Bab 1

Plak!

Suara tamparan menggema di ruangan yang gelap juga lembab, hanya suara tangis ketakutan dan jerit kesakitan dari seorang gadis cantik yang membuat ruangan sunyi menjadi ramai. Dia hanya bisa menangis dan menjerit, tetapi tidak mampu mengeluarkan kalimat permintaan tolong. Jika pun ingin meminta tolong, itu akan percuma, karena tidak akan ada yang mau menolongnya. Jangankan menolong, untuk mendekat ke arah tempat itu pun sepertinya tidak ada yang berani.

Plak!

Lagi-lagi tamparan kuat dari tangan besar milik pria di hadapannya kembali terdengar. Gadis itu kini sudah pasrah menerima siksaan, ketika dirinya memberontak. Kejam, licik, dan kasar, itulah sifat yang dapat dideskripsikan dari pria gila yang terus saja menyiksanya.

"Kau gila, benar-benar gila! Kenapa kau menyiksaku, hah?! Dasar psychopath brengsek!" cerca gadis itu dengan lantang, sehingga membuat si pria marah dan menjambak kuat rambutnya.

Gadis itu kembali mendapatkan tamparan karena telah menghina pria itu. "Lepaskan aku, kenapa kau terus menyiksaku! Apa salahku? Bukankah sudah kubilang, aku tidak mencintaimu! Pria gila seperti kamu tidak pantas untuk dicintai, kamu itu iblis!" teriaknya.

"DIAM!" bentak pria itu.

Pria itu marah pada gadisnya. Iya, gadis di hadapan dia adalah miliknya. Calon istri sekaligus ibu dari anak-anaknya kelak. Namun, apa itu mungkin? Sebab saat ini dia tengah begitu marah dan tidak mampu mengendalikan emosinya, sehingga menyiksa gadis yang ia cintai. Kini, sisi iblisnya sudah terlihat dan keluar setelah sekian lama dia sembunyikan, hanya karena rasa cinta yang begitu besar kepada gadis itu.

Kecemburuan dan takut akan kehilangan, membuat pria itu kembali kalap dan menunjukkan sisi iblisnya. Dia menghabisi pria yang berani menyentuh miliknya, di hadapan gadis itu. Bahkan, amarah yang belum hilang pun, dilampiaskan kepada gadis itu. Hingga kesadaran dan rasa bersalah pun muncul, saat gadis di hadapannya memohon ampun.

"Aku mohon, Mr. Tolong lepaskan aku, jangan siksa aku. Apa salahku, Mr?" lirih gadis cantik itu dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi.

Pria itu tertawa dengan mengerikan. "Lepas? Kau ingin lepas, Baby? Aku akan melepaskanmu. Pergilah. Cepat, sebelum aku berubah pikiran, Sayang," ucap pria itu dengan penuh penekanan di setiap kata, tetapi gadis itu hanya diam tak bergerak ataupun menjawab ucapan.

Bohong jika pria itu rela melepaskan gadisnya, tetapi dia harus melakukan itu. Sebelum dirinya menghabisi gadis cantik tersebut.

"Ayo, cepat pergilah! Tinggalkan aku, sebelum aku menyakitimu lebih jauh! Bukankah kau tidak mencintaiku?! Jadi, cepat pergi!" Gadis itu masih diam dan terduduk di hadapan pria tersebut.

Pria itu mengalihkan pandangan ke arah sang gadis. "Kenapa kau diam? Ayo, lari dari tempat ini, sebelum aku kembali menyakitimu! Cepat, tinggalkan aku," ujar pria tersebut, tetapi gadis itu tetap diam dan masih pada posisinya.

Beberapa saat kemudian, gadis itu berusaha untuk bangun, walaupun sedikit kesulitan, akhirnya dia mampu berdiri. Tinggi gadis itu hanya sebatas dada pria di hadapannya. Tanpa aba-aba ataupun paksaan, gadis cantik nan manis itu memeluk pria yang sudah menyiksanya, sambil bergumam kata maaf.

Gadis itu kembali menangis terisak dengan mengeratkan pelukannya kepada pria yang awalnya terdiam karena perlakuan gadisnya itu, kini membalas pelukan dengan tak kalah erat.

"Maafkan aku," ucap gadis itu dengan tangis yang tidak bisa ditahan.

Pria itu menggelengkan kepala. "No, jangan meminta maaf, Baby. Di sini aku yang salah, kau tidak mencintaiku, sudah seharusnya aku memang melepaskan kamu."

Inilah kelemahannya, gadis itu begitu pandai membuat dia bertekuk lutut dan kembali menjadi pria yang baik terhadap gadisnya. Hanya karena pelukan, tangis, dan ucapan lembut, ia melupakan kekasaran dan penyiksaan yang sudah dilakukannya.

"Maafkan aku, maafkan aku. Maaf telah membuatmu marah," ujar gadis itu.

Pria itu mengembuskan napasnya dengan pelan. Dia begitu tersiksa mendengar ucapan maaf disertai tangis dari gadisnya. Sungguh, dia begitu luluh walaupun sang gadis hanya mengucapkan kata maaf. "Aku sangat mencintaimu. Please, jangan pernah tinggalkan aku demi pria brengsek itu, walaupun itu hanya sebuah perniatan saja. Aku hanya ingin memilikimu. Dan apa yang sudah menjadi milikku, akan tetap menjadi milikku. Jangan seperti dia yang menyakitiku, Baby," gumam pria itu masih dengan memeluk erat gadisnya, seakan takut gadis itu benar-benar menuruti keinginan ia agar pergi darinya.

Gadis itu kembali terdiam. "Apa kau tidak pernah melihat ketulusanku, Baby? Aku tulus mencintaimu, itu benar-benar cinta, bukan obsesi semata. Jika kau tidak percaya, tembak kepalaku dengan pistol ini. Aku sangat mencintaimu percayalah," ujar pria tersebut dengan lirih, lalu memberikan sebuah pistol ke tangan gadis itu dan mengarahkan tepat ke kepalanya.

Gadis itu menggelengkan kepala. "Aku minta maaf. Cintamu memang sangat tulus, aku percaya itu. Tapi, aku tidak pantas untukmu, kamu adalah orang kaya dan terpandang, sedangkan aku bukanlah apa-apa jika disandingkan denganmu," sahut gadis itu dengan air mata yang masih mengalir membasahi pipinya.

"Kau pantas, sangat pantas. Karena hal itu, aku memilihmu."

Gadis itu terharu mendengar ucapan pria di hadapannya ini. "Maaf karena telah mengizinkan orang lain menyentuhku, padahal kamu sangat baik. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu," seloroh gadis itu.

"Bantu aku menjadi pria yang baik. Pria yang mampu menyembunyikan kejahatanku, sisi iblisku."

"Tentu, aku akan melakukannya."

"Aku tidak mau menjadi pria jahat yang selalu menyakiti gadis yang sangat aku cintai, maafkan aku."

"Tidak, jangan minta maaf. Di sini kau tidak salah. Wajar jika kau menyiksaku, tolong maafkan aku. sebenarnya kau adalah pria yang sangat baik dan tulus, tetapi sikap tempramentalmu sulit dikendalikan."

"Aku memang gila, seorang Psychopath, dan pemarah," racau pria itu.

"Tidak," sahut gadis itu.

"Maafkan aku karena selalu menyakitimu dan membuatmu terluka. Aku mencintaimu, tapi aku selalu menyiksamu," sesal pria itu.

"Tidak, I am fine Mr. Jangan salahkan dirimu, kau seperti ini karena aku dan dia,"

"You're mine, Baby! Yesterday, today, tomorrow, and forever. JUST MINE," ucap pria itu dengan penuh penekanan di setiap kata.

"Ya, aku milikmu. Milikmu, Mr," bisik gadis itu.

Pria tersebut mengurai pelukannya kemudian berjongkok di hadapan sang gadis. Ia merogoh saku celananya, lalu memperlihatkan sebuah kotak beludru berwarna merah dengan bentuk love, yang berisi sebuah cincin berlian indah dan mahal.

"Will You marry me, Baby?" ucap pria itu dengan tulus, membuat gadis di hadapannya ternganga dengan pandangan tidak percaya.

Ya, tentu saja tidak percaya karena gadis itu mengira kalau pria itu mendekatinya hanya untuk pembalasan dendam terhadap seseorang, tetapi ternyata pria tersebut benar-benar tulus kepadanya.

"Kenapa diam? Apa kau masih ragu denganku?" tanya pria itu dengan nada khawatir karena takut gadisnya akan menolak kembali.

Gadis itu menarik napas lalu mengembuskannya secara perlahan. "Yes, I will, Mr!" jawab gadis itu dengan senyum lebar.

Pria itu langsung berdiri dan menarik tubuh gadisnya ke dalam pelukan, Ia tersenyum dengan air mata mengalir di kedua pipinya. Untuk hari ini katakan saja jika pria itu manja, lebay, cengeng atau apa pun, yang terpenting Ia bahagia bahkan sangat bahagia.

"Terima kasih," ucap pria itu dengan lirih.

"I love you."

"I love you more, Mr," balas gadis itu dengan tulus.

Pria itu terdiam mendengar ucapan cinta dari gadisnya. Apa dia tidak salah mendengar? Atau itu hanya khayalan semata? Gadisnya membalas kalimat cintanya?

Bab 2

Bagi Xerdan Leonald Smith, biola adalah salah satu instrumen yang menyenangkan dan indah untuk dimainkan. Walaupun dalam mempelajari biola membutuhkan waktu yang lama agar menjadi mahir. Namun, dengan kesabaran, disiplin, dan semangat yang besar, ketiga langkah itu akan membantu kemahiran dalam memainkan instrumennya. Bukan hanya itu, penghayatan serta pikiran yang jernih pun menjadi hal utama dalam permainan biola.

Kelima hal itu pernah Xerdan lakukan untuk mempelajari permainan dari biola yang tengah dipegang olehnya. Karena itu, kini dia menjadi seorang violinis ternama di negara Italia, negara kelahirannya. Iya, dia lahir di Italia, tempat kelahiran sang kakek, Adam Madani Smith. Pria itu tengah berdiri di atas panggung yang disaksikan ribuan bahkan jutaan penonton. Semua penonton datang dan rela antre membeli tiket hanya untuk menyaksikan pertunjukan Xerdan dalam menggesek biolanya.

Semua pendengar menatap penuh kekaguman dan terpesona ke arah pria tersebut. Karena bukan hanya permainannya saja yang memabukkan, tetapi ketampanan dan kharisma yang ditampilkan oleh Xerdan pula, membuat semuanya seakan tersihir. Pertunjukan pun telah selesai, pria itu masuk ke dalam ruang ganti karena ingin mengganti pakaian yang sedari tadi melekat di tubuhnya. Setelah beberapa saat kemudian, setelah dia mengganti pakaiannya, tiba-tiba saja pintu ruangan tersebut ada yang mengetuk. Xerdan pun membuka pintu setelah orang di luar ruangan itu mengatakan sesuatu, lalu pria tersebut menatap pria yang mengetuk dan mengganggunya.

"Tuan, ini saya," ucap seseorang di luar ruangan tersebut.

Xerdan yang mengetahui siapa orang itu pun langsung membukakan pintu. "Ada apa, Jordan?" tanya Xerdan dengan raut wajahnya yang datar.

Jordan Aston Rodriguez, yang diketahui sebagai tangan kanan atau asisten pribadi Xerdan pun membungkukkan sedikit badannya. "Saya bersama dua orang pengawal sudah melakukan apa yang Tuan perintahkan, dan semuanya sudah berhasil," jawab Jordan.

Xerdan mengangguk. "Apa CCTV yang berada di titik-titik tertentu sudah kalian manipulasi atau mungkin kalian rusak?"

Jordan terkekeh pelan mendengar pertanyaan dari sang Tuan. Apa harus sedetail itu? Biasanya Xerdan tidak pernah banyak bertanya ketika akan melakukan kejahatan maupun pembunuhan, tetapi entah mengapa kali ini, pria itu begitu berisik dan banyak bertanya.

"Saya sudah melakukannya, Tuan. Jadi, Anda jangan khawatir terhadap apa yang saya lakukan. Semuanya aman, Tuan," jawab Jordan kembali setelah menghentikan tawanya.

Jordan tidak pernah canggung dengan Xerdan walaupun mereka berbeda status. Mungkin karena sedari kecil Jordan dan Xerdan bersahabat, sehingga keduanya begitu akrab, tidak seperti atasan dan bawahan.

"Baiklah. Oh iya, tolong jangan panggil aku tuan, Jordan. Itu sungguh menggelikan, sekaligus menjijikkan," sahut Xerdan sambil bergidik ngeri.

Pria itu melangkah keluar dari ruang ganti. Di belakangnya ada Jordan dan dua orang pengawal lain. Mereka akan menuju ke sebuah gedung yang di mana akan dijadikan sebagai tempat aksi pembunuhan dan kebrutalan Xerdan. Setelah sampai di pelataran parkir dan mendekat ke arah mobil, lalu seorang pengawal membukakan pintu mobil yang akan membawa Xerdan ke tempat itu.

"Apa Tuan ingin membeli makan dulu, sebelum kita tempat itu? Aku takut Tuan sakit?" tanya Jordan yang tengah menyetir mobil.

Xerdan menggelengkan kepala. "Kau sudah seperti mamaku ya? Cerewet sekali. Aku tidak makan pun, tidak akan mati. Apalagi sakit, kau melupakan Tuhan yang sudah menciptakan manusia. Hanya dia yang bisa menentukan hidup dan matinya kita," jawab Xerdan dengan kesal.

Kedua pria itu berada di dalam mobil yang sama. Di mana Jordan sebagai supir dan duduk di kursi kemudi, sedangkan Xerdan mendudukkan bokongnya di kursi penumpang bagian belakang. Di belakang mobil mereka, terdapat sebuah mobil yang dikendarai oleh pengawal. Beberapa saat kemudian, mereka sampai di halaman belakang bagian gedung yang tinggi dan besar. Gedung itu sepertinya masih beroperasi, karena bisa dilihat dari kondisinya.

Saat Xerdan dan Jordan akan memasuki gedung, tiba-tiba seorang pria berpakaian serba hitam menghampiri keduanya seraya membungkukkan sedikit badannya. "Tuan," panggilnya kepada Xerdan.

"Apa semuanya aman?" tanya Xerdan, membuat Jordan memutar bola matanya malas.

Rasanya dia benar-benar ingin mencekik Xerdan yang terasa cerewet dan banyak bertanya. Seperti seorang bocah. Tadi dia menghina Jordan cerewet seperti sang mama, tetapi bukankah dia yang sedari tadi banyak bicara? Pria dingin, datar, dan kaku seperti keduanya ternyata bisa cerewet juga di waktu tertentu.

"Kau ingin mencekik ku? Boleh, tapi sebelum itu aku dulu yang mencekikmu," ucap Xerdan seraya melangkah memasuki gedung.

Jordan membelalakkan matanya. "Kenapa aku lupa, tuanku kan bisa mendengar apa yang ada di pikiran serta hatiku. Dasar bodoh," gumam pria itu, lalu melangkah menyusul Xerdan.

Pengawal itu menatap bingung ke arah Jordan. Tentu. Siapa yang tidak bingung? Pria itu berbicara panjang lebar dengan raut datarnya. Sungguh aneh.

***

Xerdan masuk ke sebuah ruangan yang terdapat papan menggantung di atas pintu, bertuliskan CEO. Ruangan itu berada di lantai 9. Karena terlalu fokus pada berkas-berkas, membuat pria yang tengah duduk di kursi kebesarannya tidak menyadari kedatangan Xerdan, musuh terbesarnya.

Prok! Prok! Prok!

Xerdan menepuk kedua tangan sebanyak tiga kali, membuat pria itu terlonjak kaget. Dia pun mengalihkan pandangan dari berkas-berkas yang ada di meja kerjanya ke arah orang yang menepuk tangan. Dia terkejut melihat Xerdan berdiri sambil menampilkan senyum mautnya.

"Xerdan?" beo pria itu.

"Halo, Mr Antonio Conte," sapa Xerdan dengan nada mengerikan.

Pria bernama Antonio Conte itu berdiri dari duduknya, lalu melangkah dengan angkuh mendekati Xerdan, hingga keduanya hanya berjarak beberapa langkah saja. "Mau apa kau ke sini, Tuan Xerdan?" tanya Antonio.

"Memberikan kejutan, sekaligus menjengukmu," jawab Xerdan dengan santainya.

Antonio Conte mengulas senyum miring mendengar jawaban dari Xerdan. "Kejutan seperti apa, Tuan? Dan aku tidak sakit, jadi tidak usah repot-repot untuk menjengukku. Terima kasih sudah baik sekali," sahut Antonio dengan tenang.

Menghadapi manusia berhati iblis seperti Xerdan, harus dengan santai dan tenang. Jika dia melihat ada raut ketakutan dari lawannya, maka itu akan membuat dia sangat bahagia dan senang. Karena itu yang dinantikan oleh seorang psychopath seperti pria itu. Raut ketakutan dan jerit kesakitan menjadi objek kegembiraannya.

"Aku memang sangat baik, karena itu kau masih hidup. Jika tidak, mungkin kau sudah mati dengan mengenaskan, sama seperti dia." Mendengar itu Antonio langsung emosi.

"Jangan mengusikku, Xander! Kau hanya anak kemarin sore, yang belum paham akan dunia gelap dan sisi iblisku!" bentak Antonio yang memang sudah terpancing emosinya.

Xander menaikkan sebelah alisnya. "Anak kemarin sore? Kau yakin, Mr Antonio? Bagaimana bisa anak kemarin sore membunuh secara brutal, dan tanpa meninggalkan jejak?"

Antonio merogoh saku celananya tanpa sepengetahuan Xander dan Jordan. Dia langsung mengangkat pistol yang memang sudah dipersiapkan, karena takut jika tiba-tiba ada musuh yang menghampirinya. Pria itu menembak tepat ke arah jantung Xander, tetapi meleset. Pria muda itu berhasil menghindar. Terlalu fokus pada Xander, dia tidak menyadari ada Jordan di sana. Hingga akhirnya pria itu terkena tembakan di bagian lengan.

"Ho ho, terlalu fokus dalam menghabisi Tuanku, tetapi tidak melihat ada orang lain di sini?" ujar Jordan dengan nada mengejek.

"Sialan!"

Antonio marah besar, ia kembali mengacungkan pistolnya ke arah Xander. Namun, saat akan menekan pelatuknya, tiba-tiba dia mendengar suara jeritan dari seseorang yang sangat dia cintai.

"Antonio, tolong aku!" jerit orang itu dengan suara serak yang hampir menghilang karena tangis.

Bab 3

Antonio menatap ke layar besar yang ada di ruangan tersebut. Di layar tengah menampilkan seorang gadis yang mana rambut, pakaian, dan wajahnya sudah berantakan. Ditambah bibirnya robek, mengeluarkan darah, walaupun tidak banyak. Jangan lupakan mata yang membengkak karena menangis. Gadis itu, Queen Elizabeth, kekasih Antonio.

"Antonio, tolong aku, please!" jerit gadis itu kembali saat dua orang pengawal Xerdan menarik paksa gadis itu.

Rahang Antonio mengeras. Dia tidak bisa melihat semua ini. Melihat apa yang telah Xerdan lakukan terhadap kekasihnya, gadis yang dia cintai. Selama hidup, hanya Queen yang mampu membuatnya jatuh cinta. Namun, hari ini gadis itu disiksa dan dilecehkan oleh dua orang pria bertubuh kekar dengan pakaian serba hitam, pengawal dari Xerdan. Pria gila sekaligus tidak berperikemanusiaan yang berada tepat di hadapannya.

"Jangan sakiti kekasihku!" teriak Antonio.

Xerdan tersenyum miring, lalu menaikkan sebelah alisnya. "Why? Kenapa aku tidak boleh melakukannya?" tanya Xerdan dengan polos.

Antonio sungguh muak melihat wajah polos dari Xerdan. Saat dia akan maju untuk meninju wajah Xerdan, gadis yang dicintainya kembali menjerit. Kali ini lebih histeris, karena Jordan memberikan kode pada kedua pengawal itu untuk melakukan apa yang pernah dilakukan lelaki paruh baya ini terhadap sang adik.

"Antonio!" jerit gadis itu saat salah satu pengawal Xander merobek bajunya.

Antonio terdiam saat melihat apa yang dilakukan kedua pengawal itu terhadap kekasihnya. Keduanya memperkosa Queen secara kasar. Mereka melakukannya dari arah depan dan belakang. Sungguh, hati pria paruh baya itu bagai diiris-iris melihat teriakan dan jerit kesakitan dari kekasihnya.

"Queen," panggil Antonio dengan lirih.

Jordan mendekat, lalu membisikkan sesuatu yang membuat Antonio menatap ke arah pria muda itu. "Kau pikir, dengan menyembunyikan kekasihmu aku tidak akan menemukannya? Tentu aku bisa. Kedua anak kemarin sore ini, bisa melakukan apa yang pernah kau lakukan terhadap adikku. Dan kini, sekarang sudah terbukti. Lihat, kekasih tercintamu sedang diberi kenikmatan sekaligus penderitaan oleh kedua pengawal Tuanku."

Beberapa menit kemudian, kedua pengawal itu sudah menyelesaikan tugas mereka. Setelahnya, Xerdan meminta mereka untuk membunuh gadis itu, dengan cara menembak kepalanya. Antonio terkejut bukan main.

"Jangan bunuh, Queenku!" bentak Antonio.

Pria itu maju, tetapi ditahan oleh Jordan. Suara peluru menggema pada video yang ditampilkan oleh layar besar itu. Queen sudah mati dengan mengenaskan, sedangkan Antonio yang sedari tadi marah dan memberontak meminta dilepaskan oleh Jordan pun kini terdiam dengan air mata yang mengalir di pipinya.

"Queen," panggil pria itu sekali lagi.

Xerdan tersenyum miring melihat salah satu musuhnya tumbang hanya karena seorang gadis. Inilah mengapa dia tidak mau untuk menjalin sebuah hubungan, takut malah jatuh cinta terlalu dalam. Karena menurutnya, cinta adalah hal paling nyata yang mematikan sekaligus merugikan. Mematikan bagi orang yang lengah dan merugikan untuk orang sepertinya yang memang memiliki banyak musuh.

"Bagaimana dengan kejutanku, Mr Antonio? Apa kau mau lagi kuberikan kejutan yang lain?" tanya Xerdan, membuat Antonio seketika langsung menatap ke arahnya dengan tatapan penuh kebencian.

Jordan mengikat tubuh Antonio di kursi yang ada di ruangan tersebut. Xerdan melangkah mendekat ke arah pria yang sudah tidak lagi muda itu, mungkin dia seusia dengan sang papa. Tiba-tiba layar berganti dengan video yang lain. Kali ini menampilkan wajah dari pasangan suami istri yang usianya sudah menginjak angka kepala tujuh.

"Apa yang akan kau lakukan terhadap orang tuaku, hah?! Jangan menyentuh mereka, sialan!" teriak Antonio dengan berusaha sekuat tenaga memberontak agar bisa terlepas dari ikatan yang membelit di tubuhnya.

Antonio bersumpah. Jika saja Xerdan membunuh kedua orang tuanya, maka pria itu akan melakukan balas dendam dengan cara yang sama. Walaupun pria paruh baya itu sangat jahat dan licik, tetapi tidak menutup kemungkinan kalau dia akan begitu ketakutan jika orang-orang tersayangnya disakiti. Apalagi melihat wajah kedua orang tua yang sangat dicintai itu babak belur.

"Bagaimana, Mr Antonio?" tanya Xerdan dengan senyum iblisnya.

Antonio menatap penuh kebencian ke arah Xerdan. "Jangan menyentuh kedua orang tuaku, Xerdan!"

Bodoh, Antonio sangat bodoh. Mengapa dia tidak menyembunyikan kedua orang tuanya. Dan mengapa dia harus mengusik pria iblis seperti Xerdan. Sekarang penyesalan itu datang. "Xerdan, bunuh aku, jangan orang tuaku."

"Hm, sayangnya aku tidak mau, Uncle."

Saat keduanya tengah fokus berbincang, suara tembakan pun kembali terdengar. Antonio menatap ke arah layar, menampilkan wajah sang ibu yang penuh dengan darah. Melihat itu, rasanya Antonio ingin benar-benar mati, dunianya telah direnggut sebagian. Tidak lama suara tembakan lagi-lagi terdengar, kali ini sang ayah.

Xerdan mendekat ke arah Antonio, lalu berbisik, "Ini pria yang kau sebut anak kemarin sore, Uncle. Pria yang saat itu kau jadikan objek percobaan sekaligus pelecehan, sekarang kau akan merasakan akibatnya."

"Jordan, sudah mengikat dia dengan benar?" tanya Xerdan, membuat Jordan mengangguk.

"Jika dia mati, maka tidak akan merasakan sakit. Jadi, lebih baik kita keluar, lalu ...." Xerdan tidak menyelesaikan ucapannya, tetapi Jordan mengerti apa yang dimaksud tuannya itu.

Mereka keluar dari ruangan tersebut, lalu masuk ke dalam lift yang sudah terbuka. Jordan menekan angka 1 yang berarti mereka akan turun ke lantai 1.

***

Sesampainya di lantai 1, Jordan dan Xerdan langsung keluar dari lift, menuju ke pelataran parkir. Jordan memberikan sebuah remote kecil yang sudah dirancang khusus.

"Tuan, ini," ucap Jordan.

Xerdan mengalihkan pandangan ke arah Jordan, lalu menerima benda yang diberikan oleh Jordan. Sebelum menekan tombol yang ada di remote tersebut, Xerdan menatap ke arah gedung itu dengan tatapan tajam dan intens.

"Orang yang lemah, tidak akan lemah selamanya, dan orang yang kuat, tidak mungkin terus kuat. Anak kecil yang dulu ketakutan karena perbuatan kalian, kini sudah dewasa. Dia datang untuk membalas dendam. Kini, satu persatu dendam itu sudah terbalaskan, selamat menikmati penderitaan para penjahat," pungkas Xerdan dengan senyum sinisnya.

Jordan menatap Xerdan sambil mengulas senyum tipisnya. Dia tumbuh bersama pria itu dari kecil, sehingga tahu apa yang pernah dialami tuannya. Pengalaman buruk dan kelam yang menimpa sang tuan, membuat dia tahu betapa rapuhnya Xerdan saat itu. Namun, sekarang dia berubah, menjadi sosok manusia berhati iblis, yang tidak memiliki hati serta perikemanusiaan sama sekali.

"Tuan," panggil Jordan.

Xerdan yang tengah terdiam pun langsung menoleh ke arah Jordan. "Iya," sahutnya.

"Ayo, Tuan. Segera lakukan, sebelum ada yang mengetahui apa yang telah kita lakukan," ucap Jordan.

Xerdan mengangguk, lalu masuk ke dalam mobil. Saat sudah keluar dari halaman gedung tersebut, pria itu menekan tombol yang ada di remote kecil itu. Setelahnya, terdengar suara ledakan yang menghancurkan gedung itu.

"Pembalasan yang sempurna," gumam Xerdan dengan senyum mengerikannya.

Tanpa mereka sadari, ada seorang pria paruh baya yang terus memperhatikan aksi jahat mereka. Pria itu mengulas senyum lebarnya. "Benar-benar keturunanku," ucap pria itu, lalu masuk ke dalam mobil dan melaju meninggalkan tempat itu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

Smith

Bab 1
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED