Para pegawai restoran satu lantai itu tampak sibuk melayani pengunjung yang datang. Meski lokasinya tidak tepat berada di pusat kota, restoran bernama Delifood ini memang tidak pernah sepi pengunjung. Selain sejuk dan nyaman untuk dijadikan tempat bersantai, Delifood juga menyediakan menu-menu makan siang yang selalu unik dan berubah-ubah tiap harinya, membuat para pengunjung tidak pernah bosan dan selalu penasaran mengenai menu utama esok harinya.
Nala Olivia, wanita dua puluh tujuh tahun itu juga sama sibuknya. Namun dia sama sekali tak tampak lesu. Seperti hari-hari sebelumnya, dia selalu bersemangat menjalani pekerjaannya sebagai pelayan di Delifood.
Dengan senyum menawan yang mampu membuat kaum Adam menatapnya tak berkedip, Nala terus berjalan ke sana-kemari mencatat pesanan lalu membawa makanan yang dipesan ke meja pengunjung. Begitu seterusnya, memastikan semua pengunjung di areanya tidak ada yang sampai harus menunggu lama.
Usai mengantar pesanan dan membersihkan meja yang baru ditinggalkan, Nala duduk sejenak di kursi dekat meja konter tempat biasa para pelayan meletakkan pesanan yang kemudian diproses bagian dapur. Dia tampak mengipasi wajahnya dengan tangan seraya menyeka titik keringat di pelipis.
"Sudah kubilang tidak perlu terlalu bersemangat. Bos tidak akan menaikkan gajimu. Kau selalu berkeringat padahal ruangan ini ber-AC."
Nala tersenyum geli mendengar gerutuan Anton, salah satu rekan kerjanya yang sangat memperhatikannya. Lalu matanya berbinar melihat Anton menyodorkan jus segar ke arahnya. Tanpa menunggu lama, Nala segera menerima gelas tinggi itu lalu meminum isinya tanpa menggunakan sedotan.
Anton berdecak. "Tidak ada yang melarangmu meminta minum. Tinggal pergi saja ke dapur lalu minta Aan atau siapapun untuk membuatkanmu sesuatu. Atau kau juga bisa membuatnya sendiri."
Nala nyengir lebar mendengar nada suara Anton yang terkesan frustasi sekaligus jengkel. Sebagai tanggapannya, dia hanya mengangguk-angguk hingga membuat Anton kembali berdecak dengan kedua tangan berada di pinggang.
"Apa aku harus selalu mengulang hal itu? Ini bukan pertama kalinya aku berceramah seperti ini."
Nala menahan senyum geli. Bersamaan dengan itu, sekelompok lelaki dengan pakaian rapi tampak memasuki Delifood lalu duduk di area Nala.
"Memang apa susah—"
Ucapan Anton terhenti saat Nala mengangkat tangan dengan telapak menghadap Anton sebagai isyarat agar Anton diam. Lalu dia turun dari kursi tinggi tempatnya duduk seraya menunjuk tamu yang baru datang.
Sejenak Anton menoleh lalu kembali menatap Nala. "Bagianku sedang sepi hari ini. Jadi kau lanjutkan istirahat dan biar aku yang mengurus mereka."
Nala menggeleng dengan tegas.
Dia tidak mau diperlakukan berbeda karena memiliki kekurangan. Dia bahkan sangat bersyukur restoran ini dibagi menjadi banyak area dengan seorang pelayan di tiap area. Jika tidak, mungkin Nala akan lebih banyak duduk karena teman-temannya selalu berusaha meringankan pekerjaannya. Seolah Nala akan hancur berkeping-keping hanya karena mengangkat nampan berat.
Sadar tidak mungkin bisa mendesak Nala, akhirnya Anton mengangguk dengan berat hati. "Baiklah. Tapi bilang kalau kau merasa lelah. Jangan hanya terus memendamnya dalam hati."
Sejenak Nala tertegun akibat ucapan Anton. Tapi dia buru-buru tersenyum seraya mengangguk. Lalu tanpa menunggu tanggapan lagi, bergegas menghampiri enam lelaki yang tampaknya merupakan eksekutif muda yang sedang istirahat makan siang.
***
Aska Faresta merasa menyesal telah menerima ajakan makan siang teman-teman dekat semasa SMA-nya. Bagaimana tidak? Mereka yang sudah sama-sama kepala tiga bisa tertawa, bercanda, bahkan saling mengejek layaknya masih SMA. Apa mereka lupa umur atau ini hanya efek bertemu teman lama?
"Serius! Gue bener-bener gak nyangka itu si Ratu. Padahal, gila! Dulu gue selalu netesin liur liat bodynya yang aduhai. Eh, sekarang malah gak berbentuk."
"Kayak gimana dia sekarang? Lo punya fotonya?"
"Ada, nih!"
"Tapi wajar sih. Habis lahiran dia, kan?"
"Alah.... Istri gue habis lahiran sama sebelum hamil gak beda jauh. Nih, coba lo lihat si Ratu. Beda parah!"
"Coba tanya Aska."
"Ka, lihat deh! Beda kan dia sama primadona sekolah dulu?"
Dengan malas Aska sedikit melirik layar ponsel yang disodorkan ke depan wajahnya. "Masih tetep cantik."
"Masa?"
"Mananya woi?"
"Mata Aska mulai rabun."
"Tapi kalau diperhatiin Aska bener sih. Memang masih cantik." Lelaki yang duduk tepat di sebelah Aska berkomentar dengan tatapan masih lekat ke arah layar ponsel.
"Eh, lo kayaknya mulai—"
"Hush, udah! Lo mau pesen gak?"
Nala menahan senyum geli melihat interaksi mereka. Tadi dia bahkan harus menunggu beberapa detik sampai salah seorang menyadari kehadirannya yang sudah berdiri menunggu untuk menyerahkan buku menu.
Perbincangan heboh mereka sebelumnya terhenti seketika digantikan diskusi menu yang hendak mereka pesan.
"Ini menu utama hari ini, ya?" salah seorang lelaki bertanya. Dia yang memberi usul pada teman-temannya untuk makan siang di Delifood.
Sejenak Nala menunggu hingga lelaki itu mendongak menatapnya lalu mengangguk membenarkan pertanyaannya. Lalu si lelaki menoleh menatap teman-temannya.
"Gimana? Gue mau pesen ini."
"Gue juga."
Yang lain turut mengangguk kecuali Aska yang tengah sibuk dengan ponselnya.
"Ka, lo juga mau pesen ini?"
Tanpa mendongak Aska menyahut, "Terserah."
Setelah mendapat persetujuan dari teman-temannya, lelaki itu kembali menoleh ke arah Nala. "Kami semua pesan menu ini dan minumannya..."
Kali ini secara bergantian mereka menyebutkan minuman yang hendak mereka pesan. Hingga tiba di giliran Aska yang masih tampak sibuk dengan ponselnya.
"Ka!"
"Hmm."
Semula, Nala hanya fokus pada lelaki yang memegang buku menu. Lalu rasa penasaran membuatnya menoleh ke arah lelaki yang tampak asyik dengan dunianya sendiri.
DEG.
Seketika jantung Nala melonjak tak terkendali. Bibirnya terbuka dan matanya melebar dengan sorot kaget. Tak menyangka akan bertemu lelaki itu lagi setelah dua tahun berlalu.
"Ya Tuhan, Aska! Lo mau pesen minuman apa?"
Aska mengibaskan tangan tak peduli. "Terserah deh."
Mendadak mata Nala terasa panas dan ternggorokannya kering hingga dia harus menelan ludah berkali-kali. Bahkan meski belum melihat wajahnya karena lelaki itu menunduk menatap ponsel, Nala bisa langsung mengenalinya dengan jelas. Apalagi tadi salah satu teman lelaki itu menyebut nama Aska. Nama yang masih tertanam kuat dalam memori Nala. Nama yang pernah menorehkan bahagia sekaligus luka yang menganga.
Aska Faresta.
"Mbak, maaf ya. Temen kita satu itu memang suka melayang jiwanya entah ke mana padahal jasadnya tetep di sini." Seorang lelaki di samping kanan Nala tersenyum meminta maaf.
Plak!
"Jasad pala lo?"
Lelaki yang baru dipukul Aska langsung meringis sakit seraya menggosok lengannya. "Aska sinting! Sakit! Malu noh sama Mbak cantik."
Aska menatap kesal temannya lalu menoleh tanpa sengaja ke arah si pelayan yang masih diam menunggu. Hanya dua detik sebelum dia menunduk kembali ke arah ponselnya. Namun detik berikutnya dia tersentak dan kembali mendongak menatap wanita itu. Beruntung gerakan refleks yang dilakukan Aska tak diperhatikan teman-temannya.
Selama beberapa detik yang terasa mendebarkan bagi Nala, pandangannya bertemu langsung dengan pandangan Aska. Tatapan mereka saling mengunci, hingga akhirnya Nala menunduk untuk memutus kontak mata mereka.
Setelah semua perlakuan buruk Aska, kenapa mata cokelat itu masih menggetarkan hatinya? Kenapa hanya karena sadar Aska satu ruangan dengannya, kaki Nala masih saja serasa lemas seolah berubah menjadi jelly? Tidak bisakah hati, otak, dan tubuhnya saling bekerja sama untuk membenci Aska?
"Mbak cantik."
Panggilan teman Aska menarik Nala dari jerat kenangan masa lalunya. Dia menoleh menatap lelaki itu dengan senyum ramah.
"Boleh kenalan gak? Namanya siapa?"
"Namanya Nala," jelas teman Aska yang lain.
"Kok tahu?"
"Ada name tag-nya, Dodol!"
Seketika lelaki yang tadi bertanya tersenyum malu seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Nala masih tersenyum seraya dalam hati menimbang-nimbang apa sebaiknya dia langsung pergi atau tetap menunggu minuman apa yang akan dipesankan para lelaki itu untuk Aska?
Sungguh, dia tidak tahan berada sedekat ini dengan Aska. Perasaannya jadi kacau. Pedih akibat luka bercampur bahagia layaknya gadis yang bertemu cinta pertamanya.
"Jadi—Nala, ya?" teman Aska itu tampak belum menyerah untuk menarik perhatian Nala. "Boleh minta nomor telepon? Abang gak macam-macam kok."
"Cih, dasar buaya!"
Lelaki itu mengabaikan ejekan teman-temannya dan tetap fokus memandang Nala. Sebagai balasannya, Nala hanya tersenyum lalu mengangguk kecil dan segera berbalik pergi.
"Yah... yah... yah... malah ditinggal pergi."
"Kapok! Dicuekin!"
"Lo sih, murahan banget. Tiap ada cewek bening dikit pasti digoda."
"Dianya aja yang sok jual mahal, tahu!" kesalnya tak terima ditolak tanpa kata dan kini menjadi bahan ejekan teman-temannya.
Tak terpengaruh kehebohan di sekelilingnya, pandangan Aska masih mengarah pada wanita yang pernah menjadi bagian dari masa lalunya. Dari tempatnya duduk, Aska bisa melihat bagaimana Nala meletakkan kertas berisi pesanan di meja konter lalu duduk menunggu bersama pelayan lain.
Aska masih terus memandang ke arah sana saat Nala mencuri-curi pandangan ke arahnya. Tapi hanya sedetik sebelum dia buru-buru memalingkan wajah begitu menyadari Aska menatapnya intens. Bahkan setelahnya Nala tampak tak nyaman. Dia pasti sangat gugup ditatap dengan begitu tajam oleh lelaki yang pernah berbagi tawa lalu menghancurkannya hingga berkeping.
Tidak, Aska sama sekali tidak menyesali perlakuan buruknya pada Nala. Wanita itu memang pantas menerimanya. Namun yang membuat Aska tak bisa memalingkan wajah dari Nala akibat pekerjaan yang dilakukan Nala sekarang. Kenapa wanita itu menjadi pelayan sementara orang tuanya cukup kaya? Bahkan beberapa hari lalu Aska mendengar kabar mereka tengah merayakan ulang tahun mewah untuk putri bungsu mereka yang usianya berbeda delapan tahun dari Nala?
Beberapa menit menunggu, Nala kembali dengan pesanan mereka. Tanpa kata dia menata pesanan di atas meja.
Aska masih melakukan hal yang sama. Memperhatikan Nala tajam. Lalu salah satu alisnya terangkat begitu minuman untuknya diletakkan di depannya.
Minuman kesukaannya. Apa Nala sengaja?
Aska tersenyum mengejek melihat minuman itu lalu mendongak menatap Nala yang sama sekali tak menoleh ke arahnya. Kalau Nala bermaksud menunjukkan bahwa dia masih memikirkan Aska dengan minuman ini, maka wanita itu hanya melakukan hal yang sia-sia. Aska tidak akan tersentuh. Tidak akan pernah.
Selesai menata pesanan, Nala bermaksud langsung pergi setelah melemparkan seulas senyum lalu mengangguk kecil. Tapi gerakannya terhenti saat lelaki yang sebelumnya meminta nomor teleponnya mendadak mencekal pergelangan tangan Nala.
"Abang gak gigit kok. Cuma minta nomor telepon. Apa itu salah?"
Kali ini Nala tersenyum ragu seraya sedikit menggeliatkan tangannya untuk melepaskan diri. Namun cekalan lelaki itu terlalu kuat.
"Kalau dipikir-pikir kamu bener-bener gak sopan, ya? Dari awal cuma diam aja. Seenggaknya ngomong apa kek. Silakan nikmati pesanannya atau apa. Kamu kan pelayan yang harusnya sopan sama pengunjung."
Seketika senyum Nala memudar. Mendadak amarah sekaligus keinginan untuk menangis berbaur menjadi satu dalam dadanya.
Sudah cukup luka dalam hatinya yang mulai sembuh kembali berdarah karena melihat Aska. Sekarang malah ditambah kelakuan brengsek salah satu teman lelaki itu.
"Masih tetep diam? Kamu bisu, ya?"
Refleks Nala menyentak lengannya dari cekalan lelaki itu. Mungkin karena dia tidak siap dengan gerakan Nala yang tiba-tiba, dengan mudah tangan Nala lepas dari cekalannya. Lalu dengan cepat Nala berbalik setengah berlari ke konter pesanan.
"Ckckck, bener-bener sok jual mahal. Mentang-mentang cantik," ejek lelaki itu seraya menunduk ke arah makanannya.
"Eh, lihat! Ternyata dia beneran bisu."
Mendengar itu, empat lelaki langsung menoleh ke arah yang ditunjuk temannya. Sementara Aska terbatuk-batuk akibat rasa kaget.
Lalu seraya menyeka bibirnya, Aska mendongak hanya untuk mendapati yang dikatakan temannya benar. Tampak di sana Nala tengah memberitahu sesuatu pada rekan kerjanya dengan gerakan-gerakan tangan. Lalu dia melepas apron khusus pelayan Delifood yang dikenakannya dan bergegas masuk ke area khusus pegawai.
Klontang!
Semua mata langsung menoleh ke arah lelaki yang tadi meminta nomor ponsel Nala. Dia baru saja menjatuhkan sendok ke piringnya lalu menatap teman-temannya dengan raut bersalah.
"Ta—tadi... gue gak beneran ngomong dia bisu, kan?"
Namun tidak ada yang menanggapi. Teman-temannya mulai menyibukkan diri dengan makanan mereka tanpa ada lagi canda tawa. Tak bisa dipungkiri, mereka pun merasa bersalah pada pelayan bernama Nala tadi.
Sementara Aska masih syok dengan kenyataan ini. Pandangannya belum beralih dari pintu yang baru saja dilewati Nala. Pikirannya buntu. Hanya dipenuhi satu kalimat penuh tanya.
Bagaimana bisa?
----------------------------
~~>> Aya Emily <<~~
Seperti biasa, Nala tiba di rumah kontrakannya saat langit sudah gelap. Meski tampak jelas hidupnya sangat menyedihkan, Nala selalu punya cara untuk menyibukkan diri dan membuat otaknya tak berpikir muluk dengan mengkhayalkan hal-hal yang tak mungkin dia dapatkan. Namun malam ini berbeda. Kehadiran Aska mau tak mau membuka kembali luka lama. Membuat Nala ingin marah sekaligus mengasihani dirinya sendiri karena masih saja terpengaruh.
Begitu berhasil membuka pintu rumah, Nala tak lantas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri seperti biasa. Dia malah menyandarkan punggung ke pintu yang sudah tertutup lalu merosot hingga terduduk di lantai dengan kedua lutut menekuk.
Air mata Nala bergulir begitu memori kebersamaannya dengan Aska menguasai otaknya. Kegelapan sekitarnya memperparah derasnya memori itu. Nala ingat setiap detail. Seolah baru kemarin semuanya terjadi.
"Apa yang kau lakukan?" Nala mendongak, menatap kesal ke arah pemilik mata cokelat itu yang merusak kesenangannya.
"Kau hanya akan membuat dirimu sendiri sakit," balas lelaki itu sama kesalnya.
"Aku suka hujan." Nala merengut. "Kau mengganggu kesenanganku." Lalu Nala berbalik pergi, meninggalkan lelaki yang baru saja memayunginya.
Setelahnya mereka bertemu lagi dan lagi. Hingga tanpa sadar persahabatan terjalin di antara mereka.
Aska selalu murah senyum. Dan senyumnya menular pada Nala. Mereka cocok dalam banyak hal. Apapun yang mereka bincangkan selalu seru hingga keduanya enggan untuk mengakhirinya.
Saat kekasih Nala mengkhianatinya, Aska juga yang berdiri di samping Nala memberi dukungan. Dia menghibur wanita itu hingga melupakan kesedihannya.
Senyum Nala yang berpadu dengan air mata merekah, teringat masa-masa manis itu. Aska selalu memperlakukannya bak puteri. Sangat memperhatikannya. Menghapus air mata Nala, memberikan lengan untuk Nala berpegangan, dan dada untuk Nala bersandar menumpahkan pedih di hatinya. Meski tidak semua masalah pribadinya dia bagi dengan Aska, tapi kehadiran Aska sudah sangat meringankan hatinya dan membuat hidupnya penuh warna.
Namun senyum Nala seketika pudar digantikan tangis tertahan begitu kenangan manis itu berubah menjadi perlakuan buruk Aska tanpa Nala sendiri mengerti apa kesalahannya. Aska jadi suka marah. Dia bahkan tak segan melayangkan pukulan. Hingga yang membuat Nala tak tahan, Nala menyaksikan bagaimana Aska menjamah dan nyaris berhubungan badan dengan wanita yang diakuinya sebagai kekasihnya.
Saat itulah Nala pergi. Apalagi dia sadar betul Aska sengaja melakukannya untuk menyakitinya. Tapi sampai sekarang Nala masih tak juga mengerti. Apa kesalahannya? Mengapa Aska tega melakukannya?
***
Aska berdiri dengan kedua lengan terlipat di depan dada menghadap dinding kaca yang memenuhi bagian belakang ruang kerjanya. Dari sana dia bisa melihat gedung-gedung pencakar langit lain dan kendaraan-kendaraan yang tampak sangat kecil di bawah.
Ada ketenangan sendiri yang dirasakan Aska dengan melihat semua pemandangan itu. Saat ada hal pelik yang harus dicerna otaknya, pastilah Aska akan menghabiskan waktu berdiri lama di sana hingga apa yang dia pikirkan memiliki jalan keluar. Atau setidaknya langkah mencari jalan keluar.
Seperti saat ini. Dia juga tengah memikirkan hal pelik. Tapi bukan berhubungan dengan pekerjaan. Ini berhubungan dengan mantannya, wanita dari masa lalunya. Nala Olivia.
Bisu? Yang benar saja?
Aska tersenyum sinis dengan sorot tak percaya. Dia ingat betul betapa cerewetnya wanita itu. Suka sekali mengomentari banyak hal meski seingat Aska dia termasuk wanita yang menghindari membicarakan keburukan orang lain. Ada saja topik pembicaraan yang selalu dia kemukakan hingga bersamanya tak pernah sepi. Yah, memang Aska juga mengimbanginya. Tapi intinya mendengar Nala sekarang bisu menurut Aska adalah sebuah lelucon yang sama sekali tidak lucu, hanya memancing kekesalannya.
Tok... tok... tok....
Klek.
Aska mendengar pintu ruangannya terbuka. Tanpa berbalik dia sudah bisa menebak siapa itu. Tidak ada yang berani masuk ke ruangannya tanpa mendengar izinnya. Hanya Raffi—asisten pribadi sekaligus sahabatnya—atau sekretarisnya. Tapi berhubung Raffi masih menjalankan pekerjaan di tempat lain dan baru akan kembali nanti malam, jelas itu adalah sekretarisnya. Lalu seolah membenarkan dugaan Aska, suara wanita mengalun dari belakangnya.
"Pak, sudah waktunya makan siang. Anda mau saya belikan sesuatu?"
Aska memang termasuk pekerja keras. Dia sanggup menghabiskan waktu berjam-jam mengurung diri dalam ruang kerjanya. Bahkan tak jarang sejak datang pagi, dia tidak keluar sama sekali dari ruangannya—kecuali memang dibutuhkan di tempat lain—hingga waktunya pulang. Karena itu, mengingatkan dan membelikan makan siang untuk Aska menjadi tugas sang sekretaris.
Aska tak langsung menjawab. Dia masih berdiri diam menatap keluar sana. Namun bukan pemandangan itu yang memenuhi pikirannya. Ada sosok lain yang ia pikirkan, dengan gerakan-gerakan isyaratnya yang membuat Aska geram.
"Pak?"
Mendadak Aska berbalik lalu menyambar kunci mobil dan ponselnya. "Aku akan makan siang di luar." Hanya itu yang dia katakan sebelum keluar ruangannya mendahului sang sekretaris.
***
Aska memarkir mobilnya di lahan parkir Delifood. Sejenak dia masih duduk diam memperhatikan keadaan di dalam melalui dinding kaca restoran itu. Namun dari tempatnya berada, bagian dalam Delifood tak tampak jelas. Hanya terlihat banyak orang seperti kemarin.
Daerah ini hampir mencapai perbatasan dengan kota lain. Wilayah yang biasanya hanya dilewati Aska tanpa merasa harus berhenti. Tak disangka di tempat inilah Nala tinggal. Padahal Aska pikir setelah insiden antara mereka di masa lalu, Nala memutuskan pergi ke luar negeri hingga Aska tak bisa lagi melacaknya.
Keluar dari mobil, Aska berjalan tenang menuju pintu masuk lalu memilih tempat duduk di salah satu sudut. Sekilas memperhatikan saja Aska sudah tahu restoran ini membagi-bagi area untuk ditugaskan pada tiap pelayan. Karena itu dia sengaja memilih kursi yang menurutnya merupakan area Nala.
Aska langsung menyadari sosok Nala begitu dirinya duduk. Namun wanita itu belum menyadari kehadirannya karena terlalu sibuk melayani pesanan tamu lain. Lalu dia pergi sejenak untuk menyerahkan kertas pesanan ke area dapur sebelum kembali karena menyadari ada tamu lagi yang duduk di areanya.
Namun begitu Nala melihat siapa tamu berikutnya, langkahnya langsung terhenti dengan sorot kaget yang tak bisa disembunyikan. Sejenak dia ragu. Tapi hanya beberapa detik. Buru-buru dia menarik napas pelan lalu melangkah dengan tenang meski jantungnya mulai berulah.
Tiba di meja yang Aska tempati, Nala mengulas senyum seraya menyerahkan buku menu. Dalam hati dia terus berkata, "Anggap saja tidak kenal... anggap saja tidak kenal... anggap saja tidak kenal."
Aska menerima buku menu dari tangan Nala. Tapi pandangannya sama sekali tak mengarah pada buku itu. Dia terus menatap tajam Nala, membuat wanita itu semakin tak nyaman.
"Bagaimana kabarmu?"
Pertanyaan Aska yang tiba-tiba membuat Nala tertegun. Dia tak menyangka lelaki itu akan menanyakan kabarnya. Ragu, Nala kembali tersenyum lalu mengangguk pelan.
Salah satu alis Aska terangkat lalu bibirnya membentuk senyum sinis. "Aku bertanya padamu. Apa anggukan adalah sebuah jawaban?"
Senyum Nala pudar. Dengan terang-terangan dia mengeluarkan catatan dan pen untuk menulis pesanan sebagai isyarat agar Aska lekas memesan.
Tapi entah Aska tak mengerti isyaratnya atau pura-pura tak mengerti, lelaki itu masih diam dengan tatapannya yang semakin tajam menusuk.
Melihat Aska yang terus diam, kesabaran Nala mulai habis. Dengan pennya dia menunjuk buku menu di tangan Aska. Tapi mendadak Aska mencekal pergelangan tangan Nala lalu menyentak wanita itu hingga membungkuk mendekatinya. Kini kepala mereka sejajar. Membuat Nala bisa melihat kilat familiar di mata Aska. Amarah.
"Mungkin kau bisa menipu orang lain," geram Aska. "Tapi aku tidak akan tertipu. Kenapa? Sedang berusaha mencari simpati dengan pura-pura bisu?"
Mata Nala berkaca-kaca mendengar tuduhan menyakitkan yang dilontarkan Aska. Dia berusaha menyentak tangannya lepas namun cekalan Aska terlalu kuat.
Sikap Nala malah membuat Aska semakin geram. "Asal kau tahu, aku sudah berniat melepaskanmu. Tapi sikapmu ini membuatku sangat kesal. Aku benci wanita penuh muslihat sepertimu. Lihat saja. Akan kubuat kau lebih menderita dari yang pernah kau rasakan sebelumnya."
Nala semakin menggeliat. Dia menegakkan tubuh seraya menarik lengannya.
"Hei! Apa yang Anda lakukan?!"
Anton yang baru saja diberitahu pelayan lain bahwa ada tamu yang mengganggu Nala langsung datang dan menarik tangan Nala lepas dari cekalan lelaki itu. Pelayan wanita yang tadi memberitahu Anton buru-buru menarik Nala ke belakang. Dia tidak berani langsung menolong Nala. Karena itu dia meminta tolong pada pelayan lelaki di dekatnya yang kebetulan adalah Anton.
"Tolong bersikap sopan, Pak. Kami bisa menendang Anda keluar dari sini jika mengganggu karyawan kami atau membuat masalah."
Aska tersenyum sinis mendengar itu lalu mengulurkan buku menu di tangannya. "Aku mau pesan menu utama hari ini."
Anton semakin marah melihat sikap tamu di depannya. Dia tidak langsung menerima buku menu yang diulurkan padanya, malah menimbang-nimbang hendak memberikan satu tinju ke wajah angkuh si lelaki.
"Ayolah, aku hanya ingin makan siang."
Tahu tidak punya alasan untuk memukul orang itu di depan banyak mata tamu lain yang mengarah pada mereka, akhirnya Anton menerima buku menu dari tangan Aska dengan kasar lalu berbalik pergi.
----------------------------
~~>> Aya Emily <<~~
Malamnya Aska tiba di rumah dengan amarah mendidih di dada yang berusaha ia tahan sepanjang hari. Dengan kasar ia membuka dua kancing bagian atas kemejanya lalu melepas dasi dan melemparnya ke ranjang.
Napas Aska memburu dengan bibir terkatup rapat. Kedua tangan di pinggang sementara otaknya berkelana, mengingat bagaimana sikap Nala di restoran yang menurutnya sangat menjijikkan.
Dasar jalang!
Munafik!
Kenapa tidak jadi artis saja sekalian? Aktingnya sangat meyakinkan. Dia pasti akan dengan mudah dinobatkan sebagai artis terbaik.
Merasa amarahnya kian memuncak memanaskan kepala, Aska memutuskan mandi di bawah shower, berharap dinginnya air bisa sedikit meredakan hatinya.
Usai mandi, Aska merasa lebih baik. Dengan hanya selembar handuk melilit pinggang, dia kembali ke kamar lalu menyadari ponselnya berdering tanda telepon masuk. Namun belum sempat menerimanya, dering ponsel sudah berhenti.
Aska mengambil ponselnya yang tergeletak di ranjang bersama dasi dan tas kerjanya. Ada tiga panggilan tak terjawab dari orang yang sama. Lalu beberapa pesan chat.
Sayang, kamu di mana? Kenapa gak angkat teleponku?
Sayang!
Aku gak mau tau. Aku tunggu di club biasa.
Tanpa membalas satu pesan pun, Aska melempar ponselnya kembali ke ranjang lalu menuju walk in closet untuk mengenakan pakaian.
Dia hafal betul bagaimana sifat Cintya, kekasihnya. Wanita itu sangat keras kepala dan tipe orang yang selalu ingin dituruti. Dia tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa maunya. Seperti jika dia bilang akan menunggu Aska di club, wanita itu akan terus menunggu di sana dan menghubungi Aska tiap sepuluh menit sampai Aska benar-benar datang.
Kekasih?
Aska mengenakan pakaian sambil tersenyum sinis memikirkan kata itu.
Aska tidak pernah benar-benar menganggap Cintya kekasihnya. Wanita itu lebih tepat disebut sex partner. Pertama kali Aska menyebut wanita itu kekasih adalah di depan Nala. Saat Aska berusaha melukai hatinya.
Aska ingat betul hari itu. Nala menatapnya penuh tanya lalu beralih menatap lengan Aska yang merangkul pinggang wanita di sampingnya. Tak ada pertanyaan yang keluar dari bibir Nala. Hanya sorot matanya yang menunjukkan kebingungan dan penuh tanda tanya.
"Kenalkan dia Cintya, kekasihku." Dengan sengaja Aska menekan kata terakhir, membuat Nala seolah tersentak lalu kembali menatapnya.
Dia ingat luka dalam mata Nala. Wanita itu tak mengatakan apapun. Dia bahkan tak menangis. Hanya matanya yang berkaca-kaca. Membuat Aska semakin geram karena Nala bersikap tegar dan akhirnya memutuskan memperlihatkan pada Nala saat dia nyaris menyetubuhi Cintya.
Apa dia mendengar suara Nala hari itu?
Mendadak Aska berhenti dengan sebuah t-shirt di tangan. Keningnya berkerut, mencoba menggali ingatan lebih dalam.
Nala sama sekali tak berbicara hari itu. Dan setelah dipikir lagi, sepertinya Nala memang sudah tak berbicara pada Aska beberapa hari sebelumnya sejak Aska mulai bersikap kasar padanya. Apa Nala mendadak bisu karena Aska terlalu keras membentaknya?
Berdecak malas, akhirnya Aska melanjutkan mengenakan pakaian. Dia tidak pernah mendengar hal sekonyol itu sebelumnya. Mana ada orang langsung bisu hanya karena terlalu keras dibentak? Tidak, itu pasti memang hanya akal-akalan Nala. Betapa liciknya!
***
Sebelum ke club, Aska berhenti sejenak di Mall. Dia sudah berjanji akan membelikan beberapa alat memasak untuk Mamanya. Selagi ingat, dia ingin langsung membelinya lalu mengantarnya pada sang Mama besok sepulang kerja.
Baru saja memarkir mobil di lahan parkir Mall yang ditujunya, mata Aska menemukan pemandangan yang amat dia benci. Tiga orang di depan sana tampak amat bahagia. Saling tertawa dan bercanda dengan tangan penuh belanjaan.
Siapa pun yang melihat mereka, tampak jelas si remaja putri itu begitu disayangi kedua orang tuanya. Bahkan beberapa kali si Ayah menepuk-nepuk kepala putrinya penuh sorot bangga lalu ketiganya kembali tertawa mendengar lelucon si anak.
Jemari Aska mencengkeram kemudi mobil semakin kuat. Bibirnya menipis penuh amarah.
Handoyo dan istrinya, si jalang Maura.
Ternyata mereka masih bisa tersenyum bahagia. Mungkin apa yang Aska lakukan belum cukup membuat mereka menderita.
Aska memiringkan kepala, menatap keluarga itu dengan kebencian yang nyata.
Tersenyumlah. Silakan tersenyum selebar yang kalian bisa. Karena setelah ini akan kupastikan kalian menangis memilukan.
Ya, Aska sudah membuat keputusan. Kali ini Aska tidak akan berhenti. Sampai mereka benar-benar bersujud memohon maaf di bawah kakinya. Sampai mereka tahu siapa dirinya. Sampai mereka sadar apa yang dulu mereka lakukan telah menumbuhkan dendam yang mengharap balasan.
***
Rumah kontrakan kecil itu menjadi saksi bisu isak tangis tertahan si penghuni. Isi hatinya tergambar jelas dari derasnya bulir bening yang membasahi pipinya, meski tak ada suara yang terdengar dari bibir kecilnya.
Nala tak kuasa menahan tangis begitu tiba di kediamannya. Dia sungguh tak habis pikir mengapa Aska bisa bersikap sekasar itu. Bahkan lelaki itu sampai menuduhnya sengaja mencari simpati dengan pura-pura bisu.
Lagi-lagi kenangan kebersamaan mereka tergambar dalam benak Nala. Namun bukan untuk ia kenang, melainkan ia perhatikan tiap detail kecil. Adakah yang Nala lakukan hingga bisa memancing semua sikap buruk Aska? Namun Nala tak menemukan keanehan apapun. Mereka baik-baik saja hingga saat Aska mulai bersikap kasar.
Nala menutup wajah dengan kedua tangan seraya mengutuki diri sendiri. Mengapa masih saja terpengaruh? Mengapa lelaki itu masih saja bisa menyakitinya? Nala sanggup menerima hinaan orang lain dan tidak menghiraukannya. Tapi mengapa hinaan Aska masih terasa sangat pedih melukai hatinya?
***
Esoknya Aska membatalkan rencana mengunjungi sang Mama sepulang kerja. Dia memilih datang kembali ke Delifood. Tapi kali ini bukan untuk makan. Tapi sengaja menunggu Nala di pinggir jalan beberapa meter dari restoran itu.
Hanya dengan sebuah perintah, Aska dengan mudah mendapat data pribadi Nala. Bahkan sampai hal kecil seperti jam berapa Nala pulang kerja dan bersama siapa biasanya dia pulang.
Keakuratan informasi yang didapat Aska tak perlu diragukan. Hanya dengan menunggu sekitar sepuluh menit, Nala benar-benar keluar dari restoran itu bersama beberapa rekan yang lain dengan senyum di bibir mendengar celoteh salah satu rekannya. Lalu dia berjalan sebentar menuju halte tak jauh dari mobil Aska terparkir.
Namun bukan bus yang dia tunggu di sana. Melainkan angkot yang akan mengantarnya ke wilayah dekat rumah kontrakannya.
Begitu angkot yang ditumpangi Nala melaju, Aska segera mengendarai mobilnya membuntuti. Sekitar lima belas menit kemudian, Nala turun di area dusun yang termasuk padat. Rumah-rumah dibangun saling merapat hingga tak memiliki halaman. Jalanan berupa gang sempit yang hanya muat dilalui satu orang. Mau tak mau Aska turun dari mobilnya untuk membuntuti Nala.
Sebelum mencapai rumah-rumah penduduk, dari jalan raya Nala masih harus melewati area pertokoan yang sudah tutup menjelang malam, membuat area itu sepi dan remang. Namun sama sekali tak tampak sikap takut dari dalam diri Nala. Dia sudah terbiasa. Ditambah lagi area itu memang dikenal aman karena tiap kali ada yang melaporkan tindak kejahatan di sana, RT, RW dan aparat setempat akan langsung bertindak.
Aska terus membuntuti dalam senyap. Lalu mendadak iblis dalam diri Aska menggeliat begitu menyadari kesunyian di sekelilingnya.
Sejenak dia melirik sekitar, memastikan tidak ada orang. Yakin tidak ada saksi mata yang akan memergoki aksinya, Aska mempercepat langkah lalu menyergap Nala dari belakang dan menyeretnya ke salah satu gang sempit sepi antar toko.
Refleks Nala meronta begitu menyadari ada orang yang menyergapnya. Namun perlawanannya seketika terhenti begitu orang itu mendorong punggungnya hingga menubruk dinding lembab lalu berdiri di depannya. Meski remang, wajah orang itu terlihat jelas. Nala tertegun dengan bibir terbuka, tak percaya dengan penglihatannya.
"Kau tahu? Aku benci sekali melihatmu masih bisa tersenyum. Apalagi sekarang dapat banyak simpati karena pura-pura bisu."
DEG.
Perih.
Hanya dengan beberapa kalimat dan luka hati Nala kembali berdarah. Dengan mata berkaca-kaca Nala berusaha mendorong dada Aska. Namun lelaki itu bergeming. Masih berdiri kokoh di tempatnya mengurung Nala.
Senyum sinis Aska terbit melihat Nala yang tampak begitu lemah. Bahkan wanita itu tak mencoba berteriak. Berusaha mempertahankan kebohongannya? Lihat saja. Sampai kapan dia sanggup melakukannya.
"Terus pertahankan aktingmu," bisik Aska dengan suara serak seraya menunduk, menyapukan hidung dan bibirnya di belakang telinga Nala. Semakin mudah Aska melakukannya karena Nala berusaha memalingkan wajah menjauh dari wajah Aska. "Terus seperti ini sampai aku puas menikmati tubuhmu."
Lalu dengan kurang ajarnya satu tangan Aska merayap meraba dada Nala, meremasnya sedikit keras.
Nala semakin meronta. Kali ini disertai isak tangis tanpa suara.
"Berteriaklah. Maka aku akan berhenti," geram Aska.
Namun Nala hanya bisa terus menangis sementara rontaannya kian melemah. Air matanya bergulir lalu jatuh menetes mengenai tangan Aska.
Lalu entah mengapa, ada rasa tak nyaman yang merasuki dada Aska melihat bagaimana wanita itu terus terisak tanpa suara. Dia terdiam, dengan keheningan yang menyelimuti sekeliling mereka padahal wanita di depannya bisa dikatakan tengah menangis meraung.
Satu tangan Aska yang sejak tadi mencengkeram lengan atas Nala perlahan mengendur. Sementara tangan yang satu lagi menjauh dari dada Nala. Tatapannya terus terpaku pada wanita itu yang menolak menatapnya dengan wajah yang kian basah.
DEG.
Refleks Aska menggigit bibir bagian dalamnya saat merasakan nyeri yang aneh di dada. Jemarinya mengepal, sangat terganggu dengan perasaan asing ini. Lalu tak ingin berlama-lama terjebak dalam situasi tak nyaman, Aska segera berbalik pergi meninggalkan Nala yang masih menangis tersedu lalu merosok ke tanah lembab. Lelaki itu sama sekali tak menoleh, hanya terus bergegas menuju mobil dan melaju pergi.
---------------------------
~~>> Aya Emily <<~~