Bab 2

Aika menarik selimutnya lebih tinggi, demi menutupi tubuhnya yang polos. Merapatnya diri pada Kairo, seraya mendesah penuh rasa bersalah.

"Maaf," cicitnya kemudian, menyembunyikan wajah pada dada bidang Kairo.

Kairo yang mendengar lirihan Aika pun diam-diam menghela napas panjang, sebelum mengeratkan pelukannya pada Aika.

"Tidak apa-apa, Ka. Kamu gak salah apa-apa, kok," hibur Kairo.

Akan tetapi, itu memang benar. Di sini, bukan Aika yang salah. Melainkan dirinya sendiri, yang terlalu memaksa Aika.

Kairo lupa, meski Aika sudah mengingat dirinya, namun Aika yang sekarang juga sudah ingat pada masa lalunya, pun kejadian naas itu.

Alhasil, trauma gadis itu pun kembali muncul di sela cumbuan panas mereka.

Ya. Untuk kalian yang sudah berharap lebih pada part ini. Maaf saja, kalian harus kecewa. Karena kenyataanya memang tidak ada yang terjadi antara Kairo dan Aika.

Kairo gagal menjadikan Aika miliknya sepenuhnya. Karena saat Kairo tengah memesrai Aika, gadis itu tiba-tiba mendorong tubuh Kairo, sebelum kemudian menangis dan meraung dengan tubuh bergetar hebat.

Setelah itu, kalian pikir apa yang bisa Kairo lakukan? Memaksa Aika tetap melanjutkan keinginan mereka tentu bukan hal yang baik. Meski sebenarnya, nafsunya sendiri sudah sangat tinggi.

Ayolah! Kairo itu pria normal. Sudah menikah dan punya tempat halal untuk menyalurkan kebutuhan biologisnya.

Tetapi yang terjadi adalah, meski sudah menikah lumayan lama. Kairo masih saja harus puasa sampai hari ini.

Itulah kenapa, dia tadi sempat khilaf dalam memesrai Aika, hingga membuat trauma gadis itu kembali muncul ke permukaan.

Tidak! Kairo tidak mengasari Aika kok, tadi. Tidak sama sekali! Karena Kairo juga bukan tipe pria seperti itu. Hanya saja, mungkin dia tadi terlalu menuntut, hingga lupa pada kondisi psikis Aika.

Karenanya, bukan hanya Aika, Kairo pun merasa bersalah pada istrinya itu. Kairo bahkan butuh waktu cukup lama menenangkan Aika, agar gadis itu bisa kembali ingat di mana dia saat ini.

"Tapi ... Bapak jadi gagal belah duren karena saya," cicit Aika lagi, sambil memainkan jari lentiknya di dada bidang sang suami. Membuat Kairo harus mati-matian menahan sesuatu dalam tubuhnya agar tidak kembali bangkit.

Demi tuhan! Tegangan dalam diri Kairo belum sepenuhnya reda, tapi Aika malah sengaja menyentuh titik sensitifnya, membuat darahnya kembali berdesir tak karuan.

"Tidak masalah. Kita bisa melakukannya lagi nanti." Kairo berusaha tetap tenang. "Tapi, kamu janji setelah ini mau ikut terapi untuk menghilangkan trauma itu, ya?" bujuk Kairo kemudian.

Aika tidak langsung menyahut, gadis itu terlihat ragu sambil terus membuat pola abstrak pada dada bidang Kairo, yang saat ini juga masih polos.

Mereka tadi memang sudah setengah jalan. Sudah pada tahap saling melepaskan pakaian, grepe-grepe, kissmark, mandi kucing dan .... byar!

Kairo pun terjatuh karena tiba-tiba di tendang Aika. Jadi ... tolong harap maklum dengan kondisi mereka saat ini, okeh!

"Ka?" panggil Kairo lagi, saat Aika masih belum menjawab bujukannya. "Kamu mau, kan, ikut terapi?" bujuk Kairo sekali lagi.

"Tapi ... saya ... uhm ...." jelas sekali jika gadis itu dalam keadaan ragu.

"Saya temani, mau kan?" Kairo masih bersikukuh membujuk.

Helaan napas panjang pun terdengar dari Aika, sebelum akhirnya mengangguk pelan.

"Ya udah, deh. Tapi janji temani, ya?" jawab Aika pasrah, seraya mendongakan wajah melihat ke arah Kairo.

Alhamdulilah ....

Sebelum Aika berubah pikiran kembali, Kairo pun segera mengangguk dengan antusia, seraya tersenyum manis sekali.

"Janji." Kairo memberikan janjinya dengan sungguh-sungguh. Membuat Aika akhirnya tersenyum lega, sebelum kembali merapatkan diri dan membuat pola asap pada dada Kairo.

Hap!

Cukup sudah! Kairo tidak tahan. Karenanya, Kairo pun segera menangkan tangan nakal Aika, dan membawanya ke atas bahunya.

"Kenapa, sih? Orang maunya main di sini." Menarik tangan Aika kembali ke arah dada Kairo, "Malah ditarik, pelit!" protes Aika dengan polos.

Kairo pun mendesah panjang, sebelum kembali menangkap tangan Aika yang nakal.

"Bukan pelit, tapi saya gak mau khilaf lagi," terang Kairo kemudian.

Aika mengerjap pelan, lalu melihat Kairo masih dengan alis bertaut dalam.

"Khilaf ... apa?" Aika masih tak mengerti.

"Khilaf makan kamu, lah! Khilaf apalagi, coba? Makanya berhenti main di situ, ya? Sebelum anak tuyul bangun lagi. Repot lho, nidurin dia tuh," ungkap Kairo blak-blakan. Membuat mata Aika membulat sempurna, dan menegang saat sudah mengerti maksud Kairo barusan.

"E-emang i-itu bisa bikin anak tuyul bangun?" Bukannya mengerti, Aika malah kepo.

Mendesah sekali lagi, Kairo pun meletakan tangan Aika di dada bidangnya, dan memberi titah, "Coba aja mainin lagi, kalau gak percaya? Saya gak bakal nahan lagi. Tapi kalau dia bangun, tanggung jawab, ya?"

"Eh, eh, gak mau!" Aika menarik tangannya dengan cepat. "Kalau saya kumat lagi, gimana?"

"Ya, makanya tangannya jangan nakal, Sayang," geram Kairo dengan gemas. "Ini udah saya tahan mati-matian, loh. Kalau kamu gak mau berhenti main di sana. Saya gak--"

"Ya udah, Aika gak main lagi," sela Aika cepat, seraya menjauh dari Kairo dan membalik badan dan mengapit selimut dengan erat di kedua ketiaknya.

Nahasnya, bukannya membantu Kairo. Tindakan Aika itu justru membuat darah pria itu makin panas, karena harus melihat tubuh polos Aika bagian belakang yang sangat menggoda.

Shit!

Kairo pun mengumpat dengan kesal, sebelum akhirnya lari ke arah kamar mandi dengan segera.

Terpaksa deh, main sama tante LUX dulu.

Bab 3

"Assalamualaikum. Aika pulang ...." seru Aika dengan riang, seraya memasuki Rumahnya.

"Waalaikumsalam." Terdengar sahutan dari beberapa orang dengan kompak, sebelum kemudian orang-orang itu menoleh ke arah datangnya Aika.

Orang-orang itu adalah Mama Desi, Papa Heru, dan Bang Aaron tentu saja.

"Alhamdulilah ya Allah ...." seru Mama Desi lantang. "Aika, kamu kemana aja, Nak? Kok, baru pulang jam segini? Katanya tadi cuma beli sate? Tapi kok lama banget! Kamu beli satenya di mana, sih? Di Madagaskar, ya? Gak pulang-pulang gitu! Baru Mama mau umumin di masjid, siapa tahu kamu nyasar, yee kan?" cecar Mama Desi kemudian, seraya menghampiri dan memindai penampakan Aika dengan seksama.

Bukan apa-apa, Ini tuh sudah masuk waktu maghrib, takutnya yang berdiri saat ini bukan Aika, melainkan jelmaan setan cantik yang ngefans sama anaknya. Makanya Mama Desi harus mematikan semuanya dengan seksama.

Mama Desi bahkan sengaja membuat Aika berputar ke kanan dan ke kiri, memeriksa ubun-ubunnya yang-- siapa tahu ternyata ada pakunya? Juga kakinya menapak dengan sempurna atau tidak.

Alhamdulilah aman, Jeng. Jadi dia memang benar-benar Aika.

Ah, Sudah rahasia umumkan, kalau Mama Desi itu memang lebay.

"Apa sih, Mah." Risih dengan kelakuan Mamanya, Aika pun mencebik tak suka.

"Aika gak papa, Mamah. Gak usah khawatir gitu. Nih, buktinya Aika pulang masih dengan keadaan lengkap, kan?" terang Aika menenangkan Mama Desi.

"Ya Alhamdulilah kalau gitu. Tapi, kok , lama banget pulangnya. Kamu beneran beli sate? Beli satenya di gang depan, kan? Bukan di Hongkong apalagi Mada--"

"Assalamualaikum ...." Belum selesai Mama Desi mencecar Aika lagi. Suara salam lain terdengar di belakang tubuh Aika.

Pelakunya adalah Kairo, yang baru saja selesai menerima telpon dari Alvaro, perihal pekerjaan.

"Waalaikumsalam." Sahutan terdengar, sama kompaknya dengan saat Aika datang.

Kairo pun segera mencium tangan Mama Desi dan Papa Heru, lalu bertos dengan Aaron sebelum kembali menghampiri Aika yang masih berdiri di depan pintu karena masih ditahan Mama Desi.

"Nah, Mah. Kalau Mama mau tahu alasan Aika telat itu apa? Ini dia alasannya, Mah!" Aika lalu menunjuk Kairo dengan enteng.

"Maksudnya?" gumam Mama Desi tak mengerti.

"Ekhem!" Mengerti kode dari Aika, Kairo pun berdehem canggung setelahnya.

"Sebelumnya Maaf Mah, Pah, dan lo, Ron." Kairo mulai buka suara. "Maaf, tadi saya lupa memberitahu, jika Aika tadi bersama saya. Soalnya tadi kami ... uhm ...."

Aduh! Gimana ini jelasinnya? Gak mungkin kan, Kairo harus memberitahu keluarga Aika, jika dia dan istrinya baru saja test drive, tapi gagal.

Bukan malu karena kegagalannya, tapi malu karena ... ya ... itu kan masalah dapur rumah tangganya. Masa harus di umbar-umbar.

Bingung harus menjelaskan apa, Kairo hanya bisa menggaruk belakang lehernya dengan kikuk, seperti anak ABG yang ketahuan kencan pertama kali.

"Soalnya kalian ... apa? Kok gak dilanjut?" tuntut Mama Desi kemudian, terlanjur kepo dengan penjelasan Kairo.

"Kami ... uhm ... kami ...." Kairo masih ragu untuk menjawab, lalu melirik Aika untuk meminta bantuan lewat kode mata.

"Apaan sih, Mas Bos? Di Tanya Mama bukannya jawab, malah ngelirik Aika. Gak sopan banget! Apa? Mas Bos masih kangen sama Aika. Kurang tadi yang di apartement?"

Seketika Kairo pun ingin tenggelam ke dasar bumi sekarang juga. Karena jawaban istrinya bukannya membantu, malah makin membuatnya malu setengah mati.

Sabar ... sabar ... resiko ingatan Aika yang sudah kembali, berarti kegesrekannya pun turut hadir. Makanya, Kairo harus mulai menebalkan wajah lagi.

"Mas Bos? Apartemen? Itu ... maksudnya ...." Mama Desi membeo dengan mata membulat dan mulut yang sedikit menganga.

Jelek banget! Jangan dibayangin pokoknya, nanti kalian gak doyan makan.

"Apa itu artinya kamu sudah ...." Mama Desi masih mengira-ngira.

"Iya, Mah!" sahut Aika dengan antusias, karena yakin Mama Desi pasti sudah paham akan situasi yang terjadi padanya. "Aika sudah--"

"Ya ampun! Kalian baru jebol gawang, ya? Tuhan ... akhirnya anak Mama gak perawan lagi!"

What the .... kenapa nyambungnya ke sana, sih?

"Pah! Anak kita udah gak perawan, pah. Ya ampun! Akhirnya! Kita bakal punya cucu sebentar lagi!" Mama Desi bahkan membuat pengumuman dengan lantang pada suaminya, yang sudah pasti bisa didengar Aaron juga. Mungkin juga ... tetangga yang kebetulan lewat.

Aika pun sontak menepuk keningnya tak habis pikir, karena gemas dengan pemikiran sang Mama yang luar biasa absurd.

Apa-apaan itu? Masa anaknya baru dijebol malah diumumkan. Seakan Aika baru saja menang lomba agustusan dan jadi juara pertama.

Bikin malu saja!

"Bukan Mamah!" bantah Aika tak kalah lantang, membuat Mama dan Papa yang baru saja hendak berpelukan terhenti seketika. Gerakannya seperti dalam sebuah video yang tiba-tiba di pause penonton, alias menggantung di udara.

"Aika bukan abis jebol gawang!" terang Aika lagi sambil cemberut. "Tapi udah ingat semuanya!" Aika menambahkan dengan menggebu.

Eh?

"Ingat semuanya?" Aaron yang membeo.

"Iya, Bang. Aika udah ingat semuanya. Soal kuliah, kerjaan, dan pernikahan sama Mas Bos. Makanya Aika tadi ikut Mas Bos ke apartemen. Aika ingin memastikan semuanya!" ungkap Aika lagi.

Alhamdulilah ....

Puji syukur kembali terdengar, disertai hembusan napas lega dari Papa Heru dan Aaron. Kecuali Mama Desi, karena ....

"Yah ... cuma gitu, doang? Gak sekalian belah duren?" Mama Desi bersikukuh dengan raut kecewa.

Haduh .... sepertinya Mama Desi sangat berharap Aika segera diperawanin Kairo. Sungguh aneh sekali.

"Gak papa, mah. Penting Aika inget dulu statusnya sama Kai, nanti urusan jebol menjebol pasti otw." Papa Heru menenangkan Mama Desi.

"Iya, ih. Lagian Mama ngapain sih ngebet banget pengen Aika dijebol, Kai. Aneh banget! Padahal Di jebol juga belum tentu bisa langsung hamil. Rahim Aika kan, masih harus di cek lagi untuk menentukan pengobatan selanjutnya."

Eh? Astaga! Aaron keceplosan!

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED