Bab 1

“Tujuan Kak Kairo sering ke rumah, karena memang kita suami istri, ya? Bukan karena berniat jadiin Aika istri kedua. Benar begitu, Kak?”

DEG!

“Aika, Kamu ....” Kairo tak bisa berkata-kata. Karena terlalu shock dengan penuturan Aika barusan.

Gadis itu apa mungkin sudah ingat kembali?

“Kenapa diam, Kak? Jawab dong, yang Aika bilang ini benar atau tidak?” desak Aika kemudian.

Kairo menelan salivanya kelat. Sebelum menipiskan bibirnya sejenak. Ia ingin menjawab ‘iya’ dan menceritakan semuanya, tapi hatinya masih ragu. Bagaimana kalau Aika kembali seperti semalam?

Kairo dilanda denial seketika.

“Mas Bos?”

“Iya?” Jawab Kairo refleks. Namun, langsung kembali tertegun saat menyadari panggilan Aika untuknya itu. Rasa haru langsung membuncah di hati Kairo setelahnya.

Tuhan ... dia bahkan ingat panggilan itu. Apa ini Artinya? Aika-nya sudah kembali?

“Aika, kamu—”

“Jadi benar itu panggilan buat Kakak, ya?”

Hah? Maksudnya? Kenapa pertanyaannya jadi tidak yakin seperti itu?

“Aika, Kamu sebenarnya udah ingat lagi belum?” Kairo jadi berubah gemas setelahnya.

Aika tak menjawab. Malah menunduk dan memainkan kakinya saja dengan canggung. Membuat Kairo jadi bingung. Harus senang atau sedih sekarang.

“Aika?”

“Aika gak tahu, Kak?” cicit Aika kemudian. “Tapi emang dari semalam, kayaknya banyak suara yang maksa Aika buat ingat Kakak terus. Bikin Aika pusing dan sakit kepala lagi.”

Hah? Maksudnya gimana, sih? Kenapa Kairo malah ikutan pusing sekarang?

Sejenak, suasana pun hening antara mereka. Kairo sibuk mencerna sikap Aika. Sementara Aika, masih bergerak gelisah di tempatnya. Entah apa yang dipikirkan gadis itu?

“Kak?” panggil Aika lagi, membuat Kairo langsung melihat Aika, yang siapa tahu masih masih punya punya info penting tentang amnesianya.

“Tadi itu, Kakak beneran mau ke kantor?”

Eh, ternyata cuma mau nanya itu toh?

“Tentu saja benar,” jawab Kairo yakin.

“Tapi, Kak. Ini ‘kan Hari Minggu. Emang kantor Kakak gak libur?”

Kairo merasa tercyduk seketika.

Kairo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Antara malu dan bingung harus bersikap seperti apa setelah ini. Tadi dia memang asal bicara, agar Aika segera pulang, tapi dia lupa kalau ini memang Hari Minggu.

Aika tertawa geli melihat Kairo yang kesulitan menjawab. Meski dia tidak ingat tentang orang-orang di masa dewasanya, tapi Aika masih bisa kok, kalau cuma membaca ekspresi wajah orang saja. Tadi Kairo memang terlihat kebingungan, ketika Aika tiba-tiba muncul di belakangnya.

“Kak?” panggil Aika lagi. Karena tahu Kairo tak akan bersuara lagi. Kalau dia tak mengambil inisiatif.

Kairo tak menjawab. Hanya menaikan alisnya satu. Tanda bertanya ‘apa?’ pada Aika

“Aika boleh makan satenya di rumah Kak Kairo nggak?” tanya Aika lagi, yang kini sudah melenggang dengan riang ke arah mobil Kairo, dan masuk begitu saja ke dalam kursi samping supir.

Aika akui, dia memang sangat ceroboh, karena bertindak tanpa dipikir terlebih dahulu. Apa yang ada dalam pikirannya saat ini? Kenapa dia melompat naik ke mobil cowok begitu saja? Apa Aika tidak takut dikerjain seperti dulu lagi?

Namun, semua orang bilang Kak Kairo ini orang yang baik, ‘kan? Dan juga memang ada kemungkinan adalah suaminya. Karena itulah, kalau mau mengetahui masa lalunya, Aika harus berani menghadapi semua ketakutan itu. Kunci dari masa lalu Aika adalah hubungannya dengan Kairo. Karena itulah dia harus mengenal Kairo lebih dalam lagi.

Sedetik dua detik. Kairo masih mengerjap bingung melihat tingkah Aika itu. Sebelum di detik selanjutnya, senyum Kairo pun Akhirnya muncul lebar sekali. Kalau saja ini bukan di jalanan, terlebuh depan Aika. Jelas Kairo pasti akan melompat kegirangan karena perubahan Aika ini.

Namun, karena suasana saat ini tidak memungkinkannya bersikap konyol. Kairo pun hanya mengepalkan tanganya diam-diam, dan berseru pelan “yes!” tanpa satu pun yang menyadari.

“Boleh banget,” sahut Kairo kemudian dengan cepat. Sebelum Aika berubah pikiran lagi.

Setelah itu Kairo pun menyusul ke dalam mobil. Sebelum menginjak gas, dan membawa mobilnya dengan riang menjauh dari sana.

Awalnya, Aika sempat kebingungan ketika Kairo membawa mobil keluar dari perumahan. Namun karena penasaran, Aika membiarkannya saja keputusan ada pada tangan Kairo. Meskipun saat ini dia memegang kresek berisi sate dengan erat, tapi dia mencoba memberanikan diri untuk mengikuti kemauan Kairo.

Kairo sendiri karena terlalu gembira dengan permintaan Aika tadi, tanpa sadar menyetir menuju apartemen. Dia bahkan tidak menyadari kalau Aika diam saja sejak naik tadi. Mereka naik ke unit apartemen milik Kairo. Dengan pria itu yang langsung membuka pintu lebar-lebar agar Aika bisa masuk.

Suasana familiar menyambut Aika saat sampai di ruangan tersebut. Tubuhnya bahkan seperti bergerak otomatis menuju ke dapur untuk mengambil piring. Kemudian memindahkan sate ke atasnya. Aika bahkan bisa menemukan tempat penyimpanan teh dan gula dengan mudah.

“Kakak mau kopi?”

“Mau, saya biasanya minum kopi—”

“Kopi robusta dari teman Kakak yang tinggal di Gemawang Temanggung?”

Tangan Aika yang hendak meraih tempat kopi terhenti di udara. Ketika menyadari semua sikap dan ucapannya barusan. Khususnya tentang tempat asal kopi yang sangat disukai Kairo.

Gemawang Temanggung? Tempat itu terasa tak asing. Seperti ada kenangan yang menariknya ke sana. Dan lagi, bagaimana mungkin dia bisa mengetahui selera kopi Kairo? Sementara di tempatnya. Hampir saja Kairo bersorak kegirangan ketika melihat sosok Aika yang tidak terlihat canggung ketika berada di apartemen.

Tadinya Kairo sudah cemas saja, saat menyadari mereka menuju ke apartemen, dan bukan ke rumah barunya. Namun, Aika sama sekali tidak melayangkan protes dan mengikutinya dalam diam. Bukankah seharusnya ini pertanda baik? Tetapi kenapa Aika masih memanggilnya kakak?

“Aika,” ucap Kairo dengan lirih tanpa didengar oleh istrinya.

“Kak, apa ini tempat tinggal kita?” tanya Aika masih membelakangi Kairo.

Aika baru ingat. Sekilas tadi, dia juga melihat sebuah potret besar di rumah ini, yang memperlihatkan dirinya bersanding dengan Kairo dalam busana pernikahan. Ini seharusnya bisa menjelaskan suara-suara yang terus menerus didengarnya.

“Iya. Aika, ini memang rumah kita yang sebenarnya.” Aku Kairo lugas. “Aika, Kamu nggak kenapa-kenapa, ‘kan? Nggak pusing lagi? Atau apa gitu? Kemarin Kamu pingsan ketika saya membahas tentang status kita, ‘kan?” tanya Kairo saat Aika tidak menyahut apapun lagi.

“Aika pingsan bukan karena kenyataan status kita, Kakak,” protes Aika sambil membalik badan pada Kairo.

“Oh, ya? Lalu, karena apa kemarin kamu pingsan?” Kairo mulai penasaran lagi.

“Itu karena ... Itu karena Aika kaget lihat Kak Kairo ada dua.”

Hah? Jadi karena itu?

“Tadinya Aika sudah tertekan saat membayangkan Kak Kairo mau jadiin Aika istri kedua, terus tahu-tahu ada orang yang mirip Kak Kairo, dan shock Aika jadi double setelahnya. Makanya Aika pingsan,” cicit Aika lagi. Kairo mengangguk paham.

“Kemarin siang, Kak Kairo makan di mana?” selidik Aika kemudian.

“Di ruangan saya bersama bekal dari kamu. ‘Kan, saya udah dapet jatah makan dari kamu. Jadi, ya, ngapain saja makan di luar lagi?”

“Jadi Kakak gak makan di kafe?”

“Saya bahkan nggak keluar seharian. Kalau kamu nggak percaya, kamu bisa telepon Alvaro untuk menanyakannya.”

“Jadi yang di kafe kemarin bukan Kakak, ya?”

“Bukan. Itu Kennet, adik kembar saya,” tegas Kairo. Membuat Aika akhirnya manggut-manggut paham.

“Ehem, Jadi kemarin kamu ketus sama saya itu, ceritanya karena cemburu, ya, Ka?” goda Kairo tiba-tiba.

Wajah Aika memerah dengan cepat. Tubuhnya bahkan langsung terasa hangat karena terlalu malu. Aika tidak berani menjawab. Ia malah berlari masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam.

Seketika, kepalanya menjadi pusing. Ketika melihat sekeliling. Setiap sudut ruangan di sana ternyata makin mengingatkannya akan Kairo.

“Aika, Kamu kenapa? Tolong buka pintunya!” Kairo menggedor pintu dengan brutal, karena tidak mendengar suara apapun dari dalam kamar.

Aika mengerjap beberapa kali sebelum tersenyum dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

“Mas Bos,” bisik Aika sebelum membuka pintu.

Aika lalu menghambur ke arah Kairo untuk mendekapnya. “Mas Bos, Mas Bos.”

Suara Aika yang lirih bercampur dengan isak tangis membuat Kairo menjadi panik. Dia berusaha melepaskan pelukan Aika untuk melihat kondisinya. Namun, istrinya sama sekali tidak mau mengurai dekapannya.

“Kamu kenapa? Pusing lagi?” Kairo bertanya dengan khawatir. Namun disambut gelengan cepat dari Kairo.

“Kepala Aika gak sakit, kok. Tapi ... tapi ... Aika sudah ingat semuanya sekarang, Mas Bos,” ucap Aika kemudian.

“Ingat? Kamu sudah ingat? Kamu ingat kalau saya suamimu?” tanya Kairo yang akhirnya berhasil melepaskan kaitan tangan Aika.

Aika mengangguk cepat membenarkan dugaan Kairo barusan. Kairo ikut tersenyum haru dan langsung mendekap Aika dengan erat.

Terima kasih Tuhan. Istrinya sudah kembali!

Kairo lalu melerai pelukan mereka, demi membingkai wajah istrinya sangat dia rindukan. Kemudian mengeringkan air mata yang mengalir di pipi Aika dengan jari telunjuk. Setelahnya, Kairo menarik kembali Aika ke dalam dekapannya.

“Akhirnya kamu kembali. Terima kasih Tuhan,” seru Kairo dengan kelegaan.

Aika pun tersenyun haru di dalam dekapan Kairo, dan menyembunyikan dirinya dalam tempat hangat kesukaannya itu.

“Mas Bos, terima kasih sudah bersabar menghadapi Aika yang sempat melupakan Mas Bos,” lirih Aika lagi.

“Nggak apa-apa, Aika. Yang penting Kamu sudah ingat lagi.” Kairo mempererat dekapannya.

Aika pun mendongakan wajahnya, tanpa melepaskan belitan tangannya, agar bisa melihat wajah Kairo dengan seksama. Kairo ikut menundukan wajah, untuk membalas tatapan Aika tersebut.

“Mas Bos?”

“Ya?”

“Mas Bos kok ganteng, sih? Aika kayaknya suka deh sama Mas Bos.”

Kairo lalu tertawa renyah mendengar hal itu. Sebelum menarik Aika dalam satu hentakan, hingga kini berada dalam gendongannya, dengan kaki Aika melingkar sempurna di pinggulnya.

“Yakin cuma suka aja? Gak mau sekalian cinta aja. Mumpung saya udah cinta, nih?” goda Kairo memainkan alisnya.

Aika pura-pura berpikir sejenak. Sebelum melingkarkan tangannya di belakang leher Kairo.

“Ya, udah kalau Mas Bos maksa. Aika juga cinta, deh,” jawab Aika kemudian.

Kairo lalu tersenyum lebar. Sebelum menarik tengkuk Aika dan menyatukan bibir mereka.

“Welcome back my wife. I won’t let you forget me again,” bisik Kairo di sela permainan bibirnya dan langkah tegas menuju kamar, untuk menjadikan Aika miliknya seutuhnya.

Bab 2

Aika menarik selimutnya lebih tinggi, demi menutupi tubuhnya yang polos. Merapatnya diri pada Kairo, seraya mendesah penuh rasa bersalah.

"Maaf," cicitnya kemudian, menyembunyikan wajah pada dada bidang Kairo.

Kairo yang mendengar lirihan Aika pun diam-diam menghela napas panjang, sebelum mengeratkan pelukannya pada Aika.

"Tidak apa-apa, Ka. Kamu gak salah apa-apa, kok," hibur Kairo.

Akan tetapi, itu memang benar. Di sini, bukan Aika yang salah. Melainkan dirinya sendiri, yang terlalu memaksa Aika.

Kairo lupa, meski Aika sudah mengingat dirinya, namun Aika yang sekarang juga sudah ingat pada masa lalunya, pun kejadian naas itu.

Alhasil, trauma gadis itu pun kembali muncul di sela cumbuan panas mereka.

Ya. Untuk kalian yang sudah berharap lebih pada part ini. Maaf saja, kalian harus kecewa. Karena kenyataanya memang tidak ada yang terjadi antara Kairo dan Aika.

Kairo gagal menjadikan Aika miliknya sepenuhnya. Karena saat Kairo tengah memesrai Aika, gadis itu tiba-tiba mendorong tubuh Kairo, sebelum kemudian menangis dan meraung dengan tubuh bergetar hebat.

Setelah itu, kalian pikir apa yang bisa Kairo lakukan? Memaksa Aika tetap melanjutkan keinginan mereka tentu bukan hal yang baik. Meski sebenarnya, nafsunya sendiri sudah sangat tinggi.

Ayolah! Kairo itu pria normal. Sudah menikah dan punya tempat halal untuk menyalurkan kebutuhan biologisnya.

Tetapi yang terjadi adalah, meski sudah menikah lumayan lama. Kairo masih saja harus puasa sampai hari ini.

Itulah kenapa, dia tadi sempat khilaf dalam memesrai Aika, hingga membuat trauma gadis itu kembali muncul ke permukaan.

Tidak! Kairo tidak mengasari Aika kok, tadi. Tidak sama sekali! Karena Kairo juga bukan tipe pria seperti itu. Hanya saja, mungkin dia tadi terlalu menuntut, hingga lupa pada kondisi psikis Aika.

Karenanya, bukan hanya Aika, Kairo pun merasa bersalah pada istrinya itu. Kairo bahkan butuh waktu cukup lama menenangkan Aika, agar gadis itu bisa kembali ingat di mana dia saat ini.

"Tapi ... Bapak jadi gagal belah duren karena saya," cicit Aika lagi, sambil memainkan jari lentiknya di dada bidang sang suami. Membuat Kairo harus mati-matian menahan sesuatu dalam tubuhnya agar tidak kembali bangkit.

Demi tuhan! Tegangan dalam diri Kairo belum sepenuhnya reda, tapi Aika malah sengaja menyentuh titik sensitifnya, membuat darahnya kembali berdesir tak karuan.

"Tidak masalah. Kita bisa melakukannya lagi nanti." Kairo berusaha tetap tenang. "Tapi, kamu janji setelah ini mau ikut terapi untuk menghilangkan trauma itu, ya?" bujuk Kairo kemudian.

Aika tidak langsung menyahut, gadis itu terlihat ragu sambil terus membuat pola abstrak pada dada bidang Kairo, yang saat ini juga masih polos.

Mereka tadi memang sudah setengah jalan. Sudah pada tahap saling melepaskan pakaian, grepe-grepe, kissmark, mandi kucing dan .... byar!

Kairo pun terjatuh karena tiba-tiba di tendang Aika. Jadi ... tolong harap maklum dengan kondisi mereka saat ini, okeh!

"Ka?" panggil Kairo lagi, saat Aika masih belum menjawab bujukannya. "Kamu mau, kan, ikut terapi?" bujuk Kairo sekali lagi.

"Tapi ... saya ... uhm ...." jelas sekali jika gadis itu dalam keadaan ragu.

"Saya temani, mau kan?" Kairo masih bersikukuh membujuk.

Helaan napas panjang pun terdengar dari Aika, sebelum akhirnya mengangguk pelan.

"Ya udah, deh. Tapi janji temani, ya?" jawab Aika pasrah, seraya mendongakan wajah melihat ke arah Kairo.

Alhamdulilah ....

Sebelum Aika berubah pikiran kembali, Kairo pun segera mengangguk dengan antusia, seraya tersenyum manis sekali.

"Janji." Kairo memberikan janjinya dengan sungguh-sungguh. Membuat Aika akhirnya tersenyum lega, sebelum kembali merapatkan diri dan membuat pola asap pada dada Kairo.

Hap!

Cukup sudah! Kairo tidak tahan. Karenanya, Kairo pun segera menangkan tangan nakal Aika, dan membawanya ke atas bahunya.

"Kenapa, sih? Orang maunya main di sini." Menarik tangan Aika kembali ke arah dada Kairo, "Malah ditarik, pelit!" protes Aika dengan polos.

Kairo pun mendesah panjang, sebelum kembali menangkap tangan Aika yang nakal.

"Bukan pelit, tapi saya gak mau khilaf lagi," terang Kairo kemudian.

Aika mengerjap pelan, lalu melihat Kairo masih dengan alis bertaut dalam.

"Khilaf ... apa?" Aika masih tak mengerti.

"Khilaf makan kamu, lah! Khilaf apalagi, coba? Makanya berhenti main di situ, ya? Sebelum anak tuyul bangun lagi. Repot lho, nidurin dia tuh," ungkap Kairo blak-blakan. Membuat mata Aika membulat sempurna, dan menegang saat sudah mengerti maksud Kairo barusan.

"E-emang i-itu bisa bikin anak tuyul bangun?" Bukannya mengerti, Aika malah kepo.

Mendesah sekali lagi, Kairo pun meletakan tangan Aika di dada bidangnya, dan memberi titah, "Coba aja mainin lagi, kalau gak percaya? Saya gak bakal nahan lagi. Tapi kalau dia bangun, tanggung jawab, ya?"

"Eh, eh, gak mau!" Aika menarik tangannya dengan cepat. "Kalau saya kumat lagi, gimana?"

"Ya, makanya tangannya jangan nakal, Sayang," geram Kairo dengan gemas. "Ini udah saya tahan mati-matian, loh. Kalau kamu gak mau berhenti main di sana. Saya gak--"

"Ya udah, Aika gak main lagi," sela Aika cepat, seraya menjauh dari Kairo dan membalik badan dan mengapit selimut dengan erat di kedua ketiaknya.

Nahasnya, bukannya membantu Kairo. Tindakan Aika itu justru membuat darah pria itu makin panas, karena harus melihat tubuh polos Aika bagian belakang yang sangat menggoda.

Shit!

Kairo pun mengumpat dengan kesal, sebelum akhirnya lari ke arah kamar mandi dengan segera.

Terpaksa deh, main sama tante LUX dulu.

Bab 3

"Assalamualaikum. Aika pulang ...." seru Aika dengan riang, seraya memasuki Rumahnya.

"Waalaikumsalam." Terdengar sahutan dari beberapa orang dengan kompak, sebelum kemudian orang-orang itu menoleh ke arah datangnya Aika.

Orang-orang itu adalah Mama Desi, Papa Heru, dan Bang Aaron tentu saja.

"Alhamdulilah ya Allah ...." seru Mama Desi lantang. "Aika, kamu kemana aja, Nak? Kok, baru pulang jam segini? Katanya tadi cuma beli sate? Tapi kok lama banget! Kamu beli satenya di mana, sih? Di Madagaskar, ya? Gak pulang-pulang gitu! Baru Mama mau umumin di masjid, siapa tahu kamu nyasar, yee kan?" cecar Mama Desi kemudian, seraya menghampiri dan memindai penampakan Aika dengan seksama.

Bukan apa-apa, Ini tuh sudah masuk waktu maghrib, takutnya yang berdiri saat ini bukan Aika, melainkan jelmaan setan cantik yang ngefans sama anaknya. Makanya Mama Desi harus mematikan semuanya dengan seksama.

Mama Desi bahkan sengaja membuat Aika berputar ke kanan dan ke kiri, memeriksa ubun-ubunnya yang-- siapa tahu ternyata ada pakunya? Juga kakinya menapak dengan sempurna atau tidak.

Alhamdulilah aman, Jeng. Jadi dia memang benar-benar Aika.

Ah, Sudah rahasia umumkan, kalau Mama Desi itu memang lebay.

"Apa sih, Mah." Risih dengan kelakuan Mamanya, Aika pun mencebik tak suka.

"Aika gak papa, Mamah. Gak usah khawatir gitu. Nih, buktinya Aika pulang masih dengan keadaan lengkap, kan?" terang Aika menenangkan Mama Desi.

"Ya Alhamdulilah kalau gitu. Tapi, kok , lama banget pulangnya. Kamu beneran beli sate? Beli satenya di gang depan, kan? Bukan di Hongkong apalagi Mada--"

"Assalamualaikum ...." Belum selesai Mama Desi mencecar Aika lagi. Suara salam lain terdengar di belakang tubuh Aika.

Pelakunya adalah Kairo, yang baru saja selesai menerima telpon dari Alvaro, perihal pekerjaan.

"Waalaikumsalam." Sahutan terdengar, sama kompaknya dengan saat Aika datang.

Kairo pun segera mencium tangan Mama Desi dan Papa Heru, lalu bertos dengan Aaron sebelum kembali menghampiri Aika yang masih berdiri di depan pintu karena masih ditahan Mama Desi.

"Nah, Mah. Kalau Mama mau tahu alasan Aika telat itu apa? Ini dia alasannya, Mah!" Aika lalu menunjuk Kairo dengan enteng.

"Maksudnya?" gumam Mama Desi tak mengerti.

"Ekhem!" Mengerti kode dari Aika, Kairo pun berdehem canggung setelahnya.

"Sebelumnya Maaf Mah, Pah, dan lo, Ron." Kairo mulai buka suara. "Maaf, tadi saya lupa memberitahu, jika Aika tadi bersama saya. Soalnya tadi kami ... uhm ...."

Aduh! Gimana ini jelasinnya? Gak mungkin kan, Kairo harus memberitahu keluarga Aika, jika dia dan istrinya baru saja test drive, tapi gagal.

Bukan malu karena kegagalannya, tapi malu karena ... ya ... itu kan masalah dapur rumah tangganya. Masa harus di umbar-umbar.

Bingung harus menjelaskan apa, Kairo hanya bisa menggaruk belakang lehernya dengan kikuk, seperti anak ABG yang ketahuan kencan pertama kali.

"Soalnya kalian ... apa? Kok gak dilanjut?" tuntut Mama Desi kemudian, terlanjur kepo dengan penjelasan Kairo.

"Kami ... uhm ... kami ...." Kairo masih ragu untuk menjawab, lalu melirik Aika untuk meminta bantuan lewat kode mata.

"Apaan sih, Mas Bos? Di Tanya Mama bukannya jawab, malah ngelirik Aika. Gak sopan banget! Apa? Mas Bos masih kangen sama Aika. Kurang tadi yang di apartement?"

Seketika Kairo pun ingin tenggelam ke dasar bumi sekarang juga. Karena jawaban istrinya bukannya membantu, malah makin membuatnya malu setengah mati.

Sabar ... sabar ... resiko ingatan Aika yang sudah kembali, berarti kegesrekannya pun turut hadir. Makanya, Kairo harus mulai menebalkan wajah lagi.

"Mas Bos? Apartemen? Itu ... maksudnya ...." Mama Desi membeo dengan mata membulat dan mulut yang sedikit menganga.

Jelek banget! Jangan dibayangin pokoknya, nanti kalian gak doyan makan.

"Apa itu artinya kamu sudah ...." Mama Desi masih mengira-ngira.

"Iya, Mah!" sahut Aika dengan antusias, karena yakin Mama Desi pasti sudah paham akan situasi yang terjadi padanya. "Aika sudah--"

"Ya ampun! Kalian baru jebol gawang, ya? Tuhan ... akhirnya anak Mama gak perawan lagi!"

What the .... kenapa nyambungnya ke sana, sih?

"Pah! Anak kita udah gak perawan, pah. Ya ampun! Akhirnya! Kita bakal punya cucu sebentar lagi!" Mama Desi bahkan membuat pengumuman dengan lantang pada suaminya, yang sudah pasti bisa didengar Aaron juga. Mungkin juga ... tetangga yang kebetulan lewat.

Aika pun sontak menepuk keningnya tak habis pikir, karena gemas dengan pemikiran sang Mama yang luar biasa absurd.

Apa-apaan itu? Masa anaknya baru dijebol malah diumumkan. Seakan Aika baru saja menang lomba agustusan dan jadi juara pertama.

Bikin malu saja!

"Bukan Mamah!" bantah Aika tak kalah lantang, membuat Mama dan Papa yang baru saja hendak berpelukan terhenti seketika. Gerakannya seperti dalam sebuah video yang tiba-tiba di pause penonton, alias menggantung di udara.

"Aika bukan abis jebol gawang!" terang Aika lagi sambil cemberut. "Tapi udah ingat semuanya!" Aika menambahkan dengan menggebu.

Eh?

"Ingat semuanya?" Aaron yang membeo.

"Iya, Bang. Aika udah ingat semuanya. Soal kuliah, kerjaan, dan pernikahan sama Mas Bos. Makanya Aika tadi ikut Mas Bos ke apartemen. Aika ingin memastikan semuanya!" ungkap Aika lagi.

Alhamdulilah ....

Puji syukur kembali terdengar, disertai hembusan napas lega dari Papa Heru dan Aaron. Kecuali Mama Desi, karena ....

"Yah ... cuma gitu, doang? Gak sekalian belah duren?" Mama Desi bersikukuh dengan raut kecewa.

Haduh .... sepertinya Mama Desi sangat berharap Aika segera diperawanin Kairo. Sungguh aneh sekali.

"Gak papa, mah. Penting Aika inget dulu statusnya sama Kai, nanti urusan jebol menjebol pasti otw." Papa Heru menenangkan Mama Desi.

"Iya, ih. Lagian Mama ngapain sih ngebet banget pengen Aika dijebol, Kai. Aneh banget! Padahal Di jebol juga belum tentu bisa langsung hamil. Rahim Aika kan, masih harus di cek lagi untuk menentukan pengobatan selanjutnya."

Eh? Astaga! Aaron keceplosan!

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED