tiba-tiba saja ada yang menggedor pintu kamar hotel dengan sangat keras. Berkali-kali terdengar seperti memaksa untuk masuk.
"Buka bajingan! Bangsat!"
Mereka berdua langsung bangkit dari tempat tidur, Quen langsung memperbaiki baju yang sudah tersingkap.
"Siapa itu?" tanya Eder menatap kekasihnya.
Quen hanya diam, ia juga sama dengan Eder, tidak tahu siapa pelaku yang sudah berani bertindak demikian. Mengganggu kenyamanan tamu hotel saja.
Eder segera berjalan ke arah pintu, dan berusaha mengecek keadaan. Namun, pada saat pria itu menyentuh knop, pintu mendadak terbuka lebar.
"Sudah aku duga! Rencana kotormu itu akan kamu lakukan pada malam ini!"
Garra memaksa masuk kamar, dan terjadilah aksi saling pukul di antara mereka berdua.
Buk!
Pukulan pertama mengenai sudut bibir Eder. Sajian makan malam mereka, jatuh berhamburan mengenai tubuh yang ambruk seketika.
"Ada urusan apa, Gar?!" Quen langsung menjauh, saat tubuh Eder jatuh di depan kedua matanya.
"Dia dengan sengaja ingin mengambil mahkotamu, Quen! Apa kau sebagai wanita tak bisa menjaga!" hardik Garra dengan mata memerah, penuh amarah.
"Apa maksudmu?" tanya Quen kembali.
"Aku mendengar semua percakapan Eder dengan seseorang di telepon. Semua acara sampah ini, sudah direncanakan hanya untuk mendapatkan tubuhmu! Kau tahu itu!" jelas Garra meninggikan suara.
Pria beringas itu beralih menatap Eder yang masih tersungkur di lantai.
"Ikut aku, Ed! Ayo kita perlihatkan aslimu kepada semua orang!" lanjutnya lagi.
Tanpa belas kasih menyeret tubuh Eder keluar kamar hingga ke tempat acara.
"Lepas, Gar!" Eder berusaha melepas paksa tangan Garra yang menarik baju Eder dengan kuat.
Quen tak dapat melakukan apa-apa. Ucapan dari Garra barusan langsung tertancap sempurna di dalam benak Quen sekarang.
"Ya Tuhan ... apa yang telah aku lakukan?"
Lamunan wanita itu buyar, setelah suara Eder memanggilnya dengan lembut.
"Quen, kamu tidak apa-apa? Aku merasa bersalah," ungkapnya tulus.
Quen menggenggam erat kedua tangan Eder. Saat ini hanya itu yang mampu ia lakukan.
Tak lama, mobil yang mengantar Eder ke rumah sakit tiba di depan ruang IGD, Quen dan teman yang lain segera membantu Eder untuk turun, tapi sebelum itu pria yang penuh dengan luka lebam menanyakan sesuatu hal yang membuat Quen bingung harus menjawab apa.
"Garra berbisik apa padamu tadi?"
Sebelum Quen menjawab, beberapa suster segera membantu yang lain untuk membawa masuk Eder ke dalam. Quen sedikit melega, setidaknya ia bisa terlebih dahulu memikirkan jawaban yang tepat bila nanti Eder akan bertanya kembali.
Pria itu langsung diperiksa dan diobati oleh dokter, untung saja tidak ada luka dalam, hanya memar di bagian luar tepatnya pada wajah dan mata.
"Aku akan membalas perlakuan Garra padaku ini!" seru Eder kembali emosi.
"Terima kasih, Dok." Quen tak langsung menanggapi, ia terlebih dahulu melihat sang dokter sudah selesai mengobati luka kekasihnya itu.
"Quen, sekali lagi aku minta maaf. Aku tak ada niat seperti yang dikatakan Garra tadi, aku hanya tidak ingin kehilanganmu, Quen." Eder menarik kedua tangan wanita di depan, dan menggenggamnya.
"Duar!
Suara petir menyambar bersamaan dengan dilepasnya genggaman itu dari tangan Eder.
"Petir saja tahu kalau kamu sedang berbohong, dan bodohnya lagi aku terbuai dalam bius cintamu. Setan menguasai kita. Apa aku bisa kembali percaya?"
***
Universitas Indoraksa
Pukul. 08.00 WIB
Tiga bulan sebelum pernikahan
••••••••
"Ingat! Garra jangan disentuh! Dia tidak suka, kalian bisa sedikit menjauh?! Permisi ...!"
Bak selebritis, suara soprano dari para gadis memenuhi telinga siapa saja yang mendengar seolah menjadi sarapan Garra setiap pagi, tak heran ia selalu bersama dengan bodyguard sebagai penghalang bagi yang terkadang sekedar menyentuh halus tubuh Garra saja. Ada satu lagi, dan ini paling penting. Seorang Garra tidak suka bila ia disentuh oleh sembarang wanita. Bentuk tubuh atletis terlalu berharga hanya untuk disentuh begitu saja.
Garra pernah berkata pada waktu itu kepada para penggemar fanatik yang selalu memuja. "Tidak mudah bagi kalian, untuk menyentuh tubuhku yang terlalu berharga."
Ucapan Garra pada saat itu, mampu membuat para gadis semakin menggila, mereka menganggap gaya bicara Garra, menambah kesan misterius pada diri pria dengan model rambut messy hair.
Sambil kembali mengacak rambut menggunakan jari tangan, Garra melihat tingkah Nicole, sahabat sekaligus bodyguard Garra. Senyum smirk terpampang nyata dari sudut bibir pria berperawakan tegap, membuat para gadis yang melihat berteriak histeris, ketika Nicole tak mampu lagi menghalau, hal yang biasa ia lakukan adalah berlari menghindar dari kerumunan para gadis.
Tatapan Garra beradu dengan sosok Quen yang sangat ia benci. Seisi kampus mengetahui, bila Quen dan Garra bagaikan pertemuan dua air laut yang berada di teluk Alaska, mereka berdua tidak akan bisa menyatu satu sama lain.
Begitu pun, dengan Garra dan Quen meski sama-sama populer, sifat mereka berbeda.
"Quen!" sapa seorang pria dengan tinggi kurang lebih 187 cm.
Quen mengalihkan pandangan dari Garra, mencari sumber suara yang sangat ia kenal. Seorang pria berperawakan ideal yang sekarang telah berdiri di hadapan Quen, sedang menebar senyum yang diperuntukkan hanya untuk sang ratu kampus.
"Hei, Ed," balas Quen menyapa.
"Apa yang sedang kamu lihat?" Tanpa diketahui, Eder ikut memperhatikan Quen yang sedang menatap Garra.
"Pria itu selalu membuat telingaku sakit," protes Quen. Ia kembali melihat Garra yang telah menjauh dari tempat semula pria itu berdiri.
"Ah, lupakan! Aku punya sesuatu untukmu." Eder terlihat begitu bersemangat.
Quen mengalihkan pandangan, menatap Eder heran.
"Apa itu, Ed?" tanya Quen yang mulai penasaran.
"Aku butuh tangan kananmu."
Quen semakin dibuat penasaran oleh sikap Eder. Ia menuruti saja apa kata kekasih, dengan menyodorkan tangan kanan ke depan.
Eder tersenyum puas, karena Quen menurut saja, tanpa banyak bertanya mempermudah kejutan pagi ini. Ia segera merogoh saku celana agak dalam, dan mengeluarkan sebuah kotak persegi berwana biru tua.
"Untukmu, my Queen." Eder membuka kotak biru tersebut.
Quen terpana dengan benda kecil bulat berkilau, yang berada di dalam kotak biru. Matanya berbinar, memancarkan aura kebahagiaan menerima hadiah dari Eder.
"Cincin? Indah sekali!" Quen merasa takjub.
"Mau aku pasangkan?" Eder menawarkan diri.
Quen mengangguk pelan, sebagai isyarat menyetujui tawaran Eder.
Mata berbinar saat Eder memasangkan cincin berlian indah itu pada jari manis tangan mungil gadis dengan wajah oval. Senyum mengembang sempurna, setelah ia mengarahkan jari manis ke langit-langit, menikmati keindahan berlian kecil yang bertengger sebagai batu permata.
"Terima kasih, Ed. Ini sangat indah, aku menyukainya!"
Eder lebih mengembangkan lagi senyumnya, mendapati bahwa Quen sangat menyukai cincin berlian yang bernilai ratusan juta itu, tapi bagi Eder, bukanlah sesuatu hal yang sulit untuk didapatkan, asalkan kekasihnya bahagia, apapun akan dilakukan. Termasuk membelikan sebuah cincin berlian.
***
Rumor "Couple Goals" tunangan pun cepat tersebar di area kampus. Semakin banyak para gadis patah hati dan berusaha mengikhlaskan Eder untuk Quen. Tak sedikit juga, para kaum adam merasa kecewa, Queen mereka telah diikat oleh Eder. "Pesaing receh", julukan dari Eder untuk para pengagum Quen.
Kabar burung itu pun, berakhir juga ke telinga Garra. Awal tahu, ia biasa saja mendengar kabar tersebut, tapi seisi kampus dibuat heboh oleh kabar yang belum tentu benar atau tidak. Sikap Garra yang merasa masa bodoh, mendadak kesal dengan pasangan penyebar rumor sampah! Kenapa? Bukan tanpa alasan, Garra sangat tidak suka bila ia harus selalu dilibatkan dalam hubungan kedua orang tersebut.
Meskipun kenyataan yang ada, Eder dan Quen sudah lama berpacaran sejak mereka masih SMA. Namun, tetap saja semua orang di kampus, menganggap Garra tidak lebih cakap dalam hal meluluhkan hati wanita. Padahal ia mempunyai lebih banyak penggemar wanita dari pada Eder. Itu pula yang menjadi salah satu alasan Garra, membuat suatu rencana, bila saja orang mengetahui pasti akan menganggap Garra gila!
Penyesalan datang belakangan, mengapa ia mau saja di ajak Nicole, ke tempat perkumpulan orang-orang yang merasa kelaparan. Di mana lagi, kalau bukan kantin. Tempat orang yang juga kini bergosip tentang dirinya.
Di tempat inilah, Garra harus menerima omongan-omongan orang tentang ia yang selalu dibandingkan.
"Aku akan segera menikahinya," bisik Garra pelan, pada Nicole yang duduk di samping.
Tak ada hujan, tak ada petir, tak ada tanda dunia akan berakhir. Nicole yang sedang minum air putih di dalam botol, tiba-tiba saja tersedak, membasahi sebagian baju yang dikenakan. Ia terperanjat kaget, mendengar pernyataan Garra.
"Apa!" Sedikit berteriak. "Siapa yang mau nikah?! Siapa yang mau dinikahkan?!"
Untuk sesaat, kedua pria idaman kampus itu menjadi pusat perhatian. Suara Nicole yang terkesan kaget, mampu menarik perhatian Quen yang juga berada tak jauh dari posisi mereka.
Bukan Garra bila tak dapat mengatasi hal itu, Garra menanggapi dengan santai semua mata yang tertuju pada mereka. Cukup menatap tajam pada masing-masing pandangan orang, itu sudah cukup mengembalikan keadaan seperti semula. Tatapan elang menjadi ciri khasnya.
Percuma Nicole bertanya, karena tak ada sepatah kata pun yang keluar lagi dari mulut Garra. Pandangan pria itu menatap lurus pada meja yang berisikan Quen, Hannele, termasuk Eder. Kekasih yang juga tidak pernah jauh dari Quen, seisi kampus menjuluki mereka "Couple Goals", tapi tidak dengan Garra. "Kembar Siam" kalau Garra menjuluki mereka berdua.
"Kalau kalian di sini, ingin sebuah pembuktian. Maka akan aku buktikan, agar kalian bisa membedakan mana "rumor" dan mana "kenyataan"."
Sebuah rencana luar biasa, terbesit di dalam pikiran. Ia yakin, kali ini Quen tidak akan bisa tertawa seperti yang baru saja ia lihat sekarang.
***
"Quen, semua orang mengira kita tunangan. Hanya karena aku menyematkan sebuah cincin di jari manismu. Lucu sekali, kan, mereka suka sekali menyebar sesuatu yang hanya dilihat oleh mata, tanpa harus mencari tahu dulu kebenaran dari kabar itu." Eder terkekeh, mengetahui kabar burung terkait pertunangan mereka.
"Tunangan? Menarik. Apa hal itu bisa terwujud?" Quen menatap Eder. Tatapan yang selalu sama, bila mereka sudah membicarakan hal tersebut.
Baik Hannele mau pun Eder, sama-sama menatap ke arah Quen. Sebuah tatapan tak yakin yang dilemparkan Hannele.
Apa yang bisa kita lakukan sebagai manusia biasa, jika iman sudah berbicara?
"Ketika kalung rosarioku dan tasbihmu bertemu. Aku sadar, bahwa yang kasat mata mau pun tidak kasat mata sudah berbeda. Walaupun, di amin yang sama, iman yang berbeda."
Eder menatap lekat kedua manik coklat Quen. Walau tak ada sepatah kata pun yang keluar. Pria itu yakin, Quen dapat memahami makna tersirat dari dalam sorot mata, yang kini saling memandang.
Quen tersenyum kecil memandang bandul berbentuk salib, seolah memang sulit untuk mendaki bersama, tembok penghalang yang disebut "Iman" itu.
***