Mexico City 28 tahun yang lalu.
Lelaki berusia sekitar empat puluh tahun itu berbicara dingin dengan telepon genggam menempel di telinga, sementara tangannya masih asyik mengarahkan rokok ke mulutnya, menyesapnya kuat lalu membumbungkan asap putih tipis.
"Bagaimana, Miguel?"
"Mereka mendapatkan anggota keluarga baru seperti yang Anda perkirakan, Tuan. Sepasang kembar, putra dan putri," jawab lelaki muda berjas sneli itu di ujung saluran telepon.
"Lalu apa yang harus saya lakukan, Tuan? Apa rencana Anda selanjutnya?" imbuhnya.
"Menarik sekali, sangat menarik! Kupikir Dewi Fortuna sedang menaungiku." Lelaki itu tersenyum miring.
"Aku menginginkan anak laki- laki itu, bawa dia padaku. Ingat Miguel, lakukan dengan bersih! Jangan ada jejak! atau kepalamu akan kulubangi dengan tanganku sendiri," lanjutnya. Ia mengusap senjata api yang tersimpan di sebuah kotak, membuka penutupnya kemudian mengangkat dan memperhatikannya sebelum akhirnya meletakkan kembali.
"Ya, Tuan. Anda bisa mengandalkan saya."
Laki-laki itu tersenyum curang, mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga memutihkan buku jarinya.
Kau akan membayar lebih dari yang kau perkirakan, Bob. Kau mungkin tidak menyadari bagaimana aku mendepakmu dari hospital yang dulu adalah simbol kejayaanmu. Tapi, lihat sekarang! dengan mudah aku mendapatkannya. Dan aku telah menyiapkan kejutan yang lebih fantastis untukmu di masa mendatang. Aku tidak sabar menunggu saat itu, Berengsek!
______
Jack memasuki ruangan Davee, Meskipun Ia menduduki tempat terpenting di National Company, dia tetaplah sosok yang suka bertindak sesuka hati. Kadang malah sengaja membebankan beberapa pekerjaan pada Davee dengan penuh intimidasi. Jack tak terlalu berminat mengurus perusahaan, tapi sang ayah yang diktator itu selalu memaksanya. Pun, ia tahu, Davee memiliki dedikasi yang tinggi pada perusahaan, dan dia tidak akan berkhianat sebab ayahnya telah banyak berkontribusi di setiap aspek perekonomiannya.
"Hai, Jack! Perkenalkan, Ini sekretaris baru di kantor kita, sekretarisku," kata Davee seraya memperkenalkan seorang wanita muda di sampingnya.
"Ammy Lawrence." Wanita itu mengulurkan tangannya.
Jack menyambut uluran tangan si gadis jelita. Memandanginya dengan tatapan misterius yang khas, untuk beberapa saat lamanya ia menahan telapak gadis itu dalam jabatan tangannya. Menyunggingkan senyum memesona yang selalu menjadi damba para wanita. Mengerling nakal baru akhirnya melepaskan tangan sekretaris cantik itu.
"Kau tak cocok jadi sekretaris, mau pekerjaan yang lebih mudah? Misalnya menjadi wanitaku? Kulihat kau sangat menarik." Jack berdecak, memperhatikan lekuk tubuh Ammy dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia bersiul lalu melipat kedua tangannya di depan dada. Tatapannya yang mesum membuat Ammy sedikit kurang nyaman.
Ammy memandang Davee dengan tatapan heran. Nyaris tak percaya bahwa laki-laki tanpa attitude itu adalah sang CEO di perusahaan sekeren National Company.
"Sepertinya bos kita salah makan obat, Davee. Punya banyak harta tapi mulutnya seperti recehan. Tak berharga,” olok Ammy sarkas. Mentang-mentang pegawai baru dia pikir gadis itu akan takut padanya? Jangan harap.
“Davee? Kau memanggilnya Davee saja?” Ia menggaruk pelipis, bertanya-tanya sebenarnya mereka sedekat apa, sampai-sampai di kantor pun tak ada sapaan formal.
Jack menyugar rambut ke belakang, satu tangan lain memilih berkacak pinggang. mengukir senyum mengejek lalu berkata, "oke, kusimpulkan kau calon pacarnya Davee. Tapi, kau telah berani mengatai mulutku recehan. Jika kau kupecat, kupastikan kau tidak akan diterima di perusahaan mana pun … ” Ia menggantung kalimatnya sejenak. Beralih kepada pria di samping Ammy dan menatapnya tajam. “Jadi, kuharap Davee, ajari dia agar jangan coba-coba mencari masalah denganku!" Matanya mengarah pada Ammy sinis, sementara gadis itu memilih membuang wajah.
"Menyebalkan, apakah orang kaya memang begitu?" gerutunya dalam hati.
"Tapi, jujur sekretarismu menarik, Davee. Tanyakan padanya apakah dia mau menemaniku malam ini, aku akan bawa dia ke hotel The Graham's Kingdom jika dia mau. Aku ingin tahu, berapa lama kucing liar seperti dia mampu mendesah di bawahku. Oh, kau tak perlu khawatir, dia baru calon pacarmu, ‘kan? Nanti kuganti dengan selusin wanita yang lebih ... Shhhh, menggoda!" Ia mendesis nakal, melepaskan jasnya lalu menyampirkannya di sisi kiri pundak dan berlalu tanpa permisi.
"Apakah bos kita waras? Sepertinya dia kurang satu ons," gumam Ammy dengan ekspresi mengerucutkan bibir karena kesal.
"Sebaiknya jangan berurusan dengannya kecuali masalah pekerjaan, aku tahu dia menarik. Tapi, di balik pesonanya dia berbahaya, jangan sampai kau jatuh cinta padanya. Karena kau pasti akan terluka. Kupastikan itu.” Davee menatap Ammy serius. Seolah menegaskan bahwa peringatannya bukan main-main.
"Apa dia memang seburuk itu? Sayang sekali, padahal dia sangat tampan, dan aku suka matanya." Ia menjeda kalimatnya sejenak, “maksudku, dia punya mata yang indah,” tukasnya memperbaiki ucapan.
"Hu um, Harta dan rupa memang menjadi daya magnet yang luar biasa, Ammy. Dia bisa membeli wanita mana pun. Siapa yang akan menolak pesona Jack Williams Graham? Kurasa tidak akan ada. Bahkan gadis yang baru saja kuperingatkan mengakui kalau dia menyukai matanya," sindir Davee.
"Hei, aku hanya bilang suka matanya, lagi pula tak ada alasan untuk menyukai kepribadian arogan semacam itu, kecuali jika bisa menjadikannya makhluk jinak. Orang bilang, cinta bisa mengubah segalanya, 'kan?" Ia tersenyum simpul sembari bergerak impulsif.
"Kau tahu, kurasa jika Jack itu sempurna tapi minus attitude, ada opsi lain yang lebih menarik," ucapnya.
"Lebih menarik?" Dahi Ammy mengernyit.
Davee mengedikkan bahu. "Kita sudah kenal lama, Am. Mungkin Davee Alejandro Graham juga bisa jadi opsi kedua. Ayolah, keluarga Graham itu terbentuk dari gen sempurna. Katakan aku tampan!" ucapnya jenaka.
"Jika Jack Wiliams Graham lebih menantang untuk dijinakkan, sepertinya Davee akan kalah saing." Ammy terkekeh, menggoda Davee si pekerja keras itu ternyata cukup menghibur kebosanannya.
“Aku tahu dia lebih kaya-raya, tapi aku bagian dari keluarga itu. Aku tampan dan tidak pernah mempermainkan wanita mana pun meski aku tahu aku bisa. Itulah yang membuat aku lebih unggul darinya, Nona. Jadi sepertinya akan lebih baik jika kau naksir saja padaku! Itu lebih meminimalisir kemungkinan patah hati, hahaha ....” Ia berjalan sambil tertawa kecil, menuju meja Ammy lalu menyodorkan beberapa berkas.
"Sudah cukup waktu bercandanya, Nona. Kembali bekerja! Ada beberapa berkas yang harus kau revisi. Aku mau semuanya tersusun dengan rapi, ada pertemuan penting besok dan semua harus beres hari ini juga."
***
Menduduki single chair di penthousenya sambil memandangi hamparan perkotaan dari jendela kaca, gedung-gedung pencakar langit menghiasi hamparan kota Meksiko. jemarinya masih bermain-main dengan pemantik berwarna silver di genggamannya. Menikmati senja dengan caranya sendiri. Setidaknya seiring waktu ia dapat menyembuhkan lukanya karena kehilangan Meghan.
Seorang pria berpakaian serba hitam menghampirinya, dengan raut wajah segan dan sikap hormat ia menghadap pada pria tua itu.
"Anda memanggil saya, Tuan?" ucapnya formal.
Pria itu mengamati jam tangan yang melingkar di pergelangannya. membuka kacamatanya lalu berujar, "kau terlambat hampir sepuluh menit!"
"Maafkan saya, Tuan Besar. Ada insiden kecil di mana saya tadi hampir menabrak pejalan kaki,” tukasnya dengan aksen spanyol yang kental.
"Apa peduliku? Kalau saja menabrak pejalan kaki itu tak membuatmu terlambat, aku lebih senang kau menabraknya!" Ia memicingkan mata, kemudian kembali bersuara, "bagaimana dengan tugasmu?" Kedua kakinya dinaikkan ke atas meja, kemudian meletakkan punggung pada sandaran kursi.
Dahi Felicio mengernyit, dia baru terlambat delapan menit saja dan si tua itu sudah mengomel. Untungnya dia adalah pria kaya yang menjadi ladang penghasilannya. Jika tidak, mungkin Felicio sudah gemas dan ingin menyumbat mulut si tua itu dengan kaos kaki.
"Saya sudah mengatur pertemuan mereka dengan baik, gadis itu sudah bergabung di perusahaan Anda, Tuan Hans. Tinggal bagaimana membuat tuan muda Jack terkesan padanya. Tuan muda orang yang tak suka ditolak, gadis itu tampaknya memiliki karakter keras kepala dan berani. Saya akan usahakan agar tuan muda Jack banyak berinteraksi dengan gadis itu.”
“Good, bagaimana prediksimu mengenai misi kita?”
“Delapan puluh persen akan berhasil, Tuan. Saya rasa mudah sekali membuat tuan muda masuk ke dalam pusaran permainan kita, gadis itu cantik dan pintar. Dengan kepribadian tuan muda yang tak suka ditentang, saya yakin gadis itu sempurna sebagai umpan."
"Optimismemu perlu kuapresiasi. Kau sudah memastikan semuanya berjalan mulus? Ah, aku tidak suka kegagalan!" tuntutnya.
"Saya sudah menggali informasi mengenai gadis itu, Tuan. Jadi, prediksi saya tidak mungkin keliru, dan saya juga telah mempelajari seperti apa karakter tuan muda, mencari hal apa yang menarik di matanya. Dan secara alami, gadis itu memang memenuhi kriterianya. Lagi pula menurut yang saya pelajari, genetik kembar itu memiliki keterikatan dan cinta yang kuat," pungkas Felicio percaya diri.
"Aku suka cara bekerjamu, awasi mereka. Pastikan mereka bisa saling menyukai, kita sudah tahu arah kutub magnetnya, tinggal mendekatkan saja supaya mereka bisa tarik menarik.”
Pria itu mengenakan kembali kacamatanya, menyalakan pemantik lalu menyulut sebatang rokok yang terselip di tangannya. Setelah menikmati sesapan asap pertama, ia mengibaskan tangan. Memberi isyarat supaya anak buahnya lekas pergi.
Kepulan asap rokok meninggalkan partikel kecil menguap di udara. Menghadirkan kembali memori rasa sakit yang mencabik di dadanya. Mengingat satu nama yang membuat darahnya mendidih. Bob Martin.
"Permainan telah dimulai.”
Jam Kantor hari ini telah usai, Jack memasuki ruangan Ammy tanpa permisi. Menarik lengan wanita muda itu kasar. Peduli setan! Gadis itu membuatnya dihantui rasa penasaran semenjak dia berani mengatai mulutnya recehan. Dan perlakuan ini cukup masuk akal sebagai wujud sebuah hukuman. Ia tak mau kalah cepat dari Davee. Gadis itu harus menjadi miliknya dengan cara apa pun.
"Lepaskan, Mr. Graham! Bukankah Jam kerja sudah habis dan ini sudah waktunya pulang?" kata Ammy berusaha melepaskan tangannya dari si bos yang menyebalkan itu. Jack tidak memedulikan ucapan Ammy, bersikap seolah-olah tidak mendengar apa pun. Membawanya menuju ke mobilnya.
“Bos selalu tahu kapan harus memulangkan karyawannya. Mengerti! Jadi jangan mengajariku!”
Ada yang tak beres, Jack tak pernah merasakan getaran seperti sengatan listrik seakan mengalir di dadanya. Namun gadis kurang ajar ini rasanya setiap detik semakin menarik saja! Jack mendengkus, ingin sekali mengumpat. Perasaan apa yang sebenarnya sedang mengacaukan pikirannya ini?
"Ayahku pasti khawatir, Mr. Graham."
Jack menatap wanita di sebelahnya penuh intimidasi. Memangnya siapa yang peduli mengenai ayahnya?
"Bukankah kau sudah dewasa?" Mata pria itu menatap tajam ke arah Ammy.
"Mana ponselmu?" Ia menengadahkan sebelah tangan, meminta telepon pintar wanita itu dan sejenak kemudian benda pipih itu segera berpindah tangan.
"Untuk apa?"
"Ammy Lawrence Martin, ini perintah!" Nadanya naik beberapa oktaf.
Ammy menurut, memberikan ponselnya pada Jack. Pria itu menekan kemudian menggeser menu kontak dan mencari nomor ayah Ammy.
"Halo, Sir! Selamat malam. Aku atasan Ammy, ingin memberitahukan bahwa Ammy akan pulang terlambat karena ada pekerjaan tambahan." Ia menyeringai, menutup teleponnya seolah tak peduli pada jawaban di ujung saluran telepon.
"Anda mau membawa saya ke mana, Mr. Graham? Kalau niat Anda membawa saya untuk memenuhi nafsu sesat Anda, mohon maaf Anda salah target! Tolong garis bawahi, SAYA TIDAK MENJUAL DIRI!" ucap Ammy tetap bergaya formal namun tegas dan penuh penekanan. Alih-alih melepaskan Ammy, Jack malah semakin mengeratkan cekalan di tangan gadis itu.
Pria jangkung itu terus melangkah, memasukkan Ammy ke mobilnya lalu melajukannya. Tak peduli mulut gadis itu meracau tak karuan, ia memilih menulikan pendengaran.
"Hentikan mobilnya! Kau menculikku, Mr. Graham!" Ammy menatap lelaki itu dengan sengit.
“Buat saja laporan ke polisi, maka aku akan memperkosamu saat ini juga!” Jack mengeram marah. Sementara Ammy semakin panik.
"MR. GRAHAM!" pekiknya lebih keras.
"Kau tidak berhak memerintahku. Aku ini atasanmu, Mi Amor," kata Jack masih dengan pandangan yang tajam dan angkuh.
"Satu lagi, berhenti memanggilku Mr. Graham. Panggil aku Jack saja! Bukankah kau bisa memanggilnya Davee saja? Jika kita ada dalam pertemuan penting dengan client kau baru boleh memanggilku Mr. CEO. Damn, kau pilih kasih!" tekannya sinis.
Ia menghentikan mobilnya pada sebuah Restoran. Mengajak Ammy turun dan makan bersama. Mereka memasuki restoran mewah dengan arsitektur megah di atas dataran tinggi. Bahkan mereka dapat menikmati pemandangan pusat kota Bosque de Chapultepec yang merupakan paru-paru kota Meksiko hanya dari dalam restoran berpintu kaca tersebut.
"Aku tertarik padamu, terus terang saja, sepertinya membuat pemberontak sepertimu terbang bersamaku di kamar tidur selalu jadi fantasi terbaik sepanjang hari ini. Kau ... pasti luar biasa," kata Jack setelah pramusaji menyuguhkan makanan yang ia pesan. Ia kemudian mulai menyuap dan mengunyah makanannya. Sambil tersenyum melemparkan tatapan mupeng ke arah Ammy.
"Ada begitu banyak wanita yang bisa kau bayar. Kenapa harus aku?” Ammy mulai menampakkan kekesalan yang terasa sudah di ubun-ubun. Sepertinya dia harus memikirkan cara resign dari perusahaan itu agar dapat terbebas dari alien spesies baru seperti Jack.
Jack menjeda aktivitas makannya, meletakkan garpu dan pisau steak lalu menatap Ammy dengan senyum sinis. Ammy sama sekali tak menyentuh makanan yang Jack pesan. Meskipun berjajar hidangan telah tersusun rapi, tak tertinggal sepiring Nachos dengan topping daging cincang dan saus keju. Makanan favorit itu tak menarik perhatian Ammy lagi lantaran ia sedang bersama Jack.
"Jadi, berapa aku harus membayarmu?” Jack mengusap bibirnya dengan tisu kemudian kedua tangannya terlipat di depan meja sok innocent.
Ammy membalas tatapannya tak kalah sinis. Namun tanpa mengatakan apa-apa.
"Katakan saja, berapa hargamu?" Nada bicara tuan muda itu mulai sedikit meninggi. Ammy bangkit, meraih segelas air di meja lalu menumpahkannya di wajah pria bermanik cokelat itu.
"Tidak semua yang ada di dunia ini bisa kau beli dengan uangmu, Jack. Berhentilah merendahkanku!" Ammy menyingsingkan lengan blouse berwarna mustard yang ia kenakan, lalu menenteng tas jinjingnya seraya melangkah pergi. Namun tangan kekar itu dengan cekatan kembali menahan langkahnya.
"Kau sombong sekali, Ammy!"
"Kau menjijikkan, Jack!" balasnya.
Ia tersenyum, mengibaskan tangan pria itu dengan kasar kemudian memilih meninggalkan tempat itu dengan tergesa-gesa.
Mengetatkan rahang. Ada pemantik yang seolah semakin membakar gairahnya. Entah mengapa semakin gadis itu memberontak, Jack menjadi semakin penasaran padanya.
"Aku tidak akan melepaskanmu, Ammy. Jack Williams Graham tidak pernah gagal mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Kita lihat saja nanti!"
Ia menoleh ke depan pintu restoran yang transparan. Berlalu begitu saja sebelum membayar dan seorang pria menahannya.
"Anda belum membayar, Tuan."
"Kubeli sekalian restorannya untuk kandang anjingku. Aku bisa mentransfernya dan apa matamu buta sampai tak bisa melihat aku sedang terburu-buru?! Aku sudah meninggalkan kartu nama di meja. Apa matamu tidak berfungsi dengan baik?" tukasnya sarkastik, ia kembali mengambil kartu namanya dari kantong celana, menempelkannya di dahi si pria dan berkata, "kirim saja tagihannya, kau dipecat! Jika kau masih di sini saat aku datang kemari, kupastikan pemilik restoran ini akan bangkrut!"
Jack mendorong kecil tubuh laki-laki itu kemudian melanjutkan langkahnya. Si pria tertegun, mengamati kartu nama yang kini ada di genggamannya. Jack Wiliams Graham? Putra tunggal Hans Ferdinand Graham, pemilik hotel The Graham's Kingdom, National Company dan Meghan Medica Hospital? Ia hampir tak percaya. Maka dia memang harus siap hengkang dari pekerjaannya.
Mengejar Ammy yang belum jauh, sepatu berhak sekitar delapan belas senti sedikit membuatnya kesulitan berjalan cepat di tengah hujan bulan juni yang mengguyur deras Mexico City.
"Masuklah! aku akan mengantarmu," katanya setengah memerintah seraya membukakan pintu mobil.
"Aku tidak butuh mobilmu. Lebih baik aku basah kuyup atau mati disambar petir daripada harus berada di mobil yang sama denganmu. Menghirup udara yang sama dengan yang kau hirup saja membuatku cukup mual," ujarnya dengan kekesalan memuncak.
Tak diduga, kilat menyambar dengan penampakan yang begitu menakutkan diiringi suara dentum menggelegar. Terkejut, Ammy bergerak mundur, berteriak dengan spontan dan menelungkupkan wajahnya di dada Jack. Ia memang mengidap Astraphobia, yaitu ketakutan berlebih pada kilat dan petir. Lelaki itu tersenyum penuh kemenangan.
"Lihatlah, Ammy! Kucing liar ini akan kujinakkan dengan baik. Masih berkilah seolah kau menolakku?"
Ammy terburu-buru menarik tubuhnya dari pelukan Jack saat ia menyadari dirinya telah membuat kesalahan. Berbalik, ia melangkah maju, tanpa memedulikan Jack yang mulai basah kuyup diterpa hujan.
"Aku tidak sengaja," katanya, tampak semakin kesal dan takut.
Ammy menelan paksa ludahnya. Napasnya berat, dadanya bergemuruh menahan rasa takut pada cuaca yang sedang sangat tidak bersahabat. Dan lagi, apa yang ia lakukan barusan? Memeluk Jack? Ia berharap bisa memutar waktu dan menghapus peristiwa itu dari hidupnya. Damn, spontanitas yang memalukan.
Jack berlari kecil, meraih pergelangan tangan Ammy saat langkahnya mulai menjauh.
"Kalau kau kehujanan, maka biarkan aku kehujanan bersamamu, kalau saja kau mati tersambar petir, aku akan hancur bersamamu. Bagaimana? Tak perlu menebusnya dengan ke hotel bersamaku hari ini, mungkin bisa besok atau lusa," ucapnya masih dengan kalimat kurang ajarnya.
"Apa maumu?"
"Aku mau kau," jawabnya penuh percaya diri.
"Kita baru bertemu tadi pagi, Jack."
"Itu salahmu, kau yang membuat aku penasaran!" Tatapnya dengan senyum hangat.
"Berhentilah menggangguku! Besok aku akan mengurus surat pengunduran diri dari kantor. Aku rasa aku tak cocok menjadi anak buahmu," katanya serius.
"Terang saja kau tak cocok jadi bawahanku, kupikir lebih seru jika kau bermain di bawahku, Ammy." Jack tersenyum tengil. Sementara Ammy hanya bisa mendengkus kesal.
"Lepaskan tanganku!" ucapnya dengan suara melengking.
"Apa yang sudah kugenggam tidak mudah aku lepaskan. Kita jalani saja satu malam bersama, setelah itu silakan putuskan jika kau sanggup pergi dariku. Mudah bukan?"
Ammy semakin gusar pada sikap pria muda di hadapannya itu. Ia menampar pipi lelaki mesum itu keras-keras. Menyisakan rasa panas dan kebas di pipi Jack. Pria itu memegangi pipinya dengan sebelah tangan. Mengusapnya pelan.
Ditampar? Baru kali ini dia merasakan ditampar seorang wanita, dan wanita itu hanya seorang sekretaris? Demi apa?
Damn, kenapa wanita pemberontak itu semakin menarik saja di matanya. Ia mengetatkan rahang, kalau saja Ammy pria, ia pasti akan membabat habis batang lehernya.
Ammy masih berusaha melepaskan tangannya dari pria itu. Namun usahanya percuma, tangan itu terlalu kuat.
"Lepaskan!" pekiknya.
Alih-alih melepaskan genggamannya, Ia malah menarik sekretaris cantik itu ke pelukannya.
"Diamlah sebentar! Kau akan nyaman di dekatku. Hadiah untuk sikap kurang ajarmu adalah sebuah pelukan," katanya seraya menampakkan evil smirk.
“Aku tak akan memperkosamu, percayalah, aku masih punya harga diri untuk tidak menjadi binatang seperti itu,” ucapnya melunak.
"Apa kau memperlakukan semua wanita seperti ini, Jack? Katakan aku yang ke berapa?” Ia melirik wajah Jack yang berada begitu dekat dengan wajahnya. Sampai ia mampu merasakan embusan napasnya. Vibrasi detak jantungnya berpacu meninggi. Merasakan gelenyar seperti kupu-kupu beterbangan di dadanya. Jemari Jack merayap di pipi Ammy, bergerak mengeja detail wajahnya dan menyentuh bibir indahnya.
"Hanya kau, Ammy. Aku tak pernah penasaran pada wanita. Mereka hanya kupakai semalam dan kami tak pernah saling menyebut nama. Mereka hanya tempat pembuangan lendirku. Tapi, kau berbeda. Ada yang bergetar di dadaku saat aku bersamamu, Padahal kita baru bertemu tadi pagi." Manik cokelat itu bersitatap dengan iris biru Ammy, mengundang perasaan campur aduk yang membuncah di hati keduanya.
"Demi Tuhan, Jack. Aku tidak pernah bermimpi akan bertemu dengan makhluk luar angkasa sepertimu."
Ia kembali mengembangkan senyum.
"Kalau begitu, mimpikan aku mulai hari ini, Am."
Sulur-sulur jingga menampakkan diri dari kepulan awan hitam. Gemuruh petir bersahutan mampu membuat Ammy melunak. Ia benar-benar merasa takut pada suasana yang begitu mencekam. Tidak ada pilihan selain Jack. Ini sudah malam dan pada siapa ia akan minta pertolongan?
Sialnya lagi baterai ponselnya habis beberapa menit setelah si bos menjengkelkan itu menghubungi ayahnya. Menunggu taksi atau kendaraan umum saat cuaca tak mendukung sepertinya mustahil, bahkan jalanan tampak sunyi dan lengang.
"Masuklah ke mobilku! Kau menggigil. Atau jika kau memilih tetap pulang sendiri, jangan menyesal jika ada berandal yang memperkosamu nanti, itu bukan ide yang lebih baik daripada tidur denganku, bukan?" ucapnya sedikit lembut.
Ammy masih bergeming dan dengan tegas Jack berkata sekali lagi. “Masuk ke dalam mobil, Ammy! INI PERINTAH!”
Ia membimbing Ammy memasuki mobilnya. Ammy menurut, ia tidak mungkin pulang sendiri dalam keadaan seperti ini. Dan setidaknya Jack benar, jika ada berandal yang melakukan hal yang tidak-tidak, tentu itu adalah kesombongan konyol yang mencelakai diri. Pada akhirnya dia memilih memasuki Aston Martin Vanquish mewah milik Jack.
"Aku rasa jantungmu berdetak sangat kencang saat kau berada di pelukanku." Ia menatap Ammy dengan pandangan meledek. Manik kecokelatan itu selalu mampu menghipnotis. Ammy merasa salah tingkah. Pipinya bersemu merah, karena memang apa yang dikatakan oleh pria itu benar. Dia tertarik pada Jack.
"Tidak, aku hanya takut pada petir. Kau tak mungkin paham karena kau bukan penderita Astraphobia," dalihnya.
"Pipimu merona, Ammy. kau masih menyangkal?" Ia terkekeh geli.
"Tutup mulutmu, atau aku akan keluar dari mobilmu!" Ammy meninggikan suaranya dengan ekspresi malu dan gusar.
"Tidak ... tidak! Aku hanya bercanda. Kau tidak serius, 'kan, tentang pengunduran diri dari kantor?" Ia terlihat serius. Tak juga menyalakan mesin mobilnya hingga jemari Ammy meraih kunci dan memutarnya. Jack kembali memutar kunci ke keadaan semula.
“Ayolah, jangan tergesa-gesa, Mi Amante!”
Ammy melotot kesal. Sejak kapan ia berpacaran dengan Jack sampai-sampai pria gila itu memanggilnya dengan sebutan kekasihku?
"Entahlah, mungkin saja, jika kau terus menggangguku. Siapa yang akan tahan dengan bos sepertimu. Pekerjaan baru mungkin lebih menarik."
"Kau akan merasa kehilangan saat aku tak ada nanti. Tentu saja aku tidak akan tega membuatmu merasa kehilangan." Jack mengedipkan mata.
Ammy memicing. Muntah segentong! Dia pikir dia setampan Joshua Honeycut atau seseksi Manu Rios?
"Kau terlalu percaya diri, Jack!” oloknya.
"Aku benar- benar tertarik padamu. Aku akan mendapatkanmu apa pun caranya! Ingat itu."
"Aku bukan barang. Dan, bukan seperti itu cara memperlakukan seseorang jika kau tertarik padanya. Bersikaplah lebih baik, siapa tahu aku akan mengubah pandanganku tentangmu. Atau tidak sama sekali jika kau terus bersikap seperti ini."
"Artinya ada harapan?" Ia menyelipkan rambut Ammy yang basah di sela telinganya. Menyentuh pipi Ammy, menatapnya dengan manik kecokelatan yang begitu misterius. Ammy merasa kesulitan menepis pesona yang dimilikinya. Dadanya bergejolak saat menatap manik Jack yang indah. Namun dia tidak boleh jatuh cinta pada Jack. Lelaki sombong itu, apa yang Ammy pikirkan tentangnya?
Sialan! Ammy tidak bisa mengelak kesempurnaan itu. Kesempurnaan yang membuat logikanya bergerak, membela kepribadian arogan Jack. Seolah semua kesombongannya lumrah adanya.
Ayolah, Ammy. Apa kau sudah gila?
Jack mendekatkan wajahnya pada Ammy, mencium aroma parfum yang terasa tak asing olehnya. Seperti parfum yang terletak di laci ruang tengahnya. Ayahnya bilang itu adalah parfum kesukaan mendiang Ibunya.
Meski ayahnya sering pulang ke kediamannya, pria itu merasa begitu kesepian karena ayahnya selalu mengabaikannya. Dia merasa disayangi hanya dengan semua kemewahan yang ayahnya berikan. Oleh karena itu dia sering menghabiskan waktu untuk mencari kesenangannya sendiri. Entah dunia akan memandangnya benar atau salah. Kepuasan hanyalah obat penenang bagi Jack.
"Kalau aku tak salah terka aroma ini adalah Caron poivre, seleramu tinggi juga. Harga di atas dua puluh ribu peso hanya untuk sebuah parfum, Kau sangat berkelas." Jack menghidu aroma Ammy, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wanita itu lalu menariknya sedikit menjauh.
"Dengar, Jack! kalau kau mau main-main denganku kau salah orang. Aku wanita baik-baik. Bahkan aku masih perawan. Sementara kau? Katakan berapa wanita yang pernah kau tiduri sampai kau begitu hafal aroma parfum wanita? Dan katakan apa alasan yang membuatmu bertingkah aneh dan membuatku muak? Apa yang membuatmu pantas kusukai dengan kepribadianmu yang seabsurd ini?" Ammy mendengkus, memaksa meneguk ludah. Jika ia menjabarkan rasa kesalnya, rasanya ia tak ingin berurusan dengan pria ini seumur hidupnya.
“Kau masih perawan? Ini Mexico City. Ada dua alasan wanita di atas delapan belas tahun masih perawan di sini. Yang pertama karena dia tak normal, yang kedua karena dia tidak memiliki ‘lubang kunci’. Jadi, sepertinya aku perlu memeriksa kau ada di alasan yang mana.” Jack tertawa terbahak-bahak. Memancing Ammy untuk melebarkan bola mata dan mengekspose manik jernih seindah blue shappire.
"Jalankan mobilnya, Jack. Aku mau pulang!" pintanya.
Pemuda itu melemparkan sepotong senyum. Menyalakan mesin mobil sambil berkata, "kau sedang memerintahku rupanya." Ia menjeda kalimatnya sepersekian detik lalu menambahkan, "aku tidak bisa membedakan apakah yang kau katakan tadi itu pertanyaan atau pernyataan, Ammy. Berapa wanita yang pernah kutiduri? Entahlah, aku hanya menikmati mereka tanpa sempat menghitung ini yang ke berapa dari sekian banyak. Alasan aku bersikap begini karena aku mau kau dan kau menolakku. Apa yang membuatku pantas kau sukai, aku memiliki segalanya, kau tahu itu dan semua wanita menyukainya. Aku tampan dan kaya."
Hey, ini aku ... Jack, pria paling sempurna di antara seribu pria, mungkinkah kucing liar ini tak tertarik? Mana mungkin!
Tidak lagi mengulur waktu. Mulai melajukan mobilnya di tengah rintik hujan yang kian mereda dengan begitu santai. Sesekali melirik Ammy yang duduk di sampingnya. Pakaian yang basah itu membuat lekuk tubuhnya terjiplak begitu jelas. Dan Jack menyukai itu.
Ammy membuang muka, melihat jalanan basah lewat kaca pintu yang mengembun sisa percikan hujan. Aroma petrikor menyapa penghidu. Pikirannya berkecamuk liar. Sepertinya ia benar-benar tertarik pada Jack. Itu buruk, sangat buruk! Bukankah seharusnya dia sadar siapa Jack dan kenapa harus dia? Apa yang membuat hatinya buta dan menyimpan Jack sebagai kriterianya? Bahkan Dia tidak pantas mendapat simpati darinya secuil pun, terlebih cinta.
To be continue.
Felicio tersenyum curang, meletakkan kotak musik kaca itu di ujung meja. Sempurna. Setelah meletakkan kotak musik itu di pinggir meja, ia akan memancing Jack agar memasuki ruang kerja Ammy. Kemudian pria ceroboh itu akan menjatuhkannya. Mereka akan bertengkar, dan setelah drama itu berlangsung, maka gadis itu akan menjauh dan membuat Jack yang labil itu semakin kelabakan. Skenario yang menarik. Mudah sekali menebak apa isi kepala si Hans junior itu.
Ia berjingkat, membuka pintu dan keluar ruangan. Membiarkan pintu sedikit terbuka. Meneliti arloji yang bertengger di tangannya sekilas, biasanya sebentar lagi anak ingusan itu berangkat. Dan ia hanya perlu memantau dari sisi yang tak terlihat. Semua CCTV telah dimatikan. Menjadi orang dalam memudahkan segala ruang geraknya.
Benar saja, beberapa menit kemudian pria itu melintas. Mengernyit ketika tahu pintu tak tertutup sempurna. Itu menarik perhatiannya. Ia berhenti sejenak di depan pintu, ragu akan membukanya atau tidak.
Mengintip sedikit. Tampaknya Ammy belum berangkat. Peduli setan! Dia tak ingin mati penasaran. Bukankah itu kantornya?
Memasuki ruang kerja Ammy, matanya mencermati setiap sudut ruang, tak terlihat siapa-siapa di sana. Ia menempati kursi yang biasa ditempati Ammy. Memandang sebuah foto yang terpajang di meja, seorang gadis kecil dengan gigi depan yang ompong. Ia mendekatkan foto itu padanya. Tersenyum.
"Kau tetap cantik tanpa gigi depanmu, Ammy."
Jack meletakkan kembali foto itu, kemudian mengedarkan pandangan dan menemukan kotak musik Crystal di pojok kiri meja. Mengamatinya, ia kemudian memutar tuasnya. Merdunya lagu fur elise, Bethoven mengalun lembut.
Dia baru menyadari sekarang, bahwa Ammy yang mungkin terkesan galak memiliki sisi yang lembut. Kenapa tidak pernah terpikir olehnya selama ini? Sejenak hanyut menikmati merdunya nyanyian kotak musik, ia kemudian meletakkan kembali benda itu pada tempatnya. Beranjak pergi dari ruangan itu, tanpa sengaja tangannya menyenggol kotak musik itu dan jatuh.
"Pyarrrr..."
Ia terperanyak. Bersamaan dengan keterkejutannya pintu terbuka. Itu pasti Ammy.
Ammy menatap Jack sekilas, beralih pada kotak musik yang berserakan di lantai. Dengan Gusar Ammy membentak. "Apa yang sedang Anda lakukan di ruangan saya, Mr. CEO?"
Ammy menatap kotak musik itu sampai mulutnya ternganga, kaget. menutup mulut dengan sebelah tangannya lalu mengais serpihan kotak musik kaca itu. Ia bangkit dan mendorong tubuh atasannya itu, kasar.
"Apa kau tidak bisa membiarkanku sehari saja tanpa masalah, huh?"
"Sorry, Ammy. Aku ... " belum sempat menyelesaikan kata-katanya, tetapi dengan lantang Ammy menyelanya. "Kau berengsek, Jack."
Ammy menyambar tasnya, berusaha lari keluar. Matanya berkaca-kaca. Ia tidak menyangka akan kehilangan kotak musik satu-satunya peninggalan Ibunya.
Awalnya ia pikir, ketika kotak musik itu ada di meja kerjanya maka akan menjadi satu penyemangat untuknya karena merasa berada dekat dengan Ibunya. Namun Jack dengan mudah menghancurkan benda itu.
Jack berlari, mencoba mengejar Ammy. Meraih tangannya lalu berkata, "aku tidak sengaja, Ammy."
Ammy mengentakkan tangan Jack, melangkah tanpa peduli. Ia sangat marah. Sementara Jack kembali berlari kecil, berdiri di hadapan Ammy untuk menghadang langkahnya.
"Minggir!" Ammy tetap fokus menjauh, menyingkirkan tubuh pria itu dengan kedua tangannya.
"Ammy, biar aku jelaskan!"
Ammy tak memedulikan panggilan Jack.
"Ammy..."
"Please! dengarkan aku!"
Gadis itu tetap berlalu tanpa menoleh dan menjauh dari Jack. Ia tidak ingin melihat wajah itu untuk saat ini saja.
"Shit!" Jack mengepalkan tangan, mengarahkannya pada dinding lobi depan. Menyisakan rasa nyeri di buku jarinya. Tak menyerah sampai di situ, Ia tetap mencoba mengejar Ammy. Berharap sekretaris cantik itu mau mendengar penjelasannya.
"Please! Ammy, itu hanya kotak musik. Aku sanggup membelikan yang lebih bagus dari itu. Ikutlah denganku! Kubelikan kau yang baru. Kau mau berapa? Sepuluh? Atau kau mau yang berhias Rubby atau Zamrud?"
Plaaakkkkk.....
Jack memegangi pipinya, kembali rasa panas dan kebas tertinggal di sana.
Ini kali kedua kau menamparku, Kucing Liar!
"Kau hanya memikirkan uang, uang dan uang! apakah kau pikir semua hal bisa kau hargai dengan uangmu? Aku membencimu, Jack. Sangat ... sangat ... sangat ... membencimu!" tekannya dengan suara tegas. Ia mengatur napasnya yang terasa berat.
Bergerak menjauh. Ingin segera mengakhiri kekesalan yang selalu saja tumbuh ketika Jack berada di dekatnya. Sementara Jack masih terus mengekor di belakangnya.
"Kau menamparku hanya karena kotak musik itu? Apakah dari kekasihmu?"
"Berhenti mengikutiku, Jack!"
Kali ini Jack mengalah, merasa bersalah. Seharusnya ia tak perlu lancang memasuki ruangan Ammy. Rasa tak tenang mulai menyelinap menjamah hatinya. Mungkinkah benda itu dari kekasih Ammy?
Ia bergeming, menyaksikan Ammy yang mulai hilang ditelan jarak. Bukankah seharusnya ia tetap harus bekerja hari ini? Tidak profesional sekali.
Di pojok dinding, sosok berjas hitam itu mengawasi mereka. Tersenyum culas, dengan headset nirkabel terselip di telinganya.
"Rencana berjalan sempurna, Tuan besar."
-----
Gadis itu benar-benar resign dari kantor. Jack merasa sangat kehilangan. Setiap hari yang dia kerjakan di kantor hanya uring-uringan. Ia berharap dapat memutar waktu dan bisa menebus kesalahannya.
Ia bukan laki-laki yang pintar meminta maaf. Harga diri adalah kedudukan paling tinggi bagi Jack. Namun, jika kata maaf mampu membuat Ammy kembali, maka ia akan mencobanya.
"Berikan aku nomor ponsel Ammy, Davee!" pinta Jack saat tiba di depan meja kerja Davee.
"Aku tidak punya," jawab Davee berdalih.
"Dia sekretarismu dan kau tidak tahu nomor ponselnya? Lelucon macam apa ini?" ujarnya dengan sarkas diikuti seringai penuh intimidasi. Ia melipat tangan di depan dada sambil duduk di meja sang COO.
"Dia melarangku memberikannya pa----"
Brakkk ...
Suara meja dipukul itu mengantung kalimat Davee yang belum sempurna. Ia menatap Jack, menggaruk batang hidungnya yang tak gatal.
"Sejak kapan kau berani padaku, Davee? Berikan padaku!" Jack menatapnya sinis. Davee mendengkus.
"Tak bisakah kau menghargai privasi orang. Ayolah! ini jam kerja. Toh ada sekretaris pengganti yang menghandle pekerjaan Ammy. Dia resign, karena ulahmu!" timpalnya.
"Sekarang kau juga mengajariku? Hebat sekali!"
"Itu benar, semua salahmu, Jack, kenapa kau pecahkan kotak musik itu. Kau tidak tahu bagaimana gadis itu memperlakukan benda kesayangannya itu."
Jack menatap Davee penuh selidik, Ia tahu tentang kotak musik itu? Jangan-jangan itu darinya.
"Aku mencium aroma tak mengenakkan dari tatapanmu, Jack. Kenapa? Kau cemburu? Kau pikir aku yang memberikan kotak musik itu?"
Ia mengerjap, tak menyangka sepupunya pintar membaca hatinya.
"Apa tebakanku benar? Kau tahu aku selalu penasaran."
"Sebenarnya aku tidak ingin cerita. Tapi, aku tidak ingin kau mati penasaran. Orang gila!" Davee mencebik.
"Itu kotak musik milik Ibunya. Benda satu- satunya peninggalan Ibunya. Dan kau merusaknya."
"Lalu apa yang spesial dari itu? Dia sangat menyayangi ibunya, begitu? Ah, ibu itu hanya dongeng, Davee." Ia duduk di kursi yang menganggur di hadapannya.
"Ibunya sudah meninggal sepuluh menit setelah kelahirannya. Itu yang membuat benda itu spesial." Davee menerangkan.
Jack menelan ludah. Semakin diganggu perasaan bersalah.
"Maksudmu, mendiang ibunya?”
"Begitulah, aku sudah mengenalnya lumayan lama. Kau tahu, dia wanita yang teliti dan cerdas, dia juga mengagumkan. Sayang sekali dia sudah bukan lagi sekretaris di kantor ini, padahal aku merasa memiliki peluang mendekatinya sebelumnya."
"Jadi kau mau bersaing denganku rupanya! Awas saja kau!" Jack bangun dari tempat duduknya, menatap Davee dengan sorot mata tajam dan membunuh.
"Aku akan mendapatkannya kembali, dan jangan pernah mendekatinya atau aku akan membunuhmu!" kata Jack mantap.
"Kau pikir itu mudah, coba saja, Jack. Atau mungkin rasa penasaranmu yang akan membuatmu terbunuh lebih dulu."
"Kita bertaruh, Davee. Jack Williams Graham selalu mendapatkan apa yang dia mau. Jangan ragukan itu!"
***
Ammy menikmati suasana di suatu sore, hiruk pikuk Mexico City tampak menenangkan dari atas jembatan gantung yang memisahkan sungai kecil di dekat San pablo de las Salinas. Suasana tidak sepi, pun tidak ramai. Angin membelai uraian rambut Ammy dan membuatnya melayang seperti air mengalir dan bergelombang. Nikmat menyesap kesejukan membuatnya tersentak saat seorang gadis kecil datang membawa seikat bunga Lilac untuknya.
"Bunga untukmu, Nona."
Ammy mengarahkan telunjuk pada dirinya sendiri dan menaikkan salah satu alisnya.
"Dari siapa?"
"Aku tidak tahu namanya, tapi dia keren sekali, kurasa dia seorang Angel Man."
"Angel Man?"
Gadis itu mengangguk sebelum akhirnya minta diri dan pergi.
Ammy menghirup aroma Lilac yang lembut itu. Menemukan sebuah kartu ucapan.
"I'm sorry, Ammy. I miss you---Jack."
Mata Ammy menyisir sekeliling, menemukan Jack sedang berdiri di samping pohon poinsenttia berjajar di tepi sungai melambaikan tangan dan tersenyum padanya. Ia menikmati sejenak perasaannya, entah perasaan macam apa. Tak peduli jauh atau pun dekat, Jack tetap sama menawannya. Tak tahu apa arti laki-laki itu di matanya. Apakah Angel Man, atau hanya seorang Devil Man. Ataukah mungkin dia adalah sosok Devil yang sedang dalam kamuflase untuk terlihat bagai seorang Angel Man.
Ammy menatap laki- laki itu tajam, tak bermaksud sama sekali membalas senyumnya atau pun lambaiannya. Ammy kemudian menghirup aroma Lilac di tangannya sekali lagi dan melemparnya ke sungai, menyisir rambut depannya yang berantakan tertiup angin menggunakan jemarinya lalu pergi tanpa menoleh lagi.
Kena, kau ... Jack! Kau pikir kau saja yang bisa mengerjaiku! Makan rasa bersalahmu! Kau hanya tak tahu bahwa kotak musik itu hanya duplikasi. Dasar idiot!
Jack melihat Lilac yang mengapung di antara tarian air yang meliuk. Mematahkan kembali harapannya untuk mendapatkan maaf dari Ammy. Namun Jack tak akan berhenti sampai Ammy akan bertekuk lutut di hadapannya.
***
Jack mendengkus, berpikir apa yang mungkin bisa membuat Ammy tertarik untuk memperhatikannya. Ia tahu Ammy tidak benar-benar membencinya, atau mungkin terlalu percaya diri untuk merasa begitu? Dia harus mencari tahu, bagaimana perasaan gadis itu sebenarnya padanya. Tak tertarik padanya? Jack merasa tak percaya ada gadis yang berani menolaknya mentah-mentah.
"Jose, lacak keberadaan gadis ini. Alamat email perangkatnya kukirim padamu setelah ini, lalu beri tahu aku lokasinya," ucapnya pada sambungan telepon. Menunggu beberapa saat, ia mendapatkan pesan singkat. Lokasi Ammy dari kaki tangan suruhannya.
Jack beralih, entah kapan ide gila itu muncul, segera bergegas memasuki Aston Martin mewahnya, ia kembali menelepon tapi kali ini bukan menelepon anak buahnya.
"Esperanza, aku akan menjemputmu. bersiaplah dalam sepuluh menit!" ujarnya kemudian langsung memutuskan sambungan telepon sebelum sempat dijawab olehnya.
Esperanza adalah salah satu teman kencan bayaran Jack. Setelah semuanya siap, ia segera menjemput wanita itu lalu menuju sebuah caffe di mana ada Ammy di sana.
Mendapati keberadaan Ammy yang sedang makan malam, Jack sengaja membiarkan Esperanza menempel padanya.
Ia ingin tahu seperti apa reaksi Ammy nanti. Sikapnya akan mencerminkan seperti apa perasaannya yang sesungguhnya. Apakah dia akan bersikap biasa-biasa saja? Atau akan marah? Atau malah pura-pura tak kenal? jika Ammy marah padanya atau ikut campur, itu artinya ada kecemburuan serta kepedulian di hatinya. Dan tentu saja Jack tak perlu repot-repot bekerja terlalu keras untuk mendapatkannya.
Jack tak yakin wanita muda itu benar- benar tidak bersimpati padanya. Bukankah selama ini makhluk yang namanya wanita selalu jatuh bangun mengejarnya? Ia hanya ingin memastikan benarkah gadis itu tidak peduli padanya. Benarkah gadis itu sama sekali tak tertarik padanya? Padahal Jack tahu, ada debaran keras yang tak bisa gadis itu sembunyikan saat ia memeluk tubuhnya.
Ammy menatap Jack yang duduk tak jauh darinya. Tampak mesra dengan wanita berpakaian serba ketat dan belahan dada rendah, gadis itu sudah bisa menebak bahwa pasti yang sedang bersama Jack adalah wanita murahan barunya. Ia tersenyum remeh. Muak dengan pemandangan di depannya. Entah kenapa terasa tidak nyaman. Ada kemarahan yang tak bisa ia mengerti alasannya.
Ammy menyambar tas jinjing miliknya, membukanya dan melakukan pembayaran. Ia menyempatkan diri menghampiri Jack, melihat betapa wanita menjijikkan itu menempel erat di pundaknya.
"Hai, Jack! Tak enak melihatmu tanpa menyapa. Oh, ini pasti mainan barumu, apa kau tidak bisa tunjukkan barang lain yang lebih berkualitas yang bisa kau beli selain sampah murahan yang kau bawa ini? Ya Tuhan, kalian mengotori pemandanganku saja," seloroh Ammy mencebik dan menyilangkan tangan di dada.
Esperanza melotot pada Ammy.
"Kenapa? Apa kau juga salah satu pelac*rnya?” Wanita itu menatap Ammy sinis.
Ammy menautkan alis.
"Lebih baik aku mati kelaparan daripada harus menjual diri pada laki-laki seperti dia." Ia mengarahkan telunjuknya ke arah Jack.
"Hm … satu poin positif yang bisa kuambil saat ini adalah, untunglah aku sudah keluar dari lingkaran seorang CEO minim attitude dan maniak s*ks sepertimu," oloknya.
Jack tersenyum enteng sambil memasukkan sepotong Churos ke mulutnya.
"Itu bukan urusanmu, Ammy. Kenapa? kau tertarik jadi pelac*rku seperti yang Esperanza bilang? Kau akan dapat harga VVIP. Jadi, kau butuh berapa juta peso, huh?"
Ammy melebarkan matanya, manik birunya terekspose begitu menawan walaupun dia sedang marah.
"Berbicara dengan alien sepertimu dibutuhkan bahasa planet. Menyebalkan!" Ia mengetatkan rahang karena jengkel.
"Kau tampak begitu marah? Beginilah hidupku, dan kau sudah tahu itu, ‘kan? kenapa kau harus peduli? Atau kau cemburu?"
"Omong kosong apa ini? Aku tidak peduli sama sekali, Jack." Ammy membuang wajah. Terlihat gugup dan salah tingkah. Sialan, dia ketahuan sok jual mahal selama ini. Kenapa laki-laki itu pandai sekali mencari tahu isi hatinya. Itu membuat Ammy semakin kesal saja.
"Yah, aku pikir aku membuang waktuku bicara denganmu. Aku akan pergi sekarang, Mr. CEO."
"Silakan, pintu exit di sebelah kanan. Kau tentu sudah tahu." Jack tersenyum miring.
Ammy mendengkus. Pergi dengan perasaan campur aduk. Berjalan dengan kaki sedikit dientak saking jengkel. Tak jelas apa yang membuatnya kesal.
Esperanza masih manja menyandarkan diri di bahu Jack. Ammy sudah pergi sekarang. Jack berusaha melepaskan jalang itu darinya. Meninggalkan amplop cokelat di atas meja.
"Pulanglah dengan taksi. Aku tidak bisa mengantarmu, terima kasih sudah membantu," katanya sambil berlalu pergi.
"Bukankah kau ingin bersenang-senang denganku?"
"Sayangnya tidak, Esperanza. Bersenang- senanglah dengan pelangganmu yang lain. Aku sudah membayarmu penuh meskipun aku tak memakaimu. Jadi jangan memprotes!"
Jack meninggalkan Esperanza begitu saja di Cafe. Menyisakan sayup-sayup suara panggilan wanita itu tanpa menggubris.
Merasa di atas angin, mendapatkan kemenangan kecil ketikamketika betapa marahnya sekretaris cantik itu saat ia dekat dengan pelacur yang dibawanya. Kini Jack telah yakin, Ammy tidak benar-benar membencinya. Itu membuatnya berpikir bahwa dia memiliki peluang besar. Gadis itu menyukainya, tentu saja itu bukan hanya karena Jack terlalu percaya diri. Ia menarik garis lengkung di bibirnya sambil menggumam lirih, "aku mau hati dan tubuhmu, jiwa dan ragamu, Mi Amor."