Kumala Bastian mendorong pintu hingga terbuka dan berjalan masuk ke dalam vila.
Hari ini merupakan hari ulang tahun pernikahannya dengan Nando Wahyudi dan dia sudah menyusun rencana untuk merayakannya.
"Nando? Apakah kamu sudah pulang?" panggilnya.
Kumala melihat sekeliling, tetapi tidak menemukan siapa pun di dalam rumah besar itu.
Wajahnya tampak bingung saat naik ke lantas atas dan disambut oleh suara erangan serta desahan dari arah kamar tidur utama.
Dia mendengar suara seorang wanita mengerang keras, seolah berusaha menahan kenikmatannya. "Hentikan, Nando. Ini tidak adil bagi Kumala ...."
Wajah Kumala berubah menjadi pucat saat mendengar erangan lembut dan emosinya semakin campur aduk ketika mengenali pemilik suara tersebut.
Suara itu milik Lisa Kurniawan.
Dia adalah mantan kekasih Nando. Kumala tidak pernah menyangka wanita itu akan kembali.
Namun, dia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa suaminya sedang berselingkuh di kamar mereka, di atas ranjang mereka!
"Apa yang kamu maksud dengan tidak adil? Pernikahan itu semata-mata demi keuntungan bersama. Kumala hanyalah istriku di atas kertas. Aku sama sekali tidak menyukainya. Aku bahkan tidak tertarik pada tubuhnya dan tidak pernah menyentuhnya sejak kami menikah."
"Tapi, aku merasa kasihan padanya! Kalian sudah menikah selama tiga tahun dan dia tidak bisa memenangkan hatimu," komentar Lisa.
Tubuh Kumala mulai gemetar. Perkataan itu menusuk hatinya seperti pisau tajam yang tidak terlihat.
Pernikahannya dengan Nando merupakan sebuah pernikahan bisnis, bukan atas dasar cinta.
Selama tiga tahun terakhir, Kumala telah mendedikasikan seluruh waktunya kepada suaminya. Dia mencuci pakaian, memasak dan berusaha sekuat tenaga untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik. Meski Kumala telah berusaha keras, Nando tidak pernah tidur bersamanya.
Kumala yakin bahwa dirinya tidak memenuhi harapan Nando dan gagal mendapat pengakuan dari pria itu. Namun, sekarang dia baru menyadari bahwa Nando tidak pernah peduli padanya.
Suara pasangan yang sedang berhubungan intim terdengar dari kamar itu dan membuat hati Kumala terasa sakit.
"Brak!"
Tiba-tiba, pintu kamar dibuka dari luar.
Dua orang di atas tempat tidur saling berpelukan dan Nando segera meraih selimut untuk menutupi dirinya dan Lisa. Ketika melihat Kumala, tubuhnya seolah membeku sesaat sebelum raut wajahnya berubah menjadi dingin.
Dia membentak dengan nada kesal, "Keluar kamu!"
Meski sedang tertangkap basah ketika sedang berzina, Nando masih bersikap arogan.
Rasa sakit yang tajam menusuk dada Kumala. Dia menatap wajah suaminya yang tidak menunjukkan rasa penyesalan, lalu bertanya dengan wajah tidak percaya, "Nando Wahyudi, kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini?"
Lisa mencondongkan tubuh ke depan dan sengaja menarik selimut ke bawah untuk memperlihatkan bekas ciuman di bagian tulang selangkanya.
Dia mendesah pelan, lalu berkata, "Kumala, seharusnya kamu mengerti bahwa pria dewasa pasti memiliki kebutuhan fisik. Nando tidak mencintaimu, jadi dia tidak mau tidur denganmu. Dia sangat mencintaiku, sehingga hanya aku yang bisa memenuhi kebutuhannya. Aku yakin kamu dapat memaklumi situasi kami, bukan?"
Lisa tersenyum. Dia sengaja merayu Nando di hari ulang tahun pernikahan pasangan itu, karena ingin menyakiti hati Kumala.
Kumala mengepalkan tangan dengan erat dan matanya terlihat merah saat memelotot ke arah Lisa. "Apakah kamu merasa bangga karena berhasil menjadi wanita perusak rumah tangga?"
Mata Lisa berubah menjadi merah saat dia menjawab, "Kenapa kamu berkata seperti itu? Apakah aku akan putus dengan Nando kalau bukan karena orang tuamu mengancam keselamatan keluargaku? Kumala, cinta yang dipaksakan hanya akan membawa penderitaan. Jangan lupa, dalam hubungan apa pun, orang yang tidak dicintai merupakan perusak hubungan yang sesungguhnya."
Kumala menatap wanita di hadapannya dengan wajah tidak percaya. 'Jadi, selama ini Lisa berbohong kepada Nando?'
Sekarang, dia mengetahui alasan Nando tidak bisa melupakan Lisa.
Sebenarnya, Kumala dan keluarganya tidak pernah memaksa Lisa dan Nando untuk berpisah.
"Dia berbohong!" Kumala ingin membela diri, tetapi Nando segera memotongnya.
"Kumala, kamu telah membuat Lisa hidup menderita selama beberapa tahun terakhir. Beraninya kamu dan orang tuamu memperlakukannya dengan buruk? Aku tidak akan pernah memaafkan Keluarga Bastian."
Nando berdiri dan mengenakan pakaian, lalu dia menatap Kumala dengan dingin.
Hati Kumala semakin terasa sakit.
Pada saat ini, dia mengurungkan niatnya untuk memberi penjelasan dan tersenyum pahit.
Kumala menyadari betapa buta dirinya karena mencintai pria yang berselingkuh tanpa rasa menyesal.
Kilatan rasa puas melintas di mata Lisa, tetapi dia menghela napas dan berkata dengan nada bersalah, "Nando, jangan terlalu keras kepada Kumala. Dia baru saja mendengar kita berhubungan intim. Kamu tidak tidur dengannya selama tiga tahun, jadi wajar saja jika dia merasa kesal."
Tubuh Kumala gemetar karena marah. Dia berlari ke tempat tidur dan membentak, "Dasar wanita jalang tidak tahu malu! Beraninya kamu berbohong dan mengucapkan omong kosong seperti itu! Apakah keluargamu tidak pernah mengajarkan sopan santun? Aku akan memberimu pelajaran dengan senang hati."
Dia mengangkat tangannya dan menampar wajah Lisa.
"Plak!"
"Aduh!" Lisa berteriak kesakitan.
Kepalanya tersentak ke samping akibat kekuatan tamparan Kumala.
"Kumala, dasar wanita jalang!"
Mata Nando menyipit. Tanpa berpikir dua kali, dia bergegas membela Lisa dengan menampar wajah Kumala.
"Plak!"
Kumala lengah sehingga Nando dapat memukul wajahnya dengan mudah, lalu dia terhuyung mundur. Rasa sakit yang membakar menyebar di pipi kanan Kumala dan telinganya berdengung saat dia berjuang untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.
Api amarah berkobar di mata Nando saat dia berteriak, "Kamu pikir kamu siapa? Beraninya kamu menampar Lisa! Kumala, menikahimu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku."
Dia tiba-tiba berbalik, menarik laci nakas dan mengeluarkan surat perjanjian perceraian. Nando melemparkan surat itu ke arah Kumala dan berteriak, "Cepat tanda tangani surat ini. Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi!"
Surat perjanjian perceraian telah disiapkan dan ditandatangani oleh Nando.
Kumala hanya bisa tersenyum pahit. Rasa sakit di pipinya terasa tajam, tetapi tidak sebanding dengan rasa sakit yang menusuk hatinya.
Namun, Kumala menyadari bahwa sudah waktunya melepaskan pernikahan ini. Nando tidak pernah mencintainya dan bahkan mengkhianatinya. Kumala merasa tidak ada lagi yang bisa dipertahankan.
Dia tanpa ragu mengambil surat perjanjian itu, lalu segera menandatanganinya dan melemparkan surat itu ke wajah Nando.
"Nando Wahyudi, pernikahan kita sudah berakhir. Mulai sekarang, kita tidak memiliki hubungan apa pun."
Begitu Kumala selesai berbicara, ponselnya berdering. Tubuh Kumala seolah membeku saat melihat nama di layar ponsel. Dia mengabaikan reaksi Nando, lalu menjawab panggilan tersebut.
Suara di ujung telepon terdengar mendesak. "Ingrid, kapan kamu akan kembali bekerja? Pesanan di studio sudah menumpuk. Seseorang bahkan bersedia menawarkan uang dua ratus miliar rupiah untuk kesempatan bekerja sama denganmu."
"Kamu bisa menerimanya. Aku akan segera pergi ke sana."
Karena Kumala tidak perlu fokus pada Nando atau berperan sebagai istri yang penurut dan setia, dia bertekad untuk kembali ke kariernya. Dia memutuskan untuk tidak jatuh cinta lagi.
Raut wajah Kumala berubah menjadi serius. Meski penampilannya tetap tidak berubah, Nando merasakan ada yang berbeda tentangnya.
Pandangan dan sikap Kumala telah berubah. Bahkan, sorot matanya juga tampak berbeda.
Nando menatap Kumala tanpa berkedip. Entah kenapa, dia merasa kesal ketika wanita itu menandatangani surat perjanjian perceraian tanpa ragu-ragu.
Sejak awal, Kumala mencintainya dengan seluruh jiwa dan raganya. Dia tidak mengerti kenapa wanita itu menandatangani surat perjanjian perceraian dengan sangat mudah.
Karena mengira Kumala sedang menggunakan taktik jual mahal, Nando berjalan mendekat dan berkata, "Kamu sebaiknya jangan mencoba menggunakan trik kotor, Kumala."
Kumala mengakhiri panggilan telepon dan menatap lurus ke matanya. "Apakah kamu pantas?" balasnya dengan dingin.
Dulu, dia mencintai Nando dan tidak dapat hidup tanpa pria itu, sehingga rela menanggung penderitaan selama pernikahan mereka. Setelah mereka bercerai, Nando tidak berarti apa-apa baginya.
Kumala mengabaikan kedua orang yang tidak tahu malu itu, lalu berbalik dan meninggalkan vila. Dia berjalan dengan kepala tegak dan elegan, seolah-olah tidak ada yang bisa menjatuhkannya di dunia ini.
Lisa menyadari bahwa mata Nando masih tertuju pada Kumala dan hatinya dipenuhi rasa cemburu.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar karena menerima pesan masuk. Setelah membaca pesan, suasana hati Lisa berubah menjadi bahagia.
Dia berseru, "Nando, ada berita baik! Ingrid telah setuju untuk bekerja dengan kita. Manajernya baru saja mengirim pesan padaku."
Nando tersadar dari lamunannya dan dia menatap Lisa dengan heran. "Apakah kamu serius?"
Departemen Desain Grup Wahyudi sedang menghadapi masalah besar mengenai sebuah proyek besar. Baru-baru ini, desainer mereka tertangkap basah melakukan penjiplakan. Jika mereka tidak mampu menepati tenggat waktu, maka perusahaan harus membayar kompensasi sebesar beberapa triliun kepada klien tersebut.
Mereka hanya memiliki lima hari sebelum tenggat waktu. Satu-satunya desainer yang mampu menyelesaikan proyek besar seperti itu dalam waktu singkat adalah Ingrid, desainer terbaik di industri tersebut.
Grup Wahyudi telah berulang kali mencoba menghubungi Ingrid, tetapi selalu menerima penolakan. Anehnya, Lisa berhasil mendapatkan kesempatan itu.
Dia menunjukkan pesan di ponsel kepada Nando dan berkata dengan gembira, "Aku tidak berbohong. Kamu dapat melakukan negosiasi malam ini. Aku telah menghabiskan sepanjang malam untuk meyakinkan manajernya. Usahaku akhirnya membuahkan hasil."
Ingrid sangat terkenal, tetapi dia memiliki kepribadian yang unik. Selama tiga tahun terakhir, dia tidak menghasilkan desain baru dan tampaknya menghilang ditelan bumi. Pihak yang ingin melakukan kerja sama harus menghubungi manajernya, tetapi manajer itu dikenal suka menghindar.
Nando mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Lisa dan berkata dengan wajah serius, "Lisa, aku tidak akan pernah melupakan semua yang telah kamu lakukan untukku. Jangan khawatir, aku akan menepati janjiku."
Lisa mengangguk penuh semangat sebagai jawaban. Tiba-tiba, dia mengerutkan kening dan meringis karena kesakitan.
Nando bertanya dengan wajah khawatir, "Kamu kenapa, Lisa?"
Lisa memaksakan diri untuk tersenyum dan menjawab, "Aku baik-baik saja."
Nando menatapnya dengan tajam dan berkata, "Jangan berbohong padaku."
Setelah ragu-ragu sejenak, Lisa mengangkat ujung gaunnya dengan perlahan untuk memperlihatkan memar di bagian lutut.
Nando segera menyadari bahwa lutut Lisa terluka karena berlutut dalam waktu yang lama.
Raut wajahnya langsung berubah.
Pada saat ini, dia baru menyadari alasan Ingrid setuju bekerja dengan mereka. Lisa harus berlutut untuk mendapatkan persetujuan pihak Ingrid.
Merasa sangat tersentuh, Nando menatapnya dengan penuh kasih sayang dan berkata, "Terima kasih atas semua yang telah kamu lakukan untukku, Lisa."
Lisa menjawab dengan malu-malu, "Aku bersedia melakukan apa saja untuk membantumu."
Mereka berdua saling bertatapan dan tidak dapat menahan emosi mereka. Nando tiba-tiba mencondongkan tubuhnya lebih dekat.
Sementara itu, Kumala baru saja tiba di studio desain miliknya.
Dia merasa sedikit menyesal saat menatap kantor yang sudah dikenalnya selama tiga tahun. Dia telah membuang banyak waktu pada pria yang tidak pantas mendapatkan cintanya.
Manajer Kumala yang bernama Astuti Saputra, melihat sosok Kumala dan segera berlari menghampiri. Dia terlihat profesional dan penuh talenta dalam balutan gaun setelan berwarna hitam. Dia memeluk tubuh Kumala dengan erat.
"Ingrid, sayangku! Kamu akhirnya kembali! Aku sangat merindukanmu."
Wajah Kumala menunjukkan sedikit rasa bersalah. "Aku minta maaf. Semua ini salahku. Kak Astuti, aku ingin mengetahui informasi mengenai kesempatan kerja sama yang kamu sebutkan."
Astuti menyadari bahwa dia harus mengutamakan bisnis. Dia menuntun Kumala ke sofa dan mereka duduk bersama, lalu mulai memberi penjelasan, "Tawaran ini dibuat oleh Lisa Kurniawan. Dia mewakili Nando Wahyudi. Aku akan menunjukkan dokumennya kepadamu."
Kumala tercengang ketika mendengar penjelasan Astuti.
Kemudian, dia tertawa geli. 'Dunia ini sangat kecil!' Nando telah mengusirnya pergi, tetapi sekarang pria itu sangat membutuhkan bantuannya.
Astuti menatap Kumala dengan heran dan bertanya, "Bukankah Grup Wahyudi merupakan perusahaan suamimu? Apakah kamu tidak berniat membantunya? Kenapa mereka malah menghubungiku?"
Kumala mengatupkan bibir. Dia telah mengetahui berita mengenai krisis di Departemen Desain dan mencoba menawarkan bantuan, tetapi Nando malah memintanya agar tidak ikut campur, serta menyuruhnya pergi.
Dia tersenyum pahit, lalu menjawab dengan dingin, "Kak Astuti, kami sudah bercerai."
Pernikahan mereka hanya bertahan tiga tahun, tetapi Kumala telah mencintai Nando selama sepuluh tahun. Semua cinta dan dedikasinya telah terbuang sia-sia. Pada akhirnya, dia merasa pantas menerima hasil yang menyedihkan ini.
Mata Astuti melebar saat dia menatap Kumala dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dia mendecakkan lidahnya, lalu berkata, "Jadi, gadis yang selama ini dibutakan oleh cinta akhirnya terbangun. Aku sudah mengingatkan agar kamu tidak menikah dengan pria itu setelah mengetahui dia memiliki mantan pacar yang tidak bisa dilupakan. Aku berusaha keras untuk membuatmu berubah pikiran, tapi kamu sangat keras kepala. Sepertinya, kamu harus belajar dengan cara yang sulit."
Raut wajah Kumala tetap tenang, meski matanya yang dulu selalu bersinar cerah tampak sedih. Tiba-tiba, dia tertawa kecil dan berkata, "Perkataanmu tidak salah. Aku harus belajar dengan cara yang sulit. Kak Astuti, mulai sekarang aku akan fokus pada karierku."
"Bagus sekali! Aku percaya kamu pasti mampu melakukannya. Mari kita lupakan cinta! Karier lebih penting dari cinta," ucap Astuti dengan penuh semangat. Lalu, dia cepat-cepat menambahkan, "Apa rencanamu mengenai proyek kolaborasi ini? Kita dapat menolak tawaran dua ratus miliar ini dan memberi pelajaran berharga kepada mereka."
Kumala menatapnya dan bertanya, "Kamu masih memberikan respons yang samar seperti biasanya, bukan?"
Astuti mengangguk sebagai jawaban.
Studio mereka selalu beroperasi seperti itu. Pada awalnya, mereka akan menerima tawaran tersebut setelah memastikan beberapa hal, tetapi mereka memberikan tanggapan yang samar. Strategi ini memberi mereka waktu untuk melakukan penyelidikan terhadap klien. Jika menemukan informasi yang mencurigakan, mereka akan mengakhiri kemitraan secepatnya.
Kumala tersenyum saat memikirkannya. Dia telah meninjau berkas tersebut dan mengetahui bahwa Grup Wahyudi harus membayar kompensasi sebesar beberapa triliun jika mereka tidak berhasil memenuhi tenggat waktu yang telah disepakati.
Dia tertawa geli dan berkata, "Baiklah. Kita akan membiarkan mereka menunggu selama beberapa saat. Beri tahu mereka bahwa kita akan berada di Gedung Langit malam ini."
Gedung Langit merupakan tempat yang hanya bisa dihadiri oleh kalangan atas.
Para tamu yang hadir berasal dari keluarga kaya dan memiliki pengaruh yang besar.
Lisa duduk di sebuah ruangan pribadi sambil memegang lengan Nando. Dia tersenyum lembut, lalu berkata, "Nando, aku yakin kamu pasti berhasil mendapatkan kerja sama malam ini."
Nando tersenyum dan melingkarkan lengannya di pinggang Lisa. "Semua ini berkat kamu, Lisa. Aku sangat beruntung karena memilikimu."
Lisa tersipu malu dan dia sudah membayangkan masa depannya.
Jika berhasil mendapatkan kerja sama kali ini, Nando akan menyadari nilai yang dia miliki dan melihat bahwa hanya dia yang bisa membantunya.
Pertemuan mereka dijadwalkan pada pukul tujuh malam. Pintu ruang pribadi sengaja dibiarkan terbuka, sehingga mereka dapat mengamati koridor dengan jelas.
Pada saat yang bersamaan, mereka berdua melihat dua orang berjalan mendekat.
Senyum di wajah Lisa berubah menjadi kaku. Dia menatap salah satu sosok itu dengan wajah kaget.
Lisa bertanya-tanya dalam hati apakah dia sedang berhalusinasi, tetapi wanita yang dia lihat sangat mirip dengan Kumala.
Nando juga melihat Kumala dan wajahnya tampak terkejut.
Hari ini, Kumala tidak mengenakan baju santai dan celana longgar seperti biasanya. Kumala mengenakan gaun berwarna hitam ketat yang menonjolkan bentuk tubuhnya. Rambut panjang Kumala ditata menjadi ikal longgar yang menjuntai di bahunya. Wanita itu terlihat memikat, tetapi menjaga jarak.
Dia memiliki leher yang anggun dan pinggangnya tampak ramping. Nando merasa seperti sedang melihat sosok dari lukisan cat minyak klasik.
Dia mengatupkan bibir tipisnya, sementara matanya mengamati Kumala dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Mereka baru berpisah selama sehari, tetapi penampilan Kumala berubah secara drastis.
Kemarin, dia adalah istri yang membosankan dan biasa-biasa saja. Sekarang, Nando membayangkan perhatian yang akan didapatkan Kumala dari pria lain saat berada di tengah keramaian.
Sepertinya, Kumala tidak melihat mereka karena dia berjalan ke depan tanpa menoleh.
Kemudian, terjadi sesuatu yang tidak terduga!