Hari ini.
Siswa kelas X di SMK Satu Nusa mulai memasuki awal sekolah baru pada jenjang tingkatan yang lebih tinggi.
Disinilah, katanya 'Masa Putih Abu-Abu itu adalah masa yang paling indah bagi semua alumni pelajar yang ada.' Tidak munafik, semua anak yang belum menjadi murid 'SMK/SMA' penasaran apakah rumor itu benar kenyataannya.
🌹🌹🌹
Bakhtiar Alan Albilal.
Yap! Rani ingat nama itu. Rani? Dia adalah pelaku utama dari cerita sakral yang ada di judul ini.
Entahlah, Rani juga tidak mengerti. Apakah itu yang dinamakan pubertas? Bisa-bisanya, Rani terus teringat akan cowok itu. Cowok teman sekelas PLS ( Pengenalan Lingkungan Sekolah ).
"Eh, Ran! Lo baru dateng?" tanya Kalista -- teman sebangku Rani-- begitu melihat Rani datang.
Rani duduk ke kursinya, lalu meletakkan tas ke meja. "Iya, Ta. Gue baru dateng. Tadi angkotnya agak lelet di jalan gara-gara sepi. Nggak tau deh, hari ini gue kesiangan sampe ketinggalan rombongan biasanya."
Kalista ber 'Oh' ria. "Untung aja lo nggak sampe bates Bel."
Kriiiing !
"Ad... duh.. kaget gue astaga, baru aja disebut," ringis Kalista.
Rani terkikik, "Yang sabar, Ta. Speakernya pas ada di atas kita."
"Pengen gue ledakin jadinya," cicit Kalista kesal.
"Selamat Pagi!"
Mendadak keramaian yang tadi merebak di area 'Kelas D' menjadi tenang. Pangeran Bima Pratama. Itulah nama yang tertera di nametag cowok berbadan tinggi yang tiba-tiba saja memasuki kelas setelah bel berbunyi.
"Kalian pasti sudah kenal saya, kan?" tanya Pangeran.
"SUDAH, KAK!"
"Si-" perkataan Pangeran terpotong.
Tok tok tok !
Seisi kelas langsung menoleh ke pintu. Terdapat satu siswa dan satu siswi yang berdiri dengan tampang lempeng disana.
"Permisi, Kak. Maaf telat," kata cowok itu.
Rani menghela napas. Itu Alan. Bakhtiar Alan Albilal. Cowok yang tiba-tiba membuat Rani terbayang-bayang hanya sejak kali pertama mereka bertemu. Tetapi ... bisa-bisanya Alan terlambat di hari pembinaan seperti ini?
Tak ayal, suasana kelas sepi seketika. Pangeran yang tadinya menoleh ke pintu, kini kembali menoleh ke hadapan isi kelas.
"Tadi sampai mana?" tanya Pangeran. Dia tidak menghiraukan kedatangan siswa dan siswi itu.
Seisi kelas masih ragu untuk menjawab. Karena memang, keadaannya secanggung itu.
"Ditanya ya di jawab dong!" tegas Pangeran.
Spontan ada satu murid yang angkat tangan sambil berdiri.
"Apa?" tanya Pangeran.
"Saya mau jawab pertanyaan, Kakak!" jawabnya.
"Pertanyaan apa?"
"Tadi ... Kakak nanya 'sampai mana', kan?"
Pangeran mengangguk.
"Itu .... Kak! Kita sampai di .. Kakak nanya 'kalian tau nggak saya siapa?'. Begitu," jawab siswa itu.
Pangeran menghela napasnya. "Nama lo siapa?"
"Saya Taufiq, Kak!"
"Oke! Lanjut. Lo duduk lagi aja. Jadi-"
"Permisi, Kak. Saya masih ada disini!" ucap Alan sekali lagi.
Pangeran mendengkus dengan cukup keras. Kali ini dia memutar badan untuk melangkah menghampiri dua murid yang sedang telat itu.
Satu kelas hanya kembali menyimak apa yang akan terjadi. Pangeran terlalu menyeramkan untuk dibicarakan.
"Lo siapa? Seenaknya banget jam segini baru dateng, sekolah nenek lo?" tanya Pangeran sedikit kasar.
"Saya Bakhtiar Alan Albilal, Kak! Nama saya ada di daftar pembinaan siswa baru di 'Kelas D'," jawab Alan se-sopan mungkin.
"Kalau gue coret mau nggak?"
"Jangan, Kak! Maaf, saya salah," ucap Alan.
"Lo sadar, ngaku gih! Lo salah apa?" tanya Pangeran lagi.
"Saya terlambat, Kak."
"Karena apa?"
"Karena jemput saya, Kak! Maaf," sahut siswi di sebelah Alan.
Pangeran berganti tatapan dengan cewek di sebelah Alan.
"Lo siapa?" tanya Pangeran ke cewek itu.
"Sa-Saya, Reyna Putri Agustin, Kak. Saya juga bagian dari peserta pembinaan di 'Kelas D'," jawab Reyna.
Pangeran memutar bola mata malas. Jadi, dua murid dihadapannya ini tengah terlambat bareng. Oke, asumsi Pangeran akan bisik rumor ada yang berpacaran di 'Kelas D' ternyata benar.
"Dasar! Bocah kemarin sore masih bau bedak udah pacaran aja lo berdua!"
Para penyimak tergelak dalam tawa, kecuali Rani.
"SIAPA YANG SURUH KALIAN KETAWA?!" bentak Pangeran.
Mendadak semua kembali diam.
"Maaf, Kak," kata itu terulang lagi dari mulut Alan sehingga memecah keheningan yang melanda.
"Kalian berdua masuk kelas."
Alan dan Reyna saling pandang. Mereka ragu untuk melangkah.
"Kenapa diem? Nggak mau masuk? Oke biar pintunya saya tutup."
"Iya ..iya. Iya, Kak! Kita masuk," sahut Reyna cepat.
"Kalian berdua berdiri di sini sampai jam pembinaan ketiga. Istirahat nanti kalian boleh keluar kelas. Maaf, ini konsekuensi bukan siksaan. Berani telat, berani bertanggung jawab, harus berani dihukum. Iya, kan?" ujar Pangeran penuh ketegasan. Pangeran menunjuk titik lantai di depan papan tulis.
"Iya, Kak. Saya mengerti," jawab Alan dingin.
Pangeran mengangguk.
Lalu, Pangeran. Dia 'Ketua Osis di SMK Satu Nusa', kembali melanjutkan materi pembinaan untuk siswa barunya. Dia memang punya rasa iba terhadap dua murid yang dia hukum. Tetapi, kesalahan yang mudah dimaafkan pun akan mudah diulangi. Hukuman itu wajib agar mereka jera, asalkan hukuman itu masih pada batas kemanusiaan.
"Kak!" Rani mengangkat tangan kanannya.
Pangeran menoleh terhadap Rani. "Ya?"
"Saya izin ke toilet, Kak!" jawab Rani.
"Oke, jangan terlalu lama! Takut diculik hantu sekolah."
"I-iya kak," ucap Rani.
"Oke."
Alan memandang sejenak ke arah Rani. Tetapi .. dia mendapati sesuatu yang aneh di tubuh Rani. Alan terpusat pada satu titik. Gawat!
Setelah melihat Rani berjalan beberapa langkah. Alan melesat menyusul di belakang Rani.
"Kak, Maaf! Tiba-tiba saya mules! Nanti balik lagi!"
Pangeran yang semula sibuk menjelaskan, tersentak sedikit. Begitupun murid lain yang tadinya fokus.
"Ngagetin aja sialan!" rutuk Pangeran lirih.
"Aduh, itu anak tiba-tiba kok jadi ngintilin si Rani. Jangan-jangan mau godain lagi,"
"Nggak usah mikirin yang aneh-aneh kamu, Udin!" sentak Pangeran.
"Nama saya Heri, Kak! Bukan Udin."
"Ya udah terserah. Yang penting jangan mikirin macem-macem. Orang pacar tercintanya masih dihukum," kata Pangeran logis.
"Iya sih! Kali aja tadi sarapan dia kebanyakan sambel," sahut siswa yang lain.
"Makannya, sebelum berangkat sekolah minum obat anti mencret!"
"Sudah-sudah! Kelas ini bukan ajang gosip dan ejekan! Jadi kita kembali fokus ke materi yang tadi saya jelaskan untuk pengenalan lingkungan sekolah," lerai Pangeran agar suasana kembali kondusif.
Semua murid kembali senyap, hanya tersisa suara Pangeran yang lantang sedang menjelaskan. Namun, pikiran Kalista, teman sebangku Rani cukup penasaran. Itu sebenernya Alan memang beneran mules atau modus untuk ngintilin Rani ke kamar mandi. Kalista pantas curiga, sebab, Rani tak kalah cantik dengan pacar si Alan itu.
"Ish! Masa bodo ah! Palingan juga beneran mules," kata Kalista lirih untuk berusaha menjernihkan pikiran kotornya.
Alan masih mengikuti Rani.
"Duh!" Alan menepuk dahinya. "Gimana gue bilangnya?"
Sementara Rani, dia sadar jika ternyata ada yang mengikutinya. Karna takut, refleks Rani mempercepat langkahnya.
Jangan bilang kata Kak Pangeran jadi kenyataan. Diculik hantu sekolah, batin Rani was-was.
Sedangkan Alan, cowok itu makin bingung. "Ini kenapa dia malah makin ngibrit, sih?" gerutunya mempercepat langkah.
Alhasil, dua manusia itu sama-sama berjalan cepat hampir seperti sedang kejar-kejaran. Bayangkan saja bagaimana keadaannya.
"Kalian berdua ngapain sih?"
Seketika itu juga, Alan dan Rani berhenti di tempat masing-masing. Dengan posisi Rani di depan dan Alan di belakang pada jarak sekitar satu setengah meter.
"Enggak ngapa-ngapain, Kak!" jawab Alan dan Rani kompak.
Tepat dengan itu, Rani menoleh ke belakang. Lah, kok ada si Alan? Jadi daritadi yang ngikutin gue.. ? batinnya kembali mengudara.
"Kalau nggak ngapa-ngapain kenapa jalan ngibrit gitu lo berdua? Kayak yang di kasih speed booster 2x? Hayo mau ngapain?"
Raihan Satria. Itu nama yang ada di nametag salah satu osis di Satu Nusa. Kakak osis yang tiba-tiba keluar dari kamar mandi dan mengejutkan Rani juga Alan.
"Ini kak, saya sih mau ke toilet. Nggak tau kalo yang di belakang," jawab Rani jujur.
"Oh. Lo juga mau ke toilet?" tanya Raihan menatap Alan.
"Iya," jawab Alan.
"Oh oke. Ingat! Jaga jarak batasan! Laki-laki dan perempuan toiletnya beda! Jangan sampe-"
"Iya, Kak! Gue paham," potong Alan cepat.
Ia sengaja, sebab dirinya makin bingung karena melihat sesuatu di badan Rani yang semakin banyak.
"Y-yaudah, Kak. Permisi," kata Rani. Cewek ini bersiap untuk melanjutkan langkahnya.
Secepat kilat, Alan menyusul langkah Rani. "Buruan! Gue kebelet!" kata Alan yang sudah menutupi punggung Rani.
Rani terjingkat, "Ish. Astaga. Kaget tau. Ngapain sih nempel nempel di belakang gue?"
"Ck. Udah diem. Buruan jalan! Gue kebelet. Tapi lo duluan, biar gue di belakang," kata Alan.
"Ngapain? Kayak naik sepeda aja sih," risih Rani. Bisa-bisanya gue naksir ma cowok begini, batin Rani heran.
Raihan menoleh pada dua anak yang terlihat buru-buru ke toilet itu. Sedetik kemudian, ia mengedikkan bahunya. "Bukan urusan gue, ah!" ucapnya. Lanjut saja, cowok manis berkulit putih itu melanjutkan jalannya keluar dari jalur toilet.
Alan menyadari jika Raihan sudah tidak ada di toilet. Sekarang, kesempatan bagus untuk mengatakannya kepada Rani.
"Bentar!"
"Eh.. eh, aduh! Apaan sih astaga," ringis Rani karena Alan mendadak menarik kaos seragam belakangnya sampai akhirnya Rani harus tersentak mundur.
"Sini!" Alan memutar paksa posisi Rani jadi berhadapan dengannya.
Deg
Tatapan mata keduanya bertemu. Jarak ini cukup dekat. Sebagai manusia normal baik Rani maupun Alan pasti akan merasakan suatu getaran yang tak biasa. Apalagi, Alan ini manis dan Rani pun cantik. Ya bukan tidak mungkin iman masing-masing melemah.
"Iya. Gue tau gue ganteng," ucap Alan tiba-tiba.
"Ish." Rani melepas cekalan tangan Alan di badannya. "Kenapa si? Udah ngikutin, nempel-nempel, terus tiba-tiba puter badan gue. Lo aneh tau nggak. Udah bagus tadi lo dihukum sama Kak Pangeran, tapi malah nyusul gue kesini. Kayak yang kur-"
"Ssst!" Telunjuk Alan menempel pada mulut Rani. Cewek itu juga spontan terdiam dan terkelu dalam pikirannya.
Karena Rani sudah diam, Alan menjauhkan jari telunjuknya. Tindakan yang ia lakukan berikutnya adalah melepas jaket yang masih menempel di badannya. Yah ... sejak baru saja sampai di kelas tadi, Pangeran tidak memberikan kesempatan untuk Alan melepas jaket dulu, dirinya langsung dihukum begitu saja.
Tetapi, ternyata ada untungnya.
Alan membalutkan jaketnya ke pinggang Rani. Dengan telaten dia mengikat pula bagian lengan jaket ke bagian perut depan Rani, supaya terkait dan tidak turun dari pinggang.
Rani? Apa kabar dia?
Astaga! Alan! Ini apa-apaan sih? Jangan bikin gue meriang di tempat gini dong. Apalagi lo udah punya cewek, kalau gue baper yang tanggung jawab siapa? batin Rani menari-nari.
"Heh! Nggak usah bengong!" tegur Alan.
Rani terkaget. "Si-siapa juga sih yang bengong?!"
"Lo lah, masa bayangan lo," jawab Alan ketus.
"Galak amat sih jadi cowok. Lagian, ngapain lo tiba-tiba giniin gue? Pake ngalungin jaket segala. Apa jangan-jangaan..."
"Jangan-jangan apa?"
"Lo suka ya sama gue? Terus lo mau nembak gue? Terus sekarang cewek lo yang masih dihukum, mau di kemanain? Kok lo playboy sih?"
Alan takjub. Dia tertawa garing.
"Aduh, mbak. Pikiran mbak terlalu percaya diri ya? Maap saya ga playboy kok cowoknya," kata Alan.
"Ya terus apa? Ngapain begini? Jangan bertele-tele deh."
"Mau tau banget?" tanya Alan.
"Tolong ya! Ini gue mendesak banget mau ke toilet. Gara-gara lo bisa-bisa bahaya nih gue," kata Rani.
Alan memutar bola mata malas. "Oke. Jadi.... tadi pas lo keluar kelas, gue liat sesuatu di rok belakang lo. Gue pikir itu akan memalukan kalo-"
"Tunggu! Sesuatu di belakang rok gue? Hah?" potong Rani.
Alan sekarang jadi garuk-garuk kepala. Bingung juga, karena ini konteksnya sangat sensitiv bagi kaum Hawa, juga rada canggung untuk kaum Adam. "I-iya. Dan warnanya merah. Makannya gue buru-buru susulin biar lo-"
"Cukup!" kata Rani sedikit menekankan. Tiada tanda angka satu, dua, tiga, tiba-tiba Rani balik badan lanjut ngacir lari jurus seribu. Melenyap dari pandangan Alan.
Tolong, ada yang punya kotak ngga? Gue mau nitip muka. Malu gaes, batin Rani dalam larinya.
Alan yang sekarang masih mematung, akhirnya sadar pada dunia nyatanya. Dia kembali menggaruk kepalanya. Perlahan, kakinya bergerak untuk melangkah memutar dan menuju ke kelas.
"Kocak juga," ucapnya singkat. Lalu terukir senyum manis setelahnya.
🌹🌹🌹
Sluurp! Bunyi sisa air keran yang baru saja dimatikan oleh Rani. Rani menatap kaca di wastafel toilet wanita itu.
"Ya ampun astaga. Tadi malem gue mimpi apa coba? Bisa-bisanya bocor gini di depan dia??" monolognya sambil menatap kaca.
Rani melihat ke bawah. Roknya sudah terganti. Untung saja, ada kakak kelas ceweknya yang mau meminjami dia rok. Kalau tidak bagaimana dan apa jadinya?
Tanpa ada angin yang berhembus. Pikiran Rani kembali terpaku pada satu nama yang berhasil menarik dirinya.
Rani terkesan dengan tindakan cowok itu. "Apa jadinya kalau Alan cowok yang nakal?" tanya Rani kembali bermonolog.
Ya, mungkin jika yang memergoki noda di rok Rani adalah cowok lain. Bisa saja dia malah digiring habis-habisan dan jadi bahan tertawaan seantero jagad Satu Nusa. Aduh, ngeri sekali membayangkannya.
"Alan ... Lo udah punya cewek. Tanpa gue tau sifat lo, gue udah suka liat lo. Dan sekarang, lo malah dateng kasih jasa ini ke gue. Kalo gak ada lo, gue udah malu banget pasti," ujar Rani masih menatap kaca.
"First Impression yang lo kasih ke gue, ini makin bikin gue suka sama lo. Tapi, lo kan udah ada yang punya."
"Masa iya gue harus jadi orang ketiga? Yah kan , naudzubillah banget!"
"Jahat ngga si? Tapi gapapa kan, Lan? Kalau aku menunggu putusmu?"
Rani bergeleng-geleng cepat! "Ish ngomong apaan sih astaga! Gausah gila, Ran! Inget! Lo ini masih bau bedak, bau kencur, kencing masih bengkok, jadi jangan dulu niat berpacaran!"
"Ah yaudahlah, mending balik ke kelas!"
Rani pun beranjak dari sana.
Namun, baru juga selangkah menjauh dari wastafel. Tiba-tiba tangannya tercekal oleh tangan lainnya. Mata Rani membulat ketika tau siapa yang sudah mencekal tangannya.
"Aduh .. gimana dong? Gue denger semuanya tanpa kecuali," kata cowok itu tepat di depan wajah Rani.