Bab 1

Jakarta baru saja diguyur hujan, jalanan licin dan macet terjadi dimana mana. Rose gelisah, karena dia mendapat nomor paling buncit, dari audisi peran artis figuran di opera sabun.

[Thomas, aku mungkin telat 3 jam, karena audisi belum kelar]

Rose menggengam ponselnya dengan erat dan terus meliriknya. Dia berharap pacarnya segera membalas pesannya. Dia gelisah menatap pada layarnya, saat terdengar bunyi,

Ding!

Buru buru jarinya menggeser layar dan menemukan sebaris pesan, wajahnya langsung sumringah.

[Santai saja, aku juga sedikit sibuk dan kabari jika kamu sudah sampai-----Aku merindukanmu]

Matanya berbinar cerah, wajah cantiknya semakin merona. Thomas adalah pacar yang selalu manis, 'Aku juga merindukanmu' bisiknya dalam hati.

1 jam berlalu ternyata audisi berjalan lancar, sayangnya seorang wanita berambut pirang mendatangi Rose dan langsung mengatakan, "Maaf Rose, peran ini tidak cocok untuk Kamu. Datang lagi untuk mengikuti audisi lainnya, siapa tahu Kamu beruntung!"

Rose terdiam, peran yang dia minati hanyalah peran kecil dengan durasi singkat. Kebanyakan dari rumah produksi lain tidak memerlukan proses audisi untuk peran seperti ini. Rose memonyongkan bibirnya, kecewa karena membuang waktu hanya untuk gagal.

Dengan wajah layu, dia bergegas keluar dari ruangan dan menuju lobi untuk mencari taksi.

Di dalam taksi, Rose mengirim pesan kepada Thomas, [Aku menuju apartemenmu]

"Maaf mbak!" Supir taksi membuyarkan lamunan Rose, "Jalanan sangat macet, bolehkah saya mencari jalan alternatif?"

"Silakan pak!" Bibir Rose tersenyum menghantarkan rasa nyaman kepada supir taksi.

Dan waktu kakinya memasuki gedung Terakota, hati Rose semakin berdebar. Terakhir bertemu dengan Thomas adalah 2 bulan lalu sebelum dia berangkat bisnis ke Malaysia. Rose juga sangat sibuk mengejar audisi dari satu rumah produksi ke rumah produksi lain.

Gedung Terakota adalah komplek apartemen kelas menengah di pusat Jakarta, Rose beberapa kali mengunjungi Thomas dan dia hapal pintu belakang menuju lift terdekat dengan unit milik Thomas. Lagipula dia menyukai taman yang indah di belakang gedung. Hanya penghuni yang bisa mengakses taman tersebut.

Rose melihat lagi ponselnya dan belum ada balasan dari Thomas, dia jadi ragu untuk terus menuju unit apartemen. 'Bagaimana jika Thomas masih diluar?' Rose sejenak menghentikan langkahnya untuk memasuki lift.

'Aku tunggu di taman dulu saja, sampai Thomas membalas pesanku' Rose berbalik dan langkahnya tenang memasuki taman. Panas menyengat setelah hujan memunculkan berkas cahaya yang berpendar di antara bunga kembang sepatu yang terkulai karena terhantam hujan deras.

Ada kafe kecil di sudut taman yang menjual kudapan dan kopi.

Benar saja, karena habis hujan, suasana taman terasa adem dan sepi. Rose terus menuju gazebo, dia ingin duduk di sana menegakkan punggungnya dan menikmati segelas kopi panas.

Tetapi gazebo yang tersembunyi sudah ada yang memesan. Dari kejauhan Rose melihat punggung sepasang kekasih yang saling berpelukan dan tampaknya wanitanya menaruh kepalanya di dada pasangannya.

"Di luar agak basah karena habis hujan, kalau mau, ada bangku di lantai 2 yang menghadap taman!"

"Aku memesan kopi coklat sedikit gula dan sepotong roti bagelen!"

Selepas pelayan meninggalkannya, Rose menuju wastafel untuk mencuci tangannya. Dari tempat wastafel berada ternyata dia bisa melihat ke gazebo dan kedua pasangan tersebut sepertinya dalam suasana bahagia. Rose menyudahi mencuci tangannya, tetapi tubuhnya menjadi kaku.

Dia mendengar jelas suara gadis dari gazebo di bawahnya.

"Kak Thomas, aku sungguh bahagia dengan kehamilan ini!"

"Violet! Aku pasti bertanggung jawab! Engkaulah yang paling kucintai"

"Kak Thomas!" suara rengekan manja terdengar lebih pelan.

'Thomas dan Violet?' pikiran Rose campur aduk, 'Mungkinkah itu Thomas!?'

Kaki Rose meskipun gontai segera menuruni tangga dan dia berpapasan dengan pelayan, "Aku mencari kursi di bawah!" serunya dengan gemetar.

Dengan keberanian yang tersisa dia mencoba berjalan menuju arah gazebo. Baru dia merasa jelas, tangan yang melingkari tubuh gadis itu terasa familier di matanya. Dan rambut si gadis juga, dia mengenalinya.

Dengan suara yang lembut dia memanggil, "Thomas? Violet?"

Thomas yang lebih dulu menyadari kedatangan Rose, tersentak kaget dan melepaskan pelukannya dari tubuh gadis mungil yang terlihat cantik dan seksi. Tetapi gadis itu sebaliknya melingkari tangannya ke leher Thomas.

"Rose? Kenapa kamu di sini?"

Rose tercekat, "A-Aku menemui pacarku!"

Violet tersenyum licik, "Maaf siapa yang kamu maksut pacarmu?"

"Thomas mengundangku datang ke apartemennya dan kamu tahu dia pacarku!" Rose menemukan ketenangannya dan menghela nafas untuk mengembalikan semua rasa malu dan marah di dadanya.

Thomas menggeser tubuh Violet, "Sebentar sayang, biar aku menjelaskan pada Rose!"

Rose memandang Thomas mencari jawaban dari sikapnya, dia hanya menemukan Thomas yang terlihat normal dan normal.

"Rose, seharusnya aku memberitahumu sejak beberapa bulan lalu, kalau Violet adalah calon tunanganku yang sesungguhnya!"

"T-tetapi barusan saja kamu mengatakan------"

"Aku tahu tetapi itu typo!" sahut Thomas cepat, "Seharusnya gadis yang aku rindukan adalah Violet!"

"Thomas, kamu?" Wajah Rose menjadi pucat.

"Violet sedang hamil anakku!" jawab Thomas acuh tak acuh.

"A-apa yang harus aku katakan kepada ayah dan ibumu?" Rose menggumam dalam kesedihannya.

"Oh, itu bukan masalahmu!" sahut Violet tajam, "Aku adalah calon menantu keluarga Thomas, bayiku akan menjadi hadiah bagi ayah dan ibunya!"

"Betul Rose! Katakan saja kamu tidak menyukaiku lagi, setidaknya ayah dan ibu akan mengerti tentang perpisahan kita. Lagipula hanya Violet yang ada di hatiku"

Bab 2

Di hotel Mayomom milik keluarga Moh Tjian, sekelompok pengawal berpakaian preman menyebar di ruangan kecil, itu adalah bar yang sangat intim dan biasanya para pengunjungnya adalah tamu hotel yang menginap.

Rose memandangi gelasnya, seorang kawan memberikan voucher potongan minum koktail dan makan malam di bar tersebut. Bagi Rose ini kali pertama dia datang ke bar dan dia dengan sabar menunggu kawannya datang.

'Rose jangan takut, untuk masuk ke industri hiburan harus rajin bertemu kolega' Rose menaikkan kerah bajunya, rasa dingin menyergap di balik hangat perutnya.

"Anda mengatakan minuman ini hanya koktail?" Rose menyerang bar tender dengan kata kata pedas.

"Ya, Nona! Itu sesuai dengan voucher diskon yang Anda bawa!"

"Uh, tetapi kenapa aku merasa ini memabukkan?"

Bar tender,"....."

Dengan pandangan yang mulai berkunang kunang, Rose membaca ulang potongan kertas di tangannya, 'French Connection'

'Hiks' semoga minuman ini bisa membawaku pada koneksi yang lebih unggul, Rose sedikit menceracau. Kepalanya kian lunglai dan matanya terasa berat. 'Oh-Oh, mengapa aku mengantuk sekali?'

"Apakah kamu yakin?" tanya seorang pengawal kepada bar tender, "Gadis itu membawa kupon diskon French Connection?"

"Coba saja bapak periksa potongan kupon di tangan gadis itu!"

Pengawal itu melihat pada Rose yang tampak lunglai dengan mata terpejam, "Nona! Bisakah Anda menunjukkan kupon di tangan Anda?"

Rose mendongak, dia melihat bayangan tinggi besar menutupi pandangannya, "Kupon ini? Kenapa?" katanya ketakutan.

Pengawal itu saling berpandangan, "Tidak mengapa Nona, silakan nikmati minuman Anda!"

Dalam mode bingung, Rose melihat isi gelasnya masih tersisa sedikit lagi, dia tidak menyukai rasa pahit pada lidahnya, 'Uh, kalau tidak dihabisin kok rasanya sayang ya?' Dan dia menenggak habis isi gelasnya.

Samar samar sebelum matanya benar benar terpejam, dia merasa ada sebuah tangan besar yang menggeser tubuhnya dari kursi bar dan menaruhnya di atas bahunya.

"Boss, gadis itu sudah aman di kamarnya!"

"Apakah kamu tidak salah orang?" suara di ujung telpon mencari jawaban.

"Saya sudah mengirim foto kupon diskon dari tangan gadis itu"

"Baiklah, benar benar ini kuponnya!"

"Boss bilang hanya ada satu kupon diskon French Connection yang diterbitkan?"

"Ya, memang cuma satu!"

Di parkir bawah tanah gedung hotel Mayomom, seorang pemuda tinggi dan tampan terlihat keluar dari mobilnya, dering telpon mengganggu langkah kakinya. 'Sial, kenapa badut ini selalu menggangu!'

"Tenang brother! Itu hanya hadiah kecil dariku, sesekali bersenang senanglah!"

"Jangan macam macam dengan anak gadis orang! Kamu tahu aku selalu jijik dengan orang asing?"

"Hehehe, cobalah dulu, jika tidak cocok kamu bisa meminta pengawal untuk memulangkan dia!"

"Tidak ada istilah mencoba!"

"Oh, Raymond! Ayolah------Raymond------Raymond!"

Bip' suara sambungan terputus.

Raymond yang baru saja menutup telponnya dengan langkah gontai keluar dari lift menuju lantai #20, khusus kamar paling mahal dan privat. "Fendy sial itu hanya bisa membuat kenyamananku berantakan" gerutuan terdengar sepanjang koridor.

Tangannya yang ramping memutar kenop pintu dan klik suasana langsung terang benderang di dalam kamar. Dengan langkah hati hati, Raymond melihat pada kasur kingsize terlentang seorang gadis dengan gaun biru. Kakinya yang panjang terjuntai.

Raymond melihat pada sandal tipis di bawah tempat tidur, sandalnya sangat sederhana, dia juga menemukan tas kecil yang juga sederhana.

'Cih!' gadis desa dan lugu juga tidak menarik minatku'

Raymond merasa jijik dan dengan tisue dia menggoyang kaki yang menjuntai "Hei, bangun!"

Gadis itu tidak bereaksi, tetapi Raymond bisa melihat dengan jelas wajahnya yang merona karena mabuk dan alisnya mengkerut. Gadis itu mulai menggoyangkan kepalanya.

"Bangunlah! Kamu mabuk!" sahut Raymond kesal.

"Aku mabuk?" Rose linglung, dia mendenguskan hidungnya,

Samar samar kemudian dia sadar dengan dirinya, dan mulai bangkit dari tidurnya untuk duduk. Kakinya yang panjang menekuk, sebagian pahanya yang putih bersih tersingkap.

Raymond kaget dengan pemandangan itu, dia sering melihat wanita cantik dan mulus dengan tubuh sintal. Tetapi tidak ada satu pun yang menarik minatnya. Justru dia merasa jijik dan jijik. Hidungnya akan gatal jika bertemu wanita wanita yang menonjolkan diri di hadapannya.

Rose memegang potongan kupon diskon, "Ini seharusnya hanya koktail, minuman rasa buah! Kenapa aku mabuk, hiks?"

Raymond memandang Rose dengan lucu, "Koktail pun mengadung alkohol!"

"Oh! Aku bodoh!"

Raymond, “…..”

Rose bangkit dan melihat sandalnya di bawah tempat tidur, dia menggosok gosokkan kakinya memasukan jarinya ke dalam sandal tetapi tak satu pun jarinya mencapai ujung sandal.

Raymond yang gemas mulai tidak sabar, dia ingin mengusir gadis ini dengan kasar tetapi melihat cara mabuknya yang lucu dan menggemaskan, Raymond akhirnya tergerak untuk membantu gadis itu memakai sandalnya.

Selesai sandalnya terpasang, Rose terhuyung huyung dan menggoyang badannya dengan keras. Bantalan karpet lantai cukup tebal, jarinya menekuk pada karpet dan dia melayang cukup keras ke belakang meja kopi.

Raymond yang melihat bahaya, melompat meraih tubuh Rose yang akan jatuh. Dan nyaris saja kepala Rose menghantam meja marmer.

Rose yang masih dalam kondisi mabuk, tidak menyadari apa pun. Dia dalam pelukan Raymond pada akhirnya.

"Duduklah dulu, aku akan memberikan minuman hangat untukmu!"

Rose duduk dengan patuh dengan mata tertutup, bulu matanya yang panjang berkibar dalam kedipan tak henti henti.

"Uh, bisakah aku menutup mataku yang berkunang kunang ini?" tanya Rose dengan putus asa.

"Minumlah dulu!" Raymond menyerahkan segelas air hangat.

Tangan Rose gemetar meraih gelas yang berguncang, Raymond membantunya------Tangannya menggengam erat tangan Rose yang susah payah mendorong gelas ke mulutnya. Ada perasaaan hangat yang Raymond rasakan. Nafas Rose yang wangi dan harum tubuhnya yang lembut terasa manis di pikiran Raymond.

Dengan hati hati Raymond menyeka sudut bibir Rose dengan tisue, "Ada air menetes di sini!"

"Oh, jangan sentuh itu jijik lho! itu ludahku!"

Bab 3

Bip-----Bip-----Bip

Ponsel Rose bergetar dan dengan susah payah, dia meraba raba. Kepalanya masih terasa berat, mencoba mengatasi nafas yang tersengal sengal, dia memencet tombol terima. Lehernya bergidik mendengar raungan di ujung telpon.

“Oh,Rose! Sial! Kamu harus segera datang kemari!”

“Kinkin? A-Ada apa?”

“Ini bencana Rose!”

“Hah!” Rose bangkit dari posisinya, “Sebentar!”

Dia memandangi tubuhnya dalam balutan gaun yang sejak semalam dia pakai, ada sedikit noda di dada. Rose menggerayangi tubuhnya semuanya utuh.

“Kinkin! Aku baik baik saja lho!”

“Oh, Rose bodoh! Kopermu dilempar keluar oleh ibu kos!”

Rose sekarang benar benar linglung, dia melompat dari tempat tidur dan melihat pada kamar mandi di dekat pintu, ada bunyi gemericik air. Seseorang mandi di sana. Uap panas menutup kaca transparan dan Rose bergidik melihat bayangan perkasa di balik pancuran. ‘Oh ini lebih bahaya dari koper yang dilempar ibu kos’

Segera Rose menyambar tasnya yang terletak di sofa dan dia berlari menuju pintu, tetapi sial, pintu terkunci. ‘Eh, sejak kapan pintu hotel di kunci seperti ini?’

“Kinkin tunggu ya, nanti aku hubungi lagi------Ini darurat!”

“Rose kamu dimana?” Kinkin berteriak semakin kencang.

‘Oh, Kinkin bisakah engkau tidak berteriak teriak seperti itu, kupingku benar benar tersentak mendengarkan amplitudomu’ Rose tidak lagi peduli dengan raungan Kinkin, dia dengan panik bolak balik mencari kalau kalau kunci pintu tergeletak di meja atau di laci.

Ada wardrobe di samping pintu dan Rose membukanya, ‘Uh, hanya ada jaket hitam dan seluruh wardrobe kosong, haruskah aku merogoh rogoh pada jaket ini? Tidak sopan bukan? Tetapi siapa lelaki itu? Hiyyyyy’

“Kuncinya tidak ada di jaketku!”

Rose kaget mendengar suara serak dibelakang kepalanya! Dia mendongak dan nyaris menjerit mendapati mata hitam seperti elang milik seorang pria yang sangat tampan sedang menatapnya dengan dingin. Rambut pria itu masih basah, air menetes ke bahu dan dada yang ‘Uh, dadanya sangat kekar dan kencang’. Rose memilih pingsan daripada harus bertukar kata dengan pria ini.

“Oh, ayolah gadis bodoh! Jangan pingsan lagi!”

Raymond menarik tangan Rose dari pengangan pintu wardrobe. Sekalipun Rose baru saja bangkit dari tidurnya, tangannya terasa dingin. Raymond menyadari gadis ini benar benar ketakutan melihat dirinya.

“Tenang saja, aku tidak memperkosamu!” bisik Raymond di telinga Rose dengan lembut.

Mata Rose berkedip, tubuhnya masih dalam pelukan Raymond dan dahinya berkenyit waktu tetesan air dari rambut Raymond jatuh di ujung hidungnya. Harum shampo dan aroma maskulin memenuhi otaknya. ‘Kenapa lelaki ini ganteng sekali’ pikiran Rose menjadi liar.

“Mandilah, dan kita akan sarapan!”

“Eh,Oh, K-Kenapa aku disini?”

“Umm, kamu mabuk tadi malam!”

“Owggjhm, bagaimana bisa?”

“Bukannya kamu mimum koktail? Dan itu Frech connection dengan kadar alkohol tinggi!” Raymond mendukung Rose ke sofa, “Aku sudah menyiapkan pakaian gantimu, gantilah!”

“Lho? Ehmm…..Aku!”

“Bajumu kena muntahanmu dan itu bau kan? Aku tidak menyentuhmu, jadi aku membiarkanmu tidur setelah kamu puas muntah!”

Rose berdiri dan melihat pada beberapa noda di dadanya, dan itu memang berbau asem. Wajahnya merona dengan mata lentik berpendar. “Terima kasih!” Rose menggumamkan kalimat itu dengan pelan.

Di kamar mandi Rose dengan gemetar melihat pada tubuh telanjangnya, semua sempurna tidak ada goresan dan tanda tanda sentuhan apa pun. Ada bau tidak sedap seperti bekas muntah. Rose merasa lega, ‘Apakah lelaki itu gay? Uh, untung aku bertemu dengannya, dia tidak memanfaatkan kebodohanku’

Bip-----Bip-----Bip

Bunyi ponsel Rose terus berdering, Raymond mengabaikannya tetapi ponsel itu tidak cuma berdering juga bergetar. Kupingnya menjadi gatal. Dia menerima panggilan. Terdiam sejenak mendengar raungan di ujung telpon.

“R-Roseeeeeeee!!!! Oh, bodoh! Ibu kos benar benar mengusirku keluar hari ini! Rose?”

Raymond tidak bersuara, tetapi dia memutuskan menjawabnya ketika mendengar suara yang berteriak menjadi seperti putus asa.

“Kita harus mencari jembatan yang indah, Rose! Di kolong jembatan yang indah pasti ada tempat yang nyaman untuk kita berlindung. Hiksss”

“Rose masih mandi!” suara Raymond terdengar serak dan tenang di ujung ponsel itu.

Kinkin yang biasanya meraung, menjadi gagap. “S-Siapa kamu? Kenapa kamu tahu Rose masih mandi? Thomas?”

Mata Raymond membelalak, ‘Thomas?’ “Umm”

“Eh, kamu bener bener Thomas?” cecar Kinkin dengan cepat.

“ummm”

“Oh, syukurlah! Kalian akhirnya bersama” Kinkin menghela nafasnya, “Koper Rose ada di kontrakanku, suruh dia mengambilnya dan biarkan Rose tinggal bersamamu, kamu adalah pacarnya. Harus lebih perhatian dengan Rose, sepertinya dia juga diusir oleh bibinya, karena itu bibinya mengantarkan kopernya ke tempatku dan sekarang aku diusir oleh ibu kos karena telat membayar uang sewa. Kamu mengerti kan? Tolong jaga Rose! Oke!”

“Ummm-----Aku bukan Thomas!” Raymond memonyongkan bibir.

Kinkin yang sudah tenang,menjadi panik. “Hey, bung! Kamu siapa------Jangan katakan Anda? Di mana Rose, Rose, Rose!!!!”

Raymond menyadari Rose sudah selesai mandi dan berdiri di depan pintu, memandangi dirinya, “Seseorang menelponmu dan berbicara tentang kopermu!”

Rose mengangguk, dia mengambil ponselnya dan melihat layar ID adalah Kinkin, “Dia sahabatku!”

“Kalau sudah siap, ayo sarapan dulu. Restoran hotel masih buka untuk waktu sarapan”

Rose melirik jam pada ponselnya, 9.30 ------ Dan perutnya keroncongan. Jika harus bertemu dengan Kinkin, dia perlu memenuhi perutnya dengan makanan terlebih dahulu.

Atau dia akan mati kelaparan mendengar ocehan sahabatnya yang seperti petasan itu------

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED