Bab 1

Darah berserakan dimana-mana, mayat juga tergeletak tak berdaya, pria yang membawa tongkat panjang ditangannya berjalan dengan santai sambil berjalan kearah orang yang sedang berlari menghindari langkahnya.

Ruangan ini terkunci rapat, bahkan mereka yang menguncinya dan lihat sekarang siapa yang terjebak oleh siapa. Pria yang memakai kacamatanya hitam itu terus mengikuti kemanapun pria yang berlari menghindari hingga dia jatuh.

Saat itu pula pria yang membawa tongkat mendekat membuat orang itu menggeleng dengan air keringat mengucurkan deras. "Tidak! Tidak! Ampuni aku Tuan, aku mohon biarkan aku hidup."

Mendengar hal itu, pria yang memakai kacamata tertawa kencang, membuat pria yang ketakutan menatapnya aneh. "Ke-kenapa anda tertawa?"

"Satunya yang lucu disini adalah dirimu, karena kau lemah pada orang buta sepertiku," ucap pria itu yang tak lama membuang kacamata hitamnya, dan terlihat iris putih yang membuat pria terakhir itu syok.

Jadi yang selama ini terjadi, dia membunuh tanpa melihat, dan tentu saja hal itu membuat orang terakhir itu malu juga ketakutan.

"Jadi karena kau sudah tau, mata tidak ada alasanmu untuk hidup, maka matilah dengan jika bisa," ucap pria buta itu yang setelahnya mengkat tinggi-tinggi kayu tersebut dan menghantam tepat diarea kepala, darah menyembur kewajah jiga bajunya karena saking kerasnya hantaman itu yang mungkin membuat keretakan sedikit pada tengkorak dan rusaknya otak bagian belakang.

Merasakan tak ada langkah lagi, pria itu terdiam sebentar. Padahal dia baru saja membunuh tapi dia tetap tenang seperti tak terjadi apa-apa, karena tak merasa gerakan dia pun pergi dari sana sambil mengeluarkan tingkat lipatnya dari celana.

Dia menerawang disetiap sudut berusaha mencari celah untuk keluar selain pintu, kadang orang buta dari lahir memiliki penglihatan sendiri bisa merasa dari hembusan angin, aroma juga pendengaran.

Dia pun keluar dari jendela yang lumayan kecil, dan itu tertutup oleh kayu. Dia tidak takut jatuh apalagi ini lantai dua, selah berhasil keluar lalu meloncat dari ketinggian itu, dia menabrak batu beberapa kali tapi setelah dia berusaha biasa saja padahal tubuhnya sakit.

Secepat mungkin dia harus mencari baju ganti atau dia akan dicurigai. Inilah takdir yang dia ikuti, menjadi pembunuh bayaran dari golongan mafia terkenal, yang punya musuh banyak di dunia gelap, dan mereka selalu diincar oleh para polisi karena kriminal mereka.

Dan pria bernama Dion itu tak takut, jika ketahuan. Lagipula mana ada yang percaya kalau seorang tunanetra bisa membunuh, hanya orang bodoh yang percaya hal itu, melihat saja tidak bisa apalagi melakukan hal terlarang, uang bermiliar-miliar tapi pekerjaan berbahaya, enak? Tentu saja tidak!

Karena nyatanya dia hanya bertahan hidup dari kemampuannya.

***

25 tahun yang lalu

Hujan lebat membuat seisi basah juga banjir karena, ditengah-tengah itu apalagi malam gelap seperti ini seorang wanita sedang menggendong sesuatu diperlukan, sembaei berlari cepat dia juga melihat sekeliling takut ada orang yang melihat.

Dalam keadaan basah kuyup dia mencoba melindungi yang ada di pelukannya ini agar tetap hangat juga basah, hingga tiba dia sebuah rumah yang sederhana, kecil juga kumuh.

Rumah itu terletak digang sempit, sambil melihat yang ada di pelukannya, dia pun memencet bel pintu.

Air matanya menetes menayuti dengan air hujan. "Maafkan ibu, nak. Tapi ibu tidak bisa merawatmu, apalagi kamu buta. Kamu tidak salah, sayang! Ini salah ibu, saat kamu besar ibu akan kembali untuk menjemputmu, bersabarlah nak!"

Dalam hujan deras itu, dia meletakan anak laki-laki di teras, wanita itu pun pergi meninggalkan anak sambil menangis, suara tangisan bayi terdengar ketika dekapan ibunya tak ada lagi bersamanya, hingga terbukalah pintu.

Terlihat pria yang acak-acakan, melihat kebawah dan terkejut dengan bayi yang ada di terasnya. "Hei, siapa yang meletakan bayinya disini?"

Dengan kondisi mabuk, dia mengambil anak itu lalu mencoba menenangkannya. Dia memang orang yang tidak benar, tapi mana mungkin dia tega pada anak yang tak berdosa.

Cukup lama hingga akhirnya bayi itu tenang, terlihat matanya yang terbuka perlahan. Alangkah terkejutnya dia melihat matanya yang seperti tanpa iris, padahal ada namun tak berwarna.

"Kau! Buta?" tanyanya, tak lama dia pun lebih teliti pada wajah anak itu. "Seperti aku kenal wajar yang mirip dengan dirimu, apa ibumu meninggalkanmu disini? Jahat sekali dia."

Pria yang bernama Hunter itu masuk kedalam dengan membawa anak itu, mana mungkin dia membiarkannya diluar, mungkin besok dia akan membawanya ke panti asuhan untuk diurus.

Keesokan harinya dia yang baru bangun terkejut dengan anak yang menangis tepat diatas meja, bukan apa-apa dia lupa kalau kemarin ada yang meninggal anak ini di rumah.

"Astaga, sudah lama aku sendiri, dan sekarang ada bayi di rumah."

Tak lama sebuah ketukan pintu membuat dia menoleh, sambil menggendong anak itu dia pun berjalan ke luar lalu membukanya, terlihat beberapa orang dengan pria berjas di depannya.

"Alger?"

"Hahaha? Kau bangkrut dan nasibmu jelek sekali kawan?!" ucap pria itu, dia adalah teman Hunter di dunia gelap, ya pria yang menggendong bayi itu dulunya mafia, dia berhenti karena muak dan memilih untuk bersenang-senang lalu kerja serabutan ketika uangnya habis.

"Sialan kau," ucap Hunter yang sebal, sudah 2 tahun terakhir mereka bertemu, tentu saja Alger yang namanya sudah menjadi berita utama sebagai penjahat internasional, heran dengan keadaan teman senasibnya, menjadi seperti ini.

Dulu mereka bersaing, walau berteman perlombaan tak ada habisnya bagi kedua dan sangat disayangkan bagi Alger melihat nasib Hunter yang seperti sekarang.

"Ngomong-ngomong kau punya istri dan anak sekarang?" tanya Alger yang sudah mulai pusing dengan tangis anak yang ada didekapan Hunter.

"Bukan, dia bukan anakku. Ada seseorang yang menaruhnya didepan rumah, aku juga tak tau siapa, nanti siang aku akan bawa dia ke panti asuhan."

"Hah?" tanya Alger dia pun melihat bayi itu, tak lama terlihat matanya yang tak memiliki warna pada iris matanya. "Di-dia Buta?"

"Iya," balas Hunter santai.

"Kenapa kau tidak merawatnya saja?" tanya Alger yang membuat Hunter heran.

"Apa kau gila? Hidupku saja susah sekarang apalagi kalau bersama bayi ini?" tanyanya yang mulai sebal.

Alger kembali melihat anak itu. "Aku akan memberimu yang setiap bulannya, kalau kau mau menjaga anak ini."

"Kau sudah kebanyakan uang ya? Untuk apa kau mau memberikan makan anak yang bukan anakmu sendiri, apalagi dia buta?" tanya Hunter yang merasa semakin heran.

"Entah kenapa aku yakin dia sangat berguna untukku nanti."

"Aku rasa kau memang sudah gila," ucap Hunter sambil menghembuskan nafas kasar.

"Deal?" tanya Alger.

"Kau memang gila."

"Buat dia menghormatiku, karena aku yang membuat dia hidup, kau paham."

"Kenapa tidak kau saja yang merawatnya sialan?" tanya Hunter yang heran.

"Aku tidak ada bakat menjadi seorang ayah."

"Lalu aku ada?"

"Sedikit, hahaha," balasnya dengan tawa keras, yang membuat Hunter jengah. Padahal Alger cukup ditakuti oleh siapapun yang mengenalnya, tapi Hunter dia sama sekali tak gentar, kalau pun dia mati di tangan orang aneh dia, dia tak takut sama sekali karena Alger, dia orang yang sama sekali tak waras.

Bab 2

"Ah tidak ... Lepaskan aku! Aku mohon, siapapun tolong!" teriak seorang wanita di gang sempit, yang sekali ada yang lewat. Sebenarnya dia ingin pulang namun mengunakan jalan lain yang lebih cepat, siapa sangka ada tiga orang preman yang menariknya.

Ia menangis, saat dilucuti satu persatu pakaiannya, dia berusaha memberontak tapi orang-orang sangat kuat mengekangnya. "Hahaha, dia sangat cantik, siapa namamu sayang."

"Cuih! Bahkan namaku tak pantas kalian dapatkan, apalagi tubuhku. Ah lepaskan!" ujar wanita itu sambil meludahi pria yang ada di depannya, membuat orang-orang itu malah semakin tertawa keras.

Mereka tersenyum senang. "Aku menyukai gadis pemberani, tapi setelah ini kamu akan menikmati, nona manis."

"Tidak!" pintanya saat mereka membuka pakaian dalamnya, tak lama sebuah langkah kaki membuat mereka menoleh.

Seketika aktivitas berhenti, salah satu dari mereka menutup mulut gadis itu, dengan tongkat juga kacamata hitamnya membuat mereka tau kalau yang ada didepan mereka orang buta.

"Toshloisjsnnhg!" Dengan suara yang cukup keras membuat pria itu berhenti sambil menoleh kesamping, membuat ketiga orang itu menatap tajam pada gadis tersebut.

"Diam atau kubunuh kau?!" ujar salah satu dari mereka.

Tapi tak lama pria buta itu berjalan kembali, membuat mereka tersenyum puas, gadis itu hanya bisa menangis meratapi nasibnya yang sangat menyedihkan, kenapa harus orang buta yang melewati mereka?

"Aaaaaahhhhh!" Karena mata gadis itu tertutup sambil meratapi nasibnya, jadi dia kaget mendengar hal itu dan melihat semua penjahat itu sudah terkapar tak berdaya.

Sedangkan si buta kembali berjalan ke depan, berbalik arah membuat gadis itu secepatnya berlari kearah pria tersebut. Dia kira pria ini pura-pura buta, dan menghajar mereka untuk menyelamatkannya.

Gadis itu mendekat dan membungkukan badannya, tanda dia berterimakasih pada pria didepannya. "Terima kasih banyak kak, aku pasti akan mengingat kebaikan kakak."

Pria buta yang sudah berjalan cukup jauh itu, berbalik badan dengan darah yang ada di bajunya, membuat gadis itu mencoba menahan diri agar tidak kabur setelah diselamatkan orang yang terlihat menyeramkan baginya.

"Sama-sama lain kali berhati-hati! Dunia ini juga penuh dengan tipu daya."

Mendengar hal itu gadis yang masih duduk di bangku SMA itu mengkat alisnya heran, kala sedang berpikir pria buta yang menyelamatkannya sudah tidak Ada. "Astaga, kakak tadi itu setan atau apa? Cepat sekali menghilang?"

Sedangkan jauh dari sana pria bernama Drake itu sudah berjalan jauh, dia pun mengambil telepon jadul yang mungkin penggunaannya sudah tak banyak, beberapa nomer dia tekan hingga Drake memencet tombol telepon.

Telepon tersambung yang seketika suara tawa terdengar sangat kencang. "Hahaha, aku senang saat kau menelponku, Drake. Karena itu artinya kabar baik, cepat kau mau berapa, Anak buah kesayanganku? Kau buta tapi kau lebih hebat dari yang lain?"

"Aku tak ingin apapun, Tuan Alger. Cuma aku dan ayah akan pindah rumah, jadi kau jangan datang lagi ke rumah lama."

"Kau pindah dengan ayah tak bergunamu itu? Pindah kemana?" tanya Alger yang penasaran, walau dia suka sekali menyuruh Drake untuk membunuh tapi dia tidak terlalu tau dengan urusan pribadinya. Jika bertanya dia akan tanyakan pada Hunter, kadang Drake sulit sekali untuk memberikan jawaban dari urusan pribadi.

"Rumah yang tidak terlalu besar dipusat kota, lagipula aku yakin kalau rumah itu sangat jelek, ayah itu malas sekali," ucap Drake walau bicara dengan orang yang membuat kehidupan seperti ini, dia tak terlalu formal kecuali pada panggilan, bahkan ayahnya saja senang sekali mengejek pria yang sudah membuat kehidupan Keduanya menjadi baik.

"Hahaha, kau benar dia memang orang yang jorok. Beruntung walau kau buta kau cukup rapih, aku tidak tau bagaimana kalau kau juga sama seperti ayahmu," ucap Alger yang membuat Drake tersenyum.

"Kakak!" teriak seseorang yang membuat Drake menoleh, mengingat suara gadis yang baru saja di tolongnya.

"Siapa?" tanya Alger yang penasaran dibalik telepon.

"Nanti aku akan ceritakan, sampai jumpai Tuan. Semoga tidurmu nyenyak!" ujar Drake, walau mereka Tuan juga anak buah tapi tak ayal mereka juga kadang terlihat seperti keponakan dan paman, sangat dekat mengingat Alger juga tau dari bayi tentang Drake.

Telepon itu tertutup, Drake merasakan gadis itu ada didepannya, mendengar deru nafas yang tersengal-sengal juga bau keringat yang harus bunga sakura, parfumnya cukup bagus. "Hah, aku kira kakak kemana."

Gadis yang bernama Gaylen itu tersenyum Pada Drake yang membuat pria itu terdiam didepannya. "Ada apa?"

"Nama kakak? Aku Gaylen," ucapnya sambil merentangkan tangan membuat Drake tidak tau apa maksudnya, untuk apa gadis ini ingin tau namanya, apakah cipratan darah di bajunya ini tak membuat takut? Bisa saja dia membunuhnya sekarang.

"Pulang lah! Ini sudah malam!" ujar Drake yang berjalan terlebih dulu, membuat Gaylen menghalangi jalan pria itu.

"Aku akan pulang setelah mengetahui nama kakak."

"Untuk apa kau ingin tau namaku?" tanya Drake yang heran, mendengar itu Gaylen terdiam benar juga, untuk apa dia tau namanya.

"Apa berkenalan saja tidak boleh?"

"Tidak! Pulanglah!"

"Ada satu pertanyaan dariku!"

"Apa? Masih tentang nama?" tanya Drake yang mulai jengah.

"Bukan, kakak itu benar-benar buta ya?" tanya Gaylen sambil melihat wajahnya, mencari tau apakah pria ini buta atau tidak.

"Kau ini gadis yang ingin tau sekali ya?"

"Kakak sangat keren makannya aku ingin tau, lagipula kalau tidak ada kakak, mungkin aku sudah mati tadi."

Drake terdiam, lagipula alasan dia membunuh mereka karena disuruh Alger, mereka adalah sekutu musuh pria itu, kadang-kadang menjadi mata-mata kelompok membuat Alger memerintah dia untuk menghabisnya.

"Berterima kasih pada Tuhan! Karena dia yang menyelamatkanmu bukan aku, lagipula aku ini membunuh tadi, kau sama sekali tak takut padaku?" tanya Drake yang heran.

"Kalau kakak jahat, kakak sudah pasti membunuhku bersama mereka."

"Sudah! Pulang lah, aku banyak kerjaan malam ini," ucap Drake yang menyingkir Gaylen dari jalanannya.

"Mau aku bantu?" tanya Gaylen sambil berteiak.

"Tidak," balas Drake singkat. Baru kali ini dia menyesal membantu seseorang, karena Gaylen tau dia sudah menganggu pria itu, gadis itu memilih pergi kearah lain, dimana rumahnya berada.

Pakaian sudah kembali seperti semula, mungkin nanti saat pulang dia akan melaporkan hal ini pada pihak berwajib, sedangkan Drake menoleh kebelakang langkah gadis tau menjauh kesana membuat pria itu menghembuskan nafas.

"Gaylen? Nama yang aneh," ucapnya yang setelah itu pergi dari sana, keduanya orang itu bejalan berbeda arah, tapi mereka tak tau kalau takdir mengarahkan pada jalan yang sama kemudian hari.

Pria yang hidup tanpa berdekatan dengan wanita, seakan harus mulai berdekatan dengan gadis itu, karena Tuhan seperti memberikan rencana untuk mereka.

Bab 3

Pintu terbuka dengan cepat, membuat semua orang yang ada di dalamnya kaget melihat anak gadis yang tak kunjung pulang, sudah kembali setelah mereka berunding untuk mencarinya.

Sedangkan gadis itu tersenyum dengan nafas cepat, lalu setelah melihat semua orang amat serius padanya membuat gadis bernama Gaylen itu heran. "Ada apa?"

Tak lama sebuah pukulan mengenainya, dan itu didapatkan dari sang ibunda tercinta. "Anak sialan! Ini sudah jam berapa? Kau baru ingat pulang? Kenapa tidak kembali saja sekalian?"

Ya itulah ibu, dia suka lain dihati lain mulut. Padahal tadi dia yang paling risau tentang anak terlahir ini, wanita berumur 49 tahun itu terus memukul putrinya membuat semua orang menatap marah padanya.

"Aw, aduh Bu. Ampun! Aw, ah iya-iya aku salah," teriak Gaylen yang kesakitan karena ibunya.

"Gaylen, apa kau pikir kau ini sudah besar? Ini sudah jam berapa?" tanya kakak pertamanya, dia laki-laki yang sudah memiliki istri juga dua orang anak.

Mendengar itu sang ibu berhenti dan menatapnya sangat marah. "Benar apa kau tidak lihat jam?"

"Kau ini baru SMA, Gaylen," teriak kakak keduanya, dia juga laki-laki tapi baru menikah belum lama ini, benar Gaylen anak terakhir dari tiga bersaudara, keluarga yang amat lengkap.

"Aku hampir diperkosa, apa kalian puas?" tanya Gaylen yang sudah kesal, kalau saja di tidak ditarik oleh mereka dia pasti sudah pulang, sayang jalan yang cukup jauh dari rumah dan terutama tidak ada kendaraan membuat waktu jadi lama untuk kembali ke rumah.

"Apa?" tanya semua orang yang terkejut, tentu saja sang ibu yang berada di sampingnya memeriksa tubuhnya terdapat tanda mereka di sana juga luka.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya ibunya yang berkaca-kaca, ya walau dia pemarah sebenarnya dia wanita yang sangat baik.

"Beruntung tadi ada seorang kakak yang menolongku, dan preman itu langsung mati dengan satu kedipan mata, ibu dia sungguh luar biasa." Mendengar ucapan Gaylen yang malah senang setelah apa yang terjadi, membuat semuanya terdiam beberapa detik.

"Apa mereka semua mati?" tanya istri kakak keduanya.

"Iya, ketiga orang itu mati sepertinya dia memakai pisau, dia hebat kan kak?" tanya Gaylen, tak lama kakak pertamanya memukul kepalanya sedikit keras, membuat Gaylen terkejut bahkan semua orang.

"Aku rasa ada yang aneh dalam otakmu, masuk ke kamar! Harusnya kau ketakutan melihat itu, bukan malah kagum," ucap pria bernama Joanes itu, bahkan kata-kata yang di ucapkan tadi tidak pantas ketika ada kedua anaknya disana.

Gaylen memukul kepalanya sakit, hantaman kakaknya bahkan lebih parah daripada ayahnya sendiri, bahkan ayahnya hanya dia sambil menyeruput kopinya, tidak pria itu bahkan tak perduli sama sekali, karena baginya anak perempuan tidak berguna, seakan dia lupa kalau isterinya juga perempuan, yang telah melahirkan semua anaknya.

Pada akhirnya gadis itu pergi dari sana sambil mengisap kepalanya, tidak Kakaknya tidak sekeras itu memukulnya hanya saja dia ingin lebih dramatis, kadang pria itu suka seenaknya, lihat saja nanti dia akan dimarahi oleh ibu.

Cuman beberapa langkah Gaylen akhirnya merebahkan dirinya di kasur, tadi adalah hal yang menegangkan. Mengingat dimana dia dinodai membuat Gaylen merasa sedikit kotor, tapi puji Tuhan dia akhirnya selamat.

"Kira-kira, apa aku bisa bertemu lagi dengan kakak itu ya? Dia terlihat tampan sayang aku tidak bisa melihat keseluruhannya."

***

Sedangkan di sisi lain Drake yang baru saja mandi setelah melakukan aktivitas yang melelahkan, dan menegangkan, keluar dari pintu kamar mandi lalu merasa asap rokok milik ayahnya, kapan pria itu tidak menciptakan polusi di seisi kamarnya?

"Ayah, jika kenapa ayah selalu merokok di kamarku, apa dunia ini tidak terlalu luas untuk ayah melakukan hal itu?" tanya Drake yang mulai Bosan, pria ini suka seenaknya ya walau bagaimanapun dia juga yang sudah membesarkan sampai sekarang, jadi jasanya bagi Drake sungguh tak ada batas.

"Apa karena kau merasa sudah membayar tempat ini, kau berhak mengaturku?" tanya Hunter dengan angkuh, ya dia memang seperti itu.

"Terserah ayah saja lah," balas Drake yang malah, dia pun meraba lemari untuk mencari pakaiannya.

Beruntung Hunter sudah memisahkan, menata semua baju itu hingga dia hapal, dimana letak pakaian yang dia inginkan. Walau sudah bicara kasar dan seenaknya tapi Hunter sangat mengerti apa yang dia butuhkan.

"Apa tugasmu sudah selesai?" tanyanya sambil melepaskan batang rokok itu dari mulutnya.

"Kenapa ayah ingin tau?" tanya Drake yang membuat Hunter kesal, tak lama Drake tertawa dia hafal deru nafas cepat itu, bahkan marahnya sang ayah dia sampai hafal. "Sudah ayah, tenang saja."

"Apa si sialan itu tidak memerintahmu lagi?" tanyanya lagi, ya dia senang sekali menghina orang yang sudah membuat mereka besar seperti sekarang.

"Entahlah," balas Drake, dia mulai memakai pakaiannya dalamnya tak perduli kalau Hunter berada di depannya sekarang, lagipula sejak bayi dia bersamanya bukan.

Tak lama Hunter menegang kepalanya kesal. " Sialan!"

"Ada apa, ayah?"

"Kenapa punyamu lebih besar dari pada aku sekarang?" tanya Hunter yang membuat Drake tak paham, Alisnya menyatu karena bingung.

"Maksud ayah?"

"Milikmu, ah lupa dasar anak bodoh. Saat kecil itu amat mungil sekarang kenapa jadi seperti itu, kau seperti menghinaku tau?" tanya Hunter, apa ini karena karena dia sering menginjek anak sejak kecil.

"Ayah! Jangan bicara omong kosong, aku tak paham dengan ucapanmu," ucap Drake yang sudah memakai baju lengkap.

"Itu artinya kau bodoh," ejek Hunter, pria itu memang tak pernah mengajarkan hal yang pribadi pada anak itu, yang ada hanya latihan-latihan untuk menjadi pembunuh, mengikuti Suara juga insting yang lain, dan sialan anak buta itu lebih hebat dari pada dia dulu.

Ting, tong. Bunyi bel pintu membuat kedua orang itu tersebut melihat ke sumber suara. "Seperti Alger datang, sisir rambutmu kau jelek sekali dengan rambut acak-acakan itu."

Tidak dia tidak jelek, namun sangat tampan bahkan dengan rambut basah, bisa-bisa dia iri dengan anak angkatnya sendiri, ia yakin kalau ada sekumpulan wanita maka Drake sudah pasti dikerubungi oleh mereka.

Hunter berjalan keluar di susul Drake yang sudah bersisir, dia tidak melihat seperti apa yang dia sisir, namun itu ajaran Alger padanya karena kata pria itu tatanan rambut buatan Hunter amat jelek.

Pintu terbuka memperlihatkan Alger yang membopong makanan banyak di tangannya. "Maaf disini tidak ada yang meminta sumbangan."

Pintu ingin ditutup namun Alger menahannya sambil tersenyum, dia sudah biasa mendapatkan ini dari Hunter. Jika saja mereka tidak teman sekarib, maka matilah dia.

"Tunggu dulu kawan! Ada urusan dengan anakmu."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED