"Ah tidak ... Lepaskan aku! Aku mohon, siapapun tolong!" teriak seorang wanita di gang sempit, yang sekali ada yang lewat. Sebenarnya dia ingin pulang namun mengunakan jalan lain yang lebih cepat, siapa sangka ada tiga orang preman yang menariknya.
Ia menangis, saat dilucuti satu persatu pakaiannya, dia berusaha memberontak tapi orang-orang sangat kuat mengekangnya. "Hahaha, dia sangat cantik, siapa namamu sayang."
"Cuih! Bahkan namaku tak pantas kalian dapatkan, apalagi tubuhku. Ah lepaskan!" ujar wanita itu sambil meludahi pria yang ada di depannya, membuat orang-orang itu malah semakin tertawa keras.
Mereka tersenyum senang. "Aku menyukai gadis pemberani, tapi setelah ini kamu akan menikmati, nona manis."
"Tidak!" pintanya saat mereka membuka pakaian dalamnya, tak lama sebuah langkah kaki membuat mereka menoleh.
Seketika aktivitas berhenti, salah satu dari mereka menutup mulut gadis itu, dengan tongkat juga kacamata hitamnya membuat mereka tau kalau yang ada didepan mereka orang buta.
"Toshloisjsnnhg!" Dengan suara yang cukup keras membuat pria itu berhenti sambil menoleh kesamping, membuat ketiga orang itu menatap tajam pada gadis tersebut.
"Diam atau kubunuh kau?!" ujar salah satu dari mereka.
Tapi tak lama pria buta itu berjalan kembali, membuat mereka tersenyum puas, gadis itu hanya bisa menangis meratapi nasibnya yang sangat menyedihkan, kenapa harus orang buta yang melewati mereka?
"Aaaaaahhhhh!" Karena mata gadis itu tertutup sambil meratapi nasibnya, jadi dia kaget mendengar hal itu dan melihat semua penjahat itu sudah terkapar tak berdaya.
Sedangkan si buta kembali berjalan ke depan, berbalik arah membuat gadis itu secepatnya berlari kearah pria tersebut. Dia kira pria ini pura-pura buta, dan menghajar mereka untuk menyelamatkannya.
Gadis itu mendekat dan membungkukan badannya, tanda dia berterimakasih pada pria didepannya. "Terima kasih banyak kak, aku pasti akan mengingat kebaikan kakak."
Pria buta yang sudah berjalan cukup jauh itu, berbalik badan dengan darah yang ada di bajunya, membuat gadis itu mencoba menahan diri agar tidak kabur setelah diselamatkan orang yang terlihat menyeramkan baginya.
"Sama-sama lain kali berhati-hati! Dunia ini juga penuh dengan tipu daya."
Mendengar hal itu gadis yang masih duduk di bangku SMA itu mengkat alisnya heran, kala sedang berpikir pria buta yang menyelamatkannya sudah tidak Ada. "Astaga, kakak tadi itu setan atau apa? Cepat sekali menghilang?"
Sedangkan jauh dari sana pria bernama Drake itu sudah berjalan jauh, dia pun mengambil telepon jadul yang mungkin penggunaannya sudah tak banyak, beberapa nomer dia tekan hingga Drake memencet tombol telepon.
Telepon tersambung yang seketika suara tawa terdengar sangat kencang. "Hahaha, aku senang saat kau menelponku, Drake. Karena itu artinya kabar baik, cepat kau mau berapa, Anak buah kesayanganku? Kau buta tapi kau lebih hebat dari yang lain?"
"Aku tak ingin apapun, Tuan Alger. Cuma aku dan ayah akan pindah rumah, jadi kau jangan datang lagi ke rumah lama."
"Kau pindah dengan ayah tak bergunamu itu? Pindah kemana?" tanya Alger yang penasaran, walau dia suka sekali menyuruh Drake untuk membunuh tapi dia tidak terlalu tau dengan urusan pribadinya. Jika bertanya dia akan tanyakan pada Hunter, kadang Drake sulit sekali untuk memberikan jawaban dari urusan pribadi.
"Rumah yang tidak terlalu besar dipusat kota, lagipula aku yakin kalau rumah itu sangat jelek, ayah itu malas sekali," ucap Drake walau bicara dengan orang yang membuat kehidupan seperti ini, dia tak terlalu formal kecuali pada panggilan, bahkan ayahnya saja senang sekali mengejek pria yang sudah membuat kehidupan Keduanya menjadi baik.
"Hahaha, kau benar dia memang orang yang jorok. Beruntung walau kau buta kau cukup rapih, aku tidak tau bagaimana kalau kau juga sama seperti ayahmu," ucap Alger yang membuat Drake tersenyum.
"Kakak!" teriak seseorang yang membuat Drake menoleh, mengingat suara gadis yang baru saja di tolongnya.
"Siapa?" tanya Alger yang penasaran dibalik telepon.
"Nanti aku akan ceritakan, sampai jumpai Tuan. Semoga tidurmu nyenyak!" ujar Drake, walau mereka Tuan juga anak buah tapi tak ayal mereka juga kadang terlihat seperti keponakan dan paman, sangat dekat mengingat Alger juga tau dari bayi tentang Drake.
Telepon itu tertutup, Drake merasakan gadis itu ada didepannya, mendengar deru nafas yang tersengal-sengal juga bau keringat yang harus bunga sakura, parfumnya cukup bagus. "Hah, aku kira kakak kemana."
Gadis yang bernama Gaylen itu tersenyum Pada Drake yang membuat pria itu terdiam didepannya. "Ada apa?"
"Nama kakak? Aku Gaylen," ucapnya sambil merentangkan tangan membuat Drake tidak tau apa maksudnya, untuk apa gadis ini ingin tau namanya, apakah cipratan darah di bajunya ini tak membuat takut? Bisa saja dia membunuhnya sekarang.
"Pulang lah! Ini sudah malam!" ujar Drake yang berjalan terlebih dulu, membuat Gaylen menghalangi jalan pria itu.
"Aku akan pulang setelah mengetahui nama kakak."
"Untuk apa kau ingin tau namaku?" tanya Drake yang heran, mendengar itu Gaylen terdiam benar juga, untuk apa dia tau namanya.
"Apa berkenalan saja tidak boleh?"
"Tidak! Pulanglah!"
"Ada satu pertanyaan dariku!"
"Apa? Masih tentang nama?" tanya Drake yang mulai jengah.
"Bukan, kakak itu benar-benar buta ya?" tanya Gaylen sambil melihat wajahnya, mencari tau apakah pria ini buta atau tidak.
"Kau ini gadis yang ingin tau sekali ya?"
"Kakak sangat keren makannya aku ingin tau, lagipula kalau tidak ada kakak, mungkin aku sudah mati tadi."
Drake terdiam, lagipula alasan dia membunuh mereka karena disuruh Alger, mereka adalah sekutu musuh pria itu, kadang-kadang menjadi mata-mata kelompok membuat Alger memerintah dia untuk menghabisnya.
"Berterima kasih pada Tuhan! Karena dia yang menyelamatkanmu bukan aku, lagipula aku ini membunuh tadi, kau sama sekali tak takut padaku?" tanya Drake yang heran.
"Kalau kakak jahat, kakak sudah pasti membunuhku bersama mereka."
"Sudah! Pulang lah, aku banyak kerjaan malam ini," ucap Drake yang menyingkir Gaylen dari jalanannya.
"Mau aku bantu?" tanya Gaylen sambil berteiak.
"Tidak," balas Drake singkat. Baru kali ini dia menyesal membantu seseorang, karena Gaylen tau dia sudah menganggu pria itu, gadis itu memilih pergi kearah lain, dimana rumahnya berada.
Pakaian sudah kembali seperti semula, mungkin nanti saat pulang dia akan melaporkan hal ini pada pihak berwajib, sedangkan Drake menoleh kebelakang langkah gadis tau menjauh kesana membuat pria itu menghembuskan nafas.
"Gaylen? Nama yang aneh," ucapnya yang setelah itu pergi dari sana, keduanya orang itu bejalan berbeda arah, tapi mereka tak tau kalau takdir mengarahkan pada jalan yang sama kemudian hari.
Pria yang hidup tanpa berdekatan dengan wanita, seakan harus mulai berdekatan dengan gadis itu, karena Tuhan seperti memberikan rencana untuk mereka.
Pintu terbuka dengan cepat, membuat semua orang yang ada di dalamnya kaget melihat anak gadis yang tak kunjung pulang, sudah kembali setelah mereka berunding untuk mencarinya.
Sedangkan gadis itu tersenyum dengan nafas cepat, lalu setelah melihat semua orang amat serius padanya membuat gadis bernama Gaylen itu heran. "Ada apa?"
Tak lama sebuah pukulan mengenainya, dan itu didapatkan dari sang ibunda tercinta. "Anak sialan! Ini sudah jam berapa? Kau baru ingat pulang? Kenapa tidak kembali saja sekalian?"
Ya itulah ibu, dia suka lain dihati lain mulut. Padahal tadi dia yang paling risau tentang anak terlahir ini, wanita berumur 49 tahun itu terus memukul putrinya membuat semua orang menatap marah padanya.
"Aw, aduh Bu. Ampun! Aw, ah iya-iya aku salah," teriak Gaylen yang kesakitan karena ibunya.
"Gaylen, apa kau pikir kau ini sudah besar? Ini sudah jam berapa?" tanya kakak pertamanya, dia laki-laki yang sudah memiliki istri juga dua orang anak.
Mendengar itu sang ibu berhenti dan menatapnya sangat marah. "Benar apa kau tidak lihat jam?"
"Kau ini baru SMA, Gaylen," teriak kakak keduanya, dia juga laki-laki tapi baru menikah belum lama ini, benar Gaylen anak terakhir dari tiga bersaudara, keluarga yang amat lengkap.
"Aku hampir diperkosa, apa kalian puas?" tanya Gaylen yang sudah kesal, kalau saja di tidak ditarik oleh mereka dia pasti sudah pulang, sayang jalan yang cukup jauh dari rumah dan terutama tidak ada kendaraan membuat waktu jadi lama untuk kembali ke rumah.
"Apa?" tanya semua orang yang terkejut, tentu saja sang ibu yang berada di sampingnya memeriksa tubuhnya terdapat tanda mereka di sana juga luka.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya ibunya yang berkaca-kaca, ya walau dia pemarah sebenarnya dia wanita yang sangat baik.
"Beruntung tadi ada seorang kakak yang menolongku, dan preman itu langsung mati dengan satu kedipan mata, ibu dia sungguh luar biasa." Mendengar ucapan Gaylen yang malah senang setelah apa yang terjadi, membuat semuanya terdiam beberapa detik.
"Apa mereka semua mati?" tanya istri kakak keduanya.
"Iya, ketiga orang itu mati sepertinya dia memakai pisau, dia hebat kan kak?" tanya Gaylen, tak lama kakak pertamanya memukul kepalanya sedikit keras, membuat Gaylen terkejut bahkan semua orang.
"Aku rasa ada yang aneh dalam otakmu, masuk ke kamar! Harusnya kau ketakutan melihat itu, bukan malah kagum," ucap pria bernama Joanes itu, bahkan kata-kata yang di ucapkan tadi tidak pantas ketika ada kedua anaknya disana.
Gaylen memukul kepalanya sakit, hantaman kakaknya bahkan lebih parah daripada ayahnya sendiri, bahkan ayahnya hanya dia sambil menyeruput kopinya, tidak pria itu bahkan tak perduli sama sekali, karena baginya anak perempuan tidak berguna, seakan dia lupa kalau isterinya juga perempuan, yang telah melahirkan semua anaknya.
Pada akhirnya gadis itu pergi dari sana sambil mengisap kepalanya, tidak Kakaknya tidak sekeras itu memukulnya hanya saja dia ingin lebih dramatis, kadang pria itu suka seenaknya, lihat saja nanti dia akan dimarahi oleh ibu.
Cuman beberapa langkah Gaylen akhirnya merebahkan dirinya di kasur, tadi adalah hal yang menegangkan. Mengingat dimana dia dinodai membuat Gaylen merasa sedikit kotor, tapi puji Tuhan dia akhirnya selamat.
"Kira-kira, apa aku bisa bertemu lagi dengan kakak itu ya? Dia terlihat tampan sayang aku tidak bisa melihat keseluruhannya."
***
Sedangkan di sisi lain Drake yang baru saja mandi setelah melakukan aktivitas yang melelahkan, dan menegangkan, keluar dari pintu kamar mandi lalu merasa asap rokok milik ayahnya, kapan pria itu tidak menciptakan polusi di seisi kamarnya?
"Ayah, jika kenapa ayah selalu merokok di kamarku, apa dunia ini tidak terlalu luas untuk ayah melakukan hal itu?" tanya Drake yang mulai Bosan, pria ini suka seenaknya ya walau bagaimanapun dia juga yang sudah membesarkan sampai sekarang, jadi jasanya bagi Drake sungguh tak ada batas.
"Apa karena kau merasa sudah membayar tempat ini, kau berhak mengaturku?" tanya Hunter dengan angkuh, ya dia memang seperti itu.
"Terserah ayah saja lah," balas Drake yang malah, dia pun meraba lemari untuk mencari pakaiannya.
Beruntung Hunter sudah memisahkan, menata semua baju itu hingga dia hapal, dimana letak pakaian yang dia inginkan. Walau sudah bicara kasar dan seenaknya tapi Hunter sangat mengerti apa yang dia butuhkan.
"Apa tugasmu sudah selesai?" tanyanya sambil melepaskan batang rokok itu dari mulutnya.
"Kenapa ayah ingin tau?" tanya Drake yang membuat Hunter kesal, tak lama Drake tertawa dia hafal deru nafas cepat itu, bahkan marahnya sang ayah dia sampai hafal. "Sudah ayah, tenang saja."
"Apa si sialan itu tidak memerintahmu lagi?" tanyanya lagi, ya dia senang sekali menghina orang yang sudah membuat mereka besar seperti sekarang.
"Entahlah," balas Drake, dia mulai memakai pakaiannya dalamnya tak perduli kalau Hunter berada di depannya sekarang, lagipula sejak bayi dia bersamanya bukan.
Tak lama Hunter menegang kepalanya kesal. " Sialan!"
"Ada apa, ayah?"
"Kenapa punyamu lebih besar dari pada aku sekarang?" tanya Hunter yang membuat Drake tak paham, Alisnya menyatu karena bingung.
"Maksud ayah?"
"Milikmu, ah lupa dasar anak bodoh. Saat kecil itu amat mungil sekarang kenapa jadi seperti itu, kau seperti menghinaku tau?" tanya Hunter, apa ini karena karena dia sering menginjek anak sejak kecil.
"Ayah! Jangan bicara omong kosong, aku tak paham dengan ucapanmu," ucap Drake yang sudah memakai baju lengkap.
"Itu artinya kau bodoh," ejek Hunter, pria itu memang tak pernah mengajarkan hal yang pribadi pada anak itu, yang ada hanya latihan-latihan untuk menjadi pembunuh, mengikuti Suara juga insting yang lain, dan sialan anak buta itu lebih hebat dari pada dia dulu.
Ting, tong. Bunyi bel pintu membuat kedua orang itu tersebut melihat ke sumber suara. "Seperti Alger datang, sisir rambutmu kau jelek sekali dengan rambut acak-acakan itu."
Tidak dia tidak jelek, namun sangat tampan bahkan dengan rambut basah, bisa-bisa dia iri dengan anak angkatnya sendiri, ia yakin kalau ada sekumpulan wanita maka Drake sudah pasti dikerubungi oleh mereka.
Hunter berjalan keluar di susul Drake yang sudah bersisir, dia tidak melihat seperti apa yang dia sisir, namun itu ajaran Alger padanya karena kata pria itu tatanan rambut buatan Hunter amat jelek.
Pintu terbuka memperlihatkan Alger yang membopong makanan banyak di tangannya. "Maaf disini tidak ada yang meminta sumbangan."
Pintu ingin ditutup namun Alger menahannya sambil tersenyum, dia sudah biasa mendapatkan ini dari Hunter. Jika saja mereka tidak teman sekarib, maka matilah dia.
"Tunggu dulu kawan! Ada urusan dengan anakmu."