"Lepaskan tanganku, sakit! Kamu mau bawa aku ke mana?!" Alice meronta-ronta dan terus mencoba memberontak saat pergelangan tangannya dicengkeram erat oleh Daniel Myers.
Ting! Pintu lift terbuka dan di dalamnya terdapat beberapa karyawan yang saat ini sedang menatap ke arah Daniel dan juga Alice, bahkan beberapa pasang mata karyawan saat ini sedang tertuju ke arah tangan Daniel yang tengah menggenggam pergelangan tangan Alice dan kejadian ini membuat para karyawan itu menjadi canggung.
"Apa kalian sedang menonton drama?! Cepat, keluar kalian semua dari lift!" Daniel menatap semua karyawannya dengan tatapan iblis sehingga tidak ada satu orang pun karyawan yang berani menolak perintah sang boss dan setelah semua orang keluar dari lift, Daniel langsung menyeret Alice masuk ke dalam lift.
"Sebenarnya kau mau membawaku ke mana?! Tanganku sakit sekali bisakah kau melepaskan tanganku sebentar saja," pinta Alice dengan wajah memelas.
"Apa kau amnesia?! Bukannya kamu sendiri yang mengatakan ingin berbicara dendanku?! Aku sudah mengabulkan keinginanmu dan tujuanku menyeretmu sekarang ini adalah untuk mencegah pelaku kriminal yang telah merusak mobil mewahku kabur tanpa memberikan kompensasi apa pun," sahut Daniel datar.
Alice terdiam dan ia baru ingat tentang mobil mewah Daniel yang ia rusak akhirnya gadis itu pun pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh sang pimpinan perusahaan Myers yang terkenal dingin serta kejam kepada semua orang.
Sesampainya di ruang kerjanya, Daniel langsung menghempaskan tubuh Alice ke sofa sedangkan ia duduk di kursi yang menjadi singgasananya. "Cepat katakan apa yang kau inginkan dariku?
Alice menegakkan tubuhnya serta menunjukkan wajah penuh ketegasan untuk menunjukkan kepada Daniel kalau ia bukanlah seorang gadis lemah yang bisa diinjak-injaki seenaknya. "MYS Apartemen, batalkan perintah penggusuran dan perobohan gedung apartemen itu."
Daniel mengerutkan dahinya, ia tidak paham dengan masalah yang disampaikan oleh Alice.
"Penggusuran? Perobohan gedung?"
"Aku tahu kalau kau adalah orang kaya yang bisa melakukan apa pun yang kau inginkan. tapi tidakkah kau mempunyai sedikit rasa kasihan kepada para penghuni apartemen yang sebagian besar adalah lansia yang sudah tidak memiliki keluarga?! Kalau satu-satunya rumah yang mereka miliki akan dirobohkan lalu ke mana para lansia dan juga orang-orang miskin itu akan tinggal di musim dingin ini?" Alice menyampaikan semua kekhawatiran serta rasa ketakutannya mewakili seluruh penghuni apartemen tempatnya tinggal.
"Lalu apa urusannya denganku?! Bisnis tetaplah bisnis dan tidak ada rasa kasihan kalau semua itu menyangkut tentang uang dan bisnis," timpal Daniel dingin.
"Setidaknya kau bisa mempertimbangkannya dahulu sebelum memutuskan untuk menggusur para penghuni yang kebanyakan dari mereka adalah keluarga miskin serta anak-anak terlantar," ucap Alice.
"Itu bukan urusanku! Kalau kau mau protes langsung saja tulis surat terbuka langsung kepada presiden atau orang-orang di pemerintahan bukannya kepada seorang pengusaha sepertiku yang hanya mengutamakan keuntungan perusahaan saja," tukas Daniel.
Alice berdiri lalu berjalan mendekati meja kerja Daniel dan ia menatap sang CEO itu dengan tatapan memelas. "Tolonglah, aku dan semua penghuni apartemen itu akan melakukan apa saja untuk bisa mempertahankan tempat tinggal kami."
"Pikirkan saja tentang ganti rugi yang akan kau tanggung untuk perbaikan mobilku," ujar Daniel yang menatap Alice dengan sorot tajam.
"Aku janji akan mengganti rugi biaya perbaikan mobilmu itu meskipun dengan mengangsurnya tapi tolong dengarkan aku, masalah apartemen itu lebih penting karena menyangkut puluhan kepala keluarga serta ratusan orang yang akan kehilangan rumah di musim dingin sekarang ini. Mereka semua akan tinggal di mana nantinya?" Alice tidak menyerah untuk memperjuangkan nasib para penghuni apartemen yang sudah menjadi keluarganya selama belasan tahun ini.
Daniel berdiri dari tempat duduknya lalu ia berjalan mendekati Alice, gadis itu berjalan mundur ke belakang sampai punggungnya menabrak dinding. Daniel mengukung tubuh mungil Alice dan perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Alice hingga jarak wajah keduanya hanya beberapa senti saja. Jantung Alice berdebar sangat kencang karena ia belum pernah sedekat ini dengan seorang pria manapun, ia bisa mencium aroma cologne Daniel yang begitu membius indra penciumannya, dada bidang Daniel terlihat sangat kokoh nan bidang dan mampu menyembunyikan tubuh mungil Alice di sana.
Sebagai seorang lelaki, sosok Daniel terlihat sangat sempurna selain wajah yang sangat tampan tubuh lelaki itu juga sangat menggoda, pantas saja jika banyak wanita tergila-gila kepada pimpinan Myers Company bahkan Helena saja sampai mati-matian mempertahankan suaminya dalam pelukannya.
"Lima puluh ribu dolar, total biaya yang harus kau bayar untuk perbaikan mobilku. Cepat bayar sekarang juga, cash."
Netra Alice membulat sempurna setelah ia mendengar jumlah biaya yang harus ia tanggung, jumlah yang tidak sedikit tentunya. "Li--lima puluh ribu dollar? Ta--tapi aku tidak mempunyai uang sebanyak itu, untuk makan sehari-hari saja aku masih kesulitan lalu ba--bagaimana bisa aku membayar tagihan perbaikan mobilmu itu," ucapnya gagap.
"Sudah kuduga kalau kau akan mengatakan hal itu," ucap Daniel seraya menatap mata indah Alice.
"Apa kau masih perawan? Apakah kau bisa mengandung seorang anak?" tanya Daniel kepada Alice yang membuat gadis bertubuh mungil itu tercengang.
"A--pa?! Apa maksud dari pertanyaanmu itu? Bukankah pertanyaan itu sangat tidak sopan, Tuan Myers?!" Alice menunjukkan rasa ketidaknyamanannya dengan pertanyaan yang Daniel lontarkan.
"Jawab saja pertanyaanku!"
"Aku tidak mau menjawab pertanyaan bodohmu itu," sengit Alice.
"Aku tahu kalau kau tidak mempunyai uang sebanyak itu, bagaimana kalau kau membayar semua ganti rugi perbaikan mobilku dengan menggunakan tubuhmu? Aku bahkan akan memberi semua yang kau minta dan menganggap utangmu lunas hanya dengan menggunakan tubuhmu."
"Kau bisa menggunakan tubuhmu. Kita akan bercinta sampai kau hamil dan aku akan membebaskanmu dari utang setelah kau melahirkan anak untukku," ujar Daniel sembari menatap dada Alice.
Bersambung.
"Penawaran terbaik dariku. Tidur denganku lalu lahirkan anak untukku kalau kau benar-benar ingin menyelamatkan gedung apartemen agar tidak kurobohkan, kau bisa menyelamatkan puluhan bahkan ratusan penghuni apartemen itu hanya dengan menggunakan tubuhmu," tukas Daniel.
"Penawaran terbaik katamu?! Ini adalah alasan kenapa aku sangat membenci orang kaya sepertimu, selain kalian itu sombong, gila, tidak punya hati, kejam, orang kaya sepertimu tidak punya otak," maki Alice kasar.
''Terima kasih atas pujiannya," ucap Daniel datar.
"Aku sedang menghinamu bukan memujimu," timpal Alice.
"Tiga hari, kuberi kau waktu untuk berpikir, jika dalam waktu 3 hari kau berubah pikiran langsung saja datang ke kantorku. Setelah kau menyetujui semua penawaran yang kuberikan maka aku akan memberimu surat kontrak yang bisa kau tandatangani, apartemen itu akan selamat dan otomatis semua utangmu kuanggap lu—"
"Tidak perlu!! Langsung saja kau robohkan apartemen itu lalu hubungi polisi dan masukkan aku ke dalam penjara sehingga aku bisa mendekam di dalam sel penjara selama bertahun-tahun, aku rasa itu adalah sebuah keputusan yang terbaik dari pada harus menyerahkan tubuhku kepada pengusaha gila sex sepertimu," potong Alice cepat.
"Polisi? Merobohkan gedung da membiarkan para lansia serta anak-anak terlantar itu jadi gelandangan? Jadi kau ingin membuang mereka ke jalanan dari pada harus menerima tawaranku, hmm, kau sungguh gadis yang sangat menarik. Saat semua perempuan berebut mencari perhatianku tapi kau malah menolakku mentah-mentah," kagum Daniel.
"Tentu saja aku bisa menolakmu karena otakku masih waras, beda lagi dengan gadis-gadis yang kau sebutkan barusan. Aku pikir mereka hanyalah kumpulan perempuan bodoh yang hanya ingin mengincar hartamu saja," timpal Alice dengan nada suara ketus.
Daniel mengambil sebuah kartu namanya dari dalam laci kemudian ia meletakkanya di atas meja tepat di hadapan Alice. "Ambillah kartu namaku jika sewaktu-waktu kau berubah pikiran maka kau bisa dengan mudah menghubungiku," ujarnya.
"Kalau aku benar menghubungimu berarti pikiranku memang sudah benar-benar tidak waras, kau tahu bukan di mana tempat tinggalku? Kirimkan saja polisi dan alat-alat berat ke apartemen itu secepatnya, aku pergi dulu," ucap Alice lalu berjalan pergi menuju ke pintu keluar.
"Apakah kamu yakin ingin menolak tawaranku? Aku rasa kau bisa menyelamatkan lansia dan anak-anak yang terlantar itu kalau kau mau menerima tawaranku, aku tidak akan merobohkan apartemen tua itu kalau kau setuju dengan tawaranku." Daniel menggunakan taktik liciknya untuk menjebak Alice dalam permainannya.
Langkah kaki Alice seketika terhenti, ia menghela napas panjang seraya menutup matanya kemudian ia menoleh ke arah Daniel. "Aku tidak perduli," ucapnya kemudian berlalu pergi.
Daniel tersenyum simpul lalu ia mengangkat telepon untuk menghubungi pengacaranya. "Bisakah kau buatkan aku surat perjanjian? Untuk keterangannya isinya akan aku beritahukan langsung saat kau datang ke sini," pintanya lalu menutup sambungan telepon.
"Kau pasti akan datang ke kantorku, aku sangat yakin." Daniel tersenyum penuh arti.
*****
BRAK!
Begitu sampai di rumah, Daniel langsung masuk ke dalam kamarnya untuk mencari keberadaan Helena. Raut wajah Daniel terlihat sangat kesal dan tentu saja itu semua disebabkan oleh kelakuan istrinya yang selalu berhasil memancing emosinya, lelaki berhidung mancung lancip itu tidak pernah merasakan ketenangan semenjak ia menikahi Helena. Bagaimana mereka bisa hidup dengan tenang dan bahagia kalau pernikahan mereka saja terjadi karena perjodohan yang diatur oleh keluarga besar Myers, awalnya Daniel tidak merasa keberatan sama sekali akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu ia merasa sangat terbebani dan depresi dengan sikap buruk yang ditunjukkan oleh istrinya tersebut.
"Helena ... sudah berapa kali aku mengatakan untuk tidak ikut campur dalam urusan bisnisku, tapi kenapa kamu terus-terusan mengganggu pekerjaanku?!" Tanpa berbasa-basi atau menyapa istrinya terlebih dahulu, Daniel langsung saja memarahi Helena yang sedang duduk sambil bersolek di depan cermin riasnya.
Helena mengerutkan dahinya, tangannya yang sedang sibuk memasang anting mutiara seketika terhenti. "Apakah ini cara menyapa istrimu? Tidak ada kecupan dahi atau senyuman manis tapi kau langsung saja memarahiku begitu sampai di rumah," protesnya kesal.
"Kau memang sangat pantas mendapatkannya," balas Daniel dingin.
"Sebutkan apa kesalahanku yang membuatmu sangat kesal marah dan kesal, cepat sebutkan!" Helena berdiri dari tempat duduknya lalu menatap sang suami dengan tatapan tajam.
"Gedung apartemen MYS. kenapa kau menggusur semua penghuninya dan ingin merobohkannya? Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu untuk tidak mengusik gedung tua itu?! Tapi kenapa kau malah mengusir semua orang dari tempat tinggal mereka hanya untuk membangun sebuah pusat perbelanjaan sampahmu itu," bentak Daniel.
"Oh ... jadi hanya karena masalah kecil seperti ini kau berani memarahiku," sahut Helena.
"Masalah kecil kau bilang! Pakai hati dan otakmu dengan baik, Helena. Aku sengaja tidak menyentuh gedung tua itu karena aku ingin memberi perlindungan kepada anak-anak terlantar yang tidak mempunyai rumah tapi kau malah mengusir mereka dengan sangat sangat kejam," hardik Daniel.
Helena tersenyum sinis. "Apa kau sedang menyembunyikan anak hasil hubungan harammu di sana? Sampai hati kau memarahiku hanya karena gedung tua itu," tuduhnya.
Tangan Daniel mengepal erat serta rahangnya mengeras setelah mendapat tuduhan dari Helena. "Aku tidak akan menyembunyikan anakku walaupun itu dari hasil hubungan gelap sekalipun, justru aku akan dengan bangga mengenalkannya kepada dunia dan kau tahu apa yang akan aku lakukan kepadamu? Aku akan langsung menceraikanmu agar aku bisa tinggal bersama dengan anak dan ibu dari anakku itu," tukasnya.
Helena berjalan mendekati Daniel, saat suaminya itu sudah berada dalam jangkauannya .
PLAAAKKK!
Helena mendaratkan tamparan ke pipi Daniel, wanita terlihat sangat marah dan tidak terima dengan pernyataan Daniel yang begitu menyakitkan. Hati wanita mana yang tidak sakit saat sang suami memperlakukannya seperti seorang musuh bukan sebagai istri yang seharusnya menerima limpahan kasih sayang serta perlindunga. Helena sudah terlanjur sakit hati akan tetapi ia terus saja bertahan karena rasa cintanya kepada Daniel.
"Tidakkah kau merasa puas setelah menyakitiku? Setidaknya kau bisa sedikit menjaga perasaanku, aku juga sangat ingin memberimu seorang anak akan tetapi Tuhan masih belum mengizinkanku untuk mengandung. Aku juga sangat depresi tapi kau tidak pernah mau mengerti keadaanku serta kesulitanku, kalau kau memang menginginkan seorang anak seharusnya kau bisa bersikap sedikit lembut kepadaku dan kita bisa mulai menjalankan program bayi tabung," ujar Helena.
"Dalam beberapa bulan ini, pernahkah kau menyentuhku? Pernahkah kau bersikap lembut kepadaku dan menatap mataku dengan penuh cinta? Aku setiap hari selalu berdandan cantik untukmu tapi kau tidak pernah memujiku, kau bahkan tidak pernah menatap wajahku lalu dari mana kita bisa memiliki anak kalau selalu bersikap dingin kepadaku," imbuh Helena dengan mata yang berkaca-kaca.
Daniel mengelus rambut Helena lalu ia menarik rambut panjang istrinya itu ke belakang sehingga kepada istrinya mendongak ke atas. "Berdandan cantik untukku, kau bilang? Aku sudah muak dengan semua aktingmu, jadilah seorang aktris dan aku yakin kau akan mendapatkan banyak sekali piala Oscar berkat aktingmu itu," ujarnya.
"Akting apa yang kau maksud, hah?! Dasar laki-laki berengsek," umpat Helena sembari memegang tangan kekar Daniel yang masih menjambak rambutnya.
"Beraktinglah sesuka hatimu dan aku tidak akan pernah perduli, cepat tandatangani surat cerai dariku atau aku akan melakukan segala cara untuk memaksamu menandatangani surat cerai itu," paksa Daniel.
"TIDAK MAU! SAMPAI MATIPUN AKU TIDAK AKAN PERNAH MAU BERCERAI DARIMU," teriak Helena.
"Baiklah, kau sendiri yang mengingkan ini dariku dan aku tidak akan tinggal diam," ujar Daniel seraya menghempaskan kepala Helena kasar kemudian ia pergi meninggalkan sang istri.
*****
Tiga hari kemudian .…
Satu per satu alat berat datang bergantian, puluhan pekerja dari perusahaan konstruksi Myers serta puluhan polisi juga sudah berdatangan. Mereka semua kini telah memenuhi halaman apartemen MYS dan sedang menunggu perintah dari Daniel untuk melakukan pengosongan serta perobohan gedung, Semua penghuni gedung terlihat berkumpul di sebuah aula, semua orang tampak menangis sedih karena sebentar lagi mereka akan menjadi gelandangan yang terlunta-lunta di jalanan saat musim dingin seperti ini.
Alice saat ini sedang berdiri di depan pintu, tatapan matanya terlihat sedih sedangkan pikirannya saat ini sedang kacau memikirkan nasib penghuni gedung. Ia sebenarnya tidak tega melihat para lansia dan anak-anak yatim piatu itu hidup terlunta-lunta di jalanan akan tetapi ia juga tidak mau menjadi budak CEO kejam itu. Namun, sayangnya Alice tidak mempunyai banyak pilihan yang bisa bebas dipilihnya saat ini, dengan langkah yang berat serta linangan air mata gadis itu pun berjalan pergi meninggalkan gedung apartemen MYS.
BRAAAK!
Alice menerobos masuk ke kantor Daniel tanpa permisi terlebih dahulu sehingga membuat Daniel dan juga sekretarisnya yang sedang mengobrol tersentak kaget. Daniel dan sekretarisnya menatap Alice, Daniel tersenyum tipis begitu melihat kedatangan Alice seakan-akan ia sudah mengetahui semua yang akan dikatakan oleh gadis cantik yang sedang diincarnya tersebut.
"Kau sudah datang," ucap Daniel.
"Cepat batalkan perobohan gedung apartemen itu dan aku akan melakukan semua yang kau inginkan. Aku akan menyerahkan tubuhku untuk melahirkan anakmu seperti yang kau inginkanm," ujar Alice yang sudah benar-benar putus asa.
Bersambung.