Vas bunga yang melayang dari tangan Shila nyaris mengenai Chandra seandainya pria itu tidak cepat mengelak. Dengan kegagalan tersebut, Shila semakin menggeram keras.
“Pergi kamu! Aku nggak mau liat muka kamu! Aku muak! Muak!” Shila menunjukkan semua kemarahannya.
“Fine! Aku pergi! Aku nggak akan pernah balik lagi ke sini!” ucap Chandra dengan amarah sama menggebunya.
“Fu*k you! B*ngsat! Pergi!” Urat-urat leher Shila menonjol semuanya. Mata wanita itu sudah membengkak dengan warna merah mendominasi. Seluruh wajahnya basah, campuran air mata dan keringat. Sama-sama asin yang memberikan rasa perih sampai di dalam hatinya.
Chandra menendang pintu sebelum akhirnya keluar dari rumah. Ia menggeram, mengeluarkan semua amarah yang dipendamnya sedari tadi. Chandra seumur-umur tidak pernah membentak orang lain, apalagi itu Shila, wanita yang dicintainya dari SMA hingga saat ini, setelah pernikahan kedua tahun mereka.
Namun, semuanya tidak berjalan lancar. Faktor eksternal dan internal terus menghunjam hubungan mereka hingga selalu bertengkar setiap hari. Tidak adanya kehadiran anak, karir yang sedang tinggi-tingginya sehingga semua hal dikorbankan, dan kecanduan obat-obatan terlarang. Semua itu ada pada Shila, dan Chandra bersedia menerima wanitanya itu bagaimanapun jua. Bahkan, meski dengan pekerjaan sederhana, Chandra mau mengambil alih tugas mencari nafkah agar istrinya tidak terbebani.
Namun, wanita itu sudah terlanjur sakit. Sikap possessive-nya benar-benar mengekang Chandra. Bahkan walau pria itu hanya bertegur sapa atau sekadar bersikap ramah dengan tetangga wanita, Shila akan langsung mengamuk. Masih mending jika yang dihajarnya hanya Chandra, tetapi Shila malah menghakimi si wanita itu sampai amarahnya mereda.
Chandra tidak tahan. Ia menjambak rambutnya sendiri sembari berjalan tanpa arah. Bahkan, kakinya hanya dialasi sandal rumahan.
Langkahnya menyusuri jalan raya dipelankan. Mengecek ponsel mengharapkan adanya pesan dari sang istri, tetapi notifikasinya hanya didominasi oleh pesan grup. Chandra tanpa selera membukanya.
ALUMNI SMA ADIWARNA
Tristan
Gw di depan rumah lo, Fan. Buru keluar.
Arfan
Hubungin si DJ, mo beneran ikut kagak
Tristan
Gw telpon2 nggak diangkat
Arfan
Jadi nggak dia ikutnya
Hanya empat pesan itu yang sempat dibaca oleh Chandra. Dia tanpa minat mengetik di layar ponsel.
Chandramawa Ahtar
W ikut
Tristan
Yeee Sibang*at ikut.
Kemarin2 diajakin nggak ada kabar
Arfan
Yo'i. Diajak²in sampe ngemis kite, nggak ditanggepin
Chandramawa Ahtar
Bacot
W otw ke rumah lo, Fan
Chandra benar-benar lelah sekarang. Ia menyugar rambutnya lalu memasukkan ponsel ke dalam saku celananya. Menghentikan taksi lalu segera bergerak menuju rumah sahabatnya.
*
Dari awal, Chandra tahu bahwa teman-temannya akan keluar nongkrong. Namun, yang ada dalam pikirannya hanya kafe outdoor dengan secangkir kopi yang menenangkan.
Tetapi yang didapati Chandra hanya musik dengan volume keras, lampu remang-remang, dan aroma alkohol menyengat. Pening kepalanya bertambah. Setiap kali ia akan kembali, Tristan mencegahnya.
“Kalau lo bokek, gue yang bayarin. Itung-itung perayaan akhirnya lo mau ikut kita-kita,” kata Tristan.
“Yo'i. Dari dulu kita itu pengen pamer cogannya SMA ADIWARNA sama cewek-cewek, eh elonya jual mahal. Sekarang, udah ke sini dengan sendirinya. Kita have fun, sambil lo cari pelarian. Cewek emang sedikit membosankan kalau udah dinikahi.”
Ucapan Daniel yang lebih sering disebut DJ itu, segera mendapat pelototan dari Chandra. Sungguh, istrinya selalu yang terbaik, meski minusnya banyak.
Tristan memisahkan diri. Sementara Arfan dan Daniel memaksa Chandra duduk di sofa maroon di pinggir ruangan.
Demi apapun, sakit kepala Chandra bertambah Sekarang. Dia hanya butuh pulang dan tidur.
Namun, Tristan datang dengan menggandeng seorang wanita. Ia juga menyediakan gelas ke masing-masing temannya dan diri sendiri. Setiap gelas berbentuk tabung kecil itu diisi cairan bening sampai setengah.
“Pilih-pilih ceweknya, diobral ceweknya.” Tristan terbahak-bahak dan menyesap minumannya sekali teguk.
“Buat Chandra pilihin, Tris. Dia salah pilih Mulu perasaan. Pilih istri kok yang kayak singa.” Lagi, Daniel sangat hobi mengganggu kenyamanan temannya itu.
“Ah, gue ahlinya kalau milih cewek.” Tristan meletakkan gelasnya di meja. Ia kemudian menggesek tangannya di dagu sambil mencari-cari wanita yang sibuk bergoyang di tengah ruangan.
“Yang itu cocok. Uh, goyangannya mantap pasti!” seru Tristan. Ia kemudian bertepuk tangan. Saat beberapa wanita menoleh, Tristan hanya perlu menunjuk wanita dengan dress setengah paha warna hitam tersebut, dan ia langsung didatangi.
Semua perhatian tertuju pada wanita itu. Dengan tinggi sekitar 157 senti, dan senyuman khas menggoda, ketiga pria itu langsung takjub.
“Ah, gila emang pilihan Lo, Tris!” seru Daniel. “Tapi tepos, njir.”
“Banyakin remes aja, ntar bakalan gede kok.” Tristan menanggapi ringan. Ia lalu mengalihkan perhatian pada wanita yang baru dipanggilnya itu. “Tuh, temen gue, puasin dia.”
Wanita itu langsung melipat tangan di depan dada. “B*lowjob 1 juta. Making out 2 juta. Making love 3 juta per jam, keluar di luar, pakai pengaman. Keluar di dalem 5 juta per jam. Sewa kamar belum termasuk.”
“Njir mahal amat!” Daniel angkat suara. “Perawan aja nggak semahal itu, njir.”
Wanita itu mencondongkan tubuh pada Daniel dengan wajah jengkel.
“Emang perawanmu itu bisa lo puas? Kalau service gue, nggak puas, jaminan uang kembali. Lo nggak bakalan dapat service premium kayak yang gue lakuin dari cewek manapun.”
“Wah, gila. Lo langsung urus temen gue yang polos itu.” Tristan langsung menunjuk Chandra yang langsung mengibaskan tangan menolak.
Namun, wanita itu sangat lincah menghampiri Chandra.
“Pilih yang mana? BJ? MO? ML?”
“Pokoknya puasin aja. Ntar bayaran, gue yang urus.”
“Tristan!” tegur Chandra tegas. Ia ingin menunjukkan amarahnya, tetapi seketika lenyap tergantikan malu saat wanita itu dengan cepat merayap di pahanya. “Plis, jangan dengerin dia. Saya sudah menikah.” Namun, sia-sia saja Chandra menunjukkan cincin pernikahannya. Wanita itu tetap menggapai kancing celananya, membuka tanpa segan.
Chandra tertegun dengan wajah wanita itu. Ia menahan dagu wanita itu dan meneliti wajahnya baik-baik.
“Berapa usia kamu?” tanya Chandra.
Wanita itu tampak kesal. Bibir merahnya mengerucut. “25.”
“Tapi kamu tidak terlihat setua itu,” pungkas Chandra.
“Itu nggak penting!” Bersamaan dengan itu, resleting celananya sudah turun.
Chandra kalap saat wanita itu tidak memiliki malu sama sekali.
“K-kamu mau melakukannya di sini?” tanya Chandra gugup.
Yang benar saja. Di sini ada puluhan orang asing, dan wanita ini dengan sangat kurang ajarnya mau melakukan service di depan banyak orang?
Wanita itu menoleh pada Tristan. “Dia mau sewa kamar.”
Tristan yang saat itu sedang bercumbu dengan wanitanya, mendorong wanita itu sebentar. “Sewa kamar. Gue yang bayar.”
Wanita di depan Chandra langsung berdiri. “Ayo!”
Chandra hanya melongo di sini. Temannya begitu mudah memasukkan Chandra ke dalam masalah, dan wanita itu dengan sangat murahnya langsung memberikan tubuhnya hanya demi uang.
“Lo nggak mau?” tanya wanita itu dengan sinis.
Chandra berdiri. Ia memperbaiki celananya yang terbuka.
“Gue mau pulang! Kalian senang-senang aja.” Chandra langsung berbalik, meninggalkan semuanya yang terbahak mengejek Chandra sebagai suami takut istri.
Sampai di depan kelab, Chandra berhenti sebentar. Mengusap rambutnya secara kasar. Seputusasa bagaimanapun Chandra, ia tidak boleh mengkhianati istrinya. Tidak boleh.
Tangannya secara tiba-tiba digenggam lembut. Wanita itu pelakunya. Ia tersenyum lebar khas perempuan biasa. Chandra tertegun sebentar. Wanita itu benar-benar seperti berusia belasan tahun saja. Matanya menyiratkan ketulusan, dan itu menghipnotis Chandra. Tanpa berpikir, dia mengikuti ke mana wanita itu membawanya.
Chandra lalu ditarik kasar hingga bersandar di mobil. Ia baru sadar saat pintu mobil terbuka.
“Gue mau uang,” kata wanita itu.
“Kamu cari pelanggan lain.” Chandra hendak pergi. Namun, wanita itu begitu sigap mencari saat Chandra lengah dan memaksa Chandra masuk mobil dan menguncinya.
“Lo nggak selingkuh. Lo cuman bantu gue dapat duit. Jadi, diem aja. Gue yang kerja.”
Chandra kalap menahan kedua tangan lincah itu. Ia berusaha mencari pertolongan, dan berusaha membuka pintu mobil. Namun, selalu saja wanita itu berhasil mendominasi.
“Plis-plis, stop.” Chandra menahan bahu t*lanj*ng Wanita itu tetapi tetap saja kecolongan.
“Waw.” Wanita itu terpekik kecil lalu melirik Chandra. “Gue yakin, kalian bertengkar pasti bukan karena bosan atau cinta. Huh, Lo menang dalam masalah kepuasan perempuan.”
Chandra sama sekali tidak mengerti apa pun yang wanita itu ucapkan. Hanya bisa merasakan sensasi yang entah harus dibilang buruk, tetapi ia menyukainya, atau sensasi indah, tetapi hatinya terbebani.
Urat-urat lehernya menonjol saat ia menengadah akibat perbuatan wanita yang menunduk di depan perutnya ini. Tentang bagaimana cara wanita itu menaik-turunkan kepalanya dalam tempo yang sangat pas dengan kebutuhan Chandra, tentang lidah panjang nan lihai milik wanita itu yang seakan mengobrak-abrik seluruh pertahanan dan perasaan Chandra. Semua tentang bagaimana cara wanita itu bekerja, semuanya benar-benar menghancurkan.
*
Chandra terganggu dengan bau apek yang menyesak. Ia segera bangun dan menyingkirkan sebuah baju dari wajahnya.
“Bangun pe'a! Udah bikin mobil gue bau, sekarang mau santai-santai tidur! Lo nggak kerja?” Semburan pertanyaan langsung datang dari Tristan.
Chandra memijit pelipisnya, pusing karena dua hal: kantuk yang belum mereda karena keasyikan bermain sampai tengah malam kemarin, serta menyesal sudah mengkhianati istrinya. Tapi sungguh, Chandra sulit menolak wanita semalam, apalagi dengan hatinya yang berantakan setelah bertengkar dengan Shila.
“Gue nggak suka lo campurin urusan gue kayak semalam, Tris.” Chandra tidak tahu lagi mengenai perasaannya: terlalu marah sehingga bingung harus mengeluarkan dengan cara apa; atau benar-benar ingin mengubur dirinya sekarang dalam penyesalan. “Gue—sumpah—nggak tau lagi harus gimana ngehadepin Shila abis ini.”
“Ya, Lo hadepin aja kayak biasanya, terus cerita, kalau Lo udah ada cewek lain. Dia ajak cerai, iyain aja. Gue bantu cariin istri. Lagian, gue kayak semalam itu kasihan banget sama lo, terlalu cinta buta sama Shila sampe korbanin semua yang lo punya, termasuk harga diri. Lo tinggalin istri kayak Shila itu.”
“Nggak bisa.”
Kalimat nasehat Tristan, Chandra tolak mentah-mentah. Ia segera bangkit dari tempat tidur. Berjalan sempoyongan menuju kamar mandi. Dia harus membersihkan semua jejak-jejak semalam sebelum pulang ke rumah, jika tidak, bukan vas lagi yang dilempar Shila, melainkan pisau.
*
Ketua OSIS SMA Adiwarna tengah menjelaskan beberapa permasalahan siswa selama 5 hari belakangan ini pada Chandra, guru Bimbingan dan Konseling. Dari puluhan daftar tersebut, nama Mishal Afifah yang memiliki frekuensi masalah paling banyak. Entah itu tidur saat jam pelajaran, selalu terlambat datang ke sekolah—bahkan sesekali ia datang saat pergantian jam pelajaran, membantah saat diberikan nasehat, sulit berkonsentrasi, dan selalu melupakan tugas sekolah.
“Apa perlu saya panggilkan, Pak?” Aksa, Ketua OSIS tersebut memberikan tawaran.
“Tidak perlu.” Chandra menutup buku tersebut dan melepas kacamatanya. Ia memandang murid kepercayaannya itu dengan senyum tipis. “Hasil kerja kamu bagus. Saya senang akan hal itu,” kata Chandra kemudian.
“Terimakasih, Pak.” Lelaki berusia 17 tahun itu menunduk penuh penghormatan. “Saya pamit dulu, Pak.”
“Silakan.” Chandra menjulurkan tangan sebagai isyarat mempersilakan Aksa untuk kembali ke kelasnya.
Chandra mengecek kembali catatan masalah atas nama Mishal Afifah. Empat bulan terakhir ini, catatan masalahnya lebih banyak dibanding catatan baiknya. Bahkan, pernah hampir 1 bulan gadis itu tidak masuk sekolah.
Meninggalkan kursinya, pria itu berjalan tegap meninggalkan ruangan. Berbelok ke arah kiri. Suara bel tanda masuk berbunyi. Chandra tiba-tiba berhenti sebentar kala seorang gadis muncul di depannya, berjalan searah dengan Chandra dengan santai.
Gadis itu mengenakan rok abu ketat setengah paha. Rambutnya dikuncir ke belakang, serta tas kulit berwarna ungu. Pandangan Chandra turun ke bawah, melihat kaki gadis itu tidak dilapisi kaus kaki dan mengenakan sepatu putih.
Gadis itu masuk ke kelas XI IPS 4, tempat yang aka dituju Chandra. Saat masuk, semua penghuni kelas langsung senyap, yang sebelumnya penuh dengan keriuhan.
Chandra menatap mereka satu-persatu. “Yang bernama Mishal Afifah, maju ke sini!”
Gadis yang tadinya diikuti Chandra, dan belum sempat duduk di tempatnya, langsung menoleh pada Chandra.
Keduanya lalu membeku, dengan tatapan blank. Sulit diartikan. Membiarkan detik demi detik berlalu mengulang perbuatan mereka semalam. Chandra meneguk ludah secara kasar.
Dia tidak salah ingat. Dia nyaris hafal setiap inci dari wajah wanita yang ia pakai semalam. Bahkan, setiap ekspresi kenikmatan dari wanita semalam, ia bisa ingat dengan sangat baik.
S*alnya, wajah dan ekspresi itu tanpa diduga ada di depannya. Menatap bingung juga kepada Chandra.
“Saya Mishal Afifah.” Gadis itu angkat suara, yang benar-benar mirip dengan suara wanita semalam.
Chandra berulang kali merutuk dirinya sendiri. Dia benar-benar tidak tahu, sudah melakukan hubungan terlarang dengan siswinya sendiri.
“K-kamu ....” Chandra tidak bisa mengontrol suaranya yang sedikit bergetar akibat terkejut. “Kamu ikut saya ke ruangan!” ucapnya tegas.
Saat Chandra melangkah cepat meninggalkan kelas, tidak ada yang tahu betapa kuatnya kepalan tangan pria itu. Tidak ada yang menyadari betapa gemetarnya kedua kaki Chandra akibat fakta buruk ini.
*
Perasaan Chandra tidak bisa tenang sedetikpun, meski ia sudah duduk di kursi miliknya. Tangan kiri masuk ke dalam saku celana, sementara tangan sebelahnya menggenggam erat pulpen seakan ingin mematahkannya.
Gadis yang ia panggil sudah masuk ke dalam ruangan, duduk di hadapan Chandra dengan ekspresi sangat tenang seolah tidak mengenali Chandra sedikitpun.
Mustahil gadis itu lupa, pikir Chandra. Mereka berinteraksi amat intens semalam. Saling meraba dan memuji tubuh masing-masing. Meski tanpa menyebutkan tanpa, keduanya bisa saling mengenal dengan baik hari ini. Seharusnya.
"Semalam, kamu." Chandra menjilat bibirnya yang tiba-tiba kering hanya karena mulai pembahasan semalam. Namun, karena ini di sekolah, ia seharusnya bersikap profesional. Chandra menenangkan diri dan menormalkan ekspresinya. "Bisa kamu jelaskan, alasan kamu terlambat hari ini, dan hari-hari sebelumnya?" Chandra mulai fokus pada topik utama pembicaraan hari ini.
Gadis itu tersenyum tipis. "Bapak tau alasannya."
Chandra semakin erat menggenggam bolpoin di tangannya. Ia kehilangan kata-kata. Apalagi dalam ruangan ini, ada beberapa guru lain. Ia juga tidak bisa memprediksi apa yang akan gadis di hadapannya lakukan.
Chandra memajukan tubuhnya, dan menatap intens pada Mishall yang ia anggap sebagai ancaman.
"Saya perlu bicara dengan kamu setelah pulang sekolah!" bisik Chandra sembari menekan setiap kata yang ia keluarkan sebagai bentuk keseriusannya.
"Boleh. Kapanpun Bapak butuh jasa saya lagi."
"Keluar!" pinta Chandra tegas, tetapi tetap menampilkan kesan normal agar tidak ada yang curiga.
Mishall tersenyum tipis, kemudian berdiri. Baru saja berbalik, ia menoleh lagi pada Chandra, mengedipkan sebelah matanya, lalu keluar.
Chandra mengusap keningnya yang mendadak dipenuhi keringat. Ia duduk dengan gelisah di tempatnya, tidak bisa membayangkan jika istrinya tahu tentang kejadian semalam. Ia benar-benar bisa m*ti di tempat.
Z
Chandra sedang berdiri di pinggir teras kelas saat matanya tidak sengaja menangkap bayangan Mishall yang berjalan angkuh melewatinya. Ia juga mendengar bisik-bisik siswi lainnya mengenai kekayaan Mishall. Mereka iri dengan Mishall karena terlahir dari keluarga kaya sehingga semua kebutuhannya bisa terpenuhi. Mishall yang cantik juga dengan mudah menggaet para siswa laki-laki, sehingga sudah puluhan mantan Mishall yang masih ingin kembali pada gadis itu.
Dari bisik-bisik tersebut, Chandra jadi mengerti. Mishall bekerja hanya untuk memenuhi gaya hidupnya yang glamor, sementara tidak ada orang yang tahu mengenai pekerjaannya sendiri.
Chandra tanpa diminta berjalan mengikuti ke mana Mishall pergi. Gadis itu duduk di pinggir lapangan menonton pertandingan basket. Bersama dua gadis lain, Mishall tampak bangga memamerkan ponsel bermerk apel gigit miliknya. Alhasil, dua temannya itu langsung mengagung-agungkan Mishall sebagai sultan.
Salah satu dari teman Mishall berbalik, lalu tegang saat menyadari kehadiran Chandra di belakang mereka. Ia memberi sinyal dengan menggoyang lengan Mishall agar menoleh ke belakang. Berbanding terbalik dengan dua siswi yang tampak ketakutan itu, Mishall malah terlihat tenang menanggapi kedatangan Chandra.
"Kamu tidak mau memberitahu mereka tentang pekerjaan kamu, Mishall?" kata Chandra yang sedetik kemudian berhasil mengubah ekspresi wajah gadis itu. Mishall menatap tajam Chandra, sementara pria itu membalas sebaliknya. Chandra akhirnya tau, kejadian semalam masing-masing menjadi kelemahan mereka.
"Kamu kerja? Bukannya orang tua kamu kaya, ya? Kamu nggak perlu kerja lagi," sahut gadis berkepang dua.
"Nggak. Pak Chandra sok tahu," ucap Mishall.
Chandra memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Sekarang, setidaknya ia bisa tenang karena yakin Mishall tidak akan membocorkan rahasia mereka.
Dengan santai, Chandra memasukkan kedua tangannya dalam saku. Kemudian berjalan pergi.
*
Sudah 20 menit semenjak bel tanda pulang sekolah berbunyi. Chandra berjalan menyusuri lorong sekolah untuk mencari-cari keberadaan Mishall. B*dohnya karena ia tidak mengatakan tempat pertemuan mereka. Di halaman depan dekat gerbang, gadis itu sama sekali tidak terlihat.
Seharusnya memang Chandra tidak perlu memikirkan masalah ini, tetapi ia merasa harus benar-benar membersihkan kasusnya semalam. Jangan sampai Shila tahu dan benar-benar meninggalkannya.
Sampai di kelas XI C, Chandra terdiam di ambang pintu. Mishall dengan kedua kaki terangkat ke atas meja dan tangan memegang ponsel barunya, menyambut kedatangan Chandra dengan senyum miring.
"Lama banget, Pak," kata Mishall. "Mau nyobain di sekolah?"
Kedua tangan Chandra mengepal di sisi tubuhnya.
"Nggak. Saya nggak tertarik sama anak kecil."
Mishall mendengkus mengejek. "Nggak tertarik." Ia kemudian meletakkan ponselnya di atas meja, dan menurunkan kedua kakinya.
"Saya ke sini cuman mau pastikan, kamu tidak buka mulut tentang kejadian semalam. Bahkan, kalau perlu, kamu lupain yang semalam. Saya juga akan menyembunyikan status pekerjaan kamu ke orang lain," jelas Chandra.
"Istri membosankan, atau istri galak, Pak?" Mishall melipat tangan kirinya di depan dada, sengaja menopang kedua bulatannya agar tampak menonjol. Sementara kemarin tangan kanannya memelintir helaian rambutnya yang terurai.
Chandra juga baru menyadari, bahwa gadis itu sudah melepaskan dua kancing atas bajunya. Chandra membuang pandangan, merasa jijik dengan gadis itu. Padahal masih muda, tetapi karena tuntutan gaya hidup, ia rela menjual dirinya sendiri.
"Kamu tidak perlu tahu. Yang kamu perlu tahu, jangan sampai kejadian semalam terbongkar!" ucap Chandra tegas.
"Saya juga nggak bakalan peduli sama pelanggan saya, Pak. Tugas saya cuman layanain nafsunya Bapak. Kalau udah selesai, ya tinggal bayar saya, udah kelar tugas saya." Mishall mengangkat kedua bahunya santai.
"Saya pegang ucapan kamu!" ucap Chandra tegas. Kemudian berbalik hendak pergi.
Ia berjalan menuju parkiran, mengeluarkan motornya, dan bergerak pergi meninggalkan sekolah.
Chandra sampai di rumahnya. Tadi pagi sebelum berangkat kerja, Chandra belum pernah bertemu istrinya, Shila. Ia berharap istrinya sudah tidak naik pitam lagi.
Lalu, di ruang tengah, Shila tiba-tiba datang dengan senyumnya. Chandra bersyukur karena istrinya sudah lebih baik hari ini. Ia tidak bisa jika harus berpisah dengan istri tercintanya ini.
"Aku belum masak, Mas. Mas mau nonton dulu sambil aku masakin?" tanya Shila. Ia menuntun Chandra menuju sofa. Lalu, dengan ringan hati menyalakan televisi untuk suaminya.
"Makasih, Say-" ucapan Chandra terpotong saat ia melihat tayangan televisi. Ia meneguk ludahnya secara kasar. Itu video dirinya terbaring di kursi mobil dalam keadaan tanpa pakaian dengan mata setengah terbuka. Lalu, sebuah tangan dengan cat kuku merah menyala meraba hidung mancungnya, turun ke leher. Sepasang bibir merah terlihat di kamera, menciumi bagian menonjol di leher Chandra, lalu turun ke dada, memberikan usapan s*nsual. Semakin turun ke perut ratanya, lalu ke bagian terlarangnya.
Chandra tegang di tempat. Lalu, dengan gerakan lambat, ia menoleh ke belakang. Tidak bisa berpikir, Chandra digerakkan oleh tubuhnya secara refleks untuk menghindar dari piring yang dilempar Shila.
"M*ti kamu, B*engsek!" pekik Shila dengan sangat nyaring hingga seluruh urat lehernya menonjol. Ia mencari-cari barang yang bisa dilempar.
"S-Shila, plis, aku bisa jelasin!" Chandra kalap.
"Jelasin apa, hah? Videonya sudah jelas!" Shila melempar remot ke arah Chandra, tetapi berhasil pria itu hindari. Setelah sekian lama menikah, Chandra akhirnya mahir bermain lempar-menghindar dengan istrinya.
"Kamu selingkuh, Chandra!" Shila perlahan melorot di lantai dengan kedua kaki tertekuk. Ia sesegukan. Seluruh tubuhnya memerah karena amarah.
"Sayang, itu salah paham."
"PERGI! PERGI! KALAU KAMU MUNCUL LAGI, AKU AKAN B*UNUH KAMU!" teriak Shila, selesai.
Chandra tidak bisa melakukan apa pun selain menyugar rambutnya frustrasi, lalu keluar rumah. Sedetik setelah membanting pintu, matanya dipenuhi amarah yang kentara. Tangannya mengepal kuat hingga urat-urat di punggung tangannya terlihat menyembul. Ia segera menaiki motornya, bergerak dengan kecepatan 100 km/jam, menemui gadis pembawa s*alnya.
*
Tangan mengepal di sisi tubuh, dan mata yang berubah tajam, belum cukup untuk menunjukkan semua amarah yang menumpuk dalam diri Chandra. Pria itu sangat-sangat marah. Ia seperti harimau yang siap memangsa gadis yang keluar dari rumahnya itu.
Chandra menyalakan motornya, kemudian sedikit bergerak maju untuk menutup akses keluar Mishall dari pekarangan rumahnya.
“Naik!” pinta Chandra tegas.
“Pak Chandra?” Sebentar saja, Mishall terkejut atas sambutan gurunya.
Gadis itu tersenyum menyeringai kemudian bergegas naik. Tanpa diminta, kedua lengan kurusnya memeluk pinggang Chandra sesaat sebelum motor bergerak cepat menjauhi rumah.
“Mau ke hotel mana, Pak?” tanya Mishall dengan suara tinggi. Ia tidak segan untuk menggerakkan telapak tangannya di perut gurunya itu. Menyentuh dengan gerakan sensual.
Chandra tidak menjawab, sebaliknya, mengetatkan rahangnya, kemudian menambah kecepatan.
Motor menuju ke apartemen Tristan yang kosong—sebelumnya Chandra sudah hubungi. Matanya terus menunjukkan kilat marah hingga motor terparkir.
Chandra menggenggam tangan Mishall memasuki apartemen. Bukan sebuah genggaman mesra seperti pasangan biasanya, lebih ke menyeret paksa Mishall. Hanya saja, karena gadis itu terlalu penurut dan amat antusias, ia malah menerima dengan senang hati semua perlakuan buruk Chandra malam ini.
Memasuki apartemen, Chandra segera menutup pintu, dan memasukkan kuncinya ke dalam saku celananya. Ia sedikit mengangkat sudut bibirnya, dan tidak menjauhkan pandangannya dari mata monolid Mishall.
“Buka bajumu!” pinta Chandra.
Hanya sebuah suara, yang bahkan hampir setiap malam Mishall dengar dari berbagai lelaki berbeda, tetapi hanya suara Chandra yang berhasil membuat bulu kuduknya berdiri. Mungkin karena suara gurunya terlalu maskulin dan seksi ketika menyapa telinga Mishall. Mungkin juga karena ia merasa tertantang melakukan hubungan gelap dengan gurunya sendiri. Atau mungkin, karena pria itu adalah Chandra, bukan yang lain. Mishall tersenyum lebar dan segera mematuhi keinginan gurunya tersebut.
Chandra melipat kedua tangannya di depan dada,memandang tanpa minat pada Mishall yang sudah berdiri tanpa kain di tubuhnya.
“Giliran Bapak. Sini, saya bantu.” Mishall mengulurkan tangan, tetapi segera ditepis oleh Chandra.
“Di kamar mandi.” Chandra bersuara rendah, dengan kepalanya bergerak memberi isyarat.
Mishall mengangguk, kemudian berjalan terlebih dahulu ke tempat yang Chandra maksud. Ia berdiri dengan sedikit berjinjit di hadapan wastafel. Sebentar pun tidak pernah menghilangkan senyum di bibirnya. Ia menawarkan tubuhnya sukarela saat Chandra sudah berdiri di belakangnya.
Namun, bukan seperti impian Mishall, Chandra malah mencekik Mishall dari belakang dan menempelkan wajahnya di cermin.
“Sudah saya bilang, hubungan kita hanya sebatas kencan satu malam! Kenapa kamu kirim videonya ke istri saya, hah? Apa maksud kamu? Kamu mau menghancurkan pernikahan saya.” Chandra menggeram, dengan raut wajah yang benar-benar marah.
Bahkan, Mishall tidak ingat bagaimana rasa antusiasmenya tadi. Ia begitu ketakutan dan terengah saat kakinya mengais-ngais di lantai kamar mandi. Ia takut jika gurunya kehilangan kesadaran dan menyakitinya di sini tanpa ada yang tahu.
“B-bukan, Pak. Bukan saya. Sumpah.” Mishall mengeluarkan sisa-sisa suaranya. Pasokan udaranya benar-benar tertahan, dan ia butuh segera bernapas. “Saya bahkan nggak tau istri Bapak.”
Chandra melepaskan cekikannya. Bekas merah tercetak jelas di belakang leher Mishall yang seputih susu. Mishall seketika luruh dan terduduk di lantai.
“Bagaimana saya bisa percaya sama omongan kamu? Apa buktinya? Istri saya dapat videonya dari mana kalau bukan dari kamu? Ah, dan yang lebih penting, untuk apa kamu memvideokan kegiatan malam itu? Kamu mau menjebak saya?” Deretan pertanyaan itu Chandra ucapkan dengan gigi saling menekan kuat. Kilat matanya belum mereda.
“S-saya cuman iseng videoin, Pak. Sumpah. Malam itu, menurut saya ... paling berkesan. Saya ... bercinta dengan guru saya sendiri.” Mishall terbata menjelaskan. “Videonya saya simpan di hape. Nggak pernah saya kasih ke siapa-siapa. Beneran cuman buat konsumsi pribadi, Pak.”
“Hape?” Chandra bergumam, kemudian keluar kamar mandi. Sebelumnya, ia mengunci pintunya dari luar, mengabaikan teriakan Mishall yang meminta dilepaskan.
Chandra tidak acuh, saat memungut tas Mishall dan mencari ponselnya. Setelah menemukan, pria itu malah berdecak kesal saat mendapati smartphone berlogo apel gigit itu butuh sidik jari.
Terpaksa, dengan langkah malas, Chandra membuka kamar mandi. Ia sejenak tertegun melihat Mishall yang meringkuk ketakutan di dekat pintu. Matanya sembab penuh air mata. Chandra mencibir. Siksaan seringan itu sudah membuat gadis ini begitu cengeng.
“Sidik jari, baru saya lepaskan dari sini.” Chandra mengulurkan ponsel Mishall.
Gadis itu setengah ragu memberikan apa yang Chandra minta, setelahnya, pria itu mencari semua foto-foto dan video kebersamaan mereka kemarin malam. Ia menghapus semua file beserta jejaknya.
“Ada yang pernah pegang hape kamu tadi, atau kemarin?” tanya Chandra, takut jika video itu lebih banyak dimiliki oleh orang lain.
Mishall menggeleng pelan.
“Keluar!” titah Chandra, kemudian meninggalkan kamar mandi, dan duduk di pinggiran tempat tidur. “Pakai pakaian kamu. Saya tidak tertarik dengan anak di bawah umur.”
Mishall mencibir dengan wajah setengah kesal, kemudian kembali berpakaian. Ketika ia akan keluar, ia menyadari pintu belum terbuka.
“Pintunya masih kekunci, Pak!” kata Mishall, memberitahu.
“Kan saya bilangnya tadi kamu keluar dari kamar mandi, bukan dari kamar ini,” jawab Chandra santai, kemudian merebahkan dirinya. Ia masih sibuk mengecek semua file Mishall dan bergidik ngeri. Gadis 17 tahun ini sudah berhubungan dengan banyak sekali pria hanya demi kesenangan. Chandra seketika menghakimi Mishall menderita nymphomania.
“Bapak, ish! Saya punya banyak pelanggan di luar sana! Bapak ....” Mishall menggeram kesal, meronta-ronta marah. “Gara-gara Bapak, saya kehilangan 2 juta malam ini.”
“Hanya demi 2 juta, Mishall, kamu jual diri kamu?” Chandra seketika bangun dan fokus pada gadis itu. Cukup menyayangkan, padahal dulunya ia termasuk siswi cerdas. “Harga tubuh kamu cuman 2 juta?” Chandra mendengkus geli.
“Bapak nggak bakalan ngerti!” kata Mishall, datar. “Karena Bapak nggak pernah rasain apa yang saya rasain.”
“Orangtua kamu masih ada, kan?” tanya Chandra. Mishall terdiam, Chandra tahu itu sebagai jawaban iya. “Orang tua kamu masih kasih kamu uang jajan, kan? Kebutuhan sekolah kamu masih mereka penuhi, kan? Eh, Orang tua kamu tahu pekerjaan kamu ini?”
“Bapak nggak usah ikut campur!”
“Cuman supaya terlihat kaya, kamu jual diri kamu seharga 2 juta?” Chandra menggelengkan kepalanya takjub. “Saya bayar kamu 3 juta, tidur di sini, jadi anak baik, dan ikut saya besok satu hari penuh.”
“Apa?” Mishall tidak mengerti dengan ucapan gurunya.
“Ikut saya besok. Saya tunjukkan hasil apa yang akan kamu dapat dari pekerjaan kamu ini.” Chandra mengulang. “Kamu, masih dalam pengawasan saya! Sebelum saya tahu sumber video yang istri saya dapat, kamu tidak akan pernah saya lepaskan!" ancam Chandra.
*