"Kamu bisa menerimanya. Aku akan segera pergi ke sana."
Karena Kumala tidak perlu fokus pada Nando atau berperan sebagai istri yang penurut dan setia, dia bertekad untuk kembali ke kariernya. Dia memutuskan untuk tidak jatuh cinta lagi.
Raut wajah Kumala berubah menjadi serius. Meski penampilannya tetap tidak berubah, Nando merasakan ada yang berbeda tentangnya.
Pandangan dan sikap Kumala telah berubah. Bahkan, sorot matanya juga tampak berbeda.
Nando menatap Kumala tanpa berkedip. Entah kenapa, dia merasa kesal ketika wanita itu menandatangani surat perjanjian perceraian tanpa ragu-ragu.
Sejak awal, Kumala mencintainya dengan seluruh jiwa dan raganya. Dia tidak mengerti kenapa wanita itu menandatangani surat perjanjian perceraian dengan sangat mudah.
Karena mengira Kumala sedang menggunakan taktik jual mahal, Nando berjalan mendekat dan berkata, "Kamu sebaiknya jangan mencoba menggunakan trik kotor, Kumala."
Kumala mengakhiri panggilan telepon dan menatap lurus ke matanya. "Apakah kamu pantas?" balasnya dengan dingin.
Dulu, dia mencintai Nando dan tidak dapat hidup tanpa pria itu, sehingga rela menanggung penderitaan selama pernikahan mereka. Setelah mereka bercerai, Nando tidak berarti apa-apa baginya.
Kumala mengabaikan kedua orang yang tidak tahu malu itu, lalu berbalik dan meninggalkan vila. Dia berjalan dengan kepala tegak dan elegan, seolah-olah tidak ada yang bisa menjatuhkannya di dunia ini.
Lisa menyadari bahwa mata Nando masih tertuju pada Kumala dan hatinya dipenuhi rasa cemburu.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar karena menerima pesan masuk. Setelah membaca pesan, suasana hati Lisa berubah menjadi bahagia.
Dia berseru, "Nando, ada berita baik! Ingrid telah setuju untuk bekerja dengan kita. Manajernya baru saja mengirim pesan padaku."
Nando tersadar dari lamunannya dan dia menatap Lisa dengan heran. "Apakah kamu serius?"
Departemen Desain Grup Wahyudi sedang menghadapi masalah besar mengenai sebuah proyek besar. Baru-baru ini, desainer mereka tertangkap basah melakukan penjiplakan. Jika mereka tidak mampu menepati tenggat waktu, maka perusahaan harus membayar kompensasi sebesar beberapa triliun kepada klien tersebut.
Mereka hanya memiliki lima hari sebelum tenggat waktu. Satu-satunya desainer yang mampu menyelesaikan proyek besar seperti itu dalam waktu singkat adalah Ingrid, desainer terbaik di industri tersebut.
Grup Wahyudi telah berulang kali mencoba menghubungi Ingrid, tetapi selalu menerima penolakan. Anehnya, Lisa berhasil mendapatkan kesempatan itu.
Dia menunjukkan pesan di ponsel kepada Nando dan berkata dengan gembira, "Aku tidak berbohong. Kamu dapat melakukan negosiasi malam ini. Aku telah menghabiskan sepanjang malam untuk meyakinkan manajernya. Usahaku akhirnya membuahkan hasil."
Ingrid sangat terkenal, tetapi dia memiliki kepribadian yang unik. Selama tiga tahun terakhir, dia tidak menghasilkan desain baru dan tampaknya menghilang ditelan bumi. Pihak yang ingin melakukan kerja sama harus menghubungi manajernya, tetapi manajer itu dikenal suka menghindar.
Nando mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Lisa dan berkata dengan wajah serius, "Lisa, aku tidak akan pernah melupakan semua yang telah kamu lakukan untukku. Jangan khawatir, aku akan menepati janjiku."
Lisa mengangguk penuh semangat sebagai jawaban. Tiba-tiba, dia mengerutkan kening dan meringis karena kesakitan.
Nando bertanya dengan wajah khawatir, "Kamu kenapa, Lisa?"
Lisa memaksakan diri untuk tersenyum dan menjawab, "Aku baik-baik saja."
Nando menatapnya dengan tajam dan berkata, "Jangan berbohong padaku."
Setelah ragu-ragu sejenak, Lisa mengangkat ujung gaunnya dengan perlahan untuk memperlihatkan memar di bagian lutut.
Nando segera menyadari bahwa lutut Lisa terluka karena berlutut dalam waktu yang lama.
Raut wajahnya langsung berubah.
Pada saat ini, dia baru menyadari alasan Ingrid setuju bekerja dengan mereka. Lisa harus berlutut untuk mendapatkan persetujuan pihak Ingrid.
Merasa sangat tersentuh, Nando menatapnya dengan penuh kasih sayang dan berkata, "Terima kasih atas semua yang telah kamu lakukan untukku, Lisa."
Lisa menjawab dengan malu-malu, "Aku bersedia melakukan apa saja untuk membantumu."
Mereka berdua saling bertatapan dan tidak dapat menahan emosi mereka. Nando tiba-tiba mencondongkan tubuhnya lebih dekat.
Sementara itu, Kumala baru saja tiba di studio desain miliknya.
Dia merasa sedikit menyesal saat menatap kantor yang sudah dikenalnya selama tiga tahun. Dia telah membuang banyak waktu pada pria yang tidak pantas mendapatkan cintanya.
Manajer Kumala yang bernama Astuti Saputra, melihat sosok Kumala dan segera berlari menghampiri. Dia terlihat profesional dan penuh talenta dalam balutan gaun setelan berwarna hitam. Dia memeluk tubuh Kumala dengan erat.
"Ingrid, sayangku! Kamu akhirnya kembali! Aku sangat merindukanmu."
Wajah Kumala menunjukkan sedikit rasa bersalah. "Aku minta maaf. Semua ini salahku. Kak Astuti, aku ingin mengetahui informasi mengenai kesempatan kerja sama yang kamu sebutkan."
Astuti menyadari bahwa dia harus mengutamakan bisnis. Dia menuntun Kumala ke sofa dan mereka duduk bersama, lalu mulai memberi penjelasan, "Tawaran ini dibuat oleh Lisa Kurniawan. Dia mewakili Nando Wahyudi. Aku akan menunjukkan dokumennya kepadamu."
Kumala tercengang ketika mendengar penjelasan Astuti.
Kemudian, dia tertawa geli. 'Dunia ini sangat kecil!' Nando telah mengusirnya pergi, tetapi sekarang pria itu sangat membutuhkan bantuannya.
Astuti menatap Kumala dengan heran dan bertanya, "Bukankah Grup Wahyudi merupakan perusahaan suamimu? Apakah kamu tidak berniat membantunya? Kenapa mereka malah menghubungiku?"
Kumala mengatupkan bibir. Dia telah mengetahui berita mengenai krisis di Departemen Desain dan mencoba menawarkan bantuan, tetapi Nando malah memintanya agar tidak ikut campur, serta menyuruhnya pergi.
Dia tersenyum pahit, lalu menjawab dengan dingin, "Kak Astuti, kami sudah bercerai."
Pernikahan mereka hanya bertahan tiga tahun, tetapi Kumala telah mencintai Nando selama sepuluh tahun. Semua cinta dan dedikasinya telah terbuang sia-sia. Pada akhirnya, dia merasa pantas menerima hasil yang menyedihkan ini.
Mata Astuti melebar saat dia menatap Kumala dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dia mendecakkan lidahnya, lalu berkata, "Jadi, gadis yang selama ini dibutakan oleh cinta akhirnya terbangun. Aku sudah mengingatkan agar kamu tidak menikah dengan pria itu setelah mengetahui dia memiliki mantan pacar yang tidak bisa dilupakan. Aku berusaha keras untuk membuatmu berubah pikiran, tapi kamu sangat keras kepala. Sepertinya, kamu harus belajar dengan cara yang sulit."
Raut wajah Kumala tetap tenang, meski matanya yang dulu selalu bersinar cerah tampak sedih. Tiba-tiba, dia tertawa kecil dan berkata, "Perkataanmu tidak salah. Aku harus belajar dengan cara yang sulit. Kak Astuti, mulai sekarang aku akan fokus pada karierku."
"Bagus sekali! Aku percaya kamu pasti mampu melakukannya. Mari kita lupakan cinta! Karier lebih penting dari cinta," ucap Astuti dengan penuh semangat. Lalu, dia cepat-cepat menambahkan, "Apa rencanamu mengenai proyek kolaborasi ini? Kita dapat menolak tawaran dua ratus miliar ini dan memberi pelajaran berharga kepada mereka."
Kumala menatapnya dan bertanya, "Kamu masih memberikan respons yang samar seperti biasanya, bukan?"
Astuti mengangguk sebagai jawaban.
Studio mereka selalu beroperasi seperti itu. Pada awalnya, mereka akan menerima tawaran tersebut setelah memastikan beberapa hal, tetapi mereka memberikan tanggapan yang samar. Strategi ini memberi mereka waktu untuk melakukan penyelidikan terhadap klien. Jika menemukan informasi yang mencurigakan, mereka akan mengakhiri kemitraan secepatnya.
Kumala tersenyum saat memikirkannya. Dia telah meninjau berkas tersebut dan mengetahui bahwa Grup Wahyudi harus membayar kompensasi sebesar beberapa triliun jika mereka tidak berhasil memenuhi tenggat waktu yang telah disepakati.
Dia tertawa geli dan berkata, "Baiklah. Kita akan membiarkan mereka menunggu selama beberapa saat. Beri tahu mereka bahwa kita akan berada di Gedung Langit malam ini."
Gedung Langit merupakan tempat yang hanya bisa dihadiri oleh kalangan atas.
Para tamu yang hadir berasal dari keluarga kaya dan memiliki pengaruh yang besar.
Lisa duduk di sebuah ruangan pribadi sambil memegang lengan Nando. Dia tersenyum lembut, lalu berkata, "Nando, aku yakin kamu pasti berhasil mendapatkan kerja sama malam ini."
Nando tersenyum dan melingkarkan lengannya di pinggang Lisa. "Semua ini berkat kamu, Lisa. Aku sangat beruntung karena memilikimu."
Lisa tersipu malu dan dia sudah membayangkan masa depannya.
Jika berhasil mendapatkan kerja sama kali ini, Nando akan menyadari nilai yang dia miliki dan melihat bahwa hanya dia yang bisa membantunya.
Pertemuan mereka dijadwalkan pada pukul tujuh malam. Pintu ruang pribadi sengaja dibiarkan terbuka, sehingga mereka dapat mengamati koridor dengan jelas.
Pada saat yang bersamaan, mereka berdua melihat dua orang berjalan mendekat.
Senyum di wajah Lisa berubah menjadi kaku. Dia menatap salah satu sosok itu dengan wajah kaget.
Lisa bertanya-tanya dalam hati apakah dia sedang berhalusinasi, tetapi wanita yang dia lihat sangat mirip dengan Kumala.
Nando juga melihat Kumala dan wajahnya tampak terkejut.
Hari ini, Kumala tidak mengenakan baju santai dan celana longgar seperti biasanya. Kumala mengenakan gaun berwarna hitam ketat yang menonjolkan bentuk tubuhnya. Rambut panjang Kumala ditata menjadi ikal longgar yang menjuntai di bahunya. Wanita itu terlihat memikat, tetapi menjaga jarak.
Dia memiliki leher yang anggun dan pinggangnya tampak ramping. Nando merasa seperti sedang melihat sosok dari lukisan cat minyak klasik.
Dia mengatupkan bibir tipisnya, sementara matanya mengamati Kumala dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Mereka baru berpisah selama sehari, tetapi penampilan Kumala berubah secara drastis.
Kemarin, dia adalah istri yang membosankan dan biasa-biasa saja. Sekarang, Nando membayangkan perhatian yang akan didapatkan Kumala dari pria lain saat berada di tengah keramaian.
Sepertinya, Kumala tidak melihat mereka karena dia berjalan ke depan tanpa menoleh.
Kemudian, terjadi sesuatu yang tidak terduga!