Victoria Calloway berdiri di depan gedung pengadilan, matanya menatap langit senja Manhattan yang berubah warna keemasan. Udara sore terasa dingin, tapi bukan itu yang membuatnya gelisah. Sidang hari ini telah berakhir, namun pikirannya masih tertinggal di dalam ruang sidang, bersama Damian Whitmore.
Untuk pertama kalinya, pria itu menunjukkan sedikit celah-sebuah kilatan emosi yang hampir tidak terlihat di balik ekspresinya yang selalu terkendali. Itu cukup untuk membuat Victoria yakin bahwa ada sesuatu yang lebih dalam antara mereka.
Dia menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya. Namun, sebelum ia bisa beranjak, suara familiar menyapanya.
"Masih berpikir tentang persidangan, Calloway?"
Victoria menoleh dan menemukan Theodore Hayes, pengacara lawan, berdiri beberapa langkah darinya. Pria tua itu mengenakan setelan mahalnya dengan sempurna, sikapnya santai seolah kemenangan sudah berada di tangannya.
"Apa pun yang kau rencanakan, Hayes, itu tidak akan berhasil," jawab Victoria dingin.
Theodore tersenyum kecil, matanya menyipit penuh perhitungan. "Aku hanya ingin memperingatkanmu. Keluarga Holloway tidak akan membiarkanmu menang begitu saja. Mereka punya koneksi, Calloway. Bahkan Whitmore pun tahu batasannya."
Victoria menegang. Ada sesuatu dalam nada bicara Theodore yang membuatnya merasa tidak nyaman.
"Kau pikir aku takut?"
Theodore tertawa pelan. "Bukan soal takut, tapi soal cerdas. Aku menyarankan kau mundur selagi bisa. Kalau tidak, mungkin kau akan menemukan dirimu dalam posisi yang tidak menyenangkan."
Victoria mengangkat dagunya, menatapnya tanpa gentar. "Aku tidak mundur dari pertarungan."
Theodore hanya tersenyum sebelum melangkah pergi, meninggalkan Victoria dengan pikirannya yang semakin dipenuhi tanda tanya.
Jika bahkan seseorang seperti Theodore menyebut nama Damian seolah hakim itu memiliki keterbatasan, berarti ada sesuatu yang lebih besar terjadi di balik layar.
Dan Victoria berniat untuk mencari tahu apa itu.
Malam itu
Victoria duduk di kantornya, dikelilingi tumpukan dokumen yang harus ditelaah untuk persidangan besok. Tapi pikirannya terus berkelana ke arah lain-ke arah Damian Whitmore.
Lima tahun lalu, pertemuan mereka tidak berlangsung di ruang sidang seperti hari ini. Tidak ada palu keadilan atau aturan hukum yang membatasi mereka.
Hanya ada malam yang gelap, angin musim gugur yang dingin, dan dua orang yang tidak seharusnya bertemu.
Victoria menggigit bibirnya, mencoba menyingkirkan kenangan itu dari pikirannya. Tidak ada gunanya mengingat masa lalu. Damian Whitmore sekarang bukanlah pria yang ia temui kala itu. Dia adalah hakim yang bisa menghancurkan kasus ini dengan satu ketukan palu.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Nama di layar membuatnya terkejut.
Damian Whitmore.
Tangannya sedikit ragu sebelum akhirnya menekan tombol jawab.
"Whitmore," sapanya singkat.
"Aku ingin bicara," suara Damian terdengar rendah dan tegas di seberang telepon.
Victoria menyandarkan punggungnya ke kursi. "Kita sudah bicara banyak di ruang sidang tadi. Apa lagi yang ingin kau katakan?"
Hening sesaat.
"Lima tahun lalu," kata Damian akhirnya.
Jantung Victoria berdegup lebih cepat.
"Kita tidak membicarakan itu," katanya tajam.
"Tapi aku tahu kau mengingatnya."
Victoria menutup matanya, mencoba mengendalikan emosinya. "Apa yang terjadi malam itu tidak ada hubungannya dengan kasus ini, Damian. Aku adalah jaksa, dan kau adalah hakim. Itu saja."
Damian tidak langsung menjawab. Tapi ketika dia berbicara lagi, suaranya lebih lembut, hampir seperti bisikan.
"Kau yakin?"
Victoria membuka matanya, tatapannya dingin. "Ya. Aku yakin."
"Kalau begitu, aku akan melihatmu di ruang sidang besok," katanya sebelum menutup telepon.
Victoria menatap layar ponselnya, perasaan bercampur aduk menguasainya.
Damian Whitmore bukan pria yang mudah digoyahkan. Jika dia mulai mengungkit masa lalu mereka, berarti ada sesuatu yang sedang terjadi.
Dan Victoria harus memastikan dia tetap mengendalikan permainan ini.
Keesokan Harinya - Ruang Sidang
Persidangan hari ini berjalan lebih tegang dari sebelumnya. Victoria mengajukan lebih banyak bukti, membangun kasusnya dengan setiap pernyataan saksi dan dokumen yang disajikan.
Namun, semakin ia melangkah maju, semakin banyak pula rintangan yang muncul.
Theodore Hayes terus mencoba menggiring opini seolah kasus ini hanyalah upaya jaksa untuk mencari perhatian. Beberapa saksi yang seharusnya bersaksi untuk Victoria tiba-tiba menarik diri, memberikan alasan yang mencurigakan.
Dan yang paling mengganggunya adalah Damian.
Pria itu tetap netral, seperti seharusnya seorang hakim. Tapi Victoria bisa merasakan sesuatu yang berbeda. Seolah ada ketegangan tersembunyi dalam setiap keputusan yang diambilnya.
Hingga akhirnya, di tengah persidangan, sesuatu terjadi.
"Yang Mulia," kata Theodore, berdiri dari kursinya dengan ekspresi puas. "Kami memiliki bukti baru yang harus dipertimbangkan dalam kasus ini."
Victoria mengernyit. Ini tidak ada dalam rencana.
"Bukti apa?" tanya Damian, ekspresinya tetap netral.
Theodore menyerahkan sebuah dokumen kepada panitera, yang kemudian diberikan kepada Damian.
Saat Damian membaca isi dokumen itu, ekspresinya tetap terkendali-tetapi Victoria melihat rahangnya mengeras.
"Apa maksudnya ini?" tanya Damian, suaranya sedikit lebih berat dari biasanya.
Theodore tersenyum tipis. "Dokumen ini membuktikan bahwa Jaksa Calloway memiliki hubungan pribadi dengan seseorang yang terlibat dalam kasus ini lima tahun lalu. Dengan kata lain, ada kemungkinan besar terjadi konflik kepentingan."
Jantung Victoria seketika berhenti berdetak.
Dia tahu apa yang Theodore maksud.
Dia sedang membicarakan malam itu.
Di dalam ruang sidang yang penuh sesak itu, Damian perlahan mengangkat pandangannya dan menatap langsung ke arah Victoria.
Untuk pertama kalinya sejak persidangan dimulai, ada sesuatu yang nyata dalam ekspresinya.
Bukan hanya keterkejutan.
Bukan hanya kemarahan.
Tapi juga rasa kecewa.
Dan saat itu juga, Victoria menyadari satu hal.
Pertarungan ini baru saja berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Ruang sidang tiba-tiba terasa lebih sempit, udara seakan menekan Victoria Calloway dari segala arah. Tatapan Damian Whitmore menusuk seperti belati yang tajam, dingin dan penuh penilaian.
Dia tidak mengatakan apa-apa, tetapi ekspresinya berbicara lebih keras daripada ribuan kata yang bisa diucapkannya.
Victoria menelan ludah, menegakkan bahu dengan mantap. Ini bukan pertama kalinya dia dihadapkan pada situasi sulit di persidangan, dan ini bukan saatnya untuk goyah.
"Yang Mulia," suaranya terdengar tegas meski ada nada tajam yang tak bisa disembunyikan, "ini adalah upaya yang sangat transparan untuk mendiskreditkan saya. Hubungan pribadi yang diklaim oleh pihak pembela tidak ada relevansinya dengan kasus ini."
Theodore Hayes, pria tua yang selalu menikmati momen seperti ini, hanya tersenyum tipis. "Oh, tapi Jaksa Calloway, yang kita bicarakan di sini bukan sekadar hubungan biasa. Fakta bahwa Anda memiliki keterlibatan dengan seseorang dalam kasus ini bisa membahayakan objektivitas Anda."
Victoria mengepalkan tangannya di bawah meja. "Apakah Anda memiliki bukti bahwa saya bertindak tidak profesional dalam kasus ini?"
Theodore mengangkat bahunya dengan angkuh. "Kami hanya ingin memastikan bahwa persidangan ini adil. Jika memang tidak ada konflik kepentingan, mengapa Anda begitu defensif?"
Damian menatap Victoria lebih lama sebelum akhirnya berbicara. "Apakah Jaksa Calloway ingin memberikan pernyataan terkait tuduhan ini?"
Victoria menegakkan tubuhnya. "Tidak ada konflik kepentingan di sini, Yang Mulia. Saya hanya melakukan pekerjaan saya sebagai jaksa, sama seperti yang selalu saya lakukan."
Ruangan terasa semakin tegang.
Damian menghela napas pelan sebelum mengalihkan perhatiannya ke Theodore. "Saya akan meninjau dokumen ini lebih lanjut, tetapi sampai ada bukti nyata bahwa Jaksa Calloway bertindak tidak profesional, saya tidak akan menganggap ini sebagai sesuatu yang dapat mendiskreditkan kasusnya."
Victoria hampir menghembuskan napas lega, tapi dia tidak boleh lengah.
"Namun," Damian melanjutkan, suaranya lebih dingin, "saya ingin berbicara dengan Jaksa Calloway secara pribadi setelah persidangan ini selesai."
Victoria menegang.
Theodore tersenyum licik. "Tentu, Yang Mulia."
Dengan ketukan palu, persidangan ditunda sementara.
Namun bagi Victoria, pertempuran sesungguhnya baru akan dimulai.
Setelah Persidangan – Ruang Hakim Whitmore
Victoria melangkah ke dalam ruang kerja Damian dengan langkah mantap, meskipun di dalam dirinya, ada sesuatu yang terasa seperti bom waktu yang siap meledak.
Damian berdiri di dekat jendela, punggungnya menghadapnya. Matahari sore yang mulai terbenam memantulkan cahaya ke siluetnya, menambah aura tak tersentuh yang selalu dimilikinya.
"Tutup pintunya," perintahnya tanpa menoleh.
Victoria menghela napas pelan sebelum menurut. Saat dia berbalik, Damian akhirnya menoleh, menatapnya dengan tatapan yang lebih dingin daripada yang pernah dia tunjukkan di ruang sidang.
"Lima tahun," katanya, suaranya terkontrol namun mengandung sesuatu yang berbahaya. "Lima tahun, dan kau tidak pernah berpikir untuk memberi tahuku?"
Victoria mendengus pelan, menatapnya dengan tajam. "Itu bukan sesuatu yang perlu kau ketahui."
Damian tertawa kecil, tetapi tidak ada humor di sana. "Tidak perlu aku ketahui?" Dia melangkah mendekat, menurunkan suaranya. "Victoria, kau tahu persis bahwa malam itu tidak pernah selesai bagi kita."
Jantung Victoria berdebar, tapi dia tidak menunjukkan kelemahannya. "Malam itu sudah berakhir, Damian. Dan apa pun yang terjadi, itu tidak ada hubungannya dengan kasus ini."
Damian menyipitkan mata. "Jangan mencoba membodohiku, Victoria. Theodore Hayes tidak akan mengungkit ini jika dia tidak memiliki sesuatu yang lebih besar di tangannya. Jadi katakan padaku yang sebenarnya."
Victoria menelan ludah, mencoba tetap tenang. "Yang sebenarnya adalah aku di sini untuk mencari keadilan, bukan membahas masa lalu yang sudah seharusnya kita lupakan."
Damian menatapnya lama sebelum akhirnya menghela napas, nada suaranya sedikit lebih lembut. "Kau benar-benar ingin berpura-pura tidak ada apa-apa?"
Victoria mengangkat dagunya. "Aku sudah melupakan malam itu, Damian. Mungkin kau juga seharusnya melakukan hal yang sama."
Hening yang terjadi terasa lebih berat daripada argumen di ruang sidang. Damian akhirnya melangkah mundur, matanya masih menelusuri wajah Victoria seolah mencari sesuatu yang hilang.
"Aku tidak bisa melupakannya," katanya pelan. "Dan aku tidak percaya kau bisa."
Victoria mengalihkan pandangannya, merasa dirinya mulai goyah. "Aku harus pergi."
Dia berbalik dan membuka pintu sebelum Damian sempat mengatakan sesuatu lagi.
Namun, tepat sebelum dia keluar, Damian berbicara, kali ini dengan suara yang lebih dalam, lebih berbahaya.
"Hati-hati, Victoria."
Victoria berhenti sejenak, lalu tanpa menoleh, dia melangkah pergi.
Damian Whitmore bukan hanya seorang hakim di ruang sidang. Dia juga seseorang yang bisa mengguncang dunianya dengan cara yang tidak pernah bisa dilakukan siapa pun.
Dan saat ini, Victoria tidak yakin apakah dia siap menghadapi konsekuensinya.
Malam Itu – Apartemen Victoria
Victoria duduk di sofanya dengan segelas anggur merah di tangannya, pikirannya masih berkecamuk.
Damian benar-Theodore Hayes tidak akan menyinggung masa lalunya jika dia tidak memiliki sesuatu yang lebih besar.
Tapi bagaimana? Bagaimana Theodore bisa mengetahuinya?
Lima tahun lalu, tidak ada saksi. Tidak ada jejak yang ditinggalkan. Itu adalah sesuatu yang hanya diketahui oleh mereka berdua.
Kecuali...
Victoria menghela napas dalam-dalam. Jika seseorang membocorkan informasi itu, berarti ada yang mengawasi mereka sejak awal.
Dan itu berarti dia harus lebih berhati-hati.
Ponselnya berbunyi, dan ketika dia melihat nama di layar, tubuhnya menegang.
Nomor tidak dikenal.
Dengan sedikit ragu, dia mengangkatnya.
"Calloway," sapanya hati-hati.
Hening.
Lalu, suara berat seorang pria terdengar di seberang.
"Aku harap kau menikmati permainan ini, Victoria."
Suara itu mengirimkan gelombang ketakutan di tulangnya.
"Siapa ini?" tuntutnya.
Tawa rendah terdengar dari seberang. "Seseorang yang tahu lebih banyak daripada yang kau kira."
Victoria mengepalkan tangannya. "Apa maumu?"
"Berhenti mengejar kasus ini."
Napasnya terhenti.
"Jika tidak," lanjut suara itu, "mungkin semua orang akan tahu lebih dari sekadar satu malam kecil yang kau bagi dengan Hakim Whitmore."
Panggilan terputus sebelum Victoria sempat membalas.
Tangan Victoria menggenggam ponselnya erat, matanya membara dengan kemarahan.
Mereka ingin dia mundur.
Mereka pikir dia akan takut.
Tapi mereka salah besar.
Victoria tidak akan mundur.
Sebaliknya, dia akan mencari tahu siapa yang berani mengancamnya-dan memastikan mereka menyesalinya.