Di hotel Mayomom milik keluarga Moh Tjian, sekelompok pengawal berpakaian preman menyebar di ruangan kecil, itu adalah bar yang sangat intim dan biasanya para pengunjungnya adalah tamu hotel yang menginap.
Rose memandangi gelasnya, seorang kawan memberikan voucher potongan minum koktail dan makan malam di bar tersebut. Bagi Rose ini kali pertama dia datang ke bar dan dia dengan sabar menunggu kawannya datang.
'Rose jangan takut, untuk masuk ke industri hiburan harus rajin bertemu kolega' Rose menaikkan kerah bajunya, rasa dingin menyergap di balik hangat perutnya.
"Anda mengatakan minuman ini hanya koktail?" Rose menyerang bar tender dengan kata kata pedas.
"Ya, Nona! Itu sesuai dengan voucher diskon yang Anda bawa!"
"Uh, tetapi kenapa aku merasa ini memabukkan?"
Bar tender,"....."
Dengan pandangan yang mulai berkunang kunang, Rose membaca ulang potongan kertas di tangannya, 'French Connection'
'Hiks' semoga minuman ini bisa membawaku pada koneksi yang lebih unggul, Rose sedikit menceracau. Kepalanya kian lunglai dan matanya terasa berat. 'Oh-Oh, mengapa aku mengantuk sekali?'
"Apakah kamu yakin?" tanya seorang pengawal kepada bar tender, "Gadis itu membawa kupon diskon French Connection?"
"Coba saja bapak periksa potongan kupon di tangan gadis itu!"
Pengawal itu melihat pada Rose yang tampak lunglai dengan mata terpejam, "Nona! Bisakah Anda menunjukkan kupon di tangan Anda?"
Rose mendongak, dia melihat bayangan tinggi besar menutupi pandangannya, "Kupon ini? Kenapa?" katanya ketakutan.
Pengawal itu saling berpandangan, "Tidak mengapa Nona, silakan nikmati minuman Anda!"
Dalam mode bingung, Rose melihat isi gelasnya masih tersisa sedikit lagi, dia tidak menyukai rasa pahit pada lidahnya, 'Uh, kalau tidak dihabisin kok rasanya sayang ya?' Dan dia menenggak habis isi gelasnya.
Samar samar sebelum matanya benar benar terpejam, dia merasa ada sebuah tangan besar yang menggeser tubuhnya dari kursi bar dan menaruhnya di atas bahunya.
"Boss, gadis itu sudah aman di kamarnya!"
"Apakah kamu tidak salah orang?" suara di ujung telpon mencari jawaban.
"Saya sudah mengirim foto kupon diskon dari tangan gadis itu"
"Baiklah, benar benar ini kuponnya!"
"Boss bilang hanya ada satu kupon diskon French Connection yang diterbitkan?"
"Ya, memang cuma satu!"
Di parkir bawah tanah gedung hotel Mayomom, seorang pemuda tinggi dan tampan terlihat keluar dari mobilnya, dering telpon mengganggu langkah kakinya. 'Sial, kenapa badut ini selalu menggangu!'
"Tenang brother! Itu hanya hadiah kecil dariku, sesekali bersenang senanglah!"
"Jangan macam macam dengan anak gadis orang! Kamu tahu aku selalu jijik dengan orang asing?"
"Hehehe, cobalah dulu, jika tidak cocok kamu bisa meminta pengawal untuk memulangkan dia!"
"Tidak ada istilah mencoba!"
"Oh, Raymond! Ayolah------Raymond------Raymond!"
Bip' suara sambungan terputus.
Raymond yang baru saja menutup telponnya dengan langkah gontai keluar dari lift menuju lantai #20, khusus kamar paling mahal dan privat. "Fendy sial itu hanya bisa membuat kenyamananku berantakan" gerutuan terdengar sepanjang koridor.
Tangannya yang ramping memutar kenop pintu dan klik suasana langsung terang benderang di dalam kamar. Dengan langkah hati hati, Raymond melihat pada kasur kingsize terlentang seorang gadis dengan gaun biru. Kakinya yang panjang terjuntai.
Raymond melihat pada sandal tipis di bawah tempat tidur, sandalnya sangat sederhana, dia juga menemukan tas kecil yang juga sederhana.
'Cih!' gadis desa dan lugu juga tidak menarik minatku'
Raymond merasa jijik dan dengan tisue dia menggoyang kaki yang menjuntai "Hei, bangun!"
Gadis itu tidak bereaksi, tetapi Raymond bisa melihat dengan jelas wajahnya yang merona karena mabuk dan alisnya mengkerut. Gadis itu mulai menggoyangkan kepalanya.
"Bangunlah! Kamu mabuk!" sahut Raymond kesal.
"Aku mabuk?" Rose linglung, dia mendenguskan hidungnya,
Samar samar kemudian dia sadar dengan dirinya, dan mulai bangkit dari tidurnya untuk duduk. Kakinya yang panjang menekuk, sebagian pahanya yang putih bersih tersingkap.
Raymond kaget dengan pemandangan itu, dia sering melihat wanita cantik dan mulus dengan tubuh sintal. Tetapi tidak ada satu pun yang menarik minatnya. Justru dia merasa jijik dan jijik. Hidungnya akan gatal jika bertemu wanita wanita yang menonjolkan diri di hadapannya.
Rose memegang potongan kupon diskon, "Ini seharusnya hanya koktail, minuman rasa buah! Kenapa aku mabuk, hiks?"
Raymond memandang Rose dengan lucu, "Koktail pun mengadung alkohol!"
"Oh! Aku bodoh!"
Raymond, “…..”
Rose bangkit dan melihat sandalnya di bawah tempat tidur, dia menggosok gosokkan kakinya memasukan jarinya ke dalam sandal tetapi tak satu pun jarinya mencapai ujung sandal.
Raymond yang gemas mulai tidak sabar, dia ingin mengusir gadis ini dengan kasar tetapi melihat cara mabuknya yang lucu dan menggemaskan, Raymond akhirnya tergerak untuk membantu gadis itu memakai sandalnya.
Selesai sandalnya terpasang, Rose terhuyung huyung dan menggoyang badannya dengan keras. Bantalan karpet lantai cukup tebal, jarinya menekuk pada karpet dan dia melayang cukup keras ke belakang meja kopi.
Raymond yang melihat bahaya, melompat meraih tubuh Rose yang akan jatuh. Dan nyaris saja kepala Rose menghantam meja marmer.
Rose yang masih dalam kondisi mabuk, tidak menyadari apa pun. Dia dalam pelukan Raymond pada akhirnya.
"Duduklah dulu, aku akan memberikan minuman hangat untukmu!"
Rose duduk dengan patuh dengan mata tertutup, bulu matanya yang panjang berkibar dalam kedipan tak henti henti.
"Uh, bisakah aku menutup mataku yang berkunang kunang ini?" tanya Rose dengan putus asa.
"Minumlah dulu!" Raymond menyerahkan segelas air hangat.
Tangan Rose gemetar meraih gelas yang berguncang, Raymond membantunya------Tangannya menggengam erat tangan Rose yang susah payah mendorong gelas ke mulutnya. Ada perasaaan hangat yang Raymond rasakan. Nafas Rose yang wangi dan harum tubuhnya yang lembut terasa manis di pikiran Raymond.
Dengan hati hati Raymond menyeka sudut bibir Rose dengan tisue, "Ada air menetes di sini!"
"Oh, jangan sentuh itu jijik lho! itu ludahku!"
Bip-----Bip-----Bip
Ponsel Rose bergetar dan dengan susah payah, dia meraba raba. Kepalanya masih terasa berat, mencoba mengatasi nafas yang tersengal sengal, dia memencet tombol terima. Lehernya bergidik mendengar raungan di ujung telpon.
“Oh,Rose! Sial! Kamu harus segera datang kemari!”
“Kinkin? A-Ada apa?”
“Ini bencana Rose!”
“Hah!” Rose bangkit dari posisinya, “Sebentar!”
Dia memandangi tubuhnya dalam balutan gaun yang sejak semalam dia pakai, ada sedikit noda di dada. Rose menggerayangi tubuhnya semuanya utuh.
“Kinkin! Aku baik baik saja lho!”
“Oh, Rose bodoh! Kopermu dilempar keluar oleh ibu kos!”
Rose sekarang benar benar linglung, dia melompat dari tempat tidur dan melihat pada kamar mandi di dekat pintu, ada bunyi gemericik air. Seseorang mandi di sana. Uap panas menutup kaca transparan dan Rose bergidik melihat bayangan perkasa di balik pancuran. ‘Oh ini lebih bahaya dari koper yang dilempar ibu kos’
Segera Rose menyambar tasnya yang terletak di sofa dan dia berlari menuju pintu, tetapi sial, pintu terkunci. ‘Eh, sejak kapan pintu hotel di kunci seperti ini?’
“Kinkin tunggu ya, nanti aku hubungi lagi------Ini darurat!”
“Rose kamu dimana?” Kinkin berteriak semakin kencang.
‘Oh, Kinkin bisakah engkau tidak berteriak teriak seperti itu, kupingku benar benar tersentak mendengarkan amplitudomu’ Rose tidak lagi peduli dengan raungan Kinkin, dia dengan panik bolak balik mencari kalau kalau kunci pintu tergeletak di meja atau di laci.
Ada wardrobe di samping pintu dan Rose membukanya, ‘Uh, hanya ada jaket hitam dan seluruh wardrobe kosong, haruskah aku merogoh rogoh pada jaket ini? Tidak sopan bukan? Tetapi siapa lelaki itu? Hiyyyyy’
“Kuncinya tidak ada di jaketku!”
Rose kaget mendengar suara serak dibelakang kepalanya! Dia mendongak dan nyaris menjerit mendapati mata hitam seperti elang milik seorang pria yang sangat tampan sedang menatapnya dengan dingin. Rambut pria itu masih basah, air menetes ke bahu dan dada yang ‘Uh, dadanya sangat kekar dan kencang’. Rose memilih pingsan daripada harus bertukar kata dengan pria ini.
“Oh, ayolah gadis bodoh! Jangan pingsan lagi!”
Raymond menarik tangan Rose dari pengangan pintu wardrobe. Sekalipun Rose baru saja bangkit dari tidurnya, tangannya terasa dingin. Raymond menyadari gadis ini benar benar ketakutan melihat dirinya.
“Tenang saja, aku tidak memperkosamu!” bisik Raymond di telinga Rose dengan lembut.
Mata Rose berkedip, tubuhnya masih dalam pelukan Raymond dan dahinya berkenyit waktu tetesan air dari rambut Raymond jatuh di ujung hidungnya. Harum shampo dan aroma maskulin memenuhi otaknya. ‘Kenapa lelaki ini ganteng sekali’ pikiran Rose menjadi liar.
“Mandilah, dan kita akan sarapan!”
“Eh,Oh, K-Kenapa aku disini?”
“Umm, kamu mabuk tadi malam!”
“Owggjhm, bagaimana bisa?”
“Bukannya kamu mimum koktail? Dan itu Frech connection dengan kadar alkohol tinggi!” Raymond mendukung Rose ke sofa, “Aku sudah menyiapkan pakaian gantimu, gantilah!”
“Lho? Ehmm…..Aku!”
“Bajumu kena muntahanmu dan itu bau kan? Aku tidak menyentuhmu, jadi aku membiarkanmu tidur setelah kamu puas muntah!”
Rose berdiri dan melihat pada beberapa noda di dadanya, dan itu memang berbau asem. Wajahnya merona dengan mata lentik berpendar. “Terima kasih!” Rose menggumamkan kalimat itu dengan pelan.
Di kamar mandi Rose dengan gemetar melihat pada tubuh telanjangnya, semua sempurna tidak ada goresan dan tanda tanda sentuhan apa pun. Ada bau tidak sedap seperti bekas muntah. Rose merasa lega, ‘Apakah lelaki itu gay? Uh, untung aku bertemu dengannya, dia tidak memanfaatkan kebodohanku’
Bip-----Bip-----Bip
Bunyi ponsel Rose terus berdering, Raymond mengabaikannya tetapi ponsel itu tidak cuma berdering juga bergetar. Kupingnya menjadi gatal. Dia menerima panggilan. Terdiam sejenak mendengar raungan di ujung telpon.
“R-Roseeeeeeee!!!! Oh, bodoh! Ibu kos benar benar mengusirku keluar hari ini! Rose?”
Raymond tidak bersuara, tetapi dia memutuskan menjawabnya ketika mendengar suara yang berteriak menjadi seperti putus asa.
“Kita harus mencari jembatan yang indah, Rose! Di kolong jembatan yang indah pasti ada tempat yang nyaman untuk kita berlindung. Hiksss”
“Rose masih mandi!” suara Raymond terdengar serak dan tenang di ujung ponsel itu.
Kinkin yang biasanya meraung, menjadi gagap. “S-Siapa kamu? Kenapa kamu tahu Rose masih mandi? Thomas?”
Mata Raymond membelalak, ‘Thomas?’ “Umm”
“Eh, kamu bener bener Thomas?” cecar Kinkin dengan cepat.
“ummm”
“Oh, syukurlah! Kalian akhirnya bersama” Kinkin menghela nafasnya, “Koper Rose ada di kontrakanku, suruh dia mengambilnya dan biarkan Rose tinggal bersamamu, kamu adalah pacarnya. Harus lebih perhatian dengan Rose, sepertinya dia juga diusir oleh bibinya, karena itu bibinya mengantarkan kopernya ke tempatku dan sekarang aku diusir oleh ibu kos karena telat membayar uang sewa. Kamu mengerti kan? Tolong jaga Rose! Oke!”
“Ummm-----Aku bukan Thomas!” Raymond memonyongkan bibir.
Kinkin yang sudah tenang,menjadi panik. “Hey, bung! Kamu siapa------Jangan katakan Anda? Di mana Rose, Rose, Rose!!!!”
Raymond menyadari Rose sudah selesai mandi dan berdiri di depan pintu, memandangi dirinya, “Seseorang menelponmu dan berbicara tentang kopermu!”
Rose mengangguk, dia mengambil ponselnya dan melihat layar ID adalah Kinkin, “Dia sahabatku!”
“Kalau sudah siap, ayo sarapan dulu. Restoran hotel masih buka untuk waktu sarapan”
Rose melirik jam pada ponselnya, 9.30 ------ Dan perutnya keroncongan. Jika harus bertemu dengan Kinkin, dia perlu memenuhi perutnya dengan makanan terlebih dahulu.
Atau dia akan mati kelaparan mendengar ocehan sahabatnya yang seperti petasan itu------