"Bacok lagi, ayo ... pakai tenaga! Tenaganya keluarin!" teriak heboh seorang wanita yang gemas dengan putranya saat membelah buah kelapa kuning dengan gambar tokoh wayang.
"Lembek amat," celetuk Nathan. Kakak kandung pria yang masih memegang golok dengan hiasan bunga melati dironce panjang pada gagang.
"Keras, kali, Mas! Lo coba sini!" protes Naka yang tampak kesusahan dengan baju adat yang ia kenakan.
"Pake tenaga!" omel Nathan lagi. Ia mulai emosi, wanita di sebelahnya mengusap lengan Nathan. Pria itu menoleh, tersenyum lalu meraih jemari tangan Nadin, istrinya yang begitu cantik.
"Kuatan aku, kan, dari pada Naka?" bisik Nathan menggoda Nadin. Kedua mata Nadin membulat sempurna, ia menahan senyumnya sambil menatap Nathan. Pria itu mengecup jemari Nadin, membawa ke dadanya. Lalu kembali mengomentari adiknya yang berhasil membelah kelapa itu.
"Akhirnya," ucap para tamu undangan yang hadir di acara tujuh bulanan itu. Nadin beranjak, karena Ibu mertuanya memanggil.
"Iya, Bu." Dengan sopan Nadin menghampiri dan berdiri di samping wanita lima puluh tahun itu.
"Di sana ada keluarga lain, Ibu males jawab pertanyaan yang sama. Kamu aja, ya, Din, biar langsung dari sumbernya." Tatapan ibu mertuanya memohon, Nadin mengangguk. Ia lalu kembali duduk, dan memberi tahu Nathan.
"Gimana, nih, Mas? Pertanyaan masih sama." Nadin mengeratkan genggaman jemarinya ke Nathan.
"Jawab aja apa adanya, emang belum di kasih anak, mau apa lagi? Toh, kita bahagia, kan? Sirik amat jadi orang." Raut wajah Nathan sudah menunjukan ketidak sukaannya pada keluarga besar baik dari ayah atau pun ibunya. Karena pertanyaannya akan selalu sama,
Kapan Nadin hamil?
Kenapa nggak hamil-hamil?
Nathan nggak kuat kali, ya?
Nadin kurang makan makanan sehat, nih?
Ayo dong, program, bayi tabung, deh!
Hingga, banyak kejulid-tan lainnya. Hal itu juga yang membuat Nadin malas jika datang ke acara yang dibuat keluarga besar Nathan. Ia juga tak enak dengan ibu dan ayah mertuanya. Ditambah, hari itu, mereka tak mungkin jika absen dari acara tujuh bulanan istri adik iparnya, Margie.
Dua tahun delapan bulan pernikahan dengan Nathan, pria yang ia kenal tak sebentar, mereka dulu satu SMA. Nathan Kakak kelas Nadin yang saat itu kelas satu. Berawal dari teman, jadi lanjut ke tingkatan lain dalam hubungan mereka.
Pisah sejenak karena kuliah berbeda kampus, dipertemukan kembali saat sudah berkarir di bidang masing-masing. Nathan manajer Bank swasta, Nadin admin support perusahaan leasing besar.
Senior dan junior, ya, begitulah mereka. Pacaran mereka hanya satu tahun sebelum memutuskan menikah.
"Mas, kalau mereka cecar jawaban lain gimana?" bisik Nadin mulai tak nyaman. Nathan mendengkus, ia akhirnya memberikan saran supaya Nadin menghindar saja. Tak perlu berada di sana untuk sekedar menyapa.
Tatapan Nadin sendu, karena tiba-tiba suasana menjadi ramai mana kala tiba dikegiatan berganti pakaian sebanyak tujuh kali. Tamu undangan heboh, bahkan tampak bahagia. Istri Naka itu juga tampak memancarkan aura cantik luar biasa, tersenyum dan mengucapkan terima kasih saat para tamu mengusap perut buncitnya.
Jemari Nadin reflek mengusap perutnya yang rata. Ia melirik ke Nathan yang justru melihat dingin ke arah kerumunan orang-orang itu. Naka dan istrinya berjalan berdampingan, menghampiri Nathan dan Nadin untuk meminta doa restu, supaya kehamilan dan proses melahirkan nanti lancar, Ibu dan bayinya selamat juga sehat.
Nathan berdiri, diikuti Nadin. Tangan Nathan terulur, karena Naka mencium punggung tangan sebagai tanda ia menghormati sang adik ke kakaknya. Lalu tangan Nathan beralih ke perut besar adik iparnya. Mengusap lalu tersenyum, "sehat ya sampai lahiran nanti, jadi anak yang selalu dibanggakan keluarga," ucapnya. Berganti ke Nadin, ia juga memeluk erat Naka, sambil mengucapkan selamat. Berganti ke istri Naka yang terharu dengan linangan air mata saat menatap Nadin.
"Kenapa nangis?" tanya Nadin di saat memeluk wanita itu.
"Semoga Mbak cepet hamil ya, aku mau lihat Mbak hamil anak Mas Nathan, biar ramai keluarga kita." Pelukan terlepas perlahan, Nadin mengangguk sambil tersenyum.
"Aamiin. Mudah-mudahan dilancarkan ya persalinan kamu dua bulan lagi, kabarin Mbak kalau kamu butuh sesuatu." Nadin mengusap perut istri Naka itu. Lalu berlanjut berkeliling lagi.
Nadin berusaha terus menunjukan senyum bahagianya, tapi Nathan tahu, jika istrinya merasakan hal yang lain.
***
Di rumah Nadin dan Nathan.
"Lagi ngapain, sih?" tanya Nathan menghampiri istrinya yang duduk menghadap laptop beralaskan bantal di pangkuannya.
"Ini, urusan kantor, ada data customer yang salah input temen, jadinya aku mau cek dari awal," jawab Nadin santai.
"Kamu masih lama periksa itu?" Nathan duduk di sebelah Nadin, merangkul bahu istrinya sembari diusap pelan.
"Kenapa emangnya, Mas?" lirik Nadin.
"Aku mau keluar sebentar, mau nitip nggak?"
"Mmm, kemana emangnya? Kamu nggak capek? Udah jam sembilan." Tunjuk Nadin dengan dagunya ke arah jam dinding.
"Sama Naka, dia mau beli martabak keju di dekat komplek kita, bininya masih ngidam aja. Heran aku!" ketus Nathan.
"Oh, yaudah sana, aku tunggu kamu sampai pulang," kepala Nadin mendongak karena Nathan sudah berdiri di samping ranjang.
Nathan membungkuk, "kalau kamu nggak ketiduran, biasanya tidur duluan, kan?" bisik Nathan sensual sambil mencium leher mulus istrinya. Nadin terkekeh, selain karena kata-kata suaminya, juga karena ciuman basah di ceruk lehernya itu.
"Masss... ih, udah sanaaa..." usir Nadin kemudian. Nathan tertawa, ia mengecup puncak kepala Nadin, menyambar ponsel dan dompet, lalu terdengar suaminya berbicara dengan asisten rumah tangganya di luar kamar.
Lahir dan besar dari keluarga pengusaha, selalu merasa dibantu juga, membuat Nathan tak ingin Nadin yang sudah lelah bekerja, masih sibuk mengurus urusan rumah. Nadin begitu dimanjakan, ia bahkan sempat berpikir untuk menolak, ia ingin merasakan mencuci baju, menyetrika, bahkan memasak. Tapi Nathan melarangnya, Nadin harus merasa jika menikah dengannya begitu bahagia, cukup lelahnya hanya di atas ranjang bersama suaminya yang begitu perkasa.
Selang satu jam, Nathan sudah mengirim banyak pesan singkat, isinya seperti saat mereka pacaran dulu, gombalan-gombalan receh yang jelas membuat Nadin tersenyum lalu tertawa. Ia terkejut, saat pintu kamarnya terbuka, tampak suaminya yang ternyata sudah pulang. Senyum Nathan mengembang, ia membawa kue dengan lilin angka 28.
"Selamat ulang tahun istri cantikku, wanita yang begitu mencintai Nathan dengan tulus. Calon Ibu anak-anakku." Nathan berjalan mendekat, kue ukuran 20x20 itu dihiasi gambar wajah dirinya yang tersenyum.
"Kamu bohongin aku?!" Nadin beranjak, berjalan mendekat. Senyum tampan Nathan begitu menggemaskan.
"Aku ambil kue ini, nggak ketemuan sama Naka juga, aku mau rayain ulang tahun kamu berdua aja, nggak mau di acara tadi walau bisa aja aku setting."
Nadin berdecih, ia lalu meniup lilin itu. Nathan mencium kening Nadin begitu lekat dan lama. Kemudian menempelkan kening keduanya begitu lekat.
"Happy birthday, love, aku sengaja cuekin kamu dari semalam, nggak bahas ulang tahun kamu. Karena aku punya kejutan sendiri. I love you," bisiknya di depan wajah cantik Nadin. Istrinya mengambil alih kue dari tangan suaminya, di letakkan di atas meja. Ia menghambur ke dalam pelukan Nathan. Keduanya begitu erat berpelukan, hingga Nadin mendengar debaran jantung Nathan berpacu cepat, bahkan napasnya terasa hangat di ceruk lehernya.
"Aku mau kadoku," ucap Nadin manja. Nathan meregangkan pelukanya.
"Mau apa? Bilang," jemari Nathan menyusuri surai istrinya, mengecup kening Nadin lagi dengan mata terpejam.
"Ini!" ujar Nadin. Nathan melotot karena terkejut, tangan Nadin berada di antara paha pria itu. Senyum penuh menggoda suaminya perlihatkan dengan jelas dan tegas. Nadin tertawa begitu puas, tapi tidak untuk Nathan, melainkan karena ia segera melakukan tugasnya, juga memberikan hadiah terbaik bagi istrinya. Surga dunia yang mampu membuat senyum Nadin merekah dengan kedua mata sayunya.
Bersambung,
Hari-hari dilewati dengan sempurna. Meski belum memiliki keturunan---selama hampir tiga tahun ini, hal itu tak membuat perhatian Nathan kepada sang istri menjadi luntur.
Mereka bahagia, melewati semuanya bersama. Di dalam cinta mereka percaya, bahwa suatu saat, Tuhan akan memberikan mereka keturunan jika sudah tiba waktunya.
Malam ini, Nathan yang sudah lebih dulu menerima gaji bulanan, ia pun mengajak istrinya untuk mencari makan di luar.
"Makan di luar, mau?" tanya Nathan, memastikan. Nadin yang tengah menyisir rambut di depan cermin pun berbalik, melihat suaminya yang sudah memakai jaket miliknya.
"Hayo, Mas pasti habis gajian, kan?!" Dengan antusias, Nathan mengangguk. Tersenyum, berjalan mendekati istrinya.
"Kuylah, mumpung malam minggu. Mas pengen ngajak istri Mas jalan-jalan," katanya, "Mau?"
"Mau..." Nadin berseru, berdiri dan langsung bergelayut manja di lengan suaminya. Segera mereka keluar rumah. Nathan lebih dulu naik ke atas motor, memakai helm dan mengenakannya juga pada istrinya.
"Peluk!" Nathan meraih kedua tangan Nadin, membawa tangan Nadin melingkari pinggangnya.
"Siap?" tanya Nathan.
"Siap, Boss," jawab Nadin. Mereka tertawa kecil bersama, lalu mulai melaju dengan santai. Menikmati suasana malam minggu, melihat para anak-anak muda yang nongkrong dan berkumpul.
Nathan menoleh ke samping. "Mau makan apa, um? Awas kalau jawab terserah." Nadin yang meletakkan dagunya di bahu Nathan, ia tergelak lalu mencubit kecil pinggang suaminya.
"Lalapan jaer enak nih. Eh, tapi, sate juga enak. Um ... gimana kalau mie ayam? Eh, enggak-enggak. Coto! Biar anget." Nadin pun memajukan kepalanya, memeriksa wajah Nathan. Benar saja, wajah lelaki itu sudah mendatar lucu.
Lagi-lagi mereka tertawa bersama. "Yang bener atuh, Neng. Jangan buat Kakang pusing tujuh bangunan," ucap Nathan bercanda. Setelah berunding, akhirnya mereka memilih untuk lebih dulu memakan lalapan, kemudian memesan martabak.
"Kamu nggak mau beli anu? Itu loh, apa sih ya, yang buat keset-keset itu? Mas lupa." Nathan sungguh terlalu, berbicara santai di depan orang-orang yang sedang mengantri martabak mereka. Alhasil, mereka diliriki dengan senyum tertahan.
"Apa toh, Mas. Ishh!" Nadin malu, mencubit lengan Nathan yang otomatis tertawa.
Setelah pesanan martabak mereka usai, kembali lagi kedua orang itu melanjutkan perjalanan. "Singgah bentar di taman, mau nggak?" Nathan mengangguk, kemudian memberhentikan motornya di suatu taman yang cukup ramai malam ini.
Turun, merangkul bahu istrinya, seraya menentang kantung martabak mereka. Duduk pada kursi di taman, dan mulai bercerita tentang kisah mereka sendiri. Tetapi, seketika Nadin melamun. Tatapannya lurus ke depan, melihat pada satu titik.
"Kenapa sih, um? Kok melamun?" Nathan bertanya. Merangkul lagi bahu Nadin, lalu ia bawa kepala wanita itu bersandar di dadanya.
Nadin menggeleng, tersenyum lebar dan langsung menyuap satu potong martabak manis ke mulut suaminya. "Manis ya, kayak istri Mas," celetuk Nathan, mengulum bibirnya menahan senyum.
"Eleh, pret! Dasar, kang gombal," balas Nadin, kemudian mereka tergelak.
Merasa sudah larut, mereka memutuskan untuk segera pulang ke rumah. "Asyik deh, jalan-jalan pake motor gini. Berasa balik lagi ke zaman pacaran," ucap Nadin yang sudah meletakkan dagunya di bahu Nathan.
"Iya, sensasi masa pacarannya berasa balik lagi, 'kan?" balas Nathan, kemudian mengecup punggung tangan istrinya sembari terus mengemudi.
Nadin mengulas senyum manis. "Ini nih yang aku suka dari Mas. Romantisnya nggak pernah berubah dari zaman pacaran, selalu bisa hibur aku. Tau ... aja kalau istrinya lagi sedih."
Sekali lagi Nathan mengecup punggung tangan Nadin, lalu mengusapnya pelan dengan ibu jarinya. "Nggak usah sedih-sedih. Mas nggak suka lihat kamu sedih. Mending deh, kamu kesurupan, ketimbang sedih-sedih dan buat Mas nggak tenang," balas Nathan, tetapi langsung helm-nya digetok oleh Nadin.
"Yakali kesurupan. Mas aja sono yang kesurupan di tengah jalan." Di detik berikutnya, Nathan dan Nadin pun tertawa. Merasa gemas, Nathan langsung menggigiti jemari istrinya.
"Gemes. Terkam boleh?"
****
Karena ini hari minggu, datanglah Naka--adik Nathan--untuk mengunjungi rumah sang kakak. Mengajak istrinya tentu saja.
Kebetulan, ada Nathan yang duduk di ruang tengah. Mengetik pada laptop yang ia letakkan di atas meja kaca.
"Assalamualaikum!"
Nathan menoleh. Sontak berdiri, saat melihat Naka dan Margie yang sudah memasuki rumah. "Wa'alaikumussalam. Wah, padahal baru aja Mas pengen nelfon, mau ngajak kalian ke rumah," lontar Nathan, lalu berpelukan singkat dengan sang adik.
"Mbak Nadin ... mana?" tanya Margie, mencari-cari keberadaan kakak iparnya.
"Oh, di dapur. Nyusul gih, lagi masak tuh dia," jawab Nathan. "Hati-hati," timpal Naka. Selalu memperingati sang istri untuk berhati-hati saat di dapur.
Duduklah Nathan dan Naka bersama, mulai bercerita dan saling melontarkan isi pikiran masing-masing tentang pekerjaan. Lalu, seketika Naka menceletuk, "Rumah segede gini, kalau banyak bocilnya pasti seru."
Tidak bermaksud lain, Naka benar-benar spontan mengatakan apa yang terlintas di otaknya. "InsyaAllah, suatu saat ada lebih dari dua bocil yang bakal ramein rumah ini," balas Nathan, bersikap dewasa.
Nathan tersenyum, melihat sang adik. "Kalau bukan anak-anak Mas, ya anak-anak kamu dong yang harus ramein ni rumah. Anak kamu dan Margie, ya anak Mas sama Nadin juga. Iya, kan?"
Mereka pun tersenyum bersama. Inilah yang membuat Naka bangga pada sang kakak. Nathan, pria itu memiliki sifat yang sangat dewasa. Apa pun itu keadaannya, dapat ia ubah bak air yang tenang. Yah, semua itu berkat sifat dan pemikirannya yang matang, yang dewasa.
"Eh, ini mereka masak apa ya? Wangi banget." Dahi kedua pria itu otomatis mengernyit, menghirup aroma masakan Nadin dan Margie yang begitu wangi.
"Opor," pekik kakak beradik itu. Melotot, berdiri, kemudian berlari cepat menuju dapur.
"Mau opor..." Seru keduanya.
"E-eh? Belum mateng. Buset!" Nadin dan Margie tertawa, melihat suami-suami mereka yang berlari seperti dua badak kesurupan menuju mereka.
"Ya udah, makan kalian aja," lontar Nathan dan Naka, serentak.
"Mesooom..." sahut Nadin dan Margie kompak. Menyisakan gelak tawa mereka berempat. Nadin mengedipkan sebelah matan ke arah suaminya, yang ciuman jauh dari suami tercintanya itu. Malam minggu mereka, ditutup dengan saling bercerita, banyak hal, membuat Nadin larut dalam suka cita tak terelakkan.
Bersambung,
Memiliki suami yang selalu berada di garda terdepan saat istrinya menjadi bahan gunjingan banyak orang, karena tak kunjung hamil, merupakan kekuatan tersendiri bagi kesehatan hati dan batin Nadin. Ia berkali-kali harus memasang senyum palsu di wajahnya saat banyak yang menanyakan dirinya, KAPAN HAMIL? Andai Nadin bisa tahu jawabannya dengan bertanya kepada pencipta, ia pasti akan membuat pengumuman sekalian, kalau perlu pasang di reklame berbayar jalan raya besar supaya orang-orang tau kapan ia hamil.
"Mas, kalau bayi tabung gimana?" pertanyaan Nadin membuat Nathan tertawa sinis lalu menatap istrinya lekat-lekat.
"Kamu raguin serangan senjataku dan peluru-pelurunya, Din? Aku harus bilang berapa kali, kita sama-sama sehat, dan semua aman, bulan lalu kita udah periksa juga, kan?" Nathan melirik istrinya sejenak lalu kembali mengoleskan selai nuttela ke atas roti tawarnya.
"Iya, tapi... jenuh dan kesel juga lama-lama, Mas, mereka kayak nggak percaya sama hasil pemeriksaan dokter, aku harus bela diri kayak gimana lagi?" Nadin duduk di atas pangkuan suaminya yang merasa terkejut dengan tingkah Nadin itu. Nathan meletakkan roti di atas piring lalu memeluk pinggang istrinya.
"Terus, mau kamu apa? Kita periksa ke mana lagi? Mau ke luar negeri sekalian?" tatap Nathan.
"Ya enggak, mahal tau, kalau treatment ke sana," jawab Nadin dengan helaan napas lagi. Nathan mencium bahu istrinya yang memeluknya manja. Ia usap punggung Nadin, mencoba menghilangkan kegusaran hati istrinya. Ia paham, keluarganya yang banyak membahas tentang hal itu, apa lagi saat Naka dan Istrinya sedang menunggu waktu tak lama lagi dengan menghadirkan seorang putra di keluarga besar mereka.
"Apa kita ke rumah Ibu? Kamu kangen nggak, mau jalan-jalan di kebun sayur?" ajakan Nathan membuat Nadin bingung. Ia tau, suaminya susah untuk cuti dari pekerjaannya, banyaknya hal yang harus ia kerjakan, seolah menjadi hal langka untuk Nathan cuti. Jarak dari Ibu kota ke daerah tempat tinggal ibunya juga jauh, di Solo.
"Yakin bisa cuti?" Kedua mata Nadin memicing, tak yakin dengan hal itu.
"Yakin, aku belum ambil cuti tahunanku, kan, mau berangkat kapan? Aku juga kangen makan sate buntal, di sana. Mau naik mobil, kereta, atau pesawat. Ah... sekalian bulan madu ke dua, keceh nggak tuh rencana aku, babe?"
Nadin tergelak, ia geli dan merasa lucu jika suaminya sudah memanggilnya babe, atau darling, atau apalah panggilan ke barat-baratan. Ia memeluk leher kekar Nathan. "Mau sayang, tiga malam juga cukup, berangkat kamis ini, pulang minggu, gimana?" Nadin mengulurkan pelukan lalu menatap suaminya lagi.
"Setuju, aku urus cuti siang ini di kantor. Bangun dong, kamunya, jangan duduk begini, nggak tau emangnya kalau ada yang berontak." Dumal Nathan. Nadin tertawa, ia beranjak lalu duduk di kursi meja makan dekat Nathan. Keduanya sudah berpakaian rapi hendak bekerja, tak lucu kan, kalau datang siang ke kantor dengan aura yang cerah ceria lalu senyum-senyum sendiri membayangkan permainan panas mereka di pagi hari.
***
Di kantor Nathan.
"Kamis sama Jumat cutinya, kan, Pak?" tanya staff bagian personalia. Nathan mengangguk, ia baru saja mengisi lembar pengajuan cuti.
"Istri saya mau ke rumah Ibunya, sekalian, bulan madu kedua, siapa tau hasil bercocok tanam di sana tokcer," kekeh Nathan. Staff wanita itu tertawa geli sendiri.
"Pak, ada yang bilang, makan kurma muda, terus sari kurma, banyakin makan kecambah, sama jaga kesehatan, Pak, maksudnya, Bapak kan perokok, coba berhenti deh, Pak."
Nathan diam, ia ingat anjuran dokter untuk dirinya supaya berhenti merokok, ia mengangguk paham. "Kurma muda belinya di mana? Apa saya harus umroh dulu?"
"Ya enggak, Pak, ada yang jual kok, nanti saya info ke Bapak. Ini saya masukin ke data absen ya, Pak, sama info ke kepala HRDnya, suka cariin Pak Nathan kalau menjelang weekend."
"Tahu, tuh, bos kamu ribet banget kalau menjelang weekend, nagih ke saya weekly report-nya. Makasih infonya ya, saya ke tempat anak-anak marketing dulu," pamit Nathan yang di jawab anggukan kepada oleh perempuan itu.
Nathan berjalan santai, kedua tangannya ia masukan ke saku celana, diliriknya ruangan kaca yang tertempel tulisan Marketing Room. Tampak banyak kubikel yang tertata rapi. Satu kubikel yang berukuran lebih luas berada di pojok tujuan Nathan.
"Woy, Nif, sibuk lo?" Nathan dengan santainya bersandar di kubikel Hanif - Kepala Marketing - yang hanya bisa melirik sebal ke rekannya itu.
"Kenape, mau minta saran apa lagi ke gue? Udah dipraktekin belum jurus-jurusnya?" tukas Hanif tanpa menatap Nathan yang senyum-senyum sendiri. Sedangkan rekannya itu sibuk menatap layar komputer besar.
"Gila ya, pelaku usaha kecil menengah makin rame, kita nggak ada arahan program baru untuk UKM, Nath?" Hanif menoleh, menatap Nathan, membahas hal lain.
"Belum ada panggilan ke kantor pusat, gue masih santai-santai aja. Pada ke mana anak buah lo? Kosong, nih, kandang macan."
"Sempak. Mulut lo ya," protes Hanif.
"Elo juga, tulul. BTW, pada ke mana? Tebar jaring?" tanya Nathan lagi.
"Iya, mereka harus kejar targetnya luar biasa, sih. Ada apa lo ke sini?" Hanif beranjak, ia berdiri di dekat meja kerjanya, bersedekap menatap ke arah Nathan.
"Gue cuti, kamis sama jumat. Mau ajak Nadin ke rumah Ibu, gue kasihan sama dia, diterror kapan hamil melulu sama keluarga besar gue. Mereka tuh, kenapa ya, begitu aja, heran gue?" raut wajah Nathan tampak kesal, tapi ia hanya bisa menghela napas.
"Bukannya emang biasa gitu. Lo pikir, keluarga mana yang nggak akan neror, apa lagi lo sama Nadin udah tiga tahun nikah, Bro, wajar aja kalau mereka begitu."
"Ck! Ya enggak gitu juga, lah, kalau emang belum rejeki, gimana? Gue mau hajar tiap malam juga bisa aja, tapi kan..., ah, gue jadi kasian sama bini gue."
Hanif mengangguk paham dengan perasaan Nathan, lalu Hanif menyarankan untuk makan buah kurma muda, dan serangkaian jurus andalannya. Bukan apa-apa, karena Hanif sudah mempraktekan dan istrinya sudah melahirnya tiga anak dengan jarak satu tahun dari anak ke satu sampai ke tiga.
Maka, obrolan mereka berubah menjadi rumpian ala pria yang membahas gaya bercinta yang mampu memuaskan pasangan masing-masing, makanan apa saja yang harus di konsumsi, hingga ke obat kuat. Keduanya tertawa geli sendiri dengan kesomplakan isi kepala mereka. Bagusnya, di ruangan itu hanya mereka berdua, jadi bebas mau ngoceh apa saja.
"Lo bucin banget sama Nadin, kan, Nath, paham gue kalau lo mau kasih yang terbaik dan selalu bikin dia bahagia. Just do it. Buat Nadin bahagia, puas dan nggak bisa lepas dari lo." Maka kalimat Hanif itu menjadi pecutan bagi Nathan untuk semakin semangat membahagiakan istri tercintanya itu. Ia tak sabar, melakukan perjalan mengunjungi Ibu mertuanya sekaligus bulan madu kedua. Apa yang akan terjadi kemudian?
Bersambung,