Bab 1

Aku Sonia, seorang gadis pekerja administrasi pada salah satu perusahaan kontraktor di Jakarta. Aku baru dua tahun bekerja disini. Aku berasal dari keluarga sederhana, aku tinggal berdua saja dengan ibuku, yang kini juga masih aktif bekerja sebagai staf personalia pada perusahaan swasta. Di akhir pekan, biasanya kami menyambangi kedua orang tua beliau yang tinggal di kota Tangerang. Jujur saja, aku tipe orang yang lebih suka berkumpul bersama keluarga besarku ketimbang berlama-lama nongkrong di kedai kopi bersama teman-teman yang notabene hanya untuk membahas pepesan kosong.

Sejak perceraian kedua orang tuaku sebelas tahun yang lalu, aku tidak pernah sekalipun bertemu dengan papa. Bukan karena aku anak yang kurang ajar, tetapi beliau

sendirilah yang menutup komunikasinya dengan kami. Dan sejak perceraian itulah ibuku seorang diri banting tulang menafkahi biaya hidup kami dan pastinya untuk

pendidikanku. Karena faktanya papaku bukanlah seseorang yang bertanggungjawab bahkan terhadap darah dagingnya sendiri. Tampaknya kini beliau telah tenggelam dibodohi oleh wanita yang beliau pilih untuk dinikahinya. Dan hingga detik ini ibuku belum pernah menikah lagi. Setahuku, beliau memang sempat memiliki kekasih, namun pada akhirnya ibuku belum siap untuk memiliki pendamping lagi.

Aku lulusan sekolah menengah kejuruan jurusan administrasi perkantoran. Bisa dibilang, dulu aku tergolong siswi yang berprestasi di sekolah. Kecerdasanku kerap diakui oleh guru-guru dan teman-teman, serta tak ketinggalan keluarga besarku. Dan keberuntungan pun selalu menyertaiku hingga akhirnya aku bisa mendapatkan pekerjaan sebaik ini tidak sampai satu tahun setelah aku menamatkan sekolah. Aku mendapat pekerjaan ini melalui iklan yang ku baca di internet.

Atasanku di kantor, sangat mengapresiasi kinerjaku selama dua tahun ini. Bahkan terkadang aku kewalahan karena merasa diriku yang paling beliau andalkan. Awalnya aku hanya menguasai tugas-tugas dalam bidang pekerjaanku saja, tapi lama-kelamaan aku dituntut untuk bisa mengerjakan tugas beberapa rekan kerjaku yang lain. Dari mulai memproses tagihan perusahaan hingga membuat gambar struktur bangunan. Gunanya, agar sewaktu-waktu aku dapat memback up pekerjaan mereka ketika mereka berhalangan hadir di kantor.

Salah satu rekan kerjaku, Mia juga pernah terang-terangan mengatakan di hadapan beberapa teman yang lain bahwa aku sangat mudah menerima pelajaran baru.

Menurutnya, tidak sulit mengajarkan bidang pekerjaannya kepadaku. Aku sangat cepat dalam menangkap ilmu yang dia berikan padaku. Namun dimanapun tempatku berpijak, aku tetap sebagai Sonia yang selalu rendah hati dan apa adanya dengan semua kekurangan yang melekat pada diriku.

Ah iya, kata orang-orang aku punya wajah yang manis. Kulitku nyaris lebih gelap dari warna sawo matang, namun disitulah letak pesonaku. Mereka juga mengatakan bahwa aku memiliki senyuman yang memikat. Aku tidak suka memiliki rambut panjang. Rambut hitamku ini jatuh beberapa senti di bawah telinga. Alisku cukup tebal, aku tidak pernah suka memperlakukan hal-hal aneh pada alisku seperti mencukur atau membentuknya. Aku punya bibir yang tebal dan seksi. Serta hidung yang cukup bisa dikatakan mancung. Namun, untuk ukuran seorang perempuan

tubuhku masih kurang tinggi. Hanya sekitar seratus lima puluh enam sentimeter saja.

Hari Sabtu ini aku mendapat undangan dari salah satu teman semasa sekolahku yang bernama Cintya. Lewat pesan singkat Cintya mengharapkan kehadiranku pada hari bahagianya nanti. Meski kami tidak cukup dekat namun kami pernah duduk di satu kelas yang sama selama dua tahun. Aku juga telah mengatakan padanya bahwa nanti, aku pasti akan menghadiri acara resepsinya. Karena aku sangat menghargai undangan darinya.

Setiap hari Sabtu, aku bekerja hingga pukul dua siang. Rencana ku untuk Sabtu ini, setelah jam kerja berakhir aku akan langsung bergegas pulang untuk beristirahat

sejenak sebelum menghadiri acara resepsi pernikahan Cintya, pukul tujuh malam di salah satu aula gedung yang berada di utara kota Jakarta.

Ah iya, aku ini tinggal di salah satu perumahan daerah Kalimalang, Jakarta Timur. Sedang selama ini aku bekerja di daerah Tanah Abang, Jakarta Pusat. Sehingga sehari-harinya aku lebih nyaman beraktivitas dengan menumpang moda transportasi massal yaitu kereta api. Selain karena waktu tempuhnya lebih cepat, tarifnya juga sangat terjangkau. Dan rencananya aku akan pergi ke acara resepsi Cintya dengan menumpang taksi. Karena aku akan berangkat seorang diri, tidak ada teman lainnya yang tinggal di sekitaran rumahku.

Namun aku sudah mengatur janji dengan Vina, teman sebangkuku semasa sekolah dulu. Dari sekian banyaknya teman satu angkatan, hanya Vina yang sampai saat ini masih sangat dekat denganku. Itu karena aku tipe orang yang tidak mudah untuk percaya pada orang lain. Dan hanya berteman dekat dengan Vina lah, aku merasa nyaman dan percaya.

Rencananya nanti, kami akan bertemu di loby gedung resepsi pukul tujuh malam lewat lima belas menit.

Dan kini tibalah hari Sabtu, waktunya kami harus menghadiri acara resepsi pernikahan Cintya.

Pukul tiga sore lewat lima menit, aku baru tiba di rumah. Hari ini ibuku libur, sehingga beliau beristirahat di rumah saja menonton acara tayangan televisi.

“Bu, nanti malam aku pergi kondangan ya. Ibu ngga apa-apa kan, di rumah sendirian?”

“Ngga apa-apa, kamu kan juga jarang pergi belakangan ini.”

“Atau ibu mau ikut aku?”, aku tersenyum menggodanya.

“Ngga lah, kamu sama Vina saja. Tapi hati-hati ya, kamu sendirian di jalan.”, ucap ibu dengan nada harap-harap cemasnya.

Aku pun berlalu meninggalkan beliau yang sedang selonjoran di atas karpet, di ruang televisi kami sambil menonton film drama sore. Aku lantas membersihkan diri dan mengambil porsi makan soreku setelahnya. Aku makan seorang diri di kamar diiringi alunan sederet musik pop favoritku yang ku putar dari dalam laptop. Mungkin karena kelelahan, setelah makanan di piringku tandas aku lantas ketiduran sebelum sempat mengembalikan piring kotornya ke dapur.

Menjelang pukul enam petang, ibu menghampiriku ke kamar. Beliau duduk di samping tubuhku yang masih tertidur, kemudian segera membangunkan aku dengan lembut seraya mengusap rambut depanku yang menutupi sebagian wajah.

“Kak, jalan jam berapa? Sudah mau gelap, kamu ngga siap-siap?”, bisik ibu di telinga kananku.

Aku pun tersadar dan mencoba membuka kedua mata, “Iya Bu. Jam berapa sekarang?”

“Jam enam kurang sepuluh.”

Aku bangkit dari posisi rebahku dan duduk sambil mengucek-ngucek sebelah mataku di samping ibu, aku juga menguap lalu buru-buru ku tutup mulutku dengan telapak tangan, “Aku jalan jam setengah tujuh Bu.”

“Heh, ya sudah bangun sekarang siap-siap!”

“Iya, tadi kan aku sudah mandi. Tinggal pakaian.”, seraya tersenyum kepada ibu dan beliau pun bangkit dari sampingku meninggalkan kamar.

Aku bergegas meninggalkan ranjang empuk kesayanganku, keluar dari kamar untuk mencuci muka serta menggosok gigi. Lalu lekas kembali ke kamar untuk menyalin pakaian rumah dengan pakaian yang telah ku siapkan sejak tadi pagi, yang ku gantung

dengan hanger di depan pintu lemari pakaianku.

Bab 2

Kini aku telah mengenakannya, dres cantik bersiluet H dengan warna hijau tosca polos yang jatuhnya tepat menutupi bagian lututku. Bagian atasnya cukup sederhana, dengan kerah shanghai serta lengan yang tidak terlalu pendek. Sedikit kerutan pita pada bagian pinggang dres menambah kesan manis pada dres yang ku kenakan saat ini. Rambutku, ku biarkan terurai apa adanya. Cukup dengan riasan wajah tipis serta tambahan giwang berwarna senada dengan dresku, aku telah siap untuk berangkat. Kali ini aku juga mencangklokkan pada bahuku sling bag persegi panjang yang berukuran cukup kecil, berwarna hitam.

Ah, aku tidak pernah lupa mengenakan arloji di pergelangan tangan kiriku.

“Bu, temenin ke depan yuk nyetop taksi.”, ucap ku setengah berteriak memanggil ibu di ruang televisi, sementara aku sedang mengenakan sepatu sambil duduk di ruang tamu.

Ibuku menyahut seraya menghampiri ku, “Iya, kamu sudah siap?”

"Sudah.”

Kini ibu sudah berdiri di hadapanku, “Lho kok pakai sepatu itu?”. Beliau heran karena aku mengenakan sepatu tanpa hak alias sepatu ceper.

Aku tersenyum sangat lebar, “Ibu kan tahu, aku paling anti pakai sepatu tinggi-tinggi, begini saja sudah nyaman Bu.”

“Hmm. Oke lah. Cantik kok.”, beliau tersenyum memandangi wajahku.

Ibu pun melangkah keluar rumah beriringan denganku, hendak menemani diriku hingga mendapatkan taksi di depan kompleks perumahan kami. Tidak perlu takut menunggu lama, karena sangat banyak taksi yang biasa lewat di depan sana. Sementara jarak dari rumahku ke depan kompleks juga tidaklah jauh, hanya sekitar dua

ratus meter saja.

“Bu, aku naik ya.”, seraya tangan kiriku menyetop taksi berwarna biru yang tampak akan melintas.

“Iya, hati-hati ya. Kabarin kalau sudah sampai.”, ucap ibu seraya melambaikan tangannya padaku setelah memperhatikanku naik ke dalam taksi.

Aku tersenyum dari balik jendela dan membalas lambaian tangan jbu. Ku lihat beliau telah kembali melangkah menuju ke dalam kompleks lagi. Aku langsung mengabari Vina lewat pesan singkat, setelah menyebutkan tujuanku malam ini pada pak sopir.

“Vin, gue sudah di taksi nih.”

“Oke Ni. Gue juga belum lama berangkat.”

Sebetulnya Vina sudah memiliki seorang kekasih, namun malam ini dia mengatakan akan hadir seorang diri. Karena kekasihnya sedang bertugas dinas keluar kota. Sedangkan Vina sendiri, saat ini selain bekerja dia juga masih tercatat sebagai mahasiswi program karyawan pada salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta.

Situasi jalan raya malam ini sudah mulai padat kendaraan, aku menoleh keluar jendela memandangi indahnya lampu-lampu kendaraan yang saling beradu depan belakang dengan lampu kendaraan lainnya. Aku tidak tahu bagaimana rasanya menghabiskan waktu malam minggu dengan seorang kekasih, aku tidak mampu membayangkan hal itu. Dulu aku terlalu fokus mengejar prestasiku di sekolah, sehingga beberapa kali aku tidak mengacuhkan teman lelaki yang sempat menyatakan cintanya kepadaku.

Mungkin kini aku telah terbiasa melakukan semua hal seorang diri, sehingga rasanya aku tidak perlu terburu-buru untuk memiliki seorang kekasih. Meski terkadang

keinginan itu tetaplah ada, jauh di lubuk hatiku yang terdalam.

Lamunan telah membawa ku sampai di lokasi acara resepsi pernikahan Cintya. Ponselku berdering, namun aku hanya mengintip layarnya dari luar tas. Lantas aku tidak menjawab panggilan dari Vina itu. Aku langsung saja menghentikan taksiku tepat di depan loby gedung seraya buru-buru menyodorkan uang taksinya.

“Mba, kembalinya..”

“Ngga usah Pak, ambil saja.”, seraya ku turunkan satu per satu kakiku menapaki aspal di depan loby.

Aku telah menangkap keberadaan Vina di dekat pintu masuk yang cukup besar itu, tampak Vina mengurai rambut hitam panjangnya dan mengenakan dres berwarna merah muda. Aku pun segera menghampiri tempatnya berdiri.

“Vina!”, aku memanggilnya seraya mendekat, dia pun mendongak mengalihkan pandangannya dari layar ponsel ke arah datangnya aku.

“Hai Ni..!”, dengan mata berbinar Vina memandang kedatanganku.

“Yuk!”, aku tersenyum seraya melingkarkan tanganku ke bahunya agar kami dapat melangkah beriringan menuju ke dalam aula gedung.

Teman-teman lama dan seluruh anggota keluarga biasa memanggilku “Nia”. Hanya rekan-rekan kerja dan orang-orang yang baru mengenalku saja yang memanggil diriku dengan sebutan lengkap “Sonia”.

Memasuki ruang aula yang megah, kedua pasang mata kami langsung tertuju ke arah pelaminan di tengah sana. Nuansa warna ungu violet mendominasi seisi ruangan.

Bunga-bunga yang terangkai cantik terdapat di setiap sudut ruangan. Sorot lampu berwarna warm white menambah kesan romantisme di dalamnya. Aku dan Vina tertegun sejenak. Biasanya, Vina tahu apa yang sedang ku pikirkan kalau sedang termangu begini.

“Gue tahu apa yang lo pikirin.”, ucapnya seraya menoleh kepada ku.

“Hmm. Sok tahu nih..”

“Lo lagi ngebayangin kan, duduk di sana?”

“Hahaha ngga juga..”

“Hahaha, cari pacar makanya!”

“Sialan lo. Sudah yuk!”, ucapku seraya melangkah mendului Vina yang masih terdiam.

Tanpa berlama-lama lagi, aku dan Vina segera menuju ke atas pelaminan untuk memberi ucapan selamat kepada kedua mempelai pengantin dan keluarganya. Kami harus berjalan melewati sisi pinggir aula untuk menuju ke atas pelaminan, karena di tengah-tengah ruangan ini terdapat beberapa kelompok meja makan lengkap dengan kursi-kursi yang tersedia untuk para tamu undangan.

“Selamat ya Cin..”, ucapku tersenyum seraya menjabat tangan Cintya.

“Makasih ya Ni, sudah datang.”, tampak wajah Cintya dipenuhi kebahagiaan.

Sementara di belakangku, Vina sedang berjabat tangan dengan mempelai prianya.

“Nia, Vina, makan dulu ya silahkan.”, ucap Cintya tersenyum ketika kami hendak menuju anak tangga untuk turun dari atas pelaminan. Aku dan Vina hanya

mengangguk dan tersenyum kepadanya lalu melanjutkan langkah kami menuju kursi para tamu.

Aku dan Vina masing-masing mengambil seporsi makanan serta minuman dari meja panjang yang tersedia pada salah satu sisi aula. Lalu dari kejauhan kami telah menangkap keberadaan dua buah kursi yang masih kosong di tengah sana. Meski tampaknya di meja yang sama terlihat dua orang lelaki yang sedang menyantap makanan ringannya.

Hmm. Semua kelompok meja makan yang tersedia di tengah-tengah ruangan aula ini berkapasitas empat orang. Banyak meja yang sudah penuh, beberapa lainnya diisi oleh tiga orang. Sementara aku dan Vina harus duduk satu meja. Terpaksa kami melangkah menuju meja yang diisi oleh dua orang lelaki disana.

“Bilang Vin!”, seraya menyikut Vina, aku menyuruhnya mengatakan permisi.

“Ngga ah, lo saja!”

Aku menghela nafas, sudah tak sabar karena kedua tanganku sudah penuh oleh piring dan gelas. Terpaksa aku mengalah pada Vina, berbicara lebih dulu pada salah satu lelaki itu.

“Maaf Mas, ini ada orangnya?”, aku bertanya pada lelaki yang sedang menatapi layar ponselnya.

Dia pun mendongak, tersenyum dan menjawab pertanyaanku, “Ngga Mba, duduk saja.”

“Hmm. Iya duduk saja.”, timpal lelaki yang satunya seraya mengunyah makanannya.

“Makasih.”, aku tersenyum seraya menjatuhkan diriku di kursi yang dilapisi oleh kain putih tersebut, nyaris berbarengan dengan Vina yang juga mengambil posisi duduk di sampingku.

Bab 3

Kini semua benda yang berada di kedua tanganku tadi telah berpindah tempat ke atas meja makan di hadapan kami. Begitu pun dengan Vina yang tampaknya telah siap menyantap makanan miliknya.

“Mari Mas, makan.”, aku berbasa-basi kepada dua orang lelaki di hadapan kami.

“Iya Mba, silahkan.”, ucap mereka mengangguk, hampir berbarengan.

Ketika piringku sudah hampir kosong, lelaki yang pertama kali mempersilahkan kami duduk disini, bertanya padaku dan Vina, “Mba temannya Cintya?”

Kami pun mengangguk, lalu aku menjawabnya, “Iya, teman sekolah.”

“Oh. Kalau kita temannya Reno.”, ucap lelaki yang satunya.

“Boleh kenalan?”, lelaki yang pertama tadi memandang kepadaku.

Mendengar itu, aku hampir tersedak oleh minumanku. Aku menguasai diri dan balas memandang wajahnya, seraya tersenyum aku pun mengangguk. Dia lantas menyodorkan tangannya kepadaku.

“Hendra.”, dia tersenyum seraya menjabat tanganku, lalu kemudian berjabatan pula dengan Vina.

“Ini Ferdi.”, Hendra melanjutkan ucapannya dengan memperkenalkan teman di sampingnya. Sementara Ferdi sendiri tersenyum mengangguk kepada kami.

“Sonia.”, aku sedikit tersipu malu berjabatan tangan dengan Hendra.

Ternyata jika dilihat lebih jelas, Hendra bisa dibilang tampan juga. Dengan rambut yang disisir rapi ke samping, senyumannya benar-benar indah. Alisnya tebal dan matanya kecil. Hidungnya juga mancung, tampak sempurna dari segala sisi, sangat menarik. Bibirnya tipis dan warna kulitnya jelas lebih putih dibanding kulitku sendiri.

Astaga! Aku bisa memperhatikannya sedetil ini hanya dalam waktu yang singkat.

“Tinggal dimana Sonia?”, tanya Hendra padaku.

“Kalimalang.”

“Wah, ngga begitu jauh dong dari tempat aku. Aku di Pulomas. Tadi kamu kesini naik apa?”

“Taksi. Kita tinggalnya jauh, jadi masing-masing berangkat sendiri kesini.”, ucapku seraya menunjuk dengan jempol ke arah diriku dan Vina.

“Hmm. Nanti aku antar pulang saja. Gimana?”

Astaga! Aku hampir kena serangan jantung dibuatnya. Lelaki tampan di hadapanku ini menawarkan diri untuk mengantarkan pulang ke rumah. Aku belum menjawab

pertanyaannya dan menoleh ke arah Vina. Vina pun mengerti dengan maksudku yang menoleh padanya yaitu untuk menanyakan pendapatnya, Vina tersenyum mengangguk tandanya dia menyuruhku untuk menerima tawaran itu.

“Hmm. Iya, kalau ngga ngerepotin.”

“Oh ngga kok, kan aku yang nawarin.”

Kami semua lanjut berbincang-bincang, bertukar informasi seputar aktivitas harian kami masing-masing. Tidak lama, aku memandang arloji hitam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Mungkin Hendra masih memperhatikan gerak gerikku.

Sehingga dia mengajakku untuk pergi meninggalkan aula gedung itu saat ini juga.

“Sudah? Mau pulang sekarang?”

“Iya, boleh..”, aku menyetujuinya karena ku rasa sudah cukup lama juga kami berada disana. Aku pun lantas pamit kepada Vina dan Ferdi, yang tampaknya mereka juga sedang bersiap-siap untuk bangkit dari kursi mereka.

Kami berempat berdiri nyaris bersamaan, aku sangat terkejut karena ternyata Hendra memiliki postur tubuh yang tinggi. Ketika sama-sama berdiri, wajahku hanya

sejajar dengan dadanya. Tubuhnya juga padat berisi meski dibalut oleh kemeja batik berlengan panjang yang sedikit longgar namun mataku pasti tidak salah mengira-ngira.

Kami bersama-sama melangkah menuju pintu keluar masuk aula gedung. Di ambang pintu, Vina meminta tolong kepada sekuriti gedung untuk memanggilkan taksi yang tampak parkir di ujung sebelah kanan sana. Sementara Ferdi pamit duluan hendak menuju area parkir.“Duluan ya Ni.”, ucap Vina seraya melangkah masuk ke dalam taksi. “Mari, Mas Hendra.”, lanjutnya seraya mengangguk.

Aku dan Hendra mengamati laju taksi yang membawa Vina hingga menjauh dari hadapan kami.

“Yuk, aku parkir disana.”, ucap Hendra seraya melangkah dan menunjuk ke arah sebelah kiri kami. Aku pun mengekor di belakang tubuhnya yang nyaris sempurna itu.

Kini kami sudah berada di dalam mobilnya. Dan siap meninggalkan area parkir. Selama perjalanan, kami melanjutkan obrolan kami yang tadi sempat terputus di meja makan.

“Jadi kalau berangkat kerja naik apa?”

“Kereta.”, ucapku seraya tersenyum.

“Wah, penuh ngga tuh?”

“Lumayan. Kamu sudah pernah naik kereta?”

Hendra menggeleng dan tersenyum, “Belum."

Aku tertawa kecil mendengar jawabannya. “Kamu sih enak kerjanya dekat, Pulomas – Sunter paling berapa menit kan?”

“Iya, cuma macetnya tetap saja. Ngomong-ngomong kamu sebaya ya sama Cintya?”

“Iya, aku dua satu. Kamu?”

“Dua enam.”

Aku menimpalinya dengan mengangguk dan sesekali mengarahkan jalannya kepada Hendra hingga tidak terasa kami sudah memasuki sekitar area tempat tinggalku.

“Oh iya, aku boleh minta nomor HP kamu, Sonia?”

“Iya, boleh. Hmm. Coba sebutin nomor kamu, biar aku misscall.”

Aku mengambil ponsel dari dalam sling bag yang ku pangku sejak tadi, aku telah siap mengetikkan nomor ponsel Hendra pada ponselku. Aku pun meminta Hendra

menyebutkan nomornya seraya aku mengikuti ucapannya dengan ketikan tanganku.

Setelah ku tekan tombol panggil, terdengar ponsel dalam saku celana Hendra berdering. Lantas aku mengakhiri panggilan itu.

"Sudah ya, yang belakangnya tiga delapan tiga sembilan. Nanti dilihat saja.”

“Oke, makasih ya Son.”

“Iya. Nah.. Gerbang perumahan depan itu, masuk ke dalem ya.”, ucapku menunjuk kepada gerbang yang tampak sudah tidak jauh lagi.

Aku pun turun dari mobil Hendra, tepat di depan pagar rumahku.

“Makasih banyak ya Mas. Putar di depan situ saja.”, seraya aku menunjuk kepada lapangan luas yang berada di seberang rumahku.

Hendra tersenyum mengangguk, “Iya, sama-sama.”

“Hati-hati ya!”, aku melambaikan tangan dan memperhatikan dia memutar balik mobilnya di lapangan yang ku tunjukkan tadi. Sekali lagi aku tersenyum dan melambaikan tangan padanya melepas kepergiannya.

Terdengar ibuku membuka pintu dari dalam, sedangkan aku baru saja membuka pagar untuk dapat masuk.

“Pulang sama siapa Kak?”

“Teman.”, ucap ku singkat seraya menghampiri beliau. “Yuk masuk.”, aku merangkul ibu, mensejajarkan langkahnya denganku untuk masuk ke dalam rumah.

Setelah mengunci pintu dengan teliti, aku dan Ibu menuju ke ruang televisi. Kemudian aku membersihkan diri di kamar mandi, setelahnya aku pun pamit untuk langsung istirahat ke kamar.

“Bu, aku tidur ya..”

"Sudah ngantuk? Ini malam minggu lho.”

Aku lantas mengangguk, “Capek Bu..”

“Okelah, besok kan santai, jangan bangun pagi-pagi makanya. Biar cukup dulu tidurnya."

Aku melangkah ke kamar, meninggalkan Ibu yang tampaknya hendak menuju ke dapur. Entah apa yang akan dilakukannya di dapur malam-malam begini. Atau mungkin beliau hanya ingin mengambil sesuatu dari dalam kulkas. Kini aku sudah berada di dalam kamar, ku salin pakaian yang ku kenakan selama acara tadi dengan setelan piyama berwarna kuning.

Aku mengeluarkan ponsel dari dalam sling bag hitamku. Pikiranku mulai melanglang buana memikirkan Hendra. Apa aku harus bertanya apakah sekarang dia sudah

sampai di rumah? Ah, tidak perlu. Aku tidak ingin menghubungi dirinya lebih dulu. Aku akan menunggunya saja menghubungiku. Tapi, bagaimana kalau dia tidak

menghubungiku dan tadi hanya berbasa-basi menanyakan nomor ponselku?

Ponselku malah berbunyi, tanda satu pesan telah masuk. Itu dari Hendra. Aku sangat senang menerima pesannya.

"Sudah tidur ya Son?”

“Belum. Kenapa Mas?”

“Syukurlah, aku kira sudah tidur. Jangan panggil mas ya. Nama saja, kita kan ngga begitu jauh umurnya. Aku boleh tanya sesuatu?”

“Oke deh. Kamu mau tanya apa Hen?”

“Kamu sudah punya pacar? Maaf ya, kalau aku kurang sopan. Aku penasaran saja sih.”

Wah, aku tidak menyangka Hendra akan menanyakan hal ini kepadaku. Aku cukup bersemangat menjawab pertanyaan itu. “Belum. Kalau kamu?”

“Sama, aku juga belum. Kapan-kapan boleh kita ketemu lagi?”

“Boleh. Nanti kita atur waktunya.”

Setelah menunggu beberapa menit, tampaknya Hendra memang tidak membalas lagi pesan terakhir dariku. Aku pun memutuskan untuk segera tidur.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED