Bonita mengawasi Kenzo dan Helga yang sedang mengukur sampel gaun pengantin berwarna salem dengan aksen bunga dan kupu-kupu yang bertebaran di sekeliling bahu. Gaun itu dipasangkan pada manekin yang diletakkan di tengah ruangan, tepat di sebelah Maria yang sedang menyesap minuman manis berwarna pink bertabur gula-gula berbentuk bintang berkilau warna-warni. Bonita menahan keinginan untuk menyambar minuman itu dan membuangnya ke tempat sampah demi menjaga reputasi yang sedang berada di perbatasan.
Sejak Maria menginjakkan kaki di bridal, suasana berubah. Wanita itu memancarkan kesombongan yang tidak mampu ditampung oleh tubuhnya sendiri. Lebih dari itu, aura mendominasi seolah hanya dirinya yang superior dibandingkan semua orang di ruangan itu membuat Kenzo dan Helga merasa muak.
"Anda harus diet agar bisa menurunkan berat badan sebanyak dua kilo jika tetap memaksa menggunakan ukuran itu, Princess." Tegur Kenzo seraya mengukur pinggang Maria. Matanya melirik pada minuman pink yang kini tergeletak di meja. Nada suaranya sopan dan manis, walau makna di baliknya sangat tajam. Bagaimana tidak? Dia sedang menahan kekesalan yang teramat sangat karena Maria berhasil mengerjainya dengan menambahkan berbagai detail hingga mengubah desain awal yang sudah mereka sepakati sejak bulan lalu.
Maria melirik Kenzo tanpa minat, "Aku pasti berhasil menurunkan berat badan tepat saat pesta pernikahanku berlangsung, Ken. Jangan mencemoohku seolah aku tidak sanggup melakukannya."
"Saya mengenal instruktur yoga yang bisa membantu Anda menurunkan berat badan. Anda bisa menghubungi saya kapan saja jika membutuhkan informasi." Sindir kenzo dengan bibir melengkungkan senyum ramah.
Maria berdecak kesal, "Aku bisa menurunkan berat badan tanpa instruktur manapun. Aku hanya perlu mengubah pola makan seminggu sebelum menikah dan akan memakan apapun setelahnya."
Kenzo tersenyum sinis walau senyum itu lenyap saat bertemu tatap dengan Bonita. Helga meminta Kenzo diam dengan bibir bergerak tanpa suara. Bonita menggeleng pelan melihat tingkah dua asisten dan pelanggan di hadapannya —yang merupakan seorang teman lama. Entah sudah berapa kali mereka berdebat tentang berat badan, model gaun, juga ukuran gaun yang seharusnya dipilih oleh Maria untuk pesta pernikahannya.
Sesi pengepasan gaun dengan Maria sudah berlangsung lebih dari dua jam. Jam pertama, Maria berhasil mengajak Bonita berbincang mengenai hal remeh-temeh tentang teman-teman lama hingga Kenzo dan Helga sungkan untuk mengganggu. Selanjutnya, Maria berhasil membuat Bonita mengubah desain gaun dari yang sebelumnya dan yang terakhir diminta merupakan desain kelima belas.
"Boo, aku ingin kamu menambahkan lima kupu-kupu di sini." Titah Maria dengan senyum lebar dan hidung terkembang seraya menunjuk ke arah pinggul kanan manekin. "Maksudku, kupu-kupu yang terlihat hidup. Aku akan membayar berapa pun harga yang kamu minta."
"Lima terlalu berlebihan. Bagaimana dengan dua? Aku akan membuatnya dengan ukuran sempurna dan membuatmu terlihat seperti putri yang baru datang dari negeri sihir." Tawar Bonita dengan senyum memikat yang biasa diberikan pada semua pelanggannya. Dia tahu harga tidak akan menjadi masalah untuk seseorang yang menginginkan momen pernikahan sempurna yang hanya akan terjadi sekali dalam seumur hidup mereka.
"Baiklah. Kapan aku bisa melihat hasilnya? Aku akan mengajak Tommy ke sini."
"Tiga minggu lagi."
"Tidak bisakah kamu menyelesaikannya lebih cepat?"
"Akan aku usahakan, tapi aku tidak ingin berjanji kosong padamu. Aku lebih mementingkan kualitas. Seharusnya kamu tahu hal itu sebelum memutuskan memakai jasaku."
"Baiklah kalau begitu. Kapan kamu akan menyusulku menikah? Bukankah empat tahun waktu yang terlalu lama untuk berpikir akan menikah atau tidak dengan kekasihmu?"
Bonita meletakkan map berisi kertas-kertas desain gaun di atas meja, lalu tersenyum simpul. Dia dan Maria merupakan teman sekolah delapan tahun lalu. Mereka tidak terlalu dekat, tapi cukup mengenal satu sama lain karena ruang kelas mereka berdekatan. Satu hal yang Bonita tahu dengan pasti, Maria yang seorang pencari berita ulung tidak akan mudah menyerah untuk mendapatkan informasi.
"Benjamin belum melamarmu?"
Bonita menahan tawa karena tebakan Maria salah, "Itu urusanku dengannya. Sesi kita hari ini selesai. Aku akan memberitahu saat gaunmu selesai dibuat."
Maria tersinggung hingga kedua alisnya yang tipis mengernyit, "Tidak bisakah kamu menyediakan waktu lebih lama untukku? Aku akan membayar berapa pun harga yang kamu minta."
Bonita bangkit dengan cepat ke arah manekin bergaun untuk mengelus permukaan kainnya, "Itu akan jauh lebih bagus. Bisa antar pelanggan cantik kita ke bawah, Ken? Temani dia berbincang hingga bosan. Dia juga harus memeriksa berkas untuk melihat rincian harga gaunnya. Jangan lupa suguhkan minuman apapun yang dia inginkan."
Kenzo mengangguk singkat seraya menggiring tubuh Maria menuruni tangga, sedangkan Helga menghela napas lega yang terdengar jelas di telinga Bonita saat sedang membereskan gaun dari manekin. Helga meletakkan gaun kembali ke ruang penyimpanan dengan suara kelontangan keras yang berasal dari tiang gaun yang terbuat dari baja yang terjatuh.
"Ini bukan pertama kalinya kamu bertemu dengan pelanggan yang menyebalkan. Jangan mengeluh." Tegur Bonita saat Helga kembali.
"Aku tidak mengeluh. Aku hanya menghela napas. Bagaimana mungkin kamu memiliki teman yang begitu ingin tahu tentang kapan kamu akan menikah? Maksudku ... waktu kapan kamu akan menikah seratus persen milikmu. Kamu sendiri yang memilihnya dan dia tidak akan bisa mencampuri apapun keputusanmu."
Bonita tertawa kecil dengan tatapan beralih pada ponsel yang tergeletak di meja. Ponsel itu bergetar tanpa dering saat menerima pesan yang datang dari Velica.
[Kamu tidak akan memercayai apa yang kulihat, Boo.]
[Apa yang kamu lihat?]
[Aku baru saja melihat Benjamin dan Zayna. Aku ingin mengambil foto mereka, tapi kehilangan jejak karena langkahku tertutup fotografer yang sedang memburu foto semua tamu undangan yang datang.]
[Bukankah kamu sedang berada di acara pembukaan hotel?]
[Ya, dan aku melihat kekasihmu sedang dipeluk oleh Zayna.]
[Siapa Zayna?]
[Zayna Lott. Model yang beberapa bulan lalu naik daun karena mempromosikan desain bikini terbaru dari Kith.]
Bonita menatap ponsel di tangannya tanpa berkedip. Sepengetahuannya, Velica sedang berada di kota lain, di sebuah hotel dekat pantai karena mendapatkan pekerjaan untuk merias wajah Isabell —model yang biasa menggunakan jasa Velica. Bonita ingat Benjamin memang memberi pesan padanya beberapa hari lalu bahwa dia akan pergi ke kota yang sama untuk membantu teman lama.
Nama Benjamin dengan cepat muncul di layar ponsel. Bonita mencoba menelepon kekasihnya itu, tapi hanya disambut nada dering tanpa ada jawaban. Bonita mencoba menelepon berkali-kali hingga jarinya kebas karena kesal, tapi hasilnya tetap sama. Hatinya gelisah. Pikirannya mulai dipenuhi berbagai skenario buruk yang mungkin terjadi. Jantungnya berdetak kencang dengan irama tidak beraturan karena membayangkan wanita lain sedang memeluk kekasihnya.
'Bee (Benjamin) tidak mungkin berselingkuh dariku. Velica mungkin salah melihat.' Pikir Bonita tepat saat pesan lain datang dari Velica yang berisi sebuah foto.
Foto yang dikirimkan Velica merupakan foto Benjamin dengan wanita anggun yang cantik dan sangat seksi. Mereka memakai pakaian formal dengan warna senada, sedang saling menatap dan tertawa. Bonita hampir kehilangan akal karena melihat lengan Benjamin dipeluk mesra oleh wanita itu.
Selama empat tahun menjalin hubungan dengan Benjamin, tidak sekalipun Bonita melihat gelagat kekasihnya sebagai pria yang memiliki hobi berganti wanita dalam semalam. Itu pula yang membuatnya berniat menerima lamaran Benjamin dalam waktu dekat. Namun, interaksi yang terekam di dalam foto yang dia lihat membuatnya ragu.
Bonita meminta Velica mengirimkan lokasi hotel. Dia beranjak menghampiri meja kerjanya untuk mengambil tas dan serangkaian kunci, lalu berlari menuruni tangga menuju parkiran hingga mengabaikan panggilan dari Kenzo dan Maria.
Setelah duduk di balik kemudi mobil, dia membuka pesan baru dari Velica yang sudah mengirimkan titik lokasi. Tidak lama, mobil dipacu dengan kecepatan tinggi. Gemuruh di dada Bonita membutuhkan jawaban. Dia akan memaksa Benjamin menjelaskan apa yang terjadi.
Pernikahan orang tua Bonita yang gagal telah memberinya pelajaran. Bahwa jika yang satu berniat untuk pergi, maka lebih baik yang lain merelakan sesakit apapun perasaan yang tertinggal.
Air mata meleleh di pipi Bonita saat mengingat kembali betapa hancur keluarganya saat orang tuanya berpisah hingga meninggalkan empat jiwa terluka, walau ibunya tidak terlihat lagi di mana keberadaannya. Bonita hanya meyakini, bahwa ibunya juga terluka walau tidak pernah menampakkan diri di hadapannya sejak perpisahan itu terjadi.
Bisakah hatinya merelakan Benjamin pergi setelah akhirnya berhasil memberanikan diri untuk menjalin hubungan dan menemukan kenyamanan? Hanya Benjamin satu-satunya pria yang menjadi pengharapan kasih baginya. Mampukah dia bersikap seperti ayahnya yang merelakan ibunya pergi dengan pria lain dan terus hidup tanpa orang yang dicintai?
***
Lebih dari tiga jam berlalu sejak Velica memberitahu lokasi acara pembukaan hotel pada Bonita. Dia sudah mencoba menelepon sahabatnya itu berkali-kali, tapi tidak ada jawaban. Saat ini, dia sedang berdiri di tepi jalan raya seraya memicingkan mata untuk melihat mobil Bonita yang mungkin akan muncul kapan saja. Namun, hari semakin larut. Cahaya lampu mobil yang hilir-mudik mungkin saja membuatnya salah melihat.
''Ayolah, Boo. Percuma saja kamu datang." Gumam Velica seraya berjalan menghampiri gedung hotel. Dia menyandarkan punggung ke dinding. Matanya melirik ke arah kotak peralatan rias yang tergeletak di sebelahnya.
Entah sudah berapa puluh orang yang melewatinya dan menatap aneh ke arahnya sejak tadi. Dia bahkan sempat menatap tajam pada beberapa pria hidung belang yang terlihat berniat mengganggu hingga mereka pergi dengan sendirinya.
Velica menghela napas berat. Dia menyesal karena baru menyadari lebih baik memberitahu Bonita tentang perselingkuhan Benjamin besok saja. Dia terlalu terkejut saat melihat Benjamin dipeluk oleh Zayna hingga tidak berpikir panjang.
Menit demi menit berlalu setelah Velica menyandarkan tubuh pada dinding hotel. Orang-orang yang lalu-lalang mulai berkurang. Jika bukan karena tiba-tiba melihat keberadaan mobil Bonita, mungkin detik itu juga Velica akan pergi ke salah satu restoran di sekitar sana.
"Boo!" Teriak Velica seraya berlari menghampiri mobil Bonita yang melambat.
Bonita menghentikan mobil dan menurunkan jendela, "Kamu menungguku?"
"Maafkan aku. Sepertinya kamu tidak akan bisa masuk. Hotel itu ditutup khusus malam ini untuk menjamu tamu yang memiliki undangan." Sesal Velica dengan raut wajah sangat bersalah melalui sela jendela mobil yang terbuka.
Bonita tertegun dengan kekecewaan yang jelas terpeta. Hampir empat jam dia membelah jarak dan menahan kegelisahan hanya untuk bertemu dengan Benjamin. Namun, usahanya sia-sia.
"Tunggulah besok. Kamu sudah mencoba menelepon Benjamin?"
"Teleponku tidak diterima."
"Tunggu sebentar." Ujar Velica seraya menjauh untuk mengambil kotak peralatan rias miliknya yang masih tergeletak dekat dinding, lalu memasuki mobil Bonita. "Ayo, kita ke restoran dan bicara. Kita bisa melihat siapa saja yang keluar dan masuk hotel dari sana."
Mereka beranjak ke restoran yang berada tepat di seberang hotel. Velica yang memesan makanan untuk mereka berdua karena Bonita terus diam. Dia sengaja mengajak Bonita duduk di dekat jendela agar leluasa memperhatikan siapa saja yang hilir-mudik di seberang sana.
"Apakah ponselmu mati?" tanya Velica.
Bonita mengambil ponsel dari saku celana dan bergumam seorang diri, "Aku baru menyadarinya."
"Aku meneleponmu agar kamu tidak perlu datang, tapi tidak apa. Pakailah dan coba telepon Benjamin." Ujar Velica seraya meminjamkan pengisi daya yang diambil dari dalam tas.
Bonita menerimanya tanpa mengatakan apapun. Baterai ponselnya akan membutuhkan waktu untuk terisi kembali, maka dia membiarkannya tergeletak di atas meja setelah menyambungkannya pada kabel pengisi daya.
"Aku minta maaf, Boo. Jika Isabell tidak pulang lebih dulu, mungkin kamu bisa menemui Benjamin sekarang."
"Kamu tidak perlu meminta maaf untuk itu."
"Tapi kamu pasti lelah setelah perjalanan panjang." Ujar Velica dengan tatapan sangat bersalah. Velica merasa salah tingkah karena Bonita hanya menatapnya tanpa mengatakan apapun hingga memutuskan untuk mendekatkan bibir pada telinga Bonita dan berbisik. "Dan lagi ..., sepertinya mereka sekamar."
Bonita terkesiap, "Maksudmu ...?"
Velica mengangguk ragu, "Aku sempat bertanya pada Isabell sebelum dia pulang. Hanya ada satu kamar untuk satu kartu undangan. Isabell cukup yakin bahwa yang diundang untuk acara pembukaan hotel adalah Zayna. Benjamin mungkin hanya diajak."
Bonita membeku. Namun, jantungnya berdetak kencang dengan sensasi panas yang menjalar ke seluruh tubuh. Dia cemburu. Sangat cemburu. Ada sesuatu yang terasa sangat salah dengannya. Entah kehilangan salah satu syaraf di otak atau mungkin salah satu pembuluhnya tiba-tiba tersumbat.
Velica menatap Bonita nanar, "Aku sempat meminta kartu undangan pada Isabell dan beralasan ingin menginap karena ada seseorang yang ingin kutemui di kota ini besok, tapi dia menolak memberikannya."
Alih-alih menanggapi Velica, Bonita menambatkan tatapan pada hotel baru di seberang jalan. Di salah satu kamar hotel itu, kekasihnya sedang bersama seorang wanita anggun dan seksi. Entah apa yang terjadi pada keduanya. Pikiran Bonita mulai menduga-duga semua hal buruk yang bisa saja terjadi.
"Kamu —maksudku, kalian pernah melakukannya?"
Bonita menggeleng dengan tatapan tetap tertambat pada hotel di seberang sana. Dia tahu dengan jelas apa maksud pertanyaan Velica. Selama empat tahun menjalin hubungan dengan Benjamin, mereka memang belum pernah melakukannya. Sejauh ini mereka hanya saling berpelukan dan berciuman di berbagai kesempatan. Tidak pernah lebih dari itu.
Bonita selalu memberi batas yang jelas walau hasrat mereka menggebu. Dia sangat menjaga hal itu karena tidak ingin bernasib sama seperti wanita lain yang merasa sangat terikat dengan seorang pria hingga kehilangan akal dan bersedia melakukan apa saja.
Ada banyak wanita yang dikenalnya mengalami gangguan mental karena pernah memberikan segalanya hingga berakhir dengan menjalani kehidupan menyiksa selamanya. Bahkan di lingkungan sosialnya yang sangat bebas pun, para wanita masih saja naif dan mengharap pria akan bertekuk lutut hanya pada dirinya jika mereka memberikan segala yang pria inginkan. Padahal yang sesungguhnya terjadi, pria manapun akan tetap pergi jika tidak berniat untuk tinggal dan menetap pada satu hati.
"Kamu serius?" Ada nada tidak percaya pada pertanyaan Velica, tapi anggukan singkat di kepala Bonita yang masih menatap hotel di seberang sana menjawab segalanya. "Dia tidak mungkin berselingkuh darimu karena membutuhkan pelampiasan, bukan?"
Bonita tersenyum getir menatap ponsel yang masih tergeletak mati di atas meja, "Entahlah. Bee hanya memberitahu dia ingin ke kota ini untuk membantu teman lama. Aku tidak tahu siapa teman yang dia maksud dan apa yang akan dia lakukan untuk membantu."
Velica mengusap bahu Bonita, "Aku minta maaf, Boo."
"Tidak perlu. Kamu bertindak benar dengan memberitahuku. Aku akan meminta penjelasan padanya. Aku ...," tenggorokan Bonita tercekat hingga tidak mampu melanjutkan. Ada terlalu banyak hal yang dia pikirkan. Sayatan di hatinya bertambah saat memikirkan segala kemungkinan yang ada. Dua orang berbeda jenis kelamin berada di dalam satu kamar yang sama merupakan pertanda buruk. Teramat-sangat-buruk.
Pramusaji mengantarkan makanan dan pergi sesaat setelahnya. Velica mengajak Bonita untuk mulai makan, tapi Bonita menolak.
Bonita menyalakan ponsel dan mencoba menelepon Benjamin sekali lagi. Namun, panggilan teleponnya tetap tidak diterima. Bulir air panas yang menetes di pipinya segera dihapus dengan punggung tangan. Dia tidak ingin seorang pun tahu dia sedang menangisi seorang pria. Terlebih pria yang sedang berselingkuh darinya.
Tatapan Bonita kembali beralih ke gedung hotel baru di seberang jalan. Dinding-dindingnya terasa dingin dan menjulang dengan arogan. Catnya yang memantulkan puluhan cahaya lampu meninggalkan kesan kusam di relung hati Bonita yang paling dalam.
Jarak antara dirinya dan kekasihnya sudah sedekat itu, tapi jarak yang muncul di hatinya terasa sejauh bumi dan matahari. Jarak itu meninggalkan gelenyar sakit yang perlahan menggerogoti, rongga hampa yang tiba-tiba muncul di sudut hati, keragu-raguan untuk memilih tindakan, serta berbagai pikiran yang membuat kepercayaannya akan cinta kembali memudar.
Hari semakin larut saat Bonita dan Velica menyelesaikan makan malam. Velica yang lapar menghabiskan semua makanan pesanannya, sedangkan Bonita hanya menyentuh beberapa suapan dan meninggalkan sisanya tanpa belas kasihan.
Velica mengajak Bonita menginap di hotel lain yang berjarak satu blok dari hotel tempat Benjamin menginap. Mereka memilih satu kamar yang memiliki dua tempat tidur terpisah. Kemudian mandi bergantian dan berbaring di tempat tidur pilihan masing-masing.
"Tidurlah, Boo. Kita bisa bangun lebih pagi dan mencoba datang ke hotel itu lagi besok."
Bonita menatap langit-langit kamar tanpa mengatakan apapun. Ada banyak sekali yang dia pikirkan, tapi tidak ada satupun yang mampu diutarakan pada sahabatnya. Terlalu rumit bahkan hanya dengan mengucapkan satu kata.
"Maafkan ...."
"Kamu sudah meminta maaf padaku, Ve. Sungguh, kamu tidak perlu mengatakannya." Ujar Bonita seraya memejamkan mata dengan hati penuh luka dan rasa getir yang menyebar hingga membuatnya berpikir untuk melepaskan Benjamin saja. "Mungkin ... aku memang tidak ditakdirkan menikah."
***
Berbagai pikiran yang menghampiri Bonita tidak sanggup membuatnya tertidur walau berusaha memejamkan mata. Saat akhirnya dia membuka mata karena matanya terasa sangat perih, Velica sudah terlelap.
Dia menghela napas gusar dan mengambil ponsel yang tergeletak di dekatnya, tapi tidak ada satu pun kabar dari Benjamin hingga membuat luka di hatinya semakin menganga dan mulai terasa menyesakkan. Kini, berbagai perasaan buruk yang berkecamuk di dalam hatinya berubah menjadi ombak yang bergulung-gulung tanpa mampu dibendung.
'Dia pasti sibuk, bukan? Sibuk bercinta.' Pikirnya putus asa.
Dadanya berdenyut nyeri saat kata-kata itu muncul. Dia mampu membayangkan apa yang Benjamin dan model bernama Zayna itu lakukan seolah benar-benar sedang melihatnya di depan mata. Sesuatu yang bahkan belum pernah dilakukan olehnya dan Benjamin selama empat tahun menjalin hubungan. Namun, dia wanita dewasa. Dia tahu betul apa yang terjadi jika sepasang manusia sedang bercinta.
'Sadarlah, Boo! Seharusnya kamu merelakannya pergi jika memang benar dia berselingkuh darimu! Tegarlah seperti ayahmu!' Hardik hatinya yang lemah.
Beban yang menghampirinya bertambah. Batu yang mengendap entah sejak kapan mulai menghimpit keutuhan hatinya. Kepercayaan yang berusaha dia berikan pada seorang pria pupus hanya karena ada seorang wanita yang bersedia diajak berselingkuh.
'Siapa yang harus aku salahkan? Bee karena berselingkuh dariku atau Zayna yang bersedia diajak berselingkuh? Atau ... aku karena tidak pernah memberi Bee kesempatan untuk bercinta denganku?'
Pikiran Bonita masih berusaha menolak fakta Benjamin yang mengkhianati dirinya, tapi hatinya terlalu sakit membayangkan betapa kepercayaan yang selama ini dititipkan pada kekasihnya itu hancur begitu saja. Dia membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa menitipkan kepercayaan seperti itu pada seorang pria dan hanya ada penyesalan yang tersisa pada dirinya saat ini.
Wajah ibunya terbayang di kedua manik matanya. Wanita yang melahirkannya itu pergi bersama pria lain. Bonita masih ingat saat dia memanggil-manggil wanita itu agar tetap tinggal, tapi wanita itu mengabaikannya dan memilih pergi bersama pria brengsek yang bahkan namanya pun terlupakan dari ingatan.
Mata Bonita dipaksa terpejam saat pikirannya semakin gusar. Dia ingin semua pikiran-pikiran buruk itu pergi. Namun, tetap terjaga dan saling bersahutan seperti dendang genderang perang.
Alarm dari ponsel membuat Bonita membuka mata. Dia mematikan alarm dan beranjak ke wastafel untuk membasuh wajah. Saat dia kembali, Velica masih terlelap.
Dia menulis pesan di selembar kertas dan meletakkannya di bawah ponsel milik Velica, lalu mengambil tas dan serangkaian kunci miliknya sebelum keluar kamar. Kakinya berjalan cepat menuju mobil untuk kembali ke hotel tempat Benjamin menginap. Dia memarkir mobil di depan restoran yang menjadi tempat makan malam bersama Velica kemarin dan memperhatikan semua orang yang lalu-lalang di depan hotel di seberang sana.
Masih pagi sekali saat Bonita melihat pintu terpencil di sebuah sudut hotel yang semalam tidak disadari olehnya. Beberapa orang yang terlihat seperti staf kebersihan keluar-masuk dengan tergesa-gesa. Pintu itu tidak dijaga oleh siapapun dan sepertinya cukup aman untuk dimasuki.
Bonita keluar dari mobil dan berjalan sejauh dua puluh meter ke arah kiri sebelum menyeberang. Dia mengikuti langkah dua orang wanita yang mengarah ke hotel dan menyelinap masuk ke pintu terpencil itu. Jantungnya berdetak kencang seirama dengan derap langkah kakinya menyusuri lorong hotel yang sepi.
'Sekarang apa yang harus kulakukan? Aku bahkan tidak tahu di mana kamar mereka berada. Haruskah aku kembali ke mobil saja?'
Tepat saat Bonita berpikir seperti itu, dia sampai di depan sebuah lift. Jarinya secara asal menekan tombol angka empat dan memasuki lift yang pintunya segera terbuka. Dia berniat melihat-lihat isi hotel dan akan pergi jika tidak ada tanda-tanda apapun dari Benjamin atau Zayna.
Pintu lift tertutup dan kembali terbuka setelah sampai di lantai empat. Seorang pria berpakaian formal memberi salam pagi padanya saat berpapasan. Bonita membalas salam dengan canggung dan beranjak menjauh karena khawatir dikenali sebagai penyusup.
"Kenapa aku tidak bertanya padanya di mana kamar Zayna? Mungkin saja dia tahu." Desis Bonita saat menyadari kealpaannya.
Bonita berdecak kesal untuk meratapi betapa bodoh dirinya seraya melangkahkan kaki melewati lorong dengan banyak pintu di kedua sisi. Di pintu itu ada berbagai nomor yang berurutan. Dia yakin ada Benjamin dan Zayna di salah satu kamar itu. Entah kamar dengan nomor berapa.
Seorang wanita yang terlihat mabuk keluar dari kamar yang berjarak sekitar sembilan meter dari tempat Bonita berdiri. Mereka berpapasan di tengah jalan tanpa saling malempar tatap atau mengatakan apapun. Bonita melanjutkan langkah dan berbelok, lalu menemukan lorong lain dengan pintu-pintu di kedua sisinya. Lorong dengan pintu-pintu yang terlihat sama dengan lorong dan pintu lain sebelum ini.
Bonita menghela napas keras karena merasa usahanya sia-sia dan berbalik ke arah datangnya beberapa saat lalu. Alih-alih menggunakan lift, dia turun menggunakan tangga darurat ke lantai tiga. Dia baru saja akan terus turun ke lantai dua saat mendengar suara pria yang dia kenali. Langkahnya terhenti untuk mendengarkan suara pria itu dengan seksama. Suara pria itu ringan dan terdengar lembut di telinganya.
"Berita tentang kita harus dikonfirmasi." Ujar pria itu penuh dengan nada tuntutan yang mendesak.
Bonita yakin sekali itu suara Benjamin. Dia mengintip dengan menggeser tubuh sedikit ke arah lift berada. Dugaannya tepat. Benjamin sedang berdiri di depan lift dengan seorang wanita anggun dan seksi yang diketahui Bonita melalui foto bernama Zayna. Zayna sedang memeluk lengan Benjamin dan menyandarkan kepala di bahu Benjamin dengan tatapan manja seolah Benjamin miliknya. Pemandangan yang dilihat Bonita itu tiba-tiba terlihat menjijikkan.
'Mereka benar-benar melakukannya. Mereka benar-benar bercinta, bukan?' Pikir Bonita dengan kebencian yang mulai tumbuh. Amarah menyambar melalui nadi ke seluruh tubuhnya hingga membuatnya tegang dan terdiam untuk mencari kalimat apa yang paling cocok untuk mengutuk kedua pelaku selingkuh itu.
Tepat saat Bonita akan membuka suara untuk menegur keduanya, mereka memasuki lift. Dia melangkahkan kaki dengan cepat untuk menghampiri mereka dan bertemu tatap dengan Benjamin saat pintu lift hampir saja tertutup sempurna.
Benjamin melepas pelukan Zayna dari lengannya saat menyadari keberadaan Bonita, tepat saat Bonita berlari menuruni tangga darurat dengan hati hancur tanpa mampu mengatakan apapun. Niat untuk menyalurkan amarah pada Benjamin dan Zayna menguap begitu saja saat Bonita menyadari tatapan bersalah di mata Benjamin seolah tatapan bersalah itu merupakan pengakuan atas perbuatannya.
"Boo!" Teriak Benjamin seraya menjejalkan diri keluar dari lift yang dipaksa terbuka tiba-tiba. Sial baginya karena pintu lift terbuka dengan sangat lambat. "Tunggu!"
"Sudahlah. Dia tidak akan mendengarkanmu." Ujar Zayna santai dengan tangan menggapai lengan Benjamin untuk kembali dipeluk olehnya.
Benjamin menepis tangan Zayna. Dia berlari mengejar Bonita. Sayangnya langkah Bonita terlalu cepat untuk dikejar.
Bonita tidak lagi peduli untuk menggunakan pintu yang mana. Rasa sakit di hatinya membuatnya tidak mampu berpikir jernih. Langkahnya menghampiri pintu utama dan keluar tanpa menoleh, dengan gaung suara Benjamin yang memanggil namanya berulang-ulang.
Perasaan Bonita yang semula ragu, kini mantap dengan sendirinya. Dia akan meninggalkan Benjamin dan hidup sendiri selamanya. Satu-satunya hal yang terpatri di jiwanya sejak bertahun lalu, yang sempat terlupakan selama empat tahun, kini kembali padanya.
Alasannya?
Karena jika yang lain berniat pergi, maka yang lain harus merelakan. Seperti hubungan yang terjadi pada kedua orang tuanya.
***