“Gue suka sama lo. Gue mau lo jadi cewek gue!”
Cewek di hadapan Irvan saat ini hanya menatapnya datar. Benar-benar tidak ada ekspresi yang terlihat dari wajah cantiknya, juga kedua mata hitam pekatnya. Irvan sendiri tidak tahu harus bersikap bagaimana sekarang. Dia sudah memerhatikan cewek ini sejak tahun pertama mereka bersekolah, dan sampai sekarang, ketika mereka sudah duduk di bangku kelas tiga dan sebentar lagi akan menjadi siswa SMA, Irvan baru mengumpulkan keberanian untuk menyatakan perasaannya.
“Sorry, gue nggak tertarik untuk jadi cewek lo karena gue nggak suka sama lo.”
Jawaban itu membuat Irvan terpaku. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Kepalanya tertunduk. Matanya menatap tajam aspal di bawahnya. Sesekali, peluh itu mengalir di pelipis menuju rahangnya. Dadanya bergemuruh. Ralat, sejak awal dadanya memang bergemuruh. Hanya saja, di awal tadi karena gugup, tapi kali ini karena malu dan sedikit kesal akibat ditolak.
Sialan!
Irvan mengutuk cewek itu di dalam hati. Apa yang salah padanya? Tidak, tidak ada yang salah pada dirinya. He’s a good looking guy, he’s a smart guy, he’s a popular guy! There’s nothing wrong with him. It should be... her! Yang salah adalah... cewek itu. Cewek itu menolak pernyataan cintanya? Pernyataan cinta seorang Irvan? Irvan yang selalu dikejar-kejar oleh para cewek?!
This is bullshit! This is nonsense!
Setelah mengatakan jawabannya, cewek berkepang setengah ke belakang itu membungkuk sedikit dan pergi dari hadapan Irvan. Irvan sendiri tidak berusaha mencegah. Rahang cowok itu mengeras dan kepalan tangannya semakin menguat hingga buku-buku tangannya memutih. Bahkan, tanpa Irvan sadari, telapak tangannya mulai sedikit mengeluarkan darah akibat tertancap kuku tangannya.
“Cewek sialan,” bisik Irvan tajam. Kepalanya kini terangkat. Matanya menatap dingin punggung cewek yang sudah menolaknya barusan. Cewek itu kini terlihat berbicara dengan seorang cowok dan keduanya pergi mengendarai sebuah motor. “Cewek sialan!”
Dalam hati, Irvan bersumpah. Dia akan menunjukkan pada cewek itu bahwa keputusannya untuk menolak pernyataan cintanya barusan adalah kesalahan terbesar. Irvan akan membuktikan pada cewek itu bahwa dia sudah kehilangan sebuah kesempatan besar untuk menjalin sebuah hubungan dengan seorang cowok populer seperti dirinya.
“You’ll regret this, you silly girl!”
###
Present, 2018
“Korban ke berapa barusan?”
Irvan menoleh dan tertawa. Cowok itu mengibaskan sebelah tangan dan kembali menyesap kopi susunya.
“Dua puluh lima dalam sebulan ini.”
Carvian menatap Irvan ngeri dan menggeleng. “Nggak takut karma?”
“Why should i? Cewek-cewek itu yang mau sama gue, kok. Mereka yang dekatin gue, nyatain cinta ke gue, dan gue hanya memberikan persyaratan.”
“What? You have some condition for them?”
Irvan menjentikkan jari dan mengangguk mantap. “Jelas! Lo pikir, gue nggak tau kemauan mereka apa?”
“Siapa tau ada cewek yang benar-benar tulus sayang sama lo, Van,” sahut Carvian kalem. “Nggak semua cewek sama.”
“Yang jelas, cewek-cewek itu punya tujuan yang sama. Mereka dekatin gue karena gue ini tampan, karena gue ini berduit. Intinya, buat dipamerin. Terus, kalau gue lengah, mereka bakal bikin kecelakaan. Ujung-ujungnya, gue bakalan terpaksa nikahin mereka, karena mereka cuma mau ngejar uang gue doang.”
Carvian mendesah panjang dan memijat pelipisnya. Cowok itu hanya tersenyum simpul dan menepuk pundak Irvan beberapa kali.
“Look,” kata Carvian dengan nada simpatik. “Gue tau sejarah lo jadi kayak gini. Tapi, cewek yang nolak lo dulu di zaman SMP bukan cewek matre. Jadi, lo nggak punya hak dan alasan untuk judge semua cewek di luar sana hanya menginginkan cowok yang tampan dan berduit doang. Cewek yang nolak lo dulu sama semua mantan lo ini bahkan nggak punya kemiripan sama sekali dari sisi sifat.”
“But still, gue nggak percaya sama yang namanya cewek! Gue mendekati dan memacari semua cewek-cewek itu hanya untuk membuktikan ke cewek sialan yang udah nolak gue itu, bahwa dia udah bikin kesalahan besar dengan menolak pernyataan cinta gue! Bahwa gue ini bisa mendapatkan cewek mana pun yang gue mau dan bisa membuang mereka kapan pun gue inginkan! Dan karena beberapa mantan gue terbukti hanya mengejar uang gue aja, maka gue yakin semua cewek sama aja!”
Carvian lagi-lagi mendesah dan mengangkat bahu tak acuh. Cowok itu mengambil ponsel dan membaca entah apa. Kemudian, senyumnya merekah. Dia menjentikkan jari di depan wajah Irvan, menarik perhatian sahabatnya itu.
“What?”
“Andini ngajak main nanti sepulang kantor. Ikut?”
Irvan nampak berpikir dan akhirnya mengangguk. “Boleh. Cewek lo suka ngambekkan kalau nggak diikutin kemauannya. Gue ogah jadi sasaran ceramahnya dia.”
Carvian hanya menanggapinya dengan tawa.
###
“Lo sayang beneran sama Carvian, Din?”
Pertanyaan Irvan itu membuat Andini menoleh dan mengerutkan kening. Dia mengambil sebuah kentang goreng, mengolesinya dengan saus sambal, lalu menyuapi kentang goreng itu ke mulut Irvan. Carvian sendiri sedang mengantri untuk membeli es krim atas perintah Andini.
“Pertanyaan bodoh macam apaan, tuh? Apa perlu lo tanya lagi?”
Irvan mengangkat bahu tak acuh sambil mengunyah kentang goreng yang baru saja disuapi oleh Andini. “Siapa tau gitu, lo hanya manfaatin Carvian karena dia ganteng dan mapan.”
Andini tertawa dan menggeleng. Dia meminum es lemonnya dan menopang dagu dengan sebelah tangan. “Kenapa? Lo mikirnya semua cewek itu matre dan hanya mengutamakan tampang?”
“Who knows,” jawab Irvan kalem, tapi sanggup membuat Andini berdecak bete dan menyentil kening sahabatnya tersebut.
Sejak pertama mengenal Irvan, Andini tahu kalau Irvan tidak benar-benar ingin mempermainkan hati para cewek yang mendekatinya. Dia tahu sejarah Irvan menjadi seorang playboy dari Carvian, sang pacar. Carvian dan Irvan sudah saling mengenal sejak tahun pertama kuliah dan bersahabat, karena itu, Carvian menceritakan semua hal mengenai Irvan pada Andini, saat keduanya resmi berpacaran dan atas persetujuan Irvan sendiri.
Kalau boleh berkata jujur, Irvan adalah salah satu sahabat terbaik yang Andini kenal. Cowok itu baik hati, tidak pelit, perhatian, peduli pada teman-temannya. Bahkan menurut pengakuan Carvian dan Irvan sendiri, Andini adalah satu-satunya teman cewek Irvan yang sangat dijaga oleh cowok itu. Irvan tidak akan membiarkan orang lain mengganggu Andini. Dan Carvian bersyukur karena Irvan tidak menyamakan Andini dengan cewek-cewek lain yang Irvan anggap matre dan tidak tahu diri.
“Udah saatnya lo berdamai sama masa lalu lo sendiri, Van,” kata Andini. Cewek itu lantas tersenyum lebar saat Carvian kembali membawakan es krim vanilla kesukaannya. Carvian mengusap kepala Andini lembut dan kembali menyantap makanannya sendiri. “Gue rasa, ada alasan dibalik penolakan cewek di zaman SMP lo itu.”
“Alasan? Mungkin karena cowok yang jalan sama dia waktu itu lebih tampan dibanding gue! Juga, karena cowok itu naik motor sport, makanya tuh cewek lebih memilih dia. Tipe cewek matre dan hanya mengandalkan tampang, isn’t she?”
Andini menarik napas panjang dan menjambak rambut Irvan, hingga cowok itu mengaduh dan membalas Andini dengan cara mencubit pipinya.
“Apa yang lo liat, belum tentu itu kebenarannya. Semua hal selalu memiliki kebenaran yang tersembunyi, loh.” Andini menyuapi Carvian dan Irvan dengan es krim miliknya. “For example... siapa tau, dia nolak lo karena sahabatnya ternyata naksir sama lo?”
“Hah?”
Carvian mengacungkan sendok di tangannya ke udara dan sambil mengunyah, dia berkata, “Bisa jadi! Kenapa gue nggak kepikiran, ya?”
“Cewek itu ada dua tipe. Ada yang memendam, ada yang maju tanpa mikirin malu. Nah, mungkin sahabat cewek yang nolak lo itu tipe pemalu. Dia hanya bisa menyukai lo dari jauh, cerita ke si cewek yang nolak lo ini dan akhirnya mutusin untuk nggak menerima pernyataan cinta lo, karena nggak mau sahabatnya bersedih.”
“Kenapa juga dia harus repot-repot ngelakuin hal itu? Yang gue suka itu dia, bukan sahabatnya. Terserah gue mau jadian sama siapa. Seandainya asumsi lo benar, seharusnya sahabatnya tuh cewek bisa menerima dengan hati lapang kalau tuh cewek jadian sama gue.”
“Mungkin cewek itu termasuk tipe orang yang memikirkan dan mementingkan perasaan orang lain ketimbang dirinya sendiri,” sahut Carvian kalem. “By the way, gue bahkan nggak pernah tau siapa nama nih cewek. Lo hanya bercerita tanpa menyebutkan nama.”
“Am i?” tanya Irvan ragu. Carvian dan Andini mengangguk sebagai jawaban. “Hmm... namanya Aulia Serenity.”
“Hah?!”
Carvian dan Irvan sama-sama menoleh saat mendengar seruan Andini. Cewek itu mengerjap dan membiarkan sendok es krimnya mengudara tanpa sempat dia masukkan ke dalam mulut. Wajah dan tatapan kaget Andini membuat Irvan mengangkat satu alis dan bersedekap.
“Kenapa lo, Din?”
“Siapa namanya tadi? Aulia... Serenity?”
Irvan mengangguk, sementara Andini meringis aneh.
“Mmm... gue nggak tau apa ini bisa disebut kebetulan atau emang takdir. Salah satu tujuan gue ngajakin lo berdua makan bareng saat ini adalah, untuk memperkenalkan salah satu sepupu gue yang baru pindah lagi ke kota ini untuk membuka cabang usaha kue dia. Dan... namanya Aulia Serenity.”
Irvan terpaku. Jantungnya kini berdetak kencang. Entah kenapa, wajah Aulia kini mampir di benaknya. Baru saja dia ingin menanyakan maksud ucapan Andini barusan, sebuah suara yang masih sangat Irvan hafal sejak dulu, terdengar. Andini dan Carvian menoleh, pun dengan Irvan.
Lalu, Irvan berdiri begitu saja dari kursinya, ketika seorang cewek dengan rambut pendek sebahu muncul di sampingnya. Keduanya saling tatap. Jantung Irvan semakin berdetak tidak karuan. Kenangan demi kenangan masa SMP nya kini menyeruak ke permukaan. Termasuk penolakan dari cewek di hadapannya saat ini.
“Ah... lo yang dulu gue tolak di halaman samping sekolah. Apa kabar? Lo teman Andini?”
Dia, Aulia Serenity. Masa lalu Irvan.
###
Suasana mendadak canggung.
Andini menarik napas panjang sambil menopang dagu dengan sebelah tangan. Matanya melirik Irvan yang duduk di sampingnya dan Aulia yang duduk di hadapan Irvan. Carvian sendiri duduk di samping Aulia, atas permintaan Irvan. Cowok itu menolak duduk berdampingan dengan Aulia dan Carvian tahu, saat ini suasana hati Irvan sangat buruk. Cowok itu nampak bete dan hanya menatap ke keramaian di sekitarnya tanpa mau menatap ke arahnya, Andini maupun Aulia.
“So, kalian rupanya saling mengenal,” kata Andini, memecah kesunyian.
Aulia, saudara sepupu Andini mengangguk. Cewek itu tersenyum tipis dan menunjuk Irvan. Yang ditunjuk hanya melirik sekilas dan mendengus.
“Dia teman SMP gue, Din.”
“Oh. Gue nggak nyangka, dunia ternyata sesempit ini.” Andini mengangguk dan menarik lengan Irvan, hingga cowok itu bergeser ke arahnya. Andini memeluk lengan Irvan, mendekatkan wajah mereka dan berbisik, “Bisa nggak, sikap lo nggak childish begitu? Nggak banget, sumpah!”
“Ck! What do you expect? What am i supposed to do? Lo juga bakalan bersikap kayak gue, seandainya lo ketemu lagi sama masa lalu lo yang lo anggap menyakitkan, kan?”
“Biasa aja, tuh,” balas Andini dengan nada datar dan menjauhkan Irvan darinya. Cewek itu mendengus dan memerhatikan Aulia yang kini mengobrol dengan Carvian. Aulia nampak santai dan sesekali tertawa dengan topik yang dibawakan oleh Carvian. Keduanya nampak dekat, seperti sepasang sahabat lama yang baru dipertemukan kembali.
Gue nggak tau kalau Aulia bisa ngobrol seriang ini, batin Andini. Cewek itu mengerutkan kening dan berdeham pelan. Entah kenapa, perasaannya sedikit, well, terusik dengan kedekatan Aulia dan Carvian.
Irvan juga rupanya sedang memerhatikan Aulia. Cowok itu menatap wajah Aulia. Wajah yang masih membayanginya selama sepuluh tahun terakhir ini, meskipun dia senang bergonta-ganti pasangan. Entah kenapa, sejak dulu hanya Aulia yang ada di dalam hatinya.
Ah, ralat. Ada seorang cewek lagi yang berhasil menyusup masuk ke dalam hatinya, hanya saja Irvan tidak ingin membiarkan nama cewek itu terlalu menempati ruang di dalam hatinya tersebut. Karena, hal itu sangat tidak etis.
Diam-diam, lirikan Irvan berganti dari Aulia ke arah cewek di sampingnya. Ke arah Andini yang menopang dagu dengan sebelah tangan dan sedang sibuk mengamati ponselnya dengan sebelah tangan yang bebas. Kemudian, bibir cewek itu mengembang, membentuk seulas senyum manis. Irvan berani bertaruh, anime kesukaan Andini sudah update dan cewek itu sedang memikirkan kapan dia bisa segera menyaksikannya.
Ya, selain Aulia, Andini pernah menempati ruang khusus di dalam hatinya. Hanya saja, Irvan tidak akan pernah mengatakan hal itu pada Andini. Di samping mereka bersahabat dan Irvan tidak mau merusak persahabatan mereka, Andini juga sudah memiliki Carvian.
Lalu, kalau Andini tidak bersama dengan Carvian, apa yang akan lo lakuin? Lo akan maju dan memenangkan hatinya? Lo mau Andini jadi milik lo, kan?
Bisikan setan sialan dalam hatinya membuat kening Irvan mengerut. Cowok itu mengusap tengkuknya dan menelan ludah susah payah. Jantungnya berdetak liar lagi dan dia kembali melirik Andini juga Aulia secara bergantian.
Nggak mungkin, lah! Gue anggap Andini sebagai sahabat. Lagian, gue masih suka sama Aulia kalau gue boleh jujur. Dan juga, Andini punya Carvian.
Yakin, lo masih suka sama Aulia? Yakin, lo cuma menganggap Andini sebagai sahabat? Kalau Andini dan Carvian putus, lo senang, kan?
Nggak! Dari dulu, gue masih suka sama Aulia! Bahkan saat gue pacarin mantan-mantan gue, di hati dan pikiran gue masih ada Aulia!
Masih suka atau hanya penasaran?
“DIAM!”
Sambil berseru tegas, Irvan menggebrak meja. Hal itu membuat Carvian dan Aulia serta pengunjung lainnya serempak menoleh ke arah Irvan. Cowok itu berdeham dan menatap sekeliling. Dia memaki dalam hati karena sekarang menjadi pusat perhatian orang lain, akibat perdebatan setan dan malaikat di dalam hatinya.
“Sehat, Van?”
Pertanyaan bernada bete itu membuat Irvan menoleh ke samping. Andini memberinya tatapan super bete sambil mengusap dadanya berulang kali. Irvan sadar, efek dari seruan dan gebrakan mejanya barusan paling berpengaruh kepada Andini, karena cewek itu berada tepat di sampingnya.
“Maaf, Din... gue nggak sengaja.”
Mendengus, Andini kembali fokus pada ponselnya. Cewek itu kemudian melirik Carvian dan Aulia yang kembali berbincang sambil tertawa, seolah-olah hanya ada mereka berdua di tempat ini.
Melihat keterdiaman Andini, Irvan ikut melirik Carvian dan Aulia. Cowok itu mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, hingga buku tangannya memutih. Irvan merasa kesal bukan main sekarang, entah kenapa.
Lo kesal karena cemburu Aulia dekat dengan Carvian, atau karena lo nggak suka ngeliat Andini sedih akibat pemandangan di hadapan kalian saat ini?
Lagi, Irvan mengerutkan kening. Cowok itu melirik Andini lagi dan sahabatnya itu kini bersandar sambil bersedekap. Dia bahkan tersenyum tipis, tapi Irvan yakin itu bukanlah senyuman tulus. Irvan terlalu mengenal Andini untuk tahu bahwa ada sisi-sisi tersembunyi pada diri Andini, yang tidak diperlihatkan cewek itu.
“Wow, kalian akrab banget untuk ukuran orang yang baru saling mengenal. Right, Irvan?”
Irvan hanya diam. Matanya bertemu dengan mata Andini. Itu bukanlah tatapan ramah seperti biasa. Itu tatapan dingin dan sakit yang berbaur menjadi satu. Di sisi lain, Carvian hanya tertawa dan berkata bahwa Aulia adalah pribadi yang asyik dan supel. Mendengar itu, Andini hanya diam dan kembali fokus pada ponselnya, membuat Irvan berdeham keras dan dia berhasil mendapatkan perhatian Carvian.
“Oh, gue nggak tau kalau bersahabat dengan gue bikin lo berada dalam satu kasta dengan gue, Carv.”
Nada dingin Irvan membuat Carvian mengerutkan kening, sementara Aulia hanya menatap datar cowok itu. Kemudian, Aulia menatap Andini yang masih sibuk dengan ponselnya.
“Din, kenapa diam aja?” tanya Aulia bingung. Andini mengangkat wajahnya dari ponsel dan tersenyum.
“Nggak kenapa-napa,” jawabnya singkat.
“Iya, Din. Tumben kamu diam. Biasanya cerewet,” timpal Carvian. “Kebanyakan makan es krim, Din? Apa perut kamu sakit, sekarang? Mau pulang?”
Andini menarik napas panjang dan memijat pelipisnya. Sungguh, dia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya sekarang. Cewek itu menatap Carvian yang kini berdiri. Pacarnya tersebut mengulurkan tangan kanan sambil tersenyum. Andini diam sejenak dan balas tersenyum. Ini adalah Carviannya. Cowok itu miliknya.
Mendadak, Aulia juga berdiri sambil memegang lengan Carvian. Cowok itu menoleh, membuat senyuman Andini menghilang. Uluran tangan Carvian masih terlihat, tapi Andini tahu bahwa perhatian Carvian kini mengarah pada Aulia.
Lalu, Andini mengerjap saat uluran tangan Carvian ditepis oleh Irvan yang juga berdiri. Ketiganya serempak menatap Irvan yang kini menatap datar Carvian.
“Van? Lo kenapa?” tanya Carvian bingung.
“Andini biar gue yang antar karena gue ada sedikit urusan sama dia. Kenapa lo nggak mengantar Aulia aja?”
Kalimat Irvan itu membuat Andini mengerutkan kening, Carvian menatap Irvan dengan tatapan tidak terbaca, sementara Aulia menunduk.
Situasi mendadak memanas dan semakin canggung.
“Lo terlalu baik.”
Andini menoleh sekilas dan mendesah berat. Cewek itu bersandar sambil bersedekap. Matanya menatap langit di depannya yang terhalang oleh kaca depan mobil sedan Irvan. Sahabatnya itu sedang memarkirkan mobilnya di depan rumah Andini. Dia membiarkan saja ketika Andini tidak ingin turun dari mobil.
“Maksud lo?”
“Soal Carvian dan sepupu bejat lo itu.”
Andini memutar bola matanya dan mendengus. “Baik sekali cowok bernama Irvan ini, ngatain sepupu orang di depan saudara si sepupu tersebut.”
“Kenyataannya, Aulia Serenity itu orang bejat. Orang yang hanya memerhatikan orang lain dari tampang dan harta. Kan gue udah cerita, dia menolak gue karena lebih memilih cowok lain yang lebih tampan dan kaya dibandingkan dengan gue.” Irvan berdecak jengkel. “Dan tadi, jelas-jelas dia megang lengan cowok lo, di depan muka cantik lo, seolah nggak mau Carvian pergi ninggalin dia.”
“Lo salah paham. Dia—“
“Oh, come one!” seru Irvan, memotong kalimat Andini. Gemas sekali dia dengan cewek di sampingnya ini. “Dia mau ngerebut cowok lo, Din. Buka dong itu mata belo lo. Kurang belo emangnya tuh mata?”
Andini mencibir dan menjitak kepala Irvan. “Gue cuma nggak mau ribut sama saudara sendiri hanya karena masalah cowok.”
“Terus, kalau dia berhasil rebut Carvian dari lo? Baru lo mewek nggak karuan dan nyesel.”
“Van,” panggil Andini lembut. Cewek itu tersenyum dan menggenggam tangan Irvan. “Kalau Carvian ditakdirkan buat gue, dia pasti akan jadi milik gue. Jodoh nggak akan ketukar, kok. Kalau dia bukan jodoh gue, ya dia nggak akan pernah menjadi milik gue. Sesimpel itu, Van.”
“Ya udah, lo nikah aja sama gue!”
Seruan itu membuat Andini mematung dan mengerjap. Cewek itu tidak bisa berkata-kata. Irvan sendiri langsung bungkam seribu bahasa. Dalam hati, dia memaki ketololannya karena sudah kelepasan berbicara yang aneh-aneh.
“Din, itu, maksud gue—“
“Bakal gue pertimbangkan,” potong Andini dengan nada geli. “Kalau gue dan Carvian emang nggak berjodoh, gue akan cari lo dan menikah sama lo. Menikah sama lo nggak terlalu buruk juga. Lo baik, perhatian, lucu, banyak duit—“
“Ck! Kenapa semua cewek—“
“—Dan yang penting, lo nggak pernah nyakitin gue dan selalu ada di sisi gue.”
Irvan mengerjap. Cowok itu mendengus dan terkekeh. “Jadi, ini proposal yang tertunda?”
Andini mengedikkan bahu. “Something like that.”
Keduanya saling tatap dan tertawa bersama. Irvan mengacak rambut Andini, sementara Andini sibuk menghindari serangan Irvan. Tanpa keduanya sadari, seseorang mengawasi dari kejauhan. Seseorang yang kini tersenyum tipis dan memainkan ponsel di tangannya.
“Gotcha!”
###
“Sejak kapan kamu selingkuh sama Irvan di belakang aku?”
Pertanyaan itu membuat Andini mengerutkan kening dan menatap Carvian yang sudah berdiri di hadapannya. Cowok itu tidak malu-malu menampakkan wajah emosinya juga tatapan dinginnya. Carvian yang ada di hadapannya saat ini bukanlah Carvian yang biasanya. Carviannya menghilang entah ke mana dan kini digantikan dengan Carvian lain, yang tidak pernah Andini kenali sebelumnya.
“Maksudnya apa, ya?” Andini balas bertanya dengan nada sekalem mungkin. Tentu saja dia merasa tenang dan kalem, karena apa yang dituduhkan Carvian barusan tidak pernah dia lakukan.
“Jangan pura-pura bego, Din.” Dan ini yang pertama kalinya bagi Andini, Carvian mengatainya seperti itu. Hatinya berdenyut sakit, tapi dia mencoba untuk bersikap biasa saja. “Kamu sama Irvan pergi bedua semalam. Dia nganterin kamu pulang. Dan kalian ketawa bareng di dalam mobil Irvan, di malam hari.”
Andini menaikkan satu alisnya. “Bukannya kamu ada di tempat kejadian waktu Irvan bilang dia bakalan nganterin aku pulang semalam? Bukannya kamu cuma diam aja dan tersenyum sambil mengangguk dan keliatan senang karena harus mengantarkan Aulia pulang? Bukannya justru kamu yang keliatan akrab dan dekat sama Aulia untuk ukuran orang yang baru saling mengenal? Dan, apa salahnya ketawa bareng sama sahabat sendiri? Toh kita nggak ngelakuin apa-apa di dalam mobil. Aku sama Irvan cuma ngobrol ringan sebentar.”
Carvian mendengus. “Tapi—“
“Carv,” potong Andini, masih dengan nada kalemnya. Cewek itu selalu tidak pernah bisa terbaca jika sudah berhadapan dengan lawan bicaranya. Sikapnya yang selalu tenang dan kalem, meski dalam keadaan apa pun, adalah poin lebihnya sehingga lawan bicaranya akan selalu kehilangan ketenangannya. “Kamu mata-matain aku?”
Carvian mengerjap. “Apa?”
Andini mengedikkan bahu. “Kamu tau sampai ke detail aku dan Irvan ketawa bareng di dalam mobil. Cuma ada dua opsi: kamu ada di sana dan ngeliat dengan mata kepala sendiri atau kamu menyuruh orang lain untuk memata-matai aku. Atau, kalau mau yang lebih ekstrim lagi, ada orang lain yang memata-matai aku dan kasih informasi itu ke kamu.”
Kedua tangan Carvian mengepal kuat di sisi tubuhnya. “Jadi, kamu mau bilang kalau Aulia sengaja mengambinghitamkan Irvan untuk mengadu domba kamu sama aku? Supaya kita ribut terus putus? Gitu?”
Ah, jadi Aulia Serenity penyebabnya. Andini menganggukkan kepala samar. “Aku nggak pernah ngomong kayak gitu, justru kamu yang baru aja berasumsi demikian.”
Mendengar itu, Carvian tidak mampu berkata-kata.
“Carv, mending kamu jujur.” Andini menatap tegas Carvian. Senyuman itu tersungging di bibirnya, membuat Carvian menelan ludah tanpa sadar. “Sejak kapan kamu punya hubungan sama Aulia?”
“Apa?”
“Kamu mau menyalahkan aku, menuduh aku berselingkuh dengan Irvan.” Andini menyilangkan kaki kanannya ke kaki kiri. “Di saat kamu tau betul kalau Irvan dan aku hanya bersahabat. Bahwa kamu, sebagai sahabat Irvan, seharusnya lebih mengenal Irvan untuk tahu dia masih menyimpan rasa buat Aulia, cewek yang dia ceritain dulu. Cewek yang menolak dia. Terus, kamu mulai menuduh aku berselingkuh dengan Irvan di saat Aulia datang. Kalau kamu emang mau nuduh aku dan Irvan, kenapa kamu nggak lakuin itu dari dulu?”
Rahang Carvian mengeras. Giginya mengertak. Cewek di hadapannya ini benar-benar tidak bisa diremehkan. Cewek di hadapannya ini benar-benar pintar dan tangguh.
“Aku sayang sama kamu. Benar-benar sayang sama kamu. Tapi, kalau kamu udah menjalin hubungan sama Aulia di belakang aku sejak lama, aku terpaksa harus mundur. Hati aku terlalu berharga untuk disakitin sama kamu kayak gini. Itu artinya juga, Aulia udah menyadarkan aku kalau kamu bukan cowok yang pantas buat aku. Kalau kamu itu brengsek bukan main, bersembunyi di balik topeng manis kamu itu. Don’t you think so too, Irvan?”
Mendengar nama Irvan disebut, otomatis Carvian menoleh dan mematung. Entah sejak kapan, sahabatnya itu sudah berada di ambang pintu, bersedekap sambil menyandarkan sebelah pundaknya ke dinding.
“Kalau kamu mau putus, kamu tinggal bilang aja padahal,” lanjut Andini lalu berdiri dari duduknya. Dia mendekati Carvian dan membelai pipinya dengan lembut. Lantas, cewek itu berbisik, “Aku bebasin kamu dari aku, Carv. Kamu bebas. Aku nggak tau sejak kapan kamu kenal sama Aulia dan pacaran sama dia, tapi, aku harap kamu bisa bahagiain dia. Oh, dan ingat... karma itu nyata. Karma is a bitch.”
Selesai berkata demikian, Andini menepuk pundak Carvian beberapa kali dan meninggalkan cowok itu. Andini melambaikan tangan tanpa berbalik, membiarkan Irvan menggenggam tangannya dan membawanya keluar dari ruangan neraka tersebut.
Sebenarnya, sejak semalam Andini berpikir mengenai keanehan Aulia dan Carvian. Lalu, dia tidak sengaja mendengar percakapan Aulia di telepon karena sepupunya itu menginap di rumahnya semalam. Aulia melapor pada Carvian bahwa dia sudah berhasil mendapatkan video dirinya dan Irvan yang bisa mereka gunakan untuk memojokkan Andini sehingga Carvian nantinya bisa putus dengan Andini. Karena itulah, Andini mengatur serangan balik.
Di salah satu rumah makan cepat saji, Andini memakan kentang gorengnya tanpa terlihat sedih sama sekali. Diliriknya Irvan saat dia menyadari cowok itu sedang menatap ke arahnya.
“Apa?” tanya cewek itu dengan nada santai.
“Kok lo nggak nangis?”
“Kenapa harus?”
“Karena lo udah dikhianati dan disakitin?”
Andini menarik napas panjang dan meminum es lemonnnya. “Gue mikir, buat apa gue sia-siain air mata gue untuk cowok macam dia? Dan lagi, gue udah melabrak Aulia semalam. Hati gue udah plong waktu gue marah-marah sampai orang tua gue bingung dan nanya apa yang terjadi.”
“Lo sama Carvian kan udah lama banget jadiannya, Din.” Irvan memang sudah mendengar keseluruhan ceritanya dari Andini semalam karena cewek itu mengiriminya pesan singkat dan mereka terus chatting sampai pagi hari. “Nggak sayang sama hubungan kalian?”
“Van, masih pacaran aja dia udah selingkuhin gue, apalagi kalau nanti sampai kami menikah? Nggak deh, makasih. Sakit hati emang, tapi mau gimana lagi? Tuhan udah kasih gue petunjuk kalau Carvian itu bukan cowok baik buat gue.”
Irvan diam. Cowok itu memakan kentang gorengnya dan mengepalkan sebelah tangannya yang berada di bawah meja hingga buku tangannya memutih. Dia mengutuk Carvian di dalam hatinya. Rasanya ingin sekali menghajar cowok itu sampai terkaing-kaing dan memohon ampun.
“Tawaran lo semalam masih berlaku, nggak?”
Pertanyaan itu membuyarkan lamunan Irvan, membuatnya mengerjap dan melongo ketika menatap raut wajah santai dan senyuman geli Andini.
“Hah? Tawaran yang mana?”
“Soal lo ngajak gue nikah. Masih berlaku atau nggak?”
“Lo... serius?”
“Kalau gue nggak serius, ngapain gue nanya?” Andini membersihkan mulutnya dengan tisu dan meraih sundae ice creamnya. “Atau, lo yang nggak serius?”
“Serius! Gue serius!” Irvan buru-buru mengangguk dan menggenggam erat tangan Andini. “Tapi, lo beneran mau? Beneran siap? Hati lo sendiri gimana?”
Andini nampak berpikir. “Lo... punya rasa sama gue?”
Hening sejenak, sampai kemudian Irvan mengangguk. “Gue suka sama lo. Udah lama gue mendam perasaan gue ini karena gue nggak mau hancurin hubungan lo sama Carvian. Karena rasanya nggak etis menyukai pacar dari sahabat sendiri. Tapi, sekarang urusannya udah lain. Lo udah putus dan lo sendiri yang mengingatkan gue soal tawaran pernikahan itu. Asal lo tau aja, gue nggak ada niatan untuk ngelepasin lo kalau lo udah setuju. Lo sendiri gimana?”
“Lo orang baik, Van. Gue rasa, nggak akan susah untuk jatuh cinta sama lo. Gue terima lamaran lo. Lo tinggal datang ke rumah gue dan meminta gue secara baik-baik ke orang tua gue. Setelah itu, kita tinggal mengurus semua keperluan pernikahan. Gimana?”
Irvan tersenyum lebar dan mengangguk. “Gue nggak akan pernah bikin lo sedih dan nangis, Din. Gue akan selalu menjaga dan melindungi lo, terutama hati lo.”
Andini hanya mendengus dan tertawa. Jika keduanya berpikir ini akan semudah yang mereka bayangkan, mereka salah besar. Andini dan Irvan tidak pernah tahu bahwa prahara bernama Carvian dan Aulia akan datang kembali untuk menghancurkan kehidupan pernikahan mereka.
“Kita perlu ngomong.”
Kalimat itu membuat Andini melirik sekilas dan tidak menggubris orang yang baru saja berbicara kepadanya itu. Cewek itu sedang menunggu sesuatu di depan kantornya, ketika Carvian datang dan tahu-tahu saja memegang lengannya. Kemudian, Andini menarik tegas tangannya dari cekalan Carvian, menyebabkan Carvian mengeraskan rahang dan tidak bisa berbuat lebih daripada ini akibat banyaknya pasang mata yang sedang memerhatikan keduanya.
“Din, kamu dengar aku ngomong apa barusan?” tanya Carvian. Dia lebih mendekat ke arah Andini dan berbisik, “Kita perlu ngomong serius. Empat mata. Tapi, nggak di sini.”
“Buat apa aku harus ngomong lagi sama kamu?” Andini balas bertanya. Suaranya terdengar sangat dingin di kedua telinga Carvian. Sepertinya karena sudah terbiasa berbicara dengan bahasa ‘aku-kamu’ selama berpacaran dengan Carvian, Andini jadi tidak mudah menghilangkan kebiasaannya tersebut. “Hubungan kita udah selesai. Aku udah bebasin kamu. Kamu bebas untuk berpacaran sama Aulia. Jadi, nggak ada lagi yang perlu kita omongin.”
Baru saja Andini akan pergi, berniat untuk mencari tempat baru yang bisa dia pakai untuk menunggu apa pun yang sedang dia tunggu, asalkan bisa berjauhan dari Carvian, cowok itu langsung mencekal lengannya kembali. Kali ini, cekalannya begitu kuat, hingga Andini pun tidak bisa melepaskan diri. Dia menoleh, menatap tajam Carvian yang dibalas dengan tak kalah tajamnya. Sebenarnya, Andini cukup takut dengan Carvian saat ini. Carvian tidak pernah bersikap menakutkan seperti ini sebelumnya, di saat mereka masih menjalin hubungan. Namun, Andini bertahan dan memaksakan diri untuk tetap terlihat berani dan menentang mantan pacarnya itu.
“Lepasin aku, Carv,” kata Andini dengan nada tegas.
“Kita belum putus. Emangnya kamu dengar kalau aku setuju sama keputusan sepihak kamu yang mau menyudahi hubungan kita kemarin?” Carvian menggeleng dan semakin menguatkan cekalannya. “Aku nggak mau putus dari kamu. Kamu itu pacar aku, milik aku.”
“Carvian! Aku bilang lepas! Tangan aku sakit!” seru Andini. Dia tidak peduli jika mereka berdua sudah menjadi konsumsi publik saat ini. Biar saja. Orang-orang pasti bisa menilai bahwa Carvian lah yang jahat di sini dan sedang berusaha menyakitinya.
Andini terkesiap dan menoleh bersama dengan Carvian, ketika keduanya melihat sebuah tangan mencengkeram pergelangan tangan Carvian yang sedang mencekal lengannya. Irvan muncul di sana. Menatap tajam dan dingin Carvian dengan aura gelap yang terlihat pada raut wajahnya. Rahangnya mengeras dan terlihat sedikit berkedut, menandakan sahabat Andini itu, yang sebentar lagi akan menjadi suaminya, sedang menahan emosi dan amarah. Cengkeraman tangannya itu terlihat sangat kuat, terbukti dari reaksi Carvian yang meringis menahan sakit.
“Lepasin dia, berengsek,” geram Irvan. “Lo belum puas nyakitin hatinya, sekarang mau nyakitin fisiknya juga? Gitu?”
“Ini nggak ada urusannya sama lo!” tegas Carvian. “Lepasin tangan gue dan jangan ikut campur urusan gue sama cewek gue!”
Irvan menatap Carvian dengan tatapan mengejek. “Ha! Pacar kata lo? Heh, sialan, lo udah dicampakkin sama dia kemarin, setelah lo dengan begonya nyakitin dia dan khianatin dia! Dia bukan lagi pacar lo! Dia bebas, dia single dan dia calon istri gue karena semalam gue melamar dia!”
Mendengar itu, emosi dalam dada Carvian menggelegak. Akibat ucapan Irvan, tanpa sadar Carvian justru menambah kekuatan cekalannya, hingga membuat Andini mengaduh kesakitan. Kali ini lebih keras dibandingkan dengan sebelumnya.
Melihat Andini kesakitan, tentu saja Irvan tidak tinggal diam. Cowok itu langsung melayangkan kepalan tangannya hingga Carvian jatuh terjungkal ke belakang. Saat dia mendongak dan berniat untuk memaki Irvan, cowok itu mematung. Dia bisa melihat bagaimana Irvan dan juga Andini yang bersembunyi di belakang tubuhnya, menatap ke arahnya dengan tatapan jijik. Membuat Carvian mengertakkan gigi dan membiarkan darah itu mengalir di sudut bibirnya. Suara kasak-kusuk di sekitar mereka semakin terdengar, tapi ketiga orang tersebut tidak menggubrisnya sama sekali.
“Lo udah menyia-nyiakan cewek sebaik Andini dan sekarang lo mengemis cintanya lagi?” Irvan mendengus dan tertawa keras. Tawa datar. Sengaja dia berbicara sekeras mungkin agar orang-orang tahu apa yang sedang terjadi. “Lo mengkhianati dia, Carv. Apa lo lupa akan hal itu, hm? Lo berselingkuh di belakang cewek sebaik ini. Dan berengseknya lagi, lo berselingkuh dengan saudara sepupunya sendiri!” Irvan menunjuk wajah Carvian lurus-lurus. “Jangan pernah dekatin dan gangguin Andini lagi karena sekarang, dia milik gue! Berbeda dengan lo, gue akan membuat Andini bahagia sampai dia lupa kalau dia pernah mengenal manusia menjijikkan seperti lo, Carvian!”
Setelah mengatakan hal tersebut, Irvan menggenggam erat tangan Andini dan pergi meninggalkan Carvian yang menunduk sambil mengepalkan kedua tangannya. Irvan membawa Andini ke mobilnya, kemudian pergi sejauh-jauhnya dari hadapan orang-orang. Termasuk dari hadapan Carvian.
###
“Lo nggak seharusnya nonjok dia kayak tadi, Van.”
Kalimat Andini itu membuat Irvan meliriknya dan kembali fokus pada jalanan di depannya. Rasa cemburu itu hadir di dalam hatinya, membuatnya panas bukan main. Senyum tipis muncul di bibirnya dan ketika ada lampu merah, Irvan menggunakan kesempatan ini untuk berbicara dengan Andini.
“Kok kesannya kayak ngebelain Carvian, ya? Kenapa? Lo nggak terima kalau gue nonjok mantan pacar lo itu? Masih ada rasa, ya?” tanya Irvan dengan nada menyindir. Entahlah, kesal saja rasanya. Ya, walaupun dia tahu kalau Andini menerima lamarannya, tapi kan dia juga tahu jika Andini baru saja putus kemarin dan kemungkinan besar masih memiliki perasaan cinta untuk Carvian.
Andini paham jika Irvan cemburu. Cowok itu sudah mengaku bahwa selama ini dia menyimpan rasa untuknya. Dia juga sudah setuju untuk menikah dengan Irvan dan berkata tidak akan sulit untuk mencintainya. Tapi, sikap Irvan saat ini membuat Andini bete. Dia sudah bete karena bertemu dengan Carvian dan diganggu oleh mantan pacarnya itu, sekarang Irvan pun bersikap sedikit kekanakkan hanya karena cemburu.
“Van, sebenarnya lo ada di pihak siapa?”
Kening Irvan mengerut. “Apa lo perlu menanyakan hal sebodoh itu sama gue? Kalau gue nggak memihak lo, apa lo pikir gue akan menghajar Carvian seperti tadi dan bertekad untuk membahagiakan lo?”
“Kalau lo berpihak sama gue, bisa lo nggak memojokkan gue seperti tadi?” tanya Andini. Dia tersenyum tipis. Senyuman simpul. Kedua tangannya gemetar. Matanya terasa panas dan mulai mengabur. Ketika dia menatap Irvan, dia bisa melihat wajah dan tatapan Irvan yang terlihat sangat terkejut. Tubuh cowok itu mematung dan dia tidak bisa berpikir dengan jernih sekarang. Rasa bersalah kini merasuki Irvan. Dia bahkan tidak peduli dengan bunyi klakson kendaraan-kendaraan yang ada di belakangnya. Rasanya, Irvan ingin menghajar dirinya sendiri habis-habisan.
“Soalnya, gue udah lelah banget. Sangat. Kalau lo ada di pihak gue, bisa tolong jangan bersikap seperti ini ke gue? Setidaknya, tunggu sampai gue benar-benar udah terbebas dari rasa lelah ini.”
Andini menangis tanpa suara.