Keesokan harinya, Zahra bangun lebih awal. Ia menyiapkan sarapan seperti biasa, tapi tanpa percakapan. Hanya suara sendok bertemu piring, suara air mengalir, dan denting waktu yang terasa semakin menyiksa.
Fadlan duduk di meja makan, mencoba membuka percakapan, "Aku tadi malam mikir, Ra..."
Zahra tak menoleh. "Kamu mikir buat siapa? Buat aku, buat kita atau buat dirimu sendiri?"
Fadlan terdiam. Kata-katanya tercekat. Ia tahu, Zahra sedang tak butuh klarifikasi, yang ia butuhkan adalah keberpihakan. Tapi keberpihakan itu selalu Fadlan beri terlalu lambat.
"Ra, aku janji... mulai sekarang aku bakal belajar buat belain kamu. Aku sadar aku salah," ucap Fadlan lirih.
Zahra membalikkan badan, matanya menatap tajam, tapi kali ini bukan marah. Lebih seperti... kecewa yang membatu.
"Kamu tahu apa yang paling nyakitin, Mas?" tanya Zahra.
Fadlan terdiam.
"Bukan cuma saat mereka menyalahkan aku. Tapi saat kamu nggak pernah anggap itu masalah. Aku sampai lupa rasanya punya suami. Padahal dulu aku nikah karena aku pikir bakal punya partner hidup, bukan seseorang yang diam waktu aku dihajar. Israel aja punya banyak negara sekutu dan dibelain, masa aku gak ada yang bela?"
Fadlan ingin berdiri, ingin memeluk istrinya, tapi langkahnya terasa berat. Ada jarak tak kasat mata di antara mereka, dan ia sadar, itu bukan jarak fisik. Itu luka. Dan luka itu, sudah berdarah terlalu lama.
Pagi itu langit tampak sendu, seolah ikut menampung sisa-sisa luka semalam. Fadlan dan Zahra berangkat kerja bersama seperti biasa, tapi tak ada yang terasa seperti biasa. Zahra duduk di jok belakang motor suaminya, namun tak ada pelukan hangat di pinggang seperti biasanya. Hanya diam. Jarak yang terasa lebih lebar dari sekadar jok motor.
Angin pagi menerpa wajah mereka, membawa dingin yang tak mampu meredakan hangatnya emosi yang masih tersisa. Fadlan mencoba beberapa kali membuka percakapan, tapi kata-kata itu berhenti di tenggorokan. Ia tahu, Zahra belum siap.
Motor melaju pelan memasuki kawasan perkantoran. Sesampainya di depan gedung PT. Mastex, tempat Zahra bekerja, perempuan itu segera bersiap turun. Ia tak berkata apa-apa, hanya menoleh sebentar dan mengulurkan tangan.
Fadlan menyambutnya. Lalu, Zahra mencium punggung tangan suaminya dengan gerakan ringan tapi penuh makna. Bukan isyarat keikhlasan, lebih seperti sisa-sisa sopan santun yang masih ia jaga, meski hatinya belum sepenuhnya kembali cerah.
Fadlan memandang punggung Zahra yang menjauh, menapaki pelataran kantor dengan langkah tegap namun dingin. Tak menoleh lagi. Ia hanya menghela napas panjang sebelum kembali menyalakan motor, melanjutkan perjalanannya ke kantornya dengan hati yang lebih berat dari helm di kepalanya.
Fadlan melaju pelan, membiarkan motornya menembus jalanan pagi yang mulai padat. Tapi pikirannya tidak berada di jalan. Bayangan Zahra yang menjauh tanpa menoleh terus menghantui. Punggung yang dulu terasa hangat itu kini seperti tembok, dingin dan tak bisa disentuh.
"Kenapa aku terus gagal jadi suami yang bisa diandalkan?" pikirnya sambil menggenggam erat stang motor. Jalanan yang bising dan semrawut tak mampu mengalihkan pikirannya. Semuanya terasa buram.
Sesampainya di kantor, Fadlan parkir seperti biasa, tapi langkahnya terasa berat. Hatinya seperti tertinggal di pelataran kantor Zahra, masih berharap bisa membalikkan waktu semalam. Tapi ia tahu, luka yang sudah terlalu lama dibiarkan bisa jadi lebih dalam dari yang tampak.
Saat ia duduk di meja kerjanya, tatapan kosongnya langsung disambar suara tegas dari atasannya, Pak Hendro.
"Fadlan, ke ruangan saya sekarang!"
Fadlan tersentak. Ia bergegas masuk, mencoba terlihat tenang meski pikirannya belum sepenuhnya terkumpul.
Begitu pintu tertutup, Pak Hendro langsung menggebrak meja. "Kamu tahu nggak, laporan tender yang kamu kirim kemarin itu salah besar? Harga penawaran kita lebih tinggi dari kompetitor karena data cost-nya nggak kamu revisi!"
Fadlan membeku. Otaknya mencari jawaban, tapi semuanya kabur. "Ma, maaf, Pak. Saya... saya kira data terakhir yang saya kirim sudah direvisi."
"Kalau divalidasi dulu, hal kayak begini nggak bakal kejadian! Kamu tahu berapa miliar yang bisa hilang karena kesalahanmu?"
Fadlan menunduk, keringat dingin mulai merembes. Kepalanya berdenyut, bukan hanya karena teguran itu, tapi karena semua ini adalah buntut dari hari-harinya yang porak poranda. Hatinya tidak tenang, dan sekarang pekerjaannya pun mulai ikut kacau.
"Saya kasih waktu sampai siang ini untuk revisi dan kirim ulang ke klien. Kalau nggak beres, saya laporkan ke manajemen," ucap Pak Hendro dingin.
Fadlan mengangguk pelan, lalu keluar dengan langkah gontai. Ia kembali duduk di meja, menatap layar komputer yang penuh angka dan grafik, tapi matanya tetap kosong.
Ia merasa seperti pria yang sedang kehilangan pijakan. Gagal sebagai suami. Gagal sebagai karyawan. Dan sekarang, ia mulai takut... kalau semuanya akan runtuh bersamaan.
'Apakah ini karma dari istriku? Bukan. Ini karena aku kurang fokus' pikirnya.
Fadlan duduk terpaku di depan layar komputer, jari-jarinya hanya menyentuh keyboard tanpa menekan. Matanya menerawang, menatap sel-sel Excel yang tak lagi bermakna. Dada sesak. Kepala penuh. Ia bahkan tak sadar saat seseorang menarik kursi di sebelahnya.
"Bro, lu kenapa sih? Kayak abis disiram air got," suara itu datang dari Reza, teman kerjanya yang terkenal paling santai tapi cukup peka kalau suasana berubah.
Fadlan menghela napas, malas menjawab.
Reza mencondongkan badan, mencoba mengintip layar Fadlan. "Ini ya yang bikin Pak Hendro ngeluarin jurus jurit malamnya tadi pagi? Santai, bro. Yang penting lu perbaiki, udah gitu tinggal ngeles dikit. Bilang aja server ngelag, hahaha."
Fadlan menoleh pelan, tersenyum tipis tapi hambar. "Nggak cuma soal kerjaan, Za."
"Oh... jadi soal rumah tangga juga?" Reza langsung mengangkat alis, menyipitkan mata. "Wah, kombinasi komplit. Pekerjaan kacau, hati berantakan. Gawat ini. Harus di-reset pake kopi dan curhat."
Fadlan tertawa kecil, tapi tak bertahan lama. "Zahra marah besar semalam. Gue... nggak bisa bela dia di depan nyokap gue. Lagi-lagi."
Reza mengangguk perlahan, mencoba memahami. "Lu cinta sama Zahra, kan?"
"Banget."
"Nah, kalau masih cinta, ya harusnya lu berani pasang badan. Orang tua emang kadang susah diatur, tapi istri lu itu satu-satunya orang yang bakalan nemenin lu sampai akhir... kalau lu gagal, bisa-bisa dia ninggalin lu."
Fadlan diam. Kata-kata itu menohok. Reza memang kadang suka becanda kelewat batas, tapi kali ini, nadanya tulus.
"Gue bukan sok bijak, Bro. Tapi gue tahu satu hal. Lu harus berhenti jadi penengah yang diam. Kadang, demi kebaikan semua orang, kita harus bicara juga. Tidak terkecuali itu keluarga kita sendiri."
Fadlan mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya sejak pagi itu, hatinya terasa sedikit lebih ringan. Masih gelap, tapi tak sekelam tadi.
"Ayo ngopi dulu," ajak Reza sambil berdiri. "Sambil lu pikirin gimana caranya minta maaf sama istti lu."
Fadlan berdiri perlahan. Mungkin kopi tak bisa menyelesaikan semuanya. Tapi setidaknya, itu bisa jadi awal yang baik untuk membereskan segalanya.
Sementara itu di tempat alin.
Ruang pantry kantor siang itu tak terlalu ramai. Hanya ada suara dentingan sendok dan garpu yang beradu pelan, diselingi suara kipas angin langit-langit yang berputar malas. Zahra duduk di ujung meja, membuka kotak makannya perlahan. Nasi dan lauk kesukaannya ada di dalamnya, tapi entah mengapa tak satupun menggugah selera.
Siska datang dengan senyum khasnya, membawa kotak makan dan sebotol air mineral. "Kosong?" tanyanya sambil duduk di seberang Zahra.
Zahra mengangkat bahu. "Lagi nggak pengen makan."
Siska mengernyit, meletakkan kotaknya. "Tumben. Kamu biasanya yang paling lahap di jam makan siang."
Zahra hanya tersenyum sekilas, datar.
Siska memandangnya sejenak sebelum mulai membuka kotaknya sendiri. Ia menyuapkan sesendok nasi, lalu meletakkan sendoknya, menatap serius sahabatnya.
"Ra, kamu kenapa sih? Dari pagi wajah kamu suram banget. Nggak biasanya kayak gini."
Zahra menghela napas panjang, memandang ke luar jendela kecil di sudut ruangan. Matahari cerah, tapi hatinya justru sebaliknya. "Berantem lagi sama Mas Fadlan."
Siska tak menjawab, hanya mengangguk pelan. Sudah beberapa kali Zahra mengeluhkan hal serupa, tapi kali ini nada suaranya berbeda, ada kelelahan yang lebih dalam.
Zahra melanjutkan, suaranya pelan dan berat. "Kemarin malam... kita ke rumah mertuaku. Dan seperti biasa, mulai lagi sindiran soal belum punya anak. Soal aku yang katanya terlalu sibuk kerja, terlalu cuek sama rumah. Kamu tahu, Sis, rasanya kayak ditelanjangi pelan-pelan di depan umum."
Siska menatap Zahra, empatinya terasa hangat. "Fadlan... bilang apa?"
Zahra tertawa kecil, getir. "Nggak bilang apa-apa. Dia duduk di sebelahku, denger semuanya. Tapi nggak sekalipun buka suara. Seolah-olah... aku pantas disalahin."
Siska mendesah. Ia tahu persis bagaimana perasaan itu. Saat berharap pasangan berdiri melindungi, tapi justru membiarkan terbakar sendirian.
"Aku bukan ngelarang dia ngebentak ibunya, Sis," lanjut Zahra pelan, "tapi setidaknya, kasih tanda kalau aku nggak sendirian. Kalau dia suamiku, bukan cuma anak dari ibunya."
Siska menggenggam tangan Zahra di atas meja. Hangat dan lembut. "Kamu udah ngomong sama dia?"
"Kamu udah tahu. Aku udah bosen, Sis. Tapi dia cuma jawab 'aku capek,' 'Gak mau ribut sama Mama,' Seolah-olah capek dia lebih penting dari rasaku yang disudutkan keluarganya."
Siska terdiam sejenak, lalu berkata lirih, "Aku ngerti, Ra. Kadang laki-laki itu lupa, kita juga punya batas. Kita bukan cuma istri yang kuat, tapi manusia yang juga punya rasa."
Zahra mengangguk pelan, matanya mulai berkaca-kaca. Tapi ia cepat-cepat mengedip, menahan air yang nyaris tumpah.
"Kamu nggak sendiri, Ra. Kalau kamu butuh tempat buat tenang sebentar, rumahku selalu terbuka. Malam ini pun bisa kalau kamu mau nginep, kebetulan suamiku lagi dinas luar."
Zahra tersenyum, untuk pertama kalinya hari itu. "Makasih, Sis. Tapi nanti sore aku mau konsul lagi ke dokter, bareng suamiku."
"Oke, hati-hati ya, Ra. Pokoknya kamu butuh aku, telpon aja."
Di luar, matahari tetap bersinar cerah. Tapi di dalam ruang kecil itu, dua perempuan duduk saling memahami, saling menguatkan-dengan luka masing-masing yang mereka rawat dalam diam.
^*^
Trotoar depan pasar malam, sore itu sudah dipenuhi lalu lalang ibu-ibu yang akan healing akan mungkin sekedar mengantar anaknya main sambil belanja. Tukang gorengan sibuk melayani pembeli, tukang parkir sibuk bersiul sambil mengatur motor, aroma gorengan bercampur harum maratbak dan sejenisnya mulai membumbung di udara.
Saat melewati sudut jalan dekat warung kopi yang baru mulai buka, langkah Zahra terhenti. Sebelah tangannya bahkan masih mengelus-elus perutnya, iseng.
"Eh... kamu Zahra ya?" teriak seseorang.
Suara nyaring itu membuat Zahra menoleh. Seorang wanita dengan lipstik merah menyala, celana jeans ketat, dan atasan warna kuning terang berdiri sambil menggendong anak balita. Wajahnya tak berubah, masih sama seperti dulu, meski kini lebih dewasa. Tetap cerewet, tetapan tajam, dan itu tetap Wina.
"Wina..." Zahra tersenyum kecil, berusaha tetap hangat, walau dulu sempat bermusuhan.
"Astaga! Udah lama banget ya kita nggak ketemu! Terakhir itu pas reuni SMA, ya? Ih, kamu makin glowing sekarang, Ra! Ini siapa ya?" Wina menunjuk perut Zahra, seolah berharap ada kabar bahagia.
Zahra buru-buru meletakkan tangan ke samping, menyembunyikan gerakan elusan tangaanya di perutnya tadi.
"Nggak siapa-siapa, hehe. Aku baru habis dari pasar," jawabnya ringan, meski hatinya mulai terasa tak nyaman.
"Lho, kamu kan udah lama nikah sama Fadlan?"
Wina memiringkan kepala, pura-pura lupa padahal jelas-jelas ingat.
"Iya, udah mau lima tahun."
"Wah, luar biasa sabar banget ya kamu. Belum dikasih rezeki ya? Tapi sabar itu pahalanya besar loh, Ra. Tapi... tetep sih, kalau suami mah sukanya pengen cepet punya penerus."
Tawa Wina terdengar ringan, tapi bagi Zahra, rasanya seperti belati diselipkan di antara tulang rusuknya.
"Iya, Kalau sudah waktunya, Insya Allah pasti diberiakan yang terbaik," sahut Zahra pelan, menahan gelisah yang mulai naik ke dada. Dia tahu kemana arah pembicraan Wina.
"Eh, ini anak aku yang kedua loh, Ra. Baru dua tahun, tapi udah pinter ngomong. Kamu harus punya juga, Ra. Anak itu... bikin rumah rame, ngeselin tapi juga bikin adem," cerocos Wina.
Zahra hanya mengangguk. Kata-kata seperti itu sudah sering ia dengar, tapi tetap saja selalu meninggalkan luka.
Tiba-tiba suara klakson motor terdengar. Seorang pria datang dengan motor matic, senyum lebar di wajahnya.
"Sayang, yuk cepetan! Kita telat nih ke rumah mama, si kakak udah rewl katanya!"
"Iya, iya! Udah ya Ra, nanti kita ngobrol lagi. Aku mau ke rumah mertua dulu, kemput anak pertamaku. Kamu semangat ya... jangan sampai disusul sama Retno adikku yang baru nikah bulan kemarin!"
Wina tertawa lagi, lalu naik ke motor dan melaju bersama suami dan anak keduanya, meninggalkan Zahra yang kembali berdiri sendirian di trotoar.
Zahra menarik napas panjang. Hatinya remuk. Lalu duduk di selasar pagar pembatas, tak lama kemudian, suara motor berhenti di pinggir jalan.
"Ra...!"
Fadlan melambaikan tangan dari atas motornya, mengenakan kemeja kerja yang lengannya sudah digulung hingga siku. Senyumnya tampak lelah, tapi hangat.
Zahra segera menghampiri, naik ke boncengan. Mereka sudah janjian sore ini mau ke dokter Firdaus, mengambil hasil pemeriksaan yang dilakukan minggu lalu sambil konsultasi lebih lanjut.
Sepanjang perjalanan, tak banyak yang mereka bicarakan. Hanya suara motor yang mengisi jeda. Zahra sempat melirik suaminya dari belakang helm. Fadlan masih seperti biasa, tenang, tangguh, dan selalu mencoba terlihat kuat. Tapi Zahra tahu di balik sikapnya itu, suaminya juga menyimpan harap dan kerapuhan yang dalam.
Setibanya di klinik, suasana ruang tunggu tak terlalu ramai. Mereka menunggu giliran, duduk bersebelahan. Tangan Fadlan menggenggam tangan Zahra erat, seolah ingin berkata: apa pun yang terjadi, kita tetap satu.
Ketika nama mereka dipanggil masuk, detak jantung Zahra sedikit berdebar. Tak lama, dokter Firdaus yang dikenal ramah dan lugas itu membuka map hasil pemeriksaan sambil menatap mereka bergantian.
"Saya akan langsung ke intinya, ya," ujar Dokter Firdus perlahan.
"Dari hasil analisa kemarin, hasilnya masih sama. Jumlah sperma rendah, motilitasnya juga lemah. Artinya, sel sperma yang aktif dan mampu membuahi sangat sedikit. Dalam kondisi seperti ini, kemungkinan untuk terjadi kehamilan secara alami sangat kecil."
Zahra menahan napas. Fadlan hanya menunduk, seolah kata-kata itu adalah palu yang menghantam tepat di ubun-ubunnya. Tiga dokter, tiga kali pemeriksaan hasilnya nyaris sama.
"Tapi bukan berarti tidak ada harapan. Masih ada pilihan medis seperti inseminasi atau bayi tabung. Tapi semua tergantung kesiapan mental dan finansial kalian. Kita bisa diskusikan lebih lanjut kalau kalian sudah siap," tambah dokter Firdaus dengan hati-hati.
Zahra mengangguk, meski pikirannya mendadak kosong. Fadlan tak berkata apa-apa. Senyumnya menghilang, terganti raut getir yang jarang sekali terlihat.
Malam itu, perjalanan pulang terasa lebih sunyi. Motor Fadlan melaju pelan. Tak ada canda, tak ada obrolan ringan seperti biasa. Zahra memeluk pinggang suaminya, lebih erat dari sebelumnya. Seakan ini adalah boncengan mereka yang terkahir.
Sesmpai di rumah, Fadlan duduk di tepi ranjang sambil menunduk.
"Maaf ya, Ra..." Suaranya lirih, nyaris tak terdengar.
Zahra mendekat, duduk di sampingnya, lalu menaruh kepala di bahu suaminya.
"Jangan pernah minta maaf atas sesuatu yang nggak kamu bisa kendalikan."
"Aku cuma... nggak pengen kamu jadi kayak selama ini. Ditanyain, dibandingin dan disalahin oleh semua orang. Aku pengen kamu bahagia. Aku suami seharusnya bisa ngasih kamu anak, Ra."
Zahra menutup mata, menahan airnya yang hampir jatuh.
"Kita belum gagal, Mas. Dokter mengatakan kita subur, hanya saja ada masalah pada spermamu. Tapi aku yakin kita masih punya harapan asal tetap saling genggam. Kita berjuang besama dan jangan mudah menyerah."
Fadlan tak menjawab. Tapi pelukannya malam itu lebih erat dari biasanya, seolah ingin mengatakan bahwa cinta mereka masih bisa tumbuh, bahkan di tanah yang tandus.
Waktu terus berlalu.
Tak terasa sudah satu bulan sejak kabar terakhir dari dokter Firdaus. Zahra semakin kuat memanjatkan doa-doanya setiap malam. Ia pun semakin ketat memperhatikan setiap hal yang bisa membantu kelancaran perjuangan dan usaha mereka. Mulai dari menyiapkan menu makanan sehat dan bergizi, sampai suplemen herbal yang direkomendasikan dokter. Semua ia siapkan dengan telaten, meski waktu luangnya pun nyaris tak ada.
Pekerjaannya sebagai staf keuangan di perusahaan garmen ternama menuntut ketelitian dan beban lembur yang tak jarang membuatnya pulang malam. Namun tetap saja, setiap pagi ia bangun lebih awal, menyeduh jus segar, merebus telur omega-3, dan menyiapkan bekal makan siang untuk suaminya.
Namun tidak demikian dengan Fadlan. Suaminya itu tampak datar. Sibuk, iya. Lelah, tentu. Tapi bukan lelah yang disertai tekad. Lebih seperti lelah dan pasrah yang dibuat-dibuat sebagai alasan untuk menyamarkan ketidak-acuh-annya.
"Mas, jusnya jangan lupa diminum ya sebelum berangkat."
"Iya, iya..." jawab Fadlan sambil mengenakan sepatu, tapi gelas jus itu sering kali masih utuh di atas meja ketika Zahra pulang.
Suplemen dari dokter hanya disentuh sesekali. Makan siang dari kantor lebih menarik daripada bekal sehat yang dibawakan istrinya. Bahkan, rokok yang sempat dijanjikan akan dikurangi... masih tetap ia isap diam-diam, ketika Zahra tak ada.
Zahra tak serta-merta marah. Tapi tiap kali ia buka kulkas dan melihat potongan pepaya dan brokoli yang tak disentuh, atau saat ia mencuci gelas jus yang penuh seperti pagi tadi, hatinya perlahan-lahan tergores. Zahra mulai merasa sendiri lagi.
Malam-malam selanjutnya makin sunyi. Zahra sering duduk di meja makan sendirian, dengan dua piring tersaji tapi hanya satu yang disentuh. Kadang ia bertanya, "Kamu pulang jam berapa, Mas?" dan Fadlan hanya menjawab, "Nggak tahu, tergantung rapat."
Padahal Zahra tahu, Fadlan pasti nongkrong dulu di kafe bersama teman-temannya. Melepaskan penat atau lari dari kenyataan. karena penat yang Zahra rasakan, bukan berarti harus lari dari kenyataan. Tapi dilawan dengan semangat membara.
Ketika di dapur kadang Zahra bicara sendiri pada sayuran yang hendak di masaknya. "Aku nggak butuh kamu sempurna," bisiknya pada sayur bayam di tangannya. "Aku cuma butuh kamu sama-sama berjuang."
Malam itu hujan turun perlahan. Di luar, lampu-lampu jalan berkedip samar tertutup kabut air. Zahra duduk di meja makan, menunggu Fadlan yang bilang akan pulang jam delapan. Sekarang sudah hampir jam sembilan. Makan malam yang ia siapkan sudah dingin.
Terdengar suara motor berhenti. Fadlan akhirnya datang.
"Maaf, Ra. Tadi ketemu klien lama, diajak ngopi bentar," katanya ringan sambil membuka jaket yang basah.
Zahra menatapnya tanpa berkata apa-apa. Ia berdiri, memanaskan kembali lauk dengan ekspresi yang datar.
"Tadi jusnya diminum?" tanyanya sambil tetap menunduk ke wajan.
"Lupa." Fadlan menjawab pelan.
Hening.
"Suplemennya?" tanya Zahra.
"Belum. Tapi aku sehat-sehat aja kok." Fadlan kembali beralasan.
Zahra meletakkan spatula. Matanya mulai memerah. "Kamu pikir semua ini cuma soal sehat atau nggak?" Suaranya sedikit bergetar.
Fadlan menatap Zahra, sedikit bingung tapi juga malas berdebat. "Ya terus, aku harus gimana? Aku kerja juga capek. Nggak semua orang bisa langsung ngubah hidupnya dalam semalam, Ra."
"Aku juga kerja, Mas! Aku juga capek! Tapi aku nggak nyerah. Aku masih masakin kamu, nyiapin makan sehat, aku ngurangin kopi, nyari resep, ngubek-ubek internet buat makanan yang bisa bantu program kita. Tapi kamu? Bahkan minum jus aja males." Zahra mulai hilang kesabarannya.
"Kenapa sih kamu jadi kayak nyalahin aku terus, Ra?" protes Fadlan.
"Aku nggak nyalahin. Tapi aku juga nggak mau berjuang sendirian, Mas. Oke kalau kamu gak mau berjuang, kamu harus bicara jujur sama keluargamu. Jangan aku saja yang disalahin. Hadapi semua orang-orang yang selalu ngoceh itu." Zahra mengklarifikasi.
Suara hujan makin deras di luar. Di dalam, hanya terdengar bunyi detak jam dan napas mereka yang mulai berat.
Fadlan duduk menunduk. Tapi kali ini, ia tak berkata apa-apa. Seolah tak tahu harus membela diri atau minta maaf.
Zahra berdiri pelan, mengambil piring, lalu berjalan ke kamar. Ia tak menutup pintu dengan kasar, hanya perlahan, tapi penuh luka.
Di dalam kamar, ia terduduk di ujung ranjang, matanya menatap kosong ke arah jendela.
"Apa... cuma karena aku paling pengen punya anak, aku juga yang harus paling berjuang?"
"Apakah suamiku tidak bersungguh-sungguh ingin punya anak? Apa telinganya sudah tuli dengan sindirian keluarganya, temannya juga para tetangga?"
Malam itu kembali berlalu dengan beku dan sunyi.
"Mau dibawa kemana hubungan ini?" desah Zahra lirih.
^*^