Bab 2

“Lo terlalu baik.”

Andini menoleh sekilas dan mendesah berat. Cewek itu bersandar sambil bersedekap. Matanya menatap langit di depannya yang terhalang oleh kaca depan mobil sedan Irvan. Sahabatnya itu sedang memarkirkan mobilnya di depan rumah Andini. Dia membiarkan saja ketika Andini tidak ingin turun dari mobil.

“Maksud lo?”

“Soal Carvian dan sepupu bejat lo itu.”

Andini memutar bola matanya dan mendengus. “Baik sekali cowok bernama Irvan ini, ngatain sepupu orang di depan saudara si sepupu tersebut.”

“Kenyataannya, Aulia Serenity itu orang bejat. Orang yang hanya memerhatikan orang lain dari tampang dan harta. Kan gue udah cerita, dia menolak gue karena lebih memilih cowok lain yang lebih tampan dan kaya dibandingkan dengan gue.” Irvan berdecak jengkel. “Dan tadi, jelas-jelas dia megang lengan cowok lo, di depan muka cantik lo, seolah nggak mau Carvian pergi ninggalin dia.”

“Lo salah paham. Dia—“

“Oh, come one!” seru Irvan, memotong kalimat Andini. Gemas sekali dia dengan cewek di sampingnya ini. “Dia mau ngerebut cowok lo, Din. Buka dong itu mata belo lo. Kurang belo emangnya tuh mata?”

Andini mencibir dan menjitak kepala Irvan. “Gue cuma nggak mau ribut sama saudara sendiri hanya karena masalah cowok.”

“Terus, kalau dia berhasil rebut Carvian dari lo? Baru lo mewek nggak karuan dan nyesel.”

“Van,” panggil Andini lembut. Cewek itu tersenyum dan menggenggam tangan Irvan. “Kalau Carvian ditakdirkan buat gue, dia pasti akan jadi milik gue. Jodoh nggak akan ketukar, kok. Kalau dia bukan jodoh gue, ya dia nggak akan pernah menjadi milik gue. Sesimpel itu, Van.”

“Ya udah, lo nikah aja sama gue!”

Seruan itu membuat Andini mematung dan mengerjap. Cewek itu tidak bisa berkata-kata. Irvan sendiri langsung bungkam seribu bahasa. Dalam hati, dia memaki ketololannya karena sudah kelepasan berbicara yang aneh-aneh.

“Din, itu, maksud gue—“

“Bakal gue pertimbangkan,” potong Andini dengan nada geli. “Kalau gue dan Carvian emang nggak berjodoh, gue akan cari lo dan menikah sama lo. Menikah sama lo nggak terlalu buruk juga. Lo baik, perhatian, lucu, banyak duit—“

“Ck! Kenapa semua cewek—“

“—Dan yang penting, lo nggak pernah nyakitin gue dan selalu ada di sisi gue.”

Irvan mengerjap. Cowok itu mendengus dan terkekeh. “Jadi, ini proposal yang tertunda?”

Andini mengedikkan bahu. “Something like that.”

Keduanya saling tatap dan tertawa bersama. Irvan mengacak rambut Andini, sementara Andini sibuk menghindari serangan Irvan. Tanpa keduanya sadari, seseorang mengawasi dari kejauhan. Seseorang yang kini tersenyum tipis dan memainkan ponsel di tangannya.

“Gotcha!”

###

“Sejak kapan kamu selingkuh sama Irvan di belakang aku?”

Pertanyaan itu membuat Andini mengerutkan kening dan menatap Carvian yang sudah berdiri di hadapannya. Cowok itu tidak malu-malu menampakkan wajah emosinya juga tatapan dinginnya. Carvian yang ada di hadapannya saat ini bukanlah Carvian yang biasanya. Carviannya menghilang entah ke mana dan kini digantikan dengan Carvian lain, yang tidak pernah Andini kenali sebelumnya.

“Maksudnya apa, ya?” Andini balas bertanya dengan nada sekalem mungkin. Tentu saja dia merasa tenang dan kalem, karena apa yang dituduhkan Carvian barusan tidak pernah dia lakukan.

“Jangan pura-pura bego, Din.” Dan ini yang pertama kalinya bagi Andini, Carvian mengatainya seperti itu. Hatinya berdenyut sakit, tapi dia mencoba untuk bersikap biasa saja. “Kamu sama Irvan pergi bedua semalam. Dia nganterin kamu pulang. Dan kalian ketawa bareng di dalam mobil Irvan, di malam hari.”

Andini menaikkan satu alisnya. “Bukannya kamu ada di tempat kejadian waktu Irvan bilang dia bakalan nganterin aku pulang semalam? Bukannya kamu cuma diam aja dan tersenyum sambil mengangguk dan keliatan senang karena harus mengantarkan Aulia pulang? Bukannya justru kamu yang keliatan akrab dan dekat sama Aulia untuk ukuran orang yang baru saling mengenal? Dan, apa salahnya ketawa bareng sama sahabat sendiri? Toh kita nggak ngelakuin apa-apa di dalam mobil. Aku sama Irvan cuma ngobrol ringan sebentar.”

Carvian mendengus. “Tapi—“

“Carv,” potong Andini, masih dengan nada kalemnya. Cewek itu selalu tidak pernah bisa terbaca jika sudah berhadapan dengan lawan bicaranya. Sikapnya yang selalu tenang dan kalem, meski dalam keadaan apa pun, adalah poin lebihnya sehingga lawan bicaranya akan selalu kehilangan ketenangannya. “Kamu mata-matain aku?”

Carvian mengerjap. “Apa?”

Andini mengedikkan bahu. “Kamu tau sampai ke detail aku dan Irvan ketawa bareng di dalam mobil. Cuma ada dua opsi: kamu ada di sana dan ngeliat dengan mata kepala sendiri atau kamu menyuruh orang lain untuk memata-matai aku. Atau, kalau mau yang lebih ekstrim lagi, ada orang lain yang memata-matai aku dan kasih informasi itu ke kamu.”

Kedua tangan Carvian mengepal kuat di sisi tubuhnya. “Jadi, kamu mau bilang kalau Aulia sengaja mengambinghitamkan Irvan untuk mengadu domba kamu sama aku? Supaya kita ribut terus putus? Gitu?”

Ah, jadi Aulia Serenity penyebabnya. Andini menganggukkan kepala samar. “Aku nggak pernah ngomong kayak gitu, justru kamu yang baru aja berasumsi demikian.”

Mendengar itu, Carvian tidak mampu berkata-kata.

“Carv, mending kamu jujur.” Andini menatap tegas Carvian. Senyuman itu tersungging di bibirnya, membuat Carvian menelan ludah tanpa sadar. “Sejak kapan kamu punya hubungan sama Aulia?”

“Apa?”

“Kamu mau menyalahkan aku, menuduh aku berselingkuh dengan Irvan.” Andini menyilangkan kaki kanannya ke kaki kiri. “Di saat kamu tau betul kalau Irvan dan aku hanya bersahabat. Bahwa kamu, sebagai sahabat Irvan, seharusnya lebih mengenal Irvan untuk tahu dia masih menyimpan rasa buat Aulia, cewek yang dia ceritain dulu. Cewek yang menolak dia. Terus, kamu mulai menuduh aku berselingkuh dengan Irvan di saat Aulia datang. Kalau kamu emang mau nuduh aku dan Irvan, kenapa kamu nggak lakuin itu dari dulu?”

Rahang Carvian mengeras. Giginya mengertak. Cewek di hadapannya ini benar-benar tidak bisa diremehkan. Cewek di hadapannya ini benar-benar pintar dan tangguh.

“Aku sayang sama kamu. Benar-benar sayang sama kamu. Tapi, kalau kamu udah menjalin hubungan sama Aulia di belakang aku sejak lama, aku terpaksa harus mundur. Hati aku terlalu berharga untuk disakitin sama kamu kayak gini. Itu artinya juga, Aulia udah menyadarkan aku kalau kamu bukan cowok yang pantas buat aku. Kalau kamu itu brengsek bukan main, bersembunyi di balik topeng manis kamu itu. Don’t you think so too, Irvan?”

Mendengar nama Irvan disebut, otomatis Carvian menoleh dan mematung. Entah sejak kapan, sahabatnya itu sudah berada di ambang pintu, bersedekap sambil menyandarkan sebelah pundaknya ke dinding.

“Kalau kamu mau putus, kamu tinggal bilang aja padahal,” lanjut Andini lalu berdiri dari duduknya. Dia mendekati Carvian dan membelai pipinya dengan lembut. Lantas, cewek itu berbisik, “Aku bebasin kamu dari aku, Carv. Kamu bebas. Aku nggak tau sejak kapan kamu kenal sama Aulia dan pacaran sama dia, tapi, aku harap kamu bisa bahagiain dia. Oh, dan ingat... karma itu nyata. Karma is a bitch.”

Selesai berkata demikian, Andini menepuk pundak Carvian beberapa kali dan meninggalkan cowok itu. Andini melambaikan tangan tanpa berbalik, membiarkan Irvan menggenggam tangannya dan membawanya keluar dari ruangan neraka tersebut.

Sebenarnya, sejak semalam Andini berpikir mengenai keanehan Aulia dan Carvian. Lalu, dia tidak sengaja mendengar percakapan Aulia di telepon karena sepupunya itu menginap di rumahnya semalam. Aulia melapor pada Carvian bahwa dia sudah berhasil mendapatkan video dirinya dan Irvan yang bisa mereka gunakan untuk memojokkan Andini sehingga Carvian nantinya bisa putus dengan Andini. Karena itulah, Andini mengatur serangan balik.

Di salah satu rumah makan cepat saji, Andini memakan kentang gorengnya tanpa terlihat sedih sama sekali. Diliriknya Irvan saat dia menyadari cowok itu sedang menatap ke arahnya.

“Apa?” tanya cewek itu dengan nada santai.

“Kok lo nggak nangis?”

“Kenapa harus?”

“Karena lo udah dikhianati dan disakitin?”

Andini menarik napas panjang dan meminum es lemonnnya. “Gue mikir, buat apa gue sia-siain air mata gue untuk cowok macam dia? Dan lagi, gue udah melabrak Aulia semalam. Hati gue udah plong waktu gue marah-marah sampai orang tua gue bingung dan nanya apa yang terjadi.”

“Lo sama Carvian kan udah lama banget jadiannya, Din.” Irvan memang sudah mendengar keseluruhan ceritanya dari Andini semalam karena cewek itu mengiriminya pesan singkat dan mereka terus chatting sampai pagi hari. “Nggak sayang sama hubungan kalian?”

“Van, masih pacaran aja dia udah selingkuhin gue, apalagi kalau nanti sampai kami menikah? Nggak deh, makasih. Sakit hati emang, tapi mau gimana lagi? Tuhan udah kasih gue petunjuk kalau Carvian itu bukan cowok baik buat gue.”

Irvan diam. Cowok itu memakan kentang gorengnya dan mengepalkan sebelah tangannya yang berada di bawah meja hingga buku tangannya memutih. Dia mengutuk Carvian di dalam hatinya. Rasanya ingin sekali menghajar cowok itu sampai terkaing-kaing dan memohon ampun.

“Tawaran lo semalam masih berlaku, nggak?”

Pertanyaan itu membuyarkan lamunan Irvan, membuatnya mengerjap dan melongo ketika menatap raut wajah santai dan senyuman geli Andini.

“Hah? Tawaran yang mana?”

“Soal lo ngajak gue nikah. Masih berlaku atau nggak?”

“Lo... serius?”

“Kalau gue nggak serius, ngapain gue nanya?” Andini membersihkan mulutnya dengan tisu dan meraih sundae ice creamnya. “Atau, lo yang nggak serius?”

“Serius! Gue serius!” Irvan buru-buru mengangguk dan menggenggam erat tangan Andini. “Tapi, lo beneran mau? Beneran siap? Hati lo sendiri gimana?”

Andini nampak berpikir. “Lo... punya rasa sama gue?”

Hening sejenak, sampai kemudian Irvan mengangguk. “Gue suka sama lo. Udah lama gue mendam perasaan gue ini karena gue nggak mau hancurin hubungan lo sama Carvian. Karena rasanya nggak etis menyukai pacar dari sahabat sendiri. Tapi, sekarang urusannya udah lain. Lo udah putus dan lo sendiri yang mengingatkan gue soal tawaran pernikahan itu. Asal lo tau aja, gue nggak ada niatan untuk ngelepasin lo kalau lo udah setuju. Lo sendiri gimana?”

“Lo orang baik, Van. Gue rasa, nggak akan susah untuk jatuh cinta sama lo. Gue terima lamaran lo. Lo tinggal datang ke rumah gue dan meminta gue secara baik-baik ke orang tua gue. Setelah itu, kita tinggal mengurus semua keperluan pernikahan. Gimana?”

Irvan tersenyum lebar dan mengangguk. “Gue nggak akan pernah bikin lo sedih dan nangis, Din. Gue akan selalu menjaga dan melindungi lo, terutama hati lo.”

Andini hanya mendengus dan tertawa. Jika keduanya berpikir ini akan semudah yang mereka bayangkan, mereka salah besar. Andini dan Irvan tidak pernah tahu bahwa prahara bernama Carvian dan Aulia akan datang kembali untuk menghancurkan kehidupan pernikahan mereka.

Bab 3

“Kita perlu ngomong.”

Kalimat itu membuat Andini melirik sekilas dan tidak menggubris orang yang baru saja berbicara kepadanya itu. Cewek itu sedang menunggu sesuatu di depan kantornya, ketika Carvian datang dan tahu-tahu saja memegang lengannya. Kemudian, Andini menarik tegas tangannya dari cekalan Carvian, menyebabkan Carvian mengeraskan rahang dan tidak bisa berbuat lebih daripada ini akibat banyaknya pasang mata yang sedang memerhatikan keduanya.

“Din, kamu dengar aku ngomong apa barusan?” tanya Carvian. Dia lebih mendekat ke arah Andini dan berbisik, “Kita perlu ngomong serius. Empat mata. Tapi, nggak di sini.”

“Buat apa aku harus ngomong lagi sama kamu?” Andini balas bertanya. Suaranya terdengar sangat dingin di kedua telinga Carvian. Sepertinya karena sudah terbiasa berbicara dengan bahasa ‘aku-kamu’ selama berpacaran dengan Carvian, Andini jadi tidak mudah menghilangkan kebiasaannya tersebut. “Hubungan kita udah selesai. Aku udah bebasin kamu. Kamu bebas untuk berpacaran sama Aulia. Jadi, nggak ada lagi yang perlu kita omongin.”

Baru saja Andini akan pergi, berniat untuk mencari tempat baru yang bisa dia pakai untuk menunggu apa pun yang sedang dia tunggu, asalkan bisa berjauhan dari Carvian, cowok itu langsung mencekal lengannya kembali. Kali ini, cekalannya begitu kuat, hingga Andini pun tidak bisa melepaskan diri. Dia menoleh, menatap tajam Carvian yang dibalas dengan tak kalah tajamnya. Sebenarnya, Andini cukup takut dengan Carvian saat ini. Carvian tidak pernah bersikap menakutkan seperti ini sebelumnya, di saat mereka masih menjalin hubungan. Namun, Andini bertahan dan memaksakan diri untuk tetap terlihat berani dan menentang mantan pacarnya itu.

“Lepasin aku, Carv,” kata Andini dengan nada tegas.

“Kita belum putus. Emangnya kamu dengar kalau aku setuju sama keputusan sepihak kamu yang mau menyudahi hubungan kita kemarin?” Carvian menggeleng dan semakin menguatkan cekalannya. “Aku nggak mau putus dari kamu. Kamu itu pacar aku, milik aku.”

“Carvian! Aku bilang lepas! Tangan aku sakit!” seru Andini. Dia tidak peduli jika mereka berdua sudah menjadi konsumsi publik saat ini. Biar saja. Orang-orang pasti bisa menilai bahwa Carvian lah yang jahat di sini dan sedang berusaha menyakitinya.

Andini terkesiap dan menoleh bersama dengan Carvian, ketika keduanya melihat sebuah tangan mencengkeram pergelangan tangan Carvian yang sedang mencekal lengannya. Irvan muncul di sana. Menatap tajam dan dingin Carvian dengan aura gelap yang terlihat pada raut wajahnya. Rahangnya mengeras dan terlihat sedikit berkedut, menandakan sahabat Andini itu, yang sebentar lagi akan menjadi suaminya, sedang menahan emosi dan amarah. Cengkeraman tangannya itu terlihat sangat kuat, terbukti dari reaksi Carvian yang meringis menahan sakit.

“Lepasin dia, berengsek,” geram Irvan. “Lo belum puas nyakitin hatinya, sekarang mau nyakitin fisiknya juga? Gitu?”

“Ini nggak ada urusannya sama lo!” tegas Carvian. “Lepasin tangan gue dan jangan ikut campur urusan gue sama cewek gue!”

Irvan menatap Carvian dengan tatapan mengejek. “Ha! Pacar kata lo? Heh, sialan, lo udah dicampakkin sama dia kemarin, setelah lo dengan begonya nyakitin dia dan khianatin dia! Dia bukan lagi pacar lo! Dia bebas, dia single dan dia calon istri gue karena semalam gue melamar dia!”

Mendengar itu, emosi dalam dada Carvian menggelegak. Akibat ucapan Irvan, tanpa sadar Carvian justru menambah kekuatan cekalannya, hingga membuat Andini mengaduh kesakitan. Kali ini lebih keras dibandingkan dengan sebelumnya.

Melihat Andini kesakitan, tentu saja Irvan tidak tinggal diam. Cowok itu langsung melayangkan kepalan tangannya hingga Carvian jatuh terjungkal ke belakang. Saat dia mendongak dan berniat untuk memaki Irvan, cowok itu mematung. Dia bisa melihat bagaimana Irvan dan juga Andini yang bersembunyi di belakang tubuhnya, menatap ke arahnya dengan tatapan jijik. Membuat Carvian mengertakkan gigi dan membiarkan darah itu mengalir di sudut bibirnya. Suara kasak-kusuk di sekitar mereka semakin terdengar, tapi ketiga orang tersebut tidak menggubrisnya sama sekali.

“Lo udah menyia-nyiakan cewek sebaik Andini dan sekarang lo mengemis cintanya lagi?” Irvan mendengus dan tertawa keras. Tawa datar. Sengaja dia berbicara sekeras mungkin agar orang-orang tahu apa yang sedang terjadi. “Lo mengkhianati dia, Carv. Apa lo lupa akan hal itu, hm? Lo berselingkuh di belakang cewek sebaik ini. Dan berengseknya lagi, lo berselingkuh dengan saudara sepupunya sendiri!” Irvan menunjuk wajah Carvian lurus-lurus. “Jangan pernah dekatin dan gangguin Andini lagi karena sekarang, dia milik gue! Berbeda dengan lo, gue akan membuat Andini bahagia sampai dia lupa kalau dia pernah mengenal manusia menjijikkan seperti lo, Carvian!”

Setelah mengatakan hal tersebut, Irvan menggenggam erat tangan Andini dan pergi meninggalkan Carvian yang menunduk sambil mengepalkan kedua tangannya. Irvan membawa Andini ke mobilnya, kemudian pergi sejauh-jauhnya dari hadapan orang-orang. Termasuk dari hadapan Carvian.

###

“Lo nggak seharusnya nonjok dia kayak tadi, Van.”

Kalimat Andini itu membuat Irvan meliriknya dan kembali fokus pada jalanan di depannya. Rasa cemburu itu hadir di dalam hatinya, membuatnya panas bukan main. Senyum tipis muncul di bibirnya dan ketika ada lampu merah, Irvan menggunakan kesempatan ini untuk berbicara dengan Andini.

“Kok kesannya kayak ngebelain Carvian, ya? Kenapa? Lo nggak terima kalau gue nonjok mantan pacar lo itu? Masih ada rasa, ya?” tanya Irvan dengan nada menyindir. Entahlah, kesal saja rasanya. Ya, walaupun dia tahu kalau Andini menerima lamarannya, tapi kan dia juga tahu jika Andini baru saja putus kemarin dan kemungkinan besar masih memiliki perasaan cinta untuk Carvian.

Andini paham jika Irvan cemburu. Cowok itu sudah mengaku bahwa selama ini dia menyimpan rasa untuknya. Dia juga sudah setuju untuk menikah dengan Irvan dan berkata tidak akan sulit untuk mencintainya. Tapi, sikap Irvan saat ini membuat Andini bete. Dia sudah bete karena bertemu dengan Carvian dan diganggu oleh mantan pacarnya itu, sekarang Irvan pun bersikap sedikit kekanakkan hanya karena cemburu.

“Van, sebenarnya lo ada di pihak siapa?”

Kening Irvan mengerut. “Apa lo perlu menanyakan hal sebodoh itu sama gue? Kalau gue nggak memihak lo, apa lo pikir gue akan menghajar Carvian seperti tadi dan bertekad untuk membahagiakan lo?”

“Kalau lo berpihak sama gue, bisa lo nggak memojokkan gue seperti tadi?” tanya Andini. Dia tersenyum tipis. Senyuman simpul. Kedua tangannya gemetar. Matanya terasa panas dan mulai mengabur. Ketika dia menatap Irvan, dia bisa melihat wajah dan tatapan Irvan yang terlihat sangat terkejut. Tubuh cowok itu mematung dan dia tidak bisa berpikir dengan jernih sekarang. Rasa bersalah kini merasuki Irvan. Dia bahkan tidak peduli dengan bunyi klakson kendaraan-kendaraan yang ada di belakangnya. Rasanya, Irvan ingin menghajar dirinya sendiri habis-habisan.

“Soalnya, gue udah lelah banget. Sangat. Kalau lo ada di pihak gue, bisa tolong jangan bersikap seperti ini ke gue? Setidaknya, tunggu sampai gue benar-benar udah terbebas dari rasa lelah ini.”

Andini menangis tanpa suara.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED