Bab 1

Percaya dan takut muncul secara simultan. Nadyne berusaha menghela napas panjang, memberhentikan isakan tangis yang sudah saatnya bermuara. Si tangan kanan dan kiri bergantian mengusap pelupuk. Memberantas segenap kesedihan yang tengah merajai. Bertekad mengakhiri sandiwara rumah tangga, dengan segera memalingkan pandangan pada suaminya.

“Mari bercerai,” tutur wanita itu santai. Wajah sedih hanyut dalam tangis itu sirna, berubah menjadi tajam.

Terperangah. Lawan bicara yang dimaksud sampai mengerutkan dahi. “Apa kau gila?”

Bercerai adalah satu kata yang berbahaya dalam kehidupan berumah tangga. Roh jahat mana yang hinggap di tubuh istrinya.

"Apa aku perlu berteriak agar semua orang dengar?" Kalimat itu membuat Daniel menatap sengit istrinya.

Rika baru saja dimasukkan ke liang lahat. Para tukang gali kubur bahkan masih merapikan tanah untuk menutupi mayat mantan pensiunan guru tersebut. Tanah coklat khas kuburan berceceran hingga mengenai kaki mulus wanita yang barusan mengajak suaminya berpisah. Situasi haru dan tangis yang mengisi area pemakaman, tidak lain bagai abu beterbangan, tak berarti.

"Apa kepergian ibu membuat kamu kehilangan kesadaran?" Tukas suaminya.

Tidak ada kecelakaan yang membuat saraf Nadyne bermasalah kan? Dia begitu berani untuk ukuran seseorang yang baru saja ditinggal ibunya sendiri. Mengajak bercerai tepat di depan pemakaman ibunya yang masih sangat baru.

"Aku, ingatkan. Kita di depan pemakaman ibu, Nadyne Aleena!"

Mertuanya baru saja diantarkan ke tempat peristirahatan terakhir, tapi istrinya justru asal bicara. Pernyataan anak kurang ajar seketika tersemat dalam diri Nadyne. Tidak beradab dihari penuh duka lara. Meski di titik nadir paling getir, bagi wanita itu di atas awan.

Membisu. Mematung. Tidak muncul reaksi apapun, hanya konsisten menatap suaminya penuh kebencian. Geram.

Dibiarkan tanpa tindakan, suatu jalan yang buruk. Masalah rumah tangga ini dapat menjalar dan menghebohkan area pemakaman yang ramai. Sebelum badai itu menerpa, menerjang rumah tangganya, meluluhlantakkan hubungan diantara mereka, Daniel segera mengalihkan pandangan pada bawahannya.

“Johan, bawa istri saya pergi dari sini!”

“Baik tuan.”

Spontan lelaki bertubuh kekar itu berjalan mendekati istri majikannya. Dengan sigap, Johan memegang tangan wanita itu tanpa ragu. Berniat menggiring nyonya bos.

Usai mendengar ucapan Daniel, tatapan maut itu belum kunjung surut. Sepatah kata juga tidak mewakili perasaan Nadyne. Dia, kehabisan kata dititik terberatnya.

"Cepat pergi!" Titah Daniel, lagi.

Daniel takut pertengkaran diantara mereka memuncak. Ditengah hiruk-pikuknya area pemakaman yang pilu, jangan sampai terjadi keributan. Pertikaian mereka dapat di cap durhaka dan tidak menghormati kepergian almarhumah.

Saat lelaki itu menyuruh pergi untuk yang kedua kali, sudah cukup membuat Nadyne mengalah. Egonya bisa menyetir dia untuk memberontak. Menguak fakta di depan khalayak umum perihal deritanya. Namun, pikiran jernihnya masih tersisa. Bukan karena tidak mampu, sisi kedewasaan patut hadir meski menjerit menahan sakit.

“Lepaskan! saya bisa jalan sendiri,” ungkap Nadyne, sadar adanya tangan yang berniat menuntun.

Johan segera menurunkan kedua tangannya.

Terasa kentara luka di depan mata, menyaksikan surganya telah tiada. Detik ini juga, Nadyne mesti dibawa pergi dari area pemakaman. Sebuah potongan kata dan frasa tidak terlontar secercah pun dari mulut dia. Nyaris semua mata memandang almarhumah ibunya, hanya Nadyne dan Daniel yang saling menautkan tatapan mengerikan.

******

Tarikan napas terakhir mu, adalah kehancuran duniaku.

Sunyi, sepi, senyap. Aroma lavender khas kamar ini tercium pekat. Pemiliknya rutin menambah pengharum ruangan meski masih ada seperempat. Buku-buku dari mulai pendidikan sampai sastra klasik tersusun rapi di rak kayu. Berprofesi sebagai guru, menjadikan Rika sebagai sosok kutu buku. Jika hari libur tiba, ia bisa menghabiskan berjam-jam di dalam kamar untuk membaca buku.

“Aku... benar-benar sendiri,” lirih seorang gadis di atas ranjang berselimut duka.

Nazhira berbaring menghadap ke kanan, dia dapati gorden putih yang menerawang. Menatap haru benda mati dengan pikiran melayang. Berteman dengan luka, gadis itu tampak lemah di atas kasur.

"Semuanya pergi saat aku belum siap dengan kehilangan."

Tangannya memegang erat selimut yang menutupi badan. Rasa sakit kehilangan sosok ibu begitu menyakitkan. Takdir yang tidak bisa siapapun lari darinya, kini harus menimpanya. Jantung hatinya kembali pada pangkuan Ilahi, dia menangis diambang pintu kesakitan.

"Kenapa harus ibu yang pergi?" Lirihnya lagi. Fakta people come and go, sungguh menyayat hati.

Kenapa harus ada datang dan pergi. Kenapa perpisahan begitu menyesakkan dada. Kenapa tetesan air dari telaga mata kian melumuri. Kenapa batin ini terasa disiksa. Kenapa Tuhan mentakdirkan perpisahan. Dan, kenapa harus ibu.

Mereka berpikiran sempit ketika ujian menyapa. Mereka egois, enggan berkaca. Ya, mereka manusia dengan sepaket kekurangan. Kekurangan yang mewujudkan rasa ingin segalanya. Kekurangan yang melupakan filosofi diri mereka sebagai hamba. Mereka, begitu.

Hakikat kehidupan yang fana seperti bualan. Mereka merasa memiliki hingga sulit melepaskan. Pada akhirnya, mereka terluka karena dirinya sendiri.

“Kakak, akan selalu bersamamu,” respon Nadyne.

Dibalik badan adiknya, dia berdiri menyaksikan adegan saat ini. Derasnya air mata terlihat jelas membasahi bantal. Adiknya membanjiri bantal mendiang sang ibu dengan buliran bening yang tak kunjung putus.

“Aku tidak percaya lagi ucapan manusia. Mereka selalu berkata begitu, pada akhirnya meninggalkanku juga."

Rasa sakitnya luar biasa menyebar, ucapan kakaknya bak buih dilautan. Ibu seminggu yang lalu pun berucap demikian, pada ujungnya pergi tanpa pamit. Bagi Nazhira, kalimat tersebut hanya omong kosong. Lagi-lagi, dia harus sendiri. Sendiri menjalani sisa hidup tanpa ibu, yang tak terganti.

"Ra, kamu tidak bisa terus seperti ini."

“Ayo keluar, ada banyak orang ingin bertemu."

Menjengkelkan. Nazhira merasa kakaknya keterlaluan. Seolah Nadyne tidak memberi ruang untuk dirinya yang tengah larut dalam duka. Menyuruh keluar dari kamar dan bertemu orang-orang yang pasti akan menjadi support system dalam sekejap. Menonton peran para manusia yang tiba-tiba ikut berkabung dan meneteskan air mata. Nazhira enggan bersandiwara di depan mereka.

“Tinggalkan aku sendiri. Kakak hanya peduli pada kedatangan mereka yang seakan merasakan kehilangan ini. Mereka tidak lain hanya berpura-pura.” Bukan Nazhira namanya jika tidak bermulut pedas.

Meski kesedihan melanda, masih sempatnya gadis itu berprasangka negatif pada orang lain. Sehebat apapun rasa sakit yang meruntuhkannya kini, tetap tidak layak bibir manisnya berbicara buruk.

“Kamu selalu pandai menilai orang lain, Ra. Sayangnya, kamu tidak mampu berkaca.”

******

“Hari ini kita pulang,” ucap Daniel dari balik cermin. Pria bertubuh kekar dengan tinggi ideal sibuk memasangkan dasi.

Tangan Nadyne yang telaten merapikan tempat tidur terjeda seketika. Jalan pikir wanita itu spontan berkeliaran. Penuturan kata suaminya sukses menampilkan sisi jahat manusia. Baru sehari mereka tinggal di rumah mendiang Rika, namun Daniel telah mengajak istrinya kembali ke rumah mereka. Tidak ada yang lebih kejam dari pria seperti Daniel, itulah sebutan dari istrinya sekarang.

“Pulanglah sendiri, aku akan tinggal di sini.” Intonasi datar terdengar sempurna.

Nadyne enggan menjawab dengan nada tinggi, meski dia mampu. Energinya telah terkuras habis.

Jawaban yang enggan didengar. Daniel spontan menghentikan aktivitasnya, dia berbalik badan dan langsung berjalan cepat menuju sumber suara. Derap langkahnya terdengar kesal ketika menghentakkan lantai. Pria bersetelan kemeja putih tersebut terus berjalan hingga tepat di samping istrinya.

“Kalau aku bilang pulang, ya pulang!” Tegas Daniel. Kedua bola matanya tidak pernah menatap teduh sang istri.

Wanita berambut panjang itu tidak menggubris, dia hanya membereskan tempat tidur yang berantakan bak ditimpa gempa. Mengusap lembut tiap bagian seprei agar terlihat rapi walau nantinya berantakan lagi. Mata Daniel mengikuti tiap gerakan sang istri, membisu untuk waktu yang lama. Padahal, pria itu sudah berada di sampingnya dengan menegaskan satu kalimat. Lantas, reaksi lawan tidak berubah.

“Apa kamu tidak mendengarkanku?”

Nadyne tetap menyelesaikan tugas. Masih berporos pada satu set ranjang dengan kasur berukuran sedang.

“Nadyne Aleena!” Teriak Daniel.

Telinga wanita itu sempat berdenging. Hampir saja gendang telinganya rusak karena suara keras dan jarak mereka cukup dekat. Dengan segera, Nadyne pun mengalihkan pandangan pada tersangka yang nyaris merusak titipan Tuhan.

“Banyak orang di rumah ini. Kamu mau buat keributan?”

Sanak keluarga Rika menginap di rumahnya. Begitu banyak keluarga yang masih larut dalam duka, sulit melepaskan almarhumah. Setidaknya, mereka ingin menemani penghuni rumah meski sebentar. Menjadi pelipur hati, walau tak akan pernah terganti.

Teriakan seorang suami dari dalam kamar akan memancing asumsi. Beberapa argumen negatif bisa mencuat, karena pasangan suami istri berdiam di dalamnya. Nadyne takut keluarganya khawatir tentang rumah tangga yang baru jalan setengah tahun. Takut mereka mengetahui fakta dibalik serasinya mereka di depan umum. Takut, sebuah rahasia terbongkar. Takut sekali.

“Seharusnya kamu jawab, agar aku tidak berteriak.”

Memejamkan mata sejenak, lalu menatap suaminya dengan seksama. “Aku sudah bilang akan tetap di sini.”

“Kita, punya rumah Nadyne.”

“Ibu baru meninggal kemarin.” Nadyne mengingatkan. Jangan sampai suaminya amnesia mendadak.

“Kamu bisa berkunjung lagi nanti.”

"Cepat bereskan. Kita bersiap pulang!"

Berusaha sekuat tenaga menetralkan gemuruh di dada. Biasanya wanita itu tidak banyak bicara, tapi kondisi sekarang memaksa. Mencoba menyadarkan Daniel, sosok keras kepala yang tiada tanding. Di pagi buta bersetelan baju tidur, dia harus berseteru dengan manusia yang ibunya jodohkan enam bulan lalu. Alur yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, kini justru sedang dirasakan. Menuangkan simpati sedikit saja, sesulit itukah bagi Daniel.

“Kita memang tidak cocok dari awal,” ungkap Nadyne seraya menggelengkan kepala.

“Lihatlah, kamu sudah berpakaian rapi hendak ke kantor. Padahal, mertua kamu baru berpulang kemarin.” Menilik pakaian khas kantoran menempel sempurna pada tubuh pria itu.

“Tidah usah terlalu jauh memikirkan apa kata orang, anak kecil pun akan heran atas perilaku kamu.” Hebatnya Nadyne masih konsisten berbicara dengan nada santai, tanpa volume keras.

Diam tidak berkutik, Daniel pun sadar betul kelakuannya. Namun, dia percaya diri mempertahankan pandangannya tanpa merasa bersalah. Menyimak hingga akhir akan bermuara ke mana keluh kesah istrinya.

"Apa kamu sebut diri kamu manusia?"

Deg. Daniel tersinggung dianggap tidak memiliki hati nurani. "Nad...."

Tangan Nadyne mengisyaratkan suaminya agar diam. Menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan. Merasakan setiap hembusan yang kian sesak. Mata berkaca-kaca, memberi sinyal tentang lelahnya diri. Tatapan penuh makna tersirat di sana.

“Daniel, mari bercerai."

Denganmu, hanya mengukir luka tanpa jeda- Nadyne.

Bab 2

"Daniel, mari bercerai."

"Aku akan berpura-pura tidak pernah mendengarnya."

Lelaki itu kemudian pergi dan pintu dibanting secara berdentum menggema ke seisi ruangan. Berlalu seolah tak berdosa.

Nadyne membisu, mematung, dan meneteskan air mata. Mulutnya tidak mampu berucap untuk sekedar menenangkan diri. Jatuh terduduk, pasrah.

******

Tiga hari kemudian.

Keadaan rumah kosong tanpa penghuni. Tidak ada siapapun di sini. Rumah minimalis sederhana dipenuhi tumbuhan hijau tidak meninggalkan jejak. Suara cucuran air yang mengisi kolam ikan tetap mengalir. Semua ruangan sunyi dan sepi, serta rapi juga bersih. Baru empat hari Nadyne tinggal di sana, tapi khusus hari ini kondisinya terasa asing.

"Apa seseorang telah membersihkannya?"

Sepulang dari kantor usai cuti mendadak karena kepergian ibu, justru dia bertanya-tanya tentang situasi sekarang. Melihat sekeliling rumah tidak ada siapapun. Nyaris berganti malam, seharusnya Nazhira telah tiba di rumah. Tapi yang terjadi, gadis SMA tersebut tidak ada di rumah bahkan kamarnya pun polos tidak terdapat barang-barang.

“Apa yang terjadi?” ujar Nadyne seusai membuka pintu kamar adiknya.

Wanita berusia 29 tahun tersebut gelisah tak menentu. Dia lagi-lagi mengecek tiap ruangan sembari menelpon adiknya. Memastikan kekeliruannya salah. Berjalan cepat menelusuri tiap bagian rumah. Menempelkan ponsel ditelinga, menunggu panggilan dijawab.

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif cob...” Malah suara operator yang berbunyi.

“Nomor yang anda tuju sed...” tidak gampang menyerah, Nadyne tetap berjuang menghubungi adiknya.

Wanita itu meremas kasar rambutnya. Khawatir dengan keadaan yang tengah melanda. Nazhira tidak dapat dihubungi, seisi rumah begitu hampa tanpa penghuni.

Dering telepon memecahkan situasi. Nadyne segera memeriksa ponselnya. Dia pikir itu Nazhira, satu nama yang enggan disebutkan justru muncul sekarang.

“Halo,” ucap Nadyne.

“Jangan melewatkan makan malam di rumah. Nazhira sudah menunggu,” pungkas Daniel.

“Apa?” Bola mata istrinya sontak melebar besar mendengar kabar itu.

Tuutt tuutt... Telepon dimatikan.

“Halo..halo...” Nadyne berusaha berbicara, padahal jelas telepon ditutup.

Ooo shit!

Terjawab sudah. Kegelisahan yang menyertai Naydne berakhir. Nazhira dibawa ke rumah mereka. Pertempuran sepasang suami istri itu belum mereda. Perceraian yang baru akan dilayangkan terpaksa ditunda. Iming-iming apa yang kakak ipar tawarkan, hingga mampu memboyong adiknya pergi. .

“Dia selalu punya cara untuk menang.”

******

Rumah dengan desain minimalis modern tampak nyata di depan. Sebuah bangunan yang mirip istana untuk kali pertama Nadyne menginjakkan kaki di rumah ini, dahulu. Rumah dengan dominan berwarna putih, begitu membius pandangan setiap insan.

"Aku yakin, untuk membayar arsiteknya saja tidak akan cukup setahun gajiku." gumam Nadyne kala itu.

Teramat besar dan mewah untuk dihuni sepasang suami istri. Tapi, bagi Daniel itu hal biasa. Jika dikalkulasikan dengan harga rumah orang tua Nadyne yang sederhana, rasanya berkali-kali lipat untuk mendapatkan rumah semewah ini. Gaji PNS pun mesti menabung berpuluh-puluh tahun untuk mendapatkan rumah bak istana kerajaan tersebut. Berkisaran ratusan milyar, wanita itu memilikinya hanya melewati jalur perjodohan.

"Selamat datang nyonya." Seorang satpam langsung menyambut kedatangan wanita itu usai turun dari mobil.

"Tidak perlu, saya akan pergi lagi." Nyonya besar rumah itu menolak memberikan kunci mobil ketika satpam tadi mengulurkan tangan.

Hal lumrah ketika pemilik datang, seorang satpam akan memakirkan mobil majikannya di garasi. Kebiasaan tersebut awalnya terlihat merepotkan, tapi itu pekerjaan mereka.

Perjodohan, kata itu terdengar kolot dan kuno. Namun, peristiwa tersebut justru menimpa Daniel dan Nadyne. Siapa sangka pewaris Classis Bank anak perusahaan dari Classic Grup, yang merupakan sebuah bank swasta terbaik nomor tiga negeri ini, harus dijodohkan dengan seorang pengacara dari keluarga sederhana.

Pengacara mungkin terbilang pangkat yang tinggi, tidak semua orang mampu meraihnya. Tentu saja, Nadyne pun bersusah payah untuk pangkat ini, sampai bisa bekerja di sebuah firma hukum ternama. Wanita itu menghabiskan masa muda dengan belajar sungguh-sungguh hingga kuliah dengan menjadi lulusan tercepat di kampusnya. Atas kerja kerasnya selama belasan tahun, dia sukses menjadi pengacara andal di usia muda.

Daniel bukan sekedar pewaris tanpa perjuangan hebat. Pria itu di didik sejak kecil agar matang dan layak menjadi pewaris perusahaan. Berbagai prestasi dicetak olehnya, memberikan kontribusi yang menguntungkan perusahaan tak terhitung jumlahnya. Perbedaan kontras antara mereka, terletak pada background status sosial.

“Kamu udah dateng,” ucap Daniel tatkala istrinya telah hadir di depan meja makan.

Tatapan nyonya besar rumah itu cukup mematikan. Sorot tajamnya bak hewan yang siap menerkam mangsa.

“Kakak.” Panggilan hangat keluar dari mulut Nazhira.

Gadis yang dinaungi duka atas kepergian ibunya, kuasa untuk memancarkan senyuman. Hati Nadyne melunak, dia dapati adiknya yang mulai bisa tersenyum kembali. Walau garis senyum gadis itu begitu tipis. Dengan selengkung senyum yang manis, Nadyne luluh dan menyimpan amarahnya untuk sekejap. Amarah yang hendak menghujam suaminya, terkubur perlahan karena Nazhira.

“Ra, kamu baik-baik aja?”

Nazhira mengangguk sebagai jawaban.

“Kamu nggak bisa dihubungi tadi.”

“Baterainya lemah kak,” pungkas gadis itu dengan balik menatap kakaknya yang telah berada di samping.

“Ayo kak makan dulu, kakak pasti belum makan.”

“Iyaa Ra.”

*****

Pintu kamar sedikit dibuka oleh Nadyne. Selimut biru muda telah menutupi tubuh Nazhira, gadis itu terlelap. Mata indahnya terpejam dengan posisi memeluk guling. Hanya dengan mengintip adiknya dari balik pintu, sudah cukup. Dia bisa tenang kondisi adiknya mulai kembali normal, meski luka yang menimpa mereka tidak akan pernah sembuh.

Jika tidak mampu menggantikan sosok ibu, dia berusaha menjadi sosok kakak yang baik. Rasanya, tugas wanita itu semakin berat, dia kini memiliki tanggung jawab extra untuk menjaga adiknya.

“Dia udah tidur?” Seseorang berbisik, dan suara beratnya sudah ditebak itulah Daniel.

“Iyaa.” Istrinya pun kembali menutup pintu kamar.

“Kita perlu bicara,” kata Daniel yang berdiri tepat di samping.

“Tentu saja. Ada yang mau aku omongin juga.”

Kamar dengan pemandangan mempesona. Saat pagi tiba, gorden akan terbuka otomatis ketika remote ditekan. Berbagai fitur canggih melimpah di ruangan ini, semacam menggunakan kecerdasan teknologi untuk deretan kegiatan.

Jika ingin menyalakan lampu, hanya dengan satu tepukan tangan langsung menyala. Ukuran kamar yang luas, menjadikan ruangan tersebut paket komplit dengan segala fasilitas. Butuh beberapa pembantu untuk merapikan satu ruangan ini, serta perlu memiliki kewaspadaan yang tinggi. Rentetan barang berharga menyebar mengisi ruangan. Andai ada yang cacat apalagi hilang, sudah dipastikan pemiliknya dapat meradang. Privasi Daniel dan Nadyne sangat ketat, hanya beberapa pembantu yang dipercaya untuk membereskan kamar mereka.

“Mulai malam ini, Nazhira tinggal bersama kita.”

Kaki mulus Nadyne berhenti seketika, dia mendengar jelas perkataan tersebut. Lalu, badannya memutar dan menghadap sumber suara.

“Kamu lupa kita akan bercerai?” Tanya istrinya, tidak mungkin seorang wakil Presdir cerdas seperti Daniel pelupa. Mereka memiliki masalah yang belum selesai.

“Aku tidak pernah mendengarnya,” respon santai Daniel.

“Aku tidak peduli!” Nadyne tersenyum getir.

"Sekuat apapun kamu mencoba, aku akan tetap mempertahankan rumah tangga ini.

Sontak saja Nadyne terbahak-bahak. Dia melemparkan senyuman sinis, bagai seringai mengerikan. Mendekat perlahan menuju lelaki itu. Sedikit demi sedikit kepalanya mendekati telinga dan berbisik. “Untuk apa kita bersama jika tidak saling mencintai.”

Bab 3

Manusia selalu dihadapkan dengan pilihan yang sulit. Dengan segala keterbatasan mereka, terpaksa tetap harus memilih. Pada akhirnya, pilihan itu malah menjerumuskan dia sendiri pada lubang nestapa. Tidak ada yang menyangka ujungnya akan sesakit ini. Aku korban dalam pilihan menyakitkan itu, terjatuh dan nyaris terkubur.

Cara menjadi istri yang baik, aku tidak berusaha untuk itu. Sejak pertemuan pertama kita, kamu sudah menerbitkan tatapan benci bagiku. Tidak ada secercah pun kehangatan di sana, seolah aku lawan yang layak dimusnahkan.

Aku menerima dengan lapang dada sikap kamu itu. Berpikir usai ijab qobul terlaksana kamu berubah menjadi sosok suami. Ah, lagi-lagi ekspektasi menamparku keras. Manusia memang tempat kecewa paling nyata.

Siangnya ijab qobul, sorenya langsung terbang ke Hawaii. Sampai sini orang-orang akan berkhayal indah bukan, aku juga begitu jika diceritakan momen tersebut. Sial, terhapus sudah khayalan nuansa bahagia yang mengudara. Kita memang pergi ke Hawaii, satu pesawat dan bersebelahan layaknya pasangan pada umumnya. Namun, sesampainya di sana kita justru langsung ke hotel dengan kamar yang terpisah.

"Kenapa kita tidur di kamar yang berbeda?" Tanyaku tidak mengerti.

"Aku harus menyelesaikan pekerjaan yang mendesak, kamu bisa terganggu." Alasannya bahkan tidak logis bagiku.

"Hubungi Johan kalau ada apa-apa, dia akan membantumu." Dia bahkan menyuruhku menghubungi sekretarisnya jika terjadi sesuatu.

Entah sejak kapan rencana itu kamu susun rapi, tiba-tiba aku diantarkan ke kamar hotel dan menghabiskan waktu sendirian di sana. Kemudian kamu, aku bahkan tidak tahu nomor kamar kamu saat kita satu hotel.

"Sepertinya aku terperangkap."

Selama seminggu di sana, aku melewatkan hari demi hari dengan ditemani pengawal. Saat dipikir-pikir, bak putri kerajaan yang dipenjara.

"Apa mereka tidak berniat resign dari pekerjaan membosankan ini." Melantur sendirian ketika menyaksikan para bodyguard mengawasi tiada henti.

"Apa kalian tidak bisa pergi saja, aku tidak akan kabur." Titahku pada mereka. Sekeliling restoran menatapku dengan tatapan aneh, jujur sangat tidak nyaman.

Pada hari terakhir kita di Hawaii, pengawal yang kamu suruh mempertemukan kita di sebuah pantai. Pantai dengan desiran angin dan riuhnya ombak, terdengar khas ditelinga. Harapan kecil muncul saat itu, meski seharusnya jangan.

Permintaan maaf dan alasan sebenarnya, aku pikir kamu hendak mengatakannya pada hari terakhir bulan madu kita, ternyata salah besar.

"Tersenyumlah, kamu harus menunjukkan ekspresi bahagia." Daniel menyuruhku memancarkan raut wajah senang di depan kamera.

"Apa kamu senang menipu banyak orang?"

"Kita harus membagikan momen indah ini pada keluarga. Bagaimana jika mereka berpikir negatif karena kamu terlihat muram," pungkasnya mengingatkan.

Ooo..shit! Aku bahkan menurut saja agar tidak lahir asumsi buruk dari keluarga kami.

******

“Untuk apa kita bersama jika tidak saling mencintai.”- Nadyne.

Wajah istrinya menengadah menatap seksama. Melihat benih-benih cinta yang mungkin tumbuh diantara mereka. Tidak, sama sekali tidak ada tatapan saling memuja sebagai sepasang kekasih.

"Kenapa kamu malah membuat keadaan menjadi kacau?" Jawab lelaki itu lain.

"Kita sudah sekacau ini dari awal. Apa kamu baru menyadarinya?"

Mereka berdua satu atap selama enam bulan tidak menuai hasil. Dua insan yang dipersatukan karena perjodohan kerap menjalani kehidupan masing-masing. Suami istri hanya status belaka, menjalani hubungan ideal pasangan hanya sandiwara. Tampil perfect di depan umum bentuk kebohongan, mereka berakting dengan handal.

Daniel mematung, membalas tatapan istrinya penuh sadar. Dia juga mengakui perilakunya, berpura-pura menjadi suami idaman padahal bualan. Menyalurkan banyak kepura-puraan agar dinilai sempurna. Membohongi banyak orang termasuk orang tua, dia hanya menggunakan status pernikahan untuk kepentingan pribadi.

“Bahkan kita tidak pernah satu ranjang mas!” tegas Nadyne, pandangannya sampai menunjuk keberadaan dua ranjang jumbo di samping mereka.

Yeah, terdapat dua ranjang jumbo dalam kamar sepasang suami istri.

Kamar mewah nan megah mereka memiliki rahasia, terdapat dua ranjang bersebelahan. Mereka tidur berpisah selama menikah, tidak pernah sekali pun berada dalam satu ranjang bersama. Bayang-bayang romantisnya sepasang suami istri di atas ranjang, sebuah kemustahilan untuk rumah tangga mereka sekarang. Inilah sebab terkuat hanya pembantu pilihan yang boleh masuk ke kamar mereka, dan ini pun rahasia besar yang tidak diketahui orang lain apalagi keluarga.

Penjagaan maksimal dilakukan jika orang tua mereka berkunjung, kamar selalu dikunci dan izin masuk ke dalamnya ditolak. Walau beberapa kali orang tua mereka pernah ingin melihat, dalih kuat senantiasa sukses diutarakan.

“Jangan harap kita bisa berpisah dengan mudah!”

Nadyne paham, suaminya pasti akan mengorbankan banyak cara untuk mempertahankan rumah tangga mereka.

“Menurutmu apa alasan aku bersedia dijodohkan?” Tanya wanita itu.

“Harta dan tahta, kamu pikir karena itu?” Tanyanya lagi.

Wanita mana yang akan menolak dijodohkan dengan pewaris tunggal kaya raya.

“Ibu, aku melakukannya karena dia."

Nadyne menarik napas yang terasa sesak dilakukan, lalu menghembuskannya perlahan.“Aku tumbuh dari keluarga yang hancur. Aku pikir dengan menuruti perintah ibu, rasanya tidak akan begitu hancur. Justru, aku semakin hancur perlahan." Buliran bening mulai membasahi pelupuk matanya.

Rasa iba lelaki itu hadir, ingin sekali mengusap air mata wanita di depannya. Tangannya berusaha terangkat, sedikit demi sedikit.

“Kamu pikir apa alasan aku bertahan sejauh ini?” Nadyne berteriak, tangan kekar suaminya pun turun, mengepal karena ragu.

“Aku tidak ingin ibu merasa bersalah atas pilihannya, aku ingin dia pergi dengan tenang.”

Bukti cinta belum ada memang fakta, Daniel tidak melerai pertikaian diantara mereka. Memancing dengan opini tidak jelas yang terlintas di kepalanya. “Jadi maksudmu selama ini rela bertahan karena menunggu kematian ibu?”

“Apa?” Dahi istrinya otomatis berkerut.

“Bagaimana bisa dikatakan berbakti saat kamu mempertahankan rumah tangga ini karena ibu masih hidup?”

“Kamu mengatakannya seolah aku orang jahat.” Wanita itu merasa dituduh secara tidak langsung.

Pewaris Classic Bank tersebut menghembuskan napas kasar. “Kamu bisa bertahan selama enam bulan ini. Maka, bertahanlah satu tahun lagi.”

Satu tahun menghabiskan waktu dengan Daniel? Sungguh?

Satu tahun bukan waktu yang singkat. Menetap dengan sosok yang tidak dicintai, apakah itu bisa. Membayangkan aktivitas sehari-hari berhadapan dengannya, sudah cukup merajut luka. Sampai kapan drama ini berakhir?

“Kenapa aku harus mau?” lirih Nadyne.

“Kamu tidak ingin di cap sebagai anak durhaka kan? Setidaknya memberi jeda usai kepergian ibu.”

“Apa aku harus selalu patuh? Aku tidak sanggup untuk yang satu ini.” lirihnya pasrah.

“Bertahanlah. Satu tahun lagi, lalu kita berpisah!"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED