Bab 1

"Leon, kau di mana?"

Suara Athena terdengar gemetar saat ia menekan tombol telepon ulang pada ponselnya. Panggilan kelima dalam sejam terakhir hanya dijawab oleh nada tunggu yang dingin. Perasaan khawatir membuatnya mengigit bibir bawahnya sendiri, apalagi sebelumnya sang ibu sempat meneleponnya dari rumah sakit dengan terus menyebutkan nama suaminya dengan sangat lemah.

"Nyonya Athena? Maaf, bagaimana kalau kita berangkat sekarang saja? Mungkin Tuan Leon masih terjebak di jalan penghubung kota?" Edward sang asisten tiba-tiba mendekat, membuat gelas anggur yang tengah dicengkeram erat olehnya hampir terjatuh.

"Aku tidak akan mungkin bisa tenang sebelum bertemu dengan suamiku. Dia sudah berjanji akan menemaniku. Dan telepon dari ibuku tadi..." Athena menghela napas, hingga bulu angsa terbaik yang menghiasi topi lebarnya sedikit bergerak. "Bagaimana kalau sekarang dia sedang mengalami masalah?"

"Tapi, Nyonya-"

"Pengusaha yang mengundangku ini adalah rekan bisnis Leon yang baru, Ed. Alangkah lebih baik aku datang bersamanya ke sana untuk menghindari pertanyaan para wartawan yang membuatku pusing."

"Baiklah, bagaimana kalau keberangkatan Anda diundur sekitar sepuluh menit lagi? Saya akan mengkonfirmasikan hal ini pada acara yang akan Anda datangi."

Mengangguk, Athena membiarkan asistennya pergi. Dengan jari-jemarinya yang sudah tertutupi sarung tangan jaring berwarna putih, ia meraih ponselnya kembali. Athena ingin menghubungi suaminya lagi, tetapi sayang pandangannya teralihkan dengan sebuah notifikasi lain yang sangat menghentakkan hatinya.

"Tidak mungkin! Bagaimana bisa mereka berdua bersama?!"

***

Berbagai kilau cahaya seketika bergantian menyinari wajah cantik Athena yang baru saja turun dari sebuah Limousine hitam. Suara jepretan kamera semakin bersahut-sahutan seiring dengan langkahnya yang menyusuri karpet merah, hingga seutas senyum palsu terpaksa ia berikan dengan lambaian lembut jari-jemarinya.

Siapa yang tak kenal dengan Athena Rose Waverly? Selain terkenal sebagai pianis berbakat, dari nama belakangnya saja publik sudah tahu bahwa ia adalah anak dari pengusaha sukses ternama. Lahir di keluarga pesohor membuat namanya mudah menggaung di seantero negeri, apalagi setelah pernikahannya dengan pria pujaan hati banyak wanita yaitu Leon Alexander Thorne.

"Nyonya Athena, Apakah Anda datang sendiri ke acara pesta ini? Di mana Tuan Leon, Nyonya? Bukankah di dalam daftar tamu undangan kalian akan datang bersama dalam acara malam ini?"

"Iya, Nyonya Athena. Ke mana suami Anda? Apa jangan-jangan gosip yang baru beredar itu benar adanya? Hubungan Anda dengan Tuan Leon sedang merenggang di usia pernikahan kalian yang belum menginjak satu tahun?"

"Jadi foto yang beredar luas di media sosial itu benar adanya, Nyonya Athena? Suami Anda berselingkuh dengan sahabat Anda sendiri? Apakah ini adalah kado terburuk yang pernah Anda terima di hari ulang tahun Anda, Nyonya?"

Kembali memaksakan senyum, Athena hanya terus berjalan maju melewati beberapa pemburu berita yang mendekatinya. Kilauan gaun malamnya memantulkan cahaya lampu kristal membuatnya tampak mempesona di mata semua tamu, meski nyatanya di balik senyum anggunnya tersebut ada keresahan luar biasa yang tak mampu diusirnya.

"Nyonya Athena, sudah waktunya. Semua tamu sudah sangat menantikan permainan piano Anda," Edward berbisik, membuyarkan lamunan sang dewi melodi sesaat.

"Baiklah, jangan lupa berikan kode padaku andai suamiku tiba."

Athena mencoba untuk tetap berusaha berpikiran positif. Namun sebelum berjalan menuju panggung, ia kembali menatap pria di belakangnya dengan pandangan yang sedikit bergetar.

"Menurutmu... Apa selama ini aku belum menjadi istri yang sempurna untuk Leon?"

"Maaf, Nyonya?"

"Ah, tidak apa-apa. A–aku hanya sedang gugup saja!"

Menggelengkan kepalanya, Athena menutup ucapannya dengan seutas senyum. Ini adalah kali pertamanya ia merasa tak percaya diri. Namun walau seperti itu, dirinya tetap berusaha menampilkan kemampuan terbaiknya malam ini.

"God! Rasanya aku seperti memainkan nada kehancuran hidupku sendiri!"

Kembali memasang topeng ketenangannya, Athena melambaikan tangan kepada semua tamu undangan yang hadir. Ia berusaha melenyapkan bayangan foto kemesraan suaminya dengan sahabatnya sendiri, hingga mampu membuat siapapun terpaku menatapnya, termasuk dengan seseorang yang tengah memperhatikannya dari tempat lain.

"Bagus! Tampillah semaksimal mungkin yang kau bisa malam ini, Sayang! Nikmati waktumu selagi ada karena malam ini adalah malam kehancuranmu!"

Berbagai suara tepuk tangan dan sorak penonton terdengar menggema saat lantunan nada yang dimainkan oleh Athena berhasil membius semua yang ada di sana. Athena benar-benar memainkan puncak melodi dengan sangat baik, seiring dengan perasaannya yang hancur lebur.

"Nyonya Athena, pemilik acara dan Tuan Walikota ingin berbincang-bincang dengan Anda. Mereka sepertinya sangat kagum dengan penampilan Anda malam ini." Edward mendekat dengan membawakan segelas minuman untuk majikannya.

"Bagaimana aku bisa beramah-tamah di saat pikiran dan hatiku terasa sangat kacau seperti ini?" Athena menyeka cepat air matanya dan meraih minuman tersebut. "Tolong cari alasan lain untuk mereka. Katakan pada mereka bahwa aku akan berbincang dengan mereka di lain waktu."

"Baik, Nyonya. Saya akan menyampaikannya. Tunggulah di sini sebentar dan setelah itu-"

"Aku ingin pulang sendiri saja. Berikan kunci mobilmu, aku akan lewat gerbang belakang untuk menghindari wartawan. Sampaikan permohonan maafku pada yang lain karena aku terpaksa pamit lebih dulu!"

Tanpa berbasa-basi lagi Athena langsung meneguk habis minum yang telah disodorkan padanya. Dahinya sedikit mengernyit saat merasakan sesuatu yang aneh, tetapi walau seperti itu ia mengabaikan perasaan tersebut hingga tak menyadari bayang-bayang bahaya besar yang semakin mengancam keselamatannya.

"Tuan Leon, Nyonya Athena sudah meninggalkan acara sesuai prediksi!"

Tanpa mendengar percakapan di belakangnya, Athena terus melangkahkan kakinya menjauh. Meski tetap ramai, tetapi setidaknya di gerbang belakang tak ada para pemburu berita yang membuat trauma masa kecilnya kembali muncul, apalagi saat ini berita perselingkuhan Leon dengan sedang merebak luas di publik.

"Bagaimana bisa selama ini Leon dan Crystal berselingkuh di belakangku? Aku... Aku sungguh tidak menyangka dengan perbuatan mereka!" Athena bergumam seraya mencengkram erat setir mobil yang tengah dikendarainya.

Sepinya lalu lintas malam membuatnya bebas menentukan kecepatan maksimal. Athena memacu mobil Edward dengan kecepatan tinggi di bawah sinar lampu jalan yang temaram. Tangannya gemetar memegang erat kemudi, sementara pikirannya terus dihantui dengan beberapa foto kemesraan suami bersama sahabatnya di sebuah hotel.

[Mereka terlihat sangat mesra sekali. Apa kau yakin mereka hanya berteman?]

Salah satu isi pesan dari nomor telepon tak dikenal terus terngiang di benaknya. Kepala Athena semakin lama kian terasa pusing. Air mata yang sedari tadi berusaha ditahannya akhirnya tumpah tak tertahankan juga, hingga kini tubuhnya terisak dengan rasa perih yang amat terasa menusuk di dalam hati.

"Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku, Leon? Aku sangat mencintaimu, tapi kenapa kau mengkhianatiku seperti ini?!"

Perasaan yang amat berkecamuk semakin membuat kepala Athena berdenyut. Pandangannya yang mulai menghitam membuatnya refleks membanting setir ke samping, hingga mobilnya seketika tergelincir dan suara dentuman keras terdengar menggelegar seiring dengan munculnya percikan api.

"Inilah waktu kehancuranmu, Athena!"

Bab 2

"Bagaimana? Kau sudah pastikan semuanya aman sebelum pihak polisi dan rumah sakit melakukan evakuasi?"

Sayup-sayup suara terdengar membuat Athena tersadar dari pingsan lamanya. Ia meringis kesakitan kala menyadari beberapa bagian tubuhnya yang tak bisa digerakkan dengan bebas. Athena mencoba mengenali suara yang baru saja didengarnya. Namun ia tak mendengarkan apa pun lagi, hingga tiba-tiba terdengar suara derit pintu terbuka yang membuat kedua netranya kembali terpejam.

"Dia masih pingsan?" Athena berupaya sebisa mungkin menahan debar jantungnya kala mengenali suara Leon. Napasnya sedikit terengah, diam-diam ia mencengkram selimut tipis yang masih menutupi sebagian tubuhnya.

"Kata dokter sebentar lagi Nyonya Athena akan sadar, Tuan. Beliau tidak mengalami luka yang sangat serius karena langsung ditolong oleh orang-orang, hanya saja-"

"Tangan kanannya saja yang patah? Cih, tanggung sekali! Aku berharap dia mati!"

Kembali terhentak, Athena semakin kesulitan membasahi tenggorokannya. Nada bengis suaminya terdengar jelas sekali di kedua telinganya. Pelupuk matanya mulai basah, apalagi setelahnya ia merasakan sebuah usapan Leon yang cukup kasar di bagian wajahnya yang masih terluka.

Sungguh, Athena tak menyangka suaminya akan sekejam ini padanya. Ia pikir Leon hanya berani sebatas bermain api dengan sahabatnya di belakangnya, tetapi nyatanya pria tersebut bergerak lebih untuk mempersiapkan neraka kehidupan untuknya.

"Seharusnya kau mati, darling! Tapi tidak apa, dengan begini kau bisa menyerahkan sendiri semua harta kekayaanmu padaku!"

Athena berusaha menahan air matanya agar tak terjatuh, saat Leon berbisik tepat di depan telinganya. Tangan kirinya semakin terkepal meski tetap lemah. Hatinya sangat hancur dan sesak ketika ia mengetahui semua niat busuk sang suami padanya.

Apa salahnya? Kenapa Leon bisa melakukan hal yang sangat kejam ini? Tidak cukupkah pria itu membalas cinta tulus darinya dengan berselingkuh?

Athena sebisa mungkin menahan ledakan emosinya yang sangat campur aduk. Ia masih ingin tetap berpura-pura pingsan, hingga beberapa detik kemudian telinganya mulai mendengar suara langkah yang menjauh.

"Pastikan dia meminum itu ketika sudah sadar nanti, Ed. Meski tangannya sudah tidak lagi normal, tetapi itu belum cukup. Aku mau dia bungkam selamanya agar dia tidak menghalangi semua rencanaku!"

"Baik, Tuan!"

Kembali terhentak, rasanya Athena tak bisa lagi mengambil oksigen yang ada di sekitarnya dengan normal. Semua kekuatan yang ada di dalam dirinya semakin hancur tak tersisa. Hatinya terasa pilu karena ternyata selama ini ia dikelilingi oleh orang-orang jahat yang tak menginginkan kebahagiaannya.

"Tidak! Aku tidak boleh diam saja dan membiarkan semua ini terjadi! Aku tidak mau terjebak selamanya dalam permainan licik Leon dan menjadi boneka yang bisa dikendalikannya dengan mudah!" gumamnya di dalam hati.

Setelah mendengar suara pintu yang kembali tertutup, Athena perlahan mencoba membuka kedua matanya. Ia langsung menyenggol segelas air di sampingnya, dan beralih menatap tangan kanannya yang dibalut perban tebal.

"Suatu saat nanti tanganku pasti akan bisa digerakkan kembali! Aku tidak akan mungkin lumpuh selamanya hanya karena rencana licik suamiku sendiri!" Athena kembali bergumam dengan berusaha bangkit dari tempat tidur.

Walau seluruh tubuhnya masih terasa sakit dengan beberapa luka yang masih menganga, tetapi semua itu tak menyurutkan tekadnya. Athena ingin segera pergi dari rumah sakit ini sebelum Leon dan Edward kembali, apalagi tadi mereka sempat berencana untuk membungkam mulutnya selamanya.

Tidak! Sampai kapanpun Athena tak akan membiarkan hal itu terjadi! Athena tak mau kehilangan suaranya setelah salah satu tangannya tak bisa digerakkan, sebelum ia berhasil mengungkap semua rencana licik suaminya ke publik.

"Maaf, Dokter. Pihak kepolisian baru saja tiba. Katanya mereka akan mewawancarai Anda mengenai kondisi Nyonya Athena setelah kecelakaan," ucap seorang suster yang langsung membuat Athena bersembunyi di balik ruangan lain.

Athena segera menoleh ke kiri dan kanan untuk mencari keberadaan polisi yang tengah dimaksud oleh suster tersebut, tetapi sayang pandangannya malah tak sengaja bertemu dengan Edward yang sedang berjalan dari arah lain.

"Nyonya Athena!"

Dengan tertatih-tatih, Athena berusaha menghindari asistennya yang telah berkhianat. Ia terus bergerak maju tanpa bisa melihat dengan jelas yang dilaluinya. Napasnya semakin tersengal seiring dengan rasa sakit dan perih di seluruh tubuhnya, hingga tiba-tiba ia hampir terjatuh ketika tak sengaja menabrak seseorang.

"Maaf, Nyonya. Saya-"

"Cepat singkirkan tangan kotormu dari istriku!"

Tanpa disangka-sangka Leon muncul dari arah lain. Tatapannya terasa menikam tajam, hingga membuat wajah Athena semakin pucat dengan telapak tangan yang terasa sangat dingin.

"Tolong aku!" bisik Athena terengah, saat berupaya menahan lengan kekar yang tengah memeluknya. Ia memandang netra cokelat di hadapannya dengan penuh harap, tetapi sayang pria itu malah hanya balik menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Maaf, Tuan. Saya hanya tidak sengaja menabrak istri Anda."

"Ck! Apa matamu itu tidak berfungsi?!"

Tak mau menanggapi lebih jauh, pria itu langsung melangkah pergi begitu saja. Athena mengaduh kesakitan saat merasakan tarikan kasar di tubuhnya, dan kembali membulatkan netranya saat menyadari tatapan peringatan Leon yang terasa semakin menghunusnya.

"Katakan padaku, Athena. Apa yang sudah kau ketahui sehingga kau nekat kabur seperti tadi? Apa kau sudah mengetahui semua rencanaku?!"

Menggelengkan kepalanya cepat, Athena seolah tengah menjawab pertanyaan pria di hadapannya. Tak pernah ia sangka sebelumnya akan berhadapan langsung dengan sisi kejam Leon yang sangat menakutkan ini. Harapannya untuk kabur sudah hampir tidak mungkin, apalagi semakin lama cengkraman pria itu kian terasa kencang untuknya.

"Kau ini bagaimana, Ed?! Kenapa dia bisa kabur? Kau sudah memberikannya minuman itu?" Leon langsung bertanya pada Edward yang tengah menatap menyelidik ke arah Athena.

"Saya belum memberikannya apa pun, Tuan. Tadi saya hanya keluar sebentar untuk memastikan penyelidikan polisi di rumah sakit ini."

Kembali berusaha menahan isak tangis, Athena sebisa mungkin untuk tak bersuara. Biar saja mereka menganggapnya telah tidak bisa berbicara, Athena tak ingin keselamatannya semakin terancam sebelum ia bisa melakukan suatu hal yang dapat menyelamatkan dirinya sendiri.

"Hey! Berbicaralah! Apa suaramu benar-benar tidak bisa keluar lagi?" Leon kembali bertanya seraya mencengkram kasar wajah pucat istrinya.

Dengan menahan rintih kesakitan, Athena kembali menggelengkan kepala. Air matanya sampai tak bisa ditahannya lagi ketika Leon semakin menancapkan kuku tajamnya di wajahnya, hingga akhirnya ia terpaksa membuka mulut dengan sedikit bergetar meski tetap berusaha menahan suaranya.

"Bagus! Obatnya ternyata bekerja dengan cukup cepat!"

Tanpa disadari oleh Leon, Athena, dan juga Edward, ada seorang pria yang tengah mengawasi mereka dari kejauhan. Tatapan kedua pria itu terlihat sangat sulit untuk diartikan, sebelum akhirnya ia bergerak menjauh untuk menghubungi seseorang melalui ponselnya.

"Siapkan tempat tinggal untukku di kota ini! Aku ingin menyelesaikan sesuatu yang sangat penting yang telah lama aku tunda!"

Bab 3

Menatap pilu ke sebuah rumah megah yang dulu dianggapnya sebagai istana kebahagiaannya, kini Athena hanya bisa menangis dalam diam. Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, hatinya merasa semakin resah. Dengan keberadaannya di rumah, itu berarti Leon bisa dengan bebas melakukan apapun padanya termasuk dengan menyiksa dirinya.

"Nyonya Athena, mari ikut saya!"

Suara Edward tiba-tiba terdengar membuat Athena menoleh. Dengan segera ia menepis tangan asistennya yang kini telah menjadi kaki tangan Leon tersebut, dan berusaha berjalan sendiri dengan langkahnya yang masih tertatih-tatih.

"Wah, ternyata kau sudah diperbolehkan pulang?"

Kedua netra Athena lantas membulat saat bertemu pandang dengan sosok yang tak disangkanya. Melihat seutas senyum tipis nan licik, kedua alisnya lantas hampir menyatu seiring dengan deru napasnya yang memburu.

"Bagaimana keadaanmu, Athena? Aku turut prihatin dengan kecelakaan yang menimpamu. Kata Leon, tanganmu lumpuh dan mulutmu bisu ya? Bagaimana rasanya? Pasti sangat menyakitkan sekali bukan?" Crystal kembali berbicara dengan kaki jenjangnya yang sedikit melangkah maju. Ia sepertinya ingin mengusap sebagian wajah sahabatnya, tetapi Athena langsung menepis dan memberikan tatapan peringatan padanya.

"Aku sudah mengetahui perselingkuhanmu dengan suamiku, Crystal! Tidak perlu lagi kau berpura-pura baik padaku! Ingat, aku tentu tidak akan membiarkanmu terus memanfaatkan kondisiku yang seperti ini!" Athena berbicara di dalam hati yang akhirnya hanya membuat Crystal terkekeh saja.

"Kasihan sekali sahabatku ini. Kau jadi tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Sekali lagi aku turut prihatin dengan nasibmu, Athena. Sebagai sahabat yang baik, bagaimana kalau aku yang menggantikan posisimu sebagai Nyonya di rumah ini? Aku rasa Leon tidak akan keberatan karena dengan begitu aku bisa membantunya dan tidak akan merepotkannya sepertimu yang sekarang ini."

"Ya, lakukanlah sesukamu! Dengan begitu aku akan mengumpulkan lebih banyak bukti untuk mengungkap semua kebusukan kalian!" Lagi-lagi Athena bergumam di dalam hati dengan terus menatap wanita di hadapannya hingga membuat Crystal sedikit bergidik saat menyadarinya.

"Aku khawatir dia kerasukan roh halus, Ed. Cepatlah bawa dia ke kamarnya. Ingat, kamarnya baru! Bukan kamarnya yang dulu karena sekarang aku yang akan menempatinya bersama Leon!"

"Baik, Nyonya!"

Mendengkus, Athena kembali menyipitkan matanya dengan tajam ke arah wanita yang dulu pernah dikenalkannya pada publik sebagai penyanyi pendatang baru. Sejujurnya ia ingin bergerak maju dan menjambak rambut panjang wanita bermuka dua yang sangat tak tahu balas budi tersebut, tetapi sayang lagi-lagi ia belum bisa melakukan semuanya karena posisinya yang belum benar-benar aman di rumah ini.

Athena memang masih membutuhkan waktu untuk melakukan perlawanan atas semua kelicikan Leon dan Crystal. Athena sadar tak akan bisa melakukan semuanya dengan tergesa-gesa, apalagi kini ia hanya sendiri karena ayahnya yang telah lama tiada dan ibunya yang sampai saat ini masih terbaring di rumah sakit.

"Mari ikut saya, Nyonya Athena!"

Kembali tak ingin disentuh, Athena melangkah lebih dulu. Suara kendaraan yang terparkir membuatnya menoleh. Dan hal tersebut membuatnya mual bukan main karena setelahnya netranya tak sengaja melihat sambutan berlebihan Crystal pada suaminya.

"Akhirnya kau pulang juga, Leon. Ratu yang cacat itu juga sampai sebelum kau tiba," bisik Crystal dengan nada manja tetapi tetap terdengar tajam. Perlahan ia mengusap dada bidang pria yang tahun ini kembali masuk ke dalam kategori pria tertampan dalam sebuah majalah terkenal.

Melirik sekilas ke arah Athena, Leon hanya tersenyum singkat saja. Salah satu tangan kekarnya merengkuh erat pinggang ramping Crystal. Ia mengecup mesra wajah cantik berhias makeup di sampingnya itu seraya memberikan tas kerjanya.

"Ambil surat yang ada di dalam tasku, Crystal. Ada yang harus wanita cacat ini segera tandatangani!" perintahnya tegas dengan tatapan menghunus, yang lantas membuat jantung Athena semakin berdegup kencang.

Athena tak tahu dokumen apa yang telah dimaksud suaminya. Namun yang jelas sepertinya itu adalah sesuatu yang sangat tidak menguntungkannya, dan bahkan bisa membuat hidupnya terasa jauh lebih menderita lagi dari yang sekarang ini.

"Surat pengalihan harta kekayaan?" Suara gumaman Crystal terdengar sampai ke kedua telinga Athena, hingga membuat kedua netra lentik alami wajah pucat itu sontak membulat.

"Gila! Mereka benar-benar gila!" jerit Athena terengah di dalam hati. "Andai surat itu aku tandatangani, apalagi yang akan dilakukan mereka padaku? Aku rasa mereka tidak akan puas begitu saja. Mereka pasti tidak akan membiarkanku pergi, meskipun semua harta yang aku miliki telah aku serahkan pada mereka!"

Mencoba menggelengkan kepala sebagai tanda penolakan, Athena mendorong sebuah pulpen yang tengah disodorkan kepadanya dengan tangan kirinya. Ia berusaha mendorong Edward yang berupaya menahan pergerakannya, hingga akhirnya membuat pria berumur 40 tahun itu hampir terjatuh.

"Cukup! Sudah aku duga dia pasti akan memberontak seperti ini!" Leon mendengkus kesal dengan mengusap wajahnya sesaat. "Sekarang kau, Edward. Urus semua keperluanku dan Crystal saja! Biar dia yang mengurus wanita cacat ini!"

Melihat Leon yang menjentikkan jarinya, napas Athena tertahan saat menyadari seorang pria berperawakan menyeramkan yang tengah mendekat ke arahnya. Degup jantungnya kian meningkat, apalagi setelahnya pria dengan tato naga di lehernya itu dengan mudah mengunci semua pergerakannya.

"Maaf jika saya menyakiti Anda, Nyonya. Senang bertemu dengan Anda kembali!"

Membulatkan kedua matanya, Athena seperti mengenali suara pria yang telah berbisik tepat di depan telinganya ini. Ia langsung menoleh untuk meneliti wajah pria di sampingnya, tetapi sayang ia belum bisa mengenalinya hingga pandangannya terhenti tepat di kedua netra cokelat pria tersebut.

"Tidak mungkin! Bukankah dia...."

"Cepat bawa dia ke kamarnya, Arthur! Kamarnya ada di paling belakang dekat dapur! Tanyakan saja kepada para pembantu di mana letak bekas gudang terdekat di sana!"

Menggelengkan kepalanya, Athena mengalihkan tatapannya pada Leon. Lagi-lagi ia dibuat tak menyangka dengan semua rencana licik suaminya. Bisa-bisanya Leon dengan mudah memindahkan kamarnya pada gudang kecil yang ada di dekat dapur, sementara Crystal dibiarkannya berada satu kamar dengannya tanpa memikirkan tanggapan para pekerja yang ada di rumah ini.

"Mari ikut saya, Nyonya!"

Kembali berusaha melawan, pada akhirnya Athena tetap didorong paksa menjauh. Sesekali Athena merintih kesakitan saat beberapa bekas lukanya tak sengaja tersenggol oleh pria itu, dan juga mendengkus saat melihat lambaian tangan Crystal yang seperti sedang mengejeknya.

"Silakan masuk, Nyonya," ucap Arthur yang kini telah berada di depan sebuah ruangan di belakang dapur.

Athena menggelengkan kepalanya kala mengedarkan pandangannya di kamar kecil yang dulu pernah dijadikan gudang. Dindingnya lembab dengan bau pengap tercium kuat, dan hanya ada satu kasur kecil yang terlihat tidak layak untuk ditempati.

Sungguh, napasnya jadi semakin terasa sesak! Ini bukan hanya perkara keadaan kamar yang sangat tak layak untuk ditempati, melainkan tentang nasib hidupnya ke depannya nanti.

"Nyonya Athena?" Pria bernama Arthur tersebut memanggil dengan tatapan yang tertuju pada majikan barunya.

Menyadari hal itu Athena pun merasa canggung sekaligus waspada. Perlahan langkahnya bergerak mundur dengan benaknya yang kembali menerka-nerka, terlebih semakin lama ia merasa seperti mengenali tatapan pria tersebut.

"Apakah ada hal lain yang harus saya kerjakan lagi? Saya tentu bersedia membantu Anda, terutama dalam rencana balas dendam!"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED