Suara music yang begitu memekakkan telinga, tidak mengganggu sedikitpun orang-orang yang tengah berkumpul di salah satu ruangan luas itu. Bahkan mereka semakin bersemangat meliuk-liukkan tubuhnya, seolah begitu menikmati suasan hingar-bingar malam. Mereka yang datang ke tempat seperti ini, tidak lain orang-orang yang membutuhkan hiburan, untuk sekedar menepis rasa sunyi, ada pula yang berada di sini karena tuntutan pekerjaan. Bekerja? Iya salah satunya adalah Sieena Alexandria putria, atau lebih dikenal dengan nama panggung DJ Alexa. Kesukaannya terhadap music, mengantarkan Sienna menjadi seorang DJ.
Pukul 2 dinihari, Sienna sudha menyelesaikan pekerjaannya, dan dia hendak pulang lebih dulu, Nando selaku sahabat dan sekaligus putra dari pemilik club malam, datang menyapa Sieena seperti. Seperti biasa, dia akan menawarkan diri untuk mengantarkan pulang sahabatnya itu.
“Loe tolak lagi nih?” Nando langsung to the point, karena dia tahu Sienna tipikal orang yang tidak mau merepotkan orang lain.
“Iya, gue tolak lagi,” jawab Sienna sembari memakai jaket panjangnya.
“Ini udah malem Siee,” Nando begitu khawatir, apalagi Sieena seornag perempuan dan dia tahu jam seperti ini bukankah sangat rawan di kota besar?
“lebih tepatnya dini hari, loe lupa?” Sienna memang tidak akan habis akal hanya untuk sekedar menjawab perkataan Nando, dan itu membuat Nando memutar bola matanya malas, rasanya tidak akan pernah menang jika berdebat dengan seorang Sieena.
“Loe, pulang aja deh, istirahat. Kan kita ada kuliah pagi,” ucap Sienna lagi. Sebenarnya, ketika datang ke club, Sienna juga datang bersama teman-temannya, namun seperti biasa, saat mereka sudah sangat mabuk maka Nando akan menyuruh anak buahnya untuk mengantarkan mereka. Memang merepotkan memang, namun Sienna bangga memiliki mereka yang sellau ingin ada di samping Siennna dan memberikan support.
.
.
Sieena mulai keluar dari club malam, dia berpapasan dnegan orang-orang yang mungkin hendak check in di salah satu hotel terdekat, pemandangan seperti ini, memang bukanlah pemandangan baru bagi Sieenna, hampir setiap dia pulang maka akan melihat pemandangan yang sama. Sienna masuk ke dalam mobil sport miliknya, dan melajukannya membelah jalanan yang sudah cukup sunyi. Mobil sport? Iya, Sienna bukanlah anak yang kekurangan secara finansial, namun bisa dikatakan dia kekurangan kasih sayang dair kedua orang tuanya, itu semua bermula saat dia harus merasakan sakitnya melihat kedua ornagtuanya berpisah. Saat itu usia Sienna masih 17 tahun, dan dia harus melihat dan menyaksikan kondisi rumah tangga kedua orangtuanya yang begitu memilkuan sampai akhirnya masuk ke meja hijau, memilih untuk berpisah.
Sienna adalah putri dari Fahmi Alexander dan Ayu Baskoro, pernikahan mereka yang tidak bisa bertahan hingga maut memisahkan, menyisakan luka tersendiri bagi seorang Sieena. Hampir satu tahun hidup menjadi janda, nampaknya Ayu mulai menemukan lelaki yang bisa menjadi pendampingnya, dan bisa bertanggung jawab, dia akhirnya menikah dengan duda tanpa anak bernama Agam Dirgantara. Agam yang juga hidup menduda selama 3 tahun, karena kecelakaan yang merenggut istri dan anaknya, akhirnya menemukan tambatan hati. Dia sangat menyayangi Sienna, karena ketika melihat Sienna membuat hati Agam terasa tenang seolah melihat putri kandungnya sendiri. Setelah Ayu menikah, disusul dengan Fahmi yang juga menikah dengan Nita Koesnadi, Nita yang menjadi seorang janda dengan membawa satu anak, membuat Sienna harus menerima bahwa dia memiliki saudara tiri sekarang.
Kini, usia Sienna sudah memasuki 21 tahun, dan kehidupan kedua orangtua Sienna sudah hidup bahagia dengan pasangan masing-masing. Ayu sudah memiliki seorang putra bernama Raka Dirgantara, dan Fahmi yang sebentar lagi akan mendapatkan seorang anak dari Nita, seolah sudah melengkapi kehidupan keduanya. Namun, itu semua tidak berlaku bagi Sienna, dia merasa hidupnya begitu kosong dan hampa.
Akhirnya, Sienna sampai di apartement miliknya, Apartement yang sudha dia tempati kurang lebih 2 tahun. Iya setelah memasuki perguruan tinggi, Sienna memutuskan untuk tinggal sendirian, meskipun sebenarnya berat bagi Ayu dan Agam, namun mereka berdua tidak bisa menahan Sienna, karena melihat Sienna yang begitu gigih memohon. Agam memberikan apartement mewah dengan fasilitas yang begitu memadai dan tingkat keamanan yang tinggi, sedangkan Fahmi memberikan mobil sport dengan warna Navy yang menjadi pilihan Sienna.
“Andai waktu bisa diputar kembali, Sienna ingi kembali di masa, di mana kita selalu bersama,” ucap Sienna sembari menatap foto kedua orangtuanya, foto itu diambil saat Sienna berulang tahun ke 15 tahun, itu merupakan ulang tahun yang terakhir dirayakan oleh kedua orangtuanya.
“Sienna kangen masa itu,” tanpa terasa, air mata meneters, Sienna memeluk erat foto tersbeut dengan begitu erat, seolah dia sangat merindukan momen itu. Tertidur karena lelah menangis, adalah sesuatu hal yang biasa Sienna lakukan, dia menangis kala dia teringat dengan masa lalu yang begitu daia rindukan.
Berdamai dengan masa lalu? Sienna sudah mencobanya, namun tidak bisa semudah itu, siapa yang mau hidup dengan rasa trauma yang terus menghantui, jika boleh memilih, Sienna tidak mau melalui masa sulit itu, masa yang sampai sekarang bahkan masih terbayang dan terngiang dipikiran Sienna.
.
.
Jam 8 pagi, Sienna sudah bersiap pergi ke kampusnya, dia memang sudah biasa tidur hanya beberapa jam, biasanya Sienna akan tidur di jam 3 pagi dan bangun jam 5 subuh, sebelum melakukan aktifitas, Sienna akan menyempatkan diri untuk berolahraga, karena itu penting bagi kesehatan.
“Hai guys,” Sienna menyapa sahabat perempuannya yang sudah lebih dulu berangkat ke kampus.
“Hai See,” Felly, Clarissa dan Natasaha menyambut Sienna dengan senyum yang memukau.
“Haii See, gimana semalem, dapet banyak dari pengunjung?” 3 orang wanita, datang mengahampiri Sienna dan sahabatnya, tanpa diundang. Mereka adalah, Kayla, Nindy dan Franda. Sienna tidak berniat menggubris, karena sudah bukan rahasia umum lagi, kalau Kayla sangat membenci Sienna.
“Kenapa nggak jawab? Capek banget ya karena dapet pelanggannya semalam? Sampe lemes gitu?” Kayla semakin memancing emosi Sienna.
“Diem loe setan!” Felly tidak terima dengan perkataan Kayla yang memang sudah sangat tidak pantas didengar, padahal selama ini Sienna tidak pernah menjajakan tubuhnya, dia hanya bekerja sebatas itu, tidak lebih.
“Loe yang diem! Harusnya kalian nggak pantes ada di sini!!” Nindy maju membela Kayla.
“Apa urusan loe? Nanya soal semalam? Bukannya hal itu lebih tertuju buat loe? Semalam loe check in kan sama cowok yang berbeda?” lirih Sienna seraya tersenyum smirk. Kayla membulatkan matanya, dia terkejut dengan perkataan Sienna.
“Kenapa? kaget?” tanya Clarissa.
“Yanuar gimana? Kuat banget ya dia? Sampe loe ketagihan begitu?” kini giliran Natasha yang bersuara. Seketika, Kayla hanya diam dan membeku, tanpa bersuara sedikitpun, dia langsung meninggalkan Sienna dan sahabatnya karena malu. Sedangkan Sienna hanya menggelengkan kepalanya, dia merasa lucu dengan Kayla yang seolah terus mencari kesalahannya.
Sienna dan teman-temannya kembali melanjutkan langkah mereka menuju kelas, Sienna termasuk mahasiswi primadona di kampus, sifatnya yang humble membuatnya mudah bergaul.
Tapi tak banyak juga yang terkadang hanya memandang Sienna sebagai wanita malam karena pekerjaan nya sebagai seorang DJ ,hal seperti itu sudah tidak masalah bagi Sienna, karena ketika dia memutuskan untuk menjadi seorang DJ, Sienna sudah tahu apa yang akan dilalui kedepannya dan dia sudah siap dengan apapun itu, termasuk cemoohan dari orang orang yang hanya menilainya dari luar
Sepanjang jalan menuju kelas banyak mahasiswa yang menyapanya dan teman teman Sienna, Sienna bukan orang yang sombong, dan itu menjadi pint plus di mata kaum hawa. Selain cantik, namun Sienna juga memiliki sifat yang humble dan juga baik.
"Gak kerasa, ketemu lagi sama malam Minggu," ucap Clarissa dengan penuh semangat.
"Lo mainkan nanti malam?" tanya Natasha pada Sienna.
"Main dong," Sienna memang selalu mengambil job di malam minggu, karena biasanya, mala itu pengunjung akan semakin banyak.
"Sie nanti malam gue nginep ya," pinta Felly.
"Okee," jawab Sienna, dia tahu pasti Felly sendirian di rumah, karena memang Felly tipikal orang yang paling tidak bisa merasa sendirian.
"Bokap nyokap lo pergi dinas lagi?" tanya Clarissa kepada Felly, memang sudah bukan hal biasa kalau orangtua Felly serang bepergian luar kota.
"Iya nih," jawab Felly seraya menghembuskan napas lelah, Sienna akui memang keluarga teman temannya termasuk keluarga yang harmonis tapi untuk masalah memberikan waktu luang untuk anak anaknya mereka tidak bisa , contohnya Felly dalam sebulan bisa dihitung berapa kali dia bertemu kedua orang tuanya, sedangkan Clarissa memang tinggal terpisah dengan orang tuanya. Orang tua Clarissa tinggal di Kanada mengurus bisnis mereka di sana sedangkan Natasha tak jauh beda dengan Felly yang orang tuanya sering bolak balik luar Negri atau luar kota, meskipun begitu mereka masih tahu batasan, pergi ke Klub malam,minum alkohol hanya sebatas itu mereka tidak pernah melakukan one night stand bagi mereka menjaga kehormatan harga mati
Apalagi dengan adanya sahabat laki laki mereka Nando, Angkasa dan Excel, ketiga laki laki itu selalu siaga menjaga sahabat wanita mereka ,tidak ada rasa antara mereka hanya rasa tanggung jawab sebagai laki laki untuk menjaga sahabat wanitanya.
Kelas sudah selesai, Sienna dan sahabatnya kini tengah duduk di kantin kampus ,tapi Angkasa dan Excel belum datang mungkin sebentar lagi.
"Gue denger Kayla ganggu kalian lagi?" tanya Nando memastikan. Jangan heran kenapa Nando sudah berada di sana, karena dia mengambil jurusan hukum.
"Ya biasalah nenek lampir satu itu," ucap Sienna dengan acuh.
"Kalian mau pesan apa?" tanya Felly kali ini jatah dia memesan makanan,m ereka pun menyebutkan makanan yang ingin mereka pesan satu persatu.
"Angkasa sama Excel gimana?" tanya Clarissa bingung.
"Udah gue WhatsApp kok," jawab Natasha.
"Oh oke," ucap Clarissa.
Tak lama Angkasa dan Excel datang.
"Hai yo Angkasa, aku nya ada rasa kamu nya biasa aja," ucap Nando meledek Angkasa, sedangkan yang diledek hanya memutar bola matanya malas.
"Ini Angkasa, papah nya anak anak," ucap Excel ikut menimpali.
"Sialan loe semua," ucap Angkasa ,tapi hanya dibalas kekehan dari sahabat nya.
"Lama banget loe," ucap Sienna.
"Biasa dihadang fans fanatik tadi dia," ucap Excel sambil menunjuk Angkasa, seolah tengah mengadu.
"Kayla?" tanya Felly yang tiba tiba datang membawa nampan dibantu oleh ibu kantin juga.
"Makasih Bu," ucap Nando mewakilkan.
"Sama sama mas Nando," ucap ibu kantin dengan ramah.
"Iya tadi nangis nangis dia, ngadu katanya habis di-bully loe semua," ucap Excel menunjuk semua sahabat wanitanya.
"Dasar ratu drama dia yang mulai duluan kok," ucap Sienna dengan ketus. Memang begitulah Kayla, selalu memutar balikkan fakta.
"Lo beneran gak ada rasa ke dia?" Nando memajukan tubuhnya dan berkata dengan serius pada Angkasa.
"Ya enggak lah, gue udah suka cewek lain," sontak saja, jawaban Angkasa membuat ke enam temannya menatap Angkasa dengan mimic muka yang begitu serius.
"Siapa?" tanya Sienna dengan begitu penasaran, dan Angkasa juga nampak berkipir.
"Kepo" ucap Angkasa sambil menampol pipi Sienna karena mereka duduk bersebelahan.
"Setan lo" maki Sienna kesal, dia sudah menunggu jawaban Angkasa, namun jawaban Angkasa malah diluar ekspetasi.
"Ck udah makan-makan," tegur Felly melerai.
.
.
Malam semakin larut tapi suatu tempat malah semakin ramai, cahaya kelap kelip remang remang, suara musik yang memekakkan telinga, dan bau minuman beralkohol yang menyengat menjadi hal lumrah di sana. Sienna sendiri kini tengah melakukan pekerjaannya sekarang, memainkan music yang membuat mereka semakin terbawa suasana.
Meskipun DJ tapi Sienna tidak pernah memakai dress ketat atau yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dia memiliki fashion sendiri, seperti saat ini dia mengenakan kaos oblong berwarna putih bertuliskan DJ Siee dengan bawahan hotpants. Semua teman teman sienna ikut menikmati musik di lantai dansa sambil meliukkan tubuhnya, berbaur dengan yang lainnya, Sienna semakin bersemangat ketika semua menikmati musik yang dimainkan, Sienna juga ikut melompat kecil bersama pengunjung lain pula.
Tak terasa sudah jam 2 pagi Sienna dan teman temannya memutuskan pulang, Sienna pulang bersama Felly karena dia akan menginap di apartemen Sienna, mereka berjalan melangkah menuju mobil, kini Sienna memakai jaket panjangnya yang sebatas lutut.
"Sie besok loe ada acara?" tanya Felly.
"Ada, gue mau kerumah nyokap sama bokap," jawab Sienna.
"Seminggu sekali banget lo kesana?" tanya Felly penasaran.
"Kalo gue gak kesana,nanti mereka yang dateng ke apartement, ribet urusannya,” kesal Sienna jika mengingat hal itu.
"Istri Bokap lo udah lahiran?" tanya Felly lagi, pasalnya Nita yang tak lain istri Fahmi memang tengah mengandung.
"Belum, kayaknya baru 8 bulan deh," ucap Sienna sembari mengingat.
"Di pikir kita ini sama sama kurang kasih sayang ya Sie," ucap Felly sambil menatap ke arah samping mobil, dan nampak memikirkan sesuatu.
"Kok lo ngomong gitu?" tanya Sienna, dia yakin ada sesuatu.
"Iya, orang tua kita pikir dengan materi semua selesai, mereka lupa bahwa kita juga perlu kasih sayang," ucap felly sendu, "kadang gue pengen banget orang tua gue nanyain gimana kuliah gue? Siapa aja temen gue? apa yang gue lakuin di kampus," ucap Felly dengan tersenyum getir.
"Sama Fel, orang tua gue seminggu sekali selalu nyuruh gue balik, tapi kalau gue sampe disana gue ngerasa asing sama mereka," ujar Sienna.
"Semoga kelak kalau kita sudah berumah tangga, kita gak lakuin ini ke anak-anak kita ya Sie," ucap Felly.
"Tumben banget lo ngomongin masa depan," ucap Sienna sembari tertawa kecil, karena tidak biasanya Felly membahas hal sejauh ini.
"Gue mikir aja sampe kapan kita bakal terus terusan begini, semakin tahun kita semakin beranjak dewasa, lo pernah mikir gak Sie, kalau suatu saat lo berhenti dengan semua ini?" tanya Felly.
"Iya, tentu kita semua punya cita-cita masing-masing, gak mungkin juga gue bakal selamanya jadi DJ, tapi gue gak tahu kapan bakal berhenti, karena berkat pekerjaan gue sekarang ini kehidupan gue yang awalnya sepi setiap malam setidaknya semua gak gue rasain Fel," ujar Sienna.
"Gimana hubungan lo sama Alby?" tanya Felly tiba tiba , Alby adalah kekasih Sienna namun beberapa hari ini mereka lost kontak, Alby lelaki berusia 25 tahun seorang pebisnis restaurant.
"Gak tau ,gue coba buat kirim dia chat WhatsApp tapi gak ada balasan," jawab Sienna dengan mengedikkan bahunya acuh.
"Lo gak aneh dengan kelakuan dia yang menghilang begini?" tanya Felly heran.
"Gue bingung Fel, orang tua Alby gak suka sama gue, dan lo tau sendiri kan apa masalah nya?" sekilas Sienna melirik Fellix, dan Felly tahu betul, bagaimana kedua orangtua Alby yang sangat menentang keras hubungan Alby dan Sienna.
"Ehem, karena loe DJ," jawab Felly, dia nampak iba dengan kisah cinta Sienna.
"Tapi gue selalu berharap Alby bakal perjuangin gue," harap Sienna.
"Jangan terlalu berharap Sie, gue takut lo kecewa," saran Felly kepada sahabatnya.
"Iya gue tau," jawab Sienna dengan senyum penuh arti.
Keesokan harinya Sienna sudah bersiap untuk pergi ke rumah Ayu, memang sudah menjadi hal biasa jika hari Minggu Sienna akan berkunjung ke rumah Ayu kemudian ke rumah Fahmi. Sienna sengaja membagi waktu, supaya kedua orangtuanya tidak datang berkunjung ke apartement, sejujurnya Sienna tidak menyembunyikan apapun, namun sekarang Sienna sudah biasa dengan kesendiriannya.
"Sie,gue nebeng ya," pinta Felly, dia akan pulang ke rumahnya.
"Siap," jawab, Sienna dengan senang hati.
Kini Sienna tengah melajukan mobilnya ke rumah Ayu setelah sebelumnya mengantarkan Felly ke rumahnya, mobil sampai di pelataran rumah yang mewah, salah satu penjaga rumah membukakan pintu mobil untuk Sienna dan menyambutnya.
"Selamat pagi Non," sapa penjaga.
"Pagi Pak," jawab Sienna sembari tersenyum ramah, dapat Sienna lihat, Raka yang tengah bermain dengan baby sitter nya, anak laki laki berusia 2 tahun 6 bulan itu langsung tersenyum kala melihat kakaknya datang.
"Kak Sienna," sapa Raka sambil merentangkan tangannya minta dipeluk, dengan langkah yang masih sedikit sempoyongan. Hal itu membuat Sienna merasa gemas, dengan adik lelakinya itu.
"Hallo Raka," Sienna memeluk dan mencium gemas pipi Raka.
"Mamah ada?" tanya Sienna lagi.
"Ada Kaka," jawab Raka dengan suara khas anak kecil.
"Mau ikut atau tetap main?" tanya Sienna.
"Ikuut," jawab Raka dengan wajah gemasnya.
"Ayoo." Sienna membawa Raka dan menggendongnya, Raka memang sangat lengket jika sudah bersama dengan Sienna.
"Eh Sienna," sapa Agam, dia lega ketika melihat Sienna dengan keadaan sehat.
"Pagi Pah," ucap Sienna sambil menyalami tangan Agam.
"Sudah makan kamu nak?" tanya Agam dengan penuh perhatian.
"Sudah pah," jawab Sienna dengan canggung.
"Mamah masih di kamar mungkin sebentar lagi turun, duduk lah dulu," ujar Agam, sebisa mungkin dia mencoba dekat dengan putri sambungnya, karena Agam sudah menganggap Sienna selayaknya anak sendiri.
"Iya pah," Sienna pun duduk dengan Raka dipangkuannya.
"Bagaimana kuliah kamu Sie?" tanya Agam, memang biasa bagi Sienna, jika Agam menanyakan seputar kuliahnya.
"So far so good (sejauh ini baik)," jawab Sienna.
"Syukurlah, Papah harap sepadat apapun kegiatan kamu, kamu juga harus tetap menjaga kesehatan ya Nak, dan jangan lupakan pendidikan," saran Agam, dia memang sangat ingin, jika Sienna bisa mencapai pendidikan tinggi, bahkan Agam sangat siap jika Sienna nantinya mau melanjutkan ke S2. Tidak lama, terlihat Ayu yang menuruni tangga dengan hati-hati, dia tersenyum kala melihat Sienna yang sudah duduk dengan manis menunggunya.
"Sienna," Ayu menghampiri putrinya, Sienna pun berdiri tapi lebih dulu menurunkan Raka dari pangkuannya , mereka berdua pun memeluk saling melepas rindu.
"Apa kabar kamu nak?" tanya Ayu sambil manatap lekat wajah Sienna.
"Baik mah," jawab Sienna sembari tersenyum, rasanya begitu nyaman saat Sienna sudah dekat dengan Ayu.
"Kantung mata kamu hitam, jangan terlalu larut ya tidurnya," ucap Ayu memberi saran dan Sienna hanya merespon dengan senyum. Ayu jelas tahu pekerjaan putrinya, namun Ayu tidak bisa melarang Sienna, namun setidaknya Ayu tahu, bahwa putrinya masih tahu batasan.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Ayu dengan perhatian.
"Sudah mah," jawab Sienna.
"Kapan kapan menginap lah disini," pinta Ayu.
"Iya mah," jawab Sienna sekenanya.
"Oh iya Sie, kamu bentar lagi magang kan ya?" tanya Agam, dia ingat jika sebentar lagi putri sambungnya akan segara magang, itu berarti Sienna membutuhkan kantor.
"Iya Pah," jawab Sienna, dia tidak menyangka kalau Agam mengingatnya.
"Mau magang di kantor Papah?" tawar Agam.
"Makasih pah, tapi aku udah dapet kantor buat magang kok," tolak Sienna halus.
"Lalu bagian apa nak?" tanya Agam.
"Rencananya aku ditempatkan bagian Divisi kreatif di Advertising creative "jawab Sienna.
"Semangat ya, kalau ada pertanyaan jangan sungkan tanya Papah," ucap Agam.
"Iya Pah,"jawab Sienna. Setelah berbincang cukup lama, dan Sienna juga bermain dengan Raka, Sienna memutuskan untuk pamit, karena dia juga harus berkunjung ke kediaman Fahmi.
"Loh kok langsung pamit aja?" tanya Ayu sendu, dia hanya bisa bertemu dengan Sienna satu minggu sekali, saat Ayu dan Agam ingin berkunjung, Sienna selalu beralasan bahwa dia sibuk, jadi cukup sulit bagi Ayu menemui putrinya.
"Sienna masih ada acara lagi mah, soalnya mau nyiapin buat lusa,kan lusa udah mulai magang," Sienna pun memberikan alasan, dia yakin dengan jawaban ini, pasti Ayu akan bisa mengerti.
"Perlu mamah bantu?" tanya Ayu menawarkan diri.
"Aku udah janjian sama Clarissa," tolak Sienna halus.
“Ya sudah kamu hati hati ya," ucap Ayu, setelah itu Sienna menyalimi tangan Agam dan Ayu kemudian pamit.
Kini Sienna baru sampai di rumah Fahmi dan Nita, dia mengedarkan pandangannya. Melangkahkan kaki menuju pintu dan berdiri diambang pintu, menekan bel lalu mengucapkan salam.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Sienna," ucap Nita yang hendak berdiri, melihat Nita yang nampak kesusahan Sienna pun mendekat dan membantunya, tidak lupa mencium tangan Nita.
"Hati hati mah," ucap Sienna dengan perhatian.
"Makasih ya Sie," ucap Nita dengan senyum tulusnya.
"Dari rumah mamah Ayu?" tanya Nita dan diangguki oleh Sienna.
“Papah ada di ruang kerjanya Sie, Mamah panggil dulu ya?” pamit Nita, namun dicegah oleh Sienna.
"Weekend papah masih kerja mah?" tanya Sienna heran.
"Iya, ada beberapa kerjaan yang harus selesai sekarang," jawab Nita.
"Putri mana mah?" Putri adalah anak Nita
"Lagi belajar kelompok sama temennya, rumahnya di sebelah kok Sie," jawab Nita "kamu duduk dulu ya."
"Loh Mamah Nita mau kemana?" tanya Sienna,pasalnya Nita hendak melangkah ke arah tangga.
"Manggil Papah," jawab Nita.
"Gak usah, biar aku panggil sendiri aja ya," ucap Sienna,pasalnya kasian Nita dia tengah hamil tua.
"Ya sudah, kamu naik, ruangannya di sebelah kanan tepat sebelah tangga," ucap Nita menjelaskan letak ruang kerja Fahmi.
"Iya Mah, aku naik dulu ya" pamit Sienna, dia pun melangkahkan kakinya ke lantai atas
Tok..tok.. Sienna mengetuk pintu ruang kerja Fahmi, dan tidak lama terdengar suara sahutan dari dalam.
"Masuk," sahut Fahmi.
"Pah," sapa Sienna, dia melihat ayahnya yang tengah sibuk dengan berkas yang ada di meja.
"Eh Sienna, dari tadi?" Fahmi yang tadinya sibuk dengan berkas pun kini menghampiri Sienna , Sienna langsung menyalimi tangan Fahmi.
"Papah apa kabar?" tanya Sienna.
"Papah baik," jawab Fahmi "kamu sehat kan Nak?" dan dijawab anggukan oleh Sienna.
"Kamu masih bekerja sebagai DJ?" tanya Fahmi, dan Sienna mulai menghela napas, entah kenapa jika Fahmi sudah mulai membahas hal ini, perasaan Sienna menjadi tidak enak.
"Masih Pah," jawab Sienn enteng.
"Sie? Kapan kamu akan fokus pada kuliah kamu?" Ucap Fahmi kesal.
"Selama ini kuliah ku baik-baik aja Pah," jawab Sienna dengan santai.
"Sie, apa uang yang papah kirim kurang? Papah Agam juga memberikan kamu uang dan fasilitas yang memadai kan? Kamu hanya tinggal fokus belajar, tidak perlu memikirkan hal lain apa lagi sampai harus bekerja jadi Dj," ucap Fahmi , dia sebenarnya khawatir dengan keadaan putrinya.
"Pah ,aku kerja itu karena aku ngerasa kesepian," ucap Sienna, perdebatan diantara keduanya pun mulai terjadi.
"Kesepian? Kamu sendiri yang memilih untuk tinggal sendiri kan?" Fahmi nampaknya mulai tersulut emosi.
"Harusnya Papah tahu kenapa aku memilih tinggal sendirian, itu semua karena Papah yang gagal menjadi kepala rumah tangga, sampai akhirnya berpisah. Apa Papah tahu rasanya menjadi orang asing dengan keluarga sendiri? Papah sudah bahagia dengan kehidupan Papah, tapi tidak dengan Sienna!" jawab Sienna.
"Sienna bisakah kamu berpikir sedikit dewasa, buang ego kamu, harus bisa terima kenyataan bahwa Mamah dan Papah berpisah itu ada sebabnya, jangan terus menyalahkan Papah!" bentak Fahmi.
"Aku dipaksa harus berdamai dengan keadaan, dan aku dipaksa harus menerima kenyataan bahwa Mamah dan Papah berpisah, itu semua menyakitkan aku Pah, bahkan sampai saat ini, pertengkaran itu membuat aku trauma Pah! Apa Papah pernah memikirkan hal ini?" tanya Sienna, air mata mulai menggenang di matanya.
"Sie Mamah dan Papah sudah berusaha untuk bertahan,tapi kami memang sudah tidak sejalan!" ucap Fahmi, suaranya sudah naik satu oktaf, Nita yang mendengar dari bawah pun nampak mulai panik dia mencoba menghubungi Ayu.
"Aku gak minta Papah buat balikan sama Mamah, aku cuma mau Papah juga terima keputusan aku, seperti aku yang juga berusaha menerima semua ini, keputusan kalian berdua, aku mencoba untuk mengerti keadaan kalian, tapi bisa nggak kalian ngerti keadaan aku?" ucap Sienna setelah mengatakan itu Sienna pergi.
"Sienna!" Panggil Fahmi, tapi Sienna tetap melangkah keluar hingga dia bertemu Nita di lantai bawah.
"Sie? Jangan pergi Nak," tahan Nita, dia khawatir kalau Sienna mengendarai dalam keadaan marah.
"Maaf Mah, aku harus pergi," Sienna pun benar benar pergi dari rumah Fahmi.