Bab 1

"Cek One... Cek... One... Cek ...Sip! Udah oke Kang, mic-ku!" sambil mengacungkan jempol, isyaratku pada Kang Deni.

Ya, malam ini band-ku akan perform di salah satu PUB ternama di Bandung. Aku vocalist sebuah band yang biasa mengisi di sejumlah Cafe, PUB atau event. Band-ku bernama,  "He She".

Seperti biasa, kami selalu berkumpul dan makan bersama setelah cek sound atau sehabis manggung. Sambil makan biasanya kami bertukar fikiran tentang musik, lagu baru, kostum dan hal lainnya. Itu juga bikin kami lebih solid secara band. Malah kedekatan kami sudah seperti keluarga. 

"Ngebakso dulu di mang Eko,yuk ah!" ujar Roni pemain keyboardku.Semua mengiyakan.

"Waregh pisan,uy !"(kenyang banget) ujar Gani drumerku sambil mengelus perutnya yang kekenyangan.

"Ntar malem jangan lupa, kostum black and red, ya. Jam tujuh dah standby. Tong telat!" ujar Doni, sang gitarist sekaligus leader band kami. Kami pun mengangguk dan membubarkan diri bersiap untuk malam nanti.

 Ah, akhirnya aku sampai di kost-anku.

Aku memang tinggal di kost-an. Orang tuaku sudah meninggal dan aku tidak mau menjadi beban kakak lelakiku satu-satunya. Apa lagi dia sudah berkeluarga, lebih baik dia fokus dengan keluarganya. Aku pun sudah bukan anak kecil lagi. Tahun ini aku sudah berusia 22 tahun.

Hasil gajiku dari band ini cukup untuk bertahan hidup sendiri. Bahkan kadang aku bisa membelikan keponakanku yang berumur 5 tahun, hadiah jika sedang dapat event besar. Setelah mandi, aku bersiap untuk bernyanyi nanti malam. Setelah selesai make up dan memakai kostum, aku pun melaju dijalanan dengan motor matic-ku. 

Malam ini PUB terbilang ramai. Bandung salah satu kota yang kehidupan malamnya pun ramai.Satu sesi sudah kita lalui dan saat break akan diselingi oleh perform DJ.

Ah, aku bergegas ke toilet, sudah tak tahan lagi untuk buang air kecil.

DUG!!

Aku menabrak seorang laki-laki karena berlari tanpa memedulikan apa-apa lagi dan hanya bilang maaf tanpa berhenti.

"Ahhhh... Legaaaa..." ujarku dalam hati.

Namun, saat aku berjalan keluar dari kamar mandi, aku dihadang laki-laki yang kutabrak tadi.

"Udah pipisnya? Ampe ngebut gitu." ujarnya menggodaku.

"Duh, maaf ya. Abis kebelet. Maaf banget!" aku membungkuk meminta maaf.

Lelaki ini sudah jelas lebih tua dariku tapi bukan tua sih, matang tepatnya. Rapi, simple, tapi semua yang dipakainya barang branded.

"Dimaafin ..., asal mau nemenin minum di sini!" ujarnya sambil tersenyum dan menunjuk ke arah mejanya.

Ya, sebagai vocalist dan pemain band adalah host di tempat ini. Kami diwajibkan untuk bersikap ramah kepada tamu yang datang. Aku memang terbiasa menyapa pengunjung yang sedang melepaskan penat mereka di PUB ini. Ada yang sendirian, bersama keluarga atau berkumpul dengan teman-temannya.Terkadang menemani mereka minum.

Pekerjaan ini juga mengharuskanku menceriakan malam mereka dengan lagu dan juga karamah-tamahan. Tapi tetap, aku harus bisa menjaga diri. Terkadang, ada saja lelaki hidung belang yang merayu bahkan berfikir aku bisa dibayar untuk mereka melepaskan nafsu birahinya. Oh no! I'm not that kind of women.

"Boleh deh. Tapi satu gelas minuman aja, ya. Soalnya masih  dua sesi lagi nih nyanyi.Yang  penting dimaafin!" jawabku seraya duduk di sebelahnya.

Kami berdua pun ngobrol ke sana kemari sampe akhirnya, aku harus memulai sesi kedua.

"Thanks ya, tuh leader aku dah kodein. Mesti on stage lagi. Makasih minumannya!" ucapku sambil berdiri.

"Tar kalau break sini lagi, ya. Gw sendirian. Gak ada temen ngobrol. Sekalian mau tanya-tanya tempat di Bandung. Oke?" pintanya padaku.

"Siap,Bosque!" aku pun berlari untuk kembali memulai sesi kedua.

Malam itu aku menemani dia mengobrol. Dia tanya banyak tentang Bandung ini. Ternyata dia orang Jakarta dan datang ke Bandung ini sedang mencari tempat untuk membuka usaha clothing line dia.

----

"Hayu ah.. Tiheula nya (duluan,ya)!" pamitku kepada teman-teman band-ku yang masih mengobrol di depan pintu masuk PUB. Aku sudah ingin cepat sampai kost-an dan melepas lelah. Belum sampai ke tempat parkir motorku, lelaki itu mengejarku.

"Heiii!Tunggu!"  serunya sambil berlari kecil.

Aku menoleh kebelakang dan menghentikan langkah.

"Udah ngobrol semaleman. Tapi gw belom tau nama lo siapa, hahahah!" ucapnya sambil tersenyum, "Nama gw Alvino. Tapi lo bisa panggil gw Vino. Gw boleh ya minta nomer lo. Jadi kalo gw ke Bandung lagi gw bisa hubungin lo. Gak apakan?"

"Boleh. Kabarin aja klo lagi di Bandung. Gw jadi guide lo juga gak apa. Sehari 200.000 jadi tour guide lo. Mayan, wkwkwkwk...! And by the way..., nama gw,Luna...."

Kami pun saling bertukar nomer telefon dan aku pun pamit. 

"Hati-hati! Jam segini bawa motor sendirian." ujar Vino.

"Udah biasa. Tenang aja, Bandung mah aman!" seruku sambil tersenyum.

Kami pun berjalan menghampiri kendaraan masing-masing. Vino memgendarai mobilnya sedangkan aku menaiki motorku. 

Aku menyusuri udara dingin dengan motor matic-ku, seperti hari-hari yang lain. Pekerjaanku membuatku pulang jam dua dini hari. Kadang kalau overtime atau menemani reguler guest bisa jam tiga pagi baru keluar dari PUB.

Tapi aku menyukai pekerjaanku. Karena sejak kecil aku senang bernyanyi. Beberapa kali menjuarai lomba. Dulu,almarhumah Mama akan sangat antusias mencarikan baju untukku, meriasku agar tampil cantik saat bernyanyi. 

Kini, Mama sudah berpulang. Kalau saja masih ada, aku akan mengajak Mama untuk pergi bersamaku saat aku dapat job event. Mama pasti senang.

Mama sering menemaniku berlatih, Mama lah guru vocalku. Mungkin karena itu aku bisa jadi penyanyi. Bakatku, kudapat dari gen Mama. 

Selama perjalanan, aku terbiasa memasang earphone  untuk mendengarkan lagu dari Handphoneku agar mataku tak mengantuk. Pagi ini ku putar lagu " Mobil  Balap" dari Naif. Sambil bawa motorku melaju,aku bernyanyi. 

🎼🎵🎶

"Kupernah punya . mobil balap sendiri .

Yang bisa ngebut . dijalanan tiap hari .

Ku tidak pernah merasakan kesepian .

Tak ada gadis yang menolak diantarkan .

Asoy Geboy ngebut dijalanan ibukota .

Dipayungi lampu kota disekitar kita .

Suatu hari . ada orang yang menantang .

Gairah sembalapku makin tak tertahan

Kubalap dia dari kiri banting kanan .

Tak kumelihat kuterobos lampu merah .

Tiba-tiba pak polisi datang menghampiri .

Kutancap gas dengan maksud melarikan diri .

Akhirnya kumenabrak pohon yang melintang .

Tolong dong pak, tolong dong pak jangan ditilang .

SIM pun tak ada STNK entah kemana .

Dan hingga kini kuberada ditahanan .

Asoy Geboy ngebut dijalanan ibukota .

Dipayungi lampu kota disekitar kita .

Asoy Geboy ngebut dijalanan ibukota .

Dipayungi lampu kota disekitar kita ."

Tak terasa sampai juga di kost-an ku .

-----

Bab 2

'She got her own thing... That's why i love her... Miss independent... Won't you come and spend a little time? ..'

Penggalan lagu "Miss Independent" dari Ne-Yo membangunkanku.

Mataku masih berat tuk terbuka. Dengan nada lemas ku berkata,, "Yaaaa.. ,kenapa? "

"Masih tidur lo? Sorry gw ganggu! " terdengar suara khas yang berat.

"Eh, Vino... Gak apa. Biasalah, anak band bangun siang.Napa,Vin?" jawabku sambil mencoba membuka mata.

"Gw mau ngajak lo makan siang, sore ini gw mau balik Jakarta. Sedih bener kayaknya kalo makan siang sendirian.Temen gw yang harusnya dari kemarin nemenin gw di Bandung ini taunya lagi sakit. Makanya gw gentayangan sendirian. Mau ya,Lun.Please...!Lo tinggal dimana biar gw jemput. Gimana? " ajak Vino.

"iye... Iye... Daripada anak orang nangis. Sebagai tuan rumah kota Bandung yang baik,gw temenin deh. Tar gw share loc ya. Sejam lagi lo jemput. Oke? " sambil kulihat jam yang ternyata sudah menunjukan pukul 12 siang. Memang sudah waktunya untuk makan siang.

Sms masuk, "Lun, gw dah didepan nih.Lo dah siap? "

Buru-buru aku keluar kost-an.Mobil sedan dengan logo BMW sudah terparkir didepan jalan. WOW...dalam hati. Mobilnya kece juga!

Vino membuka kaca sambil tersenyum.

Oh My God....! Wajah tampan itu membuat siang yang terik ini seketika berasa sejuk.

Aku naik ke mobilnya dan wangi woody,floral, musk dari Dior Homme Intense mulai memenuhi hidungku.I love this scent. Maskulin banget. Eh, kenapa jantungku jadi deg-deg an gini?

"Enaknya makan dimana? " tanya Vino sambil mulai melaju dengan pelan.

"Gimana kalo ke cafe biasa gw akustikan. Tempatnya cozy.Menunya juga banyak. "

"Siap,Non.ngikut ajah. Kasih tau jalannya ya!"

-----

Sampailah kita di cafe. Kami memesan makanan dan mulai berbincang.

"Sorry to ask. Lo kenapa nge-kost. Gak tinggal ma ortu? Orang Bandung aslikan? " tanya Vino.

"Ortu dah gak ada. Gw punya kakak laki dah nikah. Nempatin rumah ortu. Cuman gw gak mau ribet serumah ma ipar,walau sebenernya kakak ipar gw baik banget. Biar kakak gw juga fokus ma keluarga dia. Lagian gw kan bukan anak kecil atau ABG yang mesti jadi tanggung jawab dia. Tapi gw fine sih ma kakak gw. Sering pulang juga. But I need my own privacy. Kalo serumah ya pasti ada ajah tar masalahnya. " jawabku.

"Good tought...,emang umur lo berapa sekarang? " tanya Vino.

"22 tahun. Klo lo? Pasti tua ya, hahahah...," godaku padanya.

"Gak beda jauh lah. Blom bisa dipanggil Sugar Daddy, hahahah... ,"

"Jadi semi om om nih? Sugar Daddy masih kuncup, wkwkwk... Berapa ih? Gak mau spill umur nih? Gw undang netijen ntar buat ngebully. "

"32 years old. Gak beda jauh kan? Cuman beda 10 tahun. " ungkap Vino.

"What? Gak beda jauh gimana? Duh... Jadi mesti manggil Bang, Pak, Om atau Suhu nih? " ucapku menggodanya.

"Apasih... Udah gini ajah. Anggap seumuran napa!" jawab Vino ketus.

"Ogah ah... Berarti gw keikut tua. Nanti di bilang dah 30an dong! Jadi tante-tante, hahahah... Panggil Bang Vino ajah ya. Boleh? Kayak gak sopan ajah manggil nama doang. I'm still got manner walau cablak gini. " pintaku.

"Iya deh, boleh.Thanks udah nemenin gw ya. " ucap Vino setuju.

"Iya,gak apa. Seneng juga ditraktir makan, dijemput,terus semalem dapet saweran banyak banget lagi. Happy tuh anak-anak. Bisa kebayar cicilan motor, hahahah."

"Bisa ajah,lo!" jawab Vino sambil mulai menyalakan rokok.

Tak menunggu lama, pesanan kami diantar. Sambil menikmati makan siang, kami membahas banyak hal. Mulai dari lagu, film favorite, tempat makan,tempat shoping dan lain-lain.

Setelah kami berdua sama-sama kenyang, akhirnya kami pun pulang. Vino mengantarkanku kembali ke kost-an. Aku sangat menikmati makan siang tadi.

-----

Seminggu berlalu...

Terkadang aku ingin mengirim pesan padanya. Tapi nanya apa? Kita juga bukan teman dekat. Gebetan juga bukan.

Inget Lun, dia bukan siapa-siapa! Tahan ya. Anggap kayak tamu-tamu sebelumnya yang sering kamu temuin.

Kadang,aku sengaja cari status WA dia.Sekedar ingin tahu dia sedang apa. Tapi dia jarang banget bikin status.

Kenapa aku ngerasa kangen ya. Kapan lagi dia ke Bandung? Apa aku harus tanya sama Vino? Ah,tapi ngapain juga.

Aku berbicara pada diriku sendiri tentang pertanyaan-pertanyaan konyol itu sambil bolak balik memeriksa HP-ku. Tapi nyatanya, aku tidak berani mengirim pesan pada Vino.

-----

Gak kerasa udah ketemu weekend lagi.

Siang hari ini, aku sedang latihan dengan band ku. Kami sedang melatih lagu-lagu baru untuk jadi bahan playlist nanti.

Lagi-lagi lagu 'Miss Independent' berdering.

Tapi karena suara musik yang keras, jadi aku tak tahu ada panggilan masuk.

Tak lama notif WA-ku masuk, "Lagi apa, Lun? Kok gak angkat tlp? Sibukkah? "

Setengah jam kemudian latihan usai. Aku cek HP-ku. Eh,ada pesan dari Vino. Seketika hatiku senang bukan main. Kubalas pesannya dengan cepat.

"Sorry,Bang! Gw lagi latihan tadi. Gak kedengaran. What's up? "

"Gw besok ke Bandung. Lo nyanyi dimana? " tanya Vino.

"Tempat kemarin, Bang. " jawabku.

"Owh, oke. Besok gw bareng temen -temen. Biar gak gentayangan sendiri, hahhaha...,"

"Ashiapp.....,nanti ku reservse buat abang ya. Di meja biasa ya." jawabku.

-----

Besok nya dia datang dengan teman- temannya.

Aku sedang berada di stage membawakan lagu 'Separuh nafas, Dewa 19"

Seketika habis nafasku. Melihat Vino yang seperti biasa, menawan,stylish dan dia senyum dari kejauhan. Lah kok, hatiku ser-ser an. Fokus, Lun... Fokus...!

Saat break, langsung aku mendatangi meja mereka.

"Nih kenalin temen-temen gw yang muda belia.. Gery, James dan Surya. "

Satu-satu ku salami mereka. Sambil menyebut namaku sendiri.

"Mau minum apa? "tanya Vino.

"I want sobber this night,Bang.Lagi gak enak badan. Orange juice ajah pake vodka, hahahah..." ujarku sambil bercanda.

"Gw fikir tadi mau orange juice beneran. Dasar, lo! Klo gak enak badan mestinya mesen jamu. Jangan vodka orange , Non. "

"Buat gw itu jamu, bang. Asal gak banyak. Kalo banyak ya mabok juga. Segelas mah aman." jawabku.

Dia akhirnya memanggil waiter dan memesan minuman. Tak lama personel band ku pun menyapa ke meja kami.

"Nih, bang. Kenalin ada Roni, Doni, Kojek, Jody,Gani dan si cantik Maya. " ku perkenalkan mereka satu-satu.

"Kalian mau minum apa? Pesen aja! Jangan sungkan. " ujar Vino.

Dan malam itu kami semua menghabiskan waktu di meja Vino sampai selesai .Tiba saatnya pulang,Vino mengajakku dan teman-teman untuk makan sebelum pulang.

"Makan apa nih jam segini yang enak? "

"Depan Mall deket sini ada yang jualan bubur sama sate Padang .Mau? " jawab Maya.

"Ngikut. Gw ngikutin dari belakang ya! " ujar Vino.

Akhirnya kita semua sampai di tempat makan. Saling berbincang sampai saat nya pulang. Kami saling berpamitan dan mengambil jalan kami masing-masing.

Sampai kost-an,HP -ku berbunyi. Masuk pesan dari Vino.

"Thank's, buat jadi tour guide gw malam ini,hahahah... Gw balik ntar sore. jadi gak bisa nyamperin lagi ya. Soalnya mau liat tempat buat clothing line gw. Tadi gw selipin fee lo sebagai tour guide gw hari ni. No offense ya! Mayan loh buat cicilan motor, hahahaha... Cek aja saku jaket,lo!" ungkap Vino.

Cepat ku rogoh saku jaket. 5 lembar kertas merah itu diselipkannya.

"Bang... Gak salah? Fee gw 200 ajah. Kebanyakan ini. Bikin Happy ajah, wkwkwkw... Eh tapi beneran, gw becanda,bang! Ditraktir makan ajah dah seneng. Nyawer juga lagi. Berapa lagu tuh pake gocapan?"

"Udah, gak boleh nolak rejeki! Lebihnya buat beli orange juice, hahahah... Tidur,gih! Istirahat.Gw juga dah rebahan,mo tidur. Temen gw ngorok lagi. Sialan...! Lagi mo pesen kamar lagi dah. Biar pules. " jawab Vino.

"Oke, Bosque..! Sleep well and take care. Jangan kangenin aku ya, hahahh. " godaku.

Aku tunggu balasannya, tapi gak ada. Dia menghilang lagi.Mungkin dia ketiduran.

Aku jadi bertanya-tanya. Dia nih manis banget.perhatian. Tapi kadang ngilang gitu kayak gak kenal. Cuman ngehubungin kalo lagi di Bandung.Apa dia dah nikah? Duh,Luna...,gimana kalo dia suami orang? Jangan pake hati.

Aku jadi over thinking sendiri. Ah lebih baik aku bersih-bersih diri dulu. Nyalakan difuser agar aku rileks. Mulai membersihkan make up sambil mendengarkan lagu.

Ku putar lagu "Cinta" dari Vina Panduwinata. Lagu lama memang,tapi aku suka.

----

Aku terbangun dari mimpi. Kulihat sudah jam 10 pagi.

Kenapa aku mimpiin Vino ya?

Dalam mimpiku tadi, kita sedang makan berdua di sebuah restoran mewah. Aku memakai gaun berwarna merah muda. Sedangkan Vino, memakai setelan jas dengan warna yang senada. Dia sangat tampan. Disitu aku merasa sangat bahagia.

Aku melamun lama setelah bangun dari tidurku. Masih teringat terus mimpiku dengan Vino.Duh, gak beres ini. Kok aku ngerasa kangen,ya?

Aku beranjak dari tempat tidurku untuk mandi, agar pikiranku kembali segar. Jangan mikir Vino melulu.

-----

Aku keluar kost-an untuk mencari makan siang. Aku memilih salah satu gerai fastfood di daerah Dago. Kupesan Cheese Burger dan Cola, lalu duduk dekat jendela. Sambil memandang kendaraan yang lalu lalang di jalanan.

Kemudian sayup terdengar lagu "Khayalan" dari band The Groove...

🎼🎵🎶

"Hanya dalam mimpi

Nyata dan khayalan, dalam kenyataan

Kini kualami satu masa indah dalam tidurku

Kita pun bermesraan, saling mengikat janji

Seolah diriku dan kamu bagai sepasang kekasih

Mungkinkah dirimu cinta kepadaku?

Seperti mimpi-mimpi yang selalu datang dalam tidurku

Inikah kenyataan atau bunga tidurku?

Seolah diriku dan kamu bagai sepasang kekasih

Bagaimana bisa kau hadir di mimpiku?

Padahal tak sedetik pun kurindu dirimu

Bagaimana bisa kau hadir di mimpiku?

Padahal tak sedetik pun kurindu dirimu

(Oh, hanya dalam mimpi)

Inikah kenyataan atau bunga tidurku?

Seolah diriku dan kamu bagai sepasang kekasih

Bagaimana bisa kau hadir di mimpiku?

Padahal tak sedetik pun kurindu dirimu

Bagaimana bisa kau hadir di mimpiku?

Padahal tak sedetik pun kurindu dirimu

Dan kita berjumpa dalam mimpi

Kau pun merasakan itu

Mungkinkah ini takdirnya?

Bagaimana bisa kau hadir di mimpiku?

Padahal tak sedetik pun kurindu dirimu

Bagaimana bisa kau hadir mimpiku?

Padahal tak sedetik pun kurindu dirimu, oh

Bagaimana bisa kau hadir di mimpiku?

Padahal tak sedetik pun kurindu dirimu

Bagaimana bisa kau..."

Ah... Lalu Vino kembali memenuhi pikiranku...

-----

Bab 3

Pikiranku tersita olehnya. Padahal jadwal manggungku minggu ini sangat padat. Tapi setiap aku sedang sendiri,yang kuingat hanyalah Vino.

3 hari ini rasanya tubuhku mulai tidak bersahabat.

"Sist, pucet pisan. Sakit?" tanya Maya melihat muka ku yang memang seperti

kurang darah.

"Gak enak badan.Kayaknya mah bakal drop ini badan. "

"Masih bisa nyanyi teu, sist? Klo gak kuat jangan dipaksain. Biar kang Doni cari pengganti." Maya khawatir melihat kondisiku. Tapi cari pengganti mendadak itu susah. Aku menguatkan diri agar tetap bisa bernyanyi.

"Bisa lah sist. Paling besok ijin sama kang Doni. " ujarku lemas.

Malam ini saja,Lun. Kamu harus bisa melewati malam ini saja.

-----

Hoeekkk.... Hoooeeekkkk....

Entah kali keberapa aku memuntahkan isi perutku.Setiap makanan atau seteguk minuman pun badanku menolaknya. Rasanya lemas sekali. Aku pun sepertinya demam.

Aku lelah, tapi bagaimana bisa tidur kalau dari tadi kerjaanku hanya bolak balik ke kamar mandi.

Aku beruntung bisa sampai ke kost-an ku dengan selamat. Rasanya sudah melayang saja tubuh ini.Bagaimana kalau aku sampai pingsan di jalan tadi?

Sepertinya aku sudah tak tahan lagi. Jika sampai aku pingsan tanpa ada siapapun yang tahu,bahaya banget kan. Sebaiknya aku menelepon Doni. Meminta agar menemaniku ke Rumah Sakit.

Ku tekan nomer Doni di layar HP-ku. Tuuuut.... Tuuut... "Kang.. Anter ke IGD yah. Ke RS Santo Yusuf aja yang deket. Aku lemes banget. Daritadi muntah terus."

"Iya atuh tunggu. Akang siap-siap dulu. " tellepon pun ditutup. Aku merebahkan diri di atas kasur. Berharap tidak harus kembali lagi ke kamar mandi. Sudah tidak ada lagi isi perut yang bisa ku keluarkan.

Sambil menunggu Doni datang menjemput,aku nyalakan difuser ku dan memutar lagu agar lebih rileks. Tak lama aroma teraphy memenuhi kamarku dengan wangi menenangkan. Ditemani lagu "Shallow" dari Lady Gaga feat Bradley Cooper, akhirnya aku bisa sedikit melepas lelah.

-----

"Lun... Buka pintu! " terdengar suara Doni dari balik pintu. Akupun terbangun, mungkin ada sekitar 20 menit aku sempat tertidur pulas.

"Ya, tunggu Kang! " dengan langkah lunglai aku membukakan pintu untuk Doni.

"Euh... Pucat pisan kamu teh. Ya udah hayu ke Rumah Sakit. Apa yang mau dibawa? Akang bawain. "

"Itu tas aku,punten tolong bawain. "

Dengan langkah yang lemah aku mengikuti langkah Doni yang ada didepanku menuju mobilnya.

"Kamu ngabarin Kaka kamu gak? "

"Gak Kang. Gak mau Kaka aku khawatir. Makanya minta tolong ke Akang buat anter ke Rumah Sakit. "

Tak butuh waktu lama untuk sampai ke Rumah Sakit. Hanya 10 menit saja,kami pun turun dan masuk ke bagian IGD Rumah Sakit Santo Yusuf. Doni langsung menuju bagian administrasi sedangkan aku langsung dipandu Suster agar cepat ditangani oleh Dokter jaga.

Aku terbaring lemah dan pasrah saat Suster mulai memasang infus juga mengambil sampel darah. Rasa mual masih terasa,badanku pun masih demam.Lama -lama matakupun terasa berat dan akhirnya terpejam.

-----

'Get Well Soon,diriku!'

Kupasang status WA-ku dengan foto infusan ditangan. Tak lama banyak pesan masuk menanyakan kondisiku sekarang ini. Tapi dari sekian banyaknya pesan yang masuk, tidak ada nama Vino disitu. Ah, aku mungkin terlalu berharap.

Kata dokter, aku dehidrasi. Mungkin kelelahan dan kurang minum. Serta makan yang kurang baik. Satu minggu ini jadwal manggungku full. Bahkan ada event luar kota. Mungkin tubuhku minta istirahat.

Dokter bilang, coba lihat setelah satu labu infus ini habis. Apa bisa pulang atau rawat inap.Semoga saja aku bisa pulang.

Doni menemaniku. Bagiku, dia sudah seperti seorang kakak .Sebagai leader di band kami, sosok Doni memang kami tuakan,kebetulan umur kami semua juga dibawah Doni.

Basecamp kami pun dirumah Doni. Istri nya yang bernama Risna,sangat baik. Mereka belum memiliki anak. Jadi Risna selalu senang jika kami berkunjung. Rumah menjadi ramai katanya.

Notif WA-ku tak lama berbunyi kembali. Kali ini nama Vino tertulis di situ. Aku membelalakkan mata, memastikan bahwa aku tak salah lihat, karena nama inilah yang selalu ku tunggu -tunggu .

"Lo sakit apa? Dirawat dimana? Ada yang nemenin atau sendiri? Dari kapan sakit? " cecar Vino.

"Nanyanya kayak kereta api, Bang. Dari kemarin dah demam. Tapi tadi dah gak kuat banget. Jadi minta kang Doni anter ke IGD Rumah Sakit Santo Yusuf, deket sini. Kata dokter ,aku dehidrasi makanya diinfus. Klo baikan ya pulang. Tapi kayaknya pulang kerumah kang Doni. Soalnya klo di kost-an gak ada yang nemenin." Aku mengetik dengan cepat tuk membalas pesannya.

"Emang Doni siapanya,lo? Pacar? Gitaris lo itu,kan? " balas Vino.

Sedikit aneh pertanyaan Vino. Seperti ada kecemburuan. Tapi mungkin perasaan ku saja dan aku gak nyangka dia bakal WA. Karena gak seperti biasanya. Dia gak pernah komunikasi kalau sedang berada di Jakarta. Apa karena aku sakit?

"Laki orang,Bang.Ya kali aku jadi pelakor, hahaha...Dia kan leader band, dan udah dianggap kakak juga. Istrinya juga dah kayak kakak sendiri. Makanya dia nemenin aku juga istrinya gak cemburu.Abang kenapa? Cemburu? Cie... Cie...! " dengan senyum lemas aku membalas WA nya.

Doni yang daritadi melihatku tersenyum sambil melihat layar HP pun bertanya, "Saha? Kuat ka senyam senyum sorangan.Kabogoh atau cemceman? "

(Siapa? Sampai senyam senyum sendiri. Pacar atau gebetan?)

"Saha weh. Moal beja-beja! " (Siapa aja deh. Gak akan bilang-bilang) jawabku sambil terus tersenyum.

15 menit berlalu. Gak ada jawaban dari Vino. Sampai akhirnya HP-ku berbunyi.

"Iya gw cemburu. Boleh, kan? "

Seketika ingin pingsan rasanya. Bukan karena dehidrasi, tapi kegirangan membaca balasannya. Tapi kok bisa dia jawab begitu? Apa selama ini dia juga punya perasaan? Tapi kok sering ngilang. Duh, aku mesti jawab apa?

Bukannya selama ini aku berharap? Apa boleh? Apa ini jawaban nya? Dia suka? Atau..... Ah,Luna...Kamu jawab apa?

Kembali pikiranku bekecamuk. Tapi aku tidak bisa membalas pertanyaan Vino. Rasa mual kembali datang... Sebaiknya aku tidak banyak fikiran dulu, badanku harus sehat. Kasihan juga Doni kalau harus menjagaku di Rumah Sakit.

Tak lama rasa kantuk pun datang. Mungkin efek obat yang baru saja Suster berikan. Tak lama aku pun terlelap.

Dalam tidur ku, kembali aku memimpikan Vino. Kali ini kami berdua seperti sedang berjalan di taman yang penuh dengan bunga. Sambil menggandeng tanganku kami berbagi canda tawa. Mimpi yang indah.

-----

"Maaf ya Teh, mau cek dulu! " ucap Suster yang baru saja membuyarkan mimpi indahku.

"Iya,Sus." aku mempersilahkannya mengecek kondisiku. Tak lama masuk lah Dokter jaga.

"Kondisi nya udah bagus. Tadi saya liat hasil tes darah gak ada virus atau radang. Jadi nanti kalau infusannya dah habis,teteh udah boleh pulang ya. Nanti biar dibantu Suster! " jelas dokter.

Aku hanya mengangguk. Doni sedang pergi untuk merokok diluar. Aku bengong sendiri setelah Dokter dan Suster pergi mengecek pasien yang lain.

Aku mengambil earphone dan HP-ku.Memilih lagu dari ratusan judul di playlist ku. Kali ini, ku mulai dengan lagu "Andai Dia Tahu " dari Kahitna...

🎼🎵🎶

Bilakah dia tahu

Apa yang tlah terjadi

Semenjak hari itu

Hati ini miliknya

Mungkinkah dia jatuh hati

Seperti apa yang kurasa

Mungkinkah dia jatuh cinta

Seperti apa yang ku damba

Bilakah dia mengerti

Apa yang tlah terjadi

Hasratku tak tertahan

Tuk dapatkan dirinya

Mungkinkah dia jatuh hati

Seperti apa yang kurasa

Mungkinkah dia jatuh cinta

Seperti apa yang ku damba

Tuhan yakinkan dia

Tuk jatuh cinta

Hanya untukku

Andai dia tahu

Mungkinkah dia jatuh hati

Seperti apa yang kurasa

Mungkinkah di jatuh cinta

Seperti apa yang ku damba

Bilakah dia mengerti

Apa yang tlah terjadi

Hasratku tak tertahan

Tuk dapatkan dirinya

Mungkinkah dia jatuh hati

Seperti apa yang kurasa

Mungkinkah di jatuh cinta

Seperti apa yang ku damba

Tuhan yakinkah dia

Tuk jatuh cinta

Hanya untukku

Andai dia tahu

Andai dia tahu"

-----

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED