Daniel sedang bersantai di kantornya dan tiba-tiba ia dikejutkan oleh kedatangan seorang gadis cantik bermata biru, hanya melihat sekilas dari wajah si gadis saja Daniel sudah bisa menebak kalau gadis itu sedang marah akan tetapi ia sendiri tidak mengetahui kesalahan apa yang telah ia perbuat sampai membuat gadis yang kini sedang berdiri di depan meja kerjanya itu marah besar.
"Apa kau tidak punya sopan santun? Setidaknya kau harus mengetuk pintu dulu sebelum masuk ke ruanganku.”
Gadis itu langsung melempar selembaran kertas yang sejak tadi dibawanya itu ke wajah Daniel. "Aku datang ke sini bukan untuk bersopan santun seperti yang kau inginkan. Tuan Myers. Kau adalah seorang pengusaha berengsek yang tidak punya hati sehingga kau tidak pantas untuk mendapatkan penghormatan dariku.”
"Apa? Coba ulangi lagi kata-katamu.”
"Selain angkuh, sombong dan berengsek ternyata kau juga tuli rupanya. Aku paling benci dengan orang jahat sepertimu seharusnya kau ditendang ke neraka, dasar berengsek!! Jangan mentang-mentang kau adalah pemilik gedung apartemen MYS sampai kau tega melakukan penggusuran,” maki Alice tanpa basa-basi karena ia sudah sangat emosi kepada lelaki berwajah dingin yang sedang duduk di kursi kekuasaannya.”
"Jadi kau datang ke sini lalu memaki diriku hanya untuk memprotes penggusuran gedung apartemen tua itu? Besar sekali nyalimu, Nona.”Emosi Daniel terpancing sudah karena harga dirinya telah diinjak-injak oleh seorang gadis rendahan yang tidak ia kenal.
"Tentu saja aku berani melakukan protes karena gedung itu adalah satu-satunya tempat tinggalku dan aku minta kepadamu untuk segera membatalkan penggusuran apartemen itu atau--”
"Atau apa, hah?! Aku adalah pemilik gedung apartemen tua itu dan itu adalah hakku jika aku ingin merobohkannya ataupun menjualnya, lebih baik tutup saja mulutmu itu lalu tinggalkan kantorku sekarang juga sebelum aku memanggil keamanan untuk menyeretmu pergi dari sini," ancam Daniel cepat setelah ia memotong kata-kata Alice.
Namun, Alice hanya berdiri mematung sambil menatap Daniel dengan tatapan tajam penuh kemarahan. “Aku tidak akan pernah menyerah dan aku akan menggunakan segala cara untuk mempertahankan gedung apartemen itu.”
"Oh, benarkah? Silahkan saja, kau bisa menggunakan semua kemampuanmu untuk menghalangi penggusuran itu tapi aku tidak yakin kalau kau bisa menghalangi rencanaku. Aku bukanlah tipe orang yang bisa ditundukkan dengan mudah, Nona ….” Daniel menghentikan kata-katanya karena ia tidak tahu nama gadis yang sedang berdiri di hadapannya sekarang ini, tatapan mata Daniel kini tertuju ke arah name tag yang terpasang di baju Alice sehingga Daniel kini mengetahui nama lengkap gadis yang dianggapnya gila itu.
“Nona Alice Morgan, nama yang sangat bagus tapi tidak dengan sikapmu. Sekarang cepat pergi dari kantorku,” usir Daniel.
Alice membalikkan badan kemudian ia pergi meninggalkan kantor Daniel dengan emosi yang masih membara, ia bersumpah akan berjuang mati-matian untuk mempertahankan gedung yang sudah menjadi tempat tinggalnya selama 25 tahun ini dan tidak ada kata menyerah dalam kamus hidup Alice.
“Shit!! Dasar gadis gila tidak berpendidikan, berani sekali dia berkata kasar kepadaku. Lagi pula siapa juga yang menggusur penghuni apartemen tua itu? Kenapa gadis itu seperti orang kesetanan padahal aku tidak mengeluarkan perintah untuk menggusur gedung?“ Daniel mengomel kesal sekaligus penasaran, lelaki itu membaca selebaran kertas yang dilemparkan oleh Alice ke wajahnya tadi.
"Kenapa surat penggusuran ini mengatasnamakan aku? Siapa orang yang berani menggunakan namaku untuk melakukan hal gila ini?”Daniel memutar otaknya dan di dalam pikirannya terlintas satu nama wanita yang selama ini sudah membuatnya jengah dan muak
"Helena … pasti Helena, wanita itu selalu saja melakukan semua yang diinginkannya bahkan sekarang dia bisa bertindak sejauh ini dengan memalsukan namaku untuk melakukan penggusuran gedung apartemen itu. Gedung itu sangat penting bagi keluarga Myers, aku harus menghentikan wanita itu dan aku akan membatalkan keputusanku untuk mengalihkan gedung itu atas nama Helena atau aku akan mendapat masalah besar nantinya,” ujar Daniel.
Daniel membuka laci lalu diambilnya sebuah dokumen yang tersimpan di dalam amplop cokelat kemudian ia segera pergi meninggalkan kantornya.
****
I jam kemudian.
"Cepat tanda tangani surat cerai itu," titah Daniel setelah melemparkan sebuah berkas dokumen ke atas meja rias Helena.
Jari-jari lentik Helena seketika terhenti saat ia sedang memoles bibir mungilnya dengan lipstik warna merah terang. "Surat cerai? Apa kau sekarang ini sedang mabuk?"
"Aku tidak sedang mabuk dan aku sepenuhnya sadar," sanggah Daniel.
"Lalu kenapa tiba-tiba kamu memberiku surat cerai untuk ditandatangani?" Helena menatap tajam wajah Daniel melalui cermin riasnya.
"Kamu sudah tahu jawabannya, bukan? Sudah tidak ada lagi kecocokan di antara kita berdua dan alasan yang utama ada—"
"Masalah anak, bukan? Kita berdua sudah berkali-kali membicarakan tentang masalah ini, Daniel! Dan kau mengatakan akan memberiku kesempatan dengan terus mencobanya," potong Helena cepat.
"Aku sudah menepati ucapanku untuk memberimu kesempatan dan maafkan aku, aku tidak bisa lagi memberikanmu kesempatan karena di satu sisi aku juga sangat membutuhkan seorang pewaris kerajaan bisnisku, Helena. Usiaku akan terus bertambah dan aku tidak mau membuang-buang waktuku untuk terus menunggu seorang pewaris yang tak kunjung hadir," ujar Daniel.
BRAKKK!
Helena menggebrak meja riasnya dan menyebabkan botol-botol parfum serta skincare-nya berjatuhan. "Sampai mati pun aku tidak akan pernah mau menandatangani surat cerai darimu, Daniel. Aku tidak mau bercerai darimu," tegas Helena.
Helena berbalik cepat menghadap Daniel dan menatap suaminya penuh kemarahan. "Memangnya selama ini kau anggap aku apa?! Aku istrimu yang sah dan aku bukan mesin pencetak anak, seharusnya kau bisa sedikit bersabar dan menunggu sampai aku bisa melahirkan keturunan untukmu," protesnya.
"Lima tahun Helena, aku sudah menunggu selama lima tahun seperti yang kau janjikan. Tapi janjimu itu tak kunjung terealisasi dan bagiku kau sudah benar-benar gagal sebagai seorang istri, terima sajalah nasibmu dan cepat tanda tangani surat cerai itu demi kebaikan kita bersama," jelas Daniel.
Wajah Helena berubah merah padam, kedua tangannya mengepal erat lalu ia langsung menyambar dokumen yang diberikan oleh Daniel kepadanya. "Kau ingin aku menandatangani ini, bukan? Baik ... aku akan memberi apa yang kamu inginkan," ujar Helena seraya mengangkat surat cerai pemberian Daniel tinggi-tinggi.
Helena berbalik cepat lalu ia menggeledah laci meja riasnya untuk mencari sesuatu, senyumnya seketika mengembang saat ia menemukan korek api dari laci kedua dan tanpa berpikir panjang perempuan berambut panjang itu langsung memantik korek api kemudian membakar surat cerai sampai berubah menjadi abu. Tawa Helena pecah dan ia merasa sangat senang saat melihat abu surat cerai yang dibakarnya itu berserakan di atas lantai, tatapan mata perempuan itu kembali tertuju ke arah Daniel.
"Abu kertas itu adalah jawabanku, kalau kau ingin bercerai dariku maka kau harus membunuhku terlebih dahulu dan membakarku sampai jadi abu. Kalau kau ingin menyerah dengan pernikahan kita, silakan. Akan tetapi aku tidak akan pernah mau menyerah," tegas Helena.
Daniel menatap Helena, Daniel berjalan mendekati istrinya lalu memegang dagu Helena kuat-kuat. "Kau sudah benar-benar gila, Helena! Aku memang tidak akan pernah bisa membunuhmu dan menjadikanmu abu, tapi aku bisa membuatmu hidup seperti di dalam neraka. Aku akan membuatmu menyerah sehingga kau sendirilah yang akan berlutut dan memohon kepadaku agar aku mau membebaskanmu dari pernikahan ini," tandasnya.
Daniel mengempaskan dagu Helena kasar sampai istrinya itu terjatuh di lantai, lalu Daniel berjalan menuju ke pintu. "Aku mencintaimu, Daniel! Aku tidak akan pernah menyerah dan aku lebih senang hidup di neraka asalkan aku bisa tetap hidup bersama denganmu," teriak Helena yang membuat langkah kaki Daniel terhenti sejenak lalu ia kembali berjalan keluar dari pintu.
BLAM! Daniel menutup pintu dengan sangat kasar sehingga menimbulkan suara berdebam.
Tangis Helena pecah. "Arrrrrrggghhh! Sialan kau Daniel! Kenapa kau membuangku begitu saja seperti sampah hanya karena kau tidak bisa mendapatkan seorang pewaris," teriaknya dengan suara tangis meraung-raung seraya membanting semua barang-barang yang berada di dalam kamarnya.
“Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Daniel. Semua harta milikmu hanya akan menjadi milikku, kau menginginkan seorang pewaris, bukan? Baik … aku akan memberimu seorang anak yang akan mewarisi semua hartamu tapi akan kupastikan kalau anak itu bukanlah darah dagingmu,” ujar Helena sambil menghapus air matanya, wanita itu kemudian tersenyum menyeringai.
“Gedung tua sialan itu, aku harus merobohkannya secepat mungkin sebelum Daniel berubah pikiran dan mengambil gedung itu dariku. Aku harus mengamankan semua aset kekayaan yang pernah dijanjikan oleh laki-laki sialan itu sebelum semuanya kembali diambil oleh Daniel,” sambung Helena.
2 hari kemudian.
Beberapa berandalan suruhan Helena mendatangi gedung apartemen yang ditinggali oleh Alice, para berandalan itu berbuat onar dan mereka juga berani mengancam para penghuni apartemen dengan menggunakan senjata supaya para penghuni apertemen itu ketakutan sehingga mereka semua bisa secepatnya pindah. Alice pun berpikir kalau berandalan itu adalah orang suruhan Daniel makanya gadis itu pun memutuskan untuk pergi ke perusahaan Daniel Myers untuk melakukan negosiasi.
Kini Alice sudah sampai di depan gedung pencakar langit yang berdiri dengan sangat kokoh dan megah, Alice ingin sekali masuk ke dalam untuk menemui sang pemilik perusahaan akan tetapi itu sangatlah sulit mengingat penjagaan di luar gedung yang sangat ketat. Namun, Alice tidak mau menyerah semudah itu dan ia memutar otak untuk mencari agar ia bisa kembali masuk ke dalam gedung. Alice menyelinap dalam rombongan karyawan tapi sialnya ia malah tertangkap petugas keamanan.
"Lepaskan aku!! Aku ingin bertemu dengan Tuan Myers!! Aku harus bertemu dan berbicara dengan Tuan Myers," teriaknya sembari terus memberontak.
“Maaf, Tuan Myers belum datang dan nona tidak bisa bertemu dengan Tuan Myers tanpa membuat janji terlebih dahulu," sahut sang petugas keamanan.
"Bohong!! Jangan membohongiku, aku tahu kalau tuan Myers ada di dalam gedung ini. Tolonglah aku, biarkan aku masuk dan bertemu dengan Tuan Myers karena ini menyangkut tempat tinggal puluhan keluarga miskin yang akan segera digusur oleh Tuan Myers," pinta Alice.
"Maafkan kami, kami tidak bisa menolongmu karena kami hanya menjalankan tugas kami sesuai perintah," ucap salah seorang petugas keamanan.
"Persetan dengan boss kalian!! Cepat lepaskan aku dan biarkan aku masuk ke dalam," bentak Alice emosi.
Ciiitt ... Di saat yang bersamaan, sebuah mobil Rolls-Royce berwarna hitam berhenti tepat di pintu gerbang dan perhatian sang penumpang mobil mewah itu kini tertuju kepada Alice yang tengah mengamuk.
"Ada apa ini? Kenapa kau tidak menjalankan mobilnya?" Tanya Daniel kepada sopirnya.
"Mobilnya terhalang, Tuan. Sepertinya nona muda itu mengamuk dan ia mengatakan ingin bertemu dengan Tuan," jawab sang sopir.
"Acuhkan saja, suruh petugas keamanan untuk mengusir gadis gila itu dari sini. Aku tidak mau waktuku terbuang sia-sia hanya karena gadis gila itu," perintah Daniel.
Sang sopir mengangguk pelan kemudian ia membuka jendela kaca mobil dan berbicara dengan salah satu petugas keamanan. Saat sang sopir dan petugas keamanan menyebut nama Myers, Alice pun langsung tahu kalau orang yang dicarinya ada di dalam mobil yang kini berada di dekatnya.
Alice menginjak kaki seorang petugas keamanan dan ia juga menyikut perut seorang petugas lainnya yang sedang memegangi kedua lengannya, dan barulah gadis itu bisa bebas sekarang. Alice langsung berlari menghampiri mobil Daniel kemudian menggedor kaca jendela mobil mewah Daniel.
"Hei, Tuan Myers. Cepat buka kaca mobilmu, aku ingin berbicara denganmu sekarang juga!!" Alice terus menggedor-gedor pintu kaca mobil seperti orang kesetanan.
Namun, Daniel tidak menggubris perkataan Alice sama sekali.
"AKU BILANG CEPAT BUKA PINTUNYA, DASAR MYERS SIALAN!!" Alice kesal setengah mati karena tidak dihiraukan oleh Daniel, dan tanpa pikir panjang ia langsung mengambil sebuah batu berukuran sedang yang berada di bawah pohon. Alice langsung memukul kaca mobil Daniel dengan menggunakan batu hingga kaca mobil Daniel retak, tentu saja amarah Daniel seketika tersulut dan pria bertubuh Atletis itu langsung turun dari mobil.
"APA KAU SUDAH GILA!!! BERANI-BERANINYA KAU MERUSAK MOBILKU," hardik Daniel.
Bersambung.
"Lepaskan tanganku, sakit! Kamu mau bawa aku ke mana?!" Alice meronta-ronta dan terus mencoba memberontak saat pergelangan tangannya dicengkeram erat oleh Daniel Myers.
Ting! Pintu lift terbuka dan di dalamnya terdapat beberapa karyawan yang saat ini sedang menatap ke arah Daniel dan juga Alice, bahkan beberapa pasang mata karyawan saat ini sedang tertuju ke arah tangan Daniel yang tengah menggenggam pergelangan tangan Alice dan kejadian ini membuat para karyawan itu menjadi canggung.
"Apa kalian sedang menonton drama?! Cepat, keluar kalian semua dari lift!" Daniel menatap semua karyawannya dengan tatapan iblis sehingga tidak ada satu orang pun karyawan yang berani menolak perintah sang boss dan setelah semua orang keluar dari lift, Daniel langsung menyeret Alice masuk ke dalam lift.
"Sebenarnya kau mau membawaku ke mana?! Tanganku sakit sekali bisakah kau melepaskan tanganku sebentar saja," pinta Alice dengan wajah memelas.
"Apa kau amnesia?! Bukannya kamu sendiri yang mengatakan ingin berbicara dendanku?! Aku sudah mengabulkan keinginanmu dan tujuanku menyeretmu sekarang ini adalah untuk mencegah pelaku kriminal yang telah merusak mobil mewahku kabur tanpa memberikan kompensasi apa pun," sahut Daniel datar.
Alice terdiam dan ia baru ingat tentang mobil mewah Daniel yang ia rusak akhirnya gadis itu pun pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh sang pimpinan perusahaan Myers yang terkenal dingin serta kejam kepada semua orang.
Sesampainya di ruang kerjanya, Daniel langsung menghempaskan tubuh Alice ke sofa sedangkan ia duduk di kursi yang menjadi singgasananya. "Cepat katakan apa yang kau inginkan dariku?
Alice menegakkan tubuhnya serta menunjukkan wajah penuh ketegasan untuk menunjukkan kepada Daniel kalau ia bukanlah seorang gadis lemah yang bisa diinjak-injaki seenaknya. "MYS Apartemen, batalkan perintah penggusuran dan perobohan gedung apartemen itu."
Daniel mengerutkan dahinya, ia tidak paham dengan masalah yang disampaikan oleh Alice.
"Penggusuran? Perobohan gedung?"
"Aku tahu kalau kau adalah orang kaya yang bisa melakukan apa pun yang kau inginkan. tapi tidakkah kau mempunyai sedikit rasa kasihan kepada para penghuni apartemen yang sebagian besar adalah lansia yang sudah tidak memiliki keluarga?! Kalau satu-satunya rumah yang mereka miliki akan dirobohkan lalu ke mana para lansia dan juga orang-orang miskin itu akan tinggal di musim dingin ini?" Alice menyampaikan semua kekhawatiran serta rasa ketakutannya mewakili seluruh penghuni apartemen tempatnya tinggal.
"Lalu apa urusannya denganku?! Bisnis tetaplah bisnis dan tidak ada rasa kasihan kalau semua itu menyangkut tentang uang dan bisnis," timpal Daniel dingin.
"Setidaknya kau bisa mempertimbangkannya dahulu sebelum memutuskan untuk menggusur para penghuni yang kebanyakan dari mereka adalah keluarga miskin serta anak-anak terlantar," ucap Alice.
"Itu bukan urusanku! Kalau kau mau protes langsung saja tulis surat terbuka langsung kepada presiden atau orang-orang di pemerintahan bukannya kepada seorang pengusaha sepertiku yang hanya mengutamakan keuntungan perusahaan saja," tukas Daniel.
Alice berdiri lalu berjalan mendekati meja kerja Daniel dan ia menatap sang CEO itu dengan tatapan memelas. "Tolonglah, aku dan semua penghuni apartemen itu akan melakukan apa saja untuk bisa mempertahankan tempat tinggal kami."
"Pikirkan saja tentang ganti rugi yang akan kau tanggung untuk perbaikan mobilku," ujar Daniel yang menatap Alice dengan sorot tajam.
"Aku janji akan mengganti rugi biaya perbaikan mobilmu itu meskipun dengan mengangsurnya tapi tolong dengarkan aku, masalah apartemen itu lebih penting karena menyangkut puluhan kepala keluarga serta ratusan orang yang akan kehilangan rumah di musim dingin sekarang ini. Mereka semua akan tinggal di mana nantinya?" Alice tidak menyerah untuk memperjuangkan nasib para penghuni apartemen yang sudah menjadi keluarganya selama belasan tahun ini.
Daniel berdiri dari tempat duduknya lalu ia berjalan mendekati Alice, gadis itu berjalan mundur ke belakang sampai punggungnya menabrak dinding. Daniel mengukung tubuh mungil Alice dan perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Alice hingga jarak wajah keduanya hanya beberapa senti saja. Jantung Alice berdebar sangat kencang karena ia belum pernah sedekat ini dengan seorang pria manapun, ia bisa mencium aroma cologne Daniel yang begitu membius indra penciumannya, dada bidang Daniel terlihat sangat kokoh nan bidang dan mampu menyembunyikan tubuh mungil Alice di sana.
Sebagai seorang lelaki, sosok Daniel terlihat sangat sempurna selain wajah yang sangat tampan tubuh lelaki itu juga sangat menggoda, pantas saja jika banyak wanita tergila-gila kepada pimpinan Myers Company bahkan Helena saja sampai mati-matian mempertahankan suaminya dalam pelukannya.
"Lima puluh ribu dolar, total biaya yang harus kau bayar untuk perbaikan mobilku. Cepat bayar sekarang juga, cash."
Netra Alice membulat sempurna setelah ia mendengar jumlah biaya yang harus ia tanggung, jumlah yang tidak sedikit tentunya. "Li--lima puluh ribu dollar? Ta--tapi aku tidak mempunyai uang sebanyak itu, untuk makan sehari-hari saja aku masih kesulitan lalu ba--bagaimana bisa aku membayar tagihan perbaikan mobilmu itu," ucapnya gagap.
"Sudah kuduga kalau kau akan mengatakan hal itu," ucap Daniel seraya menatap mata indah Alice.
"Apa kau masih perawan? Apakah kau bisa mengandung seorang anak?" tanya Daniel kepada Alice yang membuat gadis bertubuh mungil itu tercengang.
"A--pa?! Apa maksud dari pertanyaanmu itu? Bukankah pertanyaan itu sangat tidak sopan, Tuan Myers?!" Alice menunjukkan rasa ketidaknyamanannya dengan pertanyaan yang Daniel lontarkan.
"Jawab saja pertanyaanku!"
"Aku tidak mau menjawab pertanyaan bodohmu itu," sengit Alice.
"Aku tahu kalau kau tidak mempunyai uang sebanyak itu, bagaimana kalau kau membayar semua ganti rugi perbaikan mobilku dengan menggunakan tubuhmu? Aku bahkan akan memberi semua yang kau minta dan menganggap utangmu lunas hanya dengan menggunakan tubuhmu."
"Kau bisa menggunakan tubuhmu. Kita akan bercinta sampai kau hamil dan aku akan membebaskanmu dari utang setelah kau melahirkan anak untukku," ujar Daniel sembari menatap dada Alice.
Bersambung.
"Penawaran terbaik dariku. Tidur denganku lalu lahirkan anak untukku kalau kau benar-benar ingin menyelamatkan gedung apartemen agar tidak kurobohkan, kau bisa menyelamatkan puluhan bahkan ratusan penghuni apartemen itu hanya dengan menggunakan tubuhmu," tukas Daniel.
"Penawaran terbaik katamu?! Ini adalah alasan kenapa aku sangat membenci orang kaya sepertimu, selain kalian itu sombong, gila, tidak punya hati, kejam, orang kaya sepertimu tidak punya otak," maki Alice kasar.
''Terima kasih atas pujiannya," ucap Daniel datar.
"Aku sedang menghinamu bukan memujimu," timpal Alice.
"Tiga hari, kuberi kau waktu untuk berpikir, jika dalam waktu 3 hari kau berubah pikiran langsung saja datang ke kantorku. Setelah kau menyetujui semua penawaran yang kuberikan maka aku akan memberimu surat kontrak yang bisa kau tandatangani, apartemen itu akan selamat dan otomatis semua utangmu kuanggap lu—"
"Tidak perlu!! Langsung saja kau robohkan apartemen itu lalu hubungi polisi dan masukkan aku ke dalam penjara sehingga aku bisa mendekam di dalam sel penjara selama bertahun-tahun, aku rasa itu adalah sebuah keputusan yang terbaik dari pada harus menyerahkan tubuhku kepada pengusaha gila sex sepertimu," potong Alice cepat.
"Polisi? Merobohkan gedung da membiarkan para lansia serta anak-anak terlantar itu jadi gelandangan? Jadi kau ingin membuang mereka ke jalanan dari pada harus menerima tawaranku, hmm, kau sungguh gadis yang sangat menarik. Saat semua perempuan berebut mencari perhatianku tapi kau malah menolakku mentah-mentah," kagum Daniel.
"Tentu saja aku bisa menolakmu karena otakku masih waras, beda lagi dengan gadis-gadis yang kau sebutkan barusan. Aku pikir mereka hanyalah kumpulan perempuan bodoh yang hanya ingin mengincar hartamu saja," timpal Alice dengan nada suara ketus.
Daniel mengambil sebuah kartu namanya dari dalam laci kemudian ia meletakkanya di atas meja tepat di hadapan Alice. "Ambillah kartu namaku jika sewaktu-waktu kau berubah pikiran maka kau bisa dengan mudah menghubungiku," ujarnya.
"Kalau aku benar menghubungimu berarti pikiranku memang sudah benar-benar tidak waras, kau tahu bukan di mana tempat tinggalku? Kirimkan saja polisi dan alat-alat berat ke apartemen itu secepatnya, aku pergi dulu," ucap Alice lalu berjalan pergi menuju ke pintu keluar.
"Apakah kamu yakin ingin menolak tawaranku? Aku rasa kau bisa menyelamatkan lansia dan anak-anak yang terlantar itu kalau kau mau menerima tawaranku, aku tidak akan merobohkan apartemen tua itu kalau kau setuju dengan tawaranku." Daniel menggunakan taktik liciknya untuk menjebak Alice dalam permainannya.
Langkah kaki Alice seketika terhenti, ia menghela napas panjang seraya menutup matanya kemudian ia menoleh ke arah Daniel. "Aku tidak perduli," ucapnya kemudian berlalu pergi.
Daniel tersenyum simpul lalu ia mengangkat telepon untuk menghubungi pengacaranya. "Bisakah kau buatkan aku surat perjanjian? Untuk keterangannya isinya akan aku beritahukan langsung saat kau datang ke sini," pintanya lalu menutup sambungan telepon.
"Kau pasti akan datang ke kantorku, aku sangat yakin." Daniel tersenyum penuh arti.
*****
BRAK!
Begitu sampai di rumah, Daniel langsung masuk ke dalam kamarnya untuk mencari keberadaan Helena. Raut wajah Daniel terlihat sangat kesal dan tentu saja itu semua disebabkan oleh kelakuan istrinya yang selalu berhasil memancing emosinya, lelaki berhidung mancung lancip itu tidak pernah merasakan ketenangan semenjak ia menikahi Helena. Bagaimana mereka bisa hidup dengan tenang dan bahagia kalau pernikahan mereka saja terjadi karena perjodohan yang diatur oleh keluarga besar Myers, awalnya Daniel tidak merasa keberatan sama sekali akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu ia merasa sangat terbebani dan depresi dengan sikap buruk yang ditunjukkan oleh istrinya tersebut.
"Helena ... sudah berapa kali aku mengatakan untuk tidak ikut campur dalam urusan bisnisku, tapi kenapa kamu terus-terusan mengganggu pekerjaanku?!" Tanpa berbasa-basi atau menyapa istrinya terlebih dahulu, Daniel langsung saja memarahi Helena yang sedang duduk sambil bersolek di depan cermin riasnya.
Helena mengerutkan dahinya, tangannya yang sedang sibuk memasang anting mutiara seketika terhenti. "Apakah ini cara menyapa istrimu? Tidak ada kecupan dahi atau senyuman manis tapi kau langsung saja memarahiku begitu sampai di rumah," protesnya kesal.
"Kau memang sangat pantas mendapatkannya," balas Daniel dingin.
"Sebutkan apa kesalahanku yang membuatmu sangat kesal marah dan kesal, cepat sebutkan!" Helena berdiri dari tempat duduknya lalu menatap sang suami dengan tatapan tajam.
"Gedung apartemen MYS. kenapa kau menggusur semua penghuninya dan ingin merobohkannya? Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu untuk tidak mengusik gedung tua itu?! Tapi kenapa kau malah mengusir semua orang dari tempat tinggal mereka hanya untuk membangun sebuah pusat perbelanjaan sampahmu itu," bentak Daniel.
"Oh ... jadi hanya karena masalah kecil seperti ini kau berani memarahiku," sahut Helena.
"Masalah kecil kau bilang! Pakai hati dan otakmu dengan baik, Helena. Aku sengaja tidak menyentuh gedung tua itu karena aku ingin memberi perlindungan kepada anak-anak terlantar yang tidak mempunyai rumah tapi kau malah mengusir mereka dengan sangat sangat kejam," hardik Daniel.
Helena tersenyum sinis. "Apa kau sedang menyembunyikan anak hasil hubungan harammu di sana? Sampai hati kau memarahiku hanya karena gedung tua itu," tuduhnya.
Tangan Daniel mengepal erat serta rahangnya mengeras setelah mendapat tuduhan dari Helena. "Aku tidak akan menyembunyikan anakku walaupun itu dari hasil hubungan gelap sekalipun, justru aku akan dengan bangga mengenalkannya kepada dunia dan kau tahu apa yang akan aku lakukan kepadamu? Aku akan langsung menceraikanmu agar aku bisa tinggal bersama dengan anak dan ibu dari anakku itu," tukasnya.
Helena berjalan mendekati Daniel, saat suaminya itu sudah berada dalam jangkauannya .
PLAAAKKK!
Helena mendaratkan tamparan ke pipi Daniel, wanita terlihat sangat marah dan tidak terima dengan pernyataan Daniel yang begitu menyakitkan. Hati wanita mana yang tidak sakit saat sang suami memperlakukannya seperti seorang musuh bukan sebagai istri yang seharusnya menerima limpahan kasih sayang serta perlindunga. Helena sudah terlanjur sakit hati akan tetapi ia terus saja bertahan karena rasa cintanya kepada Daniel.
"Tidakkah kau merasa puas setelah menyakitiku? Setidaknya kau bisa sedikit menjaga perasaanku, aku juga sangat ingin memberimu seorang anak akan tetapi Tuhan masih belum mengizinkanku untuk mengandung. Aku juga sangat depresi tapi kau tidak pernah mau mengerti keadaanku serta kesulitanku, kalau kau memang menginginkan seorang anak seharusnya kau bisa bersikap sedikit lembut kepadaku dan kita bisa mulai menjalankan program bayi tabung," ujar Helena.
"Dalam beberapa bulan ini, pernahkah kau menyentuhku? Pernahkah kau bersikap lembut kepadaku dan menatap mataku dengan penuh cinta? Aku setiap hari selalu berdandan cantik untukmu tapi kau tidak pernah memujiku, kau bahkan tidak pernah menatap wajahku lalu dari mana kita bisa memiliki anak kalau selalu bersikap dingin kepadaku," imbuh Helena dengan mata yang berkaca-kaca.
Daniel mengelus rambut Helena lalu ia menarik rambut panjang istrinya itu ke belakang sehingga kepada istrinya mendongak ke atas. "Berdandan cantik untukku, kau bilang? Aku sudah muak dengan semua aktingmu, jadilah seorang aktris dan aku yakin kau akan mendapatkan banyak sekali piala Oscar berkat aktingmu itu," ujarnya.
"Akting apa yang kau maksud, hah?! Dasar laki-laki berengsek," umpat Helena sembari memegang tangan kekar Daniel yang masih menjambak rambutnya.
"Beraktinglah sesuka hatimu dan aku tidak akan pernah perduli, cepat tandatangani surat cerai dariku atau aku akan melakukan segala cara untuk memaksamu menandatangani surat cerai itu," paksa Daniel.
"TIDAK MAU! SAMPAI MATIPUN AKU TIDAK AKAN PERNAH MAU BERCERAI DARIMU," teriak Helena.
"Baiklah, kau sendiri yang mengingkan ini dariku dan aku tidak akan tinggal diam," ujar Daniel seraya menghempaskan kepala Helena kasar kemudian ia pergi meninggalkan sang istri.
*****
Tiga hari kemudian .…
Satu per satu alat berat datang bergantian, puluhan pekerja dari perusahaan konstruksi Myers serta puluhan polisi juga sudah berdatangan. Mereka semua kini telah memenuhi halaman apartemen MYS dan sedang menunggu perintah dari Daniel untuk melakukan pengosongan serta perobohan gedung, Semua penghuni gedung terlihat berkumpul di sebuah aula, semua orang tampak menangis sedih karena sebentar lagi mereka akan menjadi gelandangan yang terlunta-lunta di jalanan saat musim dingin seperti ini.
Alice saat ini sedang berdiri di depan pintu, tatapan matanya terlihat sedih sedangkan pikirannya saat ini sedang kacau memikirkan nasib penghuni gedung. Ia sebenarnya tidak tega melihat para lansia dan anak-anak yatim piatu itu hidup terlunta-lunta di jalanan akan tetapi ia juga tidak mau menjadi budak CEO kejam itu. Namun, sayangnya Alice tidak mempunyai banyak pilihan yang bisa bebas dipilihnya saat ini, dengan langkah yang berat serta linangan air mata gadis itu pun berjalan pergi meninggalkan gedung apartemen MYS.
BRAAAK!
Alice menerobos masuk ke kantor Daniel tanpa permisi terlebih dahulu sehingga membuat Daniel dan juga sekretarisnya yang sedang mengobrol tersentak kaget. Daniel dan sekretarisnya menatap Alice, Daniel tersenyum tipis begitu melihat kedatangan Alice seakan-akan ia sudah mengetahui semua yang akan dikatakan oleh gadis cantik yang sedang diincarnya tersebut.
"Kau sudah datang," ucap Daniel.
"Cepat batalkan perobohan gedung apartemen itu dan aku akan melakukan semua yang kau inginkan. Aku akan menyerahkan tubuhku untuk melahirkan anakmu seperti yang kau inginkanm," ujar Alice yang sudah benar-benar putus asa.
Bersambung.