Kurang lebih dua setengah jam kemudian, aku telah menantinya di pintu yang menghubungkan garasi dan rumah kami.
Begitu Diana turun dari mobil ditemani Kakek Anwar, kuraih tubuh istriku, kubawa ke dalam dekapanku, kuusap-usap punggungnya mencoba menyalurkan kehangatan tubuhku.
"Sayang, di pelukankulah tempatmu berada, bukan di luar yang dingin, atau di kampung Kakek Anwar yang sepi dan mencekam," bisikku lirih.
Aku bahkan sama sekali tak mempedulikan Kakek Anwar yang langsung masuk ke rumah lewat dapur sambil membawa barang-barang bawaan Diana. Entah apa isinya, mungkin pakaian dan oleh-oleh dari kampung si kakek.
Setelah puas memeluk dan menciuminya, baru aku lihat wajah istriku yang sayu, matanya sembab dan membengkak akibat kebanyakan menangis. Hampir dua minggu dia menghilang dari pandanganku.
Kuajak dia ke kamar Rafael dan kubiarkan melepas rindu dengan buah hati kami. Diana kembali menangis sambil menciumi Rafael yang sepertinya tak merasa terganggu tidurnya. Diana menangis memang tak mengeluarkan suara, hanya air mata.
Lalu kubimbing dia ke kamar kami.
Aku begitu ingin membawa istriku ke atas ranjang. Aku sangat ingin menikmati kebersamaan kami lagi dalam surga dunia milik kami yang selama ini nyaris terlupakan. Aku bahkan sama sekali tidak menghiraukan Kakek Anwar yang entah sedang apa di belakang sana.
"Sayang, pipimu masih sakit?" tanyaku sambil meraba pipinya dengan perasaan berdosa.
Seperti yang kusangka, air matanya kembali meleleh, lalu aku rengkuh tubuhnya dengan rasa cinta yang kurasakan begitu besar dan tinggi. Jauh melebihi rasa yang pernah ada sebelumnya.
"Sayang, udah dong nangisnya, entar kering matamu," rayuku sambil menciumi pipinya perlahan, terasa sedikit asin karena air matanya.
Mata Diana terpejam dan tak dibukanya lagi, seolah-olah pasrah menantikan sesuatu yang akan kuperbuat atas dirinya. Tanganku melingkar di pinggangnya yang ramping, sementara bibirku merambat naik ke matanya, mencium kelopak matanya satu per satu dan mengeringkan air matanya lewat sapuan bibirku, lalu pindah ke daun telinganya.
"Kalau kamu gak keberatan aku ingin sekali memberimu hadiah teristimewa, boleh kan sayang," bisikku.
Diana mengangguk pelan.
Aku kecup bagian belakang daun telinganya, sambil mengontrol kelembaban lidahku. Kepalanya miring ke kiri membiarkan diriku bebas menikmati lehernya yang jenjang. Kudengar rintihan lirih mulai keluar dari bibirnya. Kaos yang menutupi bahunya kusingkapkan sedikit. Kuciumi daerah itu dan pekikan kecil terlepas dari mulutnya, lalu aku bawa dia ke atas singgasana surga dunia kami.
Lima belas menit kemudian, aku jatuh terkulai lemas di samping Diana yang memejamkan matanya; sekilas aku lihat ekspresi wajahnya teramat datar, padahal sebelumnya dia tampak semringah. Aku telentang menatap langit-langit, jiwaku terasa kosong, walau menikmati sisa-sisa gejolak yang baru saja aku tumpahkan, namun aku juga merasa ada sesuatu yang berbeda dalam diri istriku.
"Mas, boleh aku bicara jujur," ucap Diana tiba-tiba dan sangat lirih.
Aku menoleh menatapnya yang juga sedang memandangku. Aku mencoba menangkap sesuatu yang ganjil di matanya. Bola matanya polos seolah tidak ada apa-apa di sana.
"Katakanlah," ucapku pelan seraya mengelus-elus wajahnya yang terasa mulai dingin. Cepat sekali suhu tubuhnya menurun.
"Maafkan aku yang sebenarnya tidak bermaksud untuk menipumu," ucap Diana makin lirih.
"Menipu bagaimana, Sayang? Aku tidak merasa tertipu kok," tanyaku pelan seraya mendekatkan wajahku ke wajahnya agar suaranya yang lirih bisa kutangkap dengan jelas.
"Sejujurnya, aku sudah tidak merasakan apa-apa lagi dalam percintaan dan rumha tangga kita ini, karena...."
Diana tidak melanjutkan ucapannya aku pun tetap diam menunggu lanjutannya.
Namun lama sekali dia tidak menjawab sampai akhirnya aku yang bertanya. "Jadi kamu tadi berpura-pura menikmatinya?" tanyaku dengan suara bergetar.
Tak salah dugaanku jika sesungguhnya istriku memang bersandiwara seolah sedang sangat puas menerima kenikmatan dariku. Seolah dia juga mencapai orgasme, walau aku juga tidak merasakan ada cairan birahi yang keluar dari dalam dirinya.
"Entahlah Mas, sepertinya aku tidak dapat lagi merasakan momen apapun yang datang darimu, walau aku tahu kamu sudah berusaha keras. Mungkin karena sudah terlalu lama aku diabaikan, jadinya sudah kebal, butuh adaptasi lagi untuk bisa seperti dulu," ucapnya lirih dan aku kehilangan kata-kata.
"Dan aku sepertinya menyerah untuk beradaptasi," lanjutnya lirih.
Aku memang tidak memahaminya, seharusnya tadi aku melakukan pemanasan yang jauh lebih lama sebelum mengajaknya ke punck, karena Diana sudah lama tak kusentuh, bisa jadi sensitifitasnya berkurang.
"Maafkan semua kebodohanku, Sayang. Aku janji setelah ini aku akan memberikan yang terbaik buatmu, aku akan me..."
"Gak usah Mas," pungkas istriku yang membuat ucapanku melayang di udara.
Untuk beberapa saat kami saling berpandangan, sibuk dengan jalan pikiran masing-masing yang berkecamuk.
"Mas, percayalah aku sangat mencintaimu. Aku maunya hanya dirimu yang aku cintai, sama seperti saat pertama kita bertemu."
"Aku tahu itu, Sayang," balasku penuh harapan.
"Tapi ternyata tidak bisa, kini dalam hatiku telah tumbuh cinta yang lain," ucap Diana tanpa ragu.
"Diana, siapa lelaki yang telah mengganggu hatimu!?" tanyaku setengah tak sadar dan agak kencang.
"Jangan berteriak Mas, kasihan nanti Rafa terbangun."
"Diana, apa kehebatan lelaki itu dibanding aku?" tanyaku penasaran suara sedikit ditekan. Aku yakin istriku sedang mengujiku.
"Kalian sama hebatnya, namun kehebatanmu ternyata bukan buatku, Mas. Sejujurnya sebagai seorang istri aku bukan hanya butuh nafkah lahir saja. Aku wanita biasa yang sangat membutuhkan cinta, kasih sayang, perhatian, penghargaan dan nafkah batin yang sewajarnya."
"Aku paham, Sayang, tapi...."
"Mas, tidak akan pernah paham. Sebagai seorang istri, aku butuh nafkah lahir dan batin yang seimbang sesuai kemampuan suami, karena itu sudah kewajibannya," ucapnya dengan suara yang lembut tanpa mempedulikan ucapanku.
Kembali aku terdiam, percuma berdebat tentang siapa yang paling mapan dan kaya raya. Berulang kali Diana telah mengatakan jika dia ingin hidup sederhana asalkan bahagia. Bagi Diana, harta duniawi mungkin ada diurutan kelima. Yang kesatu sampai keempat adalah bahagia, bahagia, bahagia dan bahagia.
Walau hatiku terasa disayat sembilu, namun aku pasrah untuk mendengar curahan hatinya selanjutnya.
"Mungkin menurut Mas, aku terlalu berlebihan menuntut kebahagiaan darimu. Makanya aku mencari itu dari yang lain. Aku ingin hanya denganmu saja bisa mencapai puncak kebahagian kita, namun ternyata itu tidak bisa kita lakukan, karena bukan aku yang ada dalam hatimu."
Ucapan Diana makin jelas arahnya dan kulit wajahku seketika terasa panas, kerongkongan kering dan sulit sekali aku menemukan kata-kata untuk meresponnya atau sekedar membela diri.
"Mak... maksudnya gimana, Diana?" tanyaku pura-pura tak paham, berharap arah pembicaraannya tidak sesuai dengan yang sangat aku takutkan.
"Mas masih ingat Bu Nita?" tanya Diana lirih.
"Bu Nita mana?" Aku balik bertanya masih berpura-pura tenang.
"Aku tidak akan menjelaskan panjang lebar. Tapi bulan lalu aku bertemu dengan mantan kepala sekolah SMP-mu itu. Dan aku tahu kalau dialah yang selama ini ada dalam benakmu saat sedang menyetubuhiku."
"Kam... kam... kamu kenapa menuduhku begitu, Diana?" tanyaku dengan kerongkongan yang benar-benar terasa pahit, kering dan tercekat.
"Aku tidak menuduh. Dan aku juga tidak ingin memulai kembali pertengkaran denganmu. Aku sudah tahu hubungan gelapmu dengan wanita berusia 58 tahun itu."
Kerongkonganku semakin tercekat.
"Awalnya aku masih tidak percaya, namun semua bukti-bukti yang aku kumpulkan selama setahun ini, tak bisa diragukan lagi. Dan Nenek itu pun sudah mengakuinya. Mungkin dia butuh kakek yang lebih muda untuk cucu-cucunya."
Bagai petir yang menyambar mulutku, aku benar-benar terdiam kaku tak berkutik. Berjuta perasaan bergemuruh dalam dada. Malu semalu-malunya karena perselingkuhanku dengan wanita yang usianya lima tahun lebih tua dari ibuku, benar-benar telah diketahui bahkan diintai lama oleh Diana.
"Mas, aku tidak akan menyalahkanmu, karena memang para wanita setengah baya itu jauh lebih baik. Aku pun bahkan bisa menemukan segela apa yang aku cari selama ini justru dari lelaki setengah baya. Kakek Anwar," lanjut Diana yang sontak membuatku tersentak serasa disambar petir.
"Maksudnya?"
"Semua terserah padamu, Mas. Aku sudah buka semuanya. Aku hanya minta cerai darimu agar bisa hidup bahagia menemani Kakek Anwar di kampung yang menurutmu sepi dan mencekam. Tapi di sanalah aku menemukan kebahagiaan dan kesempurnaan sebagai seorang wanita."
"Kam... kamu sudah berapa lama berhubungan dengan Kakek Anwar, Diana?"
"Baru setahun. Aku rasa jauh lebih lama jika dibandingkan hubunganmu dengan Nenek Nita. Aku tahu, sudah hampir sepuluh tahun kamu menjadikan wanita itu sebagai pemuasmu, bahkan ketika kita belum bertemu."
"Aku mau minta cerai, Mas. Aku harap kamu pun penuhi janjimu pada nenek itu. Kasihan dia sudah tua dan teramat menginginkan dirimu."
"Diana, kam...kam...kam..." Aku benar-benar tergagap.
"Mas, keputusanku sudah bulat dan sangat serius. Seserius Nenek Nita yang selalu menanti janjimu untuk menikahinya. Apakah perlu aku panggil Nenek Nita dan Kakek Anwar ke sini?" tantang Diana sambil bangkit dari tidurannya, lantas mengenakan kembali seluruh pakaiannya.
"Diana, de... denger dulu sayang!" Aku berusaha mencegahnya, saat dia akan keluar dari kamar.
"Apalagi Mas?"
"Ba... bagaimana dengan Rafa?"
"Kamu tadi kan udah bilang, tak bisa mengurusnya, biar aku dan Kakek Anwar yang mengurusnya, toh Rafa memang jauh lebih dekat dengan Kakek Perkasa itu kan?"
'Kakek Perkasa?' tanyaku dalam hati dan sabetan pedang yang sangat tajam seketika menghujam jantungku.
'Benarkah aku kalah perkasa oleh lelaki bau tanah itu?'
"Diana, tidak adakah kesempatan yang ke dua belas buatku?" tanyaku bingung, karena lupa, sudah berapa kali Diana memberikan kesempatan padaku.
"Kesempatanmu hanya tinggal dua, Mas. Pertama ceraikan aku, agar bisa bahagia dengan Kakek Anwar. Yang kedua, nikahi Bu Nita agar kalian juga bisa lebih bahagia."
"Kamu...kamu..." Kerongkonganku benar-benar mengering.
"Maaf Mas, aku tidak akan meminta sedikit pun harta gono gini darimu. Aku dan Kakek Anwar sudah mempersiapkan segalanya, bahkan untuk masa depan Rafa sekalipun. Jalan menuju bahagia yang kita tempuh memang berbeda. Dan aku rasa alasan kita pun beda."
"Kamu serius Diana?"
"Seserius kamu meniduri Nenek Nita selama berthaun-tahun itu, Mas."
"Kamu gak butuh harta?"
"Harta bagiku hanya sekedar alat saja, karena ternyata kebahagiaan itu adalah pilihan. Dan aku memilih bahagia bersama lelaki tua yang dulu pernah menjadi sopirmu. Seperti kamu memilih bahagia dengan wanita yang dulu pernah menjadi kepala sekolahmu."
Diana memungkas ucapannya seraya keluar dan menutup kembali pintu kamar.
^*^
Siang itu, di ruang kerjanya yang sejuk ber-AC sentral, Pak Martin duduk diam di balik meja besar yang biasa dipakai memutuskan banyak hal penting. Kursi kulit hitam berukuran jumbo menopang tubuhnya yang tegap, walau pundaknya tampak sedikit merunduk siang ini.
Wajahnya serius, tetapi bukan karena laporan strategis perdagangan, atau tumpukan surat masuk. Melainkan karena satu hal kecil yang tak terduga. Sebuah cerita tanpa judul, terbuka di layar laptopnya.
Pak Martin, lelaki paruh baya yang kini berdiri di puncak karier, sedang diam membatu membaca kisah yang entah bagaimana muncul di folder tak bernama. Ia semula membuka laptop hanya untuk membunuh waktu di sela rapat yang ditunda. Tapi ketika matanya menangkap kalimat pembuka dalam cerita itu, ia tak bisa berhenti membaca.
"Lima belas menit kemudian, aku jatuh terkulai lemas di samping Diana..."
Diana? Nama yang sederhana tapi menggigit. Cerita itu, tentang percakapan intim suami-istri setelah hubungan yang tak lagi menyatu secara batin-menyeretnya masuk seperti pusaran.
Dan makin dalam ia membaca, jantungnya berdetak lebih cepat. Sang istri dalam cerita itu menolak sentuhan, dingin, datar. Bahkan mengaku sudah tidak merasakan apa-apa.
Dan itu sama persis seperti Bu Tita, istrinya Pak Martin.
Bu Tita yang usianya lima tahun lebih muda, yang sejak beberapa tahun lalu selalu menolak ajakannya untuk bersama. Alasannya jelas-sudah menopause, sudah tidak nyaman. Sejak itu, hubungan mereka seperti dua aktor sepanggung tanpa dialog. Hidup berdampingan tanpa keterhubungan.
Pak Martin tak pernah memaksa. Tapi juga tak pernah benar-benar mencoba menghangatkan kembali hubungan itu. Ia sibuk. Sangat sibuk. Mengejar gelar, mengejar jabatan, membangun nama besar. Dan di tengah semua itu... istrinya menjadi latar yang teramat datar.
Namun yang membuat Pak Martin tercekat, adalah bagian cerita tentang tokoh laki-laki yang terlambat menyadari bahwa cinta itu rapuh jika dibiarkan sendiri terlalu lama. Bahwa kehangatan bisa tumbuh dari orang yang tak diduga. Bahkan dari lelaki bau tanah bernama Kakek Anwar itu.
Pak Martin menghela napas panjang. Tangannya menggenggam mouse, mencoba scroll ke bawah. Tapi cerita itu berhenti di situ.
Tak ada nama tokoh laki-lakinya. Tak ada kelanjutannya. Tak ada siapa penulisnya. Bahkan folder tempat cerita itu berada... kini menghilang dari desktop.
Pak Martin menegakkan punggungnya, wajahnya tegang. Bukan karena takut, tapi karena cerita itu laksana cermin yang sengaja diperlihatkan kepadanya.
"Apa itu hanya cerita fiksi? Atau... pengakuan terselubung dari seseorang yang aku kenal?"
Pertanyaan itu menggantung di benaknya. Terlalu banyak kemiripan. Terlalu menyakitkan untuk disebut kebetulan.
Godaan memang datang padanya berkali-kali, tapi ia selalu bisa menahan diri. Ia merasa kuat, merasa terhormat. Tapi hari itu, entah kenapa... ia merasa kalah.
Kalah karena pernah mengabaikan seseorang yang paling setia di rumah. Kalah karena tak menyadari bahwa kesepian bisa membuat siapa pun mencari pelukan baru. Termasuk istrinya.
Pak Martin duduk diam. Satu tangannya kini menutup mulut, jari-jarinya gemetar. Di luar sana, bawahannya menunggu tanda tangan. Tapi ia belum sanggup berdiri.
Cerita misterius itu mungkin hanya fiksi. Tapi luka yang ditinggalkannya, nyata.
Beberapa menit Pak Martin termenung. Lalu dengan nada serak, ia menekan tombol interkom.
"Mesya, tolong ke ruang saya sebentar."
Beberapa saat kemudian, Mesya masuk, membawa iPad dan notes kecil seperti biasa. Ia masih muda, cekatan, dan punya reputasi sebagai pembaca fanatik novel online, terutama genre real life romance di paltform Bakisah. Pak Martin ingat betul: Mesya pernah menangis diam-diam gara-gara salah satu tokoh kesayangannya mati di akhir cerita.
"Iya, Pak?" Mesya angkat suara.
"Kamu suka baca cerita di Bakisah, kan?"
"Suka banget, Pak. Cerita-ceritanya jujur, banyak yang based on true story"
"Saya butuh bantuanmu. Ada satu cerita yang sempat saya baca... Tapi saya gak sengaja menutupnya. Isinya agak... personal."
"Judulnya apa, Pak?"
"Itu dia masalahnya. Saya gak tahu. Tapi tokohnya... ada nama Diana. Dan Kakek Anwar."
"Ceritanya tentang apa, Pak? Saya coba cari."
Pak Martin menatap layar yang kosong.
"Tentang... seorang istri yang merasa tidak dicintai lagi. Lalu ia jujur soal perasaannya. Ada pengakuan. Ada perselingkuhan... bukan hanya dari dia, tapi juga dari suaminya. Tapi yang paling saya ingat... ada satu kalimat soal 'harta duniawi di urutan kelima, sedangkan bahagia ada di urutan satu sampai empat.'"
Mesya terdiam. Ia mencatat cepat.
"Baik, Pak. Saya akan mencarinya."
Hari demi hari berlalu.
Setiap sore, Mesya masuk ke ruangan Pak Martin dengan catatan. Namun ekspresinya selalu sama: bingung dan kosong.
"Saya sudah cari dengan kata kunci 'Diana', 'Kakek Anwar', bahkan 'bahagia urutan satu sampai empat', tapi nihil, Pak. Banyak cerita pakai nama itu, tapi... alurnya bukan yang Bapak maksud."
"Platform Bakisah?"
"Saya sudah cari di 13 paltform novel online yang lagi hit dalam sebulan terakhir. Tidak ada, Pak. Bahkan saya cross-check di forum pembaca, grup-group efbi, teleg dan semua medsos pembaca novel real life... tetap gak ada."
Pak Martin makin gelisah. Ia bahkan diam-diam membuka akun medsos lama, menyusuri hashtag tentang pernikahan, pengakuan, rumah tangga. Tapi tetap nihil.
"Cerita itu seperti muncul hanya untuk saya... dan hilang begitu saja, Mes," gumamnya.
"Apakah Bapak ingin saya rekomendasikan cerita senada, atau dibuatkan yang baru? Banyak sekali di Bakisah, Pak," tawar Mesya dengan hati-hati, suaranya pelan namun penuh niat baik.
Pak Martin tak menjawab. Pandangannya tertuju lurus ke layar laptop yang kini gelap, seperti lubang hitam yang baru saja menelan sebuah kisah yang terlalu dekat-terlalu nyata.
Bukan cerita lain yang ia butuhkan. Bukan rekomendasi atau karangan baru. Ia hanya ingin satu hal: Kelanjutan kisah Diana itu.
Bagaimana akhir cerita Diana?
Bagaimana nasib suaminya?
Siapa sebenarnya Kakek Anwar?
Dan... apakah Rafael bahagia?
Pak Martin menyandarkan tubuh ke sandaran kursi. Untuk sesaat, ia menutup mata. Di balik kelopak yang tertutup, bayangan demi bayangan menyeruak-wajah istrinya, saat masih muda dan hangat. Suara batin yang dulu sering ia abaikan. Serta sesosok bayangan perempuan yang berdiri di ambang pintu dengan mata penuh luka.
Tiba-tiba, suara interkom terdengar.
"Pak Martin, mohon maaf, waktunya pulang. Agenda Bapak untuk hari ini sudah selesai," ucap sopir pribadinya dari luar.
Pak Martin membuka mata perlahan, lalu menatap laptop sekali lagi sebelum menutupnya dengan pelan. Seperti menutup pintu yang tak pernah ingin ia buka, tapi tak sanggup ia tinggalkan.
Ia berdiri, merapikan jas dengan tenang. Namun dalam diam, hatinya berkecamuk.
"Ini bukan cerita fiksi. Aku tahu... ini nyata. Terlalu jujur untuk sekadar rekaan. Dan kalau ini kisah nyata... maka mereka pasti benar-benar ada."
Ia melangkah menuju pintu. Sebelum memutarnya, ia kembali bergumam dalam hati-nada dalam suaranya bukan lagi penasaran, tapi tekad yang mengeras:
"Aku harus menemukan mereka. Diana. Kakek Anwar. Bahkan Rafael... Aku harus tahu kelanjutannya. Bagaimanapun caranya."
Di dalam mobil, dalam perjalanan pulang yang biasanya ia habiskan dengan mengecek dokumen-dokumen atau memejamkan mata sejenak, Pak Martin hanya diam. Pandangannya menembus jendela, namun pikirannya tidak tertinggal di balik kaca mobil. Ia seolah masih di kantor. Masih duduk di hadapan laptop itu. Masih membaca kisah unik itu.
Masih terpaku pada nama: Diana dan Kakek Anwar.
Dan entah mengapa, nama Diana kini mengait kuat pada satu sosok yang selama ini begitu dekat dengannya-Mesya.
"Jangan-jangan... Diana adalah Mesya?"
Gumaman itu hanya bergaung dalam kepalanya. Sebuah dugaan yang muncul begitu saja, lalu mulai menuntut penguatan.
Toh, Mesya memang selalu terlihat menyimpan sesuatu. Tatapannya kadang sayu, suaranya sering terlalu datar untuk perempuan seusianya. Dan... Pak Martin tak bisa memungkiri, dia pernah mendengar kabar jika pernikahan Mesya tak pernah benar-benar bahagia.
Suaminya memang tampan. Tapi terlalu tampan untuk satu perempuan saja. Semua orang tahu, lelaki itu hobi 'bermain'. Mesya sendiri pernah dengan santai berkata,
"Saya sudah tidak terlalu peduli, Pak. Selama saya masih bisa kerja dan nafkah jalan, saya tutup mata."
Dan kini, semua potongan itu... seolah menyatu. Seperti menyusun puzzle gelap dalam ruangan tanpa cahaya.
Tapi satu hal yang membuat Pak Martin ragu, Kakek Anwar?
Tidak mungkin. Mesya, dengan segala pesonanya yang cerdas, elegan, dan masih sangat cantik, bisa jatuh cinta pada lelaki tua?
"Tak masuk akal. Tidak mungkin Mesya tergila-gila pada pria seusia ayahnya."
Pak Martin menatap jalan yang sedang sangat ramai. Dalam hatinya, sebuah misi baru mulai menyala: ia harus menyelidiki ini. Jika benar Mesya adalah Diana yang ada dalam cerita itu, maka kisah itu belum selesai. Dan mungkin... ia sendiri bagian dari kelanjutannya.
Sesampainya di rumah, Pak Martin disambut seperti biasa. Tak ada pelukan, tak ada senyum manja, tapi juga tak ada amarah atau dingin yang menusuk. Istrinya, Bu Tita, hanya menyapa dengan suara tenang dan wajah datar. Mereka lalu duduk di meja makan. Dua piring hangat telah tertata rapi. Seperti rutinitas yang kosong.
Suara sendok dan garpu menjadi latar hening, hingga akhirnya Bu Tita membuka percakapan.
"Pak Firman akhirnya cerai juga, Pah," ucap Bu Tita pelan sambil memotong tempe goreng.
Pak Martin mengangkat wajah. "Cerai? Sama istrinya?"
"Iya. Bu Firman yang minta cerai. Ternyata diam-diam dia udah lama merasa diabaikan. Dan ternyata... dia jatuh cinta sama teman anaknya sendiri. Seseorang yang katanya lebih perhatian."
Pak Martin meletakkan sendoknya.
"Bu Firman kan sudah tua, Mah?" tanyanya cepat, nyaris terbata. Nada suaranya menyimpan gugup.
Bu Tita mengunyah sejenak sebelum menjawab.
"Tua untuk urusan ranjang, mungkin. Tapi kenyamanan itu gak kenal usia, Pah. Justru karena dia sudah terlalu lama merasa sendiri dalam pernikahan. Terlalu sering dibiarkan sepi, terlalu sering hanya jadi pendengar keluh kesah, tanpa pernah didengar."
Pak Martin mencoba tertawa kecil, tapi tawanya hambar. "Tapi sekarang Pak Firman udah pensiun. Harusnya lebih banyak waktu buat istrinya, kan?"
Bu Tita meletakkan garpu. Wajahnya masih tenang, tapi tatapannya menghujam langsung ke hati Pak Martin.
"Luka itu kadang bisa sembuh, tapi tetap meninggalkan retak. Dan kalau dibiarkan terlalu lama, retaknya bisa jadi jurang."
Pak Martin terdiam. Seolah kalimat itu bukan tentang Pak Firman dan istrinya, melainkan tentang dirinya dan istrinya. Tentang seseorang yang dulu dia nikahi dengan harapan besar, tapi terlalu lama dia abaikan saat sibuk mengejar gelar, promosi, dan kehormatan di luar rumah.
Oleng. Itulah kata yang tepat.
Pikiran Pak Martin melayang kembali ke kisah Diana, Kakek Anwar, dan suami yang ditinggalkan. Entah mengapa... semua garis ceritanya terasa makin dekat. Bahkan terlalu dekat.
Apa mungkin... Diana itu istriku?
Tiba-tiba dugaan itu muncul begitu saja, menabrak nalar sehatnya. Tapi ia segera menepis.
"Tidak, itu terlalu mengada-ada. Tapi... mungkin... mungkin luka-lukanya tak jauh beda."
Pak Martin menatap istrinya yang kini tampak begitu asing dalam balutan daster dan rambut dicepol sederhana.
Dan sore itu, untuk pertama kalinya sejak lama, Pak Martin tidak ingin menonton berita, membuka laptop, atau membaca berkas apa pun.
Ia hanya ingin diam. Karena dalam diam itu, batinnya sedang riuh.
^*^