Happy Reading and Enjoy~
Ruangan itu gelap dan lembab, bau busuk dan besi karat menguar menjadi satu. Terdengar suara nyaring antara besi yang bertemu dengan kulit, tapi tidak ada jeritan.
Segala mimpi buruk ada di tempat ini, mimpi yang akan terus di simpan tanpa kemampuan untuk membuang.
Seorang gadis kurus dengan tangan dan kaki dirantai meringkuk di sudut ruangan. Matanya menatap was-was tempat yang menjadi akhir dari takdirnya.
Bukan hanya dia yang berada di ruangan ini, puluhan wanita lain juga menunggu giliran.
Mereka akan dijual.
Berita itu seharusnya menjadi berita yang membahagiakan, tergantung pada siapa yang membeli. Nasib mereka akan berubah seiring dengan pemiliknya.
Nathalie menelan ludah dengan susah payah, kerongkongannya kering. Rasa haus yang mencekik membuatnya terpaksa mengerang untuk memanggil algojo berbadan besar yang berdiri di pintu luar.
Dan tentu saja suara sekecil apapun akan terdengar di telinga mereka yang tajam.
Pintu dibuka dengan kasar. Seorang algojo yang membawa cambuk di tangannya memeriksa satu persatu wanita yang berada di sana, mencari sumber suara yang menghasilkan keributan.
Sebuah erangan tidak bisa dikatakan sebagai keributan, tetapi dalam ruangan sunyi itu helaan napas yang terlalu kuat juga bisa menjadi gangguan dalam pendengaran.
Nathalie mengangkat tangannya takut-takut, memberi isyarat bahwa dialah yang mengerang tadi. Algojo itu mengangkat alisnya sebelah, tangannya sudah terangkat bersiap melayangkan cambuk ke tubuh Nathalie yang penuh luka.
Buru-buru Nathalie menunjuk tenggorokannya, dengan sorot sendu berharap air dapat mengalir di sana.
"Kau mau minum?"
Nathalie mengangguk antusias. Algojo itu tersenyum miring, melepas cambuk dari tangannya dan mulai menurunkan resleting celananya. Dia berjalan ke arah Nathalie, mengarahkan juniornya tepat di depan bibir gadis itu.
"Buka mulutmu," perintahnya dengan suara tegas.
"Aku akan memberimu minum."
Nathalie membelalakkan matanya dan langsung beringsut mundur sembari menggeleng-geleng takut. Air matanya mengancam keluar. Diantara puluhan wanita yang berada di sana hanya dialah yang memiliki reaksi terhadap apapun tindakan yang dilakukan padanya.
Jika wanita lain akan menurut dengan pandangan kosong, karena jiwa mereka sudah mati. Hanya tersisa tubuh tanpa pikiran. Itulah yang menjadi penyebab dirinya malam ini akan dijual dengan harga yang paling tinggi dan wanita terakhir sebagai penutup pelelangan.
"Atas dasar apa kau menolak, pelacur!" Algojo itu membentak, lalu mendekat dan menjambak rambut Nathalie.
Menangkup belakang kepalanya untuk mengarahkan wajah Nathalie ke juniornya.
Sebelah tangannya yang lain digunakan untuk mencengkram dagu Nathalie. Memaksa agar bibir itu terbuka. Dan tentu saja tidak perlu waktu lama sampai cairan kuning membasahi bibir beserta wajah gadis malang itu.
Tidak bisa menghindar dengan tubuhnya yang kecil dan lemah, mau tidak mau cairan kuning itu masuk ke dalam mulutnya dan berhenti tepat di ujung kerongkongannya.
Nathalie langsung memuntahkannya, bau pesing menguar dari hidungnya, membuat kepalanya terasa sakit.
Bukannya merasa kasihan, algojo itu tanpa perasaan melayangkan cambuknya ke tubuh Nathalie yang penuh luka.
"Kau pikir siapa dirimu bisa memuntahkannya begitu saja. Dengar pelacur, aku bersumpah kau tidak akan bisa menikmati minuman lezat manapun selain dari air seniku."
Satu tamparan kuat mendarat mulus di wajah Nathalie, membuat tubuhnya limbung dan telinganya berdengung. Sudut bibirnya sendiri sudah berdarah, sebelum luka lama sembuh sudah ada luka baru.
Satu algojo menghampiri mereka, melihat bergantian ke arah Nathalie dan juga temannya.
"Kau lupa kalau hari ini mereka dijual? Jangan menyakiti mereka lebih parah atau pelanggan yang berminat semakin sedikit."
Algojo yang memberinya air seni itu tertawa hingga tubuhnya berguncang.
"Wajah dia cantik, dan dia satu-satunya perawan yang masih tersisa. Kau juga tau bahwa dia tidak terpengaruh pada obat kita, kan? Dia masih memiliki reaksi, hal yang mustahil jika dia tidak laku malam ini. Aku hanya memberinya sedikit pelajaran, tidak perlu khawatir seperti itu."
Sebelum pergi, algojo itu meludah dan mendarat tepat di atas paha Nathalie.
Hal ini sudah biasa, dan menjadi makanan sehari-hari bagi para gadis yang berada di tempat terkutuk ini. Mereka akan dijadikan budak dan diperlakukan sesuka hati, hidup mereka tidak penting lagi.
Yang lebih parah, terserah pada majikan ingin menjadikan mereka sebagai apa.
Jika mereka mendapat majikan kejam yang menginginkan mereka menjadi anjing, maka mereka akan melaksanakannya. Makan langsung dengan mulut, memakai kalung anjing, dan menggonggong ketika dipanggil.
Seharusnya itu lebih baik dari pada harus tinggal selamanya di dalam ruangan gelap lembab yang mengerikan ini, makan makanan busuk setiap hari, lalu mendapat perlakuan kasar. Tapi jika dipikir kembali, seorang dominan tidak mungkin lebih baik dibanding para algojo yang berada di sini.
Nathalie sendiri tidak tahu mengapa dirinya berakhir di tempat mengerikan ini, ia tidak mengingat apapun. Yang diingatnya hanyalah ruangan gelap kosong penuh binatang yang menjadi tempatnya untuk tidur setiap hari.
Bentakan algojo yang menyuruh mereka untuk segera bersiap-siap dan membersihkan diri menggema di langit-langit ruangan.
Mandi menjadi impian mereka, terutama Nathalie. Mungkin wanita-wanita lain tidak terlalu mempermasalahkannya. Sebab, tubuh mereka hanya berisi jiwa kosong.
Satu persatu mereka dibawa ke kamar mandi yang terdapat bak besar. Tidak seperti kebanyakan orang pada umumnya, mereka duduk berjejer di lantai kamar mandi yang dingin, lalu para algojo menyiram tubuh mereka secara brutal. Tidak ada acara mandi secara bersih dan puas
Masih dengan kekasaran yang sama, para algojo itu menyabuni tubuh dan juga rambut mereka secara acak, sesekali melakukan pelecehan terhadap wanita yang memang sudah tidak perawan.
Sementara para wanita yang masih perawan, lebih dulu selesai mandi termasuk Nathalie. Ia dibawa ke dalam ruangan, lalu dipakaikan baju tipis. Tidak bisa benar-benar dikatakan sebagai baju, sebab dari segala arah memperlihatkan lekuk tubuhnya.
Kemudian mereka dibawa ke ruangan gelap yang tampak bersih diantara puluhan ruangan yang berada di sana. Ruangan itu menjadi tempat mereka menunggu giliran.
Gelap dan senyap, sudah menjadi keadaan yang wajar. Hingga rasa kantuk tiba-tiba menyerangnya, Nathalie jatuh tertidur. Rasanya ia belum pernah merasakan kenyamanan seperti ini, tubuhnya terasa segar terkena air dan juga tempat yang lembab tanpa ada bau busuk.
Hanya beberapa menit setelah Nathalie memejamkan mata, perutnya ditendang dengan kuat. Membuatnya sontak membuka mata dan langsung beringsut.
Hanya dirinya yang tersisa di sana, para wanita yang berada di ruangan yang sama dengannya tadi sudah tidak ada.
Seorang algojo berbadan besar menarik rambutnya hingga membuat tubuhnya berdiri.
"Jalan! Sudah giliranmu."
Nathalie diseret tanpa tahu dirinya mau dibawa kemana, hingga sebuah tirai di singkap, puluhan manusia berada di sana. Dan dirinya menjadi sorotan, dipaksa duduk di sebuah bangku kosong yang berada tepat di tengah-tengah panggung.
Seketika ia meringkuk, mencoba menghindar dari puluhan manusia dan juga cahaya lampu yang menyakitkan mata.
"Lihat ke depan dan duduk tegak, kalau tidak cambuk ini berakhir di tubuhmu!"
Itu sebuah ancaman, dan ia sudah terbiasa mendengarnya. Matanya melirik takut-takut ke arah cambuk kasar yang berada di tangan algojo, menelan ludahnya gugup, ia mencoba duduk tegak, meski kepalanya menunduk dalam.
"Dia harta karun kami, cantik dan masih perawan. Dia satu-satunya budak yang masih memiliki reaksi, tapi tenang saja. Jika dia berbuat macam-macam, Anda bisa membawanya pada kami untuk diisolasi."
Tawaran hargapun dimulai. Hari ini dirinya punya manjikan baru, tapi … ini jugalah kesempatannya untuk melarikan diri.
Bersambung ....
Happy Reading and Enjoy~
Saat harga berhenti pada 1jt usd seorang pria bertubuh gempal berseru.
"Buka bajunya, kami ingin melihat tubuhnya. Budak ini yang paling spesial dan sampai pada harga tinggi. Kami akan rugi jika dia benar-benar tidak perawan."
Beberapa pria lain yang mendengar itu mengangguk setuju. Nathalie langsung beringsut mundur, berniat turun dari bangku tinggi yang didudukinya. Sayangnya algojo yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk langsung sigap menghampirinya.
Menahan kedua bahu Nathalie dan langsung menarik bajunya lepas hingga tubuhnya terekspos.
"Jauhkan tanganmu darinya, 10jt usd aku akan membelinya."
Suara lantang itu menghentikan sorak sorai para pria yang ingin melihat inti tubuh Nathalie. Tatapan mereka beralih secara bersamaan ke arah lelaki yang memakai tuxedo navy dengan topeng rubah.
"Ada yang bisa menawar lebih tinggi lagi?"
Hanya orang tidak waras yang mengeluarkan uang 10jt usd untuk seorang budak. Tapi lelaki itu tampak santai, seolah-olah 10jt usd bukanlah jumlah yang besar.
Hening, semuanya memilih mundur. Lebih baik mereka menghabiskan uang untuk membeli budak sebanyak mungkin, daripada harus membeli satu budak dengan harga setinggi itu.
Palu diketuk, dan Nathalie resmi menjadi milik lelaki misterius itu. Lelaki itu berjalan ke atas panggung, memakaikan baju tipis Nathalie lalu menyelimutinya dengan tuxedo yang dikenakannya.
Tidak seperti majikan lain yang memilih membawa budaknya dengan cara menyeret atau menjambak, lelaki itu memilih menggendong Nathalie. Memperlakukan budak itu seperti wanita rapuh lainnya.
"Aku akan membawanya pulang, bawahanku yang akan mengurus pembayarannya."
Nathalie bergerak tidak nyaman, jantungnya berdegub ketika mereka menuju lift besi yang menuju lantai atas. Tangannya mencengkram erat kemeja lelaki tidak dikenal yang menggendongnya ini. Ia melupakan luka bakar yang berada di punggungnya, ia ingin segera bebas.
"Bisakah kau sembunyikan wajahmu?"
Lelaki itu berkata saat mereka sampai di lantai atas. Tanpa di perintah dua kali Nathalie sudah menelusupkan wajahnya di dada lelaki tak dikenalnya ini. Terlalu banyak orang asing, dan suara musik yang keras.
Ia sudah terbiasa dengan keheningan dan kegelapan, semua ini terasa asing baginya.
Langkah lelaki itu berhenti ketika mereka sampai di mobil yang sudah menyambut, ini saatnya untuk kabur.
Saat lelaki itu menurunkan tubuhnya.
Tanpa berkata apa-apa, Nathalie memilih membalikkan tubuhnya dan langsung berlari. Hanya beberapa langkah sebuah tangan memeluk pinggangnya, menarik tubuhnya dengan mudah hingga ia menabrak sesuatu yang terasa keras di belakangnya. Nathalie langsung memberontak dengan tubuh bergetar.
Tubuhnya melayang, ia kembali diangkat. Nathalie semakin memberontak ketika dirinya berhasil duduk di dalam mobil yang akan membawanya pergi entah kemana. Kenangan lalu kembali masuk berkelibat di dalam pikirannya.
Dulu ia juga dibawa pergi dan berakhir di tempat tekutuk itu. Apa sekarang dirinya akan berakhir di tempat yang lebih parah? Tanpa sadar air matanya mengalir, Nathalie terisak dengan tubuh bergetar. Kepalanya menggeleng panik ketika mobil yang dinaikinnya mulai berjalan.
"Hei kau kenapa?"
Lelaki yang menggendongnya itu mendekat, berniat ingin memeluknya agar dirinya sedikit tenang. Tapi bukan membuatnya tenang, ia malah semakin bergetar. Bersembunyi di balik tuxedo kebesaran yang menyelimuti tubuhnya.
Tangannya berusaha menutupi kepalanya, Nathalie sudah siap menerima pukulan yang akan mengenainya.
"Aku tidak akan memukulmu, jangan takut seperti itu. Namamu Nathalie, kan? Nathalie, coba lihat aku, aku di sini untuk menjagamu. Tenang, manis, mulai saat ini tidak akan ada yang menyakitimu. Aku janji."
Nathalie tetap tidak bergerak, kukuh menutup kepalanya dengan tangan. Menyembunyikan wajahnya di dalam kerah tuxedo kebesaran yang dipakainya. Ia tidak bisa mendengar apapun, yang ada dipikirannya hanya suara-suara cambuk yang menemaninya selama ini.
Bahunya disentuh dengan lembut sebelum tubuhnya ditarik masuk ke dalam pelukan seseorang. Nathalie memberontak, tapi kemudian ia sedikit meringis ketika lukanya terasa perih saat ia bergerak. Ada luka baru yang di dapatnya beberapa hari yang lalu.
"Mulai sekarang aku adalah tuanmu, tapi kau bisa memanggilku Arthur tanpa memakai kata 'tuan'. Aku yang akan mengurusmu mulai sekarang, jadi kau harus menuruti apa perkataanku."
Perlahan Nathalie mendongak, menatap wajah Arthur dengan pandangan bertanya. Apa ia akan di pukul jika tidak menuruti perkataan Arthur? Apa ia akan mendapat siksaan yang lebih parah lagi? Banyak pertanyaan lain yang melintas di pikirannya, tapi ia tetap memilih diam tanpa berbicara.
Karena semua itu terasa sia-sia, pertanyaannya tidak akan dijawab. Dan pendapatnya tentang apapun itu tidak akan di dengar. Meski sudah punya tuan baru, ia tetap tidak akan bisa hidup seperti dulu. Karena hingga mati dirinya akan berakhir sebagai budak.
Arthur mengulurkan tangannya menyentuh dahi Nathalie lembut.
"Jangan menatapku dengan raut wajah seperti itu, sudah kukatakan aku tidak akan menyakitimu."
Tangan Arthur berpindah pada ujung bibir Nathalie yang membiru, bekas tamparan algojo yang di dapatnya tadi. Selain bibirnya yang membiru, ada beberapa luka lain di wajahnya. Beberapa memar di tulang pipi dan dahinya. Bahkan sebelah kelopak matanya membengkak, membuat mata indah itu sedikit tertutup.
"Sekejam apa mereka memperlakukanmu hingga membuat wajahmu seperti ini?"
Arthur mengerutkan dahi seolah menyadari sesuatu, lalu dengan sigap ia membuka tuxedo yang menutup tubuh Nathalie. Menyingkap kain tipis yang dikenakannya dan melihat satu luka yang masih bernanah dan tampak mengerikan.
Itu seperti luka bakar yang berasal dari besi panas atau ... cerutu?
Arthur menyentuh pinggiran luka yang masih basah itu dan mendapati Nathalie meringis. Wanita itu menarik dirinya dan kembali melindungi kepalanya.
Ia merasa bersyukur ketika melihat lelaki itu tidak mendekat. Tubunya belum terbiasa disentuh dengan cara yang lembut seperti itu.
Ia sudah terbiasa mendengar bentakan, jeritan dan cambuk. Punya tuan baru merupakan anugrah, tapi Nathalie tetap ingin kabur. Ia hanya ingin sendiri, menjauh dari semua manusia yang berada di bumi.
Karena manusia tidak ada yang baik, mereka hanya baik ketika pertama kali bertemu denganmu. Jika mereka tahu kelemahanmu dan kekuranganmu, mereka akan memanfaatkan lalu menyiksamu, parahnya akan meninggalkanmu.
Nathalie sudah merasakan semua itu, ia hanya ingin hidup sendiri tanpa siapapun.
Tiba-tiba hatinya berdenyut, keinginannya terlalu jauh. Bisa keluar dari tempat mengerikan itu saja sudah merupakan keajaiban.
Arthur menahan kedua bahu Nathalie, mendongakkan wajahnya agar menghadap lelaki itu.
"Aku ingin mengobati lukamu, jangan takut," katanya lembut sembari tersenyum menenangkan.
Tidak mempedulikan sikap Nathalie yang jelas-jelas menolak, Arthur menyentuh lukanya dengan sesuatu yang terasa ... dingin?
"Aku tidak punya persedian lengkap di dalam mobil. Nanti setelah sampai kau akan diperiksa oleh dokter. Setelah itu aku akan mengajarimu banyak hal, mengerti?"
Nathalie hanya berkedip bingung, memilih tidak menjawab. Ia tidak terbiasa bersuara, itulah mengapa dirinya hampir saja lupa bagaimana caranya berbicara.
Arthur menghela napas perlahan.
"Kau mengerti apa yang kukatakan, Nathalie?"
Masih tidak mengangguk ataupun merespon, Nathalie hanya mengedipkan matanya. Entah itu sebagai jawaban atau memang sudah saatnya kelopak mata itu berkedip.
"Jika kau tidak keberatan dengan ucapanku, kau harus menganggukkan kepalamu sebagai jawaban 'ya' dan jika kau tidak setuju, kau bisa menjawabnya dengan menggelengkan kepalamu." Arthur menirukan ucapannya.
"Nah, setelah sampai nanti kau akan diberi obat oleh dokter. Apakah kau mau sembuh? Oh, atau apakah kau mau tubuhmu tidak sakit lagi? Jika kau setuju dan merasa itu adalah hal yang baik, maka kau harus ...?"
Nathalie menganggukkan kepalanya pelan, merasa ragu-ragu. Saat melihat senyum tersungging dari bibir Arthur, ia merasa ini adalah hal yang benar.
"Gadis pintar." Arthur mengacak rambutnya pelan.
Bersambung ....
Happy Reading and Enjoy~
Arthur mengubah gaya tidurnya, berbalik ke kanan lima menit lalu kembali telungkup. Tidak sampai tiga menit ia mengubahnya lagi menghadap ke kiri. Begitu terus sampai menjelang pagi.
Sejak kejadian beberapa bulan lalu tidurnya selalu gelisah. Ia teringat kejadian mengerikan yang bahkan tidak bisa diingatnya. Meskipun masalah selesai karena kembarannya itu memilih menikah dengan sahabatnya, tetapi tetap saja rasa bersalah menghantuinya.
Karena perbuatannya Ara memilih menikah yang membuat kembarannya itu tidak bahagia. Arthur mengerang frustrasi. Mungkin hanya dirinya yang seperti ini, mungkin sekarang Ara sedang tidur nyenyak. Kembarannya itu tidak terlalu mempermasalahkan apa yang terjadi.
Mereka berdua punya perasaan yang sama. Yang berbeda hanya cara dalam memelihara rasa yang mereka miliki. Jika Ara menganggap kejadian itu sebuah dosa yang menyangkup keberuntungan, maka Arthur sendiri menganggap kejadian itu sebagai malapetaka seutuhnya.
Sebab ''tidur'' dengan kembaran sendiri yang disukai malah memperburuk keadaan dan rasa suka yang entah sejak lama bersarang di dalam hatinya. Arthur malah memiliki keinginan kuat untuk menikahi kembarannya alih-alih menggunakan ''tidur'' sebagai alasan.
Sejak beberapa bulan yang lalu jugalah ia memutuskan untuk lebih sering terjun dalam dunia bawah. Mencoba menghilangkan rasa frustrasi dengan melihat pelelangan budak di dunia bawah. Tentunya ia juga meminta bantuan pada paman Sebastian-tangan kanan ayahnya--untuk memberitahu klub mana yang sedang melakukan pelelangan.
Meskipun tinggal di negara yang berbeda, wawasan Sebastian tentang klub-klub yang bergerak di dunia bawah tidak perlu diragukan lagi. Itulah mengapa sebelum memilih klub yang akan di datangi, Arthur sering bertanya pada Sebastian. Hanya untuk memastikan harinya aman saat melihat pelelangan. Ia tidak mau ada gertakan dari segerombolan polisi yang mengacaukan tempat pelelangan.
Arthur menatap jam di ponselnya dengan malas, lalu mencari nomor Sebastian sebelum meneleponnya. Tampaknya malam ini ia akan menghabiskan waktunya di klub.
''Kuharap aku tidak mengganggu waktumu, paman.''
Hening, hanya deru napas yang terdengar. Arthur tersenyum simpul, dia telah mengganggu waktu Sebastian dengan istrinya.
''Malam ini klub biasa.''
Tanpa basa basi, seolah tahu apa yang akan ditanyakannya, Sebastian langsung menjawab.
Arthur tertawa ringan. ''Maaf mengganggu malam indahmu, paman. Kau bisa melanjutkannya lagi.''
Arthur menghubungi Sebastian jika hal itu penting, satu-satunya hal tidak penting adalah menanyakan soal klub. Sayangnya itu yang sering dilakukannya. Sebastian tidak perlu menebak mengapa Arthur meneleponnya di malam hari seperti ini.
Arthur meraih kunci mobilnya. Bersenandung kecil dan langsung menuju klub yang sering di datanginya.
Klub David's salah satu klub yang sering dikunjunginya. Selain menyediakan berbagai macam minuman langka dan mahal, tempatnya juga tertutup. Menjunjung tinggi privasi, itulah sebabnya klub ini banyak dikunjungi para petinggi dan orang-orang penting di negaranya.
Pemilik klub sendiri mengetahui banyak rahasia para petinggi dan orang-orang penting yang berada di negara ini, sayangnya tidak satupun para petinggi dan orang-orang penting itu tahu wajah David. Dia selalu mengenakan topeng, dan kehidupan pribadinya tertutup.
Tidak ada yang bisa menjelaskan bagaimana wajah aslinya, tapi yang pasti David pembisnis muda yang sukses.
Arthur memiliki kartu VIP, membuatnya dengan mudah memasuki dunia bawah tempat pelelangan budak dilaksanakan. Memilih tempat duduk di bagian akhir, ia senang mengamati gerakan tubuh pembisnis dan orang-orang penting yang berada di sana.
Meski wajah mereka ditutupi dengan topeng, Arthur dengan mudah mengingat setiap kebiasaan dan gerakan. Salah satu rahasia sukses yang dimilikinya. Arthur tidak mungkin bekerja sama dengan pembisnis yang tergila-gila pada tubuh wanita dan dominan pada budak-budak yang dibelinya.
Seperti biasa, acaranya cukup membosankan. Budak-budak itu berdiri dengan tatapan kosong, tubuh tanpa pikiran.
''Malam ini kami akan menjual budak yang paling spesial. Dia satu-satunya budak yang masih perawan. Bukan hanya itu, dia juga punya pikiran dan seperti perempuan lain pada umumnya. Tapi tenang saja, dia tetap akan mematuhi perintah. Jika dia berontak dan tidak bisa diatur, Anda bisa membawanya pada kami dalam beberapa minggu untuk diisolasi.''
Arthur berniat pergi, tapi mengurungkan niatnya ketika mendengar kalimat itu. Selama ia mengikuti pelelangan belum pernah ada yang hidup. Semua wanita yang menjadi budak seolah mati, mereka berdiri bagaikan boneka.
''Nathalie!''
Seorang wanita diseret agar mengikuti langkah algojo berbadan besar, dipaksa duduk di bangku tinggi yang menjadi tempat para budak-budak sebelumnya.
Kedua bola mata wanita itu menatap takut-takut ke arah semua orang yang berada di sana. Arthur tersenyum tipis, wanita itu memang memiliki reaksi.
Tubuhnya kurus, ada puluhan lebam yang berada di sekitar pundak dan kakinya. Setidaknya itulah yang terlihat. Wajahnya pucat, dan kerutan di dahinya membuat Arthur memiliki dorongan kuat untuk menghilangkannya.
Aneh, ia ingin membawa gadis itu pulang lalu memeluknya dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Bahwa gadis itu aman bersamanya. Tidak tahu apa yang merasuki pikirannya, tetapi ketika mereka ingin melihat alat kelamin gadis itu . Ia menyebutkan angka yang mungkin bisa di catat dalam sejarah pelelangan.
Yang dia tau, Nathalie harus dirawat dengan baik. Gadis itu memiliki reaksi, tidak seperti budak-budak lainnya. Arthur tidak tahu dari mana rasa ketertarikan ini berasal, tetapi mari anggap saja itu sebagai hadiah keberuntungan bagi gadis itu karena dirinyalah yang membeli.
Pembeli yang lain belum tentu memperlakukannya dengan hormat. Mereka membeli budak untuk memuaskan nafsu, bukan untuk membebaskan. Yah, meskipun nanti ketika Nathalie berada di tangannya ia tidak akan membebaskannya juga. Setidaknya Arthur tidak akan menyakiti budaknya sendiri.
Mungkin ia akan mengajari Nathalie beberapa hal agar gadis itu bisa seperti wanita-wanita lainnya. Agar ia bisa menghentikan pembantunya dan membuat gadis itu mengerjakan pekerjaan rumah. Tapi alih-alih berangan seperti itu, disinilah ia sekarang.
Menatap tubuh polos Nathalie di dalam bathub. Ia berniat memandikan Nathalie. Gadis itu meringis saat luka-lukanya terkena air. Ada binar senang di wajahnya saat melihat seluruh tubuhnya tertutup busa. Ia mendongak menatap Arthur dengan sorot takut, ragu-ragu mengambil air lalu memasukkannya ke dalam mulut dengan cepat.
Arthur tercengang, itu air sabun!
''Muntahkan! Kenapa kau meminumnya?''
Tanpa sadar suaranya meninggi, membuat gadis itu beringsut mundur dengan memeluk kedua lututnya. Arthur mencengkram pundaknya, menekan kedua pipi Nathalie.
''Muntahkan, Nathalie! Kenapa kau meminumnya? Kau bisa sakit.''
Tidak ada jalan lain, Arthur memasukkan telunjuknya ke kerongkongan Nathalie. Membuat gadis itu memuntahkan isi perutnya.
''Kalau kau haus dan ingin minum, aku akan memberikannya. Jangan pernah minum air dari kamar mandi lagi, kau mengerti?''
Nathalie mengangguk takut-takut, matanya berair karena dipaksa mengeluarkan isi perutnya.
Arthur mengerang, akan sejauh mana usahanya nanti agar bisa membuat Nathalie seperti gadis normal. Tampaknya ia harus menyewa seseorang untuk mengajari gadis itu.
''Buka mulutmu.''
Arthur mengambil sikat gigi miliknya lalu menggosok gigi Nathalie.
''Mulai hari ini dan seterusnya, kau harus menyikat gigimu ketika mandi. Kau juga harus mengenakan sabun dan shampo, ini untuk badan, sementara yang ini untuk rambut.''
Ia menunjuk satu persatu botol yang berjejer di sana.
''Basuh mulutmu dan jangan meminum airnya.''
Nathalie melakukannya dengan baik, membuat Arthur tersenyum puas. Tampaknya tidak terlalu buruk mengajarinya.
''Tutup matamu dan tenangkan tubuhmu, iya seperti itu. Aku akan mencuci rambutmu.''
Arthur menarik keinginannya. Ia sendiri yang akan mengajari Nathalie, tidak perlu orang lain. Karena melakukannya terasa ... menantang.
Bersambung...