"Sa ... aku menyerah bertahan. Bukan aku tidak cinta padamu sebagai suamiku, tapi ...." Amelia tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena dadanya sangat sesak.
Amelia Putri wanita berusia tiga puluh empat tahun dengan wajah cantik, tubuh bak model ternama, rambut lurus sebahu, mata yang indah menghiasi wajahnya, kini menyerah dengan pernikahannya. Pernikahannya bersama Arsa--sang suami sudah diujung tanduk. Arsa dan Amelia adalah teman seangkatan saat SMA. Benih-benih cinta mereka tumbuh saat akhir jelang ujian nasional kala itu.
Lebih tepatnya hubungan itu tumbuh saat Amelia bersitegang dengan adik kelasnya --Nirina Anjani. Mereka berpacaran selama enam tahun dan memutuskan untuk menikah. Amelia menikah dengan Arsa saat usianya dua puluh empat tahun terpaut dua tahun lebih muda dengan sang suami. Dulu, Arsa pernah tinggal kelas saat SMA, jadi usianya lebih tua dari sang istri.
"Aku bisa jelaskan semua, Mel. Ini pasti ada kesalahpahaman yang kamu ga ngerti." Arsa memohon pada sang istri agar tidak mendaftarkan perceraian mereka di pengadilan agama. "A-aku memang salah, tapi berikan aku kesempatan untuk memperbaikinya. Aku akan jelaskan ini pada atasanku, Mel. Kamu bersabarlah," lanjutnya memohon dengan penuh iba pada Amelia yang sudah menemaninya selama sepuluh tahun belakangan ini.
Arsa Subianto seorang anak pengusaha sukses, sosok hitam manis yang berkharisma juga berasal dari keluarga berada. Ia memiliki tatapan yang membius kaum hawa. Tubuhnya yang atletis juga menjadi salah satu daya tarik bagi wanita. Laki-laki yang kini berprofesi sebagi polisi itu memang membuat kesalahan fatal dalam pernikahannya.
Amelia tidak menjawab ucapan Arsa. Ibu dari tiga anak itu sudah terlalu lama memendam kesedihan hingga sekarang adalah puncaknya. Ia tidak kuat lagi dengan beban yang menghimpitnya. Hatinya sudah terlalu sakit karena perselingkuhan suaminya.
"Kita bertemu di pengadilan, Sa." Amelia beranjak dari kursinya dan segera meninggalkan laki-laki yang hingga kini masih berstatua sebagai suaminya itu sendirian di taman belakang rumah mereka.
Arsa sengaja mengajak sang istri berbicara empat mata setelah ia dipergoki oleh atasannya sendiri sedang bersama dengan polisi wanita cantik di sebuah kamar hotel. Fajar, yang kala itu adik kelasnya saat SMA kini menjadi atasannya saat ini. Ya, Fajar lulusan Akademi Polisi kala itu dan sekarang menjadi atasan Arsa.
Ada sanksi hukum ketika seorang polisi tertangkap basah berselingkuh. Penghentian dengan tidak hormat akan datang pada Arsa saat ini jika tidak ada klarifikasi atau penjelasan dari keluarganya terutama sang istri. Amelia sebenarnya sudah tahu sejak empat tahun lalu jika sang suami bermain api dibelakangnya. Sebagai istri, ia berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi.
Arsa menyulut rokok dan mengepulkan asapnya ke udara malam ini yang sangat dingin. Pahitnya pernikahan ini sebagai akibat dari hati yang tidak jujur. Ia telah menghianati cinta Amelia sejak mengenal Prita Yuliana--seorang polisi wanita muda dan masih berusia dua puluh enam. Mereka saling mengenal saat Prita awal tugas di kantor yang sama dengan Arsa.
Sejak awal perkenalan, Arsa sudah jatuh hati pada kecerdasan Prita. Gadis itu menunjukkan jika mempunyai beberapa keahlian. Salah satunya menguasai empat bahasa asing. Kekaguman Arsa semakin bertambah ketika Prita sangat peduli kepada anak yatim piatu.
Pukul sebelas malam dan udara malam ini lumayan dingin. Arsa segera masuk dan menuju ke kamarnya. Tidak ada Amelia yang menyambutnya seperti dulu. Sang istri lebih memilih untuk tidur di kamar anak bungsunya yang kini berusia empat tahun--Aron Pamungkas.
'Mel, aku memang salah, izinkan aku berubah. Tapi, aku juga tidak bisa meninggalkan Prita, dia saat ini juga sedang mengandung anakku,' gumam Arsa yang hanya bisa didengarnya seorang diri.
Pagi datang dengan cepat dan Arsa sudah bangun. Ia melihat Amelia sedang sibuk menyiapkan bekal untuk dua putra dan putri kembar mereka. Arusha dan Sashi, mereka kembar dan saat ini usianya delapan tahun--kelas dua SD. Arsha segera mendekati Aron yang kini sedang bermain dengan kedua kakaknya. Anak laki-laki tampan itu tersenyum bahagia saat melihat sang papa.
"Main sama Papa," celoteh Aron dan membuat Amelia berhenti sejenak dari kegiatan memasak untuk sarapan pagi ini.
"Pa, nanti kita berdua berangkat diantar mobil online lagi?" tanya Sashi yang sebenarnya ingin diantar sang papa.
"Nanti sekalian berangkat sama Papa. Kebetulan Papa piket siang, jadi berangkat siang nanti," jawab Arsya sambil mengelus puncak kepala anak kembarnya secara bergantian.
"Horeee ...!" Arusha berteriak sangat kencang karena senang ketika mendengar akan diantar sang Papa.
Hanya beberapa kali saja dalam beberapa bulan Arsa bisa mengantar kedua putra dan putri kembarnya. Sibuk, alasan klasik untuk menutupi kunjungannya ke rumah Prita--istri keduanya di kediaman wanita itu. Bukan tidak tahu, Amelia berusaha menekan rasa sakit di hatinya demi ketiga anaknya.
Dering ponsel Arsa membuat kegembiraan Arusha berhenti seketika. Wajah anak laki-laki yang dominan dengan wajah Arsa itu sudah paham jika sang ayah akan mendaapatkan tugas dari kantor. Arusha segera menuju ke meja makan, ia makan sarapan dengan diam bersama dengan kembarannya.
"Halo, Ndan, selamat pagi."
"Pagi, bisa kamu datang ke kantor sekarang? Ada pemeriksaan yang harus kamu jalani. Saya tunggu di kantor dalam dua puluh menit."
Panggilan itu terputus saat ini. Fajar--atasannya memanggilnya untuk urusan pemeriksaan terkait dengan kasus yang menimpanya saat ini. Arsa harus menjalani sidang kode etik. Sanksi-nya adalah penurunan pangkat kali ini.
Arsa segera memasukan ponselnya ke dalam celana trainingnya dan menyusul Arusha untuk sarapan. Menu sarapan pagi yang istimewa. Nasi goreng sea food, dengan topping cumi-cumi dan udang goreng tepung. Amelia tidak pernah gagal dalam memanjakan lidah anggota keluarganya saat ini.
"Aru ... maaf, Papa, tidak bisa mengantar ke sekolah. Nanti naik mobil online saja, ya," kata Arsa dengan sangat hati-hati.
Arusha tidak menjawab sama sekali. Amelia sibuk menyuapi Aron setelah selesai menyiapkan bekal untuk kedua anak kembarnya itu. Wanita itu kini bersikap dingin pada laki-laki yang masih berstatus suaminya. Hatinya sudah mati rasa saat ini; tidak peduli lagi pada Arsa.
"Ma ... kamu ga sarapan? Sini biar Aron aku yang suapi," kata Arsa berusaha mencari perhatian Amelia kembali.
"Ga mau, Aron mau makan sama Mama aja!" Anak usia empat tahun itu menolak sang papa dan membuat Arsa terdiam seketika.
Sashi yang dulu sangat dekat dengannya kini mulai menjauh. Bukan salah anak perempuan berambut lurus itu menjauhi Arsa. Sosok yang dianggap papa itu perlahan yang menjauh dari ketiga putranya. Alasan dinas dijadikan tameng agar bisa tinggal di rumah Prita.
Amelia melanjutkan kegiatannya menyuapi Aron dengab telaten. Arsa hanya menghela napas karena tidak ada sambutan hangat dari sosok wanita yang telah menemaninya selama sepuluh tahun terakhir ini. Menemani dari nol hingga mempunyai segalanya. Sayang, Arsa tidak bisa menjaga hati.
"Mama, aku udah selesai, mobil online-nya sudah dipesab belum?" tanya Aru sambil melihat ke arah jam dinding yang masih menunjukkan pukul 06.10 WIB.
"Sebentar, ya, Nak. Masih pagi juga ini. Kamu sama Sashi nanti kepagian datang ke sekolahnya," kata Amelia sambil menuntun Aron yang baru saja selesai sarapan paginya.
"Ga, apa. Bisa belajar lagi di kelas. Nanti biasanya ada Edo dan yang lainnya kok." Aru menjelaskan kepada sang mama tentang temannya itu.
"Ya, sudah, biar Mama yang antar kalian ke sekolah pagi ini." Amelia mengelus puncak kepala Arusha dengan penuh kasih sayang. "Sashi ga apa kalo kepagian berangkat sekolahnya?" lanjut Amelia sambil menatap lembut pada anak perempuannya yang pendiam dan pemalu itu.
"Iya, ga, apa." Sashi seolah tahu apa yang menimpa kedua orang tuanya.
Sashi semalam tidak sengaja mendengar kedua orang tuanya berbicara. Ia memang belum paham apa yang dikatakan sang mama 'perceraian' itulah yang didengarnya. Hanya saja, gadis yang wajahnya sangat mirip dengan Arusha itu merasa sedih. Ia takut akan kehilangan kebersamaan dengan kedua orang tuanya.
"Nah, Aron, kita antar kakak ke sekolah, ya. Mama pesan taksi online dulu," kata Amelia membuat anak bungsunya kini berbinar-binar karena bahagia.
"Holeee ... ikut cekolah Kakak Alu dan Kakak Sashi." Aron kini kegirangan sambil mengangkat kedua tangannya dan hendak melompat.
Amelia hanya tersenyum, ia bahagia melihat ketiga anaknya kali ini baik-baik saja. Wanita yang kini sudah siap dengan baju berkerah dan celana panjang berbahan katun berwarna hitam itu segera mengambil ponselnya. Jari-jemarinya yang lentik itu dengan cepat mengetikkan pesanan sebuah mobil taksi online untuk mengantar kedua anak kembarnya sekolah. Pagi, masih sangat pagi untuk ukuran anak SD berangkat sekolah.
"Tunggu sebentar, Mama ambil dompet dan tas juga siapkan susu dan air putih untuk Aron. Kalian jangan lupa bawa bekalnya," kata Amelia sambil berjalan menuju ke kamarnya.
Saat masuk ke dalam kamar, terdengar suara mandi terburu-buru. Arsa, ia mandi sangat terburu-buru saat ini. Entah, semalam tidur pukul berapa. Sebab, tidak biasanya Arsa terlambat bangun dan tergesa-gesa.
Ponsel Arsya berkedip berulang kali. Nama seorang wanita tertera pada layar benda pipih itu. Nama kesayangan yang membuat hati Amelia merasakan sakit yang luar biasa. Arsa memberi nama Prita dengan sebutan Bungaku.
Sepintas, Amelia membaca pesan yang terpampang dalam layar tersebut. Sebuah pesan dari wanita yang kini juga nasibnya sedang diujung tanduk. Pesan untuk membuat drama. Tak terasa air mata Amelia menetes.
"Ka-kamu ...." Arsa tampak gugup saat Amelia sedang menatap ponselnya.
Amelia buru-buru menghapus air matanya dan segera mengambil tas selempang lamanya. Tas yang dikirim oleh Diana--sahabat baiknya saat SMA dulu. Tas yang menjadi kesayangan mereka bertiga bersama dengan Tia. Arsa tampak kelimpungan saat ini.
"Tenang saja, aku tidak membuka ponselmu. Lagi pula ponsel itu ada pasword rahasianya." Amelia berusaha tersenyum meski ingin sekali marah.
"Mel ... aku bisa jelaskan semuanya. Ada yang harus kamu dengar saat ini," kata Arsa dengan panik karena melihat Amelia tidak baik-baik saja.
"Maaf, aku akan mengantar anakku ke sekolah dulu. Pesanan mobil online-ku juga lima menit lagi sampai." Amelia menolak ajakan Arsa untuk berbicara saat ini.
"Mereka juga anak-anakku, Mel. Tak bisakah kamu memberikan aku waktu hingga semua masalah ini selesai?" tanya Arsa berusaha lembut, tetapi Amelia tetap berjalan keluar dari kamar.
Arsa tidak bisa mengejar Amelia saat ini. Ia harus ke kantor dengan cepat. Berita perselingkuhannya langsung menyebar dengan pesat bak debu yang bertebaran dan semua orang langsung tahu. Arsa tidak tahu bagaimana bisa Fajar, atasannya sendiri bisa memergokinya kala itu.
"Argh ...!" Arsa berteriak karena sangat frustrasi saat ini.
Teriakan Arsa terdengar hingga ruang tamu. Anak-anak sangat terkejut saat mendengar suara keras dari sang ayah. Aron langsung memeluk Arusha karena ketakutan. Amelia juga terkejut mendengar suara teriakan sang suami.
"Mama ... Papa kenapa?" tanya Sashi dengan mata berkaca-kaca.
"Eh, mungkin Papa kaget ada cicak. Yuk, kita berangkat, itu mobil online-nya sudah nungguin kita." Amelia menunjuk ke depan di mana ada sosok sopir yang sudah turun dari mobil yang dikemudikannya.
Mereka berempat pun segera menuju ke halaman. Ada sebuah kebiasaan yang mendadak hilang dari ketiga anak-anak Amelia. Mereka kini sudah sangat jarang mencium punggung tangan papa mereka. Alasan kesibukan membuat Arsa juga lupa memperhatikan ketiga anaknya.
"Maaf, Pak, jadi menunggu lama." Amelia merasa tidak enak hati pada sosok sopir muda dan tampan itu.
"Ga, apa, Bu. Saya barusan datang juga. Mari, silakan masuk." Sopir itu mempersilakan Amelia dan ketiga anaknya masuk ke dalam mobil.
Arusha duduk di kursi depan samping kemudi. Kebiasaan ketika mereka semua bepergian bersama. Sedangkan Amelia dan kedua anaknya berada di kursi penumpang nomor dua. Entah kapan terakhir keluarga mereka naik satu mobil yang sama. Amelia kini justru berkaca-kaca saat mengingat nasib rumah tangganya yang diambang kehancuran.
"Nah, sudah, sampai," kata sopir itu dan membuat Amelia terkejut..
"Wah ... ayo kita turun. Ini ongkosnya, saya bayar cash saja," kata Amelia sambil menyerahkan uang pecahan lima puluh ribuan.
"Ini gratis, Bu. Aplikasi sedang promosi besar-besaran." dusta sopir itu yang entah tujuannya apa.
"Wah ... saya kok ga perhatikan, ya, Pak, kalo ada gratis kaya gini. Terima kasih, semoga ke depannya semakib maju dan banyak rezekinya," doa Amelia dengan tulus.
Mereka berempat pun turun dari mobil taksi online itu. Tanpa menyadari siapa sebenarnya sosok sopir taksi itu. Amelia merasa tidak mengenal sosok laki-laki muda itu. Entahlah, pernah lihat, tetapi di mana.
"Ma ... Mama kenal sama Om tadi?" tanya Sashi yang saat ini tangannya digandeng oleh Amelia.
Amelia menoleh ke arah sang putri. Ia tidak paham siapa yanh dimaksud olehnya. Apa maksudnya sopir taksi tadi? Rasanya untuk apa sang putri menanyakan hal itu?
"Om? Om siapa?" tanya Amelia dengan bingung.
"Om yang tadi nyupirin kita," kata Shasi sambil memegang tangan sang mama.
"Oh, enggak. Baru lihat pagi ini saja. Emang kenapa?" tanya Amelia yang mendadak penasaran lalu menoleh ke belakang mencari sosok yang ditanyakan oleh sang putri.
"Om itu dari tadi liatin Mama dari spion depan. Pas aku ga sengaja liat, Om itu senyum ke aku," adu Sashi pada sang mama.
"Oh, mungkin karena tadi udah dekat, makanya Om supirnya liatin Mama." Amelia tidak mau memikirkan banyak hal saat ini. "Nah, itu kelasnya, Mama, antar sampai sini, ya. Nanti kalo pulang sekolah, Mama, jemput lagi. Jangan pergi-pergi sebelum Mama datang," pesan Amelia pada kedua anak kembarnya.
Kedua anak kembarnya hanya mengangguk sebagai jawaban. Amelia paham beberapa waktu belakangab ini, kedua anaknya mendadak menjadi pendiam. Mereka berdua seolah paham dengan yang menimpa kedua orang tuanya. Benar atau tidak, kedua anaknya pasti pernah sesekali melihat mama mereka menangis.
Sementara itu, Sultan masih berada di depan gerbang sekolah kedua anak Amelia. Ia mengamati Amalia dari jauh. Tentu, wanita yang telah lama mencuri hatinya itu tidak akan sadar. Sultan--kakak tingkat beda jurusan dengan Amalia saat kuliah dulu.
Sultan Akbar, sosok sederhana yang sebenarnya kaya raya. Sejak kecil sudah terbiasa hidup sederhana. Begitulah didikan kedua orang tuanya. Hingga usia tiga puluh enam tahun ini, ia masih betah melajang.
Sultan, sosok karismatik dengan sepasang lesung pipi menambah daya tarik bagi kaum hawa. Tidak hanya itu, tatapan matanya yang teduh banyak membuat lawan jenisnya terpikat. Tak banyak yang tahu tentang kehidupan pribadinya. Ia sosok pribadi yang sangat tertutup.
'Mel, kamu masih sama seperti dulu. Cantik dan baik hati, dua hal yang bikin aku ga bisa move on pada gadis lain. Hampir empat belas tahun aku menunggumu, apakah juga akan sia-sia?' Sultan hanya bermonolog di dalam hatinya.
Pukul satu siang dan Amelia sudah berada di depan sekolah kedua anak kembarnya. Lima belas menit lagi mereka akan pulang. Rutinitas setiap hari yang dilakoni sebagai seorang ibu dari ketiga anaknya--antar jemput sekolah. Ia sama sekali tidak pernah mengeluh meski harus berpanas-panasan di dalam angkutan umum.
Hanya sesekali saja mereka naik taksi online seperti tadi pagi. Amelia sengaja agar sang suami tidak banyak mengajaknya berbicara. Ia sudah memikirkan matang-matang perceraian itu. Rasa sakit dan sesak di dadanya mungkin akan hilang setelah mereka berpisah.
"Bagaimana hari ini? Apakah menyenangkan?" tanya Amelia kepada dua anaknya yang baru saja keluar kelas.
"Huft ... ada tugas, Ma. Piknik bersama keluarga dan melakukan hal yang menyenangkan. Tapi, ga akan aku kerjakan, karena Papa selalu sibuk." Arusha kali ini menampakkan wajah masamnya.
"Iya, Ma, aku juga ga akan kerjakan tugas itu." Sashi ikut menimpali ucapan saudara kembarnya itu.
Kedua anak Amelia memang tidak lagi dekat dengan sang papa. Mereka merasa papa-nya jauh lebih mementingkan pekerjaannya. Amelia berusaha menyembunyikan wajah sedihnya. Ia memang tidak mau memberitahukan hal yang sebenarnya pada kedua buah hatinya itu.
Adakalanya bersabar dan diam adalah jalan terbaik. Kedua anak Amelia mulai merasakan ada yang tidak beres dengan kedua orang tuanya. Amelia pun tidak bisa menyembunyikan semua itu selamanya. Mereka pasti akan menyedarinya.
"Kita coba tanya Papa dulu. Siapa tahu week end ini, Papa, bisa liburan dan jalan-jalan bareng. Ga setiap waktu Papa kalian akan kerja terus. Kita nanti akan coba sama-sama, ya?" bujuk Amelia pada kedua anak kembarnya itu.
"Ga yakin, Ma. Tadi pagi aja, Papa udah janji mau antar. Tapi, apa? Papa harus ke kantor 'kan? Arusha tidak lagi bersahat kali ini.
"Nak, Papa, bekerja untuk kita semua, jadi kamu harus paham. Kalo Papa ga kerja, kita nanti bagaimana?" Amelia masih berusaha memuji sang suami di depan anak-anaknya meski hatinya sangat sakit saat ini.
"Kita lihat sajalah, Ma." Arusha malas berdebat dengan sang mama saat ini.
Mereka berempat akhirnya menuju ke gerbang sekolah. Amelia saat ini hendak mengajak mereka untuk naik angkutan umum demi menghemat pengeluaran transportasi. Ia sudah tidak mau lagi meminta uang pada sang suami. Cukup atau tidak uang bulanannya, Amelia berusaha tidak mengeluh.
"Sebentar, Nak, ada telepon." Amelia menghentikan langkahnya dan meminta kedua anaknya juga berhenti berjalan.
"Halo, selamat siang, maaf ini siapa?" tanya Amelia yang memang tidak mengenal nomor itu.
"Maaf, Bu, saya sopir taksi yang tadi pagi."
"Lho? Saya tidak pesan taksi. Maaf, mungkin Bapak salah orang."
Amelia segera menutup panggilan telepon itu. Ada-ada saja, bagaimana bisa tidak memesan jasa taksi online, tetapi dihubungi oleh sopir taksinya. Rasanya sangat aneh. Amelia hanya menggeleng pelan.
"Dari siapa, Ma?" tanya Sashi sambil mendongak ke arah wajah sang mama.
"Ini kayaknya salah sambung. Mama ga pesan taksi online kok ditelepon sama sopirnya." Amelia segere memasukkan ponselnya ke dalam tas yang dibawanya pada bahu kiri.
"Ma ... itu 'kan?" Sashi menunjuk ke arah seorang laki-laki yang sedang berjalan menuju ke arah mereka berempat.
Amelia menatap sang putri dan melihat ke arah yang ditunjuk oleh Sashi. Dahi wanita berusia tiga puluh empat tahun itu berkerut. Ia pernah melihat sosok itu, tetapi di mana? Amelia menjadi seorang pelupa ketika mendapatkan kiriman video perselingkuhan sang suami oleh nomor yang tidak dikenalnya.
"Mungkin, Bapak itu juga mau ke arah sini, Sas." Amelia sama sekali tidak ingat dengan Sultan yang tadi pagi juga mengantarkannya.
"Bukan, Ma. Itu Om yang sopir taksi tadi pagi," kata Sashi dengan sangat yakin.
Amelia menoleh ke arah sang anak dan melihat ke arah sosok yang kini berdiri di depannya. Matanya memicing untuk memastikan ucapan sang anak. Otaknya tidak mampu lagi untuk mengingatnya. Masalah pelik rumah tangganya sangat menyita hati dan pikirannya.
"Ayo, biar aku antarkan saja," kata Sultan dengan lembut dan senyum manis.
Amelia melihat senyum itu beberapa detik. Ia berusaha mengingat siapa laki-laki yang ada di depannya, tetapi gagal. Sultan paham dan hanya tersenyum saja melihat Amelia. Sudah sepuluh tahun lebih mereka tidak bertemu.
Sejak kelulusan kuliahnya, Sultan melanjutkan kuliah S2 di Jerman. Ia tidak lagi berkomunikasi dengan siapa pun. Patah hati, alasan klasik yang membuat sosok tampan dan mapan itu setuju melanjutkan studi hingga ke Jerman. Kala itu, Amelia menerima lamaran dari Arsa dan membuat Sultan terpuruk.
"Maaf, Anda?" tanya Amelia dengan sopan kepada sosok yang tidak diingatnya sama sekali itu.
"Saya? Oh, maaf, saya Anggara," kata Sultan yang memang bernama lengkap Sultan Anggara Permana itu.
"Oh, maaf, tapi saya tidak pesan taksi online. Eh? Aduh, maaf-maaf, apa Bapak yang tadi menghubungi saya?" tanya Amelia ingin memastikan dan diangguki oleh Sultan sebagai jawaban.
Sultan tersenyum kecil melihat wajah terkejut dari Amelia. Wajah itu masih sama dengan belasan tahun yang lalu. Wajah cantik dan tampak sederhana. Wajah yang mampu membuat Sultan betah melajang hingga saat ini.
"Tapi saya tidak pesan. Maaf, saya permisi, Pak Anggara." Amelia segera menghentikan angkutan umum yang sedang melaju.,mulai gelisah karena kegerahan. Cuaca sangat mendung dan membuat badan anak bungsunya gerah. Pun dengan kedua anaknya yang sudah mulai tak nyaman karena masih harus menunggu angkutan umum berikutnya.
"Ma, kita naik mobil, Om, ini aja. Ini udah gerimis loh," kata Sashi yang memang merasa tidak nyaman dengan cuaca siang ini.
"Iya, Ma. Nanti Aron rewel lagi kaya kemarin pas harus sempit-sempitan di angkot." Aru kali ini justru mendekat ke arah Sultan.
Amelia menghela napas panjang. Jujur, ia tidak membawa uang lebih siang ini. Tadi pagi ia buru-buru dan salah membawa dompet. Hanya dompet berisi beberapa uang sepuluh ribuan. Perbedaan ongkos taksi online antara pulang dan berangkat ke sekolah kedua anaknya sangat jelas; lebih mahal saat pulang sekolah.
"Nak, Mama, ga bawa uang lebih. Sabar sebentar, ya. Sebentar lagi pasti ada angkutan umum yang lewat." Amelia berusaha menolak halus tawaran dari sosok laki-laki yang ada di depannya dengan cara membujuk kedua anaknya.
Tiba-tiba saja Aron menangis dengan sangat kencang. Amelia terkejut, mungkin saja sang anak lapar dan haus. Ia segera membuka tas dan mengambil air untuk diminumkan pada sang anak. Aron justru menolak air minum itu dan semakin menangis kencang.
"Tuh, 'kan, belum apa-apa aja, Adek dah rewel, Ma. Udah, ah, aku mau ikut Om ini aja," kata Arusha sambil menggandeng tangan Sultan.
Amelia tidak bisa berkutik lagi saat ini. Ia terpaksa mengikuti anak laki-lakinya itu. Benar saja, Aron langsung diam saat berada di dalam mobil milik Sultan. Sesekali, Sultan mencuri pandang ke arah Amelia yang dengan penuh kasih mengusap kepala anak yang ada dalam gendongannya itu.
"Bagus, ya! Bukannya hemat-hemat malah foya-foya!" Bentakan itu membuat Amelia dan ketiga anaknya terkejut saat mereka baru saja sampai di rumah mereka.