"Ana, kau harus datang ke pestaku nanti malam!" ucap Rossie Stuart dengan nada yang tidak ingin dibantah di telepon.
Annastacia menghela napas panjang lalu berkata, "Oke, baiklah. Kau menang, aku akan datang ke pestamu. Tapi aku tak punya baju pesta, kau tahu aku tak pernah melibatkan diriku dalam kegiatan ramah tamah sosialita. Tentu tidak mungkin aku memakai sneli putihku ke pestamu?"
"Jangan pernah menjadikan baju sebagai alasan, dasar wanita konyol! Aku akan mengirimkan baju pesta untukmu sore ini, Sayang. Bye," balas Rossie dengan kata-katanya yang melaju cepat seperti mobil tanpa rem.
Annastacia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sahabat kentalnya itu luar biasa menjengkelkan ketika memiliki keinginan, tak dapat ditolak.
Telepon di meja kerjanya berbunyi, Annastacia segera menjawab panggilan itu.
"Halo."
"Halo, Dokter Anna, Anda harus segera datang ke IGD, ada pasien kecelakaan lalu lintas di tengah kota." Perawat ruang IGD yang menghubunginya dengan nada panik.
"Aku segera ke sana." Annastacia segera berlari menuju ruang IGD.
Ruang IGD sudah seperti pasar malam yang ramai pengunjung, banyak pasien berdarah-darah yang terkapar di bed pasien. Entah kecelakaan lalu lintas apa yang terjadi, yang jelas tampaknya tabrakan itu sangat parah dan memakan banyak korban.
"Oke, mana yang masih bisa diselamatkan?" tanya Annastacia dengan praktis, dia tidak mau mengejar nyawa yang sudah di batas hidup dan mati karena percuma.
"Wanita ini tanda vitalnya masih bagus, Dok," ujar perawat jaga ruang IGD seraya menyerahkan berkas data pasien yang dimaksud.
"Oke, aku akan bersiap di ruang OK. Jangan lupa cek persediaan darah yang sesuai dengan golongan darah pasien ini." Annastacia bergegas ke ruang OK untuk bersiap-siap melakukan operasi.
Dalam 5 menit segalanya sudah siap di ruang OK. "Scalpel, please," ucap Annastacia meminta pisau bedah pada kooperatornya.
Wanita itu mengalami luka sobek tak beraturan non steril di bagian dadanya. Annastacia menyayat bagian tepi luka itu untuk mengecek ada tidaknya kerusakan jaringan di bawah otot.
"Oohh perdarahan arteri, NS please ..., suction ... thanks." Annastacia mencari arteri yang bocor itu berada di mana.
Beruntung tadi dia meminta kantong darah untuk pasien ini, pendarahan hebat terkadang berisiko menyebabkan shock pada pasien operasi pembedahan.
Akhirnya dia berhasil mengikat arteri yang bocor itu dengan benang mikro. Annastacia mencari cedera organ dan jaringan lainnya, sepertinya hanya kontusi saja. Setelah memastikan segalanya aman, Annastacia menjahit kembali otot serta merapikan jaringan kulit yang sobekan lukanya tidak rapi kemudian menjahitnya dengan rapi.
"Selesai. Pindahkan pasien ke ruang observasi. Antar pasien selanjutnya kemari. Aku butuh data kondisi pasien berikutnya segera," ucap Annastacia dengan praktis.
Sepanjang sore itu Annastacia melakukan 3 operasi pembedahan yang menguras tenaganya. Dan dia masih harus pergi ke pesta. Ya Tuhan!
Apa dia harus menyunggingkan senyum di wajahnya yang mengalami paralisa otot karena kelelahan di pesta Rossie nanti malam? Hiks hiks.
Wanita itu pun mengambil kunci mobilnya dan tas kerjanya lalu bergegas ke parkiran eksklusif mobilnya di Rumah Sakit Wyndham International. Annastacia adalah dokter spesialis bedah yang disegani di rumah sakit itu.
Usia Annastacia memang terbilang masih sangat muda untuk pencapaian kerjanya, dia baru berusia 30 tahun ini. Terkadang mengorbankan kegiatan bersosialisasi dan memangkas keinginan berpacaran di usia belia itu sepadan dengan hasil yang didapatkan. Itu menurut pendapat Anastasia.
Lagipula menyelamatkan nyawa sesama manusia adalah tindakan yang mulia. Seorang dokter bedah seolah memiliki lisensi dari Tuhan untuk menyelamatkan nyawa yang nyaris terlepas dari raga duniawinya.
Keluarga besar Annastacia hampir 95% berprofesi sebagai dokter. Kakak perempuannya, Jocelyn Brighton adalah dokter obsgyn yang terkenal di rumah sakit yang sama dengan tempat dia bekerja saat ini. Sedangkan kakak laki-lakinya yang tertua dari tiga bersaudara itu berprofesi sebagai dokter spesialis neonatus pediatrik. Agak bekorelasi dengan bidang kakaknya Jocelyn.
Sementara papa dan mamanya sama-sama bekerja sebagai dokter spesialis internis. Seluruh anggota keluarga intinya bekerja di Rumah Sakit Wyndham International.
Terkadang dia bingung, kenapa semua anggota keluarganya harus bekerja di satu tempat yang sama. Sangat tidak bervariasi, pikir Annastacia. Namun, dia mengakui bahwa rumah sakit tempat mereka bekerja adalah rumah sakit terbaik di Amerika Utara.
Salju mulai turun lagi sejak tadi sore, kemungkinan jalanan yang licin yang membuat banyak kecelakaan lalu lintas. Dia pun harus berhati-hati agar tidak menjadi korban kecelakaan lalu lintas.
Mobil mini cooper merah maroon kesayangannya tidak pernah membuat masalah selama ini, dia pin bukan pengemudi yang suka mengebut. Segalanya seharusnya aman dan jauh dari kecelakaan yang tidak diharapkan.
Annastacia sudah berkendara selama hampir satu jam menuju ke apartmentnya di sebelah barat kota Dennery. Nanti malam dia harus berkendara ke Anse La Raye tempat dimana rumah Rossie Stuart berada, rumah itu sangat besar seperti mansion.
Dulu ketika Annastacia dan Rossie masih kecil mereka sering berkemah di halaman belakang rumah Rossie yang berhadapan langsung dengan teluk. Sahabatnya sebenarnya ada 3 orang, Juliet Grayson, Brianna Ansley, dan Rossie Stuart. Mungkin mereka pun akan datang ke pesta Rossie nanti malam.
Dari keempat wanita itu hanya dia yang masih betah melajang, tiga wanita yang lainnya gemar berganti-ganti pasangan dan Juliet malah sudah menikah tahun lalu sekalipun belum memiliki anak hingga kini.
Akhirnya Annastacia sampai di apartment Sky Eternity, dia memarkir mobilnya di basement. Kemudian naik lift ke lantai 5, bangunan itu hanya setinggi 10 lantai dan unitnya berada di tengah-tengah.
Ketika akan menuju ke unitnya, Annastacia bertemu dengan kurir pengirim gaun pesta dari Rossie Stuart. Pemuda itu meminta tanda tangannya lalu menyerahkan gaun pesta berwarana merah menyala itu pada Anastasia.
Annastacia pun membawa gaun pesta itu masuk ke unitnya. Dia pun membuka plastik pembungkus gaun pesta itu dan terperangah melihat model gaun pesta itu.
What the hell! Rossie pasti sudah gila! Gaun pesta itu berlebihan sekali, nyaris terbuka di bagian punggung hingga bokong dengan bagian dada yang rendah. Apakah Rossie ingin menjualnya ke pria hidung belang? pikir Annastacia sembari mengernyitkan alisnya. Dasar Rossie sialan! Ini tidak lucu sama sekali.
Annastacia pun menelepon Rossie dengan ponselnya.
"Halo."
"Halo, Anna. Kau pasti sudah menerima gaun pestanya, kan?" cerocos Rossie sebelum Annastacia sempat menyemprotnya.
"Apa yang kau inginkan, Rossie? Gaun pesta itu terlalu heboh dan sangat terbuka, aku tidak mau memakainya. Aku batal pergi ke pestamu, Rossie!" ujar Annastacia kehilangan kesabarannya.
"Jangan berani-berani melakukannya, Anna. Kau harus datang, ini pesta yang sangat meriah, aku bahkan berhasil mengundang beberapa selebritis. Awas kalau kau tidak datang, aku tidak akan mau lagi berteman denganmu selamanya!" teriak Rossie di telepon yang membuat telinga Annastacia berdengung mendengarnya sebelum menutup panggilan itu.
Lagi-lagi Annastacia harus mengalah pada Rossie. Wanita itu paling galak diantara 3 sahabat kentalnya. Namun, Rossie yang paling dekat seperti saudarinya sendiri dengan Anastasia sedari kecil.
Annastacia menatap ponselnya dengan putus asa. Dalam hati dia berseru, TIDAK! dan hanya menguap menjadi bisikan keputusasaan karena teringat ancaman Rossie.
Dengan langkah gontai, Annastacia menyeret tubuhnya yang lelah ke kamar mandi untuk membersihkan diri pasca bekerja seharian di rumah sakit. Dia butuh mandi air hangat untuk menghilangkan rasa lelahnya.
Jeritan histeris para fans kaum Hawa begitu riuh terdengar dari depan panggung pertunjukan JC. Mereka mengelu-elukan idola tampan bersuara emas itu.
"We want more ... we want more ... we want more ...," desak mereka kompak dalam seruan riuh rendah yang menggema di stadion yang menjadi tempat roadshow JC di Amerika Utara.
"Oke ... oke, apa kalian tidak kedinginan dan ingin segera pulang? Hahaha ...," tanya JC kocak pada penggemar fanatiknya yang semangatnya tak kunjung surut untuk menonton semua pertunjukannya malam itu, padahal udara malam itu sungguh dingin membeku.
Wajah JC pun terasa perih karena udara di luar ruangan begitu dingin. Pipinya kemerahan dan dia mengenakan kaca mata hitam untuk menghindari silaunya lampu sorot dan blitz kamera yang memancar ke arahnya tanpa ampun selama 3 jam terakhir ini.
"This is last song for you ... kuharap kalian suka. Napas Terakhirku ... mainkan, Dude!" ucap JC seraya memberi kode band pengiringnya untuk mulai memainkan alat musik mereka.
"Karena kau wanita yang istimewa dengan senyuman bagaikan hangatnya mentari ... Bawa aku dalam cinta yang seindah pelangi ... Hanya kamu ... Hanya kamu ... Hingga napas terakhirku ... Cintaku hanya padamu ... Gadisku ...."
Sebait lagu cinta populer milik JC yang merajai billboard tangga lagu hits mingguan. Para fans melambaikan ponsel mereka dengan flashlight menyala mengiringi lagu idola mereka sambil menitikkan air mata haru tersentuh dengan syair romantis lagu yang dinyanyikan JC itu.
JC duduk di kursi di tengah panggung sambil memegang stand microphone. Dia menyanyikan setiap baris syair lagunya dengan penuh penghayatan seolah sedang dimabuk cinta pada seorang gadis yang faktanya jauh dari itu.
"Cintamu yang tak pernah gagal membuat hatiku menjadi hangat ... membawa keindahan di hari-hariku yang kosong ... Ohh Gadisku yang manis ...."
Dalam kenyataannya setiap JC menyanyikan lagu-lagu cinta yang merajai tangga lagu hits itu. Hatinya yang kosong dan dingin semakin lara. Dia belum menemukan 'gadis manisnya' hingga usianya yang ke-30 tahun ini.
Aturan dari managemen artis yang menaunginya pun tegas melarang hubungan istimewa dengan wanita di luar kontrak tertentu. Bila tujuannya hanya untuk mendongkrak popularitas maka hubungan itu diizinkan. Namun, artis dilarang berpacaran dengan sembarang orang, apalagi yang bukan dari kalangan artis itu tabu bagi mereka.
JC menjalani affair-affair singkat dengan artis wanita pendatang baru dengan gosip panas yang disiapkan oleh managemen artis yang menaunginya, Young Talented Management. Dan sejujurnya dia bosan dan muak, lama-kelamaan dia kehilangan minat pada wanita cantik.
"Sampai jumpa, Rekan-rekan penggemarku. Kita akan bertemu di konserku selanjutnya tahun depan. Pulanglah ke rumah dengan hati-hati! Salju semakin tebal di jalanan. Terima kasih sudah datang ke konserku." JC meneriakkan pesan simpatiknya dari atas panggung untuk terakhir kali dari rangkaian pertunjukannya malam itu lalu menghilang ke belakang panggung.
Managernya segera mengulurkan handuk basah hangat untuk JC. Dia pun berterimakasih seraya menerimanya lalu menempelkannya ke wajahnya yang membeku karena hawa dingin.
"Jason, maafkan aku. Sepertinya malam ini kau harus datang ke pesta di Anse La Raye sendirian. Entah kenapa aku tidak enak badan sejak pagi ...," ujar Max Brury, manajer artis JC yang berusia 35 tahun itu.
"Oke, Max. Kau pulanglah ke hotel. Aku akan menyetir sendiri ke sana. Serahkan kunci mobilmu Max, aku akan mengantarmu dulu ke hotel lalu berangkat ke Anse La Raye," ujar JC sembari mengenakan mantel wool tebalnya.
Mereka berdua pun meninggalkan stadion yang masih sibuk sehabis mega konser JC.
Mobil Tucson milik Max Brury meluncur di jalan raya dikemudikan oleh JC dengan kecepatan normal. Permukaan jalanan tertutupi oleh salju yang terus turun sedari pagi. Mereka melewati lokasi bekas kecelakaan bus dan mobil pribadi yang penyok parah dalam perjalanan.
"Wow, kecelakaannya tampak mengerikan, Max!" komentar JC ketika melihat sekilas kedua kendaraan yang ringsek parah itu.
"Ya, mereka sepertinya sedang sial. Kuharap kau berhati-hati menyetir mobilku, Jason! Seandainya aku tidak sakit perut sedari pagi, mungkin aku lebih senang menyetir untukmu ke tempat pesta itu. Oya uang pembayaran endorse pesta malam ini sudah dibayarkan oleh Rosalyne Stuart ke rekening pribadimu. Selamat menikmati pestanya, Jason," ujar Max seraya mengerlingkan matanya.
"Oke, Max. Thanks. Sudah sampai di hotel, beristirahatlah. Sampai jumpa besok pagi," ucap JC sambil menunggu Max turun dari mobil. Dia menurunkan Max di depan pintu lobi hotel tempat mereka menginap selama konser di Amerika Utara.
Setelah itu JC pun melajukan mobilnya menuju ke Anse La Raye. Dia bersenandung kecil selama perjalanan yang panjang dan membosankan seorang diri.
Jalanan begitu gelap karena dia melewati jalan penghubung antar kota yang tak berpenghuni. Lampu penerang jalan terpasang setiap jarak 100 meter. Amerika Utara memiliki jumlah populasi penduduk yang agak sedikit bila dibandingkan dengan luas wilayah negara itu.
Tiba-tiba mobil yang dikemudikan JC seperti kehilangan energi. Dia pun menepikan mobil itu sebelum ada kendaraan lain melintas.
"Oohh SIAL!" rutuk JC dengan keras.
Dia entah berada dimana saat ini, yang jelas power suply mobil itu mendadak hilang dan tidak dapat dinyalakan lagi. Sementara hujan salju masih turun terus dengan lebat. JC bingung harus bagaimana, dia tidak dapat meminta bantuan pada Max karena pria itu sedang sakit.
15 menit berlalu tanpa ada solusi. Selama ini semua kebutuhannya diurusi oleh Max. Ketika terjadi hal tak terduga seperti ini, dia menjadi bingung harus menghubungi siapa. Udara dingin mulai menyergapnya perlahan, pemanas mobil tidak dapat dinyalakan. Mantel wool itu satu-satunya pertahanannya dari serangan hawa dingin.
JC berdoa dalam hatinya ... dia berharap akan ada kendaraan yang melintas. Dia akan membayar berapa pun untuk bisa menumpang hingga ke Anse La Raye.
Jalanan itu gelap hanya ada lampu penerangan jalan sekitar 10 meter dari tempat mobilnya mogok.
Tak lama kemudian, JC melihat dari kaca spion mobilnya sebuah cahaya terang mendekat ke arahnya mungkin sekitar 200 meter di belakangnya, sepertinya lampu jarak jauh mobil. JC pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu yang mungkin satu-satunya peluangnya untuk bertahan hidup malam ini. Dia segera turun dari mobil lalu menyalakan flashlight ponselnya ke arah mobil itu datang.
JC melambai-lambaikan tangannya dengan ponsel itu ke atas. Dia berharap pengemudi itu akan melihatnya di tengah kegelapan. Dan benar ... mobil itu melambatkan kecepatannya. Dalam hati JC bersorak-sorai gembira tak terperi. Senyumnya begitu lebar di wajah tampannya.
Ketika mobil itu menepi mendekatinya, kaca jendela mobil pun diturunkan oleh pengemudinya yang ternyata seorang gadis yang manis bermata hijau dengan rambut merah seperti warna api yang menyala. Malaikat penolong bagi JC.
"Halo ... butuh tumpangan, Tuan?" sapa gadis itu dengan suaranya yang merdu sembari menatap wajah JC yang terpana melihatnya.
"Hai ... kau malaikat penyelamatku, Nona Cantik," ucap JC sambil tersenyum dengan mata berbinar-binar.
Gadis pengemudi mobil yang lewat di hadapannya itu mengenakan gaun merah yang sangat seksi. JC menelan salivanya dengan perasaan mendamba ketika menatapnya. 'Apakah dia masih single?' batin JC.
"Kenapa mobilmu, Tuan? Kenalkan, aku Anna," tanya Annastacia sembari mengulurkan tangan kanannya pada pemuda itu.
JC segera menyambut uluran tangan gadis itu dan membalas, "Namaku Jason, mobil temanku ternyata bermasalah, mungkin karena problem cuaca yang terlalu dingin sehingga mesinnya ikut mrmbeku. Apa aku boleh menumpang mobilmu hingga Anse La Raye? Ada pesta yang harus kuhadiri di sana malam ini."
"Oohhh begitu, naiklah kalau begitu, Jason. Akupun harus menghadiri pesta di sana. Jangan-jangan pesta yang sama denganmu ...," ucap Anna mempersilakan Jason naik ke mobilnya dan membuka central lock pintu mobilnya.
JC segera naik ke sebelah kursi pengemudi, tubuhnya serasa membeku karena terlalu lama berada di luar dan dia sedikit menggigil. Dia pun menggosok-gosok kedua belah telapak tangannya.
Melihat Jason kedinginan, Anna pun menaikkan suhu pemanas mobilnya. "Kuharap kau akan segera hangat kembali .... Oya pesta siapa yang akan kau hadiri, Jason?" ujar Anna.
"Pesta Rosalyn Stuart. Bagaimana denganmu, apa benar pesta yang sama denganku?" jawab JC yang mulai berhenti menggigil.
Anna pun tertawa. "Kebetulan sekali, Jason. Pestanya ternyata sama. Baguslah ... kurasa kita agak terlambat dari waktu yang tertulis di undangan pestanya."
"Biarlah ... cuaca begitu buruk, aku pun tak yakin tamunya akan banyak yang hadir di pesta itu. Ngomong-ngomong, apa kau tidak pernah melihat wajahku di televisi atau baliho iklan di jalan?" ujar JC menyelidik.
Gadis itu seolah berpikir dan mengingat-ingat di bawah tatapan JC yang penasaran. Dia pun menjawab, "Maafkan aku ... seperti aku kurang update, apa kau seorang artis terkenal?"
JC pun tertawa dengan perasaan terluka, ternyata dia tak seterkenal yang dia kira. Padahal belakangan dia membintangi puluhan jenis iklan di berbagai stasiun TV Amerika. Gadis di sebelahnya tidak pernah sekali pun melihatnya. Astaga!
"Nama panggungku JC, nama asliku Jason Channing. Baiklah tidak apa-apa, berarti aku harus bekerja lebih keras lagi agar seluruh penjuru Amerika mengenalku," ucap JC sembari tertawa kering.
JC pun bertanya lagi, "Apa pekerjaanmu, Anna?"
Sambil memperhatikan jalanan di depannya, Anna menjawab, "Aku seorang dokter bedah di Wyndham International Hospital. Kuharap kau tidak akan menjadi pasienku karena biasanya pasienku berada di batas hidup dan mati." Anna pun tertawa sendiri.
Kemudian JC pun memahami leluconnya dan ikut tertawa. "Well, pekerjaan yang berat sepertinya sampai-sampai tidak sempat menonton TV. Aku 100% sehat dan tidak butuh untuk dibedah, Anna."
Kediaman Stuart yang megah mulai nampak di depan. Anna pun menaikkan laju mobilnya agar segera sampai di sana. Penjaga gerbang membukakan pintu gerbang besi otomatis itu dengan remote. Mobil Anna pun segera masuk ke halaman rumah yang megah itu dan mencari tempat parkir yang kosong.
Ternyata perkiraan JC salah, tamu pesta itu membludak seolah abai terhadap cuaca yang membeku di luar sana.
Setelah memarkir mobilnya dengan benar, Anna pun turun masih mengenakan mantel luarnya yang berbahan bulu domba halus berwarna krem. Dia enggan mencopotnya karena gaun merah yang dikirim oleh Rossie sepertinya akan membuatnya masuk angin.
JC pun turun dari mobil Anna lalu meletakkan tangan Anna ke lengannya. Dia akan menjadikan Anna sebagai pendamping pestanya malam ini.
"Anna, temani aku di pesta ini, oke? Aku tak mengenal siapa pun, ini undangan endorse party karena aku seorang artis," pinta JC.
Anna pun menoleh menatap JC. 'Dia memang tampan, kurasa memang dia pernah kulihat di TV entah kapan.'
"Oke, deal. Mari kita masuk dan mulai berpesta," jawab Anna seraya melepas senyumnya ke JC.
'Gadis yang manis.' batin JC ketika melihat senyum Anna.
Mereka masuk ke ruang pesta yang begitu meriah dan berisik dengan musik DJ yang berdentum-dentum. Mayoritas tamu pesta itu dari kalangan anak muda. Mereka asik berjoget dan mengobrol di seluruh penjuru ruangan.
Seorang pelayan menawarkan untuk menyimpankan mantel mereka berdua. Dengan enggan, Anna menyerahkan mantel bulunya yang hangat dan mengerang dalam hatinya ketika hawa dingin menyentuh punggungnya yang terbuka.
JC melihat model gaun merah yang dikenakan oleh Anna dan merasakan hasrat di tubuhnya bangkit secara spontan. Dia menelan salivanya sekali lagi melihat kemolekan tubuh pendamping pestanya malam itu.
"Anna, apa kau sadar dengan model gaun yang kau pakai saat ini?" tanya JC penasaran.
"Maafkan aku, Jason. Ini gaun pinjaman dari tuan rumah pesta. Aku tak pernah menghadiri pesta sosialita seperti ini. Dia mengancam akan memutuskan persahabatan kami bila aku tidak hadir ke pesta. Semoga kau paham dengan situasiku." Anna mengendikkan bahunya menatap JC dengan wajah menderita.
JC pun mengerti alasan Anna mengenakan gaun yang sangat menantang itu. Sepertinya dia harus menjagai gadis itu malam ini dari serangan predator-predator wanita cantik. Bahkan, dia pun begitu terprovokasi ketika melihat tubuh Anna yang molek di dalam gaun merah itu.
"ANNAAAA!" panggil seorang wanita muda dari arah tengah lantai dansa. Dia sang tuan rumah pesta ini.
Anna pun bergegas ke lantai dansa ditemani oleh JC. Kedua wanita itu berpelukan dan saling mengecup pipi kanan dan kiri dengan akrab.
"Wow, kau hebat Anna! Apa kau mengenal JC? Dia selebritis terkenal di Amerika," ucap Rossie Stuart dengan nada kagum.
"Haaahh benarkah? Kami bertemu di jalan tadi, mobilnya macet dan aku memberinya tumpangan kemari, Rossie," jawab Anna dengan nada biasa.
JC pun mengulurkan tangan kanannya kepada Rossie sembari berkata, "Kau pasti Rosalyn Stuart, salam kenal, Nona! Terima kasih sudah mengundangku. Aku beruntung bertemu sahabatmu di jalan tadi, udara di luar membeku dan mobilku mogok."
"Oohh syukurlah kau bisa sampai ke tempatku. Aku akan merasa sangat bersalah bila kau sampai celaka karena hipotermia di luar sana."
Rossie pun meraih tangan Anna lalu mengajaknya ke meja sajian pesta. "Kau pasti lapar, Anna. Selamat menikmati hidangan pestanya. Temani dulu JC sebentar, Anna. Dia pasti juga lapar," bisik Rossie dengan volume rendah di dekat telinga Anna.
"JC, selamat menikmati sajian pestanya. Kuharap kau mau menyanyikan sebuah lagu untukku nanti," ujar Rossie kemudian berpamitan dengan Anna dan JC untuk menyambut tamu yang baru datang.
"Oke, JC atau Jason? Kita lebih baik mengisi perut terlebih dahulu, aku memang lapar ...," ajak Anna seraya mengambil piring kosong dan mengisinya dengan menu makanan prasmanan yang tersedia.
"Ohh lamb chop, aku suka menu itu juga," ujar JC ketika melihat Anna mengambil 2 batang daging rusuk domba yang dimasak panggang.
"Makanlah yang kenyang, Jason. Itu bisa menambah kalori untuk dibakar melawan hawa dingin, pesan dari Dokter Anna. Hahaha," saran Anna sembari tertawa. Dia mengisi piring kosongnya dengan potato wedges, saute veggies, lamb chops serta udang goreng tepung yang tampak lezat lalu menambahkan mayones dan saus sambal.
JC tertawa melihat piring yang dipegang Anna, gadis itu sungguh memiliki napsu makan yang bagus, pikirnya. Dia pun melakukan hal yang sama kemudian mengajak Anna mencari meja dan kursi kosong di ruangan itu untuk makan dengan cara yang lebih nyaman dibanding berdiri.
Malam semakin larut dan pesta seolah semakin meriah dengan tamu-tamu pesta baru yang berdatangan.