"Ibu Aulia Putri. Silahkan masuk ke ruangan wawancara." Seorang karyawan memanggil Aulia untuk masuk ke dalam ruangan wawancara.
Dengan langkah tegap Aulia langsung masuk ke dalam ruangan wawancara.
"Silahkan duduk. Saya Bagus Prasetyo, sekretaris CEO. Karena CEO ada acara keluarga mendesak, jadi saya yang di utus untuk mewawancarai peserta yang melamar untuk mengisi posisi manajer pemasaran di perusahaan ini."
Axel memang langsung ingin turun untuk menyeleksi peserta yang melamar untuk posisi manajer pemasaran, karena menurutnya posisi manajer sangat penting, jadi harus diisi oleh orang yang layak.
Tetapi karena Axel mendapat telepon dari ibunya untuk ikut pertemuan keluarga kali ini. Jadi dia menyerahkan tugas ini kepada sekretarisnya.
"Berdasarkan CV yang anda kirim, anda memiliki pengalaman yang bagus di bidang ini."
"Apa motivasi and melamar di perusahaan ini?" Bagus bertanya kepada Aulia.
"Tentu saja karena perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan terbesar di Indonesia, dan saya memiliki kemampuan untuk mengisi posisi yang ditawarkan. Dan saya yakin bisa meningkatkan keuntungan untuk perusahaan ini," ujar Aulia dengan mantap menjawab pertanyaan Bagus.
"Saya suka dengan orang yang optimis." Bagus tersenyum kepada Aulia.
Sesi wawancara terus berlanjut. Bagus mengajukan beberapa pertanyaan kepada Aulia. Dan Aulia selalu memberikan jawaban memuaskan yang diinginkan Bagus.
Sampai akhirnya sesi wawancara berakhir.
"Baiklah ibu Aulia. Saya rasa sesi wawancara ini sudah cukup." Bagus mengakhiri wawancaranya.
"Terima kasih pak, atas waktunya. Dan saya tunggu kabar baiknya." Aulia berdiri dan bersalaman dengan Bagus.
***
POV Aulia
Rasa dag dig dug jantung ini belum juga hilang. Semoga saja aku mendapatkan kabar baik dari hasil wawancara tadi.
Setelah wawancara selesai, aku langsung mencari restoran untuk makan siang, karena perut ini sudah meronta minta diisi. Aku pun mencari restoran terdekat yang bisa ditemukan.
Karena di sini kawasan elit, tentu saja restoran yang ada sekitar sini sangat mahal. Aku tidak akan mampu makan di restoran mahal di sekitar kantor ini. Bersyukurnya masih ada restoran kecil untuk orang-orang sepertiku.
Langsung saja kulangkahkan kaki lku menuju restoran kecil yang ingin kutuju. Dan tiba-tiba langkah kakiku terhenti menyaksikan seorang ibu menangis minta maaf kepada seorang pemuda.
Ternyata ibu itu menangis dimarahi oleh pemuda yang bajunya tertumpah oleh minuman yang di bawa sang ibu. Pemuda itu terus saja memarahi si ibu sampai melayangkan tamparan ke arah si ibu.
"Berhenti…!" Aku spontan saja berteriak menghentikan aksi sang pemuda dan langsung menghampiri si ibu.
"Siapa kau? Ikut campur urusanku." Pemuda itu melotot ke arahku.
"Apa kau tidak punya hati? Ibu ini tidak sengaja menumpahkan minuman itu dan dia sudah meminta maaf padamu. Seharusnya kau sebagai seorang yang lebih muda bisa berlapang dada. Bagaimana jika ibumu diperlakukan hal yang sama oleh orang lain hah?!" Aku menumpahkan kekesalanku pada pemuda itu.
"Beraninya kau ikut campur urusanku." Pemuda itu tambah geram mendengar kata-kataku dan bersiap akan memukulku.
"Pukul saja aku, kalau kau tidak malu melawan seorang wanita!!" Aku berteriak dan melangkah berani ke arah pemuda itu.
Keributan itu berhasil menyita perhatian orang yang berlalu lalang di kawasan perkantoran ini. Orang-orang yang menyaksikan berbisik-bisik mengumpat sang pemuda.
Melihat kondisi sekeliling yang semakin ramai membuat pemuda itu semakin terpojok mendengar bisikan di kerumunan yang mendapat dan mengurungkan niatnya untuk memukulku.
"Hari ini kau beruntung." Dia segera mundur dan melangkah pergi menjauhi kerumunan.
"Ibu tidak apa-apa?" Aku bertanya pada ibu itu.
"Ibu baik-baik saja, Neng. Terima kasih sudah membantu ibu." Ibu itu mengucapkan terima kasih padaku.
"Sama-sama, Bu." Aku tersenyum padanya.
Entah kenapa menyaksikan ibu itu menangis dan akan di pukul tadi membuatku tak tahan. Mungkin karena aku paling benci dengan kekerasan. Apalagi terhadap ibu-ibu yang sudah tua.
Ini mengingatkanku pada ibu. Ibu dulu sering bertengkar dengan ayah. Dan ayah sering ringan tangan pada ibu. Bersyukurnya itu tidak berlangsung lama. Setelah aku bekerja dan mampu memenuhi kebutuhan kami, aku meminta ibu untuk berpisah dengan ayah. Awalnya memang ibu menolak saranku itu. Tetapi aku terus meyakinkan ibu bahwa aku bisa hidup berdua saja dengan ibu. Hingga akhirnya ibu menggugat cerai bapak dan resmi bercerai.
Prinsipku untuk apa bertahan dalam satu hubungan yang dapat menyakiti diri sendiri dan melukai hati orang-orang di sekitar kita yang sayang dan peduli dengan kita.
Kejadian ini terjadi di depan restoran mahal. Mungkin pemuda tadi baru keluar dari sana.
Setelah orang-orang yang mengerumuni kami bubar urusanku membantu ibu tadi selesai, aku langsung melangkahkan kaki ke arah restoran yang ingin kutuju.
Tanpa Aulia sadari, ada seorang lelaki dalam restoran mewah itu yang memperhatikannya sambil tersenyum.
***
POV Axel
Wanita itu berani sekali. Aku menyaksikan keberanian wanita itu melawan seorang pemuda demi seorang ibu yang tak dikenalnya.
Setelah kepergian keluargaku usai pertemuan keluarga yang diadakan di restoran dekat kantorku. Aku menyaksikan kejadian yang menghibur. Seorang wanita cantik. Ya… dia cantik dengan pakaian sederhana tapi terlihat elegan dan mewah di tubuhnya. Kulitnya yang putih, rambut panjang sedikit bergelombang, serta punya tubuh yang bisa dibilang idamanku. Montok dan seksi.
Sambil menyeruput minumanku, aku menyaksikan bagaimana wanita itu mengatasi pemuda yang memarahi ibu itu. Sambil tersenyum ketika wanita itu berhasil membuat pemuda arogan itu mundur dan berlalu pergi.
Seketika senyumku hilang mengingat hasil pertemuan keluarga tadi. Mom dan Dad memaksaku untuk berhenti bermain-main dengan wanita dan meminta agar aku serius memikirkan masa depan. Mengingat umurku lebih dari cukup untuk berumah tangga.
Tentu saja aku tak bisa. Bagiku memiliki hubungan serius dengan wanita merupakan hal tak mungkin. Aku masih ingin bebas, tidak terikat dalam satu hubungan yang membosankan dengan seorang wanita.
Tiba-tiba handphoneku. Itu dari Samuel. Samuel adalah salah satu sahabatku, kami bertemu dan berteman saat kuliah di LA. Langsung saja kuangkat telepon darinya.
"Hallo, ada apa?" Ucapku langsung to the point.
"Kau tak pernah berubah ya, ketus sekali." Muel mengomel.
"Nggak perlu basa-basi, waktu berhargaku bisa hilang sia-sia mendengar ocehanmu."
"Kita kan sudah lama tidak kumpul, yang lain ngajakin di klub biasa."
"Kapan?"
"Besok malam. Bisa kan? Yang lain nanya lo terus."
"Lihat besok. Kalau nggak sibuk aku datang."
"Sebaiknya Lo datang. Kita bersenang-senang. Banyak yang baru dan itu tipe lo."
"Ya, sudah."
Telepon pun berakhir dengan kesepakatan aku akan ikut kumpul dengan yang lain.
Sudah lama juga aku nggak kumpul bersama yang lain. Terakhir tiga minggu yang lalu. Sepertinya aku juga butuh refreshing, sekalian mencari wanita baru pengganti Jenifer.
Setelah telepon berakhir aku keluar dari restoran dan menuju mobilku yang terparkir. Tancap gas kembali lagi ke kantor mengingat masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan.
Hari ini adalah hari pengumuman hasil wawancara kemarin. Aulia harap-harap cemas menunggu telepon dari perusahaan yang ia lamar.
"Bagaimana hasil wawancaramu, Nak? Apa sudah ada kabar?" tanya ibu sambil menyendokkan nasi goreng ke piring Aulia.
"Belum ada kabar, Bu. Kepastiannya hari ini Bu, kalau Aulia dapat telepon berarti di terima. Kalau tidak ada kabar apa-apa berarti belum rezeki Aulia, Bu." kata Aulia menjelaskan kepada ibunya.
"Ibu selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Makan yang banyak sayang."
"Terima kasih, Bu."
Aulia berharap bisa mendapatkan kabar baik. Besar harapannya dapat diterima di perusahaan itu. Sudah mimpinya dari dulu dapat bekerja di perusahaan terbesar di Indonesia itu. Apalagi saat ini Aulia memang sangat membutuhkan pekerjaan itu. Agar bisa memenuhi kebutuhan ia dan ibunya.
Sudah dua minggu sejak Aulia berhenti bekerja dari perusahaannya yang lama. Aulia memilih berhenti karena merasa akan sulit mengembangkan kariernya di sana. Dua tahun bekerja di sana membuat Aulia mengerti. Naik jabatan di sana berdasarkan link orang dalam tidak berdasarkan kinerja pegawai. Hal itu terbukti ketika teman kerja Aulia di promosikan, sedangkan penjualannya jauh lebih besar Aulia. Hanya karena temannya itu keponakan dari pemilik perusahaan jadilah dia dapat promosi naik jabatan.
Setelah berhenti bekerja, Aulia langsung mencari lowongan kerja untuk melamar. Dan bersyukurnya Aulia masih punya tabungan untuk kehidupan dia dan ibunya. Tetapi sekarang tabungan itu sudah mulai menipis.
Drrttt… drrttt… dddrrrtt…
Handphone Aulia berbunyi.
Ada nomor tak dikenal menelepon. Langsung saja Aulia angkat.
"Halo, dengan ibu Aulia Putri?"
"Iya, Bu. Saya Aulia Putri. Ada yang bisa saya bantu?"
"Begini, Bu. Kami ingin menyampaikan bahwa ibu di terima di perusahaan kami. Dan besok, ibu sudah bisa mulai bekerja."
"Alhamdulillah. Baik, Bu. Terima kasih atas informasinya."
Mendengar kabar bahagia itu membuat Aulia sangat senang. Dia berlari memeluk ibunya dan memberi tahu kabar gembira itu. Kabar itu disambut dengan penuh rasa syukur oleh ibu Aulia.
"Aku harus memberi tahu Filda kabar baik ini," ucapku seraya segera menelepon Filda.
"Hallo, Lia… Ada apa?"
"Aku ada kabar bahagia."
"Kabar bahagia apa, Aulia? Coba aku tebak, pasti kau diterima di PT. Wijaya, kan?"
"Kenapa kau bisa tahu, Fil?"
"Tentu saja aku bisa menebak. Mana ada yang mau menolak orang berbakat sepertimu. Hahaha…"
"Kau terlalu memujiku, Fil."
"Itu memang kenyataannya Aulia. Nanti malam aku jemput ya. Kita rayakan keberhasilanmu menjadi manajer di perusahaan besar."
"Kamu mau mengajakku ke mana, Fil?"
"Pokoknya kamu ikut saja. Kita akan bersenang-senang."
"Baiklah. Kali ini aku percaya padamu, Fil."
Setelah berbincang, Aulia mengakhiri teleponnya. Filda adalah sahabat satu-satunya yang di punya Aulia. Mereka berteman dari SMA sampai sekarang. Filda anak yang baik, walaupun orang berada tetapi tidak pilih-pilih teman. Dia mau berteman dengan orang seperti Aulia.
Filda Quela Pradipta (24 th), gadis cantik dan stylish. Berkat kecantikan dan bakatnya mengantarkan Filda meraih ketenaran dari pekerjaannya sekarang. Ya, Filda merupakan seorang model papan atas yang sering menjadi ambassador brand-brand terkenal. Kemampuan modelingnya pun patut di acungi jempol. Dia sudah biasa berlenggang di atas panggung memamerkan baju-baju dari desainer terkenal.
Persahabatan mereka tidak diragukan lagi. Sudah seperti saudara kandung. Di saat suka duka selalu bersama. Filda selalu ada di saat Aulia membutuhkannya, begitupun sebaliknya.
Bagi Filda, Aulia adalah sahabatnya yang berharga. Dia sangat peduli kepada Aulia. Ketika Aulia ada masalah, dia adalah orang terdepan yang akan membelah Aulia.
***
Axel melangkahkan kakinya ke club malam yang sering ia kunjungi. Teman-temannya sudah menunggu di dalam. Baru masuk saja Axel sudah di sambut oleh wanita seksi yang ada di club itu.
"Xel, aku merindukanmu. Lama sekali kau tak ke sini." Seorang wanita seksi menyapa Axel dengan senyuman menggodanya.
"Benarkah kamu merindukanku?" Ucap Axel sembari mengelus pipi sang wanita.
"Tentu saja, mau ku temani malam ini?" Bisiknya dengan nada sensual di telinga Axel.
"Tidak perlu, aku hanya ingin bertemu teman-temanku. Di mana mereka?"
"Aku sedikit kecewa.ereka ada di tempat biasa." Wanita itu berlalu meninggalkan Axel.
Axel memasuki ruangan yang biasa dia dan teman-temannya tempati. Ruangan khusus untuk pelanggan VIP. Ruangan yang cukup besar dengan dinding kaca. Di ruangan itu mereka bisa melihat aktivitas di luar ruangan, tetapi orang di luar tidak bisa melihat mereka.
"Hay…!!" Axel menyapa teman-temannya.
"Lama banget lo, Xel." Samuel melirik ke arah Axel sambil menghisap rokoknya.
"Biasalah. Gue ngelarin kerjaan dulu."
"Sok sibuk lo, Xel! Coba nikmati sedikit hidup lo. Hidup juga ini butuh senang-senang, Xel." Dani ikut menimpali.
"Karena butuh refreshing lah gue datang ke sini. Mana Aldo?" tanya Axel sambil mencari sosok Aldo.
"Biasalah di kamar. Udah nggak tahan dia hahaha." Samuel tertawa lepas ketika membicarakan Aldo.
Pembicaraan ketiga sahabat itu terhenti karena suara ketukan pintu. Masuklah tiga orang wanita seksi yang membawakan minuman. Setelah para wanita itu meletakkan minuman yang dibawa, mereka langsung memposisikan duduk di samping Axel dan teman-temannya.
"Aku yang memanggil mereka untuk menemani kita minum." Dani langsung berkata ketika Axel memasang wajah penuh tanya ke arahnya.
Wanita yang berada di samping Axel langsung bersandar manja pada Axel, dengan tangan nakalnya mencoba merayu Axel.
Ulah si wanita membuat Axel junior bereaksi. Axel langsung melumat habis bibir si wanita sambil mengarahkan si wanita itu duduk di atas pangkuannya.
"Beraninya wanita jalang sepertimu menggodaku." Axel menatap tajam ke arah wanita yang duduk di pangkuannya.
"Tapi Tuan suka, kan?" ujarnya berbisik dengan suara sensual ke telinga Axel.
"Kali kau beruntung karena aku butuh hiburan."
Axel pun kembali bibir wanita itu. Dengan kedua tangan yang tak tinggal diam. Satu tangan memegang tengkuk di wanita dan satu tangan lagi menyusup ke dalam dress mini yang dikenakan si wanita. Mencoba mencari dua benda kenyal yang tidak dibungkus itu.
Ciuman mereka semakin panas, tangan Axel yang tidak berhenti meremas gundukan kembar si wanita yang ukurannya lumayan besar. Aksi Axel membuat si wanita mendesah juga.
Di tengah aksinya Axel tiba-tiba berhenti. Dia melihat ke arah luar dinding kaca. Di sana tampak seorang wanita cantik yang baginya tidak terlihat asing.
"Kenapa Tuan berhenti?" Wanita yang menemani Axel bertanya.
Axel langsung mendorong si wanita untuk berdiri dari pangkuannya.
"Aku tidak berselera padamu. Pergilah…!" Axel mengusir wanita itu dengan memberikan beberapa lembar uang.
Wanita itu mengambil uang yang diberikan Axel dan langsung pergi menghilang dari hadapan Axel.
Axel terus saja memperhatikan wanita yang duduk di meja bartender. Wanita itu menarik perhatiannya. Tiba-tiba dia teringat sesuatu.
"Panisaja wanita itu tidak asing, ternyata dia wanita yang berani itu." Axel bergumam sambil tersenyum dengan pemikiran yang sulit di tebak.
"Apa wanita tadi tidak menarik, Xel?" Samuel bertanya keheranan ketika melihat Axel mengusir wanita yang menemaninya.
"Aku ada urusan yang lebih penting." Axel melangkah meninggalkan teman-temannya.